Chapter 3

Prince Charming

.

.

.

Terlahir dari keluarga yang bergelimang harta dan pemegang kekuasaan tertinggi di suatu negeri membuat Ong Seongwoo menikmati segala kemudahan dalam hidupnya. Terlebih lagi menjadi putra mahkota satu-satunya yang kelahirannya sangat dinantikan selama lebih dari tujuh tahun membuat Yang Mulia Raja dan Ratu sangat memanjakan nya.

Semua kemudahan itulah yang membuat Seongwoo buta akan keadaan di sekitarnya. Dia merasa kehidupan hanya berotasi di sekitarnya. Dengan memanfaatkan status dan juga wajah tampannya, Seongwoo mampu mendapatkan hampir semua yang dia inginkan.

Sebagai putra mahkota yang akan meneruskan kepemimpinan ayahnya, perilaku Seongwoo sangat bertolak belakang dengan calon raja pada umumnya. Para pangeran biasanya akan berusaha mati-matian menjadi calon raja yang kompeten dengan mendekatkan diri pada rakyat. Bersikap ramah dan bijaksana, melakukan kegiatan sosial dan menjaga nama baik kerajaan dengan bersikap baik.

Namun reputasi Seongwoo sangat buruk. Sikapnya yang sombong juga arogan membuat banyak staf istana tidak menyukainya. Selain itu dia juga seorang cassanova. Dia suka berpesta dan mengencani gadis-gadis dan pria-pria bangsawan. Dia kerap mengadakan pesta-pesta dengan rekan bangsawan nya dan membuang-buang uang negara.

Raja yang awalnya membiarkan Seongwoo berperilaku seenaknya mulai khawatir ketika dia mendengar desas-desus bahwa rakyat tidak menyukai perilaku Seongwoo. Ditambah lagi musim kemarau yang panjang selama beberapa tahun terakhir membuat rakyat percaya bahwa ini adalah kutukan dari dewa atas perilaku buruk sang Pangeran.

Akhirnya Raja memerintahkan sang Putra Mahkota untuk mengirimkan bantuan langsung berupa uang kepada rakyatnya untuk mendekatkan dirinya kepada mereka. Selain itu Raja juga meminta Seongwoo untuk mencari pendamping hidup agar dia bersikap dewasa dan mau tidak perduli jika calon menantunya nanti seorang wanita ataupun pria. Dia juga tidak mempermasalahkan jika pendamping anaknya bukan dari kalangan bangsawan. Raja hanya menginginkan pendamping Seongwoo yang bijaksana dan dapat merubah sifat-sifat buruk Seongwoo.

Jadi sudah beberapa bulan terakhir ini Seongwoo berkeliling desa-desa bersama rombongannya untuk mengirimkan bantuan dan mencari pendampingnya. Dia memang mulai dekat dengan rakyat dan rakyat mulai mempercayainya sedikit demi sikap buruk Seongwoo tetap belum berubah sepenuhnya. Dengan dalih untuk mencari pasangan yang tepat, Seongwoo mengadakan pesta dansa di tiap kunjungannya. Dan di pesta itu dia akan mengencani para gadis-gadis maupun pria-pria yang dengan mudah termakan rayuannya. Lalu di hari terakhir kunjungan nya dia akan mencampakkan mereka begitu saja.

.

.

.

Seongwoo sangat menghindari desa ini. Warga di desa ini sangat membenci pihak istana, terutama Seongwoo. Mata pencaharian masyarakat desa ini sebagian besar adalah perkebunan dan pertanian sehingga warga desa ini lah yang paling terkena dampak kemarau panjang yang melanda negeri ini. Dan mereka percaya bencana ini adalah peringatan dari dewa karena sang perilaku Putra Mahkota yang buruk.

Namun karena memang hanya tersisa satu desa ini yang belum ia kunjungi, mau tidak mau Seongwoo tetap kesini. Dan desa ini juga tempat terakhir untuk Seongwoo mencari pasangan hidupnya. Karena jika tidak, Raja akan mengirimkan Seongwoo ke perbatasan untuk berlatih militer.

