Jungkook bersandar pada pintu kamar sang Hyung, "Ku dengar mereka akan segera menikah." Ucapnya membuka percakapan.

Taehyung yang tengah membaca komik diatas ranjang hanya bergumam, "Aku tidak peduli."
Jungkook memutar bola matanya, "Dia menyuruh kita datang." Taehyung hampir menjawab sebelum Jungkook menyelanya, "Dan jangan bilang Tidak."

"Persetan." Umpat Taehyung menutup komik kesayangannya. Ia bangkit dari ranjang, menyimpan komik itu ke rak dinding. Lalu berjalan menuju pintu kamarnya. "Salah sendiri kenapa harus menikah dengan peri. Seperti tidak ada pilihan lain saja." Decaknya melewati Jungkook begitu saja.

Jungkook menghela nafas, lalu menggeleng pelan. "Dasar..."

Ia mengikuti Taehyung yang kini duduk didepan Tv sedang mencari Chanel kesukaannya. Yang pastinya tidak lepas dari Anime.

"Hyung, apa kau tau berita kepindahan tetangga Jimin?"

"Kita tidak pindah Jungkook."

"Bukan kita Hyung. Ck, tapi Lee Jungshu."

"Oh, wanita aneh itu." Mata Taehyung memutar bola matanya saat mengingat kejadian 3 minggu yang lalu, dimana seorang Kim Taehyung hampir dicekik oleh wanita bernama Lee Jungshu tanpa alasan yang jelas.

Jungkook terkekeh, "Ya... si gila itu berkoar-koar mengenai ketidaknyamanannya dengan beberapa manusia serigala yang mencuri daging sapi simpanannya."

"Benarkah? Wah, kaum anjing itu kehabisan makanan dan alih profesi jadi pencuri. Menjijikan sekali." Dari sini kita bisa melihat ketidaksukaan Taehyung yang sangat kental pada Kaum were-wolf.

"Omong-omong tentang makanan." Mata Jungkook menjadi puppy eyes.

"Hyung, lapar..."

Taehyung menatapnya datar, "Kau tadi bukannya sudah kusuruh untuk mencari makan sendiri?" Tanya Namja berstatus yang lebih tua.

"Malas."

"Kalau begitu salah sendiri." Ejek Taehyung yang langsung dihadiahi lemparan bantal oleh Jungkook.

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh. Taehyung mendorong Jungkook, "Sana buka."

Jungkook menatapnya malas, "Haaah..." ia berdiri kemudian berjalan menuju pintu rumah. "Aku datang..." tangannya membuka kenop pintu dan langsung mendapati seorang Namja pendek dengan pipi chubby memerah sembab.

Namja itu langsung memeluknya erat, tak peduli dengan tinggi yang membuat mereka tak seimbang. "Kookie~ Huee~"

Jungkook terkejut, "Ada apa Chim?"

"Aku ditinggal Appa dan Eomma berlibur. Huee~ mereka jahat tidak mengajak Jimin." Ia makin terlihat seperti kucing kecil manja. Jungkook menggendong Jimin seperti koala. "Lalu apa yang kau inginkan?"

"Menginap!" Seru Jimin antusias hingga membuat keseimbangan mereka agak goyah. Lagi pula besok libur, pikirnya senang.

"Hyung, aku menemukan kucing tersesat disini!" Teriak Jungkook ke dalam.

"Biarkan saja. Buang sana!" Balas Taehyung membuat perempatan kesal terbentuk didahi kiri Jimin. "Yaa! Taehyung menyebalkan." Protesnya sementara Jungkook berjalan ke dalam dengan Jimin masih dalam gendongannya.

Mereka sampai diruang Tv dan melihat Taehyung serius menonton anime-nya. "Bagaimana jika kucingnya seperti ini? Apa kau tega membuangnya?"

Taehyung menoleh saat Jungkook sudah duduk dibelakangnya lengkap dengan Jimin dipangkuannya. "Jiminie, sedang apa disini?" Tanya Namja itu heboh yang langsung dihadiahi Jitakan oleh Jimin.

"Bukan urusanmu. Dasar tidak berperikemanusiaan." Cibir Jimin ia menatap tajam Taehyung. Sedangkan yang ditatap hanya membalas dengan ekspresi blank.

"Apa yang kau maksud?" Tanya Taehyung yang menurut Jimin terdengar bodoh.

"Diam sajalah..." Jimin bangkit dari pangkuan Jungkook dan duduk disamping Namja yang paling muda. Ia berniat menjauh dari Taehyung, tentu saja karena dia masih kesal padanya.

Taehyung mengangkat bahu lalu melanjutkan kegiatannya menonton Tv. "Hah?! Sudah selesai." Teriaknya dengan horor menunjuk benda persegi panjang dihadapannya.

Ia menekan tombol-tombol pada remote Tv, mencoba mencari acara yang menurutnya menarik. Beberapa menit kemudian Taehyung menghela nafas bosan, "Tidak seru."

Namja pemilik senyum kotak itu beralih mengamati dua manusia lain yang sedari tadi diam. Sibuk dengan urusan sendiri. Jika Jungkook, ia yakin bocah itu sedang bermain game. Tapi Jimin?

Ia mengerutkan kening, wajah Jimin menunjukkan bermacam-macam ekspresi aneh. Terkadang senang, malu-malu, marah, dan kini wajahnya memerah. Penasaran, Taehyung mendekati Jimin dan duduk dibelakangnya, "...Sean menatap penuh sayang pada gadis korea dihadapannya. Wajah mereka saling mendekat satu sama lain."

