Chapter 6

The Glass Shoes

.

.

.

Jihoon meletakkan piring bekas bebek panggangnya. Wah hidangan di sini sungguh lezat. Mereka pasti membawa koki dari istana. Ternyata keputusannya untuk datang kesini sangatlah tepat. Dia bisa menikmati hidangan di sini dan nanti dia akan bisa melihat Park Jeojang secara langsung. Dia tidak peduli pada pangeran yang sedang memberikan presentasi. Kondisi perutnya jauh lebih penting.

Jihoon kini mengambil daging steak, dan saat dia asyik memotong steaknya Sungwoon berkata,

"Jihoon, sepertinya aku membuat kesalahan."

"Kesalahan apa maksudmu?"

Jihoon menatap ke arah Sungwoon lalu meletakkan pisau dan garpunya. Dia mengikuti arah pandang Sungwoon. Di sana terlihatnya sang Pangeran berjalan ke arah Minhyun-hyungnya dan berlutut. Seketika luapan emosi membakar Jihoon dan tanpa disadarinya dia berteriak.

"Minhyun-hyung, JANGAN!"

Kedua insan itu menolehkan kepala mereka ke arah Jihoon. Tidak hanya mereka, tamu-tamu yang lain pun juga memandang ke arah Jihoon.

"Dasar bodoh! Kau menghancurkan semuanya Aduh, seharusnya aku tidak menyuruhnya kesini. Jihoon berhenti!" teriak Sungwoon, tapi Jihoon mengacuhkannya. Jihoon pun berjalan ke arah Minhyun dan Seongwoo.

Minhyun tampak terperanjat melihat Jihoon di sini. Penampilannya pun tampak berbeda.

"Jihoon, apa yang kau lakukan di sini?"

"Hyung, kau jangan termakan rayuannya. Dia itu Pangeran berengsek. Dia pasti hanya ingin mempermainkanmu." Kata Jihoon marah seraya menuding-nuding wajah Soengwoo.

"Kau pemimpin unjuk rasa itu kan? Bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah seharusnya kau di skors?" tanya Seongwoo kesal karena Jihoon merusak rencananya.

"Jihoon bagaimana kau bisa ada di sini? Dan baju siapa itu?" Minhyun bertanya lembut sembari berusaha menenangkan Jihoon yang masih melotot marah pada Seongwoo.

Jihoon tidak bisa menerima hal ini. Berani-beraninya pangeran berengsek itu mendekati kakak kesayangannya. Pangeran itu tidak pantas bagi kakaknya yang berhati malaikat.

"Park Jihoon! Apa yang kau lakukan di sini?"

Sebuah suara yang amat dikenal Jihoon menyapa gendang telinganya. Gawat, itu adalah kepala sekolah Jihoon. Dia harus cepat pergi dari sini sebelum kepala sekolah menangkapnya. Jihoon segera menarik tangan Minhyun dan berlari ke arah pintu keluar.

Minhyun yang sadar bahwa adiknya dalam bahaya, hanya menurut ketika tangannya ditarik oleh Jihoon. Jihoon yang tergesa-gesa tidak menyadari ada kabel yan melintang dihadapannya. Kabel yang dulu pernah membuat Minhyun hampir terjatuh, kini membuat Jihoon menjadi korbannya. Jihoon pun terhuyung. Beruntung Minhyun memegang tangannya hingga dia tidak terjatuh. Namun sepatu pantofel emas Jihoon tersangkut di kabel itu.

"Park Jihoon, berhenti! Kemari kau anak nakal!"

Merasa ketakutan melihat kepala sekolah yang semakin mendekat, Jihoon pun terus berlari meninggalkan sepatunya sambil masih menarik Minhyun. Mereka keluar dari aula menuju ke tempat parkir di mana Limosinnya berada.

"Mobil siapa ini Jihoon? Kau belum cukup umur untuk menyetir."

Jihoon dapat merasakan Minhyun mulai panik, walaupun nada suaranya tetap berusaha tenang.

"Sudah hyung, kau masuk saja, sebelum kepala sekolah datang."

Minhyun pun duduk di kursi belakang dan Jihoon duduk di sebelahnya.

"Lalu siapa yang akan menyetir Jihoon?" tanya Minhyun bingung, karena tidak ada seseorang pun di kursi pengemudi.

Tiba-tiba sesosok masuk ke dalam limosin dan duduk di sebelah Jihoon.

"Aku yang akan menyetir." Sosok itu mengayunkan tongkatnya dan limosin itu pun melaju.

"Apa? Siapa dia Jihoon? Mengapa dia punya sayap?" tanya Minhyun khawatir.

"Aku adalah seorang peri, namaku Ha Sungwoon."

"Lho, hyung bisa melihatnya?"

