Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Jung Hoseok a.k.a JHope, Kim Taehyun ,GS!Kim Seokjin
A/N : Hmm Well, ini adalah remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "A Romantic Story About Serena" ,disini aku Cuma mengubah pemeran jadi couple kesayangan hihihi Jalan ceritanya tetap seperti apa yang lahir dari ketikan Tante Santhy Agatha yaa makasih tante buat novelnya yang bagus banget dan maaf aku me-remake seenak jidat sendiri :3
Well ,aku bukan orang baru di ffn tapi jelas adalah orang baru dalam dunia FF Yoonmin atau BTS ,Well I'm just Fall in love with them lately(Too Late). Semoga pada suka dan aku diterima di fandom ini hehe
Happy reading
Chapter 22
Ketika Yoongi membuka matanya, dia mendapati Hoseok duduk di sisi ranjangnya.
Menatapnya dalam senyum. Yoongi langsung sadar bahwa karena kepanikannya tadi dia melupakan keberadaan Hoseok. Ya Tuhan! Apa yang dipikirkan Hoseok ketika menyaksikan semuanya tadi? Pikiran itu membuatnya panik dan hendak bangkit dari ranjangnya, tapi Hoseok menahannya dengan tangannya.
"Tidak apa-apa, tetap berbaring." gumamnya lembut.
Yoongi menurut membaringkan tubuhnya, tetapi menatap Hoseok dengan kepanikan mendalam.
"Hoseok aku..."
"Sudah kubilang tidak apa-apa, aku sudah tahu semuanya Yoongi, dan aku mengerti."
Kata-kata itu membuat wajah Yoongi pucat pasi,
"Tahu apa? mereka mengatakan apa padamu?" bisiknya lemah.
"Semuanya, tentang dirimu dan Jimin, dan perasaanmu kepadanya."
"Aku tidak punya perasaan apa-apa kepada..."
"Sttttt," Hoseok menghentikan kata-kata Yoongi, "Tidak perlu membohongi dirimu sendiri lagi Yoongi, aku sudah tahu semuanya, kau begitu menyayangiku sehingga mau berkorban untukku, tubuhmu kau korbankan," Hoseok menghela nafasnya pedih, "Dan sekarang, bahkan jiwa dan kebahagiaanmu mau kau korbankan juga untukku?"
Mata Yoongi mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak merasa mengorbankan apapun Hoseok, aku mencintaimu, aku ingin menjagamu, aku..."
Dengan lembut Hoseok meraih tangan Yoongi dan menggenggamnya.
"Ya aku yakin, kau sangat mencintaiku, aku percaya itu," dengan lembut Hoseok menoleh ke arah pintu, "Dia ada di luar, menunggu waktu untuk menemuimu, aku sudah berbicara dengannya dan yakin bahwa cintanya padamu begitu besar, bahkan mungkin lebih besar dari cintaku padamu." desah Hoseok getir.
"Jangan berkata seperti itu." air mata mulai menetes di pipi Yoongi, dan Hoseok mengapusnya dengan lembut.
"Itu kenyataannya, dia begitu mencintaimu sehingga mau mengambil resiko apapun agar kau bahagia, dan dia rela dibenci olehmu agar kau bahagia," Hoseok tersenyum lembut, "Terus terang aku mengaguminya dan aku merasa tenang kalau dia yang menjagamu."
"Jangan berkata seperti itu." Yoongi mulai merasa dirinya seperti kaset yang rusak, mengulang-ulang kalimat yang sama.
"Aku harus mengatakannya." gumam Hoseok sedikit geli dengan kata-kata Yoongi.
Yah, dia ternyata bisa bahagia juga menyadari bahwa pada akhirnya dia akan memberikan kebahagiaan pada Yoongi, kebebasan yang akan di berikan pada Yoongi akan membawa perempuan yang dicintainya itu kepada kebahagiaan, dan Hoseok merasakan kebahagiaan tersendiri ketika dia pada akhirnya merelakan Yoongi. Semua patah hati dan kesakitannya akan sepadan dengan senyum dan kebahagiaan Yoongi pada akhirnya.
"Tapi sebelumnya aku harus bertanya kepadamu, Yoongi, apakah kau mencintai Jimin?"
