Chapter 7
Happily Ever After?
.
.
.
Sebulan telah berlalu sejak Minhyun menolak Seongwoo. Dan rumah ini kembali seperti sedia kala, setidaknya itulah yang ingin Jihoon percayai. Jisung masih mengurus perkebunan, tapi ayah tiri nya itu sudah jarang menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah. Daehwi pun menjadi jarang bertengkar lagi dengannya. Dia bahkan lebih terlihat banyak mengalah. Sepertinya mereka masih kecewa terhadap Jihoon. Sungwoon juga masih tetap berada di sini. Dia bilang dia belum bisa kembali sebelum misinya berhasil. Dan selama dia tinggal di sini, dia tidak segan menunjukkan rasa jengkelnya terhadap Jihoon. Dia bahkan berkali-kali menyindir Jihoon.
"Betapa malang rakyat negeri ini. Mereka harus menderita merasakan kemarau panjang hanya karena keegoisan seseorang."
Namun Jihoon tidak terlalu peduli dengan mereka semua, Minhyun lah yang dia pedulikan. Jihoon sempat khawatir Minhyun akan mengurung dirinya setelah kejadian itu, namun nyatanya tidak. Kakak tirinya masih berktifitas seperti biasanya. Mengurus rumah, mengurus Jihoon dan Daehwi dan terkadang membantu di perkebunan juga. Dia juga tidak pernah membahas soal Seongwoo, seolah–olah kejadian itu tidak pernah terjadi.
Tapi Jihoon tahu bahwa dia tidak bisa menipu dirinya sendiri. Walaupun Minhyun selalu tersenyum, tapi sorot matanya meredup dan menyiratkan kesedihan. Dia pun tampak sering melamun. Apakah Jihoon melakukan kesalahan?
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi Jihoon masih tidak bisa tidur. Dia pusing memikirkan semua masalah ini. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ketika kakinya hendak melangkahkan ke pintu dapur, tiba-tiba dia mendengar suara isakan. Isakan itu tidak keras memang, namun senyapnya malam membuat isakan itu terdengar memilukan.
Di sana, di salah satu kursi makan, Minhyun duduk membelakangi pintu dapur dengan bahu bergetar. Jihoon tidak bisa menyaksikan ini. Jika dia tidak bisa hidup tanpa Minhyun, maka dia akan lebih memilih mati daripada melihat Minhyun terluka seperti ini.
"Hyung…" Jihoon memanggilnya pelan.
Minhyun tampak terkejut dan langsung menegakkan badannya. Dia berusaha cepat-cepat menghapus air matanya dan berbalik menghadap Jihoon.
"Jihoon, kau belum tidur?"
Minhyun bertanya lembut dengan berusaha tersenyum. Tapi Jihoon masih bisa melihat dengan jelas jejak air mata di pipi Minhyun.
"Apa kau menangis hyung?"
"Tidak, aku tidak menangis. Aku hanya menguap sehingga mengeluarkan air mata," elak Minhyun.
"Kenapa kau belum tidur? Apa kau lapar? Mau hyung buatkan ramen?"
Minhyun berjalan ke arah lemari dapur dan berusaha mencari ramen instan di laci atas.
"Apa kau menangis karena Pangeran?"
Pergerakan Minhyun terhenti sesaat, namun dia kembali melanjutkan pencarian ramen instannya.
"Apa maksudmu Jihoon? Aku tidak….."
Perkataan Minhyun terpotong ketika sepasang tangan melingkar di perutnya.
"Maafkan aku hyung," Jihoon mulai terisak.
"Jihoon, kenapa kau menangis?"
Minhyun membalikkan badannya dan memeluk Jihoon. Jihoon semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku hyung, aku sudah bersikap egois. Aku memaksamu untuk melepaskan Pangeran." Isakan Jihoon semakin menjadi.
"Tidak Jihoon, kau tidak memaksaku. Akulah yang membuat keputusan ini. Kau jangan menyalahkan dirimu."
"Tapi kau tidak bahagia hyung."
"Tidak, aku sadar jika keluarga ini juga masih membutuhkanku. Kau dan Daehwi masih sekolah dan ayah akan kerepotan jika dia sendirian. Aku tidak bisa hanya memikirkan diriku sendiri."
"Tapi hyung…."
"Tidak ada tapi-tapian, aku sudah memutuskan." Jawab Minhyun final.
Jihoon pun semakin merasa bersalah mendengar jawaban Minhyun.
"Baiklah hyung," Jihoon mengiyakan, namun di dalam hatinya dia berjanji akan mengembalikan kebahagian Minhyun. Dan hanya ada satu orang yang mampu membantunya.
