Chapter 2
Jimin, Taehyung dan Jungkook berjalan bersama melintasi Blok perumahan mereka. Jangan bertanya kenapa sedari tadi mereka bertiga selalu bersama, karena sebenarnya mereka adalah tetangga.
"Tae..." panggil Jimin pada Taehyung yang berjalan disamping kirinya. "Hm..."
"Tau tidak-"
"Tidak." Taehyung yang memotong kalimat Jimin langsung memasang cengiran polos.
Jimin menatap sebal Taehyung kemudian pindah ke sisi kanan Jungkook. Jadi, penempatannya sekarang adalah Jungkook ditengah, Jimin dikanan Jungkook dan Taehyung dikiri Jungkook.
Jimin memutar bola matanya kesal, "Taehyung tidak asik..."
Ia memeluk lengan kanan Jungkook dengan manja, "Kookie, Kookie. Tau tidak, sebenarnya alasan Jimin terlambat masuk ke kelas karena tadi ada insiden." Celoteh Jimin sok serius. Taehyung yang melihatnya manja pada Jungkook segera berekspresi masam.
Jungkook seketika menoleh, tatapan khawatir kembali terlihat, "Insiden apa?" Tanya Namja itu.
"Kau kenal Jiwoo kan? Tadi waktu Jimin ke kamar mandi, Jimin melihatnya dalam keadaan sekarat." Jelas Jimin, lalu meneruskan. "Dan Jimin membantunya ke UKS, Kata perawat, dia sepertinya diserang oleh hewan buas."
Jungkook menatap Jimin dengan dahi berkerut, kemudian beralih menatap Taehyung dengan tatapan penuh tanya.
Taehyung mengendikkan bahunya, tidak peduli. Saat merasa rumah mereka makin dekat, Jimin melepas pelukannya pada Jungkook. "Ah, sudah sampai."
Sebelum Jimin memasuki gerbang, Taehyung bersemangat menunjuk pipinya dan berkata. "Chim, Cium."
Jimin mendengus geli, tapi ia tak kuasa melihat tatapan penuh harap Taehyung. Dia menghampiri Taehyung, berjinjit agar bisa mencapai Taehyung dan mengecup pipinya sekilas. Jungkook membuang muka.
Taehyung tersenyum kotak, dan berujar polos, "Gomawoo~"
Jimin beralih pada Jungkook yang sedari tadi membuang muka, ia tau Jungkook juga menginginkan kecupan. Jadi Jimin mendekat dan melakukan hal yang sama pada Jungkook.
Namja manis itu mundur perlahan, Jungkook berdehem sebentar. "Baiklah sampai bertemu besok."
Jimin memasuki gerbang rumah dan melambaikan tangan. Namja pendek itu berlari kecil menuju pintu utama, memutar kenop pintu dan mendorongnya Jimin berseru, "Eomma, Chim pulang."
Kedua Namja itu masih didepan gerbang menatap pintu yang sudah tertutup, baru keduanya kembali meneruskan langkah.
Kupikir mereka terlalu berharap lebih pada Jimin, sedangkan Jimin hanya menganggap mereka adik. Meski sesekali ia merasakan debaran ketika berdekatan dengan mereka. Dan ia selalu menyangkalnya.
"Min Yoongi! Cepat datang ke tempat pertemuan."
Teriakan Namja cantik yang berasal dari lubang pintu memenuhi ruang latihan milik Namja bersurai hijau. Namja yang bernama Yoongi itu tidak menyahut, ia memegang busur panahan ditangannya dan melesatkan satu anak panah dari tempatnya.
Jin mendobrak pintu ruangan tersebut dan mendapati sang adik yang masih berkutat pada benda kesayangannya. "Astaga, cepat Yoongi. Jika tidak, aku akan dibunuh Appa."
"Aku tidak menerima perjodohan itu, Jin Hyung aku tidak menyukainya. Lagi pula aku yakin jika dia tipe Seme." Suara berat Yoongi terdengar dingin.
"Ck, setujui saja apa susahnya sih. Coba kau lihat aku dan Namjoon. Bukankah kami saling mencintai? Hanya masalah waktu dan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya."
Yoongi menghela nafas lelah, "Itu karena kalian dari awal ditakdirkan bersama. Sudahlah aku malas membahas ini lagi."
Ia bergerak sangat cepat, melewati jendela besar yang ada disana kemudian menghilang diantara hutan-hutan lebat.
