Rewind

Chapter 5 — Pengakuan


Sore itu, sepasang Shinobi tingkat Jounin yang baru saja izin untuk cuti pagi itu, Daiki dan Kyushu Mukaba muncul kembali di kantornya.

Minato tak sungkan bertanya dengan ramah.

"Ah, Mukaba-san?! Apa yang bisa kubantu? Kukira kalian seharusnya menikmati liburan singkat?"

Prosesi laporan yang umum diberikan oleh shinobi dalam misi bukan sesuatu yang ia ekspektasikan sebagai jawaban. Keduanya mengekspresikan kekhawatiran masing-masing dengan gerakan tubuh yang cukup aktif.

Terdengar samar bahwa kedua shinobi ini berargumen singkat sebelum mampir ke kantornya, dari apa yang mereka katakan, nampaknya terdapat sekelompok Shinobi mencurigakan, tanpa identitas jelas, muncul.

"Ano, bisakah kalian mendeskripsikan satu per satu shinobi dalam kelompok tersebut?"

Pasangan Mukaba mengangguk, mengikuti instruksi sesuai buku petunjuk Shinobi dalam menaksirkan kapabilitas sebuah situasi atau ancaman.

Yang pertama dideskripsikan adalah seorang pria dewasa yang mengaku bernama Kakashi Hatake; apa yang nampaknya pasangan Mukaba lihat seakan projeksi bagaimana salah satu muridnya yang masih hidup akan tumbuh satu dekade di masa depan. Ia tak bisa menghapus kerutan yang muncul di atas dahinya.

Tiga orang lainnya terdengar seperti murid pria-yang-mengaku-sebagai-Kakashi tadi. Tampaknya mereka merupakan sebuah tim. Mereka bertiga masih terlihat dibawah umur dua puluh tahun. Satu Kunoichi dengan rambut merah muda menyala; satu pemuda tak sadarkan diri tanpa tangan kiri, dan satu pemuda dalam jumper jingga menyala tanpa tangan kanan.

Pria berambut pirang tersebut menarik nafas tajam. Tentu dua jounin di hadapannya tidak menyadari gestur tersebut.

Mereka semua lusuh, kotor dan penuh dengan luka dan darah. Seakan mereka baru keluar dari medan perang.

Dengan selesainya laporan yang diberikan, Minato mempersilahkan pasangan Mukaba meninggalkan kantornya dengan senyuman paling tidak mudah yang pernah ia lakukan.

Ia baru sadar ia telah meninggalkan istrinya dengan salah satu figur yang mencurigakan. Figur spesifik, pemuda tanpa tangan kanan tadi.


Ia ditugaskan oleh Minato-sensei untuk menemani istrinya selama masa kehamilannya. Ia merasa setengah puas diangkat sebagai ANBU oleh sang guru yang menjabat sebagai Hokage, setengahnya lagi merasa was-was akan keselamatan Rin.

Ia tahu kenapa sensei-nya itu mengangkatnya menjadi tangan-kanan-tak-kasat-mata-nya. Sebagian karena kemampuan Kakashi yang di atas rata-rata pada umurnya yang masih tiga belas tahun, sebagian karena Minato punya kepercayaan tingkat tinggi hanya kepadanya, sebagian lagi karena sang guru mendeteksi sebuah hal membelenggu pada diri Kakashi. Ia sendiri pun sadar.

Setelah mendapatkan Sharingan beberapa bulan lalu, ia tidak bisa berhenti bermimpi buruk. Lalu ia tidak dapat menyerang Rin sekuat yang ia mampu dalam latihan mereka. Kakashi pun tahu si Kunoichi berambut coklat perunggu itu pun tidak dapat menutupi rasa kecewa dan kesedihannya tiap mereka bersama. Ada dinamika yang tak dapat tergantikan di antara dirinya, Rin dan Obito.

