Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 15
Yoongi berlari, tanpa sadar melepaskan diri dari pelukan Jimin, dia berlari penuh air mata, ke kamar perawatan Hoseok, kerinduannya membuncah, rasa syukurnya tak tertahankan. Ketika sampai di depan pintu perawatan nafasnya terengah, dia berhenti karena pintu itu masih di tutup rapat, Suster Hana tergopoh-gopoh mengejarnya.
"Yoongi, jangan masuk dulu, dokter baru menstabilkan kondisinya."
Penantian itu terasa begitu lama, sampai kemudian Yoongi diijinkan masuk, hanya lima menit untuk sekedar menengok Hoseok, setelah itu dokter harus mengevaluasi kondisinya Hoseok lagi.
Dadanya sesak tak tertahankan ketika mata itu balas menatapnya, mata yang selama ini terpejam, tertidur dalam damai, membuat Yoongi menanti, mata itu sekarang terbuka, hidup, dan balas menatapnya,
"Hoseok-ah," suara Yoongi serak oleh emosi, dan tangisnya meledak, dia menghampiri tepi ranjang, ke arah Hoseok yang masih terbaring, pucat dengan alat-alat penunjang kehidupan yang masih menopangnya, tapi hidup dan membuka mata.
Yoongi meraih tangan Hoseok dan menciumnya, lalu menangis.
"Hoseok."
Banyak yang ingin Yoongi ungkapkan, dia ingin mengucap syukur karena Hoseok akhirnya bangun, dia ingin merajuk karena Hoseok memilih waktu yang begitu lama untuk terbangun, dia ingin menangis kuat-kuat, tapi semua emosi menyebabkan suaranya tercekat di tenggorokan.
Air mata tampak menetes dari pipi Hoseok, lelaki itu mencoba berbicara, tetapi tampak begitu susah payah,
"Stttt...Kau tidak boleh bicara dulu," gumam Yoongi lembut, mencegah Hoseok berusaha terlalu keras, "mereka memasang selang di tenggorokanmu, untuk makanan, kau koma selama kurang lebih dua tahun."
Mata Hoseok menatap Yoongi, tampak tersiksa, dan dengan lembut Yoongi mengusap air mata di pipi Hoseok, "Nanti, setelah mereka yakin kondisimu membaik, mereka akan melepas selang itu dan kau akan bisa berbicara lagi, tapi sekarang, kau cukup mengangguk atau menggeleng saja ya, sekarang..." Yoongi menelan ludah, menahan isak tangis yang dalam.
"Sekarang kita harus mensyukuri karena kau akhirnya terbangun, ya?" Hoseok menganggukkan kepalanya, dan seulas senyum dengan susah payah muncul dari bibirnya.
"Sekarang istirahatlah dulu, dokter akan mengecek kondisimu lagi" bisik Yoongi lembut ketika melihat isyarat dari dokter yang menunggui mereka.
Ketika Yoongi akan beranjak, genggaman Hoseok di tangannya menguat, Dengan lembut Yoongi menoleh dan memberikan senyuman penuh cinta kepada Hoseok,
"Aku tidak akan kemana-mana, aku harus menyingkir karena dokter akan memeriksamu lagi, tapi aku tidak akan kemana-mana, aku akan berada di dekat sini sehingga saat kau butuh nanti aku akan langsung datang."
Pegangan Hoseok mengendor, lelaki itu mau mengerti. Dengan lembut Yoongi mengecup dahi Hoseok dan melangkah menjauh keluar ruangan perawatan. Air matanya mengucur dengan derasnya ketika dia melangkah menghampiri suster Hana. Suster Hana masih berdiri di sana dan Yoongi langsung berlari ke arahnya, menangis keras-keras.
"Dia sadar suster...dia akhirnya sadar...aku masih tak percaya, selama ini aku hampir kehilangan harapan. Mulai berpikir kalau Hoseok memang tidak mau bangun, mulai berpikir kalau semua perjuanganku ini sia-sia... Tapi sekarang..."
Yoongi terisak, "Aku tak percaya bahwa pada akhirnya dia sadar... dia kembali dari tidur panjangnya, dia ada di sini untuk aku..."
Dengan lembut Suster Hana mengelus rambut Yoongi, "Ini semua karena perjuanganmu Yoongi, Tuhan melihat keyakinanmu maka ia mengabulkannya." mata Suster Hana juga berkaca-kaca, terharu melihat pasangan yang sudah hampir menjadi legenda karena kekuatan cintanya di rumah sakit ini, akhirnya akan berujung bahagia.
