Detective Conan (c) Aoyama Gosho

Warning : Yaoi, Shonen-ai , OCC, typo, dll.

By : Kiruna Neophilina Phantomhive

Summary : Identitas Rei Furuya sudah diketahui Black Organization, namun Vermouth melindunginya agar permainan menjadi menari dengan memberi APTX 4869. Siapa sangka ternyata yang memegang hak asuhnya adalah orang yang selama ini ia benci?

You and Me


"Kazami nii-san, terima kasih sudah menolong ayumi..." ucap Ayumi.

"Apa, kau terluka?" tanya Kazami, sambil menyejajarkan tinggginya dengan Ayumi. Ayumi pun menggelengkan kepalanya pelan. Kini pandangannya beralih pada anak berambut hitam yang digendong oleh Subaru. Seingat Kazami, laki-laki itu pernah menjadi target Rei, karena dicurigai sebagai Akai Shuuichi.

"Ada apa?" tanya Subaru, karena merasa seperti dicurigai oleh Kazami.

"Tidak, hanya ingin memastikan. Anak yang kau gendong itu baik-baik saja..." jawab Kazami, lalu berjalan kearah Subaru untuk melihat anak itu lebih dekat. 'Cih, dia memeluknya..' batinnya.

"Aa, tenang saja dia tidak apa-apa. Hanya ketakutan," balas Subaru, sambil menepuk pelan punggung Rei.

'Kazami baka, jangan mendekat!' batin Rei, yang menyembunyikan wajahnya dibahu Subaru.

"kalau begitu, kau harus membawanya ke psikiater. Peristiwa seperti ini akan membuat mentalnya terganggu," saran Kazami.

"Ehh...saya, akan mengingat saranmu itu,"

"Kalau begitu saya permisi," ucap Kazami, lalu pergi meninggalkan mereka.

"Beraktinglah seperti anak kecil," bisik Subaru, pada Rei yang masih digendongnya.

"Hiks...Hiks...Su-nii~," cicit Rei, memulai aktingnya.

"Sudah...sudah..." ucap Subaru, mencoba menenangkannya dan menurunkannya dari gendongannya.

"Sudah tidak apa-apa, Rei-kun. Ayumi, saja kuat!" ucap Ayumi, mencoba ikut menenangkan Rei.

"Mou, anak laki-laki tidak boleh menangis!" ucap Mitsuhiko.

"Hiks..u'um," ucap Rei, sambil mengelap air matanya.

'Kruyukkkkkk'

"Hehehe maaf, aku sudah lapar," ucap Genta, sambil mengelus perut besarnya.

"Ja, kita langsung pulang dan cepat membuat makanan,"

"UM!"


"Subaru-san, terima kasih atas tempatnya!"

"Rei-kun, sampai ketemu disekolah!"

"Dadah!"

"Maaf merepotkan,"

"Sampai jumpa,"

"Hati-hati dijalan, semuanya!" ucap Rei, sambil mengantar mereka pulang hingga pagar.

"Mereka sudah pergi, kau pergi mandi duluan saja. Atau mau aku mandiin?" tawar Subaru, dengan senyum jail.

"Siapa yang mau!" balas Rei, yang langsung masuk ke rumah.

"Dia ketiduran lagi..." ucap Akai, yang sudah melepas penyamaranya. 'Kok, wanginya beda ya?' pikir Akai, karena seingatnya wangi Rei itu sama dengannya. Apa karena mungkin Rei memakai peralatan mandi dari Vermouth ya? Yang isinya sampe 7 botol tanpa merk.

Cium pipi

Wangi

Cium lagi

Makin suka

Cium lagi

Ketagihan

Cium lagi

Pingin meluk

Cium la-#UDAH WOYYYY!

Merasa ada yang menganggu tidurnya, Rei pun terbangun dalam keadaan setengah sadar.

"Pindah ya," ajak Akai, sambil menuntun Rei kekamar.


"Lepas..." ucap Rei, yang kini dijadikan guling oleh Akai.

"Masih, jam segini. Sekolahmu jugakan, libur..." balas Akai, yang makin erat meluk Rei dan mencium wangi rambutnya.

Begitulah aktivitas mereka berdua setiap pagi. Sudah 1 minggu, Rei tinggal bersama Akai dan sudah 1 minggu pula ia menjalankan tugas dari Vermouth. "Tapi, hari ini aku akan pergi berkemah dengan yang lain. Akukan sudah bilang padamu," ucap Rei, yang kini berbalik menghadap Akai.

"Kalau gitu, seperti biasa dulu,"

"Ck, baiklah..."

Dan seperti biasa untuk melepas pelukan Akai, Rei pun harus mencium pipinya dulu sambil salam pagi.


"Sudah tidak ada yang tertinggal?" tanya Subaru, mengantar Rei ketempat Professor Agasa. Rei pun membalasnya dengan anggukan.

"Dah, Subaru nii-san!"

"Kami berangkat!"

"Ja, Subaru-kun. Kita berangkat..." ucap Professor Agasa, lalu mengendarai mobilnya menuju tempat perkemahan.

Selama perjalanan menuju perkemahan, Detective Boys menyanyikan semua lagu yang entah siapa penciptanya. Haibara, yang sepertinya tidur dan Conan yang serius membaca berita online. Hah...lebih baik Rei tidur saja, walaupun sebenarnya ia harus menjawab panggilan Akai, tapi entah kenapa rasanya males banget.