.
.
.
Seongwoo sedang mengawasi pembangunan bendungan. Udara di tempat ini sangat panas. Selama ini dia berdiam diri di dalam istana yang ber-AC, sehingga dia tidak terlalu terpengaruh dengan kemarau yang melanda negeri ini. Tapi setelah dia mengalaminya sendiri, dia pun mengerti penderitaan rakyatnya. Dan dia berjanji pada dirinya untuk bersikap lebih baik dan bijaksana untuk rakyatnya.
Seongwoo berusaha menyibukkan dirinya dengan semua pembangunan bendungan ini untuk melupakan Minhyun. Awalnya dia pikir akan mudah melupakan Minhyun semudah melupakan teman kencannya selama ini. Namun ternyata dia salah. Bahkan ketika beberapa gadis-gadis cantik dan pria-pria tampan berusaha mendekatinya, dia tetap tidak merasakan apapun. Dia bahkan mulai membandingkan kelebihan Minhyun dengan mereka. Hal itu berujung dengan dirinya mengakui bahwa dia benar-benar jauh cinta kepada Minhyun. Mungkin ini karma bagi Seongwoo yang sering mempermainkan hati orang.
Minggu ini adalah minggu terakhirnya di desa ini, setelah itu dia akan kembali ke istana sebelum memulai pelatihannya di kamp militer di perbatasan. Seharusnya dia kembali setelah acara pesta dansa, tetapi dia meminta ijin Raja untuk memulai pembangunan bendungan, setelah itu dia akan meminta warga desa untuk melanjutkan pembangunan ini dan diawasi oleh menteri pembangunan. Seongwoo berharap dia dapat melihat Minhyun untuk terakhir kalinya sebelum dia kembali. Namun dirinya terlalu pengecut untuk menemui Minhyun. Dirinya takut akan penolakan Minhyun lagi.
"Salam Yang Mulia, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda."
Di belakang pengawal itu berdiri sesosok pemuda yang Seongwoo yakin tidak akan pernah ditemuinya lagi.
"Jihoon?"
"Salam Yang Mulia, bisakah kita berbicara empat mata?"
Kini Seongwoo dan Jihoon berada di salah satu tenda peristirahatan di dekat situs pembangunan bendungan.
"Apa kau tidak keberatan dengan air putih? Kami tidak punya kopi atau pun teh di sini," tawar Seongwoo
"Tidak perlu Yang Mulia. Saya tidak akan lama di sini."
Seongwoo tidak tahu apa yang terjadi pada Jihoon, tapi dia tampak tidak baik.
"Bagaimana kabar Minhyun?" Seongwoo tidak tahan untuk tidak menanyakan hal ini.
"Menurut anda?"
"Aku tidak tahu pasti, aku selalu berharap yang terbaik untuknya. Dan aku menghargai keputusannya. Walaupun di lubuk hatiku, aku berharap dia akan merasakan sama seperti yang kurasakan sekarang."
"Lalu apa yang anda rasakan?"
Seongwoo menghela nafasnya panjang, seketika hatinya berdenyut nyeri.
"Entahlah, mungkin sakit hati, terluka, kecewa, tapi yang jelas adalah kerinduan. Aku rindu senyumnya, kebaikannya, keberadaannya. Aku ingin melihatnya, setidaknya untuk yang terakhir kalinya sebelum aku kembali ke istana."
"Lalu kenapa anda tidak menemuinya lagi?"
"Dia menolakku Jihoon. Selama ini tidak ada yang menolakku, dia adalah satu-satunya orang yang menolakku."
"Lalu apa hal itu melukai ego anda?"
"Apa maksudmu?"
"Mengapa anda tidak memperjuangkannya? Jika anda benar-benar mencintainya, mengapa anda menyerah? Mengapa anda tidak pernah kembali lagi?"
Seongwoo terkejut dengan pertanyaan Jihoon. Dan dia pun tidak dapat mengelak lagi.
"Aku takut, oke. Aku terlalu takut jika dia menolakku lagi. Aku memang pengecut."
"Kakakku pria yang tegar. Dia tidak akan menunjukkan kesedihannya di depan kami. Namun aku tahu, jika langit gelap dan semua tertidur, dia akan menangis. Aku sudah memintanya untuk meraih kebahagiannya, tapi dia menolak. Dia tidak akan tega meninggalkanku dan keluarga kami."
"Jika kau benar-benar mencintainya, perjuangkanlah dia. Buat dia percaya bahwa dia akan bahagia bersamamu. Yakinkan dirinya bahwa dia juga berhak mendapat kebahagiaan. Kakakku sudah berkorban banyak untuk keluarga kami. Dan aku tidak sanggup melihatnya terpuruk seperti ini."
