Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin

A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3

Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe

Happy reading

Chapter 21

"Kalau begitu, kau ingin aku yang melepaskan Yoongi?"

Seokjin mengangkat bahunya pedih.

"Keputusan ada di tanganmu... Yoongi sendiri tidak akan pernah meninggalkanmu, dia terlalu setia dan menyayangimu untuk meninggalkanmu. Dia rela mengorbankan perasaannya demi kamu. Jadi, kalau kau tidak melepaskannya, dia juga tidak akan pernah mengkhianatimu demi Jimin."

Hoseok memegang pangkal hidungnya, mengernyit seolah kesakitan,

"Aku sangat mencintai Yoongi." gumamnya perih.

Air mata Seokjin mulai menetes melihat kepedihan Hoseok, pelan dia berjongkok di depan Hoseok dan memeluk lelaki itu. Hoseok tidak menolak, dia juga tidak menahan air matanya menetes. Kepedihan itu begitu dalam, kepedihan untuk merelakan diri melepaskan sesuatu yang paling berharga di tangannya, agar sesuatu paling berharga itu bisa menemukan kebahagiaannya.

"Aku tahu dan aku bisa mengerti kesedihanmu, kau tak perlu melepaskan Yoongi kalau kau tak bisa." bisik Seokjin lembut, mengusap kepala Hoseok di bahunya, membiarkan lelaki itu terisak dengan kepedihannya.

Lama Hoseok menumpahkan perasaannya, dengan isakan tertahan dan keheningan yang dalam, lalu dia mundur, melepaskan diri dari pelukan Seokjin, duduk tegakdengan tekad kuat di matanya.

"Aku tidak mungkin membiarkan Yoongi menderita dengan bertahan bersamaku, tidak setelah aku melihat betapa dalamnya perasaan Yoongi kepada Jimin tadi, tapi sebelumnya aku ingin berbicara dengan Jimin."

.

.

.

Yoongi masih tertidur di ruang perawatan. Seokjin menungguinya. Sementara Jimin yang baru terbangun, dua jam setelah kecelakaan itu berjalan pelan, menuju ruang tunggu, dia sudah mencuci muka dan agak segar, tapi mau tak mau nyeri di kepala dan bahunya membuatnya mengernyit ketika berjalan.

Hoseok sedang duduk membelakanginya di kursi roda. Menatap ke luar, ke arah jendela lebar yang ada di ruang duduk itu, hujan sedang turun deras di luar membuat suasana ruangan itu begitu suram.

"Bagaimana keadaan Yoongi?" Tanya Hoseok, menyadari kehadiran Jimin tetapi tidak menoleh untuk menatapnya.

"Baik, Seokjin sudah mengatur perawatan dan obatnya, sekarang dia masih tertidur." Jimin berdiri, bersandar di tembok dekat Hoseok, ikut menatap hujan yang mengalir deras di luar yang gelap, hanya menyisakan tetes air yang berkilauan terkena cahaya lampu.

"Kau pasti tahu kenapa aku ingin berbicara denganmu."

Jimin mengangguk meski tahu Hoseok tidak menoleh untuk melihatnya. Hening sejenak, terasa begitu lama sampai kemudian terdengar Hoseok menghela nafas panjang.

"Apakah kau mencintainya?" tanyanya pelan.

"Sangat." jawab Jimin cepat, tulus.

Hoseok memejamkan mata ketika rasa perih menyengat di dadanya mendengar ketulusan Jimin kepada Yoongi. Mengetahui bahwa ada lelaki lain yang mencintai Yoongi dengan intensitas begitu besar kepada Yoongi ternyata menyakitinya, membuatnya terasa terpuruk dan di kalahkan. Tapi Hoseok menguatkan hatinya, semua demi Yoongi, demi kebahagiaan Yoonginya.

"Apakah kau akan membahagiakannya?"

"Kebahagiaannya akan menjadi tujuan hidupku." gumam Jimin jujur, dia lalu menoleh menatap Hoseok yang sedang menatapnya, dua laki-laki yang mencintai

satu wanita saling bertatapan.

"Maafkan aku..." Jimin mengehela nafas, "aku tidak pernah bermaksud mencuri Yoongi darimu, aku tidak mengetahui keberadaanmu sampai saat terakhir, kau tahu."

Hoseok mengernyit mendengar informasi yang baru didapatnya itu, Seokjin belum menceritakan semua ini padanya, mungkin Seokjin ingin Hoseok mendengar sendiri dari mulut Jimin.

"Yoongi tidak menceritakan alasan kenapa dia menjual diri padamu?"

"Tidak, mungkin semua akan berbeda jika dia menceritakan semuanya dari awal," gumam Jimin penuh penyesalan, "aku memang jahat dan selalu mengambil apa yang kuinginkan tanpa tanggung-tanggung, tapi aku tidak pernah mengambil keuntungan dari penderitaan seseorang. Saat itu dia dating padaku, menjual dirinya padaku...kau tahu apa yang kupikirkan waktu itu?"

Jimin menatap Hoseok dengan sedih, "Kupikir dia pelacur penggemar barangbarang mahal yang putus asa membutuhkan uang untuk memenuhi hasratnya akan kemewahan."

"Yoongi tidak seperti itu." geram Hoseok marah.

"Ya, dia tidak seperti itu," Jimin setuju, "Tapi waktu itu apa yang bias dipikirkan lelaki seperti aku? lelaki dengan kekayaan yang selalu mendapatkan wanita karena uang? aku memang salah waktu itu, aku menginginkan Yoongi dan aku punya uang yang diinginkannya, jadi kuterima tawarannya."

