Keesokkan harinya Jimin pulang pukul 05.00 subuh mengingat dia masih harus sekolah. Dan dia hanya pamit pulang pada Taehyung, Jimin tidak mau bertemu Jungkook.

Padahal pagi itu Jungkook sudah menyiapkan makanan kesukaan Jimin. Dia sudah menyiapkan diri untuk meminta maaf pada si manis itu.

Tapi ia harus menelan pil pahit. Jimin sudah pergi dan tidak berpamitan padanya. Dan itu membuat Taehyung dengan sok prihatin menepuk bahunya dan berkata, "Semua sudah terjadi."

Tidakkah kalian tau?

Itu sangat JLEB!

Dan Jungkook memutuskan untuk pergi ke rumah Jimin tanpa sarapan. Toh, itu bukan makanan utamanya.

"Chim..." panggil Jungkook saat ia menjumpai Jimin yang ternyata sudah bersiap pergi digerbang rumahnya. Tanpa menunggu Jungkook dan Taehyung. Ya, Saudara-saudara. Tanpa menunggu Jungkook dan Taehyung.

Dapat Jungkook lihat Jimin agak tersentak. Tapi itu hanya sesaat sebelum akhirnya wajah si Park muda itu menjadi keruh dan pout tercipta dibibirnya. Ia berjalan tanpa menoleh ke arah Jungkook.

Sial.

Jungkook tidak tau apa yang harus ia lakukan. Karena selama ini Jimin tidak pernah marah padanya.

Jungkook hampir melangkah mengejar Jimin tapi suara pintu terbuka dirumah milik Lee Jungshu membuat Jungkook terdiam.

Seorang Namja berambut pirang keluar dari pintu itu dan mengunci pintunya. Jungkook memperhatikan seragam Namja itu yang tampak sama dengan seragam sekolahnya.

Tapi seingat Jungkook ia tidak pernah melihat orang itu disekolahan mereka. Dan apakah dia yang sekarang tinggal dirumah si gila Jungshu?

Si pirang tampak berlari kecil menuju gerbang rumah itu dan menyapa Jimin yang tidak jauh dari sana.
Mereka berbincang sembari berjalan bersama.

Sepertinya Jimin sudah dapat teman baru.

"Awasi dia Kook..."

"Aku tau Hyung, aku merasa ada sesuatu yang janggal pada dirinya." Lirih Jungkook dengan tangan mengepal.

Sebuah lengan merangkulnya, dan pastinya itu lengan Taehyung. "Aku tidak pernah mau berbagi wilayah dengan makhluk sok suci semacam itu."

"Aku tau. Karena aku juga sama sepertimu."

"Dan salah satu makhluk sok suci itu akan menjadi salah satu keluargamu sebentar lagi."

"Aku ta-"

Mata Jungkook dan Taehyung membulat.

"Namjoon Hyung!"

°°•°°

Yoongi berjalan sambil memandangi wajah riang teman barunya itu yang sekaligus merangkap sebagai tetangga barunya juga.

Park Jimin. Namja manis bersuara imut dengan surai hitam menggemaskan. Tubuhnya lebih mungil dibanding Yoongi, itu membuat Yoongi tambah suka padanya.

Kepribadiannya yang ceria membuat dada Yoongi berdesir. Keinginan kuat untuk membawa Namja itu ke sudut tempat dan mencumbunya penuh cinta membuat Yoongi sadar akan sesuatu.

Sang pangeran telah menemukan pujaan hatinya.

Dan kini Yoongi punya alasan kuat untuk menolak perjodohan yang dibuat oleh sang Appa.

"Jadi Hyung, kau menyukai mata pelajaran apa?"

Yoongi tersenyum tipis, "Apa saja asal tidak melibatkan angka-angka nista. Tapi sesungguhnya aku akam sangat senang jika disekolah yang baru terdapat pelajaran Jiminology."

"Jiminology? Pelajaran apa itu Hyung?"

"Pelajaran yang membahas tentang bagaimana seorang Park Jimin bisa sangat manis dan mempesona. Serta dampaknya bagi orang-orang sepertiku." tutur Yoongi yang berhasil membuat pipi Jimin memerah.

Jimin memukul bahunya main-main. "Aish Hyung!"

Yoongi terkekeh pelan dan mengusap rambut Jimin yang menatapnya imut.

Ini kontak fisik yang aneh bagi dua orang yang baru beberapa menit bertemu. Seolah mereka pernah melakukan ini dan biasa melakukan ini.

