Chapter 4
Fairy Godfather
.
.
.
"Sebaiknya aku di rumah saja. Kasian Jihoon sendirian."
"Apa maksudmu kau tidak datang? Justru kau lah yang harus datang. Kau harus keluar Minhyun. Apa kau tidak lelah hanya berada di rumah dan perkebunan saja. Bergaulah dengan teman-teman sebayamu, bertemu dengan orang baru." Jisung masih berusaha membujuk anak sulung itu untuk pergi ke pesta dansa.
"Ayah benar, hyung. Dan bukankah kau kemarin mengobrol dengan seorang pria? Siapa tahu dia datang dia ke pesta itu dan kalian bisa melanjutkan obrolan kalian yang terganggu," imbuh Daehwi.
Jisung membelalakkan matanya tidak percaya. Jihoon yang sedari tadi asyik bermain games pun ikut terkejut dan mem-pause game nya.
"Apa!"
"Seorang pria!"
"Mengobrol!"
Jisung dan Jihoon saling berteriak hingga Daehwi harus menutup telinganya.
"Iya benar. Kemarin Minhyun-hyung asyik mengobrol dengan seorang pria. Aku tidak melihat wajahnya karena dia berdiri membelakangiku. Tapi melihat dari pakaiannya, tampaknya dia bukan orang desa ini. Mungkin dia bangsawan atau orang istana yang ikut rombongan Putra Mahkota."
Wah ini benar-benar suatu hal yang baru bagi Jisung dan Jihoon. Minhyun anak yang pemalu dan agak tertutup. Jika dia bertemu dengan orang baru, dia tidak akan berbicara banyak. Biasanya hanya sekedar basa-basi untuk menjaga sopan santun.
"Lalu kenapa kau menggangu kakakmu jika kau tahu dia sedang mengobrol dengan pria itu? Kau merusak kesempatannya untuk bersanding dengan seorang bangsawan."
Jisung mendadak menyadari bahwa ini adalah kesempatannya untuk mengakhiri kesulitan hidup ini. Jika Minhyun menikahi seorang bangsawan, dia tidak akan khawatir lagi jika Jihoon menerima warisannya dan mendepak dirinya dan Daehwi setelah dia dewasa.
"Itu semua gara-gara Jihoon-hyung. Dia kena skors tapi tetap datang ke sekolah. Dan lebih parahnya lagi dia bertengkar dengan presiden fans club Pangeran."
"Apa? Dasar tidak tahu diri. Aku menyelamatkanmu karena gadis itu sudah mulai mencurigaimu sebagai admin Prince_Hater. Jika dia berhasil membongkarnya, kau juga akan terkena skors sekarang," Jihoon tidak terima akan tuduhan Daehwi.
"Aku tahu tapi kau tidak perlu mengatainya seperti itu. Kau malah memperburuk keadaan dengan memanggilnya sapi betina."
"Sudah-sudah kalian jangan bertengkar lagi. Ayah pusing setiap hari mendengar kalian bertengkar untuk hal-hal yang tidak penting. Sekarang yang penting Minhyun, kau harus ikut ke pesta dansa. Jangan khawatirkan soal Jihoon. Dia bisa menjaga dirinya sendiri."
"Benar hyung, paling Jihoon-hyung akan sibuk bermain games semalaman, bahkan dia pasti tidak akan sadar jika kita sudah pulang." Daehwi mendukung usulan ayahnya.
Minhyun yang seperti biasa sedari tadi hanya diam mendengarkan ocehan-ocehan anggota keluarganya akhirnya angkat bicara.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Jihoon? Bagaimana jika dia kelaparan? Bagaimana jika ada pencuri masuk?"
Walaupun dia sangat ingin bertemu dengan Seongwoo lagi, tapi dia tetap tidak bisa tidak memikirkan Jihoon. Dia tidak tega meninggalkan Jihoon sendirian.
"Sudahlah hyung, kau pergi saja," ujar Jihoon dengan lembut.
"Hyung tidak usah mengkhawatirkanku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Yang dikatakan Daehwi itu benar. Aku paling hanya bermain games dan tanpa kusadari pasti kalian sudah pulang." Jihoon berusaha meyakinkan kakaknya itu.
Jihoon sebenarnya ingin memonopoli Minhyun sendiri. Ini saatnya dia bisa bermanja-manja dengan Minhyun tanpa gangguan Jisung ataupu Daehwi. Tapi dia sadar perkataan ayah tirinya itu benar. Minhyun harus keluar sekali-kali dan menikmati hidup.
