3rd Plate: How to 'get' the Girl! Part 2
Iyaaah…akhirnya bisa update juga~ sekali lagi terima kasih atas apresiasi dan reviewnya di chapter sebelumnya. Hal itu memberikan saya semangat dan kekuatan yang lebih untuk melanjutkan fict ini~ *cieelaah!*
O iya, jika ada yang penasaran sebenar fict ini ada pairnya atau enggak, sebenarnya jawabannya ada, tapi mungkin unsurnya platonic gitu…dan juga perkembangan pair tersebut tergantung pada plot, makanya genre nya saya taruh Friendship dulu untuk sementara, atau mungkin akan tetap friendship jika pairnya masih tetap platonic sampai akhir *di giles* Oke, terlalu banyak basa-basi, langsung saja~!
Enjoy~! :)
"Selamat pagi~!" Taufan mewakili kedua saudaranya yang lain saat baru saja sampai di tempat kerja mereka.
"Oh, selamat pagi, kalian. Seperti biasa kau tampak bersemangat ya, Taufan," Sambut Ying yang sedang sibuk menyapu ruang staff.
"Maa, begitulah," Taufan cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
"Itu karena baterainya selalu terisi lebih makanya sifatnya begitu," Boboiboy Halilintar berkomentar.
"Hey! Kak Hali aja yang terlalu irit ekspresinya!" Taufan yang tidak terima berlari menyusul kakaknya yang sudah lebih dulu berjalan menuju dapur.
"Ah…" Yaya yang kebetulan lewat dan di saat yang sama bertemu pandang dengan Halilintar yang hendak ke dapur langsung membeku di tempat kemudian…
"KYAAAA!"
DUAAAK!
Halilintar kembali mendapat pukulan penuh cinta(?) dari Yaya sehingga sang pemuda terpental kembali ke ruang staff.
"Pffftt…rasain tuh," Taufan yang berdiri di depan tempat Halilintar tersungkur bukannya membantu Halilintar berdiri tetapi malah menertawakan penderitaan kakaknya tersebut.
"M-m-maafkan aku, Halilintar!" Yaya membungkukkan badan kemudian kabur menuju halaman belakang.
"Ah…Kak Halilintar…?" Gempa menghampiri sang kakak sulung dan membantunya berdiri.
"Uh…jangan cemas, Gempa. Entah kenapa aku jadi terbiasa dengan hal ini…" Gumam Halilintar sambil menepis tangan Gempa kemudian kembali berjalan menuju dapur seperti tidak terjadi apa-apa.
Sudah seminggu bekerja di ATthree, dan selama seminggu itu pula Halilintar selalu mendapatkan tonjokan cinta(?) dari Yaya setiap hari, dan lama-kelamaan hal itu mungkin sudah membuat Halilintar terbiasa.
"Justru karena itu aku jadi khawatir kak…" Gumam Gempa yang hanya bisa cengo menatap kepergian Halilintar menuju alam Baqa-ralat, maksudnya dapur.
"Sudahlah, Gempa. Jika itu orang lain mungkin pantas kau khawatirkan, tapi Kak Hali yang sedang dibicarakan ini kan?" Ucap Taufan ceria sambil menepuk-nepuk bahu adiknya.
"Kalo Kak Taufan yang kena mungkin aku tidak akan se-cemas itu," Sahut Gempa setengah kesal-tetapi tidak bermaksud serius.
"Heee? Kau sudah ketularan kejamnya Kak Hali!" Rengek Taufan.
"Yang kejam disini siapa sebenarnya? Ah sudahlah…aku mau ke depan dulu. Kak Taufan juga pergi ke kasir saja deh," Tukas Gempa yang tidak mempedulikan air mata buaya sang kakak kedua dan lanjut berjalan menuju pintu depan.
"Huh…apa-apaan sih dengan mereka? O iya…dimana Blaze?" Taufan yang baru sadar kembar Boboiboy yang keempat itu tidak bertingkah seperti biasa mulai sadar bahwa ternyata adik keduanya itu menghilang entah kemana.
~Working!~
"Ayolah, Ice…aku harus pergi," Boboiboy Blaze yang ternyata di tinggal oleh ketiga kakaknya masih sibuk mengurus anak bungsu Boboiboy kembar yang kini sedang berguling-guling di karpet.
"Tapi aku bakalan sendiri, Kak Blaze…Kakak tega sekali meninggalkan ku sendiri…" Ice menatap sang kakak dengan wajah datar tetapi terlihat jelas ada aura-aura blink-blink plus balon-balon sabun dan latar belakang pink di sekitarnya.
Blaze pun sweatdrop, "Uh…baiklah, baiklah…aku akan menemanimu. Jadi jangan menatapku seperti itu," Desah Blaze menyerah. Memang jika sudah berhadapan dengan si bungsu Boboiboy Ice, sifat kekanak-kanakkan Blaze akan menguap entah kemana.
