Chapter 5
The Ball
.
.
.
Sudah hampir satu setengah jam pesta dansa ini berlangsung, namun Seongwoo masih belum menemukan Minhyun diantara ratusan tamu yang datang. Siapa yang menyangka aula sekolah ini sangat luas, jauh lebih luas dari balai kota atau desa yang pernah Seongwoo kunjungi. Terlebih Seongwoo akan memberikan presentasi tentang mengatasi kemarau panjang di negeri ini, sehingga antusias warga lebih tinggi dan banyak warga yang datang pada pesta dansa kali ini. Dan hal ini membuatnya lebih kesulitan dalam menemukan Minhyun diantara lautan manusia ini.
Seongwoo berharap dia dapat bertemu dengan Minhyun terlebih dulu sebelum memberikan presentasi. Disaat matanya sedang men-scanning ruangan tersebut, tiba-tiba sesosok pria dengan tuxedo putih tertangkap radar pandangannya. Pria itu berjalan ke arah pintu keluar dan Seongwoo yang meyakini pria itu Minhyun, secepat kilat bergerak mengikutinya tanpa menghiraukan panggilan dari pengawalnya.
Kakinya menuntun ke arah lapangan sepak bola yang mana Minhyun sedang duduk di salah satu bangku di pinggir lapangan. Kepalanya menengadah ke atas tampak menikmati bintang-bintang yang bertaburan. Cahaya lampu di sekeliling lapangan menyinari wajah tampannya. Mata rubah itu tampak tajam dengan eyeliner tipis yang membingkainya. Poni yang biasa menutup rapat dahinya terbuka dan menunjukkan sebagian kecil dahinya. Tampaklah pula sepasang alis yang terlukis sempurna. Bibir ranumnya tampak menggoda dengan sedikit liptint pink menghiasinya. Jangan lupakan hidung mancung membuat orang iri. Dan udara dingin di lapangan ini membuat pipinya merona merah muda.
Untuk sesaat pemandangan itu membuat Seongwoo terkesima hingga dia hanya mampu diam mematung. Tak hanya wajah Minhyun, tuxedo Minhyun yang berwarna putih pun tampak bersinar terkena cahaya lampu. Seongwoo benar-benar merasa seperti melihat seorang malaikat. Tiba-tiba saja seseorang yang menjadi objek kekagumannya menolehkan kepalanya ke arah Seongwoo.
Mata rubah itu membola menunjukkan keterkejutan akan kehadiran Seongwoo di sana. Namun itu hanya sesaat karena senyuman tulus hadir menghias wajahnya. Seongwoo yang awalnya terkejut pun tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum melihat senyum malaikatnya itu.
Dia melangkahkan kakinya menuju bangku yang diduduki Minhyun dan menempatkan diri di sampingnya.
"Kupikir kau tidak akan datang?"
"Tadinya memang begitu, tetapi ayah dan adik-adikku memaksaku untuk datang. Mereka bilang aku butuh bergaul," Minhyun berkata sambil terkikik. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya memandang langit.
Seongwoo agak kecewa ketika mendengar jawaban Minhyun. Dia berharap Minhyun antusias datang ke pesta ini sehingga mereka dapat bertemu lagi. Tapi jawaban Minhyun seolah menegaskan bahwa dia terpaksa datang.
"Mengapa kau berada di luar? Apa kau menyesal telah datang ke sini?" Seongwoo memandang wajah Minhyun yang masih menatap langit.
"Sebenarnya aku tidak punya alasan untuk menyesal. Pestanya luar biasa. Musiknya bagus, pengisi acaranya pun artis terkenal. Dan hidangannya juga lezat. Namun jujur, tadi aku sempat merasa menyesal untuk datang. Karena aku tidak bertemu dengan orang yang menjadi alasan utamaku untuk kesini."
Minhyun menolehkan wajahnya ke arah Seongwoo dan mata mereka bertatapan. Jarak mereka sangat dekat hingga Seongwoo mampu melihat betapa panjang dan lentik bulu mata Minhyun.
