Harukaze Kagura, sanjouu! *di lempar shuriken* terima kasih bagi yang sudah menunggu fict absurd saya yang ini, saya sungguh menghargai kalian yang sudah me-review, fav, follow, atau hanya sekedar silent-reader, saya sungguh…hiks hiks…sroott! *buang tisu sembarangan* *di pentung* oke, terlalu banyak basa-basi, langsung saja ya~!
O iya, ada yang harus saya luruskan.
Umur para staff restoran ada di bawah ini~
Boboiboy Halilintar: 16
Boboiboy Taufan: 16
Boboiboy Gempa: 16
Boboiboy Blaze: 16
Boboiboy Ice: 16
Fang: 17
Gopal: 16
Ying: 15
Yaya: 16
Ejo jo: 28
Untuk seragam staff ATthree, bagian pelayan, kasir, sama penjaga pintu (yang seharusnya tidak ada) itu terdiri dari celana panjang hitam dan kemeja putih serta dasi kupu-kupu hitam untuk laki-laki (khusus Boboiboy siblings mereka masih tetap memakai topi khas mereka agar lebih mudah membedakan).
Seragam perempuan sih sulit deskripsinya kayak gimana…*di giles* tapi kalo penasaran yah…seragam ceweknya sama dengan yang di anime 'Working!'. Khusus Yaya seragamnya berlengan panjang begitu juga dengan roknya.
Seragam chef itu sama dengan baju chef pada umumnya, berwarna putih. Halilintar tetap memakai topi hitam-merahnya tentu saja.
All right, happy reading! XD
Hari kedua dimana Boboiboy Taufan dan Boboiboy Halilintar bekerja, semuanya berjalan seperti biasa, hanya kali ini tanpa kehadiran Gempa, Blaze, dan Gopal.
"Oke…aku akan berada di ruanganku…jika ada apa-apa silahkan hubungi aku," Itulah ucapan terakhir Ejo jo sebelum menghilang di balik pintu ruang kerjanya (yang diyakini Halilintar hanya digunakannya untuk ngemil).
"O iya, Kak Hali…jangan cari gara-gara sama Fang deh. Jangan bikin Gempa khawatir terus," Taufan memulai percakapan sebelum kakaknya itu beranjak menuju dapur.
Halilintar berbalik menatap Taufan, kemudian mengernyit tidak suka, "Dia yang selalu duluan cari masalah denganku. Kenapa malah aku yang di nasehati?" Tanya Halilintar ketus.
"Aku tau…tapi setidaknya Kak Hali sabar sedikit kek. Jangan diladeni…yang ada dia malah akan terus menganggumu," Ucap Taufan mencoba sabar meski jantungnya sudah marathon takut sang kakak akan menaboknya di tempat.
"Ck…terserah," Halilintar mengangkat bahu kemudian beranjak pergi menuju dapur dimana sudah ada Fang yang memang lebih dulu tiba di sana.
"Aku memang bilang ke Gempa untuk tidak khawatir tapi…mungkin yang harus Gempa khawatirkan adalah keselamatanku…" Gumam Taufan sambil tersenyum kecut sebelum akhirnya ikut beranjak dari ruang istirahat yang memang tinggal dirinya seorang disana.
~Working!~
"Ah…donat disini memang yang paling enak~!" Seru Gopal yang baru saja menghabiskan donatnya yang entah keberapa.
"Yep! Dan lebih enak lagi karena ini traktiran~!" Sambung Blaze tak kalah heboh dan terus memakan donat yang mungkin jumlahnya sebanding dengan Gopal, sedangkan Gempa hanya diam merenung, bahkan sepotong donat ditangannya masih belum berkurang setengah.
"Gempa, kau baik-baik saja?" Tanya Gopal yang menyadari kejanggalan sahabatnya tersebut.
"Ah bukan…enak kok, terima kasih ya," Jawab Gempa buru-buru kemudian melanjutkan memakan donatnya, meski masih kelihatan tidak begitu bergairah saat mengunyah.
"Kak Gempa, jangan khawatir. Kak Halilin dan Kak Taufan bukan anak kecil lagi. Mereka pasti bisa menjaga diri," Ucap Blaze sambil menepuk bahu kakak ketiganya.
"Emm…iya sih…tapi yang aku khawatirkan justru adalah orang-orang disekitar mereka. Terutama Fang yang seruangan dengan Kak Halilintar…" Gumam Gempa sedikit bergetar.
"Itu yang kau khawatirkan…?" Gopal yang awalnya merasa kagum dengan perhatian Gempa terhadap kakak-kakaknya itu langsung sweatdrop.
"Duh…sepertinya…kita memang harus kesana…" Gumam Gempa gelisah.
"Kak Gempa…tidak apa-apa. Kan-"
Drrrtt…Drrrttt…Drrrttt…
"Eh? Blaze, ponselmu berbunyi," Gopal menunjuk sebuah benda persegi kecil di saku celana Blaze yang tampak bergetar-getar.
"Ah…sebentar," Blaze merogoh sakunya dan kemudian segera menempelkan ponselnya ke telinganya.
"Ya, Blaze disini…" Sapa Blaze setelah menekan tombol jawab tanpa melihat dulu siapa yang sedang meneleponnya.
"Kak Blaze…"
Wajah Blaze mendadak pucat.
"K-kak Gempa…Gopal…kita…kerumah dulu yuk," Ucap Blaze kikuk.
"Eh? Kenapa?" Tanya Gopal bingung.