Mungkin Rin menyukainya, terdapat rasa di dalam hati sang gadis terhadapnya, tetapi Rin dan Obito selalu bangkit bersama membangun kekuatan mereka dari kepercayaan satu sama lain, dan Kakashi, ia berada di depan mereka sebagai patokan; standar dasar pencapaian yang akan mereka raih. Ia berada di garis finish menunggu mereka berdua.

Tanpa Obito di antara mereka, tak ada motivasi yang diperjuangkan. Yang mereka bisa lakukan berdua hanyalah bertahan.

Maka ketika Minato menawarkan agar ia naik pangkat menjadi ANBU di depan Rin, sang gadis mengangguk memberikannya restu agar ia bisa membantu sang guru sebaik yang ia mampu. Rin tersenyum tipis memberikan selamat kepadanya, dengan mata berkaca-kaca memberitahu ia pun mengaplikasikan diri sebagai calon Medik-nin dalam pelatihan.

Kakashi baru sadar, mungkin Rin merasa tidak mampu berbuat apa-apa untuk membantu Kakashi dan dirinya sendiri dalam menghadapi kehilangan Obito. Mungkin Rin berfikir dengan berpisah dengannya mereka bisa mulai bergerak maju, meninggalkan kesedihan dan mulai menggunakan memori Obito sebagai kekuatan.

Resolusi terbentuk dalam benak Kakashi. Ia takkan membiarkan Rin sendirian. Itulah yang diinginkan Obito. Ia akan berbicara dengan sensei-nya.

Ia bangun untuk duduk di atas ranjang di kamar apartemennya yang seukuran studio itu. Ini hari liburnya, hari di mana Minato-sensei mengantar Kushina ke dokter kandungan untuk check-up rutin. Ia tak harus menemani Kushina pada hari itu. Tapi ia tak biasa tidur melewati rutinitas pagi-nya. Maka ia beranjak dari kasur dan menyeret dirinya untuk ke kamar mandi.


Huru-hara selalu terjadi di desa sebesar Konoha. Tak pelak ia awalnya tidak curiga begitu beberapa keributan terjadi ketika ia tengah memilah-milah sayur mayur (terong) yang ia ingin rebus di pasar.

Namun kode siaga Shinobi (tak dapat didengar mau pun dideteksi para rakyat sipil) yang dikumandangkan beberapa menit kemudian membuatnya membeku di tempat sebelum meninggalkan seluruh belanjaan dan bergerak memakai topengnya. Ia melesat menuju keributan terdekat untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Penyerangan terhadap Konoha bukan suatu hal yang lumrah, apalagi penyerbuan kali ini termasuk salah satu tindakan paling konyol dan payah sebagai sebuah strategi musuh. Ia bisa merasakan mesin di otaknya mulai bekerja memasangkan potongan informasi. Biasanya penyerangan terjadi di perbatasan, namun akhir-akhir ini konflik menurun setelah perang Shinobi ketiga dinyatakan berakhir. Jadi motif penyerbuan ini apa?

Secepat terjadinya huru-hara muncul, keributan pun mereda.

Ia mendapati dirinya gatal ingin berlari ke arah rumah sakit Konoha, tapi ia menahan dirinya. Ia tahu Rin selamat.

Setelah Kekkai atau rintangan melingkar mengelilingi desa, Konoha didesain untuk menempatkan rintangan kedua pada fasilitas atau gedung-gedung departemen dalam status prioritas, seperti perpustakaan Konoha tertentu yang menyimpan arsip dan dokumen penting, bunker utama desa, dan beberapa gedung lain, termasuk rumah sakit.

Jadi ia bisa bernafas dengan sedikit santai.

Misi personal selanjutnya adalah memastikan keadaan Kushina. Walau bukan tugasnya, bukan waktu shift-nya, tapi Kushina secara ia tidak sadari menjadi tanggung jawabnya juga—ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada sensei-nya jika sesuatu terjadi pada Kushina. Kasih sayang di antara mereka cukup dalam, walau takkan pernah dimengerti oleh Kakashi.

