Rewind
Chapter 2 — Sebuah Awal dari Akhir
Beberapa waktu lalu atau bertahun-tahun ke depan (tergantung bagaimana kau melihatnya)—Air Terjun Monumen Shodaime Hokage dan Madara Uchiha
Hentakan terakhir yang tercipta ketika dua kekuatan yang terbentuk oleh chakranya dan milik Sasuke bertemu membuat seluruh dunianya tak bisa ia mengerti. Kepalanya terasa sakit tak kepalang, dan pandangannya buyar. Ia berharap sahabatnya merasakan hal yang sama. Tidak adil jika Sasuke tidak merasakan sakit padahal yang mengaku kalah adalah si bajingan berambut pantat bebek tersebut.
Tapi jujur, ia merasa ada yang janggal. Dalam pandangannya yang buyar dan hanya setengah terbuka, ia melihat monumen Shodaime dan si bangsat kakek dari kakek dari kakek kakeknya kakek si brengsek yang tengah tepar di sebelahnya ini, masih berdiri tegak seakan tak ada apapun yang bisa menghancurkan monumen dengan air terjun mengalir di tengahnya ini. Padahal Naruto bisa bersumpah ia dan Sasuke sudah menghancurkan apapun yang berada pada kira-kira lahan dengan radius satu kilometer dari jarak pertarungan mereka.
Ketika ia bangun, semua yang telah terjadi rasanya seperti mimpi. Tapi ia juga sebenarnya merasa masih di alam sadar ketika mendengar suara Naruto menyambutnya bangun.
"Akhirnya bangun juga?"
Ia baru menyadari kondisi mereka berdua saat itu setelah Naruto mengomentari bagaimana jika mereka terlalu banyak bergerak, mereka akan mati. Dan peringatan akan kematian membawanya mengalirkan apa yang ia rasakan lewat lidah.
"—jawab saja pertanyaanku!" Tuntutnya. Degup jantungnya berdetak lebih cepat saking kesalnya ia pada pemuda berambut pirang di sebelahnya itu. Tak terbayangkan olehnya, bagaimana si bodoh itu bisa terus memperjuangkan keperdulian pada dirinya, Sasuke Uchiha yang telah melakukan banyak sekali kebejatan.
"Itu karena kau temanku."
Itu bukan jawaban segalanya. Itu bahkan tidak menjelaskan kenapa si pirang keras kepala bertahan menghadapi dirinya; padahal ideologi mereka berbeda.
"Kau sudah pernah mengatakan itu... apa sesungguhnya arti teman untukmu?
"Bahkan jika kau memintaku untuk menguraikannya dalam kata-kata, aku tidak tahu bagaimana... Tapi, ketika mendengarmu mengoceh soal menopang seluruhnya pada pundakmu... Aku... sakit. Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri menopang semuanya pada bahumu. Aku sangat, sangat mengerti perasaan itu... Aku juga merasakan rasa sakitnya."
Jumlah perbedaan mereka sangatlah besar, begitu juga kesamaan yang mereka miliki. Naruto berpikir. Tujuan mereka sama. Menyatukan seluruh shinobi dan dunia. Cara mereka yang amat berbeda membuat mereka berpisah jalan. Tapi jalan satu terbukti lebih logis dan efektif dibandingkan yang lain.
Perbedaan Sasuke, dengan musuh yang pernah ia temui—bukan berarti ia menganggap Sasuke musuh—adalah, junjungan mereka dan impiannya. Sasuke boleh saja melakukan kebejatan tapi sesungguhnya Naruto tahu Sasuke tidak mendukung dominasi dunia. Sasuke hanya ingin dibenci, menopang kegelapan sendirian, membiarkan seluruh manusia merasakan cahaya kecuali dirinya.
"Untuk menguraikannya dalam kata-kata aku tidak tahu caranya... Tapi ketika mendengarmu mengoceh soal menopang seluruhnya pada pundakmu... Aku... sakit.
Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri menopang semuanya pada bahumu. Aku sangat, sangat mengerti perasaan itu... Aku juga merasakan rasa sakitnya."
Pada poin itu, kata-kata Naruto membuatnya tertegun. Apa yang mereka pertarungkan rasanya sedikit tanpa arti.
"Tapi aku kesakitan di sekujur tubuh sekarang, aku tak bisa berbuat apa-apa!" Tukas si pirang sambil tertawa kecil.
Tanpa arti...
Bukan, sesungguhnya apa yang ia pertarungkan lah yang tidak masuk akal. Kodrat manusia memang menjadi mahluk sosial. Ia tidak bisa lagi menerima kebodohannya sendiri.
Apakah ia tidak menganggap dirinya sebagai seorang manusia?
Rasanya sudah terlalu lama semenjak ia menggunakan pikirannya untuk berfikir tentang dirinya sendiri—namun bukankah seumur hidupnya ia hanya memikirkan dirinya sendiri? Jika ia tidak merasa cemburu, iri pada pencapaian Itachi, pada Naruto yang berjalan di depannya seperti Itachi, atau merasakan segalanya yang berhubungan dengan kedengkian—mungkin ia bisa mulai berfikir yang lebih jernih tentang dirinya sendiri, lebih objektif.
Tidak ada lagi pikiran gelap didasari alasan semuanya untuk kebaikan. Kebaikan desa—kebaikan dunia. Semua omong kosong. Itu hanya alasan. Alasan agar dirinya bisa menyimpan kedengkian yang ada dalam lubuk hatinya.
Perlahan, patahan logika yang sempat hilang dari dirinya kini kembali.
"Jangan bilang ini surga?!"
Si bodoh.
"Kita tertidur sampai pagi... dan kita berhasil untuk bertahan."
"Dan aku masih tak bisa bergerak! Rasanya aku ingin—"
Respon Naruto yang konstan masih berusaha mematahkan satu demi persatu alasannya, walau dengan kondisi seperti itu, membuatnya berfikir bahwa sesungguhnya "pertarungannya" dengan Naruto tak akan pernah berhenti.
"Hahaha..."
"Eh? Apanya yang lucu? Apa kah semua ini membuatmu jadi gila?"
"Bahkan setelah seperti ini kau masih ingin bertarung..."
"Tentu saja! Aku belum menyerah!"
"Aku akan mengakuinya."
"Hah?"
"Aku ...kalah."
"Apa-apa maksudmu?! Tidak ada pemenang atau pecundang dalam—"
"Hei Naruto."
"Hah?"
"Jika aku mati... Ramalan takdir pertapa Rikudo akan berakhir juga... Ini bentuk lain revolusi... Kau bisa ambil mata kiriku, kasih ke Kakashi... Aku mau membayar segalanya dengan tubuhku..."
"ITU! ITU! KAU MASIH ADA HUTANG BERANTEM DENGANKU! KAU KIRA INI BERANTEM SERIUS? YANG SERIUS HABIS INI! KAU JUGA TIDAK BISA BERANTEM DENGAN SIAPAPUN JIKA KAU MATI! KAU MAU MEMBAYAR APA DENGAN TUBUHMU?"
Tarikan nafas.
"Daripada mati, lebih baik kau bantu aku!"
"Memangnya yang lain mau mengikutimu? Aku tidak yakin aku mau menerima orang lain juga,"
"JANGAN BANYAK OMONG KAU!"
"Aku bisa melawan lagi."
"Aku akan menghentikanmu lagi! Lagipula kau takkan melawan lagi!"
"Yakin?"
"Yakinlah! Siapa sangka kau ini ternyata begitu bodoh!"
Dari sudut matanya ia dapat melihat kedutan otot wajah Sasuke membentuk sebuah simpulan senyum kecil. Dan aliran air yang mungkin hanya sekali seumur hidup yang akan Naruto lihat.
