Rewind

Chapter 3 — Penemuan.


Beberapa waktu lalu.

Kakashi Hatake, di akhir pertarungannya dalam perang shinobi keempat, tidak secara resmi dinobatkan sebagai Hokage keenam. Rasanya seperti ia telah diwariskan sebuah jabatan penting. Oleh seorang kawan lama yang dimanipulasi oleh musuh sebagai lawan kemudian kembali menjadi kawan.

Obito. Aneh rasanya memikirkan hal semacam ini sekarang.

Jika seorang lawan telah menganggap seseorang pantas sebagai satu orang yang dianggap terkuat dalam sebuah desa, maka itu adalah pencapaian tertinggi yang bisa didapatkan seorang shinobi. (Karena jujur saja, orang yang punya kekuatan seperti Naruto dan bisa satu level dengannya adalah anomali yang cukup hebat dalam kehidupan)

Apa yang membuat Kakashi pantas; Kakashi sendiri bisa dengan mudah melontarkan keunggulan dalam dirinya, namun moralnya tidak membiarkannya untuk melakukan hal tersebut. Kakashi, dari sudut pandang shinobi yang berpengalaman dari segala penjuru Negara Elemen, termasuk seseorang yang memiliki level jenius. Menurut beberapa orang di Konoha, kepintaran Kakashi melampaui Shikamaru Nara yang mempunyai IQ 200. Keunggulannya muncul semenjak ia kecil; menjadi seorang anak dari Jounin Elit membuatnya harus mengisi peran dalam masyarakat yang mengekspektasikan hal-hal hebat darinya.

Kehebatan dalam dirinya tentu tidak ia peroleh dengan mudah. Banyak hal yang telah membentuknya menjadi seseorang yang merupakan dirinya yang sekarang. Terlalu banyak kehilangan orang yang ia sayangi membuatnya menghargai setiap orang yang hadir dalam kehidupannya.

Termasuk murid-muridnya, betapapun bangsatnya salah satu dari mereka.

Maka saat dua sosok mendekati mereka dari kejauhan bisa ia rasakan, Kakashi dengan cepat menggunakan metode ilmiah dasar—bukan hal yang lumrah digunakan dalam investigasi kasus—untuk mempertimbangkan situasinya (agar bisa bertindak sebagai pelindung tiga muridnya yang imut)

Tahap pertama adalah merumuskan masalah; ia sudah melakukan itu: Siapa dua sosok yang semakin mendekat itu? Bukankah seisi dunia terjebak dalam Tsukuyomi Tanpa Batas?

Yang kedua, merumuskan hipotesis; Mungkin mereka masih berada dalam dunia lain. Jika benar, satu-satunya cara keluar adalah menggunakan Kamui milik Sasuke. Karena Sharingan miliknya telah hilang setelah bagian dari ruh Obito pergi.

Pilihan lain: mereka berada di dunia mereka, tetapi dua sosok ini merupakan orang yang tidak terkena efek Tsukuyomi selain mereka (kemungkinan besar adalah Orochimaru dan Kabuto)

Kedua pilihan cukup logis, tapi ia belum bisa mengambil keputusan berdasarkan hanya dua kemungkinan.

Yang ketiga; mengumpulkan informasi yang berguna. Dua sosok yang mendekat masih terlalu jauh baginya yang kehilangan jarak pandangnya dalam kurun waktu sementara akibat kecapaian.

Tapi ia tidak bisa mengambil resiko untuk tidak mengambil suatu aksipun. Akhirnya Kakashi menginstruksikan mereka berempat untuk tetap dalam posisi dekat dengan satu sama lain.

Kedua sosok yang mendekat akan menemukan satu tim berisi empat shinobi; satu-satunya perempuan dalam tim tersebut akan terlihat tengah merawat dua temannya yang bersandar pada pohon terdekat, dan dirinya, Kakashi akan terlihat seperti tengah mengawasi proses tersebut.