Seongwoo hanya diam mendengar pengakuan Jihoon. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Tapi kata-kata Jihoonnya berikutnya benar-benar membuatnya yakin harus mendapatkan Minhyun kembali.
"Maafkan aku sudah memisahkan kalian. Aku harap kau mau memaafkanku dan mempunyai keberanian menemui Minhyun-hyung lagi untuk memintanya kembali kepadamu. Dan ketika kau melakukannya, aku berjanji, aku akan merestui kalian."
.
.
.
Minhyun sedang duduk termenung di teras rumah. Dia baru saja kembali dari berbelanja dan dia mendengar kasak-kusuk di pasar tadi. Berita tentang Minhyun yang menolak sang Putra Mahkota sudah tersebar ke penjuru desa kecil ini. Namun Minhyun bersyukur warga desa tidak mencemooh atau mencibirnya. Mereka mengenal Minhyun dengan baik sehingga mereka mengerti jika Minhyun mempunyai alasan tersendiri. Tapi tetap saja ada satu atau dua orang yang menyindir secara halus. Berkata jika dia bodoh telah menolak seorang Pangeran. Tapi Minhyun hanya tersenyum simpul dan tidak ambil pusing jika mereka menyindirnya.
Namun berita yang dia dengar pagi ini benar-benar membuatnya kepikiran. Dua hari lagi Seongwoo akan kembali ke istana. Jujur Minhyun masih berharap jika Seongwoo akan datang menemuinya, setidaknya untuk mengucapkan selamat tinggal, tetapi nihil. Seongwoo tidak pernah datang lagi.
Minhyun merasa bodoh, mungkin saja Seongwoo sakit hati dan tidak mau memaafkannya. Bagaimanapun dia seorang Putra Mahkota, harga dirinya pasti tingggi. Atau kemungkinan terburuknya, Seongwoo sudah menemukan pengganti dirinya. Mengingat reputasi Seongwoo sebagai Cassanova, tidak sulit baginya untuk melupakan Minhyun dan mencari penggantinya.
Pikiran itu tiba-tiba membuat dada Minhyun terasa sesak. Awalnya dia pikir melepaskan Seongwoo semudah dia melepaskan beasiswa. Namun ternyata dia salah. Bayang-bayang kebersamaannya bersama Seongwoo masih terngiang di kepalanya. Setiap malam dia selalu memimpikan Seongwoo yang menggenggam tangannya, memeluknya, dan menciumnya di bawah langit bertabur bintang. Dan mimpi yang terburuk di mana dia harus melepaskan Seongwoo. Masih teringat jelas di benaknya bagaimana kecewanya wajah Seongwoo saat dia memilih untuk bersama Jihoon. Dan setiap dia memikirkan hal itu, air mata selalu lolos dari matanya.
Minhyun harus segera menghentikan pikiran ini. Lebih baik dia fokus kepada keluarganya, karena ini sudah menjadi pilihan Minhyun. Dia tidak boleh menyesalinya.
'Sebaiknya aku menyiapkan makan siang saja, Jihoon dan Daehwi akan segera pulang' batin Minhyun.
Saat Minhyun berdiri dan hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Minhyun!"
Bahu Minhyun langsung menegang mendengar suara itu. Tidak mungkin. Ini semua pasti halusinasi karena dia terlalu memikirkan Seongwoo yang akan kembali ke istana. Minhyun pun menggelengkan kepalanya sembari berkata,
"Tidak mungkin…tidak mung…."
"Hwang Minhyun!"
Bukan, itu bukan halusinasi. Minhyun pun memutar badannya perlahan dan di sana, di pekarangan, Seongwoo berdiri, tampan dan nyata.
"Seongwoo," ujar Minhyun lirih. Rasa rindu itu kembali menyeruak. Ingin rasanya Minhyun berlari dan memeluk Seongwoo, namun jika dia melakukan itu maka pertahanannya akan runtuh. Dia tidak yakin dia bisa menolak Seongwoo kali ini.
Seongwoo berjalan ke arah Minhyun dan Minhyun merasakan jantungnya berdetak cepat. Dia merasa bingung dan terpaku, haruskan dia lari atau mengusir Seongwoo. Namun belum sempat dia memutuskannya, sebuah tangan menyentuh pipi kirinya.
"Aku merindukanmu…."
Minhyun tersentak kaget dan tangannya otomatis memegang tangan yang menyentuh pipinya. Pikirannya memerintahkan untuk menarik tangan itu dari pipinya, tapi tubuhnya tidak mau dia ajak kerja sama. Masih menatap Seongwoo, tangan Minhyun justru mengeratkan genggamannya di tangan Seongwoo yang berada di pipinya.