"Yaaa! Min Yoongi bodoh! Kemari bocah." Jin sang kakak berlari ke arah Jendela, tapi ia terlambat. Jejak Yoongi menghilang. "Mau jadi apa anak itu." Gerutunya gemas.
Jin berbalik dan berjalan keluar.
"Min Yoongi Bodoh!"
Ia berteriak sekuat tenaga tanpa menyadari sosok yang sedang bersandar didinding. "Perlu bantuan hm?" tawar orang itu berjalan mendekatinya.
Jin hampir saja terjungkal karena saking terkejutnya. Dia memukul pelan bahu Namjoon yang kini berdiri disampingnya, "Jangan mengejutkanku Joonie. Kau membuat Mood ku bertambah buruk."
Namjoon terkikik, tunangannya yang cantik ini sangat mengerikan jika sudah marah. Tapi itu salah satu alasan kenapa ia menyukainya. Ah, tidak. Mencintainya.
"Jadi, apa aku harus mengejarnya? Aku bisa menangkapnya jika kau mau."
Tangan Namjoon memeluk perut Jin, terlihat sangat manja pada Namja yang lebih tua darinya itu. "Biarkan saja." Putus Jin membuat dahi Namjoon berkerut.
"Kau tidak percaya pada kemampuanku?"
Jin memutar tubuhnya dan mengalungkan tangannya pada leher Namjoon. Romantis...
"Aku selalu percaya pada Kemampuanmu sebagai Vampir, pasti kau dengan mudah dapat mengejarnya." Namjoon mengangguk, "Tapi setelah kupikir-pikir dia sudah dewasa untuk menentukan jalannya. Jadi, biarkan saja."
Namjoon mengangguk mengerti, lalu berucap malas, "Kau ditunggu Appa." mata Jin membola, menepuk keningnya dia pun melesat ke ruang pertemuan. Meninggalkan Namjoon yang cengo.
Sreeeekkk...
Pintu pertemuan terbuka, menampilkan sosok Jin (º_º) yang berdiri dengan nafas agak terengah-engah. Ia menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Dan ia kembali pada gaya formalnya, "Hn. Yoongi menolak perjodohan ini."
Seluruh orang yang ada disana terkejut, terutama orang yang akan dijodohkan dengan Yoongi. Sang pangeran bangsa Were-wolf, tatapan kecewa tampak kentara.
Ayah Jin dan Yoongi. Sang raja menghela nafas, ia sebenarnya sudah menebak itu yang akan dikatakan putranya.
"Jadi dimana dia sekarang?"
Jin kaku, keringat dingin mulai bercucuran. "Eh, itu. Dia kabur." Jelasnya sembari menggaruk belakang lehernya.
"Astaga..."
Yoongi melompat dari batang pohon ke batang pohon lainnya. Kakinya terlihat ringan saat menapaki tanah berlumut dibawah. "Aku bebas."
Seringai sinis muncul, "Jangan harap aku akan kembali." Dia sudah muak dengan segala macam perjodohan yang Ayahnya lakukan.
Sebenarnya begini, Kaum peri adalah kaum yang ramah dan cinta akan kedamaian. Mereka sangat dekat dengan para kaum Maia yang jumlahnya tidak cukup banyak. Kaum Peri sangat bersahabat, tapi masih ada beberapa kaum lain yang tidak menyukai mereka.
Contohnya adalah Vampir dan Were-wolf, jika kelompok itu bertemu sering terjadi cekcok antara penduduknya.
Oleh karena itu, Kaum peri yang cinta damai memilih untuk berdamai dengan mereka. Salah satunya adalah dengan menikahkan keturunan mereka. Yang katanya, dipercaya dapat mempererat tali persahabatan.
Jin sudah akan menikah dengan Vampir itu. Yoongi tidak terlalu peduli, yang ia pikirkan hanya dirinya sendiri. Terlalu egois mungkin, tapi itulah kenyataannya.
Kakinya yang berbalut sepatu peri terlihat melayang melewati jalanan berlumpur. Tidak ingin mengambil resiko sepatunya kotor.
Tujuannya kini hanya satu.
Dunia manusia.
Tempat yang belum pernah ia datangi, dan hanya bisa membayangkannya lewat sebuah buku tua diperpustakaan istana.
Dia ingin kesana, hidup disana, dan menjadi bagian darinya.
Dengan semangat ia mulai melajukan langkahnya. Tidak sabar untuk kesana, meski hanya berbekal busur serta beberapa anak panah. Dia tipe petualang meski masa kecilnya lebih banyak ia habiskan di istana peri itu.
Inilah aku. Sang Pangeran dari dunia peri.
TBC