Karena Sasuke tiba-tiba kembali jatuh ke alam bawah sadar (sepertinya luka pada tangannya lebih parah daripada Naruto) dan Kakashi harus menjaga mereka semua dari bahaya yang datang.


Akhirnya keempat sosok yang ia dan suaminya lihat masuk ke dalam jarak pandang mereka. Kyushu dengan cermat memandangi satu persatu empat ninja—melihat salah satu dari mereka mempunyai pelindung dahi (ikat kepala) dengan pelat logam, terikat pada salah satu kepala pria yang sekilas mirip mendiang Sakumo Hatake—lagi pria ini menggunakan masker seperti putra almarhum Taring Putih yang jenius, Kakashi Hatake. Walau nampaknya mereka menuju Konoha tanpa basa-basi, mereka tidak terlihat seperti bagian dari desa dimana Kyushu lahir tersebut. Sepertinya Daiki pun menyadari hal yang sama.

Ikat kepala mereka, bertuliskan "Shinobi"

Setelah mengkonfirmasi bahwa mereka tidak familiar sama sekali, Daiki menyerukan peringatan, dengan harapan mereka akan berbuat jujur, agar semua berjalan lancar.

"Kami Konoha ninja! Sebutkan identitas kalian!"


Keempat; menguji hipotesis. Tahap kali ini menentukan tahap selanjutnya. Dan tahap ini berhasil dengan sukses walau hasil yang ditunjukkan diluar ekspektasi Kakashi. Tapi tentunya proses tahap ini belum selesai.

Kedua sosok—ternyata bukan Orochimaru maupun Kabuto—ini tentu tidak mengenali salah seorangpun. Sebuah fakta janggal, ketika hampir seluruh Aliansi Shinobi mungkin telah menelan ciri-ciri sang pembalas dendam, murid Sannin Tsunade, Peniru Ninja Kakashi, dan Kyuubi Jinchuriiki ke dalam benak mereka. Walaupun dua sosok ini—seorang wanita dan pria—menggunakan ikat kepala Konoha.

"Namaku Kakashi Hatake, Jounin dari Konoha. Komandan divisi tiga Pasukan Aliansi Shinobi."

Ia memerhatikan kedua ninja yang ia deduksikan sebagai pasangan, terlihat kaget dan bingung; mengantarkannya pada kesimpulan nomor satu: mereka benar-benar tidak mengenali Kakashi, Naruto, Sakura maupun Sasuke.


Kyushu mulai merasakan sakit pada kepalanya. Pusing menghampirinya bersama masalah baru. Apa yang dikatakan pria di hadapannya ini tidak masuk akal.

"Apa yang kau katakan? Satu-satunya Kakashi Hatake yang kami tahu hanya seorang remaja—"

Kemudian datang kilatan cahaya kuning, dan empat sosok di hadapannya kini menghilang.

Bukankah...itu jurus yang membuat Hokage keempat mereka terkenal? Bukankah itu Hiraishin?

Kyushu melihat wajah suaminya yang tengah terperangah beberapa saat setelah kilatan tersebut datang. Daiki menangkap tatapannya dan keduanya terjebak dalam keheningan yang membingungkan.

"Apakah kita harus kembali ke desa untuk melaporkan ini?" Tanya Kyushu tidak yakin dengan semua yang telah terjadi dalam kurung waktu yang cukup singat ini.

Daiki, awalnya hanya terdiam sebelum ia menggumamkan kata-kata yang membuatnya hampir tertawa.

"Oh, aku terlalu tua untuk ini."


"Naruto, jika aku beri aba-aba, aktifkan senjutsu—hanya sebentar, jangan sia-siakan chakramu—rasakan kunai spesial terdekat berjarak tiga kilometer milik ayahmu, transportkan kita ke sana."

Itulah yang Kakashi instruksikan padanya ketika dua sosok yang tidak bisa ia definisikan dari pandangannya yang tidak jelas (akibat pertarungannya dengan Sasuke) datang mendekat.