Tapi kemudian, suter Ana menyadari kehadiran Jimin di ujung ruangan, masih bersandar di pintu lorong ruang perawatan, dengan wajah tanpa ekspresi. Dengan lembut dilepaskannya Yoongi dari pelukannya.
"Eh mungkin aku harus pergi dulu Yoongi, mungkin masih ada hal-hal yang ingin kalian bicarakan?" Suster Hana mengedikkan bahunya ke arah Jimin, Baru saat itulah sejak pemberitahuan Suster Hana tadi, Yoongi menyadari kehadiran Jimin di ruangan itu. Pipinya langsung memerah mengingat pernyataan cinta Jimin, sesaat sebelumnya. Tapi dia sungguh tidak bias berkata apa-apa.
Setelah Suster Hana meninggalkan ruangan itu, suasana menjadi canggung, dalam keheningan yang tidak menyenangkan.
"Dia sadar." gumam Jimin akhirnya, memecah keheningan.
Yoongi menganggukkan kepalanya, belum mampu bersuara.
Jimin tampak berfikir, "Kau bahagia?" tanyanya kemudian, lembut.
Yoongi mengernyitkan keningnya, Jimin telah berubah, menjadi sedikit lebih manusiawi, menjadi sedikit mudah disentuh. Jimin yang dulu tidak akan mungkin menanyakan itu padanya. Jimin yang dulu pasti akan langsung memaksa membawanya pulang tanpa peduli perasaan Yoongi.
"Ya, aku bahagia." seulas senyum kecil muncul di bibir Yoongi, membayangkan Hoseok.
Jimin mengernyit melihat senyuman itu. Senyuman itu bagaikan pisau yang menusuk hatinya, senyuman yang diberikan Yoongi ketika membayangkan lelaki lain, ketika membayangkan Hoseok.
"Bagus," gumamnya datar, kemudian menatap Yoongi lembut, "mungkin kita harus melakukan pengaturan kembali dengan perkembangan yang mendadak ini, tetapi aku tidak mau mengganggumu dulu, kau pasti ingin fokus dulu dengan kondisi Hoseok... jadi kupikir aku akan kembali lagi saja nanti."
"Terima kasih Jimin." akhirnya Yoongi bisa berkata-kata, pelan.
Jimin tersenyum miring,
"Aku meminta maaf, dan kau malah menjawabnya dengan ucapan terima kasih, Yoongi yang aneh." dengan hati-hati Jimin mendekat, lalu setelah yakin bahwa Yoongi tak akan menjauh, dia merengkuh Yoongi ke dalam pelukannya, "Ingat kata-kataku tadi." bisiknya lembut, lalu menunduk dan memberikan Yoongi sebuah ciuman yang singkat tetapi menggetarkan kepada Yoongi.
Dan pergilah Jimin, meninggalkan Yoongi yang masih berdiri terpaku, memegangi bibirnya yang terasa hangat, bekas ciuman Jimin.
"Dia sadar." Jimin menyesap minumannya sambil berdiri terpaku menatap ke pemandangan dari jendela lantai atas kantornya.
Seokjin, yang masih bersama Taehyung hanya diam terpaku. Jimin sudah menceritakan semuanya kepada mereka tadi, tentang sadarnya Hoseok dari komanya. Dan sekarang lelaki itu hanya terdiam dan mengulang-ulang kata 'dia sadar' 'dia sadar' sambil menatap keluar.
Seokjin menarik napas mulai tak sabar, sedangkan Taehyung hanya mengetuk-ketukkan tanggannya di lutut. Jimin masih belum menunjukkan tanda-tanda memaafkannya jadi dia memilih diam dan tidak mengatakan apa-apa.
"Kurasa karena perkembangan baru yang tidak terduga ini, kau akhirnya memutuskan untuk melepaskan Yoongi?"
Pertanyaan Seokjin itu membuat Jimin mendadak memutar tubuhnya dengan tajam menghadap Seokjin dan menatapnya dengan mata menyala-nyala.
"Dia belum memilih," gumam Jimin setengah menggeram. "detik terakhir sebelumnya, dia menerimaku dalam pelukannya, membalas pelukanku dan aku yakin akan menerima ajakanku untuk pulang bersamaku."
