Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin

A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3

Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe

Happy reading

Chapter 16

Suara di pintu itu mengalihkan perhatian mereka, Yoongi dan Hoseok menoleh bersamaan, lalu Yoongi tersenyum, Dokter Seokjin ada di sana, dalam kunjungannya yang biasa, sekarang bahkan dokter Seokjin sudah mulai akrab dan berteman dengan Hoseok.

Tapi senyuman Yoongi langsung membeku ketika menyadari siapa yang mengikuti di belakang dokter Seokjin, itu Jimin!

Jimin yang sama. Jimin yang tampan dengan penampilan bak adonis, dengan ekspresi yang dingin dan tidak terbaca. Yoongi tidak pernah berhubungan dengan Jimin lagi sejak Hoseok sadarkan dari komanya, Jimin selalu memaksakan maksudnya dengan perantaraan dokter Seokjin, seperti ketika Jimin memaksakan untuk menanggung biaya rumah sakit Hoseok dan ketika Jimin memaksakan Yoongi setuju - lewat bujukan dokter Seokjin – agar Yoongi dan Hoseok pulang ke apartemen yang dibelikannya ketika Hoseok sudah boleh pulang dari rumah sakit nanti.

Sekarang lelaki itu berdiri di depannya, ekspresinya tak terselami dan sedikit muram, membuat Yoongi bertanya-tanya, apakah Jimin mendengarkan percakapannya dengan Hoseok tadi ?Apakah Jimin tidak senang mendengarnya ?

"Dokter Seokjin," Hoseok menyapa ramah ketika Yoongi hanya diam saja, lalu menatap ingin tahu ke arah lelaki tampan yang sepertinya hanya menatap terfokus kepada Yoongi.

"Halo Hoseok, aku datang untuk mengecek keadaanmu. Dua hari lagi kau sudah boleh pulang kalau kondisimu sebaik ini terus," Seokjin menyadari Hoseok menatap ke arah Jimin, lalu menyikut pinggang Jimin untuk menarik perhatian Jimin yang terarah lurus kepada Yoongi, "Dan ini Jimin, dia eh bosku dan bos Yoongi juga."

Jimin menolehkan kepalanya pelan-pelan, lalu menatap ke arah Hoseok, menelusurinya dengan tajam dan meneliti. Inikah laki-laki yang dicintai Yoongi sampai rela mengorbankan segalanya? Tiba-tiba pikiran jahat melintas di benaknya, apa yang akan diperbuat Hoseok jika tiba-tiba dia mengungkapkan bahwa Yoongi sudah menjual keperawanannya kepadanya? Bahwa dia sudah berkali-kali meniduri tunangannya yang katanya dicintainya tadi?

"Jimin." Seokjin bergumam ketika Jimin hanya menatap dan tidak bersuara.

Jimin lalu mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Hoseok, "Salam kenal, saya adalah... Atasan Yoongi di tempat kerjanya... Kebetulan kami eh cukup ... akrab." sedikit senyum muncul di bibir Jimin ketika menyadari Yoongi dan Seokjin tampak begitu cemas dengan kata-kata yang mungkin muncul dari bibirnya,

Hoseok menerima jabatan tangan Jimin dan tersenyum tulus, "Terimakasih." meskipun Hoseok sedikit bertanya-tanya kenapa tatapan Jimin seolah-olah ingin membunuhnya.

"Saya senang kondisi anda semakin membaik." gumam Jimin tenang, tapi terdengar seolah-olah mengatakan, kenapa kau tak mati saja biar semua jadi mudah?

Yoongi mengernyit mendengar nada suara Jimin itu, lelaki itu sama sekali tidak mencoba membuat suasana menjadi lebih mudah malah seolah-olah menantang Yoongi untuk mengakui sesuatu ? mengakui apa? apakah Jimin ingin agar Yoongi mengakui segalanya di depan Hoseok? Mengakui bahwa dia sudah menjual keperawanan dan tubuhnya demi membiayai biaya operasi Hoseok?

