Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 18
Jimin memeluk tubuh Yoongi yang lunglai dan terlelap, tubuhnya rileks setelah percintaan mereka. Tapi otaknya berpikir keras.
Dia sengaja membuat Yoongi mabuk malam ini, agar Yoongi tidak waspada, agar Yoongi tidak menyadari, tidak menyadari apa yang sudah dia rencanakan jauh sebelumnya. Dia tidak memakai pelindung saat mereka bercinta tadi. Dia berusaha membuat Yoongi hamil.
Jimin memejamkan mata dan mengernyit ketika sengatan rasa bersalah menyerbunya. Dia telah memanipulasi ketulusan perasaan Yoongi dengan menjebaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah berusaha melupakan Yoongi.
Tuhan tahu dia berusaha sangat keras, apa saja agar Yoongi bahagia bersama Hoseoknya yang sudah dipilihnya. Dia bahkan mengajukan diri untuk perjalanan bisnis ke luar negeri agar bisa melupakan Yoongi. Tapi perempuan itu membayanginya, membuatnya gelisah dan tidak bisa berkonsentrasi. Jimin merasa dirinya nyaris gila ketika memutuskan akan pulang dan memutuskan untuk memiliki Yoongi dengan cara apapun. Jika Yoongi tidak mau memilihnya, maka Jimin akan memaksa Yoongi memilihnya!
Dengan lembut Jimin mengecup dahi Yoongi yang berbaring di lengannya. Sebelah tangannya meraba perut Yoongi yang telanjang di balik selimut dan mengelusnya.
Anakku mungkin sudah bertumbuh di sini, pikirnya posesif. Rasa memiliki dengan intensitas luar biasa muncul tiba-tiba dalam hatinya ketika menyadari bahwa anaknya mungkin sudah mulai bertumbuh dan terbentuk di dalam rahim Yoongi.
Dengan lembut diusapnya perut Yoongi, Jimin tidak bisa menahan diri, pelanpelan diletakkannya kepala Yoongi di bantal, lalu dia bergerak turun dan mengecup perut Yoongi,
"Kau harus tumbuh di sana," bisiknya penuh tekad, "Kau harus tumbuh sehat dan kuat di sana, agar ayahmu bisa memiliki ibumu", Jimin berbicara sambil mengecup perut Yoongi.
Kemungkinan bayi itu terbentuk dari percintaan mereka adalah 80%, Jimin sudah mempelajarinya dari semua referensi yang bisa ia dapat, ia mengetahui bahwa dari rata-rata umur mereka berdua kemungkinan Yoongi hamil malam ini sangat besar, dan diam-diam dia sudah mencocokkan dengan siklus Yoongi, dia tahu perempuan itu sedang dalam masa suburnya.
Ciuman-ciuman lembut di perutnya itu membuat Yoongi terbangun, dia membuka mata dan menatap Jimin,
"Jimin?" Yoongi bertanya-tanya kenapa Jimin mengecup perutnya. Jimin tersenyum, senyum yang sedikit kejam menurut Yoongi, tapi usapan tangan lelaki itu yang dilakukan sambil lalu di sepanjang kulitnya yang telanjang, terasa begitu lembut sekaligus menggoda.
"Aku bergairah lagi." gumam Jimin Serak, lalu bergerak naik dan mengecup bibir Yoongi penuh gairah.
Jimin berbeda dengan tadi, pikir Yoongi, kali ini sedikit lebih kasar, tidak menahan diri dan sangat posesif. Ciumannya begitu bergairah, melumat bibir Yoongi kuat-kuat, lidahnya menjelajahi mulut Yoongi dengan panas, tangannya mengusap tubuh Yoongi penuh gairah.
"Kau milikku Yoongi." gumam Jimin parau sebelum bercinta lagi dengan Yoongi.
.
.
.
Yoongi terbangun dalam pelukan Jimin. Matahari fajar sedikit menembus tirai putih jendela hotel itu, masih gelap dan dingin. Dengan nyaman Yoongi makin bergelung dalam pelukan lelaki itu. Dan secara otomatis Jimin mengetatkan pelukannya, melingkarkan lengannya erat-erat di tubuh Yoongi.