Tangan Seongwoo yang lainnya ikut bergabung untuk menyentuh pipi kanan Minhyun kemudian menangkupnya dan mendekatkan dahi mereka.
"Aku merindukanmu Minhyun, sangat merindukanmu. Sebulan ini aku berusaha melupakanmu, tapi aku tidak bisa. Aku tak sanggup."
Minhyun hanya mampu memejamkan matanya dan menggigit bibirnya untuk mencegah dirinya menangis saat mendengar ucapan Seongwoo.
"Aku mencintaimu Minhyun. Aku benar-benar jatuh cinta kepadamu. Kumohon katakan juga kau mencintaiku. Jangan berbohong lagi."
Minhyun menggelengkan kepalanya, tidak berani mengeluarkan suaranya. Tidak bisa mempercayai suaranya karena dia yakin suaranya pasti akan bergetar.
"Buka matamu Minhyun. Tatap aku dan katakan kau tidak mencintaiku. Katakan kau sudah melupakanku."
Namun Minhyun tetap menggeleng dan memejamkan matanya.
"Baiklah jika kau menolak untuk membuka matamu, aku akan mencari tahu dengan caraku sendiri,"
Tiba-tiba Minhyun merasakan benda basah menyentuh bibirnya. Perasaan hampa yang selama sebulan ini mengerogoti seolah terisi kembali. Bibir ini, bibir yang selalu dirindukannya telah kembali menemukan tempatnya. Rasa hangat menjalar di relung hatinya dan kupu-kupu serasa menari di perutnya. Dan ketika Seongwoo memberi lumatan kecil pada bibirnya, Minhyun mengakui bahwa dia telah kalah. Dia pun membalas ciuman Seongwoo dan mereka saling memagut untuk beberapa saat.
Seongwoo mengakhiri ciuman mereka dan Minhyun masih tetap tidak berani membuka matanya.
"Buka matamu. Kumohon tataplah aku dan katakan kau tidak mencintaiku. Aku butuh kepastian Mihnyun, sebelum aku pergi. Jika kau benar-benar sudah melupakanku dan tidak mencintaiku lagi, aku berjanji aku akan pergi dan tidak mengganggumu lagi." Suara Seongwoo benar-benar memohon kali ini.
Minhyun membuka matanya dan mengangkat wajahnya perlahan. Dia melihat ke mata Seongwoo dan di sana terpancar kesungguhan. Minhyun menarik nafasnya dalam-dalam sebelum dia berkata,
"Aku….aku….aku tidak…."
Minhyun tidak bisa melanjutkan kata-katanya setelah isakan keluar dari mulutnya. Minhyun tahu dia tidak bisa menipu dirinya sendiri. Seongwoo bergegas memeluknya dan tangis Minhyun pun pecah.
"Aku berusaha melupakanmu tapi aku tidak bisa. Aku mencintaimu Seongwoo, sangat mencintaimu. Tapi aku tidak bisa meninggalkan keluargaku,"
Minhyun terus meracau sambil menangis, air mata Seongwoo pun mulai ikut meleleh. Dia mengeratkan pelukannya terhadap Minhyun sambil mengelus belakang kepalanya. Mereka terus berpelukan selama hampir beberapa menit sampai Minhyun merasa tenang.
"Hyung…"
Sebuah suara menyadarkan mereka. Tanpa mereka sadari, Jihoon dan Daehwi sudah berdiri di pekarangan rumah dan menyaksikan mereka. Jisung yang tadinya akan keluar mengecek apakah Minhyun sudah pulang dari berbelanja juga hanya mampu berdiri terpaku di ruang tamu.
Minhyun yang panik melihat Jihoon segera melepaskan diri dari pelukan Seongwoo dan menghapus air matanya.
"Jihoon, aku tidak….."
"Tidak apa-apa hyung. Aku merestui kalian," potong Jihoon sambil tersenyum dan berjalan ke arah Minhyun.
"Tapi aku…."
Jihoon meraih tangan Minhyun dan menggenggamnya.
"Kau berhak untuk bahagia hyung. Sudah cukup kau mengorbankan dirimu untuk keluarga ini. Ini saatnya untukmu meraih kebahagiannmu. Maaf jika aku bersikap egois dan sempat menghalangi kebahagianmu. Tapi aku sadar, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Jadi kumohon, kali ini kau bersikaplah egois, untuk dirimu sendiri."
Air mata Jihoon mulai mengalir dan Minhyun pun memeluk adik kesayanganya itu sembari kembali terisak.