"Tapi pada akhirnya kau tetap jatuh cinta padanya meskipun kau menganggap dia pelacur murahan." Hoseok merenung.

Sekali lagi Jimin menganggukkan kepalanya.

"Ya, aku jatuh cinta kepadanya, bahkan aku mulai tidak peduli kalau ternyata memang hanya menginginkan uangku, aku berpikir, tidak apa-apa, toh aku punya uang banyak, tidak apa-apa selama dia ada di sisiku." Jimin menghela nafas panjang.

"Kenyataan tentang keberadaanmu pada akhirnya menghantamku... Bahwa dia melakukan semua ini demi cintanya kepadamu."

Hoseok memejamkan matanya.

"Dia sudah tidak mencintaiku lagi, dia hanya kasihan dan merasa bertanggung jawab."

"Dia tetap mencintaimu," Jimin tersenyum sayang ketika membayangkan Yoongi, "hatinya selalu dipenuhi cinta tanpa pandang bulu, mungkin karena itulah dia berhasil menyentuh hatiku yang gelap."

Hoseok menganggukkan kepala, ikut tersenyum ketika membayangkan Yoongi.

"Yah... Meskipun begitu, hatinya sudah kau miliki," Hoseok menghela nafas, "Aku akan melepaskan Yoongi."

"Kau pikir dia akan mau?" sela Jimin sedih, "Dia sudah memutuskan akan menjagamu, dia tidak akan mau."

"Dia pasti mau, aku sendiri yang akan berbicara padanya, aku tidak perlu dijaga, terapi ini berhasil dan Seokjin meyakinkan kalau aku rutin melakukannya, dalam waktu empat bulan aku sudah akan bisa berjalan dengan normal. Aku masih bias melanjutkan karirku sebagai pengacara setelahnya, mungkin butuh waktu lama dan aku harus belajar lagi, tapi kurasa aku bisa melangkah dengan kekuatanku sendiri."

Jimin menganggukkan kepalanya, yakin kalau Hoseok pasti mampu melakukan apa yang dikatakannya.

"Maafkan aku." gumamnya tulus.

"Kenapa?", Hoseok mengernyit menatap Jimin ingin tahu.

"Karena sudah mengalihkan hati Yoongi darimu."

Hoseok tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar tulus,

"Seharusnya aku berterimakasih kepadamu, kau menjaganya selama aku tidak bisa ada untuk menjaganya."

Jimin terdiam, Hoseok juga terdiam lama.

Lalu Jimin mengaku,

"Kau mungkin ingin memukulku, bahkan membunuhku setelah aku mengatakannya padamu..."

"tentang apa?" mau tak mau Hoseok merasakan ingin tahu ketika mendengar nada misterius di suara Jimin. Sesaat Jimin tampak kesulitan berbicara,

"Aku... aku punya rencana jahat untuk merebut Yoongi darimu, aku pikir kalau Yoongi tidak mau memilihku, aku akan memaksanya memilihku."

"Rencana jahat apa?" sela Hoseok, langsung waspada.

Jimin tertawa getir,

"Bukan... rencana ini tidak menyakiti siapapun... kau tahu... Aku ingin sengaja membuat Yoongi hamil... agar mau tak mau dia menjadi milikku."

Sejenak Hoseok terdiam, pengakuan Jimin ini mau tak mau menyulut kemarahannya. Menyadari bahwa Jimin memanipulasi kepolosan Yoonginya.

"Dasar Brengsek." geram Hoseok pelan.

Jimin menganggukkan kepalanya.

"Ya memang, aku brengsek. aku putus asa, setengah gila untuk memiliki Yoongi, aku minta maaf."

"Menurutmu apakah rencana jahatmu itu sudah berhasil?" Tanya Hoseok kemudian, tiba-tiba menghubungkannya dengan kondisi sakit Yoongi.

Jimin mengangguk, menahan perasaannya untuk menjaga perasaan Hoseok, tapi mau tak mau Hoseok melihat sorot bahagia yang menyala-nyala di mata Jimin.

Tiba-tiba dia merasa tenang, lelaki ini sungguh mencintai Yoongi, putusnya dalam hati, mungkin lebih dalam dari cintanya sendiri kepada Yoongi...

"Seokjin tadi sore menghubungiku, memberitahu kondisi Yoongi, dan entah kenapa aku tahu. Aku tahu bahkan sebelum mereka melakukan test, aku tahu begitu saja."

"Dan karena itu kau kecelakaan, kau dalam perjalanan menemui Yoongi?" Jimin tersenyum, tidak berkata-kata, tapi matanya menjelaskan semuanya.

"Lelaki bodoh." gumam Hoseok getir. Dan Jimin tertawa mendengarnya.

"Memang," gumamnya dalam tawa, lalu mengulurkan tangannya kepada Hoseok,

"Terimakasih atas kebaikan hatimu."

Hoseok menyambut jabatannya dengan hangat.

"Aku melakukannya demi Yoongi, bukan demi kamu, jadi ingat saja, kapanpun kau berani-beraninya membuat Yoongi tidak bahagia, kau akan mendapati dirimu berhadapan denganku."

Jimin tersenyum mempererat jabatan tangannya,

"Aku berjanji kau tidak akan pernah berhadapan denganku."

TBC

P.S: dicintai engan begitu dalam seperti yoongi dicerita ini ntah kenapa bikin...haaahh

Next chapt will be the last chapter everybody :"''