"Tapi bagaimana jika ada pencuri masuk?"
"Semua orang pergi ke pesta dansa, hyung. Tidak akan ada pencuri. Percayalah padaku."
Minhyun pun akhirnya setuju untuk pergi setelah Jihoon meyakinkannya.
.
.
.
Dan sekarang Jihoon menyesali keputusannya untuk meminta Minhyun pergi ke pesta dansa. Dia sedang asyik bermain games di ponsel pintarnya ketika suara gaduh dari arah dapur terdengar. Jihoon yakin itu bukan kucing, karena Minhyun alergi kucing dan Jisung memastikan tidak ada kucing di sekitar rumah dan perkebunan mereka.
Suara gaduh terdengar lagi dan kali ini sepertinya piring atau gelas pecah. Jihoon mulai panik. Bagaimana jika benar-benar ada pencuri?
Jihoon menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian dia memberanikan diri untuk berdiri. Diraihnya raket nyamuk yang tergantung di sebelah televisi dan dia mulai melangkah ke arah dapur.
Sesampainya di dapur, dia mengitari pandangannya ke seluruh dapur. Tapi tidak ada apapun disana. Hanya ada pecahan mug kesukaanya di lantai. Jihoon mendadak menjadi emosi.
"Siapa yang memecahkan mug ku?!"
Itu adalah mug kesayangan Jihoon karena mug bergambar foto keluarganya saat ayah dan ibu kandungnya masih hidup. Mug itu merupakan souvenir ulang tahun Jihoon yang ke-lima.
"Mug ku...ayah...ibu..."
Jihoon mulai menangis seraya mengumpulkan pecahan mug itu.
"Sudah tidak usah menangis. Nanti kuperbaiki."
Tiba-tiba sebuah suara muncul dibelakang Jihoon. Jihoon pun terkejut dan berteriak
"AAAAKKKHHH! Siapa kau? Pencuri!"
Jihoon mulai memukuli orang itu dengan raket nyamuknya.
"Aduh! Hentikan, aku bukan pencuri!" Orang itu berteriak kesakitan. Tapi Jihoon tidak mempedulikannya. Dia terus memukuli orang itu sampai tiba-tiba dia tidak bisa bergerak.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa bergerak? Siapa kau? Apa yang kau lakukan padaku?" Jihoon memberondong orang itu pertanyaan-pertanyaannya.
"Bisakah kau diam sebentar? Atau kau tidak akan bergerak selamanya. Kau membuatku pusing," jawab orang itu dengan ketus. Jihoon yang mendengarnya langsung terdiam. Dia tidak mau hidup seperti patung.
Orang itu mengambil sesuatu dari tas selempangnya. Seperti sebuah lembaran perkamen tua lalu dia mulai membaca dalam diam. Dan jika ditelisik lagi dengan lanjut, Jihoon baru menyadari bahwa ada yang aneh dengan orang itu.
Orang itu tidak terlalu tinggi, dia bahkan lebih pendek dari jihoon yang sebenarnya juga tidak termasuk kategori tinggi. Kulit pucat dan rambut pirangnya tampak bercahaya. Dia memakai baju hijau dan topi kerucut kecil konyol yang juga hijau di kepalanya. Lalu apa itu, sepasang sayap kecil menyembul dari balik punggungnya. Dan tidak lupa tongkat pendek berwarna pink tergenggam di tangan kanannya.
Siapa dia? Apa mungkin dia peri? Orang itu masih membaca perkamennya sambil bergumam kecil.
"Alamatnya benar. Tapi kenapa kelakuannya seperti itu? Apa aku salah orang? Tidak mungkin. Coba ku cek lagi alamatnya. Sudah benar." Pria itu terus bermonolog tanpa mengacuhkan Jihoon yang masih tidak bisa bergerak dihadapannya.
"Permisi tuan, bisakan kau membebaskanku? Tanganku pegal mengangkat raket ini terus menerus." Ucapan Jihoon akhirnya bisa mengalihkan orang itu dari kegiatan membacanya.
"Oh maaf, aku lupa. Sebentar." Orang itu mengerakkan tongkatnya dan sesaat kemudian Jihoon dapat bergerak kembali. Jihoon pun segera memijat-mijat kecil tangannya yang pegal.