"Maafkan aku Jihoon, aku berusaha melupakannya tapi aku sangat mencintainya."
"Jangan kau meminta maaf hyung, karena di sini bukan kau yang salah. Akulah yang bersalah."
Minhyun melepaskan pelukan mereka dan mereka berdua berusaha menghentikan tangis mereka.
"Tapi bagaimana dengan rumah ini?"
"Jangan khawatir hyung, aku dan Jihoon-hyung akan bekerja sama mengerjakan tugas rumah." Daehwi menimpali seraya berjalan memeluk mereka.
"Adik-adikmu benar Minhyun, kau tidak usah khawatir. Percayalah pada kami." Jisung pun bergabung dan memeluk ketiga anaknya.
"Benar Minhyun, mungkin dengan tidak adanya dirimu di rumah ini Jihoon bisa bersikap lebih dewasa dan mandiri," celetuk Sungwoon yang tiba-tiba muncul. Jelas celotehan Sungwoon itu hanya bisa di dengar oleh Minhyun dan Jihoon. Jihoon yang tidak terima langsung melotot ke arah Sungwoon.
"Maaf jika aku merusak momen keluarga kalian, tapi…"
Seongwoo berjalan ke arah Minhyun dan dia berlutut di hadapan Minhyun dan mengeluarkan sebuah kotak cincin dengan simbol kerajaan.
"Hwang Minhyun, bersediakah kau menikah denganku?"
Minhyun menatap Jihoon sekali lagi dan Jihoon pun menganggukkan kepalanya dengan yakin. Minhyun kembali menatap Seongwoo dan menjawab,
"Ya, aku bersedia."
.
.
.
Seongwoo memboyong Minhyun ke istana. Raja dan Ratu langsung jatuh hati melihat Minhyun. Mereka berpikir Minhyun adalah pasangan yang tepat untuk Seongwoo, karena selain berparas rupawan, dia sopan juga pandai. Dan yang paling penting, Minhyun mampu merubah sifat-sifat buruk Seongwoo dan membuatnya lebih bijaksana dan bertanggung jawab.
Setelah kepergian Minhyun, Jihoon mulai mengurangi bermain games nya dan melakukan pekerjaan rumah. Dia pun sadar ternyata ayah tirinya tidak semena-mena yang dia kira. Dan Daehwi sebenarnya adik yang cukup menggemaskan. Mereka bertiga akan berusaha keras untuk menyatukan keluarga ini dan membuat Minhyun bangga.
Sebulan kemudian pernikahan Seongwoo dan Minhyun dilangsungkan. Jisung, Jihoon dan Daewhi datang menghadiri pernikahkan mereka. Tepat setelah mereka mengucapkan ikrar pernikahan mereka, langit langsung gelap. Dan saat mereka melakukan ciuman pertama mereka sebagai pengantin baru, hujan deras turun membasahi negeri ini, tanda bahwa kemarau panjang telah berakhir.
Sungwoon pun tidak mau ketinggalan. Dia datang terakhir kalinya menemui Minhyun.
"Terima kasih Minhyun, berkat kau misiku telah berhasil. Kemarau di negeri ini telah berakhir. Sebagai ucapan terima kasihku akan ku berikan hadiah terakhirku untukmu."
Dia mengayunkan tongkatnya, namun Minhyun tidak melihat apapun.
"Tenang saja, hadiahmu akan datang sembilan bulan lagi," Sungwoon mengedipkan matanya dan menghilang.
Keadaan menjadi membaik setelah itu. Perkebunan keluarga Jihoon panen melimpah dan Jisung akhirnya mampu mempekerjakan pegawai untuk perkebunannya dan membantu di rumah. Dan saat Jihoon menginjak usia 20 tahun, dia menerima warisannya dan membaginya rata dengan Jisung dan Daehwi. Jihoon juga berencana mengikuti ujian negara untuk menjadi staf istana agar dia bisa menyusul Minhyun ke istana.
Dan seperti kisah Cinderella lainnya, Minhyun dan Seongwoo pun hidup bahagia selamanya.
Happily ever after.
END
.
.
Hwaaaa akhirnya ff ini selesai juga. Sorry kalo endingnya mengecewakan dan gak seperti kalian harapankan. Makasih buat semua yang udah support ff ini ya, baik yang baca ato review.
OngHwang month emang udah berakhir, tapi semoga momment OngHwang tetap happening ya. Dan semoga tahun ini bukan tahun terakhir kita ngerayain OngHwang month. Semoga OngHwang ada project ato unit bareng walopun wanna one udah pisah jalan.
Sekali lagi makasih buat semuanya. Salam OngHwang ^^
-Ang-