Gempa memasang wajah ingin tau sesaat sebelum akhirnya mengerti dan ikut panik.
~Working!~
Hari sebelumnya, pukul 9.55.p.m
"Ah…"
Halilintar poker face melihat keadaan rumah yang begitu berantakan, sedangkan ketiga adik kembarnya hanya terdiam di belakangnya, dan keempatnya sudah tau siapa yang membuat kekacauan ini.
"Ah…kalian sudah pulang," Sambut seorang pemuda berhoddie biru laut dengan nada bicara ogah-ogahan.
"Ice…bisa tolong jelaskan…?" Gempa mencoba tetap memasang senyum meski pikirannya amburadul.
"Eh? Aku tadi bangun…kalian semua tidak ada. Dan aku lapar…jadi aku makan sendiri…pas mau nyuci piringnya aku malah tersandung dan memecahkan semuanya. Aku juga terlalu malas untuk mengambil sapu jadi aku kembali saja ke kamar dan memutuskan untuk membersihkannya setelah bangun nanti…eh, taunya sudah jam segini," Jelas Ice innocent dengan wajah ala Herp.
"Heduh…ini salah kita juga meninggalkannya sendiri…" Taufan langsung facepalm.
"Uh…sudahlah, Ice…kau ke kamar saja. Biar kami yang akan membereskannya," Tukas Gempa.
"Eh? Kalian memang baik…ya sudah…selamat malam," Ice dengan langkah terseok-seok berjalan menyusuri tangga lalu menghilang di balik pintu kamarnya.
"Kak Gempa bercanda ya?! Kita semua kan capek," Protes Blaze karena keputusan kakak ketiganya yang kelewat bijaksana tersebut.
"Jika kita membiarkannya yang ada malah makin berantakan. Kau mau semakin repot mengurusnya nanti?" Jelas Gempa retoris.
"Ah…" Blaze hanya bisa pundung.
"Tch…kalo begitu ayo mulai. Aku capek," Tukas Halilintar.
"Ehehehe…sesungguhnya Kak Hali ya yang paling capek di antara kita semua," Taufan hanya cengengesan menanggapi kakaknya tersebut.
"Huh…itu juga salah kita karena bisa saja melupakannya disini dan meninggalkannya sampai selarut ini…" Desah Gempa sambil facepalm.
~Working!~
"Ini dari meja 8," Ying meletakkan secarik kertas pesanan di atas counter pembatas dapur.
"Oh…letakkan saja di sana," Fang yang sedang menumis sayur menjawab. "O iya, Halilintar, kau kerjakan sana," Lanjutnya.
"Hah? Kenapa aku?" Sahut sang Boboiboy sulung ketus.
"Karena aku sedang sibuk. Lagipula, aku pikir kau suka jika harus memasak makanan pesanan pelanggan," Ucap Fang santai.
"Aku memang tidak keberatan. Tapi aku tidak mau di perintah olehmu!" Seru Halilintar sambil menunjuk Fang dengan spatula.
"Ck…kau ini memang sama sekali tidak ada rasa hormat terhadap senior ya," Seringai Fang.
"Hah?!" Halilintar sudah bersiap mematahkan gagang spatula, tapi batal karena Ying-yang sedaritadi diabaikan-menginterupsi.
"Tch…" Halilintar dengan berat hati mengambil kertas pesanan tersebut dan bersiap membuat masakan pesanan, sedangkan Ying hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Kau ini, jika begini terus nanti kau tidak akan bisa akrab dengan Halilintar tau," Komentar Ying.
"Itu salah dia sendiri harus terlihat ketus semenjak awal bertemu," Jawab Fang santai sambil mengangkat bahu. Ying kembali menggelengkan kepalanya dan bergegas menuju pintu depan begitu mendengar suara bel pintu.
"Eh? Gempa, Blaze, Gopal? Kenapa kalian disini?" Kaget Ying begitu mendapati dua Boboiboy kembar bersama Gopal (yang masih memakai seragam sekolah) memasuki restoran.
"Kak Gempa khawatir sama Kak Halilin dan Kak Taufan, makanya kami kemari," Jawab Blaze sekenanya.
"Habis mau gimana lagi…aku tidak bisa tenang jika tidak memastikan mereka baik-baik saja," Sambung Gempa cengengesan.
"Ah…kalian ini. Ya sudah, kalian mau makan sesuatu?" Tanya Ying.
"Tidak juga. Kami hanya datang untuk melihat keadaan saja," Tolak Gempa.
"Tapi karena kami sudah disini…setidaknya aku ingin minum sesuatu di belakang," Ucap Gopal lalu dengan seenaknya langsung kabur menuju ruang staff diikuti Blaze-yang memang memiliki kebiasaan mengekor siapapun yang membuatnya merasa senang.
"Ah…mereka itu…" Gempa facepalm seketika.
"Ahahaha…sudahlah. Kalian tidak ada shift hari ini jadi aku bisa saja memperlakukan kalian sebagai pelanggan. Ayo masuk, Gempa," Ajak Ying dan disanggupi senyum kecil dari Gempa.
~Working!~
"Baiklah, Halilintar…sudah waktu mu untuk istirahat," Ejo jo muncul di dapur dengan sebatang rokok di mulutnya.
"Hoy, kalo mau merokok pergilah ke tempat lain, kau menganggu," Sungut Fang kesal.
Halilintar tidak menjawab apa-apa, tapi segera beranjak dari dapur-karena memang pekerjaannya sudah diselesaikan, dan dirinya bisa menjauh sebentar dari landak ungu yang tak henti-hentinya mengganggunya.
