Chapter 2

Step Brother

.

.

.

Ketika Minhyun pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Park, dia berjanji kepada dirinya akan menjadi anggota keluarga Park yang membanggakan. Dia merasa sangat berhutang budi kepada Tuan Park yang mau menikahi ayahnya dan memberi kehidupan yang sangat layak bagi mereka. Dan ketika pertama kali dia bertemu mata bambi Jihoon yang kesepian, dia berjanji akan menjadi kakak yang baik untuk Jihoon.

Saat ini dia sedang membereskan kamar Jihoon yang seperti kapal pecah ketika teriakan ayahnya kembali mengisi rum ah besar ini.

"JIHOON! MENGAPA AKU MENDAPAT PANGGILAN DARI SEKOLAHMU? APA KAU MEMBUAT MASALAH?"

"Iya benar ayah, tadi Jihoon hyung di panggil ke ruang BK karena dia berunjuk rasa menolak kehadiran Pangeran di sekolah dan berencana memboikot acara pesta dansa Pangeran minggu depan." Adu Daehwi kepada ayahnya.

"APA? Berani-beraninya kau memboikot acara pangeran. Tidak tahukah kau pihak kerajaan sudah berbaik hati memberikan bantuan langsung kepada kita, apalagi di musim kemarau panjang seperti ini. Kau seharusnya bersyukur Pangeran mau datang mengunjungi desa kecil kita ini."

"Yang memberi bantuan itu pihak kerajaan bukan pangeran. Bahkan bukan dia juga yang mengusulkan. Untuk apa dia kesini. Hanya pencitraan saja. Dan kau Daehwi, tidak usah mengadu. Aku juga tahu kau tidak menyukai pangeran. Kau bahkan admin instagram Prince_Haters kan! Sudah kau mengaku saja." Tuduh Jihoon balik kepada Daehwi.

"Tapi aku lebih cerdik darimu. Lebih baik bermain di belakang layar, menghindari masalah. Daripada bertindak bodoh seperti kau dan akhirnya terkena sangsi." Jawab Daehwi tidak kalah menyolot.

"Setidaknya aku lebih bersikap ksatria, tidak bersembunyi di belakang seperti tikus pengecut," balas Jihoon tidak kalah sengit.

"APA? Aku bukan tikus pengecut! Ayah dia mengataiku lagi!" rengek Daehwi.

"Kau duluan yang mengataiku bodoh," Jihoon tetap tidak mau mengalah.

Minhyun yang merasa pusing mendengar semua keributan itu memutuskan datang ke ruang tengah untuk melerai mereka.

"Jihoon, Daehwi sudah jangan bertengkar lagi. Lebih baik kalian membantu hyung. Hyung berencana untuk membuat kue pelangi. Kalian ke dapur dulu dan tolong siapkan bahan dan alat-alatnya. Hyung akan berbicara dengan ayah, oke?"

Kedua adiknya kembali hendak memprotes tapi mereka urung saat Minhyun mengeluarkan senyum malaikatnya yang dapat menghentikan perang dunia sekalipun. Akhirnya mereka berdua pun berebut saling sikut untuk mencapai dapur lebih dulu.

"Kau terlalu memanjakan mereka Minhyun, terutama kepada Jihoon. Lihat lah dia, di usianya yang menginjak 19 tahun dia masih bertingkah semaunya seperti anak SD," Jisung melayangkan protesnya kepada anak tertuanya itu.

"Aku hanya tidak ingin dia merasa terbebani ayah. Aku tahu ayah berusaha membuatnya mandiri agar dia siap menerima semua tanggung jawabnya saat dia berusia 20 nanti. Tapi aku takut dia akan lari dan memberontak jika ayah terlalu memaksanya." Minhyun berusaha menjelaskan keadaan Jihoon kepada ayahnya dengan sehalus mungkin.

"Jihoon butuh kasih sayang. Dia kehilangan ibunya saat kecil dan ayahnya pun meninggalkannya saat dia beranjak remaja. Dia pasti merasa sendirian. Aku ingin dia merasa punya seseorang yang dapat diandalkan. Seseorang tempatnya bersandar. Aku tahu ayah sibuk dengan perkebunan apalagi sudah beberapa tahun kemarau panjang melanda negeri kita. Aku tidak ingin Jihoon kehilangan sosok orang tua."

Jisung hanya mampu menghela nafas dan berkata, "Baiklah ayah mengerti. Dan berbicara soal Jihoon, ayah ingin minta tolong. Bisakah kau ke sekolah Jihoon besok? Ayah tidak bisa meninggalkan perkebunan."

"Oke, aku akan kesana besok. Baiklah, sebaiknya aku ke dapur sekarang, sebelum kucing dan tikus itu menghancurkan dapur kita."

.

.

.

Minhyun melangkahkan kaki nya keluar dari ruang kepala sekolah Jihoon. Dia sampai tidak habis pikir, sebenci itukah Jihoon kepada sang Putra Mahkota sampai-sampai dia merencanakan pemboikotan akan acara pesta dansa sang Pangeran. Dan sekarang Jihoon terkena skors dan dilarang menghadiri acara pesata dansa itu. Walaupun Minhyun sudah memohon kepada pihak sekolah untuk mengijinkan Jihoon datang, tapi mereka takut Jihoon akan menimbulkan masalah lagi.