"Yeey…sudah kuduga Kak Blaze memang bisa di andalkan…hoaaam…" Ice tersenyum malas kemudian menguap lebar-lebar dan lanjut berguling-guling di atas karpet.
Blaze hanya menghela napas dan kemudian mengambil ponselnya yang disimpan di dalam saku celananya.
~Working!~
"Terima kasih banyak~! Datang lagi ya~!" Taufan tersenyum ramah sambil membungkukkan badannya. Setelah seminggu bekerja di ATthree, Taufan jadi sedikit terbiasa untuk bersikap lebih ramah dan sopan pada orang lain.
"Kak Taufan, Blaze katanya tidak bisa datang karena Ice merengek tidak mau ditinggal," Gempa menghampiri kakak keduanya itu dengan ponsel di tangannya. Sepertinya Blaze baru saja menghubunginya.
"Benarkah? Ice memang merepotkan ya?" Taufan hanya tertawa kecil menanggapi laporan dari adiknya tersebut.
"Maa, kau laporkan saja pada Ejo jo. Dia mungkin tidak akan peduli mengingat yang selalu dia pikirkan hanya camilan," Lanjut Taufan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ah…aku benci mengakuinya tapi sepertinya Kak Taufan benar," Gempa tersenyum sweatdrop kemudian beranjak menuju ruang manager yang tertutup rapat.
Setelah Gempa pergi, Taufan kembali menoleh kedepan, tepat ke arah pintu masuk karena kebetulan tempat kasir itu berhadapan dengan pintu masuk pelanggan.
"Fang, kan aku sudah bilang berhenti membuat keributan dengan Halilintar,"
Taufan menoleh ke arah counter yang berbatasan dengan dapur, dimana Ying tampak sedang adu mulut dengan pemuda berkacamata ungu yang tampaknya sangat cuek namun ternyata memiliki sisi jahil tersebut.
"Kau ini bawel banget sih, kan aku hanya bercanda. Kau tau, Halilintar itu orang yang pas untuk diganggu," Sahut Fang santai.
"Aku tidak peduli kau mau jadi masochist atau apa, tapi tolong ini di tempat kerja tau!" Balas Ying.
"Memangnya siapa yang bilang ini di penjara?" Sahut Fang lagi masih dengan nada santai.
"Kau ini…!" Ying sudah bersiap untuk memukul kepala Fang dengan nampan, dan Fang juga sudah bersiap-siap untuk menghindari serangan dari gadis Cina tersebut.
"Daripada menggoda Kak Hali, dia kelihatan seperti ingin menarik perhatian Ying…" Taufan bergumam-gumam pelan sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua teman kerjanya tersebut.
"O iya, belakangan ini aku baru saja sadar…kok Ying tampak lebih perhatian sama Fang dibandingkan orang lain ya…?" Gumam Taufan lagi kali ini sambil memasang pose berpikir ala detektif cilik dari fandom sebelah.
"Taufan? Kenapa ngelamun…?"
Taufan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, dan sedikit terkejut melihat Gopal, rekan kerjanya yang juga berkeja di bagian pelayan tampak menatapnya dengan bingung.
"Ah, Gopal. Pas sekali, aku mau bertanya," Ucap Taufan sambil menepuk-nepuk bahu pemuda India tersebut.
"Tanya apa? Masih ada yang belum kau mengerti di sini?" Tanya balik Gopal.
"Ah, bukan itu. Ini tentang Fang dan Ying," Jelas Taufan.
"Fang dan Ying?" Gopal mengerutkan kening bingung.
"Iya. Kau nggak sadar, kelihatannya Ying itu agak lebih cerewet dan galak terhadap Fang," Jelas Taufan lagi.
"Lha…Ying memang seperti itu. Lagipula, dia menjadi lebih cerewet terhadap Fang karena Fang selalu mengganggunya," Komentar Gopal.
"Bukan begitu,"
Taufan menepuk jidatnya, "Maksudnya…Ying itu agak perhatian pada Fang. Gimana yah ngomongnya…tapi dibandingkan dengan laki-laki lain, bahkan dibandingkan Yaya, sahabatnya, Ying agak lebih terlihat seperti peduli pada Fang, terus Fang juga selalu menarik perhatian Ying dengan berbagai macam cara…" Jelas Taufan yang juga sebenarnya bingung mau menjelaskan bagaimana.
Gopal menggaruk tengkuknya dengan bingung, "Aku tidak tau soal itu. Mereka bekerja disini lebih dulu dari aku sih…kenapa tidak Tanya Gempa atau Yaya saja?" Usul Gopal.
"Cukup Kak Hali saja yang babak belur. Kalo nanya ke Gempa…umm…lihat nanti lah," Tukas Taufan sambil mengangkat bahu.
Begitu pintu masuk terbuka dan masuk beberapa orang berpakaian pegawai kantoran, Gopal buru-buru menyambut mereka dan mulai menanyakan segala hal yang diperlukan pelanggan tersebut mulai dari dimana mereka ingin duduk, pesanan mereka, jumlahnya, dan tektek bengek lainnya yang tidak mau repot-repot Taufan pikirkan.
