Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 20
"Yoongi, aku... Ah aku bingung bagaimana mengatakannya, tapi aku harus segera pergi, ini darurat... Tapi aku bertanya-tanya mungkin kau mau ikut.."
"Ada apa dokter?", Yoongi mulai tegang ketika dokter Seokjin tidak juga mengatakan maksudnya.
"Jimin, barusan kecelakaan di jalan tol, dia sudah dibawa ke rumah sakit, tapi kami belum tahu kondisinya, Taehyung juga sedang dalam perjalanan menuju kesana."
"Apa?" warna pucat mulai menjalar ke wajah Yoongi, lalu segera digantikan dengan kepanikan luar biasa, "Ya Tuhan, aku ikut ke rumah sakit, dokter!"
Hoseok mengamati kepanikan Yoongi dari kejauhan, tapi dia hanya diam dan menatap. Yoongi tampak pucat pasi dan ketakutan luar biasa. Kenapa sampai begitu? Seolah-olah kondisi Jimin benar-benar membuatnya cemas. Padahal Jimin kan hanya atasannya di perusahaan? Atau... Jangan-jangan lebih dari atasan ? Pikiran buruk itu menyeruak dalam benak Hoseok, dan dia cepat-cepat menyingkirkannya. Tapi ketika dia melihat betapa Yoongi mulai gemetaran karena cemas dan panik ketika bersiap-siap berangkat, mau tak mau pikiran buruk itu memenuhi benaknya, ada hubungan istimewa apa antara Jimin dengan Yoongi?
Perjalanan ke rumah sakit berlangsung begitu menyiksa bagi Yoongi, dia terus menerus berdoa, seakan semua trauma masa lalu menghantamnya lagi keras-keras.
Ini hampir sama dengan kecelakaan yang membunuh kedua orangtuanya dan melukai Hoseok dulu. Dan Yoongi tidak akan kuat menanggungnya kalau sampai terjadi apa-apa kepada Jimin. Ya Tuhan! Jangan sampai terjadi apa-apa pada Jimin, dia belum sempat mengatakan... Dia belum sempat mengatakan dengan jelas, bahwa dia... Bahwa dia mencintai Jimin.
Yoongi berlari di depan menuju ruangan gawat darurat sementara Seokjin mendorong kursi roda Hoseok di belakangnya. Dia melangkah memasuki ruang perawatan itu dan langsung bertatapan dengan Jimin.
Lelaki itu duduk di meja perawatan, telanjang dada, kepalanya terluka dan sudah di tutup perban, dokter sedang membalut luka di pundak dan lengannya. Banyak darah, tapi sudah dibersihkan. Selebihnya, Jimin tidak apa-apa. Lelaki itu masih hidup, masih untuh, dan ketika Jimin memalingkan kepalanya lalu menatap Yoongi dengan mata birunya yang menyala-nyala.
Yoongi pingsan.
.
.
.
Jimin berteriak memanggil Yoongi, begitu juga dengan Seokjin dan Hoseok yang ada di belakang Yoongi. Tapi Yoongi pingsan mendadak dan jatuh ke lantai. Dengan kasar Jimin menyingkirkan tangan dokter yang sedang membalut lukanya dan melompat turun, setengah berlari menghampiri Yoongi, perawat datang menghampiri, tapi Jimin menyingkirkannya.
"Biar aku saja." gumamnya serak, mengeryit sedikit ketika mengangkat Yoongi menyakiti luka di lengan dan bahunya, tapi dia tidak peduli, dipeluknya Yoongi dengan posesif dan dibaringkannya ke meja perawatan.
"Tuan, saya belum menyelesaikan membalut lukanya." gumam dokter di ruang gawat darurat itu sedikit jengkel.
"Nanti saja." Jimin bergumam tajam dengan arogansi yang sudah seperti pembawaan alaminya sehingga membuat dokter itu terdiam, mengangkat bahunya lalu pergi.