Jimin terbelalak, ia segera menutup layar ponselnya. "Yaa! Kim Taehyung!" Ia berteriak dengan wajah memerah malu. Taehyung memandangnya dengan seringai licik.

"Aw, manis sekali. Jiminie kita sudah dewasa ternyata..." goda Taehyung menoel-noel dagu Jimin yang wajahnya semakin merah. Jungkook menoleh bingung.

Ia memberikan pukulan bertubi-tubi pada makhluk dihadapannya, "Bodoh! Kim Taehyung menyebalkan!" Sebalnya dengan wajah imut yang menggemaskan.

"Tenang sayang, lain kali aku akan melakukan itu untukmu. Jadi kau tidak perlu membaca lagi." Taehyung kabur menuju dapur untuk membuat mie instan.

Mata Jimin menyipit dan sebuah pout tercipta."Yaa! Kim Taehyung, jangan lari begitu saja."

Ia pun memburu Taehyung ke dapur.

Meninggalkan Jungkook yang terdiam menengadah kepalanya ke atas. Ia menutup matanya.

Jungkook menggeram, mulutnya terbuka menampilkan dua taring yang tampak runcing.

Ketika ia membuka matanya...

...semuanya hitam. Dari warna putih yang normalnya ada mengelilingi irisnya, dan warna irisnya yang sebelumnya coklat menjadi hitam legam.

Wajahnya sayu, tampak tersiksa.

"Ah sial. Aku masih lapar dan Jimin datang. Argh!"

.

.

.
.

Hari itu Yoongi bertekad untuk segera masuk kedunia manusia. Jari tangannya menjentik, dan segepok uang langsung mendarat ditangannya. "Kupikir aku juga harus mengganti pakaianku."

Ia mengedarkan pandangan ke seluruh toko yang ada disana. Lalu begumam, "Toko roti, Toko sepatu? Ah nanti saja. Toko perhiasan, Toko baju... Itu dia."

Udara malam terasa berat menghantam tubuhnya.

"Aku harus cepat, sebelum mati kedinginan."

Dan tanpa Yoongi ketahui, sepasang mata serigala mematainya dengan wajah sedih.

"Apa yang membuatmu tertarik dengan dunia makhluk menjijikan ini, Min Yoongi?"

.

.

.

Sudah saatnya tidur, dan Jimin merajuk ingin tidur dengan Jungkook. Tampaknya ia masih marah pada Taehyung.

"Jungkook."

"Tidur denganku saja."

"Ingin Jungkook..."

Mata Jimin berkaca-kaca.

"Malam ini dengan Taehyung saja ya Chim..." Jungkook mencoba mengelus rambut Jimin.

Tapi Jimin menepis tangan Jungkook. "Kookie tidak ingin tidur dengan Chim ya?" Tanya Jimin dengan air mata menggenang.

"Hueeee~" Jimin menangis dan langsung lari menuju kamar Taehyung.

Jungkook tampak berniat memcegatnya, tapi tatapan Taehyung membuatnya mengurungkan niatnya itu.

"Ini yang terbaik."

"Aku tau itu."

Taehyung melangkah menuju kamarnya.

Dan Jungkook masih frustasi karena membuat Jimin menangis. Sungguh, sebenarnya ia sangat ingin sekamar dengan Jimin.

Tapi apa daya rasa panas ditenggorokannya semakin terasa. Tak mungkin'kan ketika saat tidur dengan Jimin, Jungkook tiba-tiba menyerangnya dan menghisap darahnya beringas?

"Aku harus berburu."

°°•°°

Yoongi menaruh pakaian khas perinya kedalam sebuah tas yang tadi sempat dibelinya. Ia sekarang mengenakan Hoodie hitam dan sepotong celana jeans. Tampaknya dia sudah nyaman memakai pakaian manusia.

"Begini lebih baik."

Ia berjalan senormal mungkin dan menahan diri agar tidak melayang. Jujur saja, berjalan sungguh melelahkan.

Jalanan tampak lebih sepi dari yang tadi. Mengingat ini sudah petang dan udara diluar terlalu dingin untuk mereka nikmati, dan orang-orang tidak bodoh untuk lebih memilih berjalan dimalam dingin daripada menggulung diri dengan selimut hangat dirumah masing-masing.

Ah ya, Yoongi membutuhkan rumah.

Tiba-tiba nama seseorang melintas dibenaknya, Jung Hyorin!

Ia berbisik, "Giok."

Tak lama kemudian suara 'Poof' keras terdengar bersamaan dengan datangnya seorang wanita paruh baya yang langsung membungkuk patuh didepan Yoongi.

"Bibi Jung..."

"Giok, Tuan muda. Ada apa memanggil saya d-dan kita dimana?" Wanita itu menatap sekeliling yang sangat asing baginya.

"Didunia manusia."

"Jika Tuan besar tau bagaimana?!"

"Diamlah, kau hanya pembantu disini. Tidak perlu mencampuri urusanku." Desisnya Sadis.

"B-Baik Tuan." Bibi Jung mengeret takut.

"Aku memanggilmu kesini untuk mencarikanku sebuah rumah yang layak ditempati."

"Rumah dengan tetangga yang tidak berisik."

To Be Continue...

Akhirnya Zyan meneruskan kisah ini.
#digamparberjamaah :'v
Mian, Zyan sedang seteres. Jadi gak mood buat nerusin cerita ini.