Pertanyaan yang diungkapkan secara langsung tanpa diduga itu membuat Yoongi tertegun.
"Hoseok... aku..."
"Tanyakan kepada hatimu Yoongi," bisik Hoseok lembut, mendorong Yoongi agar mau jujur kepada dirinya sendiri, "Aku yakin kau sudah menyadarinya, kau hanya perlu mengakuinya kepadaku."
Di luar, Jimin yang menunggu sambil bersandar di tembok dekat pintu masuk mendengar semuanya, jantungnya berdetak keras, penuh antisipasi, ikut menanti jawaban Yoongi.
Kumohon katakan Ya, bisik Jimin dalam hati, menjeritkan permohonannya dalam diam, kumohon katakan Ya , kau mencintaiku Yoongi.
Di dalam ruangan Yoongi tertegun, menatap Hoseok, menatap ketulusan yang ada di sana. Tidak apa-apakah kalau dia mengakuinya? Tidak apa-apakah kalau Hoseok akhirnya mendengarnya?
Yoongi menarik napas dalam dalam, menahankan debar jantungnya, lalu menghembuskannya pelan-pelan.
"Ya Hoseok," gumamnya lembut setengah berbisik, "Ya, aku mencintai Jimin, aku sangat mencintainya." air mata menetes lagi di pipinya.
Hoseok mengusap air mata itu dengan lembut, sedikit melirik ke pintu, menyadari kehadiran Jimin di sana. Kau dengar itu Jimin? Gumamnya dalam hati, Permataku ini mencintaimu, dia sangat berharga dan dia mencintaimu, kau harus menjaganya baik-baik, jangan pernah menyakitinya...
Di luar Jimin memejamkan matanya mendengar pengakuan Yoongi itu, dia dipenuhi kelegaan yang luar biasa. Yoongi hampir tidak pernah mengungkapkan perasaan padanya, Jimin harus selalu mengukur-ukur, menebak-nebak dari mata dan tindakan Yoongi. Dan mendengar sendiri kalimat itu dari bibir Yoongi, diucapkan dengan penuh keyakinan, mau tak mau membuat tubuhnya dibanjiri aliran kebahagiaan.
"Dia pasti akan menjagamu Yoongi, kau tidak usah mencemaskan aku lagi, aku sudah tidak perlu dijaga."
"Tapi, Hoseok..."
Hoseok tersenyum dan menggelengkan kepalanya,
"Dokter Seokjin mengajakku ke jerman. Disana dia punya kenalan spesialis tulang dan saraf yang sangat ahli, yang bisa menyembuhkanku lebih cepat, dan kupikir aku akan mengambil kesempatan itu."
Yoongi membelalakkan matanya, pucat pasi.
"Hoseok... Kau akan pergi?"
Hoseok menganggukkan kepalanya.
"Aku akan mengejar kebahagiaanku, aku akan menyembuhkan diri dan memulai karirku, masih ada harapan dan aku tidak akan menyerah. Kau sudah memberiku contoh dengan berjuang untukku tanpa putus asa padahal kemungkinan aku terbangun dari koma sangat kecil, jadi sekarang aku akan berusaha berjuang."
Yoongi tertegun, kehabisan kata-kata mendengar kalimat Hoseok. Dia hanya punya satu hal untuk diungkapkan, kata maaf, maaf karena aku mencintai orang lain, maaf karena aku mengkhianati cintamu, maaf karena aku membiarkan hatiku
dimiliki orang lain.
Ketika dia akan membuka mulutnya untuk meminta maaf, Hoseok mencegahnya dengan menaruh jemarinya di bibir Yoongi.
"Jangan meminta maaf, aku tahu kau akan meminta maaf," Hoseok tersenyum simpul, "Kau tidak perlu meminta maaf, kau tidak pernah berniat mengkhianatiku, bahkan kau malah berniat mengorbankan hati dan perasaanmu demi aku. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu."
Dengan lembut Hoseok melepaskan cincin emas pertunangan di tangannya, dan meletakkannya dalam genggaman Yoongi.