~Working!~
"Ne, Gempa,"
Gempa yang sedang istirahat makan siang menoleh ke arah pintu masuk ruang staff, dimana Taufan yang juga baru mendapat jam istirahat berdiri.
"Ada apa?" Tanya Gempa sedikit bingung karena tidak biasanya saudara kembarnya yang paling jahil dan berisik itu memanggilnya dengan nada serius.
"Apa kau tau apa yang terjadi pada Fang dan Ying?" Tanya Taufan langsung setelah mendudukkan dirinya di depan Gempa.
"Eh? Fang dan Ying? Memangnya mereka kenapa?" Tanya balik Gempa panik.
"Bukan itu maksudku…" Taufan sweatdrop melihat reaksi adiknya tersebut.
"Maksudnya…Ying itu terlihat begitu perhatian sama Fang, dan Fang sendiri juga sering sekali menggoda Ying. Menurutku, tingkah lakunya yang selalu mengganggu Kak Hali itu hanya semacam modus saja agar Ying mau mengomelinya atau semacamnya…" Jelas Taufan.
"Eh? Benarkah? Aku tidak pernah memperhatikannya…" Gempa bergumam pelan kemudian melanjutkan, "Tapi yang Kak Taufan bilang ada benarnya juga sih. Soalnya Fang yang cuek itu kelihatan lebih berekspresi kalo sama Ying. Ying juga tampak lebih galak dan 'kecewekan' banget kalo sama Fang. Aku ingat, bahkan mereka berdua daftar kerja bersama," Komentar Gempa.
"Eh, beneran?!" Taufan menggebrak meja dengan reflek.
"Umm…Kakak tau kan, Ying itu orangnya agak tomboy dan periang, tapi entah kenapa dia jadi agak lebih seperti seorang gadis kalo ngomong dengan Fang. Ah…kalo tidak salah, mereka berdua juga datang dan pulang kerja bersama," Jelas Gempa.
"Kalo begitu, fix…ada yang aneh dengan hubungan keduanya. Aku akan mencaritaunya," Taufan memutuskan sambil menjentikkan jarinya.
"Tunggu, sebaiknya jangan deh, Kak. Maksudnya kan, itu urusan mereka, jadi lebih baik kita tidak usah ikut campur," Cegah Gempa sebelum kakaknya itu melakukan hal yang aneh-aneh.
"Eh? Tapi kan aku penasaran. Apa jangan-jangan mereka merahasiakannya dari kita ya…?" Gumam Taufan.
"Aku akan mencaritau hal itu, pokoknya. Sudah ya, aku pergi dulu," Taufan bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari ruang staff.
Gempa yang ditinggal sendirian hanya geleng-geleng kepala, "Kak Taufan itu memang selalu sulit ditebak," Desah Gempa berharap kakak keduanya itu tidak melakukan hal yang tidak-tidak terhadap kedua rekan kerjanya tersebut.
~Working!~
"Ah…Kak Hali mau istirahat?" Sapa Taufan begitu melihat Halilintar baru saja mau memasuki ruang staff.
Halilintar tidak menjawab, dan hanya menatap Taufan dengan datar.
Dilihat dari luka memar kemerahan di pipi kanannya, Taufan hanya bisa sweatdrop, Karena sepertinya kakaknya itu habis kena bogem lagi. Seandainya saja itu bukan Halilintar, Taufan mungkin sudah merasa simpati karena harus mengurus seorang gadis penderita Androphobia yang merupakan tugas dari manager mereka yang aneh itu.
Kalo Taufan jadi Halilintar, jangankan kenaikan gaji 3 kali lipat, Taufan mungkin akan meminta gaji diberikan sebulan 3 kali (dan mungkin dirinya akan langsung dipecat saat itu juga).
~Working!~
"Ah, Taufan, bisa minta tolong sebentar?" Taufan menoleh mendapati gadis Cina yang tadi terus dipikirkannya datang menghampirinya dengan senyum sumringah.
"Ada apa?" Tanya Taufan.
"Umm…bisa temani aku mengambilkan tepung beras? Di gudang letaknya cukup tinggi dan aku nggak sampai," Jelas Ying.
"Di tolak aja, Taufan. Dia modus tuh," Taufan tersentak begitu mendengar sahutan Fang yang sedang sibuk mengiris daging.
"Hey! Diam saja kau! Aku benar-benar butuh bantuan tau!" Bentak Ying kesal.
"Kenapa tidak Tanya padaku saja?" Tanya Fang dengan nada santai khasnya.
"Karena kau sibuk dan aku pikir Taufan lebih tinggi darimu," Jawab Ying sekenanya.
"Hey! Aku lebih tua dari dia kok malah aku yang lebih pendek sih?" Protes Fang yang akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Ying dan Taufan.
