Rewind
Chapter 4—Keringanan
"Menma... panggil aku Menma."
Pembantaian masal klan Uchiha, bangkitnya Kaguya dan Tsukuyomi Tanpa Batas, sekarang perjalanan waktu? Ia sudah menerima apa yang telah terjadi di masa lampau, ia tidak lagi menolak apa yang telah digariskan untuk terjadi (bukan berarti ia percaya bahwa takdir tidak bisa diubah seperti Neji dulu) maka dari itu ia setuju dan mau saja untuk bertarung di perang shinobi keempat. Tapi semesta menentang resolusi hidupnya yang baru dengan membawa kembali mereka ke masa lalu
Sasuke Uchiha, mantan Shinobi dari Konoha, 100% muak akan omong kosong ini.
Penjelasan Kakashi masuk akal, walau ia belum percaya sepenuhnya karena belum ada teori ilmiah yang menjelaskan kenapa mereka bisa terpental ke masa lalu.
Apa yang dikhawatirkan Kakashi dan Sakura sekarang terpapar jelas dibenaknya. Ia tidak bisa menyalahkan mereka berdua. Ia memang terkenal tidak stabil secara emotional.
Mungkin ia akan dengan gegabah melakukan hal yang akan mengubah masa depan. Mungkin juga ia akan berusaha seminimal mungkin tidak membuat perubahan yang akan berefek pada kehidupan selanjutnya.
Ia tidak tahu pasti.
Sasuke telah sampai pada paragraf dalam buku dimana ia tidak tahu kemana arah tulisan itu berakhir.
Ia menutup kedua matanya, merasakan hangat chakra Sakura merawat luka dimana anggota tangan kirinya hilang, menyisakan pundak dan lengan atas yang tidak bisa berhenti memberikannya impuls rasa sakit ke dalam otak.
Mereka masih di padang yang sama, di mana ia bangun beberapa waktu lalu—ia tidak yakin—dan menemukan dirinya terlempar ke masa lalu. Bersama Kakashi, Sakura dan Naruto. Yang paling akhir, entah dimana keberadaannya.
Kakashi mengungkapkan bahwa tidak bijak untuk mereka jika mereka berusaha mencari Naruto dalam situasi desa yang masih was-was akibat penyerangan barusan. Bisa saja mereka diklaim mencurigakan oleh shinobi konoha yang tengah berjaga-jaga dan menaruh atensi tinggi pada lingkungan sekitar mereka.
Ia pun tidak yakin siapa yang memegang pimpinan utama saat itu. Apakah Hokage ke empat? Atau Hokage ke tiga.
Dengan keadaan tersebut mereka hanya bisa berharap tinggi Naruto aman dan tidak melakukan hal bodoh pada situasi yang merupakan anomali kehidupan ini.
Kushina kembali dengan kotak medis, berjalan dengan perlahan mendekatinya dengan sang pemuda—Menma.
"Kushina," panggilnya, menangkap perhatian isterinya yang terlihat berpikiran kusut ketika menatap Menma.
"Ini Menma-san," memperkenalkan isterinya pada sang pemuda yang langsung membungkuk pelan dengan sopan. Kushina tersenyum tipis, sebisa mungkin membungkuk dengan perutnya yang besar.
"Apa kau perlu bantuan menangani luka Menma-san?" Minato memberikan petunjuk implisit ia tidak menyetujui penggunaan chakra oleh Kushina mengingat ia tengah mengandung. Isterinya terlihat kesal sesaat menggerutu pelan tentang over-protective-ness sebelum interaksi kecil mereka dibuyarkan dengan munculnya suara Menma.
"Ano, luka-luka dalamku sudah diatasi oleh temanku—dia seorang shinobi medik," ujar Menma tersipu memijit pundak kanannya, yang kehilangan sisa bagian tubuh tersebut.
"Kalau begitu kau bisa menggunakan kamar mandi di sebelah sana—tolong jangan menolak tawaran kami—kami ingin berterimakasih karena kau telah menyelamatkan Kushina," Minato mengutarakan pikirannya ketika Menma terlihatsiap untuk protes. "Setelah bebersih, Kushina bisa melihat luka luarmu."
Kushina mengangguk-anggukkan kepala di sebelahnya, menyetujui usulan Minato untuk berterima kasih. Menma terperangah menatap keduanya—mungkin tidak percaya dengan tawaran yang diberikan olehnya—Seorang Hokage. Ia sejujurnya tidak suka jika shinobi memuja seorang kage, toh, kage juga bekerja sama dengan shinobi untuk melindungi desa mereka, bukan untuk mendominasi kekuatan.