Ternyata firasat Seongwoo benar. Di hari pertamannya dia berada di desa ini, beberapa siswa sudah berunjuk rasa menolak kehadirannya. Seongwoo masih ingat dengan jelas betapa bencinya wajah si pemimpin unjuk rasa itu. Wajah bayi itu penuh rasa ketidak sukaan dan kemarahan. Seongwoo sempat merasa tersinggung dan ingin segera kembali ke istana, namun pihak sekolah berjanji bahwa peristiwa itu tidak akan terjadi lagi. Dan siswa yang meminpin unjuk rasa itu akan dikenakan skors dan dilarang datang saat pesta dansa.

Dan sekarang Seongwoo sangat bersyukur telah mengubah keputusannya untuk tidak pulang ke istana, sehingga dia dapat bertemu dengan malaikat tampan yang berjalan di sampingnya ini.

Ketika mereka sampai aula, ruangan itu tampak sudah hampir siap untuk acara pesta dansa besok malam. Dekorasi sudah di pasang dan meja kursi juga sudah di susun. Pria di samping Seongwoo tampak terpukau oleh dekorasi yang menghias ruangan ini dan dia berkali-kali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Karena terlalu fokus mengagumi aula tersebut, Minhyun tidak menyadari adanya sebuah kabel melintang di hadapannya. Seongwoo yang melihat kable itu berusaha menghentikan Minhyun agar dia tidak tersandung.

"Awas!"

Seongwoo menarik tangan Minhyun dengan agak keras dan menyebabkan Minhyun terhuyung ke hadapannya. Dan secara refleks Seongwoo memegang pinggangnya agar Minhyun tidak terjatuh. Minhyun pun secara otomtis memegang bahu Seongwoo untuk menjaga keseimbangan nya. Tinggi mereka yang hampir sama membuat wajah keduanya berdekatan. Mereka dapat merasakan nafas masing-masing. Mata mereka saling menatap dan tiba-tiba dunia serasa berhenti.

Seongwoo tahu pria di hadapannya adalah sosok yang tampan, tapi dia tidak menyangka jika wajah Minhyun se mempesona ini. Mata rubahnya tampak menghipnotis Seongwoo. Bibir merah mudanya yang indah dan hidungnya yang bangir menyempurnakan wajah pucat itu. Jika Seongwoo nekat, dia bisa saja memajukan wajahnya beberapa inci dan menyentuh bibir itu. Namun sayang, Minhyun tersentak dan melepaskan diri dari posisi yang memalukan ini.

"Mm-maaf tuan," ujar Minhyun gugup.

Entah mata Seongwoo menipunya atau tidak, tapi telinga Minhyun tampak memerah. Minhyun pun terus menunduk dan dia tidak berani menatap mata Seongwoo.

"Tidak apa-apa, lain kali berhati-hatilah," Seongwoo berusaha mencairkan suasana canggung ini. "Silahkan duduk," lanjutnya seraya menarik salah satu kursi di situ untuk Minhyun.

"Jadi survey apa yang akan anda tanyakan tuan?" tanya Minhyun sambil mendudukkan pantatnya di kursi. Matanya masih agak ragu untuk menatap Seongwoo, namun untuk menjaga kesopanan, Minhyun memberanikan diri untuk menatapnya.

"Sudah kukatakan jangan panggil aku tuan, panggil Seongwoo saja," paksa Seongwoo.

"Baiklah Seongwoo, survey apa yang ingin kau tanyakan?"

"Oh itu heumm, survey tentaaaang…heumm….," Seongwoo sedikit panik sekarang, karena jujur survey tersebut hanya akal-akalnya saja untuk menahan Minhyun lebih lama.

"Oh survey tentang uang bantuan langsung dari istana" jawab Seongwoo dengan asal.

"Uang bantuan dari istana?" Minhyun memiringkan kepalanya dan kebingungan jelas tertera di wajah malaikatnya.

"Iya, maksudku bagaimana pendapatmu mengenai uang bantuan yang diberikan pihak istana? Apakah cukup? Atau kurang?"