"O iya…apa tidak apa-apa jika hanya Ying yang bertanggung jawab di bagian pelayan?" Tanya Halilintar.
"Jangan khawatir. Masih ada satu orang lagi yang akan datang, tapi sepertinya dia agak terlambat…" Jawab Fang.
"Maksudmu orang yang bernama Yaya itu?" Tebak Halilintar asal.
"Ya. Memang, tapi kenapa kau bisa tau?" Tanya Ejo jo.
"Aku sempat melihat namanya di daftar staff," Jawab Halilintar.
"Ah…kalo begitu aku sarankan kau berhati-hati," Ucap Fang sebelum Halilintar beranjak menuju ruang istirahat.
"Apa maksudmu?" Tanya Halilintar sambil mengerutkan keningnya.
"Itu karena Yaya…agak sedikit…mmm…" Fang mulai bingung bagaimana harus merangkai kata-katanya.
"Sudahlah…Fang hanya berniat mengerjaimu. Sana istirahat, waktumu hanya satu jam," Potong Ejo jo sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Halilintar mendengus sebal tetapi tetap menuruti perintah managernya yang agak aneh tersebut.
~Working!~
"Ah…umm…sepertinya aman…"
Seorang gadis berjilbab pink tampak menyembulkan kepalanya dari ruang ganti wanita, dan bersiap untuk menjalankan tugasnya sebagai salah satu pelayan ATthree Family Restaurant.
"Tch…sepertinya memang tidak ada yang normal diantara semua staff-staff disini. Terlebih lagi si landak sok keren itu…" Halilintar bersungut-sungut kesal sambil memasuki ruang istirahat.
"Baiklah…baiklah…tenang…"
Gadis tersebut mengelus dadanya dan menarik napas beberapa kali sebelum akhirnya memantapkan diri untuk keluar dari ruang istirahat, yang entah kebetulan atau memang takdir *cielaah!* bersamaan dengan masuknya Halilintar ke ruang istirahat jadi otomatis mereka akan bertemu satu sama lain.
"…"
Gadis berjilbab tersebut membeku di tempat dengan badan yang sedikit bergetar.
"?"
Halilintar mengerutkan alis bingung dengan tingkah gadis asing di depannya ini. Dan dilihat dari seragamnya, Halilintar bisa menarik kesimpulan bahwa gadis ini juga bagian dari staff pekerja ATthree.
"Hey…"
"KYAAAAA!"
DUAAAK!
"Suara apa itu?!" Taufan yang sedang sibuk menghitung uang langsung terlonjak mendengar suara teriakan seorang gadis tersebut. Untung saja saat ini sedang sepi pelanggan, jadi tidak menarik perhatian. Tapi tetap saja membuat Taufan penasaran.
"Suaranya berasal dari belakang," Sambung Blaze.
"Tapi aku pikir staff perempuan disini hanya Ying," Ucap Taufan bingung.
"Oh…tidak!"
Ying langsung panik dan buru-buru berlari ke ruang istirahat, diikuti Taufan dan Blaze yang penasaran, serta Gempa dan Gopal yang sebenarnya tidak mau kesana, tapi tidak punya pilihan lain karena yang ada di dalam pikiran Gempa sekarang adalah, satu-satunya staff yang sedang istirahat adalah kakak sulungnya.
~Working!~
"Ada apa ini?!" Ying masuk pertama.
Sebenarnya dirinya sudah tau apa yang terjadi, tapi itu hanya pertanyaan reflek yang dilontarkan oleh Ying yang sedang panik.
"K-Kak Hali…?!" Taufan cengo melihat keadaan sang kakak kali ini.
Di depan mereka tampak Halilintar yang jatuh tersungkur tidak jauh dari ruang ganti wanita. Untung Halilintar punya pertahanan tubuh yang kuat sehingga dirinya tidak sampai tergeletak.
"Yaya…?!" Kaget Gopal melihat seorang gadis berjilbab pink dengan wajah sewarna dengan jilbabnya tampak terengah-engah. Posisi tangan kirinya terkepal dan mengarah kedepan, sehingga sudah jelas siapa pelaku yang membuat Halilintar sampai seperti itu.
"Ah…m-maafkan aku!" Yaya buru-buru membungkukkan badannya dengan kikuk.
"Kak Hali, Kakak tidak apa-apa?" Taufan buru-buru menghampiri sang kakak yang masih duduk melantai di depannya.
"Ukh…setidaknya aku masih hidup…" Gumam Halilintar dengan suara serak. Tangan kanannya memegangi pipinya yang terlihat memar.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Blaze yang sesungguhnya merasa cukup beruntung karena ini adalah pertama kali Kakak sulungnya itu tampak begitu tidak berdaya.
Biasanya sih, kakaknya itulah yang membuat orang lain tidak berdaya.
"Yaya, sebaiknya kau pergi ke depan saja. Manager Ejo jo kebetulan ada di counter," Saran Ying pada sahabatnya yang masih kikuk tersebut.
"Ah…u-um…b-baiklah. Sungguh, aku minta maaf," Yaya sekali lagi membungkuk dalam sebelum buru-buru keluar dari ruang staff (tentu saja setelah Gopal, Blaze, dan Gempa menyingkir).
"Sebenarnya ada apa dengan gadis itu?" Gumam Blaze.
"Kak Hali lagi ngapain sampai di pukul telak begitu?" Tanya Taufan.