"Lalu apa kau masih menyesal sekarang?" tanya Seongwoo lirih sembari menatap bibir Minhyun dan lebih mendekatkan wajahnya. Dia dapat mendengar deru nafas Minhyun sekarang.
"Tidak…tidak lagi…" Minhyun mendesahkan jawabannya dan menutup matanya.
Bibir mereka bertemu dan debaran memenuhi dada Seongwoo. Berciuman bukanlah hal yang asing bagi Seongwoo. Namun dia belum pernah merasakan hal seperti ini. Dadanya berdebar hebat, perutnya terasa menggelitik seolah dia melompat dari ketinggian. Rasa hangat menyeruak di seluruh tubuhnya.
Ciuman mereka terasa murni dan penuh kelembutan, bukan nafsu maupun tuntutan seperti yang Seongwoo biasa lakukan pada teman kencannya. Seongwoo menggerakkan bibirnya dan melumat kecil. Dia meletakkan tangannya kanannya di pipi Minhyun dan mengusapnya lembut. Kemudian tangan itu bergerak ke tengkuk Minhyun dan menuntunnya untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan kirinya bersarang dengan nyaman di punggung Minhyun, bergerak lembut naik turun. Kedua tangan Minhyun yang semula hanya berdiam di samping tubuhnya pun mulai meringsek ke arah pundak Seongwoo untuk bertumpu.
Seongwoo menarik bibirnya dan pemandangan yang dilihatnya sangatlah luar biasa indah. Minhyun berada di hadapannya dengan mata terpejam, bulu mata menyapu pipinya. Bibirnya tampak agak merah membengkak dan sedikit terbuka sebagai usaha meraup oksigen. Wajahnya merona hebat dan tak lupa telinganya yang sangat memerah. Seongwoo tidak mampu menahan diri untuk tidak mengecupnya sekali lagi.
Setelah kecupan kedua mereka, diletakkanlah dahinya di dahi Minhyun. Minhyun akhirnya membuka matanya perlahan. Untuk sesaat mereka berdua tidak mengatakan apapun dan menikmati deru nafas mereka. Seongwoo lah yang pertama menjauhkan dirinya, memberi jarak sedikit untuk mereka berdua. Minhyun mendongakkan kepalanya mata rubah itu kembali menghipnotis Seongwoo. Butuh beberapa saat bagi Seongwoo hingga dia berhasil menemukan suaranya.
"Minhyun, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu." Seongwoo mulai memecah kebisuan mereka.
"Kau ingat saat kita pertama kali bertemu?" Minhyun menganggukkan kepalanya kecil.
"Aku tidak sepenuhnya jujur kepadamu."
Minhyun tampak terkejut, namun dia tetap diam menungu Seongwoo melanjutkan kalimatnya.
"Sebenarnya aku bukanlah staf istana. Sebenarnya aku adalah….."
"YANG MULIA!" Sebuah teriakan menyela perkataan Seongwoo.
Seorang pria dengan tubuh tegapnya berlari menghampiri Seongwoo. Jika ditelisik dari pakaiannya, dia pasti salah satu pengawal kerajaan. Pria itu membungkuk sebentar ke arah Seongwoo dan berkata.
"Maaf Yang Mulia, anda harus kembali ke dalam aula. Panitia mencari anda karena sebentar lagi anda harus memberikan sambutan dan presentasi."
Seongwoo dengan panik melihat ke arah Minhyun. Minhyun menatap ke arahnya dengan wajah yang tampak sangat terkejut. Tidak hanya itu, sirat kekecewaan juga nampak di matanya seolah-olah meneriakkan kata pembohong kepada Seongwoo.
"Minhyun, maafkan aku. Tolong dengarkan penjelasanku dulu. Aku…"
"Jangan biarkan para panita kebingungan dan tamu-tamu anda menunggu terlalu lama Yang Mulia. Sebaiknya ada masuk ke dalam sekarang. Saya permisi dulu."
