"James, bisakah kau datang kemari?" tanya Subaru pada James dengan smartphonenya.
'Ah, tentu saja. Mengawasi'nya' dari sana bukan?'
"Iya,"
'Baiklah! saya akan segera data-'
"Tapi, ada satu lagi yang 'anak' yang harus kau jaga..."
'Eh-'
PIPPPPPPPP
"Siapa?" tanya James pada dirinya sendiri setelah, sambungan telefon ditutup oleh rekannya. Tanpa sempat mempertanyakan 'anak' yang dimaksudnya.
Detective Conan (c) Aoyama Gosho
Warning : Yaoi, Shonen-ai , OCC, typo, dll.
By : Kiruna Neophilina Phantomhive
Summary : Identitas Rei Furuya sudah diketahui Black Organization, namun Vermouth melindunginya agar permainan menjadi menari dengan memberi APTX 4869. Siapa sangka ternyata yang memegang hak asuhnya adalah orang yang selama ini ia benci?
You and Me
Udara segar dipagi hari dengan aroma khas setelah hujan lebat dimalam hari. Subaru Okiya sudah siap-siap akan berangkat ke kampus untuk mengerjakan proyeknya bersama rekan mahasiswanya. Setelah memastikan 'sang putri' sudah berangkat sekolah, dan mengawasinya dari jendela. Sudah pukul 08:00 dan James belum juga datang, 'Apa mungkin jalanan sedang macet?' pikir Subaru, jika benar sepertinya ia harus bernegoisasi dengan rekannya tentang jam pertemuan.
'Tetttt'
Ah, yang ditunggu pun akhirnya datang...setelah 10 menit kemudian. Subaru pun membuka pintu dan mengajak James masuk. "Sepertinya 'dia' akan pulang cepat, karena Professor Agasa yang sepertinya akan membelikan mereka kue," ucapnya. Benar-benar Stalker.
"Baiklah, saya mengerti! Tapi, siapa anak yang kau bicarakan ditelefon?" tanya James.
"Ah, kau benar..."
Lalu Subaru pun mengajak James kesebuah ruangan dimana sang anak tengah tertidur sangat pulas, dibawah selimut yang tebal. Subaru pun menyibak poni sang anak lalu menempelkan telapak tangannya pada dahi sang anak. 'Masih panas,' pikirnya. Sebenarnya dia ingin memanggil dokter untuk datang, tapi berhubung dia juga diawasi oleh Ai Haibara, maka ia tidak bisa melakukannya.
"Siapa anak ini?" tanya James, yang benar-benar bingung. Tapi, rasanya ia pernah melihat anak itu.
"Hm, bisa dibilang dia adik saya..."
"Ad-"
"Sudah jam segini, sebaiknya saya pergi. Tolong kau jaga anak ini, dan panggilkan dokter. Terima kasih," ucap Subaru yang lagi-lagi memotong perkataan James, lalu pergi menuju tempat pertemuannya.
Sudah beberapa jam semenjak Subaru pergi dan memberinya list yang harus dikerjakannya serta dokter anak yang secara khusus ditelefon untuk mengobati anak itu. Benar-benar lebih banyak dari biasanya. Biasanya dia cukup mengawasi 'sang putri' dan menjaga kebersihan rumah, dan sekarang ditambah merawat anak yang katanya 'adiknya'.
'Drrttt...'
"Ada apa?" tanya James pada seseorang yang meneleponnya.
'James, bisakah kau kemari? Ada yang harus kita bicarakan tentang 'mereka', semuanya akan menghadiri rapat ini!'
James bingung, dia masih harus menjaga anak itu. Minta bantua Jodie ataupun Camel rasanya tidak mungkin. Karena, sang penelepon mengatakan kata 'semua' berarti seluruh agen FBI di Jepang berkumpul semua atau mungkin bisa saja hanya yang terdekat.
"Baiklah saya akan segera kesana!"
'Pip'
James pun menutup panggilan lalu mengecek semua pintu dan jendela apakah semuanya terkunci sebelum pergi, karena ia meninggalkan seorang anak yang bisa-bisa ada seorang penculik masuk ke dalam rumah. Lalu memberi pesan pada Subaru bahwa ia harus pergi rapat. Oh, betapa lupanya Subaru mengatakan, untuk benar-benar menjaga anak itu! Karena, ia sangat ahli dalam membuka kunci. Sedangkan yang diberi pesan, tidak sempat membukanya karena benar-benar sedang bergulat dengan suatu proyek besar bersama rekan-rekannya.