"Sudah ku bilang kaum peri hanya dapat dilihat oleh orang yang kami pilih, dan aku memilih Minhyun untuk dapat melihatku."

Kemudian Sungwoon menjelaskan tujuan kedatangannya ke negeri ini. Minhyun yang mendengar penjelasan Sungwoon hanya mampu ternganga.

"Tapi aku melakukan kesalahan, kupikir Jihoon adalah orang tepat sebagai pendamping pangeran. Namun orang yang sebenarnya adalah kau."

"Tidak! Aku tidak setuju! Aku tidak rela hyung kesayanganku kau umpankan pada manusia bejat seperti pangeran. Kau cari orang lain saja."

Jihoon benar-benar tidak habis pikir, begitu banyak orang di negeri ini, mengapa kakaknya yang harus dikorbankan. Jihoon tidak mengetahui bahwa sebenarnya Minhyun dan Seongwoo saling mencintai. Ia hanya tahu Seongwoo adalah orang yang buruk.

"Kenapa kau memutuskan sendiri? Coba kita tanyakan dulu kepada Minhyun, dia mau atau tidak?" tanya Sungwoon sebal.

"Tidak perlu. Minhyun-hyung pasti menyetujui apa yang kukatakan. Kita sudah sampai, sebaiknya kita turun saja."

Jihoon tidak menyadari bahwa sedari tadi Minhyun hanya mampu diam untuk menutupi kekecewaannya.

.

.

.

Sementara itu pesta dansa yang sempat terhenti sebentar karena keributan tadi, dilanjutkan kembali. Namun walau begitu, pikiran Seongwoo tidak bisa terlepas dari peristiwa tadi.

'Ternyata Minhyun adalah kakak si ketua unjuk rasa itu. Bagaimana aku bisa mendekatinya jika adiknya tampak begitu membenciku' batin Seongwoo.

"Maaf Yang Mulia, hamba menemukan sepatu ini. Sepertinya ini adalah milik pemuda yang membawa pergi tuan Hwang," seorang pengawal Seongwoo datang membawa sebuah pantofel emas.

"Kau benar ini adalah sepatu miliknya. Sayang aku tidak tahu di mana dia tinggal. Aku ingin menanyakannya kepada kepala sekolah, tapi dia belum kembali semenjak mengejar mereka keluar."

"Permisi Yang Mulia," sebuah suara di belakang Soengwoo mengalihkan atensi Seongwoo dari sepatu yang dipegangnya. Seorang pria setengah baya dan seorang lelaki remaja berdiri di hadapan Seongwoo.

"Maaf jika anda ingin mengajak berdansa, saya tidak bisa. Anda bisa mengajak orang lain." Jawab Seongwoo dengan berusaha agak sedikit tampak sopan.

"Apa?" pria itu terlihat bingung dan remaja yang berada disebelahnya pun mendengus sembari merotasikan matanya.

"Bukan Yang Mulia, bukan itu. Aku Hwang Jisung, ayah dari Minhyun dan Jihoon. Dan ini adalah anak bungsuku Daehwi."

"Salam Yang Mulia," remaja itu memberi salam dengan nada datar dan setengah hati.

'Gawat, tampaknya kedua adik Minhyun tidak menyukaiku' batin Seongwoo panik.

"Aku sudah melihat dan mendengar semuanya. Dan aku tahu di mana keberadaan Minhyun. Namun sebelum aku memberi tahumu di mana dia, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu."

Tiba-tiba suasana menjadi cukup serius dan Seongwoo takut jika Jisung juga tidak menyukainya. Walaupun itu wajar bagi mereka untuk tidak menyukai Seongwoo mengingat semua perilaku Seongwoo selama ini. Namun Seongwoo benar-benar serius kali ini dan dia tidak main-main. Dia pun ingin berubah agar mampu menjadi raja yang dicintai rakyatnya dan juga pendamping yang membanggakan Minhyun.

"Maafkan atas kelancangan hamba, tetapi apakah anda benar-benar serius dengan Minhyun? Minhyun sudah mengorbankan semuanya untuk keluarganya ini. Pendidikannya, masa mudanya, kebebasannya dan kehidupannya. Jika anda ingin mengorbankan hatinya juga hanya untuk mengisi waktu senggang anda, saya mohon anda jangan mendekati Minhyun lagi."

Seongwoo membelalakan matanya, terkejut dengan perkataan Jisung. Sepertinya dia sangat serius dan tidak main-main. Seongwoo salut kepada ayah yang satu ini, dia sangat mencintai anak-anaknya dan tidak gentar walaupun yang dihadapinya adalah seorang putra mahkota.

Seongwoo segera mengatasi keterkejutannya dan menatap balik Jisung dengan mata yang tulus dan sungguh-sungguh.