"Sudahlah Jimin, sekarang kan tunangannya yang setia ditungguinya selama dua tahun sudah sadar, kau tidak bisa..." tanpa sadar Taehyung bersuara memberikan pendapat seperti kebiasaannya sebelumnya. Tapi langsung berhenti mendadak ketika menerima tatapan tajam penuh permusuhan dari Jimin.
"Aku...aku hanya mencoba memaparkan kenyataan di depanmu." Suara Taehyung hilang tertelan karena tatapan Jimin makin tajam.
Seokjin menghela napas sekali lagi,
"Jimin, Taehyung benar, sadarnya Hoseok ini bukankah merupakan tujuan hidup Yoongi selama ini? Biarkan mereka berbahagia Jimin, mereka pantas mendapatkannya setelah tahun-tahun penuh penantian dan ketidakpastian yang menyiksa."
"Tidak!" Jimin tetap bersikeras, "aku tidak bisa menyerah begitu saja dan membiarkan Yoongi salah memilih. Dia mencintaiku. Perasaannya pada Hoseok mungkin hanya kasihan."
"Kenapa kau tidak bisa berpikir kalau perasaannya kepadamulah yang mungkin hanya perasaan sesaat karena keadaan yang dipaksakan? Kau pernah dengar apa itu Stockholm Syndrome?" sela Seokjin jengkel.
Jimin tercenung, tentu saja dia tahu apa itu Stockholm Syndrome, dan menyakitkan kalau menyadari bahwa perasaan Yoongi kepadanya mungkin ditumbuhkan oleh situasi keterpaksaan. Dengan gusar diusapnya rambutnya,
"Aku akan menanyakan langsung padanya. Nanti. Setelah kondisi tunangannya lebih baik."
Seokjin tidak berkata-kata. Dan Taehyung hanya diam, tak tahu harus bicara apa lagi.
Dua hari kemudian, Yoongi berdiri di depan ruangan perawatan Hoseok dengan cemas, tangannya menggenggam tangan Suster Hana setengah menangis. Matanya semakin berkaca-kaca ketika mendengar suara teriakan dari dalam. Teriakan Hoseok.
"Suster..." hati Yoongi terasa di iris-iris, menyadari bahwa suara pertama yang dikeluarkan Hoseok setelah 2 tahun adalah teriakan kesakitan.
"Tidak apa-apa Yoongi, itu pertanda bagus, Hoseok memang kesakitan, mereka sedang melepas selang di tenggorokan dan di dadanya, tetapi kalau Hoseok bias mengeluarkan suara, itu pertanda kondisinya sudah semakin membaik." Suster Hana menggenggam tangan Yoongi, membagikan kekuatannya.
Suara teriakan itu terdengar lagi, begitu serak hingga Yoongi hampir tak mengenalinya. Air matanya mulai menetes satu-satu tanpa dapat ditahannya,
"Berapa lama lagi suster?" menunggu di luar seperti ini terasa bagaikan siksaan yang paling mengerikan.
"Sebentar lagi, nanti mereka akan mengizinkanmu menemuinya," dengan lembut Suster Hana mengusap-usap Yoongi, "dia harus melalui ini Yoongi, dan nanti akan banyak kesakitan lagi, tapi ini proses penyembuhan, dia pasti akan sembuh."
Yoongi menganggukkan kepalanya, memejamkan matanya, menunggu. Penantian itu terasa begitu lama, lama sekali sampai tim dokter dan perawat keluar dan mengizinkan Yoongi masuk.
Dengan hati-hati, Yoongi melangkah masuk ke ruangan perawatan Hoseok. Ruangan yang sangat akrab, sangat dikenalinya. Tetapi sekarang berbeda, Hoseoknya tidak tidur. Hoseoknya tidak menutup mata, dia bangun, sadar dan hidup. Hati Yoongi sesak oleh euforia yang membuncah.
Yoongi duduk di sebelah ranjang, dan Hoseok langsung menyadari kehadirannya, tangannya membuka dan dengan lembut Yoongi menyelipkan jemarinya kesana,
"Hai", sapa Yoongi lembut.
Hoseok tersenyum, lalu mengeryit karena gerakan sederhana itu ternyata menyakitinya,
"Sa...kit", gumamnya susah payah.