"Ah…tidak ada. Saat aku masuk kesini, kebetulan dia sudah mau keluar sehingga kami berpapasan, dan kemudian dia memukulku tanpa alasan. Aku bahkan tidak sempat menahannya," Jawab Halilintar setelah susah payah berdiri.
"Bisa…tolong dijelaskan?" Tanya Taufan lagi dengan kedua netra yang menatap ketiga temannya yang sudah lebih dulu menjadi staff di restoran ini.
"Umm…tadi itu Yaya. Dia kemarin tidak datang karena tidak ada shift," Ying menjawab.
"Sebenarnya dia seangkatan dengan kita, tapi dia itu sekolah di academy khusus perempuan dan mulai bekerja disini semenjak 6 bulan yang lalu," Sambung Gopal.
"Dan…dia itu menderita Androphobia, jadi kami tidak kaget melihat Kak Halilintar kena pukul tadi," Gempa mengakhiri biography singkat mereka tentang Yaya.
"Andro…andro apa?" Blaze bertanya innocent sambil menggaruk tengkuknya.
"Androphobia, artinya penderitanya itu phobia dengan yang namanya laki-laki," Jelas Taufan.
"Tepat sekali. Yaya memang seperti itu…dia selalu memukul laki-laki manapun yang berada dalam jarak kurang dari satu meter dengannya," Desah Gopal sambil tersenyum miris, kelihatan sekali bahwa dirinya itu juga pernah jadi korban.
"Ternyata ada orang yang seperti itu ya?" Blaze menggeleng-gelengkan kepala.
"Yah…begitulah. Apalagi staff disini kebanyakan laki-laki jadi Yaya kesulitan untuk beradaptasi," Ucap Ying dengan senyum kikuk.
"Umm…baiklah, sebaiknya kami kembali ke depan. Sepertinya ada pelanggan," Taufan menepuk-nepuk tangannya kemudian berjalan duluan keluar dari ruang staff.
"Kak Halilintar istirahat saja. Aku dan Blaze tidak ada shift jadi biar kami yang menemanimu," Ucap Gempa setelah menyadari kakak sulungnya itu masih diam saja.
Blaze menarik kursi, mempersilahkan sang kakak duduk. Bahkan Gopal sudah menyiapkan minuman dingin untuk mereka berempat.
Halilintar hanya diam dengan tangan tetap meraba pipi kanannya. Untung tidak berdarah, tapi sepertinya meninggalkan luka memar yang cukup kentara.
Halilintar menghela napas, sudah lama dirinya tidak merasakan pukulan sesakit ini semenjak pertama kali dirinya ikut latihan karate 10 tahun yang lalu.
~Working!~
60 menit berlalu, Halilintar segera keluar dari ruang istirahat dan bersiap-siap untuk melanjutkan tugasnya.
Sebenarnya Ejo jo memberikan tambahan waktu istirahat untuk Halilintar tapi karena Halilintar yang memiliki pribadi tidak ingin dikasihani, maka sang kembaran pertama tersebut menolak karena tidak ingin dianggap lemah.
"Kakak yakin? Apa kepala kakak masih pusing?" Tanya Gempa yang berusaha menyamakan langkah kakinya dengan sang kakak.
"Aku baik-baik saja. Kenapa kau jadi bawel begini sih?" Tanya Halilintar kesal.
"Umm…soalnya aku khawatir. Pukulan Yaya itu tidak lemah, Kak. Bahkan manager dulu pernah pergi ke rumah sakit untuk mengobati rusuknya yang retak," Halilintar langsung membeku mendengar penuturan sang adik.
"Ck…ini tidak seperti aku akan berbicara dengannya lagi. Lagipula, aku di bagian dapur sedangkan dia pelayan. Jadi kami tidak akan selalu bertemu," Tukas Halilintar cuek, meninggalkan Gempa yang memasang wajah cengo seperti melihat hantu.
"Anu…kak…" Baru saja Gempa mau memberitau kalo Yaya sedang berjalan berlawanan arah dengan mereka, tapi batal karena sang kakak sudah terlanjur pergi.
"HWAAA! Laki-laki!"
Yaya kali ini meninju pipi kiri Halilintar, membuat sang pemilik pipi yang tidak waspada langsung terpental sejauh 2 meter sampai akhirnya menabrak dinding hingga retak.
"Ah…terjadi juga…" Gempa facepalm seketika.
"M-maafkan aku!" Yaya membungkukkan badan (lagi) kemudian lari menuju counter depan.
"Kak Halilintar…?" Gempa dengan ragu mentoel-toel punggung sang Kakak yang kini tersungkur di lantai dengan posisi tengkurap.
"Ukh…dia itu perempuan atau gorilla spesies baru sih…?" Halilintar bangkit dengan susah payah.
Tampak luka kemerahan di pipi kirinya dan ada setitik darah di sudut bibirnya, membuat Gempa sedikit bergidik tapi tetap memutuskan untuk bertindak.
"Kak Halilintar mau kembali ke ruang staff? Nanti lukanya aku obati," Tawar sang adik kedua.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja…" Tolak Halilintar setelah berhasil berdiri dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju dapur-meski jalannya agak sempoyongan seperti orang mabuk.
"Aku jadi kasihan sama Kak Halilintar," Gempa tersenyum sedih kemudian berbalik menuju ruang staff, hendak mengambil obat luka untuk Halilintar sekaligus membangunkan Blaze dan Gopal yang tertidur karena kekenyangan.
