Detective Conan (c) Aoyama Gosho
Warning : Yaoi, Shonen-ai , OCC, typo, dll.
By : Kiruna Neophilina Phantomhive
Summary : Identitas Rei Furuya sudah diketahui Black Organization, namun Vermouth melindunginya agar permainan menjadi menari dengan memberi APTX 4869. Siapa sangka ternyata yang memegang hak asuhnya adalah orang yang selama ini ia benci?
You and Me
FLASHBACK
'Tok...Tok...Tok...'
'Krietttt...'
"Rei, kau belum tidur?" tanya Akai (karena, sudah lepas penyamaran jadi kutulis 'Akai') , saat melihat Rei yang menatap keluar jendela yang sepertinya sudah ia buka. Sedangkan yang ditanya hanya diam, bahkan meliriknya pun tidak.
Akai pun menghela nafas dan berjalan kearah Rei. "Ini..smartphonemu," ucapnya sambil menyerahkan smartphone milik Rei.
"Ck, ternyata benar kau yang menyembunyikannya," umpat Rei, sambil mengambil smartphonenya dari tangan Akai dengan paksa. "apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Tenang saja, aku hanya mengganti alamat email dan nomormu dengan yang baru," jawab Akai sambil melihat Rei yang sibuk mengutak-atik smartphonenya. "aku mengembalikannya bukan tanpa syarat..." lanjutnya.
"Apa maksudmu?"
"Iya, kau tidak boleh memberikanya pada 'mereka' ataupun 'mereka'!"
Hening
Rei yang sudah terlalu lelah pikiran dan ingin melampiaskan semuanya, namun terlalu lelah. Serta Akai yang menunggu balasan Rei.
"Akai, aku akan memberitahumu yang sebenarnya. Percaya atau tidaknya itu terserah dirimu..."
"Akan kudengarkan ceritamu, masalah percaya atau tidaknya padamu...akan kupikirkan,"
"Sebenarnya aku dan Vermouth..."
*0*0*0*0*
'Cit...Cit...Cit...'
"Uh'h..." rintih Rei, saat merasakan pantulan sinar matahari masuk dari jendela kamar dan mengenai wajahnya. Namun entah kenapa tubuhnya tidak bisa digerakan, dan ia pun merasakan bahwa ada tangan terlatih yang merangkulnya dari belakang. Rei pun membalikan badannya sehingga ia bisa melihat wajah tidur Akai.
'Begitu tenang'
Yang Rei ingat semalam ia menceritakan semuanya, hingga larut malam dan entah...ia lupa dan tidak tahu mengapa bisa begini. Karena, sang pemilik tangan belum juga membuka matanya, dengan usil Rei menjepit hidung Akai hingga tidak bisa bernapas.
5 detik
10 detik
15 detik
20 detik
25 detik
30 detik
'Apa jangan-jangan dia mati?" pikir Rei, lalu melepaskan cubitannya dan tiba-tiba dengan cepat ada yang membalas perlakuannya.
"Gyahhh...lepaskan!" ucap Rei, saat tangan Akai mencubit hidungnya.
"Membalasmu," balas Akai, yang kini sudah membuka matanya disertai senyum liciknya. "Ohayou..." lanjutnya, yang sudah melepaskan cubitannya dan berpindah menepuk kepala Rei.
"Hmph!"
"He...padahal tadinya saya akan membantumu, kalau kaunya saja sepeti itu sepertinya tidak jadi~,"
"Ohayou," ucap Rei ketus, kesal karena dipermainkan.
"Yah...makin tidak ja-"
"O,ohayou A,akai-san..." ucap Rei malu-malu, dengan semburat merah dipipinya.
"Ciumnya mana?"
"Pedo..."
*0*0*0*0*
"Aku akan menghubungi Vermouth," ucap Rei, sesudah membantu Subaru membereskan sarapan.
Subaru pun dengan cepat mencegah tangan Rei. "Sudah kubilangkan, untuk tidak menghubungi 'mereka'!" ucapnya.
"Memangnya kau mau membiayai semuanya?" tanya Rei, dengan senyum meledek. Karena sepengetahuannya, selama ia masih menjadi stalkernya. Akai tidak punya pekerjaan lain, selain menjadi anggota FBI.
"Tenang saja, akhir-akhir ini aku sudah bermain saham...dan dengan daya analisaku, semuanya berjalan dengan lancar," jawab Subaru.
"Hoooo..."
