Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin

A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3

Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe

Happy reading

Chapter 17

Sejak saat itu Jimin seolah-olah menghilang dari kehidupan Yoongi, Yoongi merenung dalam mobil rumah sakit yang membawa mereka pulang ke apartemen.

Hari ini Hoseok sudah boleh pulang dari rumah sakit, bersama Seokjin dan suster Hana mereka pulang ke apartemen. Suster Hana memutuskan untuk tinggal sementara membantu Yoongi, dan Seokjin sudah berjanji akan berkunjung setiap hari untuk mengecek kondisi Hoseok dan melakukan terapi rutin.

Kata Dokter Seokjin, Jimin memutuskan mengambil tugas perjalanan ke eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama. Dada Yoongi terasa nyeri, ketika sekali lagi mengakui kenyataan itu kepada dirinya sendiri, Oh ya, dia merindukan Jimin, sangat merindukannya. Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan. Yoongi mencintai Jimin. Dia tidak tahu kapan perasaan ini bertumbuh. Dia hanya tahu dia mencintai Jimin, itu saja.

"Aku tidak menyangka bosmu yang kelihatannya sombong itu bisa begitu baik, meminjamkan apartemennya", Hoseok memecah keheningan, menatap Yoongi dengan sedikit menyelidik, dia bertanya-tanya karena akhir-akhir ini Yoongi begitu murung,

"Aku yang membujuknya", Seokjin yang duduk di kursi depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Yoongi pasti kebingungan dengan pertanyaan Hoseok itu.

"Jimin adalah sahabat suamiku, aku bilang merawatmu penting bagiku, karena kamu adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan yang menewaskan suamiku. Jadi Jimin mau meminjamkan apartemen itu, toh apartemen itu tidak terpakai."

Diam-diam Yoongi dan Suster Hana menarik napas lega mendengar kelihaian dokter Seokjin menjawab. Mereka sampai di apartemen, dan Yoongi mendorong kursi roda Hoseok memasuki ruangan itu.

Begitu mereka masuk tanpa sadar Yoongi mengernyit, semua kenangan itu seolah menghantamnya. Di sini, di apartemen ini dia menghabiskan waktu berdua dengan Jimin, makan malam bersama, bercakap-cakap bersama….

"Apartemen yang sangat bagus, kita beruntung Yoongi, bos mu sangat baik." Hoseok mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Yoongi sambil tersenyum.

Mau tak mau Yoongi memaksakan senyuman di bibirnya. Kuatkah ia berada di sini? Apalagi di kamar itu... Yoongi melirik kamarnya, tempat Jimin juga menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Tidak! dia tidak mau masuk lagi ke kamar itu!

Dengan cepat dan efisien mereka menyiapkan segalanya sehingga Hoseok selesai di terapi dan beristirahat di kamarnya. Suster Hana menjaganya sebentar, lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, berjanji akan pulang dan menginap di sini nanti malam.

Setelah memastikan Hoseok tertidur pulas, Seokjin menyeduh teh dan mengajak Yoongi duduk di ruang depan.

"Dia sudah kembali dari eropa." Seokjin membuka percakapan, menatap Yoongi dari atas cangkir kopi yang diteguknya.

Seketika itu juga hati Yoongi melonjak, tahu siapa yang di isyaratkan sebagai 'dia' itu.

"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Yoongi pelan.

Seokjin tersenyum miring mendengar kelembutan dalam suara Yoongi, "Kau itu baik hati ya, sudah menerima arogansinya yang tidak tanggung-tanggung, tetapi masih saja mencemaskannya,"

Dengan pelan Seokjin meletakkan cangkirnya, "Yah, dia baik-baik saja, sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti beruang terluka, tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya dalam radius 100 meter kalau dia sedang mengeluarkan aura pemarahnya, bahkan direktur keuangan memilih berhubungan dengannya via telepon," Seokjin terkekeh. Lalu wajahnya berubah serius melihat kesedihan Yoongi, "Yah... dengan melupakan fakta kalau akhirakhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia, sepertinya dia baik-baik saja."