Yoongi tersenyum lembut, sebelah tangannya mengusap dada Hoseok yang kurus, berhati-hati agar tidak menyentuh luka di dadanya,
"Mereka sudah melepas selang di tenggorokan dan dadamu",
Hoseok mengeryit lagi,"Berapa lama?", suaranya serak dan terpatah-patah,
"Apanya?"
"Tidur... Berapa lama?"
Yoongi mendesah lembut,
"Dua tahun", jawabnya pelan. Dan langsung menerima tatapan penuh kesedihan dari Hoseok, "Tapi dua tahun tidak terasa lama kok, yang penting kau bangun, kau
berjuang dan aku bangga padamu." sambung Yoongi cepat-cepat.
Hoseok tampak sedikit lega mendengar penjelasan Yoongi, tapi lalu dia mengernyit lagi,
"Mama... Papa...?"
Yoongi menggenggam tangan Hoseok erat-erat,
"Mereka meninggal pada saat kecelakaan itu Hoseok."
Dan hati Yoongi bagaikan diremas-remas ketika melihat Hoseok memejamkan mata dan menangis, dengan lembut diusapnya air mata Hoseok, dikecupnya pipi lelaki itu yang pucat dan tirus,
"Tapi aku yakin mereka sudah tenang disana. Mereka pasti bahagia sekarang, mengetahui kau sudah sadar."
Hoseok membuka matanya dan menatap Yoongi lembut,
"Maaf."
"Kenapa?" Yoongi mengernyit.
"Karena... Kau... Ditinggal..sendiri..."
Air mata ikut mengalir di pipi Yoongi,
"Aku tidak apa-apa, lihat? Aku sehat dan baik-baik saja. Aku bertahan buat kamu. Dan sekarang kamu yang harus berjuang buat aku ya, kamu harus berjuang untuk pulih lagi, bersamaku."
Hoseok mengangguk dan memejamkan mata, percakapan singkat itu membuatnya begitu kelelahan,.
Dengan lembut Yoongi mengusap rambut Hoseok, "Istirahatlah sayang, tidurlah, aku akan ada saat kau terlelap, aku akan ada saat kau bangun lagi."
Dengan lembut Yoongi terus mengusap rambut Hoseok sampai nafas lelaki itu berubah teratur dan tertidur pulas.
"Dia kuat, dia akan baik-baik saja."
Suara dari arah pintu yang terdengar tiba-tiba itu mengejutkan Yoongi, dia menoleh dan mendapati dokter Seokjin sudah berdiri di sana, entah sejak berapa lama.
"Dokter Seokjin?"
Seokjin tersenyum dan melangkah mendekat, "Yah kau pasti tidak menduga kedatanganku, aku kesini bersama seseorang." Seokjin mengedikkan kepalanya ke arah pintu, Yoongi mengikuti arah pandangan Seokjin dan wajahnya memucat melihat Taehyung berdiri di sana, tidak melangkah masuk, hanya berdiri di ambang pintu dengan ragu-ragu.
"Dia datang untuk minta maaf." jelas Seokjin lembut begitu melihat ekspresi takut Yoongi, "dia sudah meminta maaf kepada Jimin dan Jimin mengusirnya, menyuruhnya meminta maaf padamu karena kaulah yang dilukainya."
Jimin. Nama itu melintas di benak Yoongi. Jimin dan pernyataan cintanya. Tiba-tiba dada Yoongi terasa penuh, tapi lalu dia mengernyit. Tidak, dia harus membunuh perasaan apapun itu yang muncul untuk Jimin. Dia harus focus kepada Hoseok.
"Mungkin kita bisa berbicara di luar?" Seokjin berucap setengah berbisik, melirik ke Hoseok yang sedang tertidur pulas.
Yoongi mengangguk mengikuti dokter Seokjin sampai ke ujung lorong, dengan diam-diam Taehyung mengikuti mereka.
"Maaf," gumam Taehyung ketika mereka sudah ada di lorong yang sepi, dia mengeryit sedikit ketika melihat bahwa Yoongi menjaga jarak kepadanya, sedikit berlindung di belakang Seokjin, terlihat takut kepadanya.
Taehyung mengusap rambutnya penuh perasaan bersalah, "aku sendiri tak tahu setan apa yang menghinggapiku saat itu, aku salah paham dan berbuat fatal... Mungkin aku memang pantas menerima luka-luka akibat semua pukulan ini..."