"Nah, sebaiknya kau siap-siap kita akan membeli keperluanmu,"
*0*0*0*0*
"Mama! Aku ingin balon itu!"
"Kouta jangan lari-lari!"
"Silahkan masuk! Kita lagi promo 20% untuk semua produk!"
Setelah beberapa menit dari rumah Shinichi, kini mereka berdua pun sampai dipusat perbelanjaan Tokyo, begitu ramai pengunjung berdatangan menelusuri setiap toko ataupun restoran yang ada.
"Kau kenapa?" tanya Subaru, yang melihat Rei berjalan dibelakangnya dengan menatap sekitar.
"Uh'...entah kenapa, aku jadi takut bertemu salah satu anggotaku," jawab Rei cemas.
"Hahaha...tenang saja, kau kan sudah berubah menjadi kecil. Tidak ada yang mengena-" dengan cepat Suabru menggendong Rei dan membawa pergi dari situ. Sedangkan yang digendong bingung sendiri.
Setelah cukup jauh mereka dari tempat tadi, Subaru pun menurunkan Rei dari gendongannya. "Kau itu kenapa sih?" tanya Rei sedikit kesal, karena digendong tiba-tiba (author : oh...jadi pinginnya bilang-bilang dulu?#plakk).
"Sepertinya kita harus cepat, karena saya melihat detective boys..." jawab Subaru, yang kini menarik tangan Rei menuju toko yang dituju.
*0*0*0*0*
Setelah membeli semua peralatan yang dibutuhkan mereka pun sampai rumah Shinichi, tanpa bertemu dengan detective boys. Namun sebelum Subaru, masuk kedalam rumah Professor Agasa meneleponnnya, dan mengatakan ada kiriman paket untuknya. Lalu menyuruh Rei masuk duluan kedalam dan membawa belanjaannya.
'Tet...'
'Ckrekk...'
"Ah, Subaru-san...ini ada paket untukmu. Karena, kau tadi tidak ada dirumah jadi paketnya dititipkan padaku," ucap Professor Agasa, sambil menyerahkan paket yang cukup besar dan berat.
'V? Mungkinkah dari Vermouth?' pikir Subaru setelah melihat nama pengirim.
"Terima Kasih," ucap Subaru, sambil menerima paket yang diberikan. Lalu kembali kerumah.
*0*0*0*0*
"Paket dari siapa?" tanya Rei, yang sedang menyiapkan teh untuk mereka bedua dan melihat Subaru membawa paket yang cukup besar.
"Vermouth,"
"Hah?"
"Lebih baik, kita hati-hati dalam membukanya...siapa tahu kalau isinya bom?"
"Hahaha...yang benar saja!"
Dengan hati-hati mereka membuka paket yang besar dan cukup berat itu, dan betapa terkejutnya mereka setelah melihat isinya.
"Saya tidak tahu, kalau 'dia' benar-benar menyayangimu atau yang lain..." ucap Subaru, setelah melihat isi paket itu adalah beberapa pakaian anak-anak dan beberapa kebutuhan lainnya dan ada surat yang terselip didalamnya.
'Aku percayakan padamu...'
Isi tulisan itu cukup membuat mereka berdua, waspada karena itu berarti Vermouth masih mengawasi entah dimana, wanita itu cukup menakutkan.
"Oh, iya...kemari!" ucap Subaru, yang kemudian mengajak Rei ketempat ruang make-upnya Yukiko.
"Apa kau biasa pakai kontak lensa?" tanya Subaru, sambil membantu Rei duduk dikursi rias.
"Um...tidak, biasanya aku memakai kaca mata jika membaca..." jawab Rei
"Baiklah, kalau gitu saya akan mewarnai rambutmu saja untuk penyamaranmu,"
"Terserah, kau saja..."
*0*0*0*0*
"Hai~ minna... hari ini kita kedatangan murid baru," ucap Kobayashi Sensei yang datang bersama anak berambut hitam, mata biru, dan kulit yang coklat, lalu menuliskan nama murid baru tersebut dipapan tulis. "Nah, silahkan perkenalkan dirimu..."
"Furuya Rei, salam kenal..."
*0*0*0*0*
Terima Kasih atas dukungannya! Kritik dan Saran, saya terima dan akan dipelajari ya...
Ah, dan saya benar-benar kekurangan asupan SubaAmu (ToT) lagi...semoga dengan kehadiran saya yang rajin meng-update fanfic ini membuat yang lain teransan-#plakkk# maksud saya termotivasi untuk membuat fanfic juga.