Sahabatnya itu menyuruhnya diam dengan panggilan yang sudah ia dengar beribu kali, namun datang dari mulutnya, itu semua terasa hangat.
"Diam kau, usuratonkachi."
Setelah diselimuti efek ledakan hebat dari arah monumen air terjun Shodai dan Madara; Kakashi terbangun dengan salah satu muridnya masih tidak sadarkan diri di sebelahnya. Ia mengangkat tubuhnya duduk seraya pikirannya memasang-masangkan memori tentang apa yang terjadi di sekitarnya sebelum ia jatuh tak sadar.
Ia ingat akan kemunculan pertapa Rikudo yang menyampaikan ramalan takdir tentang dua anaknya dan hubungan mereka dengan Sasuke dan Naruto.
Ia ingat pikiran samar akan medan perang, akan seluruh Kage yang dibangkitkan kembali berdiri dalam sebuah lingkaran dengan para Juubi mengitari, terutama Minato, dan kata-kata Naruto yang mengantarkan kepergiannya.
Semuanya masih buyar, dan Sakura bangun menemukannya tengah memandangi batas langit, mempertanyakan keadaan dua muridnya. Sang gadis membantunya berjalan ke arah dagunya berpaling; mencari-cari tanda kehidupan di sekitar monumen.
Awalnya Sakura tidak merasakan kejanggalan. Ia bisa menyalahkan ini pada beberapa fakta yang membuat pikirannya (sekaligus emosi) terdistraksi. Pertama, Sasuke kembali. Kedua, ia dan Naruto sama-sama kehilangan tangan primer mereka dalam proses tersebut. Tetapi utamanya, Sasuke kembali. Sakura berhutang budi sekaligus amat sangat bersyukur Naruto tidak lagi terbebani satu janji yang membuat Sakura selalu khawatir akan dirinya (karena Naruto satu dari tiga subjek prioritas kekhawatirannya—subjek pertama tentu lima anggota tim tujuh termasuk si pemuda berambut pirang, sisanya terdiri atas dua orang tuanya dan Konoha)
Namun instingnya berkata lain. Berjalan mengiringi Naruto dan Sasuke kembali ke arah desa ia berfikir. Bertahun-tahun menjadi Ninja medik membuatnya terbiasa menjadi tipe sensorik walau tidak sehebat orang-orang dalam kompi sensor—ia dapat merasakan hal-hal di sekitarnya melalui chakra. Walaupun tak ada yang bisa disebut "aneh" dengan chakra yang dirasakannya, ia masih merasa ada sesuatu yang janggal. Seakan tempat ini bukan tempatnya, walaupun ia tahu betul jalan ini jalan yang sama memuju desa Konoha.
Walaupun luka kedua pemuda telah berhasil dihentikan pendarahannya, perawatan yang dilakukan Sakura tidak menghentikan kesempatan untuk infeksi berlangsung pada permukaan masing-masing luka. Ketika Sasuke tiba-tiba berhenti dalam langkahnya dan memegangi luka dengan tangan kanannya, Sakura, Kakashi dan Naruto pun mengehentikan diri mereka dan mengitari sang pembalas dendam.
Dalam keadaan ini tidak ada siapapun yang mampu berbicara. Naruto (dan Kakashi) tahu Sasuke belum sanggup untuk membantunya dalam melepas Tsukuyomi Tanpa Batas karena chakra dalam tubuh Sasuke belum cukup terperbarui untuk membatalkan jutsu sekuat itu. Bisa saja dengan mudahnya menggunakan chakra milik Naruto, tapi si pirang sendiri pun tahu chakranya belum juga cukup untuk mengganti chakra yang seharusnya disiapkan oleh Sasuke untuk melepas Tsukuyomi Tanpa Batas.
Jalur utama Negara Api—arah keluar desa Konoha.