Yoongi akan mengakuinya, itu pasti, dia tidak mungkin membohongi Hoseok. Hoseok mungkin akan marah dan sedih, sedih karena Yoongi terpaksa melakukan semua itu demi dirinya. Lalu mungkin Hoseok akan menyalahkan dirinya sendiri. Oh, lelaki itu tidak akan meninggalkan dirinya karena sudah tidak perawan. Yoongi begitu mengenal Hoseok hingga yakin akan hal itu, dia lelaki berpkiran terbuka, tetapi yang Yoongi takuti adalah Hoseok akan semakin menyalahkan dirinya, sendiri, menyalahkan kondisinya yang tidak berdaya yang membuat Yoongi harus berjuang sendirian demi dirinya, dan Yoongi tidak mau Hoseok mengalami itu semua, tidak di saat kondisi Hoseok masih begitu rapuh dan ada di dalam proses pemulihan. Nanti, Yoongi pasti akan mengakui semuanya, tetapi tidak sekarang.

Karena itu dia langsung memelototi Jimin mengingatkan, memastikan Jimin melihat isyarat dalam matanya, dan menggeram dalam hati ketika Jimin malahan tersenyum meremehkan.

"Mr. Park ini adalah atasanku di tempat lamaku bekerja." jelas Yoongi cepat begitu melihat kebingungan di mata Hoseok.

"Tempatmu sekarang bekerja Yoongi, kamu masih bekerja di sana." sela Jimin tajam.

Yoongi ternganga mendengar bantahan Jimin itu, kehabisan kata-kata, sementara lelaki itu tersenyum datar pada Hoseok.

"Kami sempat mengalami sedikit kesalahpahaman. Saya menuduh Yoongi melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan, Tetapi saya sekarang sudah menyadari kesalahan saya," Jimin menatap Yoongi penuh arti, "dan dengan rendah hati, saya meminta Yoongi kembali kepada saya". kata-kata itu diucapkan dengan datar dan santai, tapi entah kenapa arti yang tersirat di dalamnya membuat pipi Yoongi merona.

Seokjin langsung berdehem memecah kecanggungan, "Bagus, kita akhirnya menyelesaikan segala kesalahpahaman," gumamnya ceria, "Nah sekarang aku ingin memeriksa kondisimu Hoseok."

"Saya tidak pernah merasa lebih baik dokter." Hoseok tersenyum, perhatiannya teralih dari Jimin dan Yoongi.

"Dan akan lebih baik lagi, aku yakin mengingat pesatnya kondisimu," Seokjin tersenyum, lalu menatap Yoongi dan Jimin, "Kalian bisa keluar sebentar? Aku ingin memeriksa kondisi Hoseok."

Dan dalam diam Jimin dan Yoongi melangkah keluar ruangan. Mereka masih berdiri diam di lorong ruang perawatan.

"Well dia tampak sehat." gumam Jimin kemudian, menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap Yoongi tajam.

Yoongi menganggukkan kepalanya.

"Dia tidak akan bisa berjalan lagi kan?" sambung Jimin jahat.

Yoongi membelalakkan matanya mendegar kekejaman dalam suara Jimin, "Jimin! Jahat sekali kau!", mata Yoongi tampak berkaca-kaca, "Dokter Seokjin bilang masih ada kesempatan bagi Hoseok untuk sembuh, dan aku percaya dia akan sembuh."

"Sampai berapa lama lagi Yoongi? kau harus menunggu dalam waktu yang tak pasti lagi, Kenapa mencintai seseorang harus penuh pengorbanan seperti itu?"

Jimin mendeses kesal, "Dan kata Seokjin dia juga mungkin tidak bisa berfungsi sebagai laki-laki normal..."

"Jimin!" Yoongi setengah berteriak, menghentikan kata-kata Jimin, pipinya memerah mendengar ucapan Jimin yang begitu vulgar.