"Sayang," Jimin menepuk pipi Yoongi, tapi perempuan itu begitu pucat pasi, dengan panik, Jimin menoleh ke arah Seokjin di pintu, mengabaikan Hoseok,
"Dia tidak apa-apa?"
Seokjin mendorong Hoseok mendekat, lalu menyentuh Yoongi,
"Dia demam Jimin, dia sedang sakit ketika memaksa mengikuti aku kesini, terus tepuk pipinya pelan-pelan dan sadarkan dia, sepertinya dia shock,"
Seokjin menatap Jimin tajam, "dan kau..kau tidak pernah kecelakaan selama hidupmu, apa yang kau lakukan di jalan tol tadi sehingga berakhir di rumah sakit ini? Apakah kau mabuk?"
Jimin mengeryit, "Aku tidak mabuk, aku hanya terlalu buru-buru ingin cepat sampai jadi kurang hati-hati." saat itulah Yoongi bergerak membuka mata, "ah, sayang…..sayang, kau baik-baik saja?"
Yoongi mengerjap-ngerjapkan matanya, begitu mendapati wajah Jimin ada di dekatnya, airmata mengalir di pipinya, tangannya bergetar ketika terangkat dan menyentuh wajah Jimin, meyakinkan dirinya bahwa betul-betul Jimin yang ada di depanny. Dengan lembut Jimin meraih tangan Yoongi dan mengecupnya.
"Aku ada di sini, aku baik-baik saja." gumamnya setengah berbisik.
Yoongi membiarkan tangannya dalam genggaman Jimin, merasakan kulit Jimin yang panas, mensyukuri bahwa lelaki itu masih hidup. Tadi rasanya seperti mau mati saja ketika mengetahui bahwa Jimin kecelakaan, pikiran-pikiran buruk melandanya, membuatnya ingin menangis dan berteriak, membuatnya hampir menyalahkan Tuhan.
Karena dia sudah memutuskan akan menerima tidak bisa bersama-sama dengan Jimin lagi asalkan lelaki itu tetap hidup, asalkan lelaki itu masih ada, hidup dan bernafas di dunia ini, biarpun Yoongi tidak bisa melihatnya lagi. Pikiran bahwa Jimin bisa saja meninggal dan tidak ada di dunia ini hampir membuatnya ingin menyusul saja. Karena itulah tadi ketika melihat Jimin masih hidup meskipun terluka membuatnya lega luar biasa sehingga pingsan. Yoongi merasakan dadanya sesak ketika menyadari, bahwa cinta barunya, cintanya yang tidak diduga, cinta yang bertumbuh tanpa disadari karena kebersamaan mereka yang tidak direncanakan itu ternyata sudah mencapai tingkat intensitas yang sangat besar.
"Jangan pernah ulangi lagi," suara Yoongi bergetar ketika mencoba berbicara serius kepada Jimin, "Jangan pernah ulangi lagi melakukan seperti ini kepadaku."
Jimin meraih kedua tangan Yoongi dan mengecup jemarinya dengan lembut, "aku berjanji," jawabnya penuh perasaan, "Sekarang tidurlah sayang, aku ada di sini."
Dengan lembut Jimin mengusap dahi Yoongi yang panas, membuat pikiran Yoongi melayang, dia merasa lelah sekali, tubuhnya, jiwanya dan raganya.
Tubuhnya sakit dan lunglai sedang jiwanya kelelahan menahan perasaan. Usapan tangan Jimin di dahinya membuatnya dipenuhi kelegaan luar biasa, membuatnya dipenuhi rasa damai tidak terkira sehingga Yoongi akhirnya terlelap lagi.
"Kemari, lukamu harus dibalut." Seokjin mencoba menarik perhatian Jimin, lelaki itu menatap Yoongi dengan serius, memastikan bahwa Yoongi sudah tidur, lalu menurut menggerakkan tubuhnya agar Seokjin lebih mudah membalut luka di pundak dan lengannya.
Saat itulah Jimin menyadari kehadiran Hoseok, yang hanya diam saja menatap semua kejadian itu tanpa berkata-kata. Mata Jimin berkilat-kilat.