Duduk bersender pada pohon di sebelah Sasuke (tidak sadarkan diri) yang tengah dirawat oleh Sakura, ia mengawasi interaksi cukup aneh yang terjadi di depannya. Secara singkat memerhatikan bagaimana pakaian dua ninja yang mengaku dari Konoha itu sedikit ketinggalan zaman.

Perhatiannya kembali ke Kakashi begitu gurunya itu memperkenalkan diri pada kedua ninja. Apa yang terjadi berikutnya membuat Naruto sedikit terperangah. Kedua ninja tersebut tidak mengenal Kakashi! Pria berambut perak tersebut mengangkat jarinya memberi aba-aba pada Naruto untuk melakukan apa yang telah diinstruksikan sebelumnya.

Naruto dengan instan memegang tangan kanan Sasuke dengan tangan kirinya, sementara Sakura langsung bergerak memegangi bahunya, dan Kakashi melakukan shunshin dan segera berpegangan kepada tubuh Sasuke dan Naruto secara bersamaan.

Ketika tengah melakukan Hirashin, Naruto baru sadar satu hal: ini pertamakalinya ia melakukan jurus ayahnya sambil membawa orang lain. Bagian dari dirinya merasa khawatir, sisanya merasa percaya diri dengan kemampuannya. Tapi sepertinya tidak apa-apa, karena ketika mereka sampai pada tanah tinggi di pinggir desa, semuanya sampai dengan selamat dengan hanya efek samping pusing (Kakashi dan Sakura sama-sama memegang kepala mereka masing-masing) dan tidak terlihat luka yang terjadi akibat transportasi menggunakan Hiraishin.


Kakashi jatuh terduduk memegang kepalanya begitu mereka berhenti di sebuah tanah tinggi. Badannya yang telah melemah ditambah efek samping menggunakan Hirashin dalam kompi hampir membuatnya ingin mengeluarkan isi perutnya.

Di hadapannya berjongkok muridnya dengan rambut pirang. Naruto hanya menyengir, Kakashi menyadari bahwa muridnya tersebut tengah memastikan keadaannya. Pria tersebut tidak sungkan memberikan Naruto senyuman yang mungkin hanya bisa di lihat dari raut otot matanya.

Momen yang—jika Kakashi cukup puitis untuk menjadi seorang sastrawan untuk mengungkapkan ini—sentimental di antara guru dan murid itu diinterupsi oleh nafas tertahan Sakura. Wanita muda tersebut terlihat pucat memandangi sesuatu jauh di belakang posisi Kakashi dan Naruto berada. Membuat keduanya berbalik penasaran dengan apa yang membuat Sakura begitu kaget.

Tentunya ia tidak mengekspektasikan apa yang disuguhkan di depannya.


Sakura mendekati Sasuke yang terbaring di rerumputan segera setelah kepusingannya menurun dan hanya menyisakan sedikit rasa linglung di ubun-ubunnya. Memastikan pemuda yang telah mencuri bagian dari hatinya tidak apa-apa, ia berbalik berniat untuk memeriksa Kakashi dan Naruto.

Dan ia menemukan Konoha yang masih utuh seakan tidak pernah tersentuh oleh invasi Pain sedikitpun.

'Apa-apaan?!' Adalah pikiran utamanya. Dengan semampu refleksnya untuk melepas genjutsu, pemandangan yang ada di depannya tidak berubah. Saat itu pula ia nafasnya mulai terengah-engah.

Ia pasti telah membuat Kakashi dan Naruto sadar akan sekeliling mereka karena sedetik kemudian ia mendengar raungan Naruto tidak percaya. Tapi ia tidak bisa mengangkat kepalanya untuk menyaksikan reaksi mereka, karena dadanya terasa sesak dalam kepanikan.

Dimana mereka sebenarnya?