Yoongi memalingkan wajahnya dengan pedih,

"Dia menderita Yoongi..." desah Seokjin kemudian, "Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya."

"Sudah..." Yoongi tidak tahan lagi mendengarnya, penderitaan Jimin serasa mengiris-iris hatinya, "Sudah aku tidak mau mendengar lagi."

Seokjin menarik napas, "Tapi tadi dia memintaku menyampaikan pesan kepadamu."

Kata-kata Seokjin yang menggantung membuat Yoongi menoleh, tertarik,

"Pesan?"

Seokjin menggangguk,

"Ya, sebuah pesan... malam ini jam delapan, ditunggu di restourannya," lalu Seokjin menyebutkan nama sebuah hotel.

Dan Yoongi mengernyit, hotel tempat pertama kali dia bersama Jimin.

.

.

.

Yoongi merasa tidak nyaman, pakaiannya terlalu biasa-biasa saja untuk ukuran hotel yang mewah ini. Dia berdiri dengan kikuk di lobby, tak tahu harus berbuat apa.

Entah dorongan apa yang membuatnya datang menemui Jimin malam ini. Dia tahu dia nekat, seperti memancing iblis untuk membakarnya. Tapi dia tidak bias menahan diri. Dia ingin bertemu Jimin, walaupun mungkin ini untuk terakhir kalinya.

"Bisa dibantu nona?" Lelaki petugas hotel itu datang menghampiri, sepertinya melihat kebingungan Yoongi,

"Eh saya...saya Yoongi...saya sudah ditunggu..."

"Nona Yoongi," petugas itu berubah sopan dan membungkukkan tubuh,

"silahkan, anda sudah ditunggu, mari saya antar."

Dengan ragu Yoongi melangkah mengikuti petugas hotel itu, memasuki restaurant yang tertata dengan mewah dan elegan.

Dan disanalah Jimin, duduk dengan pakaian resminya, mata Jimin sudah melihatnya ketika dia memasuki ruangan. Dan tidak lepas memandanginya dengan tajam setelahnya. Ketika Yoongi mendekat, Jimin berdiri dengan sopan lalu duduk lagi setelah Yoongi duduk,

Hening sejenak, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Terimakasih sudah datang." gumam Jimin lembut,

Yoongi mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat kelembutan tatapan Jimin.

"Mungkin ini untuk terakhir kalinya, mungkin setelah ini aku tidak akan dating lagi." gumam Yoongi pelan.

Jimin menggangguk,

"Setelah ini aku tidak akan pernah memintamu datang lagi."

Hening lagi. Sampai pelayan membawakan makanan pembuka, mereka makan malam dalam diam. Sampai kemudian Jimin menuangkan anggur ke gelas Yoongi.

Yoongi mengernyit, "Aku tidak pernah minum alkohol."

Jimin tersenyum menggoda, senyum pertamanya malam itu,

"Tenang saja, aku akan menjagamu. Kemungkinan terburuknya mungkin kau diperkosa saat mabuk."

Pipi Yoongi langsung merona dan Jimin terkekeh.

Anggur itu mencairkan segalanya, suasana menjadi hangat, dan percakapan mereka mengalir lancar, Jimin menceritakan tentang perjalanannya ke Eropa dan Yoongi mendengarkannya dengan penuh minat.

Sampai kemudian, Jimin menggenggam tangan Yoongi lalu mengecupnya, "Aku ingin memelukmu."

Hanya satu kalimat, tapi Yoongi mengerti. Dia menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dia menyetujuinya. Mungkin karena anggur itu sudah mempengaruhi pikiran normalnya. Yang pasti Yoongi juga ingin merasakan pelukan Jimin. Dengan lembut Jimin menghela Yoongi, melangkah ke lantai atas,

.

.

.