Namun jika dipikir-pikir, sebenarnya bukan hanya Jihoon yang tidak menyukai sang Putra Mahkota. Sebagian besar rakyat negeri ini juga tidak menyukainya karena mereka menganggap sang Pangeran tidak sekompeten Raja dan hanya tahu bersenang-senang saja. Setiap dia melakukan kunjungan ke desa-desa dia akan mengadakan pesta yang menghabiskan anggaran belanja desa.

Minhyun sendiri pun tidak tahu pasti bagaimana wajah sang Pangeran atau nama lengkapnya. Sangat tidak sopan bagi rakyat biasa untuk menyebut nama lengkap anggota kerajaan, sehingga mereka hanya menyebutnya gelar mereka seperti, Yang Mulia Raja, Ratu atau Putra Mahkota.

Lagipula sejak kematian ayah Jihoon, dia benar-benar berkonsentrasi mengurus rumah dan adik-adiknya. Tidak ada waktu lagi untuk me time. Dia jarang menonton TV, berselancar di dunia maya atau pun pergi ke tetangga untuk sekedar menggosip.

Kemarau yang panjang membuat keadaan mereka sulit karena minimnya panen. Jisung bahkan terpaksa memberhentikan semua pelayan di rumah dan beberapa pekerja perkebunan. Sehingga berimbas pada Minhyun yang harus sibuk mengurus rumah dan terkadang membantu juga di perkebunan. Dan itu membuatnya sangat ketinggalan berita di dunia luar dan menjadi kuper.

Terkadang Minhyun sempat bertanya pada dirinya bagaimana nasibnya jika dulu dia benar-benar mengambil beasiswa itu. Mungkin saat ini dia sudah lulus dan sedang magang sebagai staf di dalam istana. Atau mungkin saja dia bertemu dengan belahan jiwanya di istana atau dari kalangan bangsawan.

Selama dua puluh tiga tahun hidupnya, Minhyun tidak pernah merasakan romansa sekalipun. Bukan karena Minhyun tidak laku. Minhyun adalah pria yang tampan dan sopan. Semua warga desa ini mengakui ketampanannya. Para gadis bahkan pria banyak sekali yang berusaha mendekatinya. Terlebih lagi sifatnya yang selalu ramah membuat banyak orang berharap dapat menjalin hubungan lebih dengannya. Tak ada orang tua juga yang menolak menjadikan Minhyun sebagai menantu.

Namun seorang Hwang Minhyun sangat payah dalam hal membaca sinyal. Dia sama sekali tidak peka akan perasaan seseorang kepadanya. Dia menganggap semua orang yang memberi perhatian atau mendekatinya sebagai teman. Sekuat apapun sinyal yang berusaha mereka diberikan, Minhyun tidak akan menyadarinya.

Jihoon dan Daehwi terkadang merasa jika kakak mereka ini terlalu pintar sehingga menjadi agak bodoh.

Saat sedang asyik melamun, Minhyun tidak sadar dirinya menabrak seseorang hingga mereka berdua duduk terjatuh dan dokumen orang tersebut jatuh berantakan.

"ADUH! HEI APA KAU BUTA? BERANI-BERANINYA KAU MENABRAKKU! APA KAU TIDAK TAHU SIAPA AKU?"

Seorang pria yang tampak tidak lebih tua dari Minhyun langsung berdiri dan berkacak pinggang. Minhyun yang merasa bersalah, segera membereskan dokumen-dokumen orang itu yang berserakan.

"Maafkan aku tuan, aku tidak sengaja."

"Mudah sekali kau bilang tidak sengaja, kau pikir..."

Kata-kata pria itu terpotong saat Minhyun mendongakkan kepalanya sambil menatapnya dengan mata rubahnya yang penuh rasa bersalah.

"Aku benar-benar tidak sengaja tuan, maafkan aku."

Pria itu masih terdiam menatap Minhyun tanpa berkedip, membuat Minhyun sendiri salah tingkah. Bagaimana tidak salah tingkah jika ada seorang pria yang sangat tampan menatapmu seperti itu. Tidak bisa dipungkiri oleh Minhyun jika pria yang di hadapannya ini memiliki wajah yang sempurna.

Mata yang tajam, alis tebal, hidung mancung dan rahang yang tegas, semua tertata apik di wajah yang penuh aura kesombongan. Tiga noktah hitam kecil yang membentuk rasi bintang di pipi kirinya bukannya mengurangi keindahan wajahnya, namun justru mempertegas ketampanannya.

Dia mengenakan setelan jas resmi. Rambut hitamnya tertata rapi dan memperlihatkan sebagian dahinya. Dia tidak tampak seperti warga desa ini.

'Dia pasti orang istana' pikir Minhyun dalam hati.

"Sekali lagi maafkan aku tuan, aku tidak sengaja. Ini dokumen-dokumen anda. Sebaiknya coba anda periksa dulu, siapa tahu ada yang hilang."