~Working!~
"Hee…sepertinya ada yang baru," Fang tersenyum miring melihat Halilintar memasuki dapur dengan luka memar di kedua pipinya.
"Diam," Balas Halilintar dengan tatapan menusuk sebelum kembali menyibukkan dirinya dengan peralatan makan pelanggan yang harus dibersihkan.
Fang yang melihat kelakuan dari adik kelasnya itu memasang senyum lebih lebar, "Sepertinya sesuatu yang menarik akan terjadi…" Gumamnya hampir tak terdengar karena saat ini dirinya sedang tidak mau berurusan dengan Halilintar yang sedang badmood.
~Working!~
"Ini menu pesanan dari meja 9," Ying menyerahkan secarik kertas pada Fang yang kebetulan sedang tidak melakukan apapun.
Fang tidak berkata apapun dan hanya mengambil kertas tersebut kemudian mulai berkutat dengan bahan-bahan masakannya.
"O iya, Halilintar…kau berikan pesanan ini pada Ying. Aku masih harus membuat Cherry Sundae," Pinta Fang, kali ini dengan nada normal, tidak terdengar memerintah seperti biasa.
Halilintar mendengus tapi tetap menyanggupi 'permintaan' dari seniornya tersebut.
Halilintar mengambil sepiring pancake caramel serta sup ayam yang sudah di selesaikan oleh Fang dan meletakkannya ke dalam nampan lalu membawanya ke meja counter.
"Oy, pesanan si-" Halilintar tidak jadi berbicara karena saat ini gadis yang berdiri di depannya ini bukanlah Ying yang seharusnya disana untuk mengambil makanan, tapi ternyata adalah gadis berjilbab pink yang wajahnya kembali memerah bahkan lebih merah dari sebelumnya.
"Ah…"
Halilintar pun hanya membeku di tempat, bersamaan dengan Yaya yang berteriak histeris sambil melayangkan tinjunya. Dan…readers semua pasti sudah tau apa yang terjadi. :v
~Working!~
"Brengsek! Kau sengaja menyuruhku karena tau Yaya yang akan mengambil pesanannya ya?!" Hardik Halilintar yang kali ini tidak bersusah payah untuk berdiri. Pipi kanannya-yang sudah sedikit membaik-kembali menjadi korban.
"Apa? Aku tidak tau sama sekali," Elak Fang santai tapi tetap tidak membuat Halilintar percaya begitu saja.
Yaya sudah melarikan diri, tentu saja setelah meminta maaf, kemudian pesanan yang untungnya tidak menjadi korban kekerasan tersebut sudah di atasi oleh Ying.
"Kak Halilin…kan Kak Gempa udah bilang untuk istirahat dulu," Blaze mengulurkan tangannya, membantu sang kakak untuk berdiri tapi tangan tersebut di tepisnya karena sekali lagi, Halilintar tidak ingin di anggap lemah.
"Wow…ini pertama kalinya aku merasa cemas melihat Kak Hali seperti ini," Canda Taufan sambil tersenyum sweatdrop.
Memang benar, selama ini kakaknya itu selalu berurusan dengan puluhan preman yang sering menantangnya bertarung, karena di sekolah kakaknya itu memang merupakan juara bela diri karate.
Hampir setiap hari Taufan melihat kakaknya itu pulang dengan tubuh penuh lecet atau baju yang lusuh dan kotor.
Tapi Taufan sudah terbiasa dan tidak akan merasa begitu khawatir, karena meski tubuhnya terlihat kotor dan lecet seperti itu, sudah bisa dipastikan bahwa Halilintar lah yang menang melawan para berandalan yang hobi mereka hanya main keroyokan tersebut.
Namun kali ini ceritanya berbeda, hanya dengan satu pukulan Halilintar langsung tumbang dengan wajah memar dan sedikit berdarah, membuat Taufan mulai khawatir jangan sampai sesuatu terjadi pada kakaknya itu.
"Sepertinya kau mengalami masa-masa yang sulit ya, Halilintar,"
Seluruh staff pria yang berkumpul di dapur menoleh, mendapati manager mereka yang kurang kerjaan, Ejo jo datang menghampiri mereka dengan wajah madesu seperti biasa.
"Halilintar…sepertinya ini sudah kelewatan…" Gumam Ejo jo sambil melipat tangannya di depan dada.
"Makanya, Manager…tolong berikan waktu istirahat tambahan untuk Kak Halilintar," Pinta Gempa yang memang terlihat paling khawatir dibandingkan yang lainnya.
"Itu tidak perlu, Gempa. Aku tidak selemah itu, tau!" Protes Halilintar yang merasa adiknya yang satu ini terlalu khawatir. Tapi memang kondisinya yang sekarang ini cukup mengkhawatirkan.
"Halilintar," Ejo jo menatap lurus ke arah Halilintar. Ekspresi wajahnya yang tadi terlihat seperti tidak ada gairah hidup berubah menjadi serius.
"Aku punya tugas untukmu," Ucap Ejo jo.
"Tugas?" Taufan bertanya penasaran sedangkan sang kakak yang ditunjuk hanya mengerutkan alis bingung.
"Ya. Aku menugaskan kau, untuk menyembuhkan penyakit Androphobia Yaya," Kalimat perintah dari sang manager, sukses membuat mereka semua membeku dengan tubuh yang berubah putih, terutama Halilintar yang mulai mengeluarkan aura-aura suramnya.
"Tunggu! Kenapa harus aku?" Protes Halilintar tidak terima.