Ketika Jimin membuka pintu kamar, Yoongi menatap Jimin bingung, dan Jimin tertawa menyadari kebingungan Yoongi,

"Yah... kamar yang sama... Kuakui... aku memang agak sedikit sentimental," Jimin mengangkat bahu, pipinya sedikit merona, "Kupikir... tempat saat pertama akan cocok untuk menjadi tempat saat terakhir kita."

Yoongi tersenyum lembut, dan membiarkan Jimin membimbingnya memasuki kamar, Mereka berdiri dengan canggung, sampai Jimin mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya,

"Aku membawa cincin keluargaku, cincin yang diberikan turun-temurun untuk pengantin perempuan," dengan tenang dia membuka kotak itu dan menunjukkan cincin dengan berlian biru yang mungil dan cantik, "Aku ingin memberikannya kepadamu."

"Tidak!" Yoongi langsung berseru keras, menolak, "Jangan Jimin, itu... itu cincin yang sangat penting, itu untuk pengantin wanitamu!"

"Bagiku, kaulah pengantin wanitaku," Jimin menarik tangan Yoongi, memaksa memasangkan cincin itu ketangannya, lalu menggenggamnya erat-erat ketika Yoongi berusaha melepaskan cincin itu, "Aku ingin kau memilikinya."

"Jimin..." Yoongi merintih penuh penderitaan, penuh air mata, Dan Jimin mengusap air matanya lembut, mengecup air matanya lembut.

"Yoongi," bisiknya seolah kesakitan, lalu mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan, "Astaga... Yoongi... Yoongi... Betapa aku merindukanmu..."

Ciumannya semakin dalam, semakin bergairah, semakin penuh kerinduan, tak tertahankan...

.

.

.

Jimin melepaskan ciumannya dan menatap Yoongi lembut,

"Kau mabuk ya?" senyumnya. Merasa senang karena Yoongi membalas ciumannya dengan sama bergairahnya.

Yoongi hanya merangkulkan tangannya erat-erat di leher Jimin, merasakan benaknya melayang-layang. Sepertinya dia memang mabuk, karena sekarang dia merasa bebas dan begitu nyaman bersama Jimin. Jimin terkekeh geli.

"Aku senang kalau kau mabuk, kau begitu penurut dan tidak takut-takut," dengan lembut Jimin mengecup telinga Yoongi, mencumbunya dengan penuh kelembutan, "biarkan aku mencintaimu malam ini Yoongi..."

Dengan lembut Jimin menghela Yoongi ke atas tempat tidur dan mengecupi wajahnya penuh perasaan, "selama ini kita berhubungan seks...tapi malam ini aku berjanji, kita akan... bercinta."

Jimin menggerakkan tangannya menurunkan gaun Yoongi dan mulai mengecupi pundaknya, tersenyum senang ketika mendengar desahan Yoongi,

"Hmm, kau senang sayang? Kau menyukainya ya?" dengan penuh perasaan di

kecupinya semua permukaan kulit Yoongi.

Yoongi merasa dirinya melayang-layang, pengaruh alkohol, ditambah kemesraan Jimin yang luar biasa membuatnya merasa di awang-awang, dibukanya matanya, dan samar-samar dilihatnya Jimin mengecupi jemarinya, ketika Jimin menatapnya, mata laki-laki itu tampak berkilauan, Posisi mereka begitu intim, telanjang bersama dengan tubuh menyatu. Jimin mendesakkan dirinya lebih rapat, menikmati tubuh perempuannya yang melingkupinya. Dadanya serasa membuncah oleh perasaan hangat, ketika mata mereka bersatu dalam pesan yang tersirat.

"Aku mencintaimu." bisik Jimin lembut. Dan Yoongi pun melayang, terbawa oleh cinta Jimin.

TBC

P.S: Chim mah gitu ketemu sex ,salam perpisahan pun sex..

Lagi males banyak bacot nih.

So, review ?