"Aku melepaskanmu, Yoongi, tunanganku yang berharga. Terimakasih untuk cinta yang pernah kita bagi bersama. Terimakasih untuk semua perjuangan yang telah kau korbankan untukku, Terimakasih karena pernah mencintaiku," dengan lembut Hoseok mengecup jemari Yoongi yang terpaku, "sekarang kau bebas, kejarlah kebahagiaanmu sendiri."
Air mata mengalir deras makin tak terbendung di mata Yoongi. Hatinya penuh sesak, campur aduk antara penyesalan dan kelegaan luar biasa, akhirnya dengan pelan Yoongi duduk lalu memeluk Hoseok erat-erat. Berbagi tangis bersamanya.
"Terimakasih Hoseok, aku mencintaimu." isak Yoongi pelan.
"Aku juga mencintaimu." suara Hoseok bergetar oleh air mata yang mulai datang.
.
.
.
Semua berlangsung begitu cepat, dokter dan perawat serta Seokjin hilir mudik di ruangan itu untuk memeriksa keadaannya. Yoongi merasa sudah baikan, hanya sedikit mual dan demamnya sudah turun, tapi entah kenapa Seokjin bersikeras agar dia tetap di rawat inap di rumah sakit ini. Sebenarnya dia sakit apa? Yoongi mulai bertanya-tanya.
Hoseok sudah berpamitan tadi, diantar oleh dokter Seokjin, mengatakan akan mempersiapkan kepergian mereka ke Jerman, kemungkinan dua minggu lagi. Dan saat Yoongi sendirian, pikirannya melayang. Dimana Jimin? Apakah dia di rawat di rumah sakit ini? Bagaimana kondisinya? Kenapa Jimin tidak menemuinya? Pemikiran-pemikiran itu membuatnya terlelap lagi.
Ketika bangun hari sudah sore, suasana kamar tampak remang-remang karena lagi-lagi hujan turun di luar membuat langit kelihatan gelap, Yoongi menatap hujan di jendela dan mendesah.
"Sudah enakan?" suara itu terdengar lembut dan tiba-tiba sehingga Yoongi terlonjak kaget, dia menoleh dan mendapati Jimin duduk di ranjang, di sampingnya. Lelaki itu begitu diam, Yoongi mengernyit, pantas dia tidak menyadari kehadirannya.
"Maaf aku mengagetkanmu," Jimin tersenyum samar, lalu menyentuh dahi Yoongi, "sudah tidak panas lagi. Syukurlah. Kau masih memuntahkan makananmu?"
Yoongi menggelengkan kepalanya, masih belum mampu berkata-kata.
"Aku... Aku sudah bisa menelan sup panas dari rumah sakit tadi." Jimin mengangguk dan tersenyum.
"Aku sudah berbicara dengan Hoseok, Yoongi," Jimin segera berseru ketika melihat Yoongi akan menyela kata-katanya, "apapun yang akan kau katakan, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku sudah mendapat kesempatan ini jadi tidak akan kusia-siakan, kau tidak akan dan tidak boleh menolakku atau melepaskan diri dariku." suara Jimin tegas dan penuh ancaman, matanya menyala-nyala.
Dalam hati Yoongi merasa geli, ini Jiminnya yang biasa. Tidak berubah meski mencintainya, tetap saja arogan dan terbiasa mengungkapkan keinginannya dengan mengancam. Tapi bagaimanapun juga ini Jimin yang sama yang dicintainya.
"Ya Jimin." jawabnya dalam senyum.
Jawaban sederhana itu membuat Jimin yang begitu tegang karena antisipasi penolakan yang mungkin dilakukan Yoongi, terpana.
"Apa?" Jimin bertanya seperti orang bodoh.
Yoongi tersenyum lembut, otomatis tangannya bergerak menyentuh dahi Jimin yang berkerut bingung, mengelusnya lembut, menghilangkan kerut yang ada di sana.
"Ya Jimin, aku tidak akan melepaskan diri darimu."
Jimin seolah kesulitan mencerna jawaban sederhana Yoongi, tetapi ketika dia bisa memahaminya, seketika itu juga Jimin merengkuh Yoongi, memeluknya erat-erat.