"Itu karena kau adalah satu-satunya orang disini yang bisa bertahan dari pukulan Yaya lebih dari 2 kali," Ejo jo mengeluarkan alasannya.
"Itu…tidak masuk akal! Aku kesini untuk bekerja, bukan untuk menjadi samsaknya," Tolak Halilintar mentah-mentah.
"Hah…kau tau, ada alasan kenapa Yaya memilih bekerja di tempat ini yang notabene lebih banyak laki-laki daripada perempuan," Jelas Ejo jo.
"Sejak awal Yaya ingin menyembuhkan penyakit phobia laki-lakinya, tapi sejauh ini belum pernah ada laki-laki yang bertahan sejauh ini untuk menahannya," Lanjut Ejo jo.
"Itu wajar karena ukuran pukulannya yang setara dengan gorilla itu," Sahut Halilintar ketus.
Ejo jo menghela napasnya, "Kalo kau mau membantu Yaya menyembuhkan Androphobianya, gajimu akan aku tambah 3 kali lipat," Ejo jo mengeluarkan kartu terakhirnya.
"Whoa…3 kali lipat? Jangankan mencukupi kebutuhan sehari-hari kita, tapi itu bahkan bisa digunakan untuk membantu usaha Atok," Ucapan Taufan sedikit membuat telinga Halilintar berdengung.
"Jadi bagaimana…?" Ejo jo memasang senyum bisnisnya.
"Tch…baik,baik aku terima. Tapi kau harus bertanggung jawab jika anggota tubuhku rusak," Ucap Halilintar pada akhirnya.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan pernah melanggar janjiku," Ejo jo berbalik lalu melangkahkan kakinya keluar dapur.
"O iya, Fang, buatkan aku parfait," Ucap Ejo jo sebelum berjalan keluar dari dapur.
"Hah…selalu seenaknya saja," Fang memutar bola mata bosan tapi tetap memenuhi perintah dari managernya tersebut.
"Kak Halilintar yakin?" Tanya Gempa cemas.
"Aku hanya perlu menghilangkan phobianya kan?" Halilintar membuang muka, tidak suka melihat Gempa menatapnya dengan khawatir.
"Maa, kalo Kak Hali sudah ngomong gitu maka kita serahkan saja padanya. Oke, aku akan kembali ke kasir," Taufan berjalan meninggalkan dapur, diikuti Gopal dan Blaze yang sesungguhnya sudah tidak ada kerjaan lagi.
~Working!~
"Eh? Halilintar akan menyembuhkan phobia Yaya?" Ying yang barusan diberitau berita penting oleh Taufan mengerjap kaget.
"Yep. Sebenarnya Kak Hali menolak, tentu saja dia menolak…"
Taufan tersenyum geli kemudian melanjutkan, "Tapi Ejo jo mengatakan akan menaikkan gajinya menjadi 3 kali lipat, jadi Kak Hali menerimanya deh,"
Ying mengangguk-angguk paham. "Yah…kalo Yaya sembuh, itu juga akan menguntungkan untuk kita semua," Komentar Ying.
"Pesanan siap!" Ucap Fang dari dapur.
"Ah…sebentar," Yaya buru-buru berlari menuju counter dapur-dan kesempatan tersebut di manfaatkan Fang untuk mundur sejauh-jauhnya karena tidak ingin babak belur.
"Umm…" Yaya merasa agak gugup karena meski Fang sudah cukup jauh, tetap saja dirinya akan berhadapan dengan laki-laki.
"Yaya, anggap saja aku wanita. Dan cepat ambil makanannya," Fang angkat bicara-dengan sedikit berteriak.
"Anu…" Yaya memicingkan matanya ke arah Fang sambil bergumam 'Fang adalah wanita, Fang adalah wanita" berkali-kali, sebelum akhirnya merasa lebih baik kemudian mengambil makanan pesanan pelanggan dan bergegas menuju meja pelanggan.
"Fyuuh…selamat," Fang mengelus dada dengan lega.
"Kau menjijikkan," Halilintar yang baru kembali dari gudang berkata dengan ketus.
"Setidaknya aku selamat," Sahut Fang cuek.
"Fang, ini dari meja 2," Ying muncul di counter dapur sambil menyerahkan secarik kertas pesanan untuk yang kesikan kalinya.
Fang mengambil kertas tersebut, membacanya sekilas kemudian bergegas membuat makanan pesanan pelanggan tersebut.
"Ah…telurnya habis," Gumam Fang setelah melihat isi kulkas dan tidak menemukan sebutir telur pun.
"Oh, benarkah?" Kaget Ying.
"Hah…itu semua gara-gara manager sableng itu," Sungut Fang kesal karena kalo persediaan bahan makanan habis lebih cepat, satu-satunya jawaban kenapa adalah karena semuanya di babat habis oleh manager mereka yang memang tidak ada kerjaan tersebut.
"Aku pikir masih ada di gudang," Gumam Halilintar.
"Oh benarkah? Aku akan pergi mengambilnya kalo begitu," Ying baru saja mau beranjak, tapi tidak jadi begitu mendengar suara bel pintu.
"Aduh…aku harus melayani pelanggan," Gumam Ying.
"Aku akan pergi," Halilintar menawarkan diri untuk sekali lagi kembali ke gudang.
"Ah, terima kasih. Kalo begitu tolong ya," Ying segera bergegas menuju pintu depan, sedangkan Halilintar berjalan menuju gudang penyimpanan yang letaknya tidak jauh dari pintu belakang restoran.