"Aku mencintainya." gumamnya terus terang, membuat Seokjin tersedak dan saat itulah dia juga baru menyadari kehadiran Hoseok.
Hoseok hanya terdiam, menatap Yoongi yang tertidur pulas dengan sedih,
"Aku tahu." gumamnya pelan.
Jimin mengangkat dagunya, mengernyit ketika perban itu membebat kencang lukanya.
"Dan dia juga mencintaiku, tetapi dia memilihmu." sambungnya getir.
Hoseok menghela nafas, "Itupun aku juga tahu."
"Sudah selesai." Seokjin menyela cepat, lalu menepuk pundak Jimin,
"Berbaringlah dulu di ranjang sebelah", Seokjin mengedikkan bahu ke ranjang di sebelah ranjang yang dipakai Yoongi yang masih kosong. "Kau harus berbaring, kepalamu terbentur dan jika kau tidak segera berbaring kau akan mengalami vertigo." sambungnya tegas ketika melihat Jimin akan membantah.
Semula Jimin akan membantah, dia ingin melanjutkan pembicaraan dengan Hoseok, menjelaskan semuanya. Tetapi Seokjin benar, rasa pusing mulai menyerangnya, pusing dan nyeri di bahu dan kepalanya. Obat penghilang rasa sakit yang disuntikkan dokter jaga tadipun mulai bereaksi, membuatnya merasa lemas dan lunglai. Akhirnya Jimin mengangkat bahu dan melangkah ke ranjang kosong itu.
"Kita belum selesai bicara." gumamnya pada Hoseok, mulai menguap.
"Nanti saja." sela Seokjin mengernyit, lalu meraih kursi roda Hoseok dan mendorongnya keluar, "Ayo Hoseok, kita harus membiarkan mereka beristirahat." bisiknya lembut dan mendorong mereka keluar dari ruangan perawatan itu.
Seokjin mendorong Hoseok sampai di ruang tunggu yang tenang dan sepi, lalu duduk di sofa di sebelah Hoseok. Suasana hening, dan Hoseok hanya termenung tidak berkata-kata sampai lama. Seokjin menunggu, menunggu sepatah pertanyaan dari Hoseok sebelum menjelaskan semuanya, dan akhirnya pertanyaan itu dating setelah menunggu sekian lama.
"Apa yang terjadi di sini?", gumam Hoseok serak, dia tetap bertanya meskipun kebenaran itu sudah menyeruak dalam kesadarannya, membuat dadanya sesak.
Seokjin menghela napas mendengarnya, "Ceritanya panjang..."
"Aku punya banyak waktu", sela Hoseok tak sabar, "Jelaskan semuanya"
"Yoongi tidak pernah bermaksud mengkhianatimu kau tahu," gumam Seokjin sedih, "Dia selalu berusaha setia kepadamu."
"Kau bicara begitu padahal jelas-jelas di depan mataku tadi dia jatuh cinta setengah mati kepada lelaki lain?" gumamnya getir.
"Kau tahu, Yoongi putus asa ketika dia akhirnya berhubungan dengan Jimin... biaya operasimu... operasi ginjalmu – dokter mengultimatum kau harus segera dioperasi ginjal untuk menyelamatkan nyawamu – sangat mahal, hamper mencapai tiga ratus juta, sementara seluruh harta Yoongi sudah habis, dia menanggung hutang yang sangat besar di perusahaan... jadi... jadi Yoongi memutuskan menjual keperawanan dan tubuhnya kepada Jimin."
"Oh Tuhan!"
Wajah Hoseok pucat pasi, keringat dingin mengalir di tubuhnya. Jadi semua ini bermula dari dirinya? Semua kegilaan tak diduga ini bermula dari keinginan Yoongi menyelamatkan nyawanya? Menjual keperawanannya! Oh Tuhan, Hoseok tidak pernah peduli apakah Yoongi masih suci atau tidak, baginya Yoonginya adalah Yoongi yang sama. Tapi... Mengetahui bahwa Yoongi melakukan itu demi dirinya benar-benar menghancurkan hatinya. Mengetahui bahwa pada akhirnya Yoongi menyerahkan hati pada lelaki lain yang disebabkan oleh dirinya sangat menyakiti perasaannya.