"Demi Tuhan... Aku sepertinya masih butuh berkali-kali diyakinkan olehmu," bisiknya serak di rambut Yoongi, "Kau selalu membuatku bertanya-tanya, dengan mata lebarmu yang selalu tersenyum, dengan kelembutanmu, kau selalu membuatku bertanya-tanya apakah kau mencintaiku."
Yoongi membalas pelukan Jimin dengan lembut.
"Aku mencintaimu."
"Katakan lagi," Jimin mengerang, memejamkan matanya, mengetatkan pelukannya, "aku butuh diyakinkan."
"Aku mencintaimu." ulang Yoongi patuh.
Jimin melepaskan pelukannya lalu mengusap rambut Yoongi lembut, kemudian meraih tangannya, mengernyit ketika melihat Yoongi masih memakai cincin dari Hoseok, bersebelahan dengan cincin darinya.
Dengan lembut disentuhnya tangan Yoongi, disentuhnya cincin Hoseok disana.
"Boleh aku melepaskannya?"
Jimin tetap akan melepaskannya meskipun Yoongi menggeleng, Yoongi tahu itu. Tapi Yoongi menghargai Jimin yang menyempatkan diri bertanya kepadanya.
Dengan lembut ia mengangguk.
Hati-hati Jimin melepaskan cincin pertunangan Yoongi dengan Hoseok, lalu meletakkannya di meja. Setelah itu dikecupnya jemari Yoongi yang memakai cincin pemberiannya.
"Aku ingin kau menikah denganku, segera."
Sekali lagi Yoongi tersenyum, lamaran khas ala Jimin. Bukannya bertanya 'maukah kau menikah denganku?' lelaki ini malah menyatakan keinginannya dengan arogansi yang tak terbantahkan. Tiba-tiba Yoongi mengerutkan keningnya mencerna kalimat Jimin.
"Kenapa harus segera?"
Dan entah kenapa pertanyaannya itu membuat pipi Jimin memerah. Yoongi jadi bertanya-tanya apa yang salah dengan pertanyaannya.
"Kau... Eh, mungkin kau tidak menyadari perubahan tubuhmu..." Jimin tampak kesulitan menyusun kata-kata. Tapi pada akhirnya dia melemparkan kebenaran itu, "Kau... Sedang mengandung anakku"
Kata-kata itu membuat Yoongi ternganga, itu adalah kebenaran yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Jimin sangat hati-hati kalau bercinta dengannya. Bahkan dalam kondisi berhasratpun dia selalu ingat untuk memakai pelindung, jadi Yoongi tak mungkin hamil. Karena itulah meskipun tubuh Yoongi menunjukkan gejala seperti perempuan hamil, tidak datang bulan, mual, kram di perut dan sebagainya, tidak pernah sedikitpun terlintas di benaknya kalau dia sedang mengandung.
Kemudian kesadaran itu melintas di benaknya, Yoongi tidak mungkin mengandung, kecuali kalau Jimin menginginkannya, Yoongi tidak mungkin mengandung, kecuali kalau Jimin sengaja...
"Kau selalu menggunakan pelindung," gumam Yoongi menatap Jimin dengan waspada, "Malam itu kau tidak memakainya."
Pipi Jimin agak memerah tapi dia menatap mata Yoongi tanpa penyesalan.
"Aku memang sengaja, semua yang terjadi malam itu memang sudah kurencanakan," dengan angkuh Jimin mengangkat dagunya, "aku ingin kau memilihku."
Pipi Yoongi memucat sedikit marah.
"Kau berencana menjebakku dengan kehamilan?"
Jimin menggenggam tangan Yoongi erat-erat memejamkan matanya penuh kepedihan.
"Aku memang brengsek dan licik, tapi itu semua kulakukan karena aku hamper gila putus asa ingin memilikimu, aku mencintaimu dan menderita karenanya, aku bersedia minta maaf kalau kau menginginkannya, tapi aku tidak pernah menyesal sudah membuatmu hamil..."
Kata-kata itu, yang diungkapkan dengan sepenuh hari, melelehkan kemarahan Yoongi, dengan lembut diraihnya kepala Jimin dan dipeluknya. Lama mereka berpelukan dalam diam.
"Karena itu kau mencium perutku." gumam Yoongi, teringat keanehan perilaku Jimin saat itu.