Akhirnya Menma hanya menunduk menutupi wajahnya yang merona—Minato bisa melihat sekilas daun telinga kotor pemuda itu memerah—lalu mengangguk dalam setuju. Kushina di sebelahnya tersenyum lebar lalu mengambil posisi duduk di sebelah kiri sang pemuda, mendorongnya pelan ke ujung sofa.
"Baiklah. Aku permisi dulu."
Dengan spontan Kushina mengerutkan wajahnya. "Eh?"
Minato tersenyum dengan paksa— Kushina yakin suaminya itu tengah ketakutan dengan reaksinya. "Ano, memori kagebunshin ku kembali dan aku dibutuhkan untuk kembali ke kantorku, maaf Menma-san aku tidak bisa menjamu tamu-ku dengan baik..."
Menma di sebelahnya malah makin heran ketika Minato meminta maaf pada sang pemuda. Minato memang terlalu sopan untuk kebaikannya sendiri.
"Heeeeh, ya sudah. Usahakan kau kembali pada makan malam, Minato." Jawabnya menyelamatkan Menma dari keharusan untuk merespon permohonan maaf Minato. Suaminya tersebut mengangguk dan berpamitan sekali lagi sebelum meninggalkannya berdua dengan sang pemuda.
Kushina memecah keheningan dengan mendorong Menma keluar dari sofa, membuatnya berdiri.
"Ayo, Menma-san biar kutunjukkan kamar mandinya, sekalian aku ambilkan baju ganti untukmu!"
Setengah jam kemudian, Kushina hampir menjatuhkan mangkuk kaca yang tengah ia pegang ketika matanya menangkap Menma muncul dari balik pintu kamar mandi.
Pemuda itu berdiri di depan pintu kamar mandi, uap air hangat mengelilinginya, ia menggunakan kaus lama milik Minato, melamun diam seperti orang kebingungan dan tersesat.
Helai-helai pirangnya, kini bersih dari noda, dengan vibran melawan gravitasi. Kulitnya yang gelap akibat sinar matahari kini bersih menunjukkan warna aslinya.
Nafas hampir tidak bisa keluar dari Kushina, betapa miripnya sang pemuda dengan lelaki yang ia nikahi!
Kushina bisa dengan mudah mengklaim bahwa yang berdiri di sana bukan lain adalah suaminya. Tetapi, suaminya tidak pernah mengubah gaya rambut. Sayang, padahal ingin sekali ia mengelabui Kakashi dengan menggunakan Menma sebagai doppelgangger Minato.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Biasanya, jika sebuah batu besar menghalangi jalannya, ia bisa mengatasi hal tersebut dengan melakukan apa saja tanpa mengalami putus asa—karena itu bukan caranya, jalan shinobi-nya. Metafora batu diandaikan sebagai masalah yang ia hadapi di jalan yang merupakan kehidupan, begitulah almarhum? Jiraiya ungkapkan. Namun, apakah kembali ke masa lalu bisa dianggap sebagai salah satu metafora batu besar dalam jalan hidup?
"Ne, Menma-san." Suara ibunya membuatnya tertegun dan muncul dari dalamnya laut pemikiran.
"A...ya?"
"Bersediakah kau membantuku menyiapkan makan malam—ttebane?!"
Ia terperangah ketika sang wanita tak sengaja melepaskan salah satu kebiasaan buruknya dalam berbicara.
Ibunya sendiri langsung menutup mulut dengan tangannya, wajah semerah surai indah panjangnya.
Naruto tak tahan tidak tertawa terbahak-bahak, tanpa ragu isteri sang hokage menepuk keras bahunya dalam rasa malu karena ditertawakan, walau sesungguhnya sang wanita ikut tertawa menyadari kekonyolan yang telah ia lakukan.
Mungkin, mungkin ia lalui saja semua ini, menikmatinya sebelum aliran air bermuara pada laut, sebelum semuanya menjadi hal yang seakan tidak pernah terjadi, seperti mimpinya.
Seketika kakinya menginjak bagian depan kediaman publiknya, satu Anbu berlutut di hadapannya.
"Hokage-sama," ujar sang Anbu.
Minato menatap sosok dengan topeng tersebut sesaat.
"Apa yang terjadi, Merpati?"
"Hampir dua ratus sosok berjubah hitam menyerang bagian distrik ramai penduduk. Masih belum diketahui siapa pelakunya, tapi pasukan Anbu yang mengirimu terjebak dalam genjutsu massal sebelum akhirnya dieksekusi di tempat."
Minato terdiam sebelum akhirnya melakukan shunshin ke tempat pertemuan dengan tetua desa. Dalam perjalanannya di lorong ke ruangan, ia tenggelam dalam pikirannya.