Ia, yang mengaku sebagai calon Hokage, hafal betul bagaimana keadaan desa Konoha. (Yaiyalah, dia akan jadi Hokage! Ia harus terus memerhatikan desanya!) Desanya dalam keadaan membangun kembali dasar mereka, tengah berusaha berdiri dalam keterpurukan yang tengah menimpa mereka setelah invasi oleh Pain—Nagato. Dan Konoha yang berada di hadapannya bukan Konoha yang terakhir ia tinggalkan.

Menahan raungannya ia dengan kalap berusaha memasukkan segala informasi yang bisa ia dapatkan dengan memerhatikan sekeliling. Di sebelahnya Kakashi terdengar bernafas dengan berat setelah beberapa menit memandangi Konoha tempat mereka berada sekarang.

"Mungkinkah..." Mulai Kakashi di sebelahnya, ia memaksa tubuhnya berdiri dengan bantuan pohon sebagai penopangnya. Rambut peraknya tersibak ke belakang. Naruto mengalihkan perhatiannya pada gurunya tersebut, berfikir bahwa mungkin Kakashi mempunyai jawaban dengan pertanyaan dimanakah mereka berada.

"...Kamui dapat mengantarkan kita kembali melewati dimensi waktu?"


Ia mendeduksikan kesimpulan tersebut berdasarkan dua hal. Keadaan Konoha di hadapannya yang merupakan anomali pada masa perang shinobi keempat, dan pahatan pada monumen Hokage yang hanya mempunyai empat kepala.

Ia tidak yakin Naruto telah menyadari keadaan monumen tersebut atau belum, tetapi Kakashi yakin Sakura sudah. Karena monumen tersebut adalah kejanggalan yang paling besar dari semua yang dapat disaksikan dalam jarak pandang mereka. Kejanggalan yang rasanya seperti mengolok mereka tepat di depan batang hidung.

Pikirannya dengan cepat berujung pada keadaan perisai kubah raksasa yang berada di sekeliling desa. Akankah keberadaan mereka terhitung sebagai penyusup yang melewati pertahanan Konoha? Bagaimana bisa mereka kembali ke jalur waktu mereka? Apa yang harus mereka lakukan di tempat ini jika mereka tertangkap?

Ia tidak bisa tidak mengakui bahwa sesungguhnya iapun kewalahan. Apa yang akan diperbuat Sasuke jika mereka berada pada waktu sebelum pembantaian Uchiha dilakukan? Apa yang akan dilakukan Naruto jika mereka berada pada waktu kedua orang tuanya masih hidup? Apa yang akan DIRINYA lakukan jika ternyata Obito dan Rin masih hidup?


Ia menarik nafas dalam-dalam mengikuti instruksi mengatasi rasa panik yang menjalar ke seluruh tubuhnya jika tidak dihentikan.

Apa yang Kakashi suguhkan sebagai penjelasan tidak membuat segalanya menjadi lebih baik, tapi penjelasan amat membantu mereka dalam pengertian keadaan.

Jika Kamui adalah satu-satunya cara agar mereka bisa kembali ke jalur waktu mereka, maka Sasuke harus bisa mencapai titik penyembuhan dimana ia bisa melakukan jutsu kuat tapi tidak membahayakan dirinya.

Tapi Sakura tidak bisa berhenti bertanya-tanya maksud dari Tuhan—jika benar ada Tuhan di luar sana yang belum pernah ia berikan bogem mentah—membuat mereka berada dalam skenario ini. Kenapa mereka berada di sini?

Dari segi mental, ia yakin ketiga lelaki dalam tim 7 tidak mungkin gegabah dalam mengambil keputusan, tapi mereka punya titik kelemahan masing-masing dalam hati mereka. Mereka tidak tahu pasti di masa apa mereka berada—bisa saja mereka berada pada masa damai relatif dimana masa lalu ketiga lelaki ini belum terjerumus ke arah kegelapan—realisasi ini membuat Sakura khawatir akan apa yang mungkin mereka lakukan.

"NARUTO!"

"Bocah itu—"


Ia membuka mata untuk disapa oleh siluet asap dan ledakan kecil yang terjadi pada titik-titik tertentu di desa. Desa yang ia dengar telah hancur, tapi ternyata masih berdiri kokoh.