"Ya," Jimin tersenyum bangga, "saat itu aku yakin dia sedang terbentuk, aku memerintahkannya supaya tumbuh sehat agar aku bisa memiliki ibunya,"
Jimin mengangkat bahu, "aku konyol sekali ya."
Yoongi tertawa mendengarnya, sisi santai Jimin yang jarang diperlihatkannya ini juga sudah membuatnya jatuh cinta. Ya, dia benar-benar mencintai lelaki ini, dengan segala arogansinya, dengan segala kekeras kepalaannya, sekaligus dengan segala kasih sayangnya yang Yoongi tahu, melimpah untuknya.
Dengan lembut Yoongi mengelus perutnya, menyadari bahwa buah cinta mereka sedang bertumbuh di perutnya, semakin lama semakin kuat, hingga akhirnya nanti akan terlahir ke dunia.
Mata Jimin mengikuti gerakan Yoongi. Lalu tangannya mengikuti Yoongi, mengusap perutnya lembut.
"Dia kuat dan baik-baik saja di sana." gumam Jimin setengah berbisik.
"Ya." Yoongi berbisik juga.
"Mungkin nanti dia akan mulai menendang-nendang." dahi Jimin berkerut, mengingat isi buku-buku referensi kehamilan yang mulai dibacanya.
Yoongi, mengangguk, tersenyum simpul.
"Pasti, seperti pemain sepakbola."
"Aku lebih suka dia seperti CEO handal." dahi Jimin tetap berkerut.
Yoongi terkekeh.
"Ya, seperti CEO handal," suara Yoongi berubah seperti bisikan, "Seperti ayahnya."
Mereka bertatapan, mata Yoongi berkaca-kaca, mata Jimin berkilauan penuh perasaan. Diantara tatapan mereka terjalin setiap impian orang tua tentang anaknya di masa depan.
Lalu Jimin mengecup dahi Yoongi.
"Terimakasih sudah hadir di hidupku," bisiknya serak penuh perasaan,
"Terimakasih sudah mengajari aku mencintai dengan begitu dalam, terimakasih sudah menyentuh hatiku yang gelap dan jahat sehingga bisa merasakan indahnya mencintai seseorang, dan yang terpenting terimakasih sudah mau mencintaiku." lalu dia meraih dagu Yoongi dan mengecup bibirnya lembut, kecupan penuh kasih sayang yang dengan segera berubah menjadi panas dan bergairah.
Lama kemudian Jimin baru mengangkat kepalanya, meninggalkan bibir Yoongi yang panas dan basah, matanya berkilat-kilat penuh gairah, tetapi dia menahan diri dan mencoba tersenyum, mengusap rambut Yoongi dengan lembut.
"Nanti, setelah kau sehat," janjinya penuh arti, membuat pipi Yoongi memerah, lalu memeluk Yoongi lagi, "Aku mencintaimu Yoongi, dan aku berjanji akan membuatmu serta anak-anak kita nanti bahagia, kau boleh pegang janjiku itu."
Yoongi tersenyum mendengar tekad kuat dalam suara Jimin.
"Aku tahu Jimin, aku juga mencintaimu."
Mereka tetap berpelukan, dipenuhi perasaan cinta yang hangat. Hanya ada mereka berdua dan kebersamaan mereka, Yoongi dengan Jiminnya yang akhirnya menyerahkan hatinya untuk termiliki satu sama lain. Yang pada akhirnya bisa saling memiliki satu sama lain.
THE END
P.S:
Officially ending :" ini udah panjang. Ini udah happy ending. Ini udah...
Huuu ff kesayanganku :" terimakasih buat semua yang sudah membaca dari awal hingga akhir. Untuk semua review ,favorit, follower dari fic ini. Maaf karna tak bisa membalas setiap review tapi aku pastikan membaca semuanya ,setiap katanya dan sangat terharu :" kalian selalu jadi yg terbaik :" maaf juga buat semua typo yg ada. Terimakasih karna sudah mencintai yoonmin dan hoseok disini :"
We'll meet again for sure miniminisquad uyeee!
Pss: aku menyiapkan epilog ,wanna ?