"Saya serius akan perasaan saya terhadap Minhyun. Saya memang belum pernah merasakan apa itu cinta. Tapi saya tidak pernah seyakin ini seumur hidup saya. Perasaan saya kepada Minhyun tidak main-main. Saya benar-benar mencintainya. Dan saya mohon anda memberikan restu anda kepada saya untuk menjadi pendamping hidup Minhyun."

Jisung terlihat lega mendengar penjelasan Seongwo dan dia pun menganggukkan kepalanya.

"Baiklah Yang Mulia. Saya dapat melihat ketulusan anda terhadap anak saya. Dan saya akan memberikan restu saya."

Ingin rasanya Seongwoo berteriak setelah mendengar jawaban Jisung, namun ternyata Jisung belum selesai berbicara.

"Namun keputusan ada di tangan Minhyun. Perlu anda ketahui, Minhyun sangat menyanyangi Jihoon. Dia rela berkorban apapun untuk Jihoon termasuk kebahagiannya sendiri. Dan jika Jihoon tidak merestui anda, maka kemungkinan besar Minhyun tidak akan menerima anda sebagai pendamping hidupnya."

Pada saat itulah Seongwoo merasa dihempaskan kembali ke dasar jurang.

.

.

.

Pagi ini Minhyun bangun dengan perasaan yang cukup berat. Kenyataan soal Seongwoo, kehadiran Sungwoon serta sikap Jihoon yang tampak membenci Seongwoo. Jujur Minhyun pusing menghadapi semua itu. Dia cukup bersyukur ketika tadi malam ayahnya dan Daehwi pulang, mereka tidak banyak bertanya.

Saat ini mereka berempat sedang berada di ruang makan, namun tampaknya tak satu pun dari mereka yang benar-benar berselera makan. Ruang makan yang biasanya ramai dengan pertengkaran Jihoon dan Daehwi terdengar sepi. Hanya denting sendok dan garpu yang terdengar.

Dari ujung matanya Minhyun dapat melihat Sungwoon berdiri di dekat kulkas. Matanya menatap penuh kejengkelan ke arah Jihoon. Tapi Jihoon seolah tidak peduli. Jisung menghela nafasnya beberapa kali dan Daehwi terus mendecak. Minhyun pun hanya mengaduk-aduk oatmealnya tanpa menyendoknya sekalipun.

"Aku tidak tahan lagi!" tiba-tiba Daehwi bangkit dari duduknya dan matanya nyalang menatap Jihoon.

"Kenapa kau begitu egois! Minhyun-hyung sangat menyayangimu, bahkan lebih daripada aku yang adik kandungnya. Dia telah berkorban banyak untukmu. Saat dia hampir mendapatkan kebahagiaanya, kau malah menghalanginya."

"Benar! Pikirkan juga rakyat negeri ini" Sungwoon ikut meneriaki Jihoon, namun jelas Daehwi tidak mendengarnya.

"Aku tidak menghalanginya! Aku justru mencegahnya dari kehancuran. Ong Seongwoo adalah lelaki berengsek. Bagaimana bisa kau membiarkan Minhyun-hyung bersamanya! Bukannya kau juga membencinya? Mengapa sekarang kau membelanya?" Jihoon masih tetap bersikeras dengan pendiriannya.

"Pangeran sudah berubah, tidakkah kau lihat ketulusan di matanya saat melihat Minhyun-hyung?" Daehwi pun bersikukuh tidak mau kalah.

"Sudah hentikan!" Minhyun yang tidak tahan dengan semua pertengkaran ini akhirnya meledak. Mereka semua tampak terkejut. Minhyun yang mereka kenal selalu bersikap tenang, walaupun jika dia marah, dia hanya akan diam.

"Aku lelah dengan semua ini, biarkan aku sendiri dan jangan membahas masalah Seongwoo lagi."

Minhyun pun pergi beranjak dari sana menuju kamarnya dengan berusaha menahan air matanya. Sayangnya dia gagal dan beberapa air mata lolos berlinang di pipinya.

.

.

.

"Apa kau puas sekarang telah membuat hyung mu menangis?" Jisung bertanya dengan lirih.

Jisung sering kali memarahi dan meneriakinya, namun Jihoon tidak pernah merasa setakut ini kepada ayah tirinya.

"Hyung mu sudah berkorban semuanya untukmu. Dia tulus menyayangimu. Tidak bisakah kau berkorban untuknya?" Jisung benar-benar tampak putus asa.

"Aku rela kau mengusirku dari rumah ini setelah kau genap berusia dua puluh tahun. Tapi kumohon, berikan Minhyun kebahagiaannya."

Jihoon merasa tertampar dengan perkataan Jisung. Keyakinannya mulai goyah. Apakah yang dilakukannya salah. Dia sangat menyayangi kakak tirinya lebih dari apapun. Dan dia benar-benar takut jika Minhyun hancur karena Seongwoo mengkhianatinya.