"Apa yang terjadi?!" Sakura melempar pertanyaan pada Kakashi—yang sepertinya telah mengambil mantel sebagai pemimpin grup itu, lagi, ketika Sasuke tidak sadarkan diri—pria berambut perak tersebut hanya terlihat kaget seperti lidahnya dipotong.

Setelah matanya bisa lebih fokus, ia menemukan bahwa ledakan kecil dan asap itu merupakan beratus sosok gelap tengah menyerang desa, sepertinya. Dan para ninja Konoha... tengah melawan balik. Sasuke berdiri.

"Apa... Ini...?"

Sakura dan Kakashi bergegas berputar di tempat mereka untuk menghadapnya. Sakura terlihat pucat—mungkin karena ia menggunakan jutsu untuk merawatnya—tapi emosi yang ditampilkan wajah gadis berambut merah muda itu berkata lain. Cemas. Kakashi disisi lain, dari kekagetan, berubah menjadi waspada.

Ia tidak perduli kenapa Kakashi memandangnya dengan waspada. Justru mereka patut waspada. Di hadapannya beratus orang lepas dari Tsukuyomi Tanpa Batas! Ada apa ini?!


Begitu melihat Konoha tengah diserang—tak perduli itu Konoha-nya atau bukan—ia tanpa berfikir turun ke sana.

Ketika ia sampai pada medan pertarungan, ia menemukan bahwa Konoha ninja—dimensi lain—berhasil mendorong keluar para penyerbu yang ia tidak ketahui asalnya. Menggunakan senjutsu ia mengamati seluruh desa, mencari penyerbu atau penyusup yang mungkin masih berdiri di tengah-tengah masyarakat. Ia menemukan hal yang lain.

Di dekat Rumah Sakit Konoha, terdapat area di mana rasa indranya terdistrupsi, seperti seseorang sengaja membuat sebuah area rintangan yang tidak bisa dimasuki orang lain.

Penyusup itu mestinya tahu untuk tidak meremehkan Konoha ninja—dari dimensi lain sekali pun.

Naruto berlari.


Ia belum sadar bahwa yang ia selamatkan dari serangan sosok berjubah hitam merupakan ibunya, sampai ia melemparkan bogem mentahnya yang pertama pada sang lawan.

Terdistraksi oleh surai merah menyala yang panjang seperti syal yang pernah ia miliki, ia kaget begitu melihat ayahnya muncul mendekap ibunya dari belakang, menggunakan shunshin untuk menjauh dari tempatnya bertarung.

Setelah itu ia tidak bisa menghapus cengiran yang ada di wajahnya.


Keluar dari area yang disegel untuk memerangkap dirinya dan Kushina, ia bertanya-tanya kenapa Anbu yang mengiring Minato dan isterinya tidak keluar, begitu situasi genting terjadi. Tapi pikirannya tidak berputar di situ.


"Kalian tak apa-apa?" Naruto tidak bisa menahan rasa khawatir yang membendung di dalam dirinya. Melihat kedua orang tuanya—dengan sehat dan secara harfiah hidup berdiri di hadapannya. Ayahnya memandangnya dari atas hingga bawah, seakan memindai singkat, sebelum melepaskan dekapan tangan dari ibunya yang diam mengawasi kejadian tersebut.

"Terima kasih sudah menyelamatkan istriku," ujarnya. Sesaat Naruto berfikir mungkin Minato khawatir karena penampilannya yang terlihat tidak layak—jaket jingganya lusuh dan robek di sana-sini, ia bisa merasakan salah satu lengan jaketnya mengayun pelan karena tidak ada daging yang mengisi.

"O…oh, i… itu sudah menjadi kewajibanku sebagai shinobi... Yondaime-sama." Dengan tidak yakin Naruto menjawab, dibawah tatapan dalam ayahnya.