"Tapi itu benar kan? Terserah ah. Ayo, Taufan," Ying segera berlalu sambil menarik tangan Taufan yang masih cengo dengan perdebatan mereka yang menurutnya tidak masuk akal itu-meski dirinya sedikit senang karena kenyataannya dirinya lebih tinggi beberapa centi dibandingkan seniornya yang lebih tua setahun dibanding dirinya tersebut.
"Itu dia, tolong ya," Ucap Ying setelah menunjukkan dimana letak tepung beras yang dibutuhkannya itu.
"Oke, itu mudah," Taufan mengambil sebungkus tepung yang terletak di rak paling atas dengan mudah, dan memberikannya pada Ying-yang langsung menyambut pemberian Taufan tersebut dengan senang hati.
"Terima kasih, Taufan. Aku duluan ya," Ying tersenyum manis kemudian berbalik dan berjalan keluar dari gudang, sedangkan Taufan menggaruk-garuk tengkuknya. Jujur saja, dirinya tampak bingung.
Meski lebih tinggi, tepung beras yang tinggi letaknya tidak seberapa itu pasti bisa diambil oleh Fang. Kenapa Ying harus repot-repot berlari mencarinya hanya untuk hal seperti ini?
Tidak mau ambil pusing, Taufan hanya mengangkat bahu dan berjalan keluar gudang, dan kebetulan sekali bertemu dengan Halilintar yang pipinya sudah tampak lebih baik.
"Apa-apaan wajahmu itu?" Ucap Halilintar ketus.
"Eh? Wajahku nggak kenapa-kenapa kok. Justru harusnya itu pertanyaanku, Kak Hali~" Goda Taufan sambil menyengir jahil.
Halilintar mendengus, "Kau sudah tau jawabannya, bego," Sahut Halilintar kesal.
"Ahahaha, iya deh. Ngomong-ngomong, gimana kabar Yaya?" Tanya Taufan.
"Nggkk…entahlah…" Gumam Halilintar.
"Ayolah…Kakak sudah terus bersamanya sepanjang minggu kan? Masa tidak tau perkembangannya," Desak Taufan.
"Ah…kau kepo sekali. Tapi jika kau ingin tau, aku hanya di pukul 3 kali hari ini," Ucap Halilintar pada akhirnya kemudian berlalu, hendak menuju dapur.
"Wah…ternyata ada perkembangan rupanya," Gumam Taufan sambil tersenyum sweatrop.
~Working!~
"Ini pesanannya," Fang meletakkan nampan berisi makanan pesanan pelanggan, kemudian segera disambut oleh gadis Cina yang sejak tadi berdiri di depan counter menunggu pesanan tiba.
"Ah…kenapa kau tampak kusut begitu?" Tanya Fang begitu melihat raut wajah Ying yang agak sulit dijelaskan.
"Umm…kayaknya aku diperhatikan," Jawab Ying ragu.
"Hmm? Makhluk mistis mana yang mau saja memperhatikan orang tak menarik sepertimu?" Tanya Fang innocent dan langsung mendapat hadiah tabokan di jidat dari Ying yang kesal.
"Maksudku, aku diperhatikan oleh seseorang, bego!" Bentak Ying kesal.
"Eh? Diperhatikan oleh seseorang?" Fang menoleh ke arah Halilintar yang sedang sibuk membuat parfait, lalu menoleh ke kanan dan kiri, dan tentu saja tidak ada seorang pun disana.
"Aku tidak merasa ada yang memperhatikanmu tuh," Komentar Fang watados.
"Aduh…maksudku di depan. Aku…merasa Taufan terus-menerus memperhatikan ku dan aku jadi tidak bisa tenang," Ucap Ying.
"Hee…mungkin dia tertarik padamu," Komentar Fang, sukses membuat wajah Ying memerah.
"T-tunggu! Itu tidak mungkin. K-kami kan baru bekerja bersama selama seminggu, tidak mungkin," Elak Ying sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Terserah kau lah. Pesanannya mau sampai kapan di biarkan disini?" Ying tersentak karena makanan untuk pelanggan masih berada di tangannya.
"Uh…" Ying melenguh pelan kemudian beranjak menuju meja pelanggan yang ditujunya.
Setelah Ying kembali ke depan, Fang masih tetap berdiri di depan counter dan masang wajah seperti sedang berpikir-atau memang Fang sedang berpikir sekarang.
"Taufan…hmm…" Fang bergumam-gumam tidak jelas selama kira-kira 5 menit, membuat Halilintar yang sibuk dengan memasak makanan pelanggan sampai kewalahan karena tangannya hanya dua.
"Oy! Kau kalo mau ngelamun mending pulang saja sana!" Ucap Halilintar ketus, berhasil menyadarkan Fang dari lamunannya.
"Ah, Halilintar, aku mau bertanya sesuatu," Halilintar mengerutkan kening heran, tidak terbiasa dengan tingkah Fang di hadapannya ini.