Minhyun pun berbalik dan berjalan berlawanan arah dari aula.
"Minhyun tunggu!"
"Maaf Yang Mulia, tapi anda harus masuk sekarang."
Seongwoo menghela nafas gusar dan berjalan menuju aula.
.
.
.
"Hei, mengapa kau juga ikut? Bagaimana jika orang lain melihatmu?"
"Tenang saja. Kami kaum peri hanya dapat dilihat oleh orang yang kami pilih. Jadi kau jangan khawatir. Lagi pula aku tidak ingin melewatkan peristiwa yang bersejarah ini."
"Aduh jauh sekali sih parkirnya. Aku capek. Bisa-bisa aku berkeringat dan dandananku menjadi rusak. Padahal nanti ada Wanna One mengisi acara. Aku harus terlihat menarik di depan Park Jeojang," gerutu Jihoon.
Saat ini Jihoon dan Sungwoon sedang berjalan dari tempat parkir mobil ke aula. Sebenarnya alasan Sungwoon bukan itu. Dia hanya ingin memastikan Jihoon benar-benar mengikuti instruksinya. Jujur entah mengapa Sungwoon merasa ragu-ragu dengan keputusannya kali ini. Padahal pada awalnya dia sangat yakin, namun setelah dia bertemu Jihoon secara langsung, dia menjadi agak ragu. Terlebih lagi melihat Jihoon yang tampaknya malas dan selalu menggerutu. Bisakah orang seperti ini mengubah pangeran? Sudahlah lebih baik Sungwoon membuktikannya sendiri. Semuanya akan jelas jika Jihoon sudah bertemu langsung dengan pangeran.
Ketika Jihoon memasuki aula, semua mata memandang kepadanya, termasuk sang pangeran. Tiba-tiba saja ruangan menjadi sunyi. Ternyata Jihoon masuk ketika sang Pangeran sedang melakukan pidato sambutan. Para tamu tampak terpesona dengan Jihoon, terlebih lagi dengan tuxedo pink nya yang menarik perhatian.
Sungwoon yang mengekor di belakang Jihoon serta merta melihat ke arah pangeran. Dia tidak sabar menanti reaksi sang Pangeran. Dia berharap sang Pangeran akan langsung terpesona dan tidak berkedip memandang Jihoon lalu mengajaknya berdansa seperti Cinderella dan pangeran impiannya.
Namun kenyataan memang tak seindah harapan. Alih-alih terpesona pada Jihoon, sang Pangeran hanya tampak sedikit bingung dengan gangguan kecil itu. Dia hanya memandang Jihoon sebentar lalu melanjutkan sambutannya kembali. Sang Pangeran bahkan terlihat lebih lesu dan tidak bersemangat. Sungwoon pun dibuat bingung oleh hal ini. Apa dia membuat kesalahan?
"Wah ada bebek panggang! Ada steak juga!"
Jihoon yang melihat buffet makanan yang tersaji di sana langsung berlari ke arah makanan, tanpa mempedulikan sambutan Pangeran.
"Tunggu! Kau mau ke mana?" teriak Sungwoon yang tentu saja hanya di dengar oleh Jihoon.
Mata Jihoon hanya terpaku pada makanan jadi dia tidak mengindahkan panggilan Sungwoon.
"Hei! Mengapa kau malah enak-enakan makan di sini? Kau harus menarik perhatian pangeran! Hei, mengapa kau tidak menjawabku?" tanya Sungwoon jengkel.
Jihoon menghentikan kunyahnya, namun mulutnya masih terlihat penuh.
"Kalau aku menjawabmu, aku bisa dikira orang gila. Sudah jangan ganggu aku makan. Aku lapar. Aku harus mengisi energi sebelum penampilan penutup dari Wanna One nanti." Jawab Jihoon disela kunyahannya.
Ingin sekali Sungwoon menyihir Jihoon menjadi katak. Tapi dia tidak mau mengambil resiko, apalagi dengan banyaknya orang di sini. Jadi Sungwoon memutuskan untuk mengawasi sang Pangeran saja.
