Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 19
Hampir sebulan sejak kejadian itu, dan Jimin menepati janjinya. Tidak menemui Yoongi lagi. Atas bujukan dan desakan Seokjin, Yoongi kembali bekerja di perusahaan Jimin, lagipula bujukan Seokjin ada benarnya juga, Yoongi butuh gajinya untuk menghidupi mereka semua. Dan selama sebulan itu Park Jimin, sang CEO menjadi orang yang paling sulit dilihat di kantor, jika tidak sedang melakukan perjalanan bisnis, lelaki itu mengurung diri di ruangan kerjanya dan tidak keluar keluar.
Sesekali Yoongi masih berpapasan dengan Taehyung, lelaki itu masih bekerja di sini, Jimin tidak jadi memecatnya, sepertinya dia dan Jimin sudah berhasil menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka.
Dan Yoongi merindukan Jimin. Dia sudah bertekad melupakan Jimin, tetapi hatinya punya mau sendiri, kadang dia menatap lift khusus direksi yang menyambung langsung ke ruangan Jimin dengan penuh harap. Berharap tanpa sengaja dia melihat Jimin keluar dari sana, melangkah ke parkiran mobilnya.
Tuhan tahu betapa ia bersyukur seandainya saja dia bisa melihat Jimin, biarpun cuma satu detik, biarpun cuma dari kejauhan. Tapi entah kenapa Jimin seperti punya pengaturan waktu sendiri agar tidak bertemu Yoongi.
Sore itu Yoongi melangkah memasuki apartemennya dengan lunglai, dia tidak enak badan, sedikit panas dan meriang, jadi dia minta izin pulang cepat. Ketika memasuki ruang tamu, dia mendengar suara tawa dari ruang tengah. Suara Hoseok dan dokter Seokjin. Dokter Seokjin sudah mendapat izin Jimin menggunakan setengah hari kerjanya untuk melakukan terapi khusus pada Hoseok.
Terapinya sudah membuahkan hasil, Hoseok sudah bisa menggerakkan jari-jari kakinya, sedikit mengangkatnya dan melatih saraf-sarafnya. Optimisme bahwa Hoseok akan bisa berjalan lagi semakin besar.
Yoongi melangkah ke ruang tamu dan melihat Hoseok sedang duduk di kursi rodanya sedang dokter Seokjin menuangkan teh untuknya, sepertinya session terapi sudah selesai.
Hoseok mendongak ketika merasakan kehadiran Yoongi dan tersenyum lebar, mengulurkan tangannya, "Hai sayang,"
Dengan senyum pula Yoongi melangkah mendekat, menyambut uluran tangan Hoseok. Lelaki itu membawanya ke mulutnya dan mengecupnya,
"Bagaimana session terapi kali ini?" tanyanya lembut.
Hoseok tertawa dan Yoongi mengamatinya dengan bahagia, Hoseok banyak tertawa akhir-akhir ini. Lelaki itu makin sehat, warna kulitnya juga sudah jadi cokelat sehat, tidak pucat pasi seperti dulu. Badannya sudah berisi dan tampak lebih kuat. Hoseok sudah menjadi Hoseoknya yang dulu, yang penuh tawa dan vitalitas, dengan semangat hidup yang memancar dari dalam dirinya.
"Aku tadi sudah belajar berdiri, sulit sekali Yoongi sampai keringatku bercucuran, tapi aku senang sudah sampai di tahap sejauh ini", jelas Hoseok bahagia.
Yoongi membelalakkan matanya senang, "Benarkah?", dengan gembira ditatapnya dokter Seokjin, "benarkah dokter?"
Dokter Seokjin mengangguk dengan senyum dikulum, "Perkembangan Hoseok sangat pesat Yoongi, aku optimis dia akan bisa berjalan lagi."
Dengan bahagia Yoongi memeluk Hoseok erat-erat, "Oh aku bangga sekali padamu mendengarnya sayang!" serunya dengan kegembiraan murni.
Tapi tiba-tiba Hoseok melepaskan pelukannya dan menatap Yoongi sambil
mengerutkan alisnya, "Sayang, badanmu panas."
Gantian Yoongi yang mengerutkan keningnya lalu meraba dahinya sendiri,
"Benarkah? Aku memang merasa tidak enak badan, makanya aku pulang cepat."
Dengan cemas, Hoseok menoleh ke arah Seokjin, "Dokter, badannya panas bukan?"
Seokjin segera mendekat dan menyentuh dahi Yoongi lembut,
"Benar, kau panas Yoongi, apakah kau terserang flu?"