"Taufan itu…orangnya seperti apa?" Menyadari Halilintar tidak merespon, Fang memutuskan untuk langsung masuk ke intinya.
"Hah? Kenapa tiba-tiba kau ingin tau tentang Taufan?" Halilintar semakin heran dengan seniornya tersebut.
"Hanya ingin tau saja," Ucap Fang cuek.
"Ah…" Halilintar menyajikan nasi goreng buatannya di atas piring saji, kemudian mulai menghiasnya dengan berbagai topping yang tersedia di atas meja sampai semenarik mungkin.
"Menurutku…Taufan itu menyebalkan. Dia memang tidak se-hyperaktif Blaze, tapi Taufan itu cerewet, berisik, dan jahil. Sejak kecil dia selalu saja menjahili kami, terutama aku. Dia adikku yang paling menyebalkan…"
Halilintar tanpa sadar meremas pinggiran meja dan menghasilkan sedikit retakan-retakan kecil disana.
"Oy, aku bertanya Taufan itu sifatnya seperti apa. Kenapa kau malah curhat padaku?" Tanya Fang sweatdrop.
Halilintar tersentak kemudian berdehem dengan gentleman(?)nya, "Itu pendapatku tentang Taufan. Kau tau, anak itu memang terlihat seperti itu, tapi sebenarnya Taufan sangat tidak peka. Kalo kau tau maksudku,"
Setelah selesai menghias nasi gorengnya, Halilintar segera meletakkan masakannya tersebut di atas nampan dan meletakkannya di meja counter.
"Yaya, pesanan siap, dan aku juga sudah siap," Panggil Halilintar dengan tampang stoic.
"A-ah…" Yaya buru-buru menghampiri Halilintar, mengambil nasi goreng tersebut dan langsung kabur tanpa sedikit pun menatap wajah pemuda di hadapannya tersebut.
"Hee? Rupanya sudah ada sedikit perkembangan," Fang tersenyum meremehkan melihat Halilintar yang tampak menarik napas lega karena kali ini gadis berjilbab pink itu tidak menghantamnya.
"Ck! Diam, berterima kasihlah karena aku sudah menjawab pertanyaan konyolmu itu tadi," Ucap Halilintar sarkastik.
"Iya,iya…" Fang memutar bola matanya kemudian berjalan keluar dapur.
"Oy! Kau mau kemana?" Kaget Halilintar.
"Pergi sebentar. Kau tanggung jawab dulu sama dapurnya. Jangan diledakkan ya," Pamit Fang sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh.
"Tch…kalo saja ini bukan di tempat kerja…sudah kupatahkan kacamata jeleknya itu…" Gerutu Halilintar yang memutuskan melampiaskan amarahnya dengan memecahkan sejumlah es batu yang ada di kulkas.
~Working!~
"Taufan,"
Taufan yang baru saja selesai melayani pelanggan yang membayar segera menoleh ke arah pemuda bersurai raven yang kini berdiri di sampingnya.
"Ah…megane(*), ada perlu apa?" Tanya Taufan santai.
"Aku bukan megane. Dan aku ingin menanyakan tentang Ying," Jelas Fang.
"Ying? Kenapa memangnya?" Tanya Taufan.
"Begini…kau…setelah ku perhatikan…" Fang kembali memasang pose berpikirnya, sebelum melanjutkan, "Kau…suka ya sama Ying?"
Taufan mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, sedangkan Fang tampak tak sabar menunggu jawaban Taufan.
"Uh…tentu saja, aku suka,"
Kacamata Fang melorot hingga ke bawah hidung, sedangkan Taufan masih memasang wajah watados.
"Eh…kau yakin?" Tanya Fang memastikan setelah memposisikan kembali kacamata ke tempat semula.
"Ya. Memangnya kenapa? Aku juga suka Gopal, Yaya-meski aku tidak mau dekat-dekat dengannya, dan ku pikir aku suka semuanya. Meskipun kau itu tampak selalu berantem dengan Kak Hali dan Ejo jo yang aneh itu, tapi aku tidak pernah kurang hati sama siapa pun kok," Jelas Taufan yang kini memasang cengiran lebarnya.
"Aduh…salah deh," Fang facepalm seketika, dan kemudian teringat kata-kata Halilintar tentang Taufan yang tidak peka.
"Uh…baiklah, terima kasih atas kejujurannya. Aku pergi dulu," Fang berbalik dan kembali menuju dapur dengan lesu, meninggalkan Taufan yang menatap punggung Fang dengan penuh tanya.
~Working!~
"Ah…maaf aku terlambat,"
Gempa yang sedang menyapu ruang staff menoleh, dan mendapati salah satu saudara kembarnya yang sudah rapi dengan seragam ATthree tampak berdiri di ambang pintu ruang ganti pria.
"Blaze? Aku pikir kau tidak akan datang," Tanya Gempa.
"Yah…saat lagi main game, Ice tiba-tiba molor. Ya udah, aku kesini saja. Ice tidak akan marah pada ku kok," Jelas Blaze sambil cengengesan.