Taehyung mencoba menatap Yoongi selembut mungkin, menunjukkan ketulusannya sebesar mungkin agar Yoongi yakin, "kumohon jangan takut kepadaku Yoongi, aku minta maaf, aku benar-benar menyesal, aku malu."
Kata-kata itu merasuk ke dalam jiwa Yoongi, dia menatap lelaki di depannya ini. Dia memang tidak terlalu akrab dengan pengacara Jimin ini, mereka berinteraksi hanya kalau perlu dan kebanyakan Taehyung hanya berinteraksi dengan Jimin, mengabaikannya. Tetapi sekarang lelaki ini terlihat begitu tulus, tulus dan berantakan, dengan memar di mana-mana, meskipun tidak mengurangi ketampanannya.
Yoongi mencoba menganguk dan memunculkan senyum kecil meskipun dia masih menjaga jarak, "Iya", jawabnya pelan.
Taehyung menatap Yoongi dalam-dalam, mencari kepastian di sana, dan yang dilihat di mata Yoongi adalah ketulusan,
"Aku dimaafkan?" tanyanya pelan.
Yoongi akhirnya tersenyum lepas,
"Iya."
Dengan lembut Taehyung membalas senyuman Yoongi,
"Sekarang aku tahu kenapa hati Jimin yang keras itu bisa melumer menjadi begitu lembut." gumamnya pelan, membuat pipi Yoongi merona.
Dengan lega Seokjin menarik napas panjang,
"Kalau begini masalah sudah selesai," Seokjin menoleh ke arah Taehyung, "nah Taehyung bisakah kau ke tempat lain dulu? Aku ingin berbicara berdua dengan Yoongi, percakapan dokter dengan keluarga pasien, kau tahu."
Taehyung meringis dengan pengusiran itu, lalu mengangguk,
"Oke, telpon aku kalau kalian sudah selesai." gumamnya dan membalikkan tubuh melangkah pergi setengah diseret mengingat kondisinya yang babak belur setelah dihajar habis-habisan.
Mereka berdua menatap kepergian Taehyung dan Seokjin tersenyum,
"Dia sangat menyesal kau tahu."
Yoongi mengangguk, "Saya mengerti," lalu Yoongi menatap Seokjin dengan penuh ingin tahu, "Dokter ingin berbicara tentang apa kepada saya?" kecemasan tampak terdengar dari suara Yoongi, apakah terjadi sesuatu dengan Hoseok?
Seokjin tersenyum mencoba menenangkan Yoongi, "Tenang saja, Hoseok akan baik-baik saja. Aku sudah berbicara dengan dokter yang menangani Hoseok, dia bilang Hoseok bisa kembali pulih meski proses pemulihannya bisa berlangsung lama," dengan lembut Seokjin menggenggam tangan Yoongi.
"Yoongi apakah dokter sudah memberitahukan kepadamu tentang kemungkinan... Kemungkinan bahwa Hoseok bisa lumpuh selamanya?"
Yoongi mengangguk, tidak tampak terkejut,
"Pada saat Hoseok jatuh koma pun, dokter sudah memberitahukan kemungkinan itu kepada saya, dokter bilang kalau meskipun nanti Hoseok sadar, dia bisa lumpuh selamanya."
"Tapi kemungkinannya tidak seratus persen, masih ada harapan 20 persen bahwa Hoseok bisa berjalan lagi kalau dia ada di tangan yang tepat..."
"Maksud dokter?", Yoongi mengernyitkan keningnya,
"Maksudku, aku merekomendasikan diriku untuk merawat Hoseok, kau tahu aku sedang mendalami spesialisasi pemulihan tulang dan saraf, jadi aku bias merawat Hoseok dengan baik... Nanti ketika dia sudah boleh keluar dari rumah sakit, Hoseok harus terus menjalani terapi dengan begitu masih ada kemungkinan dia bisa berjalan lagi."
"Apakah... Apakah dokter diminta Jimin melakukannya?" Yoongi menatap dokter Seokjin sedikit curiga. Kebaikan hati perempuan cantik di depannya ini tampak diluar dugaan, apakah Jimin memaksa dokter Seokjin menawarkan ini kepadanya?
Seokjin mengangkat bahu dan tersenyum lagi.
"Jimin memintaku memang, tapi bukan itu alasan aku ingin merawat Hoseok," Seokjin menepuk pundak Yoongi hangat, "Kau tahu almarhum suamiku... Dia meninggal dalam kecelakaan beruntun di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan kedua orang tuamu dan melukai Hoseok."