Yoongi memejamkan matanya, menenggelamkan wajahnya di dada telanjang Jimin, menghirup aroma Jimin kuat-kuat dan menyimpannya rapat-rapat dalam memorinya. Tiba-tiba air mata merembes dari sela bulu matanya, dan Yoongi menahannya agar tidak menjadi isakan.
Kenapa? Kenapa Tuhan membuatnya jatuh cinta lebih dulu kepada Jimin sebelum kemudian mengabulkan doanya agar Hoseok terbangun dari komanya? Apa rencana Tuhan di balik semua peristiwa ini? Kenapa di saat Hoseok benar-benar sudah bangun, hatinya sudah jatuh dimiliki oleh Jimin?
Yoongi mengigit bibirnya agar tangisnya tidak semakin keras dan membangunkan Jimin, dia tidak boleh menangis. Ini semua sudah menjadi keputusannya. Dia sudah memiliki Hoseok. Hoseok yang mencintai dan dicintai olehnya sejak awal. Hoseok yang sebatang kara dan tidak akan punya siapa-siapa kalau Yoongi tidak ada di sampingnya. Hoseok lebih membutuhkan Yoongi dibandingkan Jimin.
Tanpa Yoongi, Hoseok akan rapuh, sedangkan tanpa Yoongi, Jimin akan tetap kuat. Jimin bisa mencari Yoongi-Yoongi yang lain dengan segala kelebihannya, sedangkan Hoseok hanya memiliki Yoongi.
Dia sudah memutuskan dalam hatinya, tapi kenapa hatinya tetap terasa begitu sakit? Rasanya seperti disayat-sayat ketika memikirkan Jimin, ketika ingatannya melayang pada setiap kebersamaan mereka. Kenapa rasanya masih terasa begitu sakit?
Dan malam ini Yoongi memutuskan bertindak egois. Hanya malam ini ya Tuhan, ampuni aku, desah Yoongi dalam hati. Dia tahu semua ini akan terjadi. Dia tahu jika dia datang menemui Jimin pada akhirnya mereka akan berakhir di ranjang dan bercinta. Yoongi tahu itu semua akan terjadi, tapi dia tetap mengambil konsekuensi itu, dia butuh merasakan pelukan Jimin untuk terakhir kalinya, dan kemudian meyakinkan dirinya bahwa ini adalah perpisahannya dengan Jimin.
Pelukan Jimin tiba-tiba mengencang dan lelaki itu dengan masih malasmalasan mengecup dahi Yoongi,
"Dingin?" tanyanya Serak.
Yoongi mendongakkan wajah dan mendapati mata biru itu menatapnya. Lalu tersenyum lembut, dan menggeleng.
Jimin meraih dagu Yoongi dan mengecupnya dengan kecupan singkat,
"Aku menyakitimu tidak semalam?"
Sekali lagi Yoongi menggeleng dan menenggelamkan wajahnya ke dada Jimin, menahan air mata. Ini adalah saat berharganya. Berada dalam pelukan erat Jimin, merasakan kelembutan dan kemesraannya. Dia akan menyimpan kenangan ini dihatinya, biar di saat-saat dia merasa pedih dan merindukan Jimin, dia tinggal menarik keluar kenangan tentang pagi ini, dan hatinya bias terasa hangat.
Seperti inilah dia akan mengenang Jimin nanti, lembut, penuh cinta dan memeluknya erat-erat. Seolah mengerti pikiran Yoongi yang berkecamuk, Jimin tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya memeluk Yoongi erat-erat dan mengusap punggungnya dengan lembut, mereka larut dalam keheningan dan usapan Jimin membuat Yoongi setengah tertidur,
"Aku harap kau tidak menyesali malam tadi." bisik Jimin lembut, menggugah
Yoongi dari kondisi setengah tidurnya.
Yoongi mendongakkan kepalanya lagi dan menatap Jimin lembut,
"Kau tahu aku tidak menyesal." tangannya dengan hati-hati mengusap wajah Jimin, takut akan reaksi Jimin karena dia tidak pernah melakukannya sebelumnya. Tapi Jimin langsung memejamkan mata, menikmati setiap usapan Yoongi dengan penuh perasaan.