"Ya udah deh. Aku akan beritau manager kalo kau hadir hari ini," Gempa meletakkan sapu yang digunakannya di samping lemari. Baru saja, dirinya mau melangkah keluar, Taufan lebih dulu masuk dan langsung mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang tersedia di ruangan tersebut.
"Kak Taufan? Ada apa?" Tanya Gempa bingung.
"Iya tuh. Kenapa tampak bingung begitu?" Sambung Blaze.
"Ah…tidak ada. Aku hanya sedang berpikir saja," Jawab Taufan seadanya.
"Eh? Memikirkan apa?" Tanya Gempa lagi, heran karena tidak pernah melihat kakak keduanya yang super jahil itu memikirkan sesuatu sampai terlihat seperti bukan dirinya tersebut.
"Umm…soal Fang dan Ying. Aku sudah memperhatikan Ying sepanjang hari, dan sepertinya dia biasa-biasa saja. Tapi kalo lagi ngobrol dengan Fang, sifatnya benar-benar berubah," Jelas Taufan.
"Kan aku sudah bilang jangan ikut campur, Kak Taufan," Komentar Gempa sweatdrop.
"Aku tidak ikut campur kok, aku hanya ingin tau saja," Bela Taufan dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Aku tidak tau ada apa ini…tapi kenapa Kak Taufan tampak segitu penasarannya?" Tanya Blaze.
"Itu…entahlah. Aku hanya ingin tau saja," Jawab Taufan pendek.
"Lha? Hanya ingin tau saja? Tanpa alasan yang jelas?" Gumam Blaze bingung.
"Ah…sudahlah, aku mau kedepan dulu," Taufan mengangkat bahu lalu beranjak dari kursinya kemudian berjalan keluar dari ruang staff.
"Kak Gempa," Panggil Blaze kepada kakak ketiganya yang masih cengo menatap kepergian kakak keduanya.
"Entah kenapa, Kak Taufan kelihatan seperti orang yang putus cinta," Komentar Blaze.
"Iya sih…tapi Kak Taufan kan tidak peka…atau jangan-jangan…"
Gempa dan Blaze saling berpandangan dengan raut wajah terkejut, sepertinya mereka berdua sedang memikirkan hal yang sama.
Tapi tak lama kemudian wajah keduanya berubah menjadi tersenyum nervous sambil mengibas-ngibaskan tangan mereka dan bergumam, "Tidak, tidak…itu tidak mungkin,"
~Working!~
"Baiklah…besok aku akan pergi karena urusan bisnis, jadi akan ada yang menggantikan tugasku selama aku tidak ada," Ucap Ejo jo begitu melihat semua staff restoran sudah berganti pakaian dan bersiap untuk pulang.
"Eh? Siapa?" Tanya Blaze mewakili staff yang lain.
"Chief akan kembali, begitu juga dengan general manager," Jelas Ejo jo.
"General manager?" Gumam Taufan bingung.
"General manager itu maksudnya manager dengan pangkat yang lebih tinggi disini. Uhm…semacam itu lah," Jelas Gempa ragu-ragu.
"Hee…ada ya yang seperti itu? Siapa memangnya?" Tanya Taufan lagi.
"Adu du akan datang besok, bersama dengan Chief restoran ini," Jawab Ejo jo.
"Wow…artinya kita bisa bertemu salah satu staff senior di tempat ini ya?" Komentar Blaze kagum.
"Ya sudah, ayo pergi," Tukas Ejo jo sambil menepuk-nepuk tangannya seperti sedang mengusir sekumpulan burung.
"A-anu…"
Halilintar menoleh, dan sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Yaya mendekatinya-meski jarak mereka masih terpaut 2 meter sih.
"Ada apa?" Tanya Halilintar tenang.
"Apa menurutmu…aku sudah ada perkembangan?" Tanya Yaya sambil membuang mukanya, tidak ingin Halilintar melihat wajah merahnya.
"Hmm? Ah…kau tadi berhasil menahan dirimu untuk memukulku kan? Dan ini adalah pertama kalinya aku dipukul tidak lebih dari 3 kali," Jawab Halilintar sekenanya.
"Eh? Benarkah?" Yaya menatap Halilintar dengan mata yang berbinar.
"Uh…tapi dengan jarak segitu kurasa perkembangannya tidak sebaik itu. Kau masih harus berusaha lagi," Tukas Halilintar sambil berlalu menyusul Gempa dan Blaze yang sudah lebih dulu berada di luar.
"Un! Aku akan berusaha," Seru Yaya sambil mengangkat kepalan tinjunya tinggi-tinggi dengan semangat seolah akan pergi berperang.
"Eh? K-kenapa aku jadi senang begini ya…?" Yaya sontak menurunkan kepalan tangannya dan mulai menutupi wajahnya yang kembali memanas.
"Taufan, kau beneran tidak suka pada Ying?" Taufan sedikit tersentak karena Fang tiba-tiba saja menahan bahunya.