Jimin mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah, "Aku cuma mengungkapkan apa yang dikatakan Seokjin kepadaku," tiba-tiba dia mendekat dan merengkuh pundah Yoongi, "Bagaimana Yoongi? Bagaimana jika dia tidak dapat berfungsi sebagai lelaki normal? padahal aku tahu...", mata Jimin menyala-nyala, "aku tahu betapa kau gadis kecil yang penuh gairah, betapa kau menyambut setiap sentuhanku dengan gairah yang sama, betapa kau menyukainya... Bagaimana kau nanti bisa tahan tidak merasakan itu semua...tidak disentuh.. tidak di..."

"Hentikan!" Kali ini Yoongi benar-benar berteriak, matanya berkaca-kaca.

Membuat Jimin terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Yoongi tampak begitu rapuh sekaligus begitu kuat dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca seperti itu, membuat Jimin ingin melumatnya...

"Kau terlalu picik kalau selalu memandang sebuah kasih sayang hanya dari kemampuan melakukan hubungan fisik," desis Yoongi tajam,

"aku mencintai Hoseok, aku hanya butuh kehadirannya di sampingku, itu saja... Kalaupun.. kalaupun dia nantinya tidak bisa memelukku dengan bergairah, aku tidak peduli, yang penting dia hidup dan ada di sisiku, aku tidak butuh yang lain lagi..."

"Tidak butuh yang lain lagi?" Kata-kata Yoongi yang penuh cinta kepada Hoseok itu menyulut kemarahan Jimin, dengan kasar direngggutnya Yoongi ke dalam pelukannya, "Kalau begitu bagaimana dengan yang ini?!"

Dengan tanpa diduga-duga, Jimin mencium bibir Yoongi, pertama kasar, meluapkan kemarahannya disana, melumat bibir Yoongi dengan menyakitkan seolah ingin menghukumnya. Oh! betapa dia ingin menghukum perempuan ini karena menyakitinya! Oh berapa dia merindukan perempuan ini! Ciumannya melembut ketika merasakan bibir perempuan yang sangat dirindukannya, yang sudah lama tidak disentuhnya, yang sudah lama tidak dirasakannya. Kerinduannya meluap, dipeluknya tubuh Yoongi erat-erat, dilumatnya bibirnya dengan seluruh gairahnya, dipujanya bibir itu.

Yoongi yang tidak menyangka akan dicium dengan seintens itu semula hanya terpaku, lalu dia memejamkan matanya, aroma Jimin, kemaskulinannya menyeruak di dalam dirinya. Membangkitkan kenangan lama akan kedekatan mereka, dan secara alami, Yoongi membalas pelukan dan lumatan Jimin.

Entah berapa lama mereka berciuman sampai kemudian Jimin melepaskan tautan bibir mereka, terengah-engah. Dengan lembut Jimin menunduk, masih berpelukan, dahinya menyatu dengan dahi Yoongi, napas mereka yang panas menyatu, bibir mereka masih berdekatan.

Kemarahan Jimin mereda seketika oleh ciuman itu, kini dadanya dipenuhi oleh perasaan lembut yang menyesakkan dada, "Jangan bilang kau tidak merindukan sentuhanku." bisik Jimin lembut,

Yoongi memejamkan mata berusaha menggeleng,

"Aku tidak merindukannya." erangnya mencoba melawan,

Jimin menundukkan kepalanya, menghujani telinga dan leher Yoongi dengan ciuman-ciuman lembut seringan bulu, membuat tubuh Yoongi gemetaran,

"Teruslah berbohong? bisik Jimin di telinga Yoongi, "Tapi tubuhmu tidak bias membohongiku, tubuhmu merindukanku Yoongi, dan aku merindukanmu." bisik

Jimin di sela-sela kecupannya.

Yoongi mengerang, mencoba melawan kebenaran yang menyiksanya. Dia merindukan Jimin, dia memang merindukan lelaki itu. Sering di malam-malam dia berbaring di sendirian di sofa rumah sakit, menunggui Hoseok. Dia merindukan Jimin, merindukan pelukannya yang melingkari perutnya dengan posesif, merindukan lengannya yang selalu menjadi bantal tidurnya, merindukan desah napas teratur Jimin di telinganya ketika tertidur pulas.