Pria yang sejujurnya mungkin tidak terlalu jauh lebih tua darinya tersenyum, dan berkata; "Bagimana kalau kita berbicara di tempatku?"


Minato menangkap pundak pemuda misterius di depannya.


Mansion Hokage

Naruto menemukan dirinya tertransport ke dalam sebuah bangunan. Ia tidak menyadari dua pasang mata dengan lekat mengamatinya, asyik berputar di tempat memerhatikan detail-detail yang terdapat dalam ruangan tersebut.

Ia rasa ruangan tersebut merupakan bagian dari sebuah rumah. Tapi Naruto belum pernah melihat lorong rumah modern sebesar ini—bagian depan apartemennya saja hanya seperlima dari besar lorong itu! Di sisinya terdapat rak sepatu dengan bahan dasar, yang ia bisa tebak, sebagai kayu ek. Rak itu tidak penuh, seperti disisihkan tempat—dua rak dari bawah, tidak jauh dari lantai, di kosongkan.

Naruto baru sadar keberadaan orang lain ketika Ayah-nya—dari dimensi lain—mulai berbicara pelan, mengajaknya duduk di ruang tengah. Ibunya—oh, betapa indah ibunya saat itu, dengan rambut panjangnya yang berwarna merah, seperti bidadari yang bercahaya. Tak heran ayahnya langsung jatuh cinta. Hati Naruto pun tidak bisa menang melawan pesona seorang Uzumaki Kushina.

Ia bukan orang bodoh yang tidak bisa membaca suasana hati kedua orang tuanya—dari dimensi lain—yang terlihat kalem, tapi sesungguhnya dipenuhi perasaan yang campur aduk. Naruto pun ikut terpengaruh. Pikirannya melayang kemana-mana saat mereka bertiga, Kushina berjalan di posisi paling depan, dengan langkah ringan namun tempo yang lambat, Minato berjalan di belakangnya dengan amat tenang dan nafas tanpa suara, lalu dirinya, mengikuti ibunya—dari dimensi lain—melangkah dengan tempo yang sama, menuju ruang tengah yang pintunya berada pada tengah, sebelah kanan lorong.

Ia terperangah, begitu Kushina menggeser pintu di depan mereka.

Di depannya terdapat area kecil dengan TV di atas rak buku panjang dan sofa serta meja kopi rendah, di sebelah kiri area tersebut terdapat ruang makan, tidak aneh lagi, satu area dengan dapur. Namun ruang makan dan dapur tersebut dibatasi meja konter dengan bar kecil. Di sebelah kanan area kecil di tengah, terdapat area berbentuk persegi panjang tipis dengan jendela besar mengisi sebagian dinding. Jendela—dengan pintu—memperlihatkan pemandangan halaman rumah yang ia tebak tersambung dengan bagian depan rumah. Ruang tengah itu terlihat sengaja di desain tersambung dengan ruangan yang lain, sepertinya, menjadikannya ruangan pusat, sebagai tempat keluarga berinteraksi.

Jika Naruto punya keluarga di masa depan, seperti inilah rumah yang ingin dimilikinya. Tak ada lagi hari-hari dimana ia kembali ke apartemennya dan menemukan dirinya melaporkan dirinya pulang—dan dijawab dengan keheningan. Rumah besar seperti ini bisa diisi oleh empat hingga lima orang anggota keluarga. Mungkin dia akan menemukan seorang teman hidup, seseorang berambut segelap malam, dengan kekkei genkai yang bisa membuatnya terpana—

Ia mendapati diri mengerutkan wajahnya. Semakin lama ia melamun semakin aneh bayangannya—deskripsinya tadi malah terdengar seperti Sasuke.


Kushina tidak habis fikir apa yang terjadi pada pemuda dengan pakaian lusuh yang datang pada saat yang tepat untuk melindunginya—dan Minato. Mengabaikan bagaimana pemuda ini sekilas mirip dengan suaminya, ia memandangi pakaian yang robek dan sudah tidak pantas digunakan untuk membalut tubuh seseorang. Wajahnya pun penuh luka lebam di sana dan di sini, seakan ia baru saja keluar dari pertarungan yang cukup tangguh.