Sambutan pangeran sudah selesai dan sekarang dia sedang bersiap untuk memberikan presentasinya guna menanggulangi kemarau ini. Namun baru sesaat dia memulai presentasi, pintu aula kembali terbuka. Kali ini seorang pemuda bertuxedo putih masuk. Pemuda itu tampan sekali. Tidak, tampan bukanlah kata yang tepat. Mempesona dan elegan. Itulah kata yang tepat untuknya. Sungwoon menyadari, bukan dia saja yang terpesona. Seluruh tamu di ruangan ini juga tampak terpesona dan mereka mulai berbisik-bisik.
Pemuda itu memandang ke arah sang Pangeran lalu dia membungkuk sedikit.
"Maafkan hamba. Silahkan dilanjutkan Yang Mulia."
Lalu dia berjalan ke arah kerumunan tamu.
"Eh Minhyun-hyung," celetuk Jihoon.
"Kau mengenalnya?"
"Tentu saja, dia kakak tiriku. Dia sangat baik dan menyayangiku. Tidak seperti Daehwi yang berisik dan pengganggu. Dia tampan kan?" Jihoon kembali melanjutkan makannya.
Sungwoon mengalihkan pandangannya dari pemuda itu ke arah Pangeran. Dan yang membuatnya terkejut adalah dia melihat mata Pangeran yang memandang pemuda itu dengan penuh kerinduan dan penyesalan. Dia terus menatap si pemuda dan tidak melanjutkan presentasinya. Hingga akhirnya salah satu pengawalnya mendekatinya dan berdeham sehingga menyadarkannya untuk melanjutkan presentasinya. Namun sepanjang sang Pangeran memberikan presentasinya, matanya tidak pernah lepas dari si pemuda. Dan saat itulah Sungwoon menyadari seusatu.
"Jihoon, sepertinya aku membuat kesalahan."
.
.
.
Minhyun merasakan banyak mata memandangnya saat memasuki aula lagi. Dia merutuki dirinya yang kembali saat Seongwoo memberikan presentasinya. Seharusnya dia masuk lagi saat Wanna One tampil sehingga tidak ada yang menyadarinya. Sebenarnya bukan pandangan orang-orang yang membuatnya khawatir, namun Seongwoo yang tidak melepas pandangannya darinya.
Setelah menenangkan dirinya selama beberapa saat, akhirnya Minhyun memutuskan untuk kembali ke aula. Jujur dia sangat terkejut dengan kenyataan bahwa Seongwoo adalah sang Putra Mahkota. Dia juga sedikit kecewa dengan Seongwoo yang tidak jujur kepadanya. Namun dia sadar jika sikapnya sangat kekanak-kanakan. Seharusnya dia bersikap lebih dewasa dan membiarkan Seongwoo memberikan penjelasannya, bukannya memilih untuk pergi.
Minhyun memandang Seongwoo yang berada di podium. Dia terlihat menawan dan mempesona dengan setelan resmi kerajaannya. Mengapa Minhyun begitu bodoh tidak menyadari lambang anggota kerajaan yang tersemat di dada Seongwoo.
Mungkin Minhyun terlalu sibuk memandang wajah Seongwoo tadi. Matanya yang tajam, dahinya yang indah, rahangnya yang tegas dan tak lupa bibirnya yang menjadi candu bagi Minhyun. Pikirannya melayang ke peristiwa yang terjadi di lapangan tadi. Oh tuhan, dia berciuman dengan pangeran. Dia pasti sudah gila. Wajah dan telinga Minhyun memerah mengingat hal itu.
Tiba- tiba Minhyun merasa khawatir. Dia paham dengan reputasi Seongwoo yang selalu bergonta-ganti pasangan. Apakah dia juga akan menganggap Minhyun hanya sebagai mainannya seperti teman kencannya yang lain. Namun dia tidak ingin berasumsi. Terlalu banyak asumsi membuatnya gila.