"Duh, kau ini kenapa sih? Aku kan sudah bilang, aku suka semuanya. Aku tidak benci pada siapapun. Tapi aku bisa saja membencimu kalo kau menggangguku terus," Sahut Taufan cemberut.
"Bukan itu maksudku, bodoh…" Fang facepalm lagi, kemudian melanjutkan, "Kalo kau memang suka pada semua orang, kenapa hanya Ying yang terus kau perhatikan?"
Taufan mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian berpikir sejenak, "Yah…soalnya aku penasaran,"
"Penasaran?" Fang jadi semakin ingin tau tentang apa yang sebenarnya dipikirkan oleh adik pertama Halilintar tersebut.
"Emm…aku penasaran kenapa sifat Ying jadi agak berubah kalo bersama mu? Jadi…tampak lebih feminine gitu," Jawab Taufan sambil menggaruk kepalanya.
"Oh? Kau cemburu ya?" Fang tersenyum meremehkan, dan kalo seandainya yang berdiri di depannya ini Halilintar, mungkin sudah terjadi keributan di ATthree malam itu juga.
"Cemburu? Apa maksudmu? Aku hanya merasa aneh saja karena kalian berdua tampak begitu dekat," Jelas Taufan dengan tampang innocent.
"Oy…itu namanya cemburu tau," Batin Fang sweatdrop.
"Fang, apa yang kau lakukan? Ayo pulang," Fang sedikit terkejut karena Ying tiba-tiba saja menarik tangannya.
"Ah…dan kenapa kalian berdua selalu berangkat dan pulang bersama?" Taufan menyuarakan pertanyaan terakhirnya sebelum Ying dan Fang terlanjur pergi.
"Eh? Memangnya ada apa? Kami tinggal serumah kok," Jawab Ying santai.
"Eh?!" Kaget Taufan.
"Iya. Makanya kami selalu berangkat bersama. Kau tau, kalo tidak ada aku, entah Fang sekarang sudah jadi apa…" Desah Ying dengan wajah sedih dibuat-buat.
"Jangan mendramatisir, kau itu hanya sepupuku, bukan majikanku," Sahut Fang ketus.
"Eh?! S-sepupu?" Kaget Taufan, dan hal itu sukses menarik perhatian staff-staff yang lain-termasuk Ejo jo.
"Iya. Fang itu kakak sepupu ku. Lho? Kalian belum tau ya?" Tebak Ying.
"Tunggu,tunggu. Kalian berkerabat? Kenapa tidak bilang?" Gopal ikutan nimbrung.
"Kalian sendiri yang tidak pernah bertanya," Jawab Fang santai.
"Jadi itu menjelaskan semuanya," Desah Gempa sambil tersenyum geli.
"Aku saja yang sudah kenal lama dengan Ying tidak pernah mengetahui hal itu. Ah…tapi mereka berdua punya ciri fisik yang serupa jadi aku rasa itu masuk akal," Sambung Yaya.
"Sepupu yah…jadi begitu…" Desah Taufan dengan wajah lega.
"Kenapa kau tampak senang begitu?" Tanya Fang kembali memasang senyum songongnya.
"Eh? Senang? Aku? Tentu saja. Dengan begitu jawaban dari pertanyaanku sejak tadi sudah aku dapatkan," Jelas Taufan dengan wajah blink-blink.
"Apa-apaan…" Fang sweatdrop seketika, karena ternyata Boboiboy Taufan itu jauh lebih tidak peka dibandingkan perkiraannya sebelumnya.
~Working!~
"Kenapa kau senyum-senyum begitu? Kesurupan ya?" Ucap Ying heran melihat Fang yang tersenyum aneh sepanjang jalan seperti orang kurang waras.
"Ah…tidak apa-apa. Yang lebih penting, Ying,"
Fang menatap Ying dengan serius, "Ku rasa sudah saatnya bagimu untuk dapat pacar,"
Ucapan dari Fang tersebut langsung membuat Ying memerah.
"A-apa maksudmu? A-aku baru kelas satu SMA. A-aku tidak punya waktu memikirkannya," Elak Ying sambil membuang muka.
"Oh ya? Kalo begitu kenapa kau memerah begitu? Apa jangan-jangan…kau sudah menyukai seseorang?" Tebak Fang dengan senyum songongnya.
"A-ah…" Seketika bayangan seseorang langsung melintas di kepalanya.
"J-jangan bodoh! Lagipula, siapapun orang yang kusukai itu, semuanya bukan urusanmu, dasar landak mata empat!" Umpat Ying kemudian langsung berlari meninggalkan Fang yang sedang mengaduh kesakitan karena tulang keringnya baru saja di tendang oleh Ying.
"Duh…kenapa bisa dia jadi begitu? Apa ini efek masa puber…?" Gumam Fang dengan tampang bodoh sambil mengelus-ngelus tulang kering kaki kirinya.