Berlutut di salah satu atap gedung, ia menggigit ibu jarinya dan menyemirkan telapak tangan kiri dengan darahnya. "Kuchiyose no jutsu."

Asap menghilang di atas tanah yang ia tempelkan segel, muncul mahluk panggilan Shinobi.

"Yo Kakashi," ujar Pakkun, Nin-ken dengan ras pug itu memberikan salut dengan kakinya yang mungil.

"Bisakah kau mendeteksi di mana Kushina-san berada sekarang?" Ia bertanya.

"Kau punya posisi terakhirnya?"

Kakashi mengangguk, ia membawa dirinya dan Pakkun melesat ke arah apartemen yang sering Minato dan Kushina pakai di dekat Akademi.


Pencarian mereka berujung di kediaman lain milik Minato. Pakkun langsung berpamitan begitu sampai di beranda undakan menuju pintu utama rumah kediaman Namikaze tersebut. Bunyi khas "pyong" dan asap kecil meninggalkannya sendirian menatap gagang pintu.

Ia ragu-ragu membuka pintu. Tidakkah sebaiknya ia menyusup lewat halaman belakang? Dan menyaksikan lewat dedahanan pohon tinggi atau balkon?

Kakashi, penciumannya, dinaikkan kemampuannya menggunakan chakra yang disuntikkan ke dalam hidungnya. Ia tidak dapat menangkap bau tidak biasa dari dalam rumah, namun samar-samar mencium bau darah. Kepalanya kosong seketika.

Sebelum ia sempat panik dan mendobrak pintu rumah kediaman Namikaze, suara teredam terdengar dari dalam rumah, masuk ke dalam telinganya yang juga dipertajam menggunakan chakra.

Jeritan kecil yang terdengar kesakitan sepertinya datang dari seorang pria dengan suara melengking.

"Menma-san, berhenti bergerak—ini hanya jahitan kecil! Yang lainnya kau harus dapatkan di rumah sakit-ttebane!"

Kakashi merasa bodoh sesaat mengkhawatirkan istri sensei-nya. Sang wanita yang dikhawatirkan malah terdengar tengah menyakiti seseorang, bukan disakiti. Kenapa sensei-nya bisa jatuh cinta pada seseorang sebuas Kushina-san, Kakashi tak pernah dapat mengerti. Lagipula mereka telah menjadi pasangan jauh sebelum Kakashi bertemu Minato.

Ia mengetuk pintu dengan perlahan.

Bunyi derap kaki pelan bertemu pemukaan lantai menyapa telinganya sebelum bunyi klik dan pintu di hadapannya terbuka.

Surai merah panjang Kushina-san selalu membuat terpukau orang yang belum terbiasa melihat rambut sepanjang itu. Namun yang membuatnya lebih lagi merasa tak terbiasa dan tak nyaman adalah sosok pemuda yang muncul dibalik figur tubuh Kushina.

Ia memiliki fitur wajah sama persis dengan sensei-nya.


Ia tidak menarik kata-katanya pada latihan-nya di pulau bergerak ketika mendengar cerita Kushina untuk pertama kali. Dan Naruto tidak menarik kata-katanya saat ini.

Ibu-ibu itu menyeramkan.

Kushina menjahit luka kecil yang butuh dijahit pada tubuhnya tanpa sedatif atau obat bius sementara. Ia dalam penderitaan. Ibunya itu tidak mampu menggunakan ninjutsu medikal untuk mengebaskan otot-otot disekitar lukanya. Ninjutsu medikal membutuhkan pengendalian chakra tingkat tinggi—gulungan chakra di dalam tubuh seorang Kunoichi yang tengah hamil tidak stabil karena tengah melindungi janin atau bayi yang tengah dikandung. Maka penderitaannya berlanjut sampai Kushina puas "mengobatinya" dengan siksaan dunia.

"Tok-tok-tok" derap ketukan pintu pelan berturut-turut mengisi lorong kosong yang tadi ia masuki.