Yoongi menggelengkan kepalanya,
"Tidak, saya tidak pilek ataupun batuk dokter, tapi ada masalah dengan perut saya, akhir-akhir ini saya sering memuntahkan makanan yang saya makan, makanya badan saya terasa lemah dan..."
"Memuntahkan makanan?" dokter Seokjin mengernyitkan keningnya, begitu serius.
Yoongi menganggukkan kepalanya, tidak menyadari betapa seriusnya pandangan dokter Seokjin menelusuri tubuhnya.
"Sudah berapa lama?" tanya dokter Seokjin lagi.
Yoongi tampak berpikir, "Baru beberapa hari ini, mungkin seminggu terakhir ini."
"Apa kau kena maag Yoongi?" Hoseok menyela tampak semakin cemas.
"Mungkin," Yoongi mengusap perutnya, "Soalnya aku sering mual."
Dokter Seokjin mengikuti arah tangan Yoongi dan menatap perut Yoongi,
"Kau tampak pucat Yoongi, berbaringlah dulu, aku akan menyusul dan memeriksamu nanti setelah selesai dengan Hoseok."
Yoongi menganggukkan kepalanya, lalu menunduk dan mengecup dahi Hoseok,
"Aku berbaring dulu ya." bisiknya lembut dan Hoseok mengangguk, balas mengecup dahi Yoongi.
Seperginya Yoongi, Seokjin memijit kaki Hoseok untuk session pelemasan akhir sambil berpikir keras... Tidak enak badan, mual, memuntahkan makanannya... Jika dihitung-hitung tanggalnya, semuanya tepat. Apakah Yoongi sudah hamil dan tidak menyadarinya?
"Dokter?" Hoseok yang menyadari kalau Seokjin melamun menegurnya hingga Seokjin tergeragap, "Dokter tidak apa-apa?"
Seokjin berdehem salah tingkah, "Ah, maafkan aku Hoseok, aku sedang memikirkan Yoongi."
"Kalau begitu sebaiknya dokter memeriksa Yoongi dulu, aku juga mencemaskannya dok," Hoseok tersenyum melihat Seokjin ragu-ragu, "Tidak apa-apa dok, aku sudah lebih kuat sekarang, aku bisa membawa diriku sendiri ke kamar dan mengurus diriku sendiri. Kumohon, uruslah Yoongi dulu."
Sambil mengangguk, Seokjin bergegas menyusul Yoongi ke kamarnya. Yoongi sedang berbaring miring memegangi perutnya, tampak kesakitan dan pucat pasi.
Seokjin duduk di sebelah ranjang, menyentuh dahi Yoongi lagi, panas membara, meskipun keringat dingin mengalir deras,
"Saya muntah-muntah lagi barusan dokter." Yoongi memejamkan matanya dan tidak berani membukanya, seolah takut kalau dia membuka matanya, rasa mual yang hebat akan menyerangnya lagi.
"Berbaringlah dulu, aku akan membuatkan teh mint untukmu, untuk mengurangi mual, nanti aku akan membuatkan resep obat untukmu." obat untuk wanita hamil. Seokjin mulai merasa yakin melihat kondisi Yoongi. Yoongi hanya mengangguk patuh masih memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, Seokjin kembali datang dan membantu Yoongi duduk, lalu membantunya meneguk teh mint itu, setelah itu dia membaringkan Yoongi yang lemas di ranjang, Yoongi meletakkan kepalanya di bantal dengan penuh syukur.
"Terima kasih dokter, tehnya sangat membantu, perut saya tidak begitu bergolak
lagi seperti tadi."
Seokjin tersenyum lembut,
"Cobalah untuk tidur." gumamnya sebelum melangkah keluar kamar.
Ketika merasa suasana cukup aman, dengan Hoseok yang sepertinya sudah masuk ke kamarnya, Seokjin meraih ponselnya dan memejet nomor telepon Jimin. Jimin memang menghilang dari kehidupan Yoongi, tetapi lelaki itu tetap memantau setiap detik kehidupan Yoongi, lelaki itu menuntut laporan yang sedetail-detailnya dari Seokjin setiap saat. Dan menurut Seokjin, Jimin berhak mengetahui dugaannya ini.
"Seokjin." Jimin mengangkat teleponnya pada deringan pertama.
"Jimin," Seokjin berbisik pelan, bingung memulai dari mana. Sejenak suasana hening, dan tiba-tiba suara Jimin memecah keheningan.
"Dia hamil." itu pernyataan bukan pertanyaan.