~Working!~
Setelah mengambil sebaki penuh telur, Halilintar bergegas keluar dari gudang. Setelah menutup pintu, Halilintar berjalan menuju dapur, tapi…
"Eh?"
Yaya yang sedang membawa sapu langsung membeku di tempat, begitu juga dengan Halilintar.
Masalahnya adalah, Halilintar yang berjalan menuju dapur berpapasan dengan Yaya yang sepertinya baru selesai menyapu halaman belakang.
"Yaya, tunggu sebentar…!" Halilintar bisa saja menghindar, tapi karena kedua tangannya sedang membawa baki berisi telur, pergerakannya menjadi sedikit terhambat.
"KYAAA!"
Yaya melayangkan tinjunya lagi ke arah perut Halilintar, membuat sang pemuda bertopi hitam merah tersebut terpental dan telur yang tadi terjejer rapi di tangannya berjatuhan hingga mengotori lantai.
"Kak Halilintar!" Gempa yang mendengar adanya keributan langsung menghampiri sang kakak dengan obat luka di tangannya.
"Ah…biar aku yang membersihkan ini," Gopal memutuskan untuk turun tangan begitu melihat situasi yang sedikit runyam tersebut.
~Working!~
"Sungguh, maafkan aku," Yaya membungkukkan badannya dalam-dalam.
"Ck! Kau ini sebenarnya kenapa sih?!" Bentak Halilintar sambil memegangi perutnya yang masih nyut-nyutan.
"Aku…aku tidak sengaja," Ucap Yaya.
"Sebenarnya apa yang membuatmu terus-menerus memukul laki-laki, hah?!" Bentak Halilintar lagi.
"I-itu…itu karena laki-laki menakutkan!" Jerit Yaya.
"Yang menakutkan disini justru kau sih…" Gempa yang berdiri di belakang Halilintar tersenyum sweatdrop.
"Tapi tetap saja. Itu bukan alasan untukmu memukulku terus-menerus. Kau ini sebenarnya perempuan atau jelmaan King Kong sih?!" Halilintar yang emosinya sudah memuncak berteriak kesal.
"A-aku…aku…"
Yaya mundur beberapa langkah, kedua matanya tampak berair, "Setidaknya…aku sudah berusaha!" Teriak Yaya sebelum berlari menuju ruang staff-tentu saja sambil berusaha untuk tidak memukul Halilintar dan Gempa yang dilewatinya.
"Ah…Kak Halilintar membuatnya marah," Gumam Gempa.
"Ck. Itu salahnya sendiri," Halilintar membuang muka kemudian berjalan kembali ke gudang untuk mengambil persediaan telur lagi.
"Hah…apa manager tidak salah nih?" Desah Gempa sambil facepalm, merasa khawatir teman kerjanya serta saudara kembarnya itu tidak akan bisa akrab.
~Working!~
"Kau berantem dengan Halilintar…?" Ying mengambil kesimpulan setelah mendengarkan curhatan sahabatnya tersebut.
"Habis…dia menyebalkan! Aku dibilang King Kong…" Ucap Yaya lesu.
"Maa…dia sudah berusaha untuk bertahan dari pukulanmu seharian ini, dan Halilintar itu tidak seperti Gempa jadi wajar saja jika dia mengatakan itu padamu," Komentar Ying kalem.
"Tapi tetap saja. Dia sama sekali tidak mengerti perasaanku," Gumam Yaya.
"Dan, apa kau mengerti perasaannya?"
Pertanyaan dari Ying itu tidak langsung di jawab oleh Yaya, karena gadis berjilbab tersebut juga bingung mau menjawab apa.
Ying menghela napas, "Dengar, manager menunjuk Halilintar untuk membantumu menyembuhkan Androphobiamu itu. Dan jika kau sudah membuatnya kesal di hari pertama kalian bekerja bersama, aku tidak yakin masalah ini akan selesai," Komentar Ying.
"Umm…aku rasa kau benar. Terima kasih, Ying," Yaya tersenyum.
Ying membalas senyuman sahabatnya itu dengan senyuman lebar yang membuat mata sipitnya semakin menyipit. Sesungguhnya sahabatnya itu gadis yang baik, terlepas dari penyakit anehnya itu.
"Baiklah, aku masih harus mengurus pelanggan. Kasihan Taufan aku tinggal sendirian di depan. Dah," Ying beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dari ruang staff.
"Ah, Ying…tunggu," Yaya baru mau ikut berdiri, tapi batal begitu melihat Halilintar memasuki ruang staff dan seolah tidak terjadi apa-apa, pemuda berwajah datar tersebut duduk di depannya yang merupakan tempat dimana Ying duduk tadi.
"Eh…aku…aku…" Yaya bisa merasakan wajahnya memerah dan mulai mengeluarkan asap.
Halilintar menatapnya tanpa ekspresi, dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
"Maaf,"
"Eh?"
Yaya cengo, karena barusan mendengar pemuda di depannya ini minta maaf.
"Uhm…aku hanya emosi tadi," Ucap Halilintar sambil membuang muka.
"Ah…t-tidak apa-apa, kok. Aku juga minta maaf karena memukulmu terus," Balas Yaya gugup.
"Sebenarnya…" Halilintar bergumam pelan, tapi karena ruangan tersebut sedang sepi, Yaya masih bisa mendengar suara pemuda itu.