Minhyun menyodorkan dokumen-dokumen dengan lambang kerajaan itu kepada empunya. Namun pria itu tetap tidak bergeming menatap wajah Minhyun.

"Ahem! Tuan?" Dehaman keras Minhyun mengembalikan kesadaran pria itu dan dia pun terlonjak sedikit lalu mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Ini dokumen anda tuan, coba diperiksa apa ada yang hilang?" Minhyun berusaha mencoba bertanya lagi.

"Oh iya...iya," pria itu menjawab dengan gugup dan segera mengambil dokumen itu.

"Maaf saya tidak sengaja. Apa anda terluka?" tanya Minhyun khawatir.

"Tidak-tidak, aku tidak apa-apa," jawab pria itu sembari membersihkan debu yang tidak terlihat dari tubuhnya.

"Mmm.. maaf sebelumnya tuan, apa anda orang istana?"

Pertanyaan Minhyun membuat orang itu terkejut.

"Oh, jadi akhirnya kau mengenaliku," nada angkuh kembali terdengar dari ucapannya.

"Maaf kalau saya tidak sopan, tapi saya tadi melihat lambang kerajaan pada dokumen tersebut, jadi saya pikir anda pasti orang istana."

"Ya benar, aku adalah orang istana." Wajah pria itu menunjukkan kesombongan saat mengucapkannya.

"Apakah anda salah satu pengawal yang mengantar Putra Mahkota untuk kunjungannya kali ini?"

"Apa pengawal? Aku bukan pengawal!" pria itu tampak sewot dengan pertanyaan Minhyun.

"Oh, maafkan aku, ku pikir anda pengawal pangeran. Lalu apakah anda salah satu staf istana?"

Pria itu kembali tampak terkejut dengan pertanyaan Minhyun, namun di berusaha sekali mengatur ekspresinya. Dia menghela nafas sebentar dan berkata, "Benar aku... ahem... staf kerajaan."

"Wah pasti menyenangkan ya bekerja di istana," ungkap Minhyun dengan kagum.

"Hmm.. tidak juga, walaupun gaji staf istana cukup besar tapi peraturan istana sangat ketat. Apa kau berminat bekerja di istana?" tanya pria itu tiba-tiba.

"Oh tidak...tidak... Mungkin dulu iya, tapi sekarang tampaknya tidak mungkin," sesal Minhyun.

"Mengapa tidak? Aku bisa memasukkanmu ke istana sekarang juga kalau kau mau."

"Tidak itu tidak mungkin. Aku sudah menolak beasiswa yang diberikan istana dulu. Mereka pasti sudah mencoret namaku karena dianggap penghinaan telah menolak hadiah dari kerajaan. Lagi pula aku lebih suka mendapatkan hasil dari kerja kerasku sendiri." Minhyun mengakhiri kalimatnya dengan senyum yang lagi-lagi membuat pria itu menahan nafasnya untuk sesaat.

"Baiklah tuan, saya pergi dulu. Maaf tadi saya telah membuat anda jatuh."

Minhyun membungkuk sedikit dan beranjak pergi untuk meninggalkan tempat itu. Namun sebuah tangan menahannya, membuatnya berbalik kembali.

"Tunggu! Bisakah kita berbicara sebentar?" tanya pria itu ragu-ragu.

Minhyun mengerutkan keningnya dengan bingung.

"Maaf tuan, tapi saya harus segera pulang."

"Aku hanya ingin melakukan survey sebentar. Ini untuk keperluan kerajaan." Pria itu dengan cepat menambahkan.

Minhyun masih tampak ragu-ragu, tapi akhirnya dia menyetujuinya, "Baiklah."

"Bagus, kalau begitu bagaimana jika kita pergi ke aula sekolah agar lebih nyaman berbicara sembari saya mengecek tempat untuk pesta dansa ku... eh... Pangeran," saran pria itu.

"Baik tuan, tapi maaf tangan saya..."

Ternyata sedari tadi pria itu belum melepaskan genggamannya di tangan Minhyun.

"Oh maaf, kalau begitu sekalian berkenalan saja, siapa namamu?"

"Saya Hwang Minhyun, tuan."

"Jangan panggil saya tuan. Kurasa kita seumuran. Panggil saja aku Seongwoo," jawab pria itu seraya tersenyum kepada Minhyun untuk pertama kalinya.

Dan untuk pertama kalinya juga, Minhyun merasakan perasaan hangat membuncah di dadanya.

TBC

.

.

Yuhuu...gak tau nih kesambet apa jadi bisa fast update. Rekor banget nih dua hari bisa update, semoga bisa seterusnya ya.

Oia thank you buat semua yang udah baca dan review. Aku tahu kapal ini penumpangnya sedikit jadi review kalian berarti banget buat aku dan nambah semangat buat ngelanjutin fic ini. Aku juga publish ini di wattpad dengan judul dan username yang sama, jadi yang puny akun wattpad bole vote and comment juga di sana ya ^^

Jangan lupa review lagi buat chapter ini ya. See you in the next chapter...

-Ang-