Merasa mendapatkan izin, dengan lembut Yoongi menggerakkan tangannya, meraba wajah Jimin. Mulai dari dahinya, lalu ke alisnya yang tebal, ke mata yang terpejam itu, ke bulu mata tebal yang hampir menyentuh pipi ketika Jimin terpejam, ke hidungnya, ke tulang pipinya yang tinggi, ke rahangnya yang mulai ditumbuhi bakal janggut, hingga ke bibirnya yang tipis tapi penuh, bibir yang tak terhitung lagi sudah mengecupnya berapa kali.
"Yoongi..." Jimin mendesah, mengernyitkan keningnya merasakan usapan lembut Yoongi di wajahnya, tangannya lalu menahan jemari Yoongi di bibirnya dan mengecupnya, mata birunya membuka dan menatap Yoongi bagai api biru yang menyala.
"Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan membuat kau mensyukuri malam ini." gumam Jimin misterius.
Yoongi mengernyitkan kening mendengar kata-kata Jimin yang penuh arti. Apa maksud Jimin?
Tapi sebelum Yoongi bisa berpikir lebih lanjut, Jimin sudah meggulingkan tubuh Yoongi dan menindihnya. Bercinta lagi dengannya.
.
.
.
Yoongi membuka pintu apartemen dengan berhati-hati dan menemukan dokter Seokjin sedang duduk di ruang tamu sedang menyesap kopi dan menonton televisi.
Dokter Seokjin tersenyum penuh pengertian ketika menatap Yoongi. Saat itu jam 8 pagi, Yoongi sengaja meminta Jimin memulangkannya pagi-pagi sehingga Hoseok belum bangun. Semalampun ia berangkat setelah yakin Hoseok sudah tertidur pulas.
"Hoseok belum bangun." jawab dokter Seokjin tenang, menjawab pertanyaan di mata Yoongi. Yoongi menarik napas lega,
"Dokter menginap di sini?" tanyanya pelan.
Seokjin mengangguk,
"Suster Hana memintaku menemani untuk berjaga-jaga, dan aku tidak keberatan, toh aku tidak ada acara apa-apa," Seokjin tersenyum lembut kepada Yoongi,
"kuharap semalam menyelesaikan segalanya."
Pipi Yoongi memerah mendengar ucapan Dokter Seokjin yang penuh arti itu,
"Dia agak marah tadi pagi saat saya buru-buru pulang demi Hoseok", bisik Yoongi pelan.
Seokjin terkekeh sambil meletakkan cangkir kopinya,
"Dia memang begitu, tak usah pedulikan, aku yakin sebenarnya dia bahagia kau telah memberinya kesempatan," suara dokter Seokjin berubah serius, "Dan setelah semalampun kau tetap pada keputusanmu Yoongi?"
Yoongi tercenung mendengar pertanyaan itu, sejenak ragu, tapi lalu menganggukkan kepalanya mantap,
"Saya harus terus bersama Hoseok, dia membutuhkan saya." jawabnya lembut.
"Kau selalu memikirkan orang lain, bagaimana dengan dirimu sendiri?" Tanya dokter Seokjin tiba-tiba.
Dengan masih tersenyum Yoongi menjawab, "Saya tidak apa-apa dokter, saya merasa bahagia karena semua orang bahagia."
Semua orang bahagia selain kau dan Jimin. Pikir Seokjin miris ketika Yoongi berpamitan ke kamar untuk berganti pakaian. Seokjin tahu kalau Yoongi sama tersiksanya dengan Jimin. Dan dia ingin berteriak marah kepada Yoongi, memarahi ketidakegoisan perempuan itu, sekaligus bertanya sampai kapan Yoongi mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan orang lain? Untuk kebahagiaan orang lain? Seokjin merasakan dorongan kuat untuk memaksa Yoongi berbuat egois, mementingkan kepentingannya sendiri, berusaha meraih kebahagiaannya sendiri. Tapi dia tahu Yoongi, dengan kebaikan hatinya yang luar biasa itu tidak akan mau melakukannya.
Dan tiba-tiba Seokjin teringat pertemuannya dengan Jimin ketika lelaki itu baru pulang dari eropa beberapa hari lalu, mata Jimin saat itu tampak penuh tekad, setengah gila dan menyala-nyala.