*0*0*0*0*
"Uhh..." rintih Rei, saat sinar matahari siang mengenai wajahnya. Ia pun perlahan membuka matanya dan mengumpulkan kesadarannya, 'Jam 11' batinnya setelah melihat jam weaker yang berada disampingnya. Dengan cepat ia bangun dari tidurnya dan
'Nyuuttt'
Dengan cepat ia berbaring lagi karena merasakan kepalanya berdenyut, Rei pun menggerutu kesal sambil mengingat semua kejadian yang sudah terjadi padanya selama 3 hari kebelakang. Hari Kamis adalah jadwalnya ia harus menjadi PSB, namun dengan tubuh seperti ini mana mungkin! Setidaknya ia harus memberi laporan dan meyerahkannya pada Kazami. Dengan menahan rasa sakit kepala, Rei pun segera bersiap-siap membersihkan diri (Bukan mandi ya...), dan ingin menembak kepala Akai setelah melihat baju ganti yang sudah disiapkannya. Sepasang baju dan celana dengan model sailor putih biru dengan pita merah, ditambah jaket motif beruang dengan warna baby brow. Dengan terpaksa Rei pun benar-benar memakainya. Satu kata 'LUCU'.
Setelah mengganti pakaiannya ia pun menuju keluar rumah dan membobol pintu rumah yang dikunci, lalu menguncinya lagi. Cukup membuatnya berfikir, dari mana Akai mendapatkan baju ini dan sepatu yang tersedia dilemari sepatu. Tapi, semua itu ditepisnya. Bodo amatlah, sekarang bagaimana carannya ia kerumah mengambil simpanan uang, karena ia tidak menemuka dompet dan smartphonenya disana, pastilah si Akai menyembunyikannya entah dimana. Dengan terpaksa ia pun jalan kaki, hingga menemukan mobil mini patroli yang bertugas dan meminta tolong pada mereka untuk mengantarkan ke apartementnya, bisa gempor kalau jalan berkilo-kilo meter. Selama perjalanan ia ditanyai oleh para petugas dan Rei menjawa bahwa ia salah naik bus dan kesasar lalu uangnya habis. Benar-benar alasan yang klise. Setelah sekitar 45 menit ia pun sampai didepan pintu apartement yang untungnya, bisa menggunakan sidik jari! Karena, kunci apartementnya berada didalam dompetnya.
3 email
Saat Rei mengecek laptopnya, dan semuanya dari Kazami yang meminta ketemuan dan untuk menyerahkan laporan. Dengan cepat Rei pun membalasnya, dan memberinya semua informasi yang ia butuhkan serta menyertai alasan ia sedang dalam misi organisasi. Oh! Jangan lupakan ia juga bekerja paruh waktu di Cafe Poirot!. Sepertinya ia harus memberi email pada Azusa dan memberitahunya ia tidak bisa bekerja.
"Neh..neh...Haibara!Apa dapur Professor sudah selesai diperbaiki?" tanya Genta, yang kini sedang dalam perjalanan menuju rumah Professor Agasa bersama yang lain.
"Iya sudah selesai diperbaiki, dan Professor sudah memesan kue untuk kita semua..." jawab Haibara.
"Hee...benarkah?"
"HOREEEE!"
Lalu Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko pun berlari meningglakan Conan dan Haibara dibelakang.
'Sring..'
"Ada apa Haibara?" tanya Conan, yang melihat Haibara mendadak seperti ketakutan.
"Eh? Tidak apa, hanya saja tadi aku merasakan kehadiran mereka.." jawab Haibara cemas sekaligus was-was.
Conan pun langsung melepaskan topinya dan memberikannya pada Haibara, "Mungkin hanya perasaanmu saja," balasnya.
"Semoga saja begitu,"
Lalu mereka berdua pun menyusul yang lainnya, sementara itu 'sosok' yang menatap mereka tersenyum puas, entah apa yang ia rencanakan.
*0*0*0*0*
"Hah...apa yang harus kulakukan?" tanya Rei pada dirinya sendiri sambil mendorong pelan ayunan yang sedang didudukinya dengan kakinya pelan.
"Sedang apa disini sendirian adik kecil?" tanya seorang perempuan berambut hitam, yang sangat ia kenal.
'Azusa-san!' teriaknya dalam hati, kaget melihatnya ada disini yang sepertinya habis belanja.
"Menunggu ibuku..." jawab Rei ngasal, karena bingung.
"Souka,...yasudah kakak ikut temeni yah!"
Rei pun meggelengkan kepalanya pelan "Tidak usah..." balasnya.
"Tapi disini sepi, kalau kamu diculik gimana hayooooo~,"
"Te-,"
"Maaf menunggu lama ya..." ucap seorang perempuan dengan penampilan yang dibuat semirip mungkin dengan Rei kecuali, warna kulitnya.