Bagus, Seongwoo sudah mirip staf istana bukan. Walaupun sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan semua itu, dia harus tampak meyakinkan di depan Minhyun agar dia mempercayainya. Entah mengapa tapi Seongwoo tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ada sesuatu dalam diri Minhyun yang membuat Seongwoo merasa tertarik. Seongwoo akui Minhyun adalah pria yang tampan. Tapi Seongwoo yakin bukan hanya fisik Minhyun sajalah yang menarik perhatiannya. Dia tidak pernah berusaha keras untuk menarik perhatian orang lain. Semua gadis dan pria yang pernah dikencaninya terlihat sekali berusaha keras untuk menarik perhatiannya. Tapi pria yang di hadapannya ini, jangankan berusaha menarik perhatiannya, dia bahkan tidak mengenalinya sama sekali. Apa dia tidak pernah menonton televisi? Desa ini cukup maju dan Seongwoo yakin jaringan internet di desa ini juga cukup baik. Apa dia tidak pernah menggunakan internet. Jangan-jangan dia tidak tahu apa itu google. Entahlah Seongwoo tidak peduli hal itu, yang menjadi prioritasnya saat ini adalah membuat Minhyun tertarik padanya.

"Bantuan uang sebenarnya baik, tetapi menurut ku itu hanya menyelesaikan masalah dalam jangka pendek, bukan jangka panjang. Kita tidak tahu kapan kemarau panjang ini akan berakhir, jadi kita harus melakukan sesuatu untuk mengatasi hal ini."

Jujur Seongwoo kaget dengan jawaban Minhyun. Dia tidak menyangka Minnhyun akan menanggapi pertanyaannya dengan serius. Semua teman kencannya tidak ada yang pernah peduli dengan masalah negeri ini. Yang mereka tahu hanya berusaha mendekatinya untuk menjadi pendamping Seongwoo.

"Kita tidak bisa mengontrol kemarau, lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Kita bisa memperbaiki sistem irigasi kita. Kita tidak dapat mengandalkan hujan. Dan sungai pun cukup jauh. Mungkin sebaiknya kita bisa membuat bendungan," ujar Minhyun.

"Bendungan?"

"Iya, sumbernya dari sungai lalu kita pasang pipa ke perkebunan penduduk. Walaupun mungkin biayanya agak lebih besar, tapi dapat dipakai untuk jangka panjang." jelasnya panjang lebar.

"Kau benar sekali, mengapa hal itu tidak pernah terpikirkan oleh kami. Idemu benar-benar bagus," puji Seongwoo dengan takjub.

"Benarkah? Kalau begitu aku senang bisa membantu. Aku harap masalah kekeringan ini segera terselesaikan, sehingga rakyat dapat hidup dalam kemakmuran," Minhyun tanpak sudah melupakan kecanggungan nya dan kembali tersenyum yang membuat Seongwoo lagi-lagi menahan nafasnya.

Jawaban tulus Minhyun membuat Seongwoo malu akan dirinya sendiri. Dia yang merupakan seorang Putra Mahkota hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri, sedangkan Minhyun yang notabene hanya rakyat biasa mampu berpikir sejauh itu. Tiba-tiba Seongwoo merasa dirinya adalah orang paling berengsek se-negeri ini. Bagaimana dia bisa berpesta pora di saat rakyatnya menderita. Dan untuk sesaat pikiran bahwa Minhyun juga membenci dirinya terlintas di benaknya. Bagaimana jika Minhyun berpikir seperti rakyat lainnya, bahwa kekeringan ini kutukan dari dewa atas perilakunya yang buruk.

"Emm, Minhyun, apa pendapatmu tentang Putra Mahkota," Seongwoo tiba-tiba menatap tajam ke arah Minhyun dan bertanya dengan serius.

Minhyun pun tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, namun dia kembali tersenyum sembari memberi sirat rasa kasihan di matanya.

"Aku merasa kasihan pada pangeran," kali ini Seongwoo lah yang terkejut.

"Apa maksudmu? Mengapa kau harus merasa kasihan padanya? Dia memiliki uang, tahta, kehidupannya selalu mudah. Dia bisa mendapatkan semua yang dia inginkan." Ada sisi dari dalam diri Seongwoo yang merasa tidak terima dengan ucapan Minhyun. Berani-beraninya dia mengasihani Seongwoo.

"Kau benar, dia memiliki segalanya. Tapi dia tidak memiliki kepercaya dirian untuk memimpin negeri ini."

Tiba-tiba batu besar serasa menghantam diri Seongwoo.