"Kalau dia tidak bisa memilihku, maka aku akan memaksanya memilihku."
Wajah Seokjin memucat mendengar nada final dalam ucapan Jimin waktu itu,
"Astaga Jimin, kau tidak sedang berencana melakukan tindakan kasar dan pemaksaan untuk memiliki Yoongi kan?" berbagai pikiran buruk melintas di pikirannya, seperti kemungkinan Jimin menculik Yoongi dan membawanya pergi, atau kemungkinan Jimin akan menyingkirkan Hoseok dengan cara kasar.
Itu semua bisa dilakukan Jimin dengan kekejaman dan kekuasaannya. Dan Seokjin takut Jimin kehilangan akal sehatnya dan memutuskan melakukan salah satu dari hal yang ditakutinya itu.
Jimin menarik napas panjang,
"Aku akan membuatnya hamil anakku." gumamnya setelah jeda yang cukup lama.
Seokjin menganga mendengarnya,
"Apa?" Seokjin sudah mendengar cukup jelas tadi, tapi dia sama sekali tidak yakin dengan apa yang didengar telinganya, dia butuh mendengar lagi.
"Aku akan membuatnya mengandung anakku." gumam Jimin penuh tekad.
"Kau sudah gila ya Jimin?" suara Seokjin meninggi menyadari keseriusan dalam suara Jimin, Tapi Jimin sama sekali tidak terpengaruh dengan nada marah dan ketidak setujuan Seokjinn dia tetap tenang dan berpikir,
"Jika Yoongi mengandung anakku, mengingat sifatnya, dia tidak akan mungkin mengugurkannya. Itu berarti dia akan mengakui hubungan kami kepada Hoseok, dan aku akan menggunakan segala cara - dengan menggunakan anak itu sebagai alasan - agar aku bisa mengklaim Yoongi."
"Kau gila!" seru Seokjin tidak setuju, "apa kau tidak pernah memikirkan perasaan Hoseok? Hatinya akan hancur, dan Yoongi juga akan menderita jika dia sadar dia telah menyakiti hati Hoseok."
"Kau pikir mereka saja yang menderita hah?" sela Jimin keras, membuat Seokjin tertegun, "aku juga menderita! Aku tidak bisa makan, aku tidak bias tidur! Aku menjalani detik demi detik, menit demi menit penuh penyiksaan! Aku sama saja sudah mati akhir-akhir ini! Aku juga menderita, menyadari bahwa aku bisa memiliki Yoongi tetapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat perempuan itu memilihku! Sebelum kepulanganku aku sudah bertekad akan melakukan ini! Tidak ada yang bisa mengahalangiku!"
"Jimin," Seokjin melembut, mencoba meredakan emosi Jimin, "aku mengerti perasaanmu, tapi bagaimana kalau nanti Hoseok ternyata menerima kondisi Yoongi apa adanya dan kemudian Yoongi memutuskan membesarkan anak itu bersama Hoseok?"
"Kalau itu terjadi aku akan menggunakan cara kekerasan," jawab Jimin dingin,
"aku akan memberikan ultimatum, Yoongi memilihku, atau aku akan merenggut anak itu darinya, kalau perlu aku akan menempuh jalur hukum."
"Kejam sekali." Seokjin bergumam spontan.
Jimin mengangguk tidak membantah,
"Ya memang kejam sekali." jawabnya menyetujui, tanpa penyesalan dan tampak penuh tekad menjalankan rencananya.
Dan sekarang Seokjin duduk di ruang makan, mencoba menarik kenangannya kembali. Dengan pelan disesapnya kopinya lagi, Semoga Tuhan melindungi Yoongi kalau Jimin benar-benar membuatnya hamil malam kemarin. Semoga Tuhan mengampuninya karena dengan kesadaran penuh dia sudah mendukung rencana Jimin.
TBC
P.S: iyaa ,saya tahu kalian pengennya cepet update. Iyaa ,saya tau kalian penasaran. Tapi bisa ga isi review kalian bukan sskedar "next" "lanjut" "penasaran" "next thor"
Aku ga minta kalian bikin esai di kotak review juga kok :)