"Sebenarnya…kau cukup manis…ehm…seandainya jika kau tidak punya kebiasaan aneh itu. Dan umm…"
Halilintar sebenarnya tidak gugup, tapi dirinya sedang mencoba untuk mengingat-ngingat apa yang dikatakan Gempa padanya saat dirinya ingin meminta maaf pada Yaya.
Sedangkan sang gadis wajahnya sudah sedaritadi memerah bagaikan kepiting kukus saus sambal.
"Dan…aku suka jepit rambutmu," Ucap Halilintar dengan seulas senyum tipis, berhasil membuat jantung Yaya berhenti berdetak untuk sesaat.
"A-ah…" Yaya sudah tidak tau mau membalas apa hingga akhirnya…
DUAAK!
"H-halilintar, terima kasih. Dan mohon kerja samanya ya," Yaya tersenyum gugup kemudian langsung tancap gas keluar meninggalkan Halilintar yang tergeletak mengenaskan di lantai.
"Apa itu berhasil…?" Gumam Gempa (yang ikut menguntit kejadian di dalam ruang staff bersama Ying) sweatdrop.
"Well, setidaknya hubungan mereka terlihat sedikit lebih baik," Ucap Ying setengah sweatdrop.
~Working!~
"Yaya, kau memukulnya lagi," Ucap Ying setelah berhasil menemukan sahabatnya yang sedang mojok di sudut pintu.
"Y-ying…" Yaya menatap Ying dengan tatapan memelas.
"Eh? A-ada apa?" Ying mulai merasa cemas, apakah hubungan Yaya dan Halilintar masih belum membaik?
"D-d-dia…dia…dia memuji jepit rambutku," Yaya dengan wajah panas dan tangan gemetar menunjuk jepit rambut kecil berbentuk bunga berwarna kuning yang menghiasi bagian samping jilbab pinknya.
"Oh…begitu ya? Syukurlah…" Ying bersyukur dalam batinnya, karena sepertinya semuanya akan baik-baik saja. Mungkin…
~Working!~
"Kak Halilintar baik-baik saja?" Gempa mengobati luka di pipi Halilintar yang entah sudah keberapa kalinya untuk hari ini.
"Tolong jangan marah, kak. Yaya sudah berusaha, kok," Ucap Gempa takut emosi kakaknya akan meluap untuk yang kedua kalinya.
"Huh…" Halilintar melenguh kesal.
"Ada apa, Kak?" Tanya Gempa cemas.
"Padahal tadi aku serius…tentang jepit rambut," Gumam Halilintar, meski sisa kalimatnya hanya diteruskan di dalam hatinya.
"?"
Gempa memiringkan kepala bingung, namun kemudian tersenyum karena sepertinya kakaknya tidak marah kali ini.
"Kalo begitu sepertinya masih ada harapan," Gempa tertawa kecil kemudian membantu kakaknya berdiri-kali ini Halilintar tidak mengelak sama sekali-lalu keluar dari ruang staff untuk kembali melanjutkan pekerjaan.
Dan begitulah, hari kedua Boboiboy kembar bekerja di ATthree, yang meski restoran ini isinya orang aneh semua, setidaknya hari-hari mereka di tempat kerja tidak akan terasa begitu monoton.
~Working!~
Pulau Rintis, rumah Boboiboy bersaudara, 9.00.p.m
"Ah~ sepertinya mereka melupakanku lagi," Seorang pemuda berparas identic dengan Boboiboy yang lain mendesah malas, dengan sepotong sandwitch yang diapit oleh mulutnya.
"Maa, terserahlah. Hoaamm…" Boboiboy Ice segera menghabiskan camilan malamnya dan bergegas menuju kamarnya.
"Aku harap besok ada hal menarik yang akan terjadi…" Gumamnya dengan seulas senyum, sebelum akhirnya tubuhnya menghilang di balik pintu kamarnya.
! T B C !
Ah~! *regangkan otot tangan* selesai! Akhirnya Yaya dan Ice muncul (meski Ice jatahnya masih sedikit) sama seperti sebelumnya, chapter ini juga saya ambil dari 'Working!' tepatnya epilogue episode 1 dilanjutkan episode 2.
Karakter Yaya itu juga saya ambil dari salah satu karakter 'Working!', yaitu Inami Mahiru yang memang mengidap Androphobia dan selalu memukul semua laki-laki yang terlalu dekat dengannya-terutama Takanashi. Tapi di season 3 kebiasaannya yang itu sudah agak berkurang sih…
Baiklah, sebelum pamit, ada sedikit preview untuk chapter berikutnya!
Preview:
Sudah lebih dari 1 minggu saudara kembar Boboiboy Gempa bekerja, kini mereka sudah mulai terbiasa dengan keseharian mereka di ATthree yang cukup absurd. Dan begitu juga dengan Boboiboy Taufan, yang belakangan ini merasa ada hubungan aneh antara Fang dan Ying. Taufan yang penasaran memutuskan untuk mencari tau hubungan aneh keduanya yang cukup complex, tetapi malah membuatnya ikut terjerat dalam hubungan mereka. Apa Taufan bisa menemukan jawaban dari hubungan aneh antara Fang dan Ying yang kini juga melibatkan dirinya?
Next Plate: How to 'get' the Girl! Part 2
Baiklah itu saja. Saya tidak yakin bisa update cepat karena saya cukup sibuk ditambah lagi masih ada beberapa fict yang harus saya selesaikan. Tapi tetap akan saya update dan tidak akan saya telantarkan (semoga)~! Oke, sampai jumpa di chapter selanjutnya, minna-san~!
Review?