Tapi Yoongi menahannya, mencoba mengenyahkannya. Perasaan itu tidak boleh ditumbuhkan. Dia sudah mempunyai Hoseok, Hoseoknya, tunangannya. Kekasih yang dicintainya. Kekasih yang ditunggunya tanpa putus asa selama dua tahun. Kekasih yang sekarang sedang berjuang untuk pulih kembali demi dirinya. Air mata mengalir deras di pipi Yoongi,

"Aku merindukanmu Jimin." pengakuan itu, pengakuan yang sama sekali tidak di duga-duga Jimin membuat gerakan lelaki itu yang sedang mencumbu Yoongi terpaku.

Jimin langsung menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu Yoongi agar menatapnya.

"Apa? Katakan sekali lagi, katakan," Jimin mendesak ketika Yoongi menghindari matanya. "Katakan sekali lagi Yoongi, aku perlu mendengarkan lagi."

Yoongi menarik napas panjang, lalu menatap mata biru yang berbinar-binar itu, "Aku merindukanmu Jimin." gumamnya lagi, lebih pelan dan bergetar.

"Demi Tuhan," Jimin memejamkan matanya lama, lalu memeluk Yoongi, "betapa aku ingin mendengar pengakuan itu darimu..."

Mereka berpelukan lama, menikmati saat-saat yang penuh dengan keheningan itu, sampai kemudian Jimin menjauhkan pelukannya dan menatap penuh tekad.

"Kita harus berbicara dengan Hoseok."

"Jangan!" Yoongi langsung berteriak mencegah dan ketakutan, "Jangan Jimin!"

Mata Jimin berkilat-kilat,

"Kau harus menentukan perasaanmu Yoongi, aku atau Hoseok. Salah satu dari kami harus mendapat kepastian tentang perasaanmu." gumamnya tegas.

Yoongi menangis lagi, tangannya bergerak lembut, mengelus pipis Jimin, lelaki itu langsung memejamkan matanya, "Jimin... Mungkin aku juga menyayangimu, mungkin aku juga mencintaimu. Tapi Hoseok lebih membutuhkan aku, tanpa aku dia tidak punya siapa-siapa lagi. Sedangkan kau, kau lelaki yang hebat, kau bisa mencari banyak penggantiku, kau pasti masih bisa hidup tanpa aku." gumam Yoongi lembut.

Ketika Jimin membuka matanya, kesakitan dan kepedihan yang terpancar di dalamnya begitu mengiris hati Yoongi,

"Jadi aku dikalahkan karena aku hebat?" suara Jimin terdengar begitu pedih, "Apakah aku harus luka parah seperti Hoseok dulu biar kau memilihku?"

"Jimin!" Yoongi berseru spontan, terkejut, "Jangan pernah... jangan pernah berpikir seperti itu, kau... kau pasti bisa memahami keputusanku."

Jimin melihat air mata Yoongi yang mengalir dan mengusapnya lembut, Kemudian Jimin merangkum pipi Yoongi dengan kedua tangannya, menghadapkan wajah mungil pucat pasi itu agar mau menatap matanya.

Mereka bertatapan. Yang satu penuh air mata, yang lain penuh tekad, saling memandang dalam keheningan, Lalu sebuah senyum kecil muncul di bibir Jimin.

"Dasar perempuan kecilku yang bodoh, kau tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Cukup dengan kau bahagia. Itu saja, kau mengerti? Sekarang hapus air matamu itu dan tersenyumlah!"

TBC

P.S: pada baper kah ? mari baper bersama karna entah mengapa belakangan ini rasa saying say ke YoonMIn meningkat terlalu tajam huhu

And oh well ,ayo cek remake ku yang lain ,Yoonmin juga looh (promo teroooss)

Ada yg minta aku remake Fifty Shade of Park? Maaf bukannya gamau ,tapi aku sepertinya pernah membacanya di ffn juga. Jadi aku tak akan mengambil lahan orang lain. Sebagai gantinya aku akan membuat remake cerita lain ,and of course still with Yoonmin couple

Btw ,aku juga setuju kalo si Chim disiksa dulu wkwk

So, review ?