Dia akan bersikap dewasa dan mendengar penjelasan Seongwoo. Kemudian, dia akan menanyakan tentang persaan Seongwoo yang sebenarnya. Karena jika benar Seongwoo hanya mempermainkannya, maka Minhyun akan merasakan patah hati untuk yang pertama kalinya.
"Kita sedang dihadapkan dengan kemarau panjang yang tidak berujung. Dan kami paham desa inilah yang paling terkena dampaknya karena sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi sebagian besar mata pencaharian penduduk disini. Pihak istana sudah berusaha keras untuk membantu meringankan beban kalian dengan memberikan uang bantuan langsung. Namun kami sadar hal itu tidak akan bertahan lama. Yang kita butuhkan adalah solusi untuk jangka panjang."
Seongwoo memandang ke arah Minhyun. Dan Minhyun pun merasa kikuk. Apakah Seongwoo akan mengikuti sarannya? Ini tidak mungkin. Lalu Seongwoo melanjutkan presentasinya.
"Seseorang membagi ide jeniusnya kepadaku tentang solusi jangka panjang ini. Kita harus memperbaiki sistem irigasi kita. Kita tidak dapat mengandalkan hujan. Dan sungai pun cukup jauh. Jadi solusi yang paling tepat adalah kita membuat bendungan."
Bisik-bisik mulai terdengar saat Seongwoo menyatakan hal tersebut. Namun Seongwoo tampak tidak terpengaruh. Dengan mata tetap memandang Minhyun, dia melanjutkan presentasinya.
"Kita akan membangun pipa panjang yang akan menghubungkan sungai dan bendungan. Kemudian memasang pipa yang lebih kecil untuk dialirkan ke rumah-rumah penduduk. Dan jika musim hujan telah datang kita dapat menampung airnya. Kami paham, biayanya mungkin akan lebih mahal dan memakan banyak waktu, tapi percayalah ini mampu mengatasi masalah kita."
Tepukan riuh menggema di aula setelah Seongwoo menyelesaikan presentasinya. Para warga setuju dengan usulan Seongwoo. Dalam hati Minhyun sedikit merasa bangga, karena ternyata idenya diterima. Kepala desa mengangkat tangannya dan tepukan orang-orang berhenti.
"Maaf Pangeran, siapakah yang memberikan ide tersebut?"
Seongwoo menatap mata Minhyun tajam dan Minhyun menahan nafasnya.
"Yang memberiku ide tersebut adalah orang yang sangat berarti untukku." Seongwoo perlahan turun dari podium.
"Orang yang mengajariku betapa pentingnya rakyat negeri ini. Orang yang percaya bahwa aku mampu memimpin negara ini." Seongwoo bergerak ke arah kerumunan para tamu.
"Orang yang membuatku untuk pertama kalinya merasakan cinta." Seongwoo kini berdiri tepat di hadapan Minhyun. Kemudian dia berlutut dan menjulurkan tangannya.
"Maukah kau berdansa denganku, Hwang Minhyun?"
.
.
.
.
.
.
.
"Minhyun-hyung, JANGAN!"
TBC
.
.
Hai…hai….ada yang nunggu ff ini? Adakah yang panik ini bakal jadi OngHwang atau Ongwink? Tenang aja ynag jelas bakal happy ending kayak cerita Cinderella. Sorry kalau aku jarang reply, tapi semua comment kalian aku baca koq.
Btw chapter depan mungkin jadi chapter terakhir, karena waktunya udah mepet. Jadi kemungkinan aku update di ultah Seongwoo. Tapi itu belum pasti juga. Kalo sekiranya satu chapter gak cukup buat nyelesain semua konfliknya ya terpaksa harus aku bagi dua. Chapter ini juga kayaknya kepanjangan ya. Semoga kalian gak bosen ya bacanya.
Sekali lagi tenkyu buat semua yang udah baca dan review. Review kalian penyemangat aku buat nulis. Kalau bisa favourite dan follow story nya juga ya.
Okay, see you in the next chapter….
-Ang-