"Ya sudah lah…" Desah Fang kemudian berjalan menyusul adik sepupunya yang sudah duluan kembali ke kediaman mereka.
Diam-diam senyum terpasang di wajahnya, "Ah…aku harap orang itu sama dengan yang ada pada pikiranku," Gumamnya sambil tertawa kecil.
~Working!~
"Sepertinya Kak Halilintar jadi kelihatan lebih akrab dengan Yaya sekarang ya," Gempa membuka percakapan setelah cukup lama suasana sepi semenjak meninggalkan ATthree karena semuanya sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Terserah kau saja. Lagipula semakin cepat dia sembuh, akan semakin baik," Desah Halilintar sambil membuang muka.
"Kak Halilin ternyata tidak bisa jujur pada diri sendiri ya?" Ledek Blaze.
"Hah?!" Halilintar sudah mempersiapkan tinjunya dan mulai mengejar Blaze yang tancap gas menuju rumah.
"Kak Taufan? Ada apa?" Gempa menatap bingung kakak keduanya yang tidak biasanya tidak ikut menganggu kakak pertama mereka tersebut.
"Ah…bukan apa-apa. Aku hanya lega saja karena rasa penasaranku akhirnya terjawab," Jawab Taufan sambil tertawa.
"Segitunya Kak Taufan memikirkannya? Memangnya ada apa dengan Fang dan Ying sampai Kak Taufan se-peduli itu?" Tanya Gempa.
"Umm…entahlah. Yang pasti aku masih ingin mencari tau banyak hal tentang Ying," Jawab Taufan sambil mengangkat bahu kemudian berlari menyusul kedua saudaranya.
"Eh? Apa jangan-jangan…yang aku pikirkan itu…benar?" Gumam Gempa sedikit terkejut bercampur…senang?
Entahlah…untuk sekarang Gempa tidak ingin mempermasalahkan hal itu.
Tapi yang jelas, sepertinya Gempa tidak akan menyesali keputusannya Karena telah mengajak saudara-saudara kembarnya untuk ikut bekerja di ATthree bersamanya.
~Working!~
"Hoaam…Kak Blaze tega sekali…" Gumam Ice yang baru saja bangun dari hibernasinya dan mendapati kakak keempatnya itu sudah menghilang entah kemana.
"Hmm…"
Ice merebahkan kembali dirinya di atas karpet ruang tamu, tanpa mempedulikan consol-consol game yang berserakan di sekitarnya, "Mungkin aku juga harus bekerja yah…" Gumamnya dengan senyum kecil.
! T B C !
(*): Megane itu bahasa Jepang yang artinya kacamata
Yokatta~~~ saya bisa update tepat waktu (atau tidak?) minna, maaf jika Ice munculnya masih sedikit, soalnya saya mau nunggu waktu yang tepat dulu untuk bisa mempekerjakan Ice.
Dan maaf chapter kali ini tidak sepanjang sebelumnya, itu karena saya sudah kehabisan ide mau nulis apalagi disini ^^ *di keroyok berjamaah*.
And…di chapter berikutnya chara baru muncul~! *pasang kembang api* well…hanya OC sih…tapi readers ga keberatan kan? OC yang bekerja di ATthree juga ga lebih dari 3 kok. Tapi mereka ga akan muncul bersamaan ya.
Baiklah~ karena chapter sebelumnya berfocus pada Halilintar, dan chapter ini adalah Taufan, kalian pasti bisa tau siapa dong yang akan berperan di chapter selanjutnya *wink!* *di pentung*.
Oke, saya sudah terlalu banyak bicara, langsung ke preview saja deh~!
Preview:
Karena Ejo jo harus pergi keluar kota untuk urusan bisnis, general manager lah yang akan bertugas menggantikan Ejo jo untuk sementara waktu. Dan General manager tersebut masih merupakan kerabat Ejo jo-yang tingkah lakunya juga harus di hadapi dengan sabar oleh para staff disana. Tapi tidak hanya Ejo jo, Chief cook dari ATthree yang mengambil cuti selama beberapa minggu akhirnya muncul kembali, dan orang itu sama sekali di luar bayangan para staff baru, karena sifatnya yang juga jauh dari kata normal. Jadi para staff harus mempersiapkan diri mereka untuk bertemu dengan Chief tersebut, terutama bagi Boboiboy Gempa yang harus menahan napas lagi karena sang Chief cook dari ATthree family restaurant sudah kembali!
Next Plate: How to 'get' the Girl! Part 3 (last part)
Ah…baiklah, segitu saja dari Author, tetap nantikan kelanjutan dari fict absurd ini ya~ dan o iya, bagi semua yang sudah me-review, maaf karena saya tidak bisa membalas review kalian sekarang, tapi saya janji akan tetap membalasnya. Dan khusus yang punya akun, akan saya balas reviewnya lewat PM. Oke, terima kasih karena sudah membaca dan review, fav, serta follow ya, Minna-san~! See you next plate~!
Review please~!