Kushina yakin Minato sudah masuk dalam mode over-protective terhadap dirinya, maka perjalanan ke rumah sakit bukan suatu hal yang mungkin bisa dilakukan, sekali pun untuk merawat pemuda di hadapan mereka. Ia berencana mengambil kotak medis yang mereka simpan di rumah ini, menggunakan seminimal mungkin chakra untuk merawat pemuda yang sangat butuh untuk mandi di hadapannya.


Ia membuat beberapa kagebunshin—untuk menemui para tetua desa yang memintanya sedari pagi dan untuk meninjau akibat pertarungan yang terjadi di desa (ia mendeduksikan dari penyerangan yang terjadi pada Kushina tadi, bahwa penyerbuan telah terjadi di desa) segera setelah ia mentransportasikan pemuda dan Kushina ke dalam kediaman utama mereka. Juga untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Anbu yang mengiringi mereka ke rumah sakit.

Jujur ia tahu bahwa tidak etis menghadap tetua dan masyarakat menggunakan kagebunshin, tapi ia tidak bisa meninggalkan Kushina, tidak, tidak dengan keberadaan pemuda berambut pirang bersamanya (Ia pun tidak begitu nyaman dengan Danzo berada di sana) Bukannya ia tidak percaya pada pemuda ini. Tapi pemuda ini sendiri tengah dalam kondisi yang cukup buruk—setelah pikirannya memroses sosok fisik pemuda yang telah menyelamatkan Kushina tersebut—tidak mungkin pemuda berambut pirang kotor itu bisa mengumpulkan energi lebih banyak lagi untuk melindungi Kushina—ketika Anbu-nya tidak bisa diharapkan.

Ia mempersilahkan pemuda itu duduk di sofa ruang tengah, menginstruksikan agar pemuda itu membuat tubuhnya mengendurkan otot-otot yang mungkin telah terluka atau mengalami keram.


"—iya seperti itu." Ujar ayahnya, membantunya menemukan posisi duduk paling nyaman di atas sofa, sementara ibunya—dari dimensi lain—menghilang dibalik salah satu pintu di ruang tengah.

Keheningan menyapu ruangan tersebut ketika bukan hanya dirinya, namun ayahnya pun terdiam—mungkin tidak tahu apa yang harus dilontarkan juga. Untuk seseorang seberisiknya, ini adalah kejanggalan dalam karakter.

"Ano..." Naruto mendongakkan kepala menghadap wajah ayahnya yang berdiri di sebelah kanannya.

"Uhm...?" ia tak tahu harus berbicara apa, baginya ini semua merupakan perkembangan situasi yang amat canggung. Kedua orangtuanya jelas tidak tahu siapa sebenarnya dirinya. Lagi ibunya jelas tengah hamil tua—sekarang ia tahu rupa wanita hamil, trims untuk Shikamaru—dan ia tahu di dalam perut wanita cantik berambut merah itu adalah sosoknya.

"Aku harus memanggilmu apa penyelamat-san?" tanya ayahnya tertawa kecil dengan panggilannya yang sopan sekaligus canggung.

Lagi-lagi, canggung. Naruto tidak tahu apakah ia harus jujur atau apa—dari novel-novel fiksi yang diberikanalmarhum? Jiraiya dulu tak ada satupun yang menjelaskan apa yang seharusnya petualang waktu lakukan. Tapi ia punya intuisi untuk tidak memberikan nama aslinya... ia bisa menggunakan nama yang orang-orang dalam mimpinya—salah satu mimpi yang bisa ia ingat—untuk memanggilnya.

"Menma... panggil aku Menma."


To be Continued.


A/N: Jangan lupa review itu menyemangati para penulis! Ingat, komentar konstruktif tanpa flame dapat meningkatkan mutu bacaan anda sendiri. Terima Kasih…