'Vermouth! Mau apa dia?!'
"Ah, terima kasih sudah menemaninya..." lanjutnya sambil mendekati Rei yang masih sedikit shock.
"Tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu.." balas Azusa, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mau apa lagi kau Vermouth?" tanya Rei ketus.
"Ara, nasib baik kau hanya kujadikan seperti bocah," jawab Vermouth dengan nada menyindir. "Aku akan memberimu sebuah misi, anggap saja ini sebagai rasa terima kasihmu kepadaku karena, tidak jadi kubunuh," lanjutnya.
"Misi?"
"Sou, misinya adalah..."
*0*0*0*0*
Mobil merahnya melaju cepat, ia benar-benar terlalu sibuk dan baru membuka pesan dari James yang diberikannya 5 jam yang lalu! Dengan cepat ia memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam rumah Shinichi. 'Dikunci' pikirnya. Semoga saja ia masih tidur. Namun saat ia melihat kedalam kamar, anak itu sudah tidak ada. Tuh kan benar! Dia kabur! Subaru pun memijat pangkal kepalanya dan berfikir dingin. Subaru pun keluar untuk mencarinya, dengan manaiki mobilnya lagi, dengan melaju pelan tentunya, karena sambil mengedarkan pandangannya sepanjang jalan mencari anak itu. Setelah 1 jam ia pun menemukan anak itu bersama seorang perempuan yang jika orang biasa melihatnya, mereka nampak seperti sepasang ibu dan anak yang sedang berbincang. Tidak dengan Subaru ia, mengenali perempuan itu bahkan dari jauh. Dengan cepat ia pun berjalan menuju mereka berdua.
"Permisi, anda siapa yah?" tanya Subaru yang bersikap seperti biasanya, tidak mengetahui tentang 'mereka'.
Karena saking seriusnya membicarakan tentang misi, mereka pun sama-sama sedikit kaget melihat Subaru yang sudah ada didepan mereka.
'Akai!/Orang itu lagi'
"Ah, saya ibunya ada apa ya?"
"Oh...tidak apa-apa, hanya ingin menyampaikan sesuatu. Sebaiknya anda menjaga anak anda dengan hati-hati, karena kemarin saya menemukannya dijalan,"
"Eh? Souka! Kalau begitu terima kasih banyak! Saya benar-benar sibuk, dan anak selalu kabur dari baby sisternya," ucap Vermouth dengan ber-akting sempurna sebagai ibu dari Rei. "Ah, apakah saya boleh minta tolong?"tanyanya.
"Tentu,"
"Sebenarnya saya ada urusan diluar negeri, dan tidak boleh membawa anak. Saya sudah mencoba membujuk anak saya, untuk dititipkan pada ibu saya, tapi sepertinya ia tidak mau. Jadi bisakah anda menjaganya?"
"Tentu saja, saya akan menjaganya dengan baik.." jawab Subaru lalu mensejajarkan tingginya dengan Rei dan mengelus rambutnya.
"Benarkah? Kalau begitu mohon bantuannya! Saya permisi dulu,"
Lalu perempuan itu pun pergi bemingalkan mereka berdua dengan mobilnya. Sedangkan Rei masih tidak percaya apa yang dilakukan Vermouth padanya, apa maksudnya menitipkan ia pada Subaru alias Akai?
'Ctak'
"Ah! Kau!" teriak Rei saat dahinya disentil oleh Subaru sedikit keras dan kaget ketika Subaru memeluknya.
"Jangan diulangi lagi," ucap Subaru lembut, sambil memeluk Rei dan mengelus rambutnya.
REI SHOCK!
Ia pun hanya menganggukan kepalanya pelan
"Janji?" tanya Subaru lagi, meyakinkan.
"Ya..."
"Baiklah ayo kita pulang," ucap Subaru lalu, menggandeng tangan kecil Rei. Namun, yang digandeng mulai kehilangan keseimbangannya, dengan cepat Subaru pun menariknya dan mengangkatnya kegendeongannya. "Hati-hati, masih pusingkah?"
Lagi-lagi Rei hanya menganggukan kepalanya pelan dan mulai menutup matanya lelah dengan semua kejadian yang terjadi, ia ingin mengistirahatkan otak dan tubuhnya.
*0*0*0*
Terima Kasih atas dukungannya!
Saya benar-benar sibuk, dengan laporan yang bertubi-tubi hingga tidak sempat melanjutkan fanfic ini, dan bingung ingin memilih jalur cerita seperti apa xD
Ah, dan saya benar-benar kekurangan asupan SubaAmu (ToT) lagi...