"Kita sudah sampai," ucap Professor Agasa, sambil memarkirkan mobilnya.

"Yeayyy!"

Mereka pun keluar mobil dengan membawa peralatan berkemah, dan mulai memasang tenda. Setelah memasang tenda, mereka pun membagi tugas. Yang laki-laki mencari ranting dan yang perempuan menyiapkan makanan. Tapi, biar pembagiannya adil. Haibara memaksa Rei ikut membantu memasak saja.

'Drrtt...Drrt...'

'Subaru-san? Jangan-jangan...'

"Subaru-san, jika kau menanyakan Rei-kun. Dia sedang memasak," ucap Conan, setelah memijit tombol tanda menerima panggilan.

'Hahaha...baiklah,'

"Bukankah, kau terlalu over padanya?"

'Mungkin, karena terlalu sayang..'

"Subaru-san, sepertinya ada yang tidak beres dengan otakmu,"

'Hahaha... yasudah, seperti biasa ya. Mohon bantuannya,'

"Ha'i..ha'i!"

'PIP'

"Su nii-san lagi?" tanya Rei, yang ternyata sudah disamping Conan.

"Um'm, Rei kau harus mengangkat telepon darinya," jawab Conan, yang pasrah karena sudah beberapa hari ini Subaru selalu menanyakan keadaan Rei, lewat dirinya. Karena Rei, tidak pernah mengangkat panggilannya.

"Habisnya..." balas Rei, yang bingung mau jelasin gimana. Yang pasti dia kesel.

"Are?"

"Maaf jadi merepotkan," ucap seorang perempuan berambut hitam.

"Kalau saja Michiyo tidak ceroboh, tidak akan seperti inikan?" sindir, seorang perempuan berambut coklat. "Ah, perkenalkan namaku Sawada Hikari dan dia Fujiyama Michiyo.." lanjutnya.

"Mereka, baru saja kerampokan dijalan,"

"Kok bisa?"

"Itu karena aku, lupa menguci mobil..."

"Padahal sudah ku ingatkan!"

"Maaf..."

"Onee-chan, kesini mau berkemah juga?"

"Bukan, disini kami mencari harta karun..."

"EHHHHH!"

"Ssttt...janngan keras-keras,"

"Tapi, dari mana onee-chan tau kalau disini ada harta karun?"

"Jika kau masuk lebih dalam hutan, kau akan menemukan semua rumah besar yang sudah tidak berpenghuni,"

"Aaa! Aku melihat rumah hantu itu!"

"Dulu rumah itu milik kakekku, namun setelah kakek meninggal dan aku sering sakit-sakitan sehingga harus bolak-balik masuk rumah sakit, kami pun pindah. Ayahku pernah bilang, kalau kakek menyimpan sebuah harta karun, yang mungkin bisa membeli satu pulau, tapi aku dan ayah tidak pernah menemukannya..." jelas Michiyo.

"Ja, kalian ingin ikut kesana?" tawar Hikari.

"Detective boys, beraksi!"

"Ntah kenapa kalau dilihat lebih kedalam, jadi semakin seram.." ucap Mitsuhiko, yang melihat sekelingnya.

"Ne...Michiyo-san, kenapa kakek Michiyo-san tinggal dipegunungan?" tanya Conan.

"Kakeku, seorang ilmuwan dan akan lebih tenang jika mengerjakan pekerjaanya ditempat yang sunyi. Bahkan sesekali teman kakek datang berkunjung untuk mengerjakan sesuatu bersama," jawab Michiyo, sambil membuka pintu rumah.

"Proyek seperti apa yang dikerjakan oleh kakekmu Michiyo?" tanya Hikari.

"Umm...aku, tidak ingat semua. Aku hanya ingat proyek terakhir kakek, bersama ilmuwan muda. Kalau tidak salah namanya, Atsuhi. Miyano Atshuhi..."

'DEG'

"Kudo-kun, lebih baik kita cepat pergi dari sini. Mungkin saja organisasi, masih mengawasi kediaman ini," bisik Haibara was-was.

"Michiyo-san, siapa nama kakekmu?" tanya Rei, yang kini ikut was-was.

"Sawada Kiyoshi,"

"Rei, kau ingin ikut?"

"Kemana?"

"Katanya ayah, akan bertemu dengan Sawada Kiyoshi. Kau tau bukan? Dia ilmuwan yang hebat,"

Ya, Rei ingat. Kalau dulu Atsuhi pernah mengajaknnya kesini dengan Akemi.

"Miyano-san, juga pernah membawa dua anak kecil saat datang kemari,"

"Dua?" tanya Haibara, penasaran.

"Um'm, aku tidak ingat namanya yang jelas satu perempuan dan satu lagi laki-laki blasteran," jawab Michiyo.

'Siapa?' batin Haibara.

'Syukurlah, dia tidak ingat..' batin Rei.

"Ngomong-ngomong kita dimana?"

"Eh? AAAAAA! Aku lupa! Apa ada yang memberi tanda disetiap jalan," ucap Michiyo panik. "Rumah ini membentuk labirin, bahkan setiap kamu lewat. Pintunya akan berubah, dan aku lupa semuanya!"

"HEEEEEEEE?"

TBC