"Astaga", Yoongi menutup mulutnya dengan jemarinya, terkejut,
"Yah astaga", Seokjin tersenyum, "dunia ini sempit bukan? Kadang kebetulan-kebetulan yang terjadi sering membuatku bertanya-tanya," tatapan Seokjin berubah serius, "tapi sungguh Yoongi, kondisi Hoseok ini kupandang sebagai kesempatan kedua, aku tidak bisa merawat suamiku pada saat itu, tapi kurasa Tuhan memberiku kesempatan untuk merawat korban yang selamat dari kecelakaan yang sama, itupun kalau kau mengizinkan."
Yoongi menganggukkan kepalanya, terharu, "Iya dokter, saya akan senang dan lega sekali menyerahkan perawatan Hoseok di tangan dokter."
"Tidak enak." Hoseok mengernyit, menggelengkan kepalanya, menghindari sendok berisi bubur sayuran yang disuapkan Yoongi kepadanya.
Hari ini adalah tiga minggu sejak Hoseok tersadar dari komanyaa, kondisinya sudah mulai membaik, dia sudah bisa duduk, sudah bisa mengucapkan lebih dari satu kalimat, dan alat-alat penunjang kehidupannya sudah mulai dilepas satu persatu, dokter sendiri memuji perkembangan Hoseok yang luar biasa pesat, tekad lelaki itu kuat, maka ketika dia berniat untuk sembuh dia akan merasakannya sepenuh hati.
"Kau harus memakannya," gumam Yoongi sedikit geli dengan kemanjaan Hoseok yang seperti anak-anak, "ini menyehatkanmu."
"Rasanya seperti muntahan." Gumam Hoseok, tapi akhirnya menurut membuka mulutnya, menerima suapan Yoongi lalu mengernyit ketika menelan.
Ekspresinya membuat Yoongi tergelak, tapi kemudian Hoseok meraih tangan Yoongi yang tidak memegang sendok, ekspresinya berubah serius,
"Yoongi, tak terbayangkan rasa terimakasihku padamu...aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan cintaku, aku... Para dokter dan perawat menceritakan perjuanganmu untukku..."
"Stttt," Yoongi meletakkan sendoknya dan menyentuhkan jemarinya di bibir Hoseok,
"Perjuangannya sepadan, kau akhirnya bangun kan?"
"Tapi..." ekspresi kesedihan menghantam Hoseok, "aku... Aku mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Aku mungkin lumpuh selamanya, aku hanya akan menjadi bebanmu..."
"Hoseok," Yoongi menyela sedikit marah, "kau tidak boleh memvonis dirimu sendiri, kesembuhanmu yang luar biasa ini juga diluar prediksi dokter bukan? Kita pasti bisa kalau kita berjuang dengan tekad dan keyakinan kuat bersama-sama, meskipun begitu...", Suara Yoongi berubah sendu, "meskipun pada akhirnya kau lumpuh selamanya pun, aku akan tetap bahagia bersamamu... Kau tahu selama ini aku selalu berdoa apa? Aku berdoa yang penting kau sadar, aku tidak peduli yang lain, Tuhan sudah mengabulkan doaku Hoseok... Tidakkah itu cukup?"
Mata Hoseok tampak berkaca-kaca.
"Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu..."
Suara di pintu itu mengalihkan perhatian mereka, Yoongi dan Hoseok menoleh bersamaan, lalu Yoongi tersenyum, Dokter Seokjin ada di sana, dalam kunjungannya yang biasa, sekarang bahkan dokter Seokjin sudah mulai akrab dan berteman dengan Hoseok.
Tapi senyuman Yoongi langsung membeku ketika menyadari siapa yang mengikuti di belakang dokter Seokjin, itu Jimin!
TBC
P.S: Muehehe disini full-of-HopeGa couple dulu yaa ,kasian hobi abis ber chapter-chapter bobok mulu kerjanya. Biarkan dia menikamati keindahan waktu bersama yoongi. Jiminnya aku aman kan kok dikamar ulululu
Update cepet karna baca salah satu review yg bilang mau UN jadi bisa mati penasaran kalo aku ga update segera . buat kamu yg maaf aku lupa namanya (hihi) ini fast banget kan updatenya ? semangat UN-nya!
Btw ,aku membuat remake yg lain. Mind to check my profil ?
So ,review ?