Kyushu merasa ini hari yang baik. Ia mendapat kesempatan untuk mengambil hari cuti bersama suaminya, Daiki, setelah melakukan beberapa misi rank B yang cukup panjang beberapa bulan ini. Rencananya mereka akan bepergian ke desa terpencil yang cukup eksotis di dekat perbatasan (tidak terlalu dekat tentunya—mengingat Negara Elemen tidak semuanya dalam hubungan yang baik)
Tentunya sesuatu yang baik datang dalam harga yang cukup tinggi.
Karena begitu empat sosok—yang sepertinya bukan rakyat biasa—masuk dalam jarak pandang mereka, Daiki dan Kyushu menghela nafas dengan pikiran yang sama; 'Kapan bisa libur….' Lalu mereka memperlambat kecepatan mereka berlari, dan menghadapi empat sosok tersebut.
"Kami Konoha Ninja! Sebutkan identitas kalian!"
To be continued.
End Notes: Empat tahun berlalu, memutuskan untuk meninggalkan fandom Naruto (dan manga/anime lain) pada tahun 2012, pindah ke fandom Western Movies, TV Series, Disney (Marvel) dan Dreamworks, sekali pacaran, sekali putus, sekali nyambung, sekali putus beneran, sekali terjerumus ke arah yang tidak benar, sekali kena depresi, sekali menghadapi UN, sekali pemilu, sekali memenangkan lomba, lima kali menghadapi jalur masuk perguruan tinggi, tiga kali jatuh cinta dalam kurun waktu enam bulan terakhir (sep-feb) beribu kali kirim kode, sekali digantung layaknya pisang sevel, setahun setelah kembali ke fandom anime/manga, mengahadapi tugas Nirmana dan mabuk menghirup terlalu banyak cat poster selama empat bulan berikutnya, saya baru update.
Ass. You, Banci Taman Lawang, are a fucking ass. (I hate myself heheheheahahahaha)
SMA menyita waktu? Try working on Graphic Design assignment. Gamau lagi janji-janji ngupdate :( I can't bear the thought saya bakal ngebuat kalian kecewa. Saya udah bertekad menyelesaikan fic-fic saya sih, berapa tahun pun waktu yang dibutuhkan, walaupun gaya tulisan berubah, walaupun saya lebih senang di AO3 karena bisa sisipin artwork. Saya setia sama fanfiction... walaupun beda fandom. Kalau mau tahu saya hidup atau engga, check aja profil saya, liat saya sempet upload cerita di fandom lain atau tidak dalam waktu dekat.
Tentang Rewind: Mungkin beberapa dari pembaca butuh untuk membaca ulang chapter pertama karena BANYAK sekali perubahan yang telah saya lakukan. Semuanya diusahakan untuk bergerak mengikuti alur canon manga, TAPI tenang saja, ini fanfiction jadi anda bisa menemukan perbedaan yang sangat besar beberapa chapter mendatang. Tentang pairing dalam Rewind: Saya masih bingung sejujurnya. Karena fokus utama saya sebenarnya adalah keluarga Uzumaki, dan Tim 7, bagaimana mereka menghadapi skenario seperti ini. Mungkin pairing adalah selingan yang mungkin saya sedikit titik beratkan. Mungkin pembaca punya saran? Saya akan sangat menghargainya jika anda dapat meninggalkan saran tersebut dalam review anda...
Ch. 2 Updated on: 13 Juli 2015—counted words 1800 (plus minus) Part II (sebelumnya ch. 3) Updated on: 23 August 2015—counted words: 3000.
Bagian I dan bagian II dikombinasikan dari dua chapter berbeda pada tanggal 11 Oktober 2015. Tolong jangan bunuh saya karena saya kurang konsisten.
Ch. 2 Updated on 16 Juli 2016—part II dipecah kembali menjadi chapter 3.
Jangan lupa review itu menyemangati para penulis! (asalkan sopan dan bukan menghardik maupun flame) Saya berharap anda bisa meninggalkan review untuk membantu mengangkat semangat saya, sekaligus memberikan kritikan yang cukup konstruktif agar cerita ini bisa lebih maju. Terima Kasih…
/BANCI OUT.