"Dan Jimin, atasan Yoongi itu pasti laki-laki brengsek karena mau mengambil manfaat dari gadis lemah yang sedang kesulitan." desis Hoseok marah.
Seokjin menggeleng,
"Tidak seperti itu Hoseok, Jimin sangat kaya, dia bisa mendapatkan gadis manapun yang dia mau, Tapi sudah sejak lama dia menginginkan Yoongi, menurutku sebenarnya sudah sejak lama Jimin mencintai Yoongi tetapi dia tidak menyadarinya, karena itu mungkin Jimin menganggap satu-satunya cara untuk memiliki Yoongi adalah menerima tawarannya."
Hoseok mengernyit mendengar penjelasan Seokjin, hatinya sakit menyadari bahwa sekarang dia menjadi penghalang antara dua orang yang saling mencintai.
"Kenapa Yoongi tidak membiarkan aku mati saja?" rintihnya dalam geraman penuh kesakitan, "Mungkin lebih baik aku dibiarkan mati saja sehingga aku tidak menghalangi kebahagiannya..."
Seokjin menyentuh pundak Hoseok lembut, "Jangan pernah punya pemikiran seperti itu," selanya tegas, "Yoongi mencintaimu sepenuh hati, dia berjuang mati-matian demi kehidupanmu, jangan pernah menghancurkan hatinya dengan kata-kata seperti itu."
"Dia sudah tidak mencintaiku lagi, dia hanya kasihan padaku, tatapan lelaki itu, tatapan Jimin kepadaku ketika mengatakan bahwa Yoongi lebih memilihku dibanding dirinya tadi begitu penuh penghinaan dan kemarahan, seolah lebih baik aku tahu diri dan menyingkir saja."
"Jimin memang seperti itu, dia marah karena Yoongi memilih untuk bersamamu. Tapi Jimin mencintai Yoongi, karena itu dia menghormati keputusan Yoongi."
"Lelaki itu, apakah benar dia mencintai Yoongi? dia terlalu berkuasa, terlalu mendominasi, terlalu arogan… aku takut dia hanya ingin menunjukkan kekuasaannya, hanya ingin memuaskan arogansinya untuk memiliki Yoongi..."
Seokjin menggeleng,
"Jimin yang dulu memang seperti itu, tapi ketika bersama Yoongi, gadis itu dengan segala kepolosan dan kebaikan hatinya telah merubahnya. Jimin benar-benar mencintai Yoongi, aku mengenal Jimin sejak dulu kau tahu, dan dia tidak pernah seperti itu sebelumnya, begitu mencintai seorang perempuan, begitu tergila gila hingga hampir dikatakan bisa gila karenanya."
Hoseok menghela nafas panjang,
"Kalau begitu, kau ingin aku yang melepaskan Yoongi?"
Seokjin mengangkat bahunya pedih.
"Keputusan ada di tanganmu... Yoongi sendiri tidak akan pernah meninggalkanmu, dia terlalu setia dan menyayangimu untuk meninggalkanmu. Dia rela mengorbankan perasaannya demi kamu. Jadi, kalau kau tidak melepaskannya, dia juga tidak akan pernah mengkhianatimu demi Jimin."
Hoseok memegang pangkal hidungnya, mengernyit seolah kesakitan,
"Aku sangat mencintai Yoongi." gumamnya perih.
TBC
P.S:
"Karena dia sudah memutuskan akan menerima tidak bisa bersama-sama dengan Jimin lagi asalkan lelaki itu tetap hidup, asalkan lelaki itu masih ada, hidup dan bernafas di dunia ini, biarpun Yoongi tidak bisa melihatnya lagi"
Kalimat paling menyebalkan akkkkkkkkkakk. Okay. Keputusan ada ditangan hosiki….
Udah pada nonton RM nya BTS ? Please bring chim to my pocket!
So, review ?