"Aku memang tidak tahu pasti seperti apa sang Pangeran. Namun jika aku mendengar dari berita yang di bicarakan orang-orang tentang dia yang bersikap seenaknya, kurasa itu adalah senjata untuk membentengi dirinya dari orang-orang yang menganggap remeh dirinya. Raja kita adalah seorang raja yang bijaksana. Dia memimpin negeri ini dengan baik. Dan aku yakin ada rasa ketakutan dalam diri Pangeran, bagaimana jika nanti dia tidak bisa memimpin negeri ini sebaik ayahnya."

Mata Seongwoo terbelalak mendengar penyataan itu. Bagaimana mungkin Minhyun mampu mengetahui ketakutan terbesarnya. Semua rakyat mencintai ayahnya. Dia merupakan salah satu raja terbaik di negeri ini. Semasa dia kecil, dia sering mengikuti ayahnya berkeliling negeri dan dia selalu mendengar rakyat mengelu-elukan ayahnya. Seongwoo sangat bangga terhadap ayahnya, namun di sisi lain dia memiliki kekhawatiran yang besar. Dia memang ingin seperti ayahnya tapi tidak ingin menjadi bayang-bayangnya. Bagaimana jika mereka membandingkan keduanya. Bagaimana jika Seongwoo tidak sebaik ayahnya?

"Lalu apakah kau percaya bahwa kemarau panjang ini adalah kutukan dewa akibat perilaku Pangeran yang sesuka hatinya?" Seongwoo bertanya dengan ragu sembari menatap mata Minhyun.

"Aku tidak tahu pasti soal hal ini, tapi yang ku tahu Pangeran harus berubah jika dia ingin mendapatkan kepercayaan rakyat. Aku yakin dia dapat menjadi raja yang baik jika dia percaya akan kemampuan dirinya sendiri untuk memimpin negeri ini." jabar Minhyun dengan yakin.

Seongwoo hanya mampu terpaku akan perkataan Minhyun. Baru pertama kali ini ada orang yang percaya akan dirinya dan hal itu membuatnya merasa bahagia dan hangat. Seongwoo pun yakin akan memantapkan dirinya untuk memilih Minhyun sebagai pendampingnya. Selain sikapnya yang bijaksana, inteligensi nya yang tinggi memenuhi kriteria sebagai calon pendamping Seongwoo. Tidak lupa hal yang paling penting, Seongwoo tidak bisa memungkiri perasaannya terhadap Minhyun. Jadi sekarang adalah saatnya untuk berkata jujur tentang siapa dirinya sebenarnya.

"Minhyun sebenarnya aku..." belum sempat Seongwoo menyelesaikan kalimatnya sebuah lengkingan menginterupsinya.

"Minhyun hyung! Jihoon hyung sedang bertengkar dengan presiden fans club pangeran." Daehwi masuk ke dalam aula dengan wajah paniknya.

"Ayo cepat hyung hentikan dia, atau dia bisa dikeluarkan dari sekolah karena berkelahi nanti!" segera setelah Daehwi mengatakan hal itu, dia kembali melesat keluar.

"Maafkan aku Seongwoo, aku harus segera pergi. Aku harus menghentikan adikku." Minhyun segera berdiri dan berniat untuk lari keluar.

"Tunggu!" bagai dejavu, Seongwoo kembali menarik tangan Minhyun untuk menghentikannya.

"Bisakah kau datang ke pesta dansa besok malam?" tanya Seongwoo penuh harap.

"Aku tidak tahu. Aku tidak mungkin meninggalkan adikku sendirian di rumah." Jawab Minhyun ragu.

"Kumohon datanglah. Aku akan menunggumu besok. Ada hal penting yang ingin kukatakan kepadamu." Seongwoo benar-benar memohon kali ini.

"Baiklah, akan kuusahakan." Final Minhyun diakhiri senyuman.

"Baik, aku akan menunggumu." Janji Seongwoo sembari mengukir seulas senyum.

TBC

.

.

Hai...hai...semua, terima kasih buat yang udah baca dan review di chapter sebelumnya. Itu motivasi yang besar banget buat lanjutin ff ini.

Btw kayaknya aku harus hapus tag parody deh, soalnya gak ada parody-parody nya, apa lagi di chapter ini, isinya serius banget sampe bikin kalian bosen ya hehehe.

Anyway jangan lupa review buat chapter ini ya. See you in the next chapter...

-Ang-