"Sebenarnya siapa kau? Mengapa kau punya sayap dan tongkat sihir? Apa kau seorang peri? Atau penyihir? Kau bisa mengabulkan permintaanku?" Jihoon kembali memberondong orang itu.
"Stop! Atau ku bekukan lagi kau?" Jihoon pun langsung terdiam.
"Daripada aku ragu-ragu sebaiknya langsung kubuktikan saja sendiri," orang itu kembali bermonolog.
"Baiklah! Aku Ha Sungwoon dan aku adalah peri yang diutus untuk menyelesaikan kemarau panjang di negeri ini."
Sebenarnya Jihoon tidak percaya pada peri, kurcaci, penyihir atau teman-temannya. Tapi berhubung dia sudah merasakan sihir peri ini, tidak ada alasan lagi baginya untuk tidak percaya.
"Aku tidak boleh gagal dalam misi ini atau aku tidak akan mendapatkan kenaikan jabatan. Jadi kau juga harus membantuku."
"Membantu? Apa maksudmu? Aku bukan peri, aku tidak bisa membantu apa-apa. Kenapa tidak kau ayunkan saja tongkatmu itu dan turunkan hujan sekarang juga jika ingin menyudahi musim kemaau ini," jawab Jihoon sekenanya.
"Tidak semudah itu. Aku hanya peri dengan pangkat rendah, aku tidak mempunyai kekuatan sebesar itu. Jadi kau harus membantuku."
Malas sekali Jihoon harus membantu peri ini. Mengerjakan tugas rumah yang ringan saja dia malas, apalagi tugas seberat ini.
"Memangnya bantuan apa? Aku tidak punya waktu. Asal kau tahu saja aku itu sibuk." Sibuk bermain games batin Jihoon.
"Apa kau baru saja menolak membantuku? Kau mau ku bekukan lagi? Lagi pula ini untuk kepentingan negeri ini. Aku jadi ragu-ragu apa kau orang yang tepat."
Jihoon yang tidak ingin menjadi beku segera mengiyakan permintaan peri itu. Sebenarnya siapa yang peri disini. Peri harusnya membantu, bukan minta dibantu.
"Baiklah akan aku bantu. Tapi sebelumnya, kembalikan mug kesayanganku seperti semula. Jadi aku semakin yakin kalau kau adalah seorang peri."
"Itu mudah." Peri itu mengayunkan tongkatnya dan mug Jihoon kebali seperti sedia kala.
"Baiklah aku percaya. Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Jadi begini. Apakah kau tahu mengapa negeri ini dilanda kemarau yang amat panjang?"
"Entahlah, karena Pangeran berengsek itu mungkin?" jawab Jihoon asal.
"Betul sekali!" Sungwoon menjentikkan jarinya dengan dramatis.
"Dewa marah karena kelakuan buruk Pangeran sehingga dia memberi kemarau panjang. Dan satu-satunya cara untuk mengakhiri kemarau itu adalah Pangeran harus menemukan orang yang tepat sebagai pendampingnya dan memastikan dirinya tidak berkelakuan buruk lagi dan mampu memimpin negeri ini dengan baik."
"Dasar, ternyata semua ini gara-gara Pangeran sialan itu. Lalu apa yang harus kulakukan? Menjadi mak comblang untuk Pangeran?"
"Bukan..bukan. Aku sudah melakukan penelitian. Aku bertanya kepada senior-seniorku bagaimana mereka menyelesaikan masalah seperti ini dan membuatnya happy ending. Lalu setelah mendengar cerita-cerita mereka, aku bisa menarik kesimpulan orang yang dibutuhkan pangeram itu seperti apa. Dan orang itu adalah kau."
"APA! Tidak mungkin! Aku tidak mau menikahi Pangeran. Atas dasar apa kau memilihku?"
"Kau tahu Cinderella, si gadis terkenal itu. Ibu perinya adalah senior sekaligus ketua peri di wilayahku dan dia memberitahuku kisahnya kepadaku. Kemudian setelah kupikir-pikir kisah hidupmu sangat mirip dengannya. Jadi pasti kau lah orang yang tepat." Jelas Sungwoon panjang lebar.
"Kisah apa maksudmu? Dan aku tidak kenal dengan si umbrella itu," Jihoon masih tidak mau terima dengan penjelasan si peri.
"Baiklah kalau kau tidak percaya, sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa kau yatim piatu"
"Ya, benar"
"Apa ibumu meninggal terlebih dulu lalu ayahmu menikah lagi?"