Kushina berhenti menahan kakinya dan membeku di tempat, Naruto tidak mengerti, tapi ia dapat melihat ketidak yakinan Kushina yang meraut wajahnya, mendelik ke arah pintu.

"Ano, Ka—Kushina-san. Apakah kau akan membuka pintunya?" Tanya Naruto menangkap perasaan ragu Kushina saat itu. Ia sangat tidak mengerti kenapa ibu-nya itu was-was. Tak ada bahaya yang akan menimpanya selama Naruto di sana. Percayalah.

"O...oh. Ya. Apa kau mau menemaniku?" Tanya Kushina. Naruto mengangguk menuruti sang ibu ke lorong depan rumah.

Ketukan pintu tak datang lagi, tapi Naruto tahu pelakunya masih berada di depan pintu, ia setengah hasrat ingin membuka pintu itu sendiri, menyadari bahwa chakra dari luar pintu yang ia sensor amat familiar. Ia butuh topangan dalam situasi aneh seperti ini. Dulu di dalam mimpi aneh-nya ia punya Sakura, yang menyadari perbedaan besar di antara dimensi untuk menjadi tiang fakta bahwa ia tidak gila; berfikir bahwa kenyataan telah terdistorsi.

Namun ketika pintu dibuka oleh ibunya, bukan sosok pria dewasa yang merupaka sosok keluarganya secara figuratif—namun seorang remaja tidak jauh lebih muda darinya, dengan fitur persis sensei-nya.


Dua remaja duduk di ruang tengah, saling memandang satu sama lain. Kushina tidak tahu apa yang dapat terjadi antara dua remaja laki-laki seumuran mereka jika ditinggal sendirian, maka Kushina duduk di tengah-tengah mereka.

"Ano... Siapa kau?"

"Bukankah seharusnya orang asing yang memperkenalkan dirinya duluan? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya." Ujar Kakashi dingin.

Kushina bisa merasakan urat di kepala Menma membentuk pertigaan.

"NAMAKU MENMA U—URUZE[1] BOCAH BELAGU!"

Kali ini ia bisa merasakan urat Kakashi yang membentuk pertigaan.

"Bocah... belagu...?" Kakashi meremas gelas—Kushina bersyukur itu terbuat dari plastik—di dalam tangannya.

"SIAPA YANG KAU PANGGIL BOCAH BELAGU HAHHH?! Kau itu siapa muncul tiba-tiba setelah Konoha di serang! Kau yang sangat mencurigakan, tapi berani-berani-nya kau memanggil aku bocah belagu?!"

Pening menghampirinya seperti air mengalir dari atas kepala. Mendengar satu orang yang tak bisa menahan emosi sudah cukup membuat dirinya stress, apalagi jika jumlahnya ditambah satu. Kushina sudah hampir memberikan kedua remaja di hadapannya bogem mentah di kepala ketika Menma tiba-tiba berkata dengan suara kecil.

"Aku asli Konoha! Aku-aku hanya baru kembali dari misi bertahun-tahun!"

Kushina tak membiarkan tubuhnya membeku terhadap pengakuan Menma yang jelas tidak beralasan dan jauh dari memungkinkan. Nampaknya Kakashi juga mendeteksi kebohongan Menma, tapi pemuda yang lebih muda itu tak mengkomentari hal tersebut sedikit pun. Mereka bertiga jatuh dalam keheningan.

Entah kenapa nada sedih yang dibawa oleh Menma membuat mereka percaya bahwa pemuda ini tidak berniat jahat...

"Namaku Kakashi Hatake."

Kini giliran Menma yang terperangah seakan tak percaya dengan apa yang di katakan remaja di seberangnya. Kakashi memiringkan kepala dalam penasaran.

"Ada yang salah di wajahku?"

Mengatupkan lagi mulutnya, Menma hanya menggelengkan kepala. Pandangannya kini terkunci pada sudut meja kecil yang menjadi batas antara dirinya dengan sosok berambut perak di hadapannya.