Namun sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam Jihoon tahu alasannya lebih dari itu. Dia hanya tidak siap untuk kehilangan Minhyun. Jika Minhyun menerima Seongwoo sebagai pendampingnya, maka dia akan dibawa pergi darinya dan Minhyun akan meninggalkannya. Jihoon tidak siap akan hal itu.

Tiba-tiba bell rumah berbunyi.

"Akan ku buka."

Jihoon mengambil kesempatan ini untuk keluar dari ruang makan yang menyesakkan itu. Namun betapa terkejut dirinya ketika dia mengetahui siapa yang datang ke rumahnya.

"Aku Ong Seongwoo, datang untuk melamar Hwang Minhyun."

.

.

.

"Minhyun!"

Sungwoon tiba-tiba muncul di hadapannya dengan wajah yang tercabik antara senang dan panik.

"Seongwoo di sini. Dia datang untuk melamarmu dan sekarang dia sedang bersitegang dengan Jihoon."

"APA?"

Minhyun segera berlari keluar kamarnya menuju ruang tamu. Disana Seongwoo berdiri dengan tangan terkepal di sisinya dan Daewhi dan Jisung berusaha memegang Jihoon yang berusaha menerjang Seongwoo.

"Aku menolak lamaran ini. Kau lelaki berengsek. Kau tidak pantas untuk kakakku!" Jihoon masih berusaha memberontak dari kekangan Jisung dan Daehwi.

"Aku benar-benar mencintai kakakmu dan aku berjanji tidak akan menyakitinya. Kau bisa membunuhku jika aku berbohong."

"Aku tidak percaya padamu. Kau hanya memanfaatkan kakakku untuk mendapatkan tahta. Yang Mulia Raja tidak akan memberimu tahta jika kau tidak menemukan pendamping. Maka dari itu kau ingin menikahi kakakku!"

"Jika kau tidak percaya, baiklah. Akan ku tinggalkan istana untuk hidup bertani di desa ini. Akan ku lepas gelar putra mahkotaku."

Tangan Seongwoo bergerak menuju dadanya untuk melepas lambang anggota kerajaan yang tersemat di dadanya. Semua orang di sana tampak terkejut, termasuk Jihoon. Sepertinya dia tidak menyangka Seongwoo akan seserius ini.

"Seongwoo jangan!" Minhyun segera berlari ke arah Seongwoo dan menahan tangannya untuk mencegah tindakannya.

"Minhyun," Seongwoo terkejut dengan kehadiran Minhyun.

"Aku datang Minhyun. Aku datang padamu," Matanya menatap Minhyun penuh harap dan digenggamnya tangan Minhyun yang telah mencegahnya untuk melepas gelarnya tadi.

"Aku sangat mencintaimu Minhyun. Dan aku yakin kau juga merasakan hal yang sama. Jadi kumohon menikahlah denganku." Seongwoo berlutut lagi di hadapan Minhyun.

"Aku…." Minhyun merasa bimbang. Dia ingin sekali menjawab Seongwoo dengan 'Iya', namun ketika netranya bertabrakan dengan mata Jihoon yang berkaca-kaca penuh kesedihan dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

"Tidak hyung, jangan terima, jangan tinggalkan aku….jangan tinggalkan aku."

Jihoon yang tidak kuasa menahan dirinya akhirnya meluapkan tangisannya.

"Ibu meninggalkan ku, ayah juga meninggalkan ku, tidak kau hyung, jangan tinggalkan aku, aku tidak ingin sendiri."

Jihoon menangis terseduh dan tubuhnya merosot. Jisung dan Daehwi yang terkejut dengan ucapan Jihoon melonggarkan pegangan mereka terhadap Jihoon.

Hati Minhyun terasa pedih melihat keadaan Jihoon. Dia sangat mencintai Seongwoo, tapi dia juga tidak bisa melihat Jihoon seperti ini. Denga terpaksa Minhyun pun mulai melepaskan genggaman Seongwoo.

"Maafkan aku Seongwoo."

TBC

.

.

Maafkan aku, ff ini gak bisa tamat di birthday nya Ong. Aku gak nyangka ternyata bakal sepanjang ini, jadi aku harus lanjut ke chapter berikutnya. Soalnya kalo aku paksain tamat di chapter ini rasanya koq kayak dikejar-kejar. Jadi tolong sabar buat chapter terakhirnya. Tapi tenang, walaupun gak bisa Ang tamatin di OngHwang week, Ang bakal usahain supaya tamat di OngHwang month.

Tenkyu buat semua yang udah baca dan review di chapter-chapter sebelumnya. Jangan lupa review lagi di chapter ini. See you in the last chapter...

-Ang-