"Ya..."
"Kemudian ayahmu meninggal dan perlakuan ayah tirimu berubah?"
Bagaimana dia tahu semua itu. Jihoon pun hanya mengangguk.
"Kau mempunyai saudara tiri? Kalian selalu bertengkar? Ayah tirimu selalu menyuruhmu melakukan pekerjaan rumah? Kau menderita kan?" tanya Sungwoon bertubi-tubi.
Jihoon meggangguk lagi. Ya, dia dan Daehwi selalu bertengkar, dan ayah tirinya memang selalu menyuruhnya walaupun tidak pernah dia laksanakan. Dan dia memang menderita karena capek mendengar teriakan Jisung yang menyuruhnya terus menerus. Jadi itu termasuk benar kan?
"Terakhir, kau dilarang datang ke pesta dansa pangeran, betul tidak?"
Jihoon lagi-lagi menggangguk.
"Oke, kau sangat cocok dengan gadis di kisah seniorku. Jadi menurutku kau adalah pasangan pangeran. Tidak ada bantahan lagi. Sekarang kau harus ke pesta dansa."
Jihoon yang masih mencerna semua perkataan Sungwoon hanya mampu tebengong-bengong saat Sungwoon mulai mendorongnya keluar rumah.
"Tunggu! Aku terkena skors. Aku tidak boleh ke pesta dansa. Kepala sekolah akan langsung mengeluarkanku kalau dia melihatku disana."
"Jangan khawatir. Aku akan mengubah penampilanmu sehingga kepala sekolah tidak akan mengenalimu."
Sungwoon melambaikan tongkat sihirnya dan tiba-tiba cahaya pink keluar dari tongkat itu dan mengelilingi Jihoon. Jihoon yang silau akan cahaya itu pun memejamkan matanya. Dan ketika dia rasa cahaya itu sudah menghilang, dibukalah matanya. Dia terkejut melihat bajunya telah berubah. Jihoon pun segera berlari ke arah cermin.
T-shirt kuning kebesaran lusuh dan celana pendek hitamnya sudah tergantikan dengan setelan tuxedo lengkap yang berwarna...pink. Tak lupa sepatu pantofel emas membungkus kakinya yang sebelumnya telanjang. Lalu poni yang biasa menutupi dahinya, kini terangkat rapi dengan pomade membuatnya tampak lebih dewasa. Eyeliner tipis di matanya membuat matanya yang bulat jauh lebih besar. Tak lupa bibirnya yang berwarna lebih cerah. Dia benar-benar seperti orang yang berbeda.
"Oke, tampaknya kau sudah siap. jadi, mari kita berangkat." Sungwoon menunjuk pada limosin hitam di depan rumahnya.
"Wah, bagus sekali." Jihoon terperangah melihatnya.
"Oh ya, sebelum kau pergi ada satu hal yang perlu kau ingat. Kau harus kembali sebelum tengah malam."
"Kenapa? Aku ingin berkeliling dulu dengan limosin ini." Rengek Jihoon.
"Sudah kukatakan, aku peri berpangkat rendah. Jadi kekuatanku tidak bisa bertahan lama. Kalau hanya membetulkan mug mungkin bisa, tapi aku belum pernah menggunakan kekuatan sebesar ini. Jadi jangan lupa kau harus kembali sebelum tengah malam, atau kepala sekolah akan memergokimu."
"Baiklah aku mengerti. Aku pergi dulu."
Lalu Jihoon pun masuk ke dalam limosin itu yang mengantarnya menuju sekolah, tempat pesta dansa itu dilangsungkan. Dia sebenarnya tidak yakin ingin menjadi pasangan pangeran, tapi setidaknya biarkan dia menikmati semua ini untuk malam ini. Pasti akan banyak makanan di pesta itu. Membayangkannya saja air liur Jihoon sudah menetes. Urusan pangeran itu belakangan.
TBC
.
.
Hello, ff ini udah masuk setengah jalan nih. Semoga idenya ngalir terus biar bisa selesai on time. Dan karena ini parody cinderella jadi konflik dan jalan ceritanya juga gak akan terlalu panjang, sama kayak cerita cinderella.
Chapter ini emang gak ada OngHwang, tapi Ang janji chapter depan bakal ada OngHwang momment. Makasih buat vote dan commentnya di chapter sebelumnya and please vote dan comment lagi di chapter ini ya. See you in the next chapter...
-Ang-