"Aku tidak bisa menyimpulkannya seakurat itu sebelum dilakukan test urine dan test lainnya, tapi kemungkinan besar dia hamil, dia memuntahkan semua yang dimakannya, dan mual-mual setiap saat."
"Dia hamil." kali ini rona kegembiraan mewarnai suara Jimin,
"Aku akan melakukan test urine dulu Jimin, kau tak bisa..."
"Aku akan segera kesana." dan Jimin menutup telepon. Membiarkan Seokjin ternganga di seberang, lalu menggerutu dengan ketidaksabaran Jimin.
Jimin mau kesini, lalu apa? Langsung melemparkan bom itu ke muka Hoseok dan Yoongi? Dasar! Seokjin berniat menunggu Jimin di depan apartemen, berusaha mencegah Jimin bertindak gegabah, lelaki itu harus berusaha pelanpelan, apalagi kehamilan Yoongi belum dipastikan secara akurat.
Lama sekali Seokjin menunggu di ruang tamu, hampir satu jam. Kenapa Jimin lama sekali? Apakah Jimin membatalkan niatnya kemari? Seokjin mulai bertanya-tanya. Saat itulah Hoseok mendorong kursi rodanya ke ruang tamu, Seokjin menoleh dan tersenyum.
"Hai Hoseok, bagaimana kondisimu?"
Hoseok balas tersenyum, "Tidak pernah lebih baik, aku tadi membaca di kamar, dan mulai merasa bosan jadi aku keluar, bagaimana keadaan Yoongi?"
Seokjin menarik napas, "Dia sudah tidur pulas sepertinya, kasihan sepertinya perutnya bermasalah."
Hoseok mengernyitkan keningnya, "Dia bekerja terlalu keras," gumamnya sendu, "dan itu semua gara-gara aku."
"Hoseok," Seokjin menyela dengan lembut, "Kita sudah pernah membahas ini kan? Kau tidak boleh menyalahkan diri sendiri, lagipula Yoongi melakukannya dengan sukarela."
"Benarkah?" suara Hoseok menjadi pelan, "kadang-kadang aku merasa dia hanya kasihan kepadaku."
"Hoseok...", Seokjin tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat diliriknya layar ponselnya. Taehyung.
"Taehyung?" panggilnya setelah mengangkat telepon, "Taehyung kau tahu di mana Jimin? Dia bilang akan ke sini, tapi sampai sekarang dia belum datang..."
"Seokjin, Jimin kecelakaan di tol."
.
.
.
"Yoongi." dengan lembut Seokjin menggoyangkan pundak Yoongi yang tertidur pulas. Sementara Hoseok mengikuti di belakangnya.
Dengan sedikit lemah Yoongi membuka mata dan agak waspada melihat wajah dokter Seokjin yang pucat pasi, dengan segera dia duduk, gerakan tiba-tiba itu langsung membuat kepalanya pening, tapi Yoongi menahannya sambil mengernyit,
"Ada apa dokter? Hoseok kenapa?"
"Aku baik-baik saja di sini." gumam Hoseok dalam senyum.
Yoongi menatap Hoseok dengan lega, tapi lalu menatap dokter Seokjin yang begitu pucat pasi,
"Yoongi, aku... Ah aku bingung bagaimana mengatakannya, tapi aku harus segera pergi, ini darurat... Tapi aku bertanya-tanya mungkin kau mau ikut.."
"Ada apa dokter?", Yoongi mulai tegang ketika dokter Seokjin tidak juga mengatakan maksudnya.
"Jimin, barusan kecelakaan di jalan tol, dia sudah dibawa ke rumah sakit, tapi kami belum tahu kondisinya, Taehyung juga sedang dalam perjalanan menuju kesana."
TBC
P.S: ini hamper ending… gak tega ,remake kesayangan :" ntah kenapa sejak bikin remake ini aku kalo liat moment hopega jadi gimanaaa gitu ,apalagi kalo abis ada hopega moment sic him muncul ,buyar dahhh hati adinda. Kalian merasakan juga ? or just me and my lebay feeling wkwk
Aku ingin menanyakan 2 hal:
Ada beberapa yang minta aku remake fifty shade of grey menjadi fifty shade of park. Hmm ShOuld I ?
Hmm ini jahat karan temenku meracuniku dgn ff uke!chim dan aku terjebak! Jahat kaaannn. Kalo aku membuat sebuah remake dengan uke!chim gimana yaa ? aku menghianati yoonmin shipper gak yaa ? I really need your opinion.
So,review ?