Laporan Merpati menjelaskan bagaimana hasil tinjauannya ke TKP menunjukkan wahana penuh darah brutal seperti seorang monster meninggalkan remah-remah hasil santapannya.
Ia punya identitas yang memiliki probabilitas sebagai tersangka tertinggi, tapi apakah kecurigaannya saling melengkapi dengan bukti minim yang ada?
Dimana ada Danzo, di situ letak awal mula rasa sakit yang ia rasakan di kepala.
Tetua itu mendorong seluruh argumennya ketika ia mengungkapkan bahwa ia akan melakukan investigasi terhadap penyerangan yang terjadi. Ia menekankan kepadanya, "Ini bukti bahwa hasil perang shinobi ketiga tidak menjamin senantiasa kedamaian. Jika jinchuriiki kita tidak aman, maka pertahanan kita tidak bisa menahan apa yang mungkin aliansi antar desa bawa jika kita terpaksa melawan mereka, bukankah begitu Minato-san?"
Lelaki penuh perban itu bisa saja mengungkapkan hal tersebut dalam bentuk pertanyaan tapi Minato membaca seluruh pesan yang tersembunyi dibalik itu.
"Seharusnya prioritasmu kau letakkan pada perlindungan utama jinchuriiki, bukan?"
Minato menghela nafas.
Mungkin itu alasannya ia sangat tidak nyaman dengan Danzo. Tetua itu punya cara kotor untuk menekan dirinya.
Ia tahu Danzo tahu bahwa ia tidak menyukai tetua menganggap Kushina sebagai sebuah senjata. Ia menikahi Kushina bukan untuk mendapatkan kekuatan. Ia bahkan mencintai Kushina jauh sebelum isterinya itu ditumpahkan tugas sebagai seorang Jinchuriiki.
Sekarang nyawa calon anak dan isterinya dalam bahaya karena status isterinya dan pangkatnya sendiri dalam desa. Rasanya seperti mereka adalah pasangan yang selalu dikelilingi nasib buruk. Star-crossed lovers.
Ia tidak bisa melepas rasa khawatir; masalah pekerjaannya saling bertautan dengan masalah personalnya. Ia akan menginvestigasi lebih lanjut penyerangan yang terjadi, apapun yang dikatakan Danzo. Ia Hokage. Tujuannya dan Danzo sama, tapi cara mereka berbeda untuk melindungi Konoha.
Lagipula Minato punya feeling bahwa semuanya menyangkut paut.
Tempat Lain―Suatu Laboratorium Tempat Persembunyian Raksasa
Seseorang dengan postur kurus seakan lemak merupakan hal yang non-eksisten di dalam tubuhnya berdiri di depan meja besar; di sekelilingnya terdapat alat-alat logam operasi yang telah terbungkus darah kering dan hal-hal lain yang hanya dapat diidentifikasi sebagai hal menjijikkan.
Ia bergeser, menunjukkan apa yang berada di atas meja besar tersebut... sesosok tubuh; dengan jantung masih berdetak terpampang ke udara terbuka. Ya, organ dalam tubuh tersebut berhasil melihat cahaya luar; karena sosok tubuh tersebut dibelati dari tengah tulang selangka hingga ke bawah perut.
Sang ahli bedah dengan postur kurus tiba-tiba bergidik membeku di tempatnya; dan mulai berbalik sambil terkikik rendah. Wajahnya putih dengan beberapa garis yang membuat dirinya terlihat androgini, rambut panjang yang surai-surainya hampir menutupi mata emas kecil yang ia miliki.
"Kukukukuku... Apa yang mengantarmu kemari, oh orang asing?"
To be continued
End Notes: Apa ini yang disebut update? Better be glad that I actually updated this instead of publishin' another underdeveloped plot bunnies. FF aside, real life starts catching on to my wonderful holiday as a college student. I had to freaking deal with administrator in campus coz there's a problem with the electronic syllabus input system? eh, I would postpone dealing with society as long as possible. Also, my parents decided that they should stop subscribing from a certain internet provider (bye bye fast internet and 240 channels on tv) and right now I'm tethering from my Note 10.1 Why did things happen in bad timing? Oh and I tried to bleach my hair (it's like pink, purple now?) If you love yourself, don't be a masochist using developer cream with volume over 20 (I used 40) it fucking burns your scalp and there's higher chance for skin cancer, if you really want to, like, 60 percent lighter than your actual hair, bleaching every 2 or 3 weeks or so to let your scalp breath and rest. That's it on FF, life and beauty tips.
Updated on: 10 September 2015. Counted words: 1490 (Ya, lumayan lah, ini hasil brainstorming 3 minggu)
Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa review meningkatkan mutu + kualitas bacaan anda~
/Banci OUT *drops mic*