Menggaruk kepalanya yang ditutupi surai perak, pria yang merasa seumuran dengan warna rambutnya indikasikan berhenti mengkontemplasi situasi mereka secara keseluruhan; menyimpan jauh seluruh pemikiran akan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Kakashi memilih untuk memikirkan keselamatan salah satu muridnya.

Dimana Naruto? Ia ingin sekali mencari Naruto dengan para Nin-ken. Tapi ia tidak bisa mengambil resiko sesuatu terjadi pada kontrak panggilan-nya dengan Nin-ken karena keretakan batas antar dimensi (jika teorinya tentang Kamui benar)

Pertanyaan terus membanjiri kalbunya. Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia tidak segera kembali? Apakah Naruto tersesat?

Ia merasa seperti induk bebek. Padahal satu-satunya yang mempunyai gaya rambut seperti pantat unggas adalah Sasuke yang kini tengah berbaring di rerumputan tak jauh darinya. Muridnya yang terakhir, Sakura, tidur bersender pada batang pohon, membiarkan pahanya sebagai bantalan kepala Sasuke.

Melihat keduanya ia hanya bisa tersenyum. Setidaknya pertarungan terpanjang dan terberat yang pernah ia alami tak berujung sia-sia. Ia masih bisa hidup melihat sesuatu yang indah. Itu lah yang ia ekspektasikan jika ia berhasil selamat di medang perang. Atau, ia berhasil hidup cukup lama.


Jika ia sendirian untuk menangkap Kushina; jebakan paling berlogika adalah ketiga kawannya yang lain bertindak sebagai pengaman, jikalau rencananya untuk kabur dengan licin gagal. Satu-satunya cara aman adalah mengamankan ketiga member selain Menma dari tim tersebut.

Minato berfikir sembari menatap keluar jendela masif yang memakan tempat sebagian dinding ruang kerjanya.

Tapi, ada hal yang janggal yang tak dapat dipungkiri ingin ia kuak. Kenapa "Kakashi" melakukan kesalahan ketika berpura-pura sebagai muridnya yang masih muda tersebut? Tidakkah seharusnya "Kakashi" mempunyai cukup informasi tentang muridnya, jika ia dapat menduplikat ciri khas penampilan pemuda tersebut, walau tidak akurat?

Ia tidak menyukai situasi ini. Ia ingin melacak ketiganya, namun cara tercepat memaksanya untuk memakan waktu beberapa menit untuk dirinya dapat memasuki Mode Petapa. Dengan Mode Petapa, jarak sensor chakranya meningkat hebat, menggunakan kekuatan chakra alam.

Tak lama setelah pigmen jingga membungkus kelopak matanya, ia bisa merasakan chakra yang hampir familiar tidak jauh dari Monumen Hokage, tetapi berada di pinggir desa.

Ia membuka matanya yang telah menguning, pupilnya mulai kembali berubah ke warna semula.

Ia tahu kordinat kunai terdekat.


Kakashi sudah merasakan sesuatu muncul dari awal. Namun ia tidak yakin dengan reflek sensornya saat itu, ditambah lagi ia masih babak belur; baru keluar dari medan perang yang rasanya hampir tak berujung.

Tapi Sasuke tidak segan menarik Kusanagi dengan tangan kanannya dan mengarahkannya tepat di depan semak belukar tak jauh dari mereka.

"Hentikan itu, Sasuke." Ujarnya, sembari mengawasi sosok yang keluar dari semak-semak.

Berdiri di sana, dengan seluruh kelegendarisannya, Minato Namikaze, Yondaime Hokage yang amat berbeda dari yang mereka temui tak beberapa lama lalu. Ia tampak lebih muda, dan Kakashi tahu; Sasuke dan Sakura lega karena senseinya itu tampak lebih segar dengan warna kulitnya yang tidak seperti mayat.

Hokage termuda itu jelas tidak berniat mematai mereka; walau pun ia keluar dari semak belukar. Jelas ia ingin mengkonfrontasi mereka dari awal. Tak terlihat daun atau kotoran bekas tanah di pakaiannya—yang biasa ditemukan pada ninja yang tengah mengendap-ngendap. Kakashi rasa ia datang dari salah satu kunai yang ia beri segel untuk Hiraishin.

Dua pihak saling menatap satu sama lain dan selama beberapa menit taka da yang berbicara. Hanya suara angin yang membuat dedaunan saling menapar satu sama lain dan kebisingan desa yang terdengar jauh yang bisa terdengar di antara mereka.

"Maaf," ujar Minato melepaskan keheningan. "kalian pasti kawan dari Menma-san," Kakashi tertegun sesaat tidak mengenali nama tersebut sampai akhirnya ia menangkap kerlingan Sakura, yang menatapnya dengan determinasi tinggi.

Naruto?

Naruto.

Oh.

Kakashi baru mengerti saat itu. Ia mengangguk. "Apakah anda kesini untuk menangkap kami?"

"Apakah saya punya alasan yang cukup untuk menangkap kalian? Kalian belum membuktikan kalau kalian merupakan ancaman bagi Konoha."

Jawaban tersebut bukan jawaban yang Kakashi kira. Ia tidak bisa menjawab balik kata-kata yang gurunya suguhkan; sesaat, tenaga yang mensuplai otaknya berhenti, seakan mati lampu, sebelum menyala kembali.

"Sepertinya kalian sadar kami baru saja keluar dari situasi perang Shinobi; aku tidak ingin mengambil resiko membahayakan desaku, kalau bisa. Lebih baik, kalian langsung bersih."

Minato Namikaze dalam masa prima-nya membuat musuh bergidik. Tak terkecuali Kakashi yang baru pertama kali benar-benar merasakan posisi sebagai pengancam untuk sensei-nya itu.

Ia menghela nafas untuk kesekian kalinya hari itu.


Pria yang mungkin hanya lebih tua satu dekade darinya tersebut menguburkan wajahnya yang tertutup masker ke dalam tangannya yang dibalut sarung tangan tanpa jari. Ia menghela nafas panjang seperti orang tua yang siap memberikan "nasihat" kepada anaknya yang baru saja berbuat nakal.

Ia ingin mereka bersih, figuratif agar mereka menjelaskan seluruh keadaan dan niat mereka. Agar dirinya bisa mengambil keputusan dengan lebih mudah. Ia bisa saja langsung mengeksekusi seluruh ancaman yang ada, tapi Minato tidak ingin melakukan hal tersebut, setelah menghadapi perang shinobi yang tak lama telah selesai. Ia ingin menghindari darah menetes.

Lagipula, sumber daya manusia merupakan hal yang amat dihargai di tengah masa tenang setelah perang ini. Dihargai untuk membangun kembali desa yang terpuruk; tak hanya Konoha, namun desa-desa masif yang lain.

"Ah…" Pria dengan surai perak di hadapannya mengerang sedikit, menatap kedua muridnya yang duduk tak jauh darinya.

"Aku tak yakin seratus persen, tapi aku rasa kami terjebak di masa lalu."


to be continued


Counted words: 2.638

Updated on—16 July 2016 at 1 AM WIB.

[1] uruze = slang/pengucapan kasar urusai yang, secara kasar berarti "diam kau,"

A/N: DAMN. Kayaknya Rewind jadi update tiap satu tahun sekali. Kebiasaan yang buruk, tapi serius saya benar-benar niat ingin menyelesaikan cerita ini. Mulai dari zaman SMP sampai udah masuk semester 5 di kuliah. I'm still a despicable human being tho, for not updating like regularly every weekend or month. Everyone seems to have it easy. Like, they are very productive to write about 2k words every week or so. I had to get a depression or mental breakdown before actually work on something. Even college assignments that I've had generally done at the night right before the deadline. Regardless, I'm happy I could still write this.

Jangan lupa, review! Review memberikan semangat pada saya dan komentar konstruktif tanpa kata kasar maupun flame dapat meningkatkan mutu bacaan anda sendiri!

Have a good day! /banci drops mic