Jimin sendiri merasa nyaman dengan sentuhan tangan Yoongi pada rambutnya. Jadi apa masalahnya?

"Jimin-ah, kau tinggal dengan siapa?" Tanya Yoongi dengan tiba-tiba.

"Hanya Appa dan Eomma."

"Apa kau memiliki sahabat?"

"Tentu, namanya Kim Taehyung dan Kim Jungkook." Jelas Jimin dengan ceria, "Oh iya. Mereka juga tetangga kita loh Hyung. Lain kali kau akan ku ajak ke rumah mereka, mau ya?" Rayu Jimin dengan bola mata berbinar manis.

Dan Yoongi tak kuasa menolaknya.

Tak terasa mereka sudah sampai disekolah. Para murid memandang penasaran orang yang dibawa Jimin, sedangkan Yoongi lebih intens memandang Jimin.

Jimin merasa sesuatu yang hangat dalam dirinya bergerak pelan melingkupi dadanya. Dan wajah Jimin memerah menyadari Yoongi kini menyeringai menatapnya seolah dia mangsa yang tak boleh dilepas.

Yoongi senang atas reaksi Jimin barusan. Sesuai dengan harapan Yoongi, dia mulai lebih berani dan menggenggam tangan Jimin dengan wajah yang membuat para murid mengerti jika Jimin miliknya.

"Antar aku ke ruangan kepala sekolah ya. Dan bantu aku menemukan kelas, Jiminnie." Itu perintah.

Jimin mengangguk malu.

.

.

.

.

.

.

.
Hari ini kelas Jimin mendapat berita jika Kim Taehyung dan Kim Jungkook akan pindah dari sekolah mereka menuju ke SM High School dua hari lagi.

Jimin terkejut tentu saja, baru tadi pagi dia bertemu dengan Jungkook dan anak itu masih memakai seragam sekolah seperti biasa. Lalu tiba-tiba kedua sahabatnya itu dinyatakan akan pindah sekolah.

Lelucon macam apa ini?

Jimin yakin jika saat ini bukanlah bulan April.

Dan sepanjang pelajaran Jimin hanya melamun tanpa memperhatikan gurunya mengoceh. Sebuah suara kecil berbicara diotaknya, 'Jungkook ingin pergi karena kau.'

Wajah Jimin lesu, rasanya sepi tanpa kedua sahabatnya itu. Seolah dia asing berada disini tanpa mereka, dan rasanya ditinggalkan. Kosong.

"Park Jimin!"

"E-eh iya?" Jimin tersentak kala mendapati Kyuhyun Songsaenim menyerukan namanya.

Pria yang lebih tua 8 tahun darinya itu menatap Jimin teliti, "Wajahmu pucat. Apa kau sakit?" Tanya guru yang dikenal Killer itu dengan tenang.

"Tidak, Songsae-"

"Jimin, Hidungmu berdarah!" Teriak siswa didepannya.

Jimin reflek menyentuh bawah hidungnya. Benar saja, disana ada darah.

Jimin jarang mimisan, mungkin ini karena dia terlalu banyak pikiran tadi. Ia mencoba mengelapnya dengan telapak tangannya.

Kyuhyun menghela nafas, "Sebaiknya kau pulang."

"Tidak Songsae-"

"Kerjakan halaman 157 sampai 167." Perintah Kyuhyun menarik pelan lengan Jimin agar mengikutinya keluar.

Ia mengambil sebuah sapu tangan putih yang ada disaku depannya. "Ini, pakai ini."

Jimin mengambilnya dan segera menutupi hidungnya. "Terima kasih, Kyuhyun Songsaenim."

"Hn."

Mereka memasuki mobil putih yang Jimin yakini milik Gurunya itu. Tadinya Jimin berniat duduk dibelakang karena merasa tidak nyaman duduk didepan dengan Kyuhyun, tapi Kyuhyun berkata dengan sarkasme.

"Kau ingin menjadikanku sopirmu hah?"

"T-Tidak Songsaenim."

Dan disinilah dia.

Duduk tegang disamping Kyuhyun yang sedari tadi tidak berhenti menarik nafas. Tangan kirinya meremat celana sekolahnya gugup dan tangan kanannya masih memegang sapu tangan putih dengan banyak noda darahnya itu.

"Kyuhyun Songsaen-"

"Hyung saja, kita diluar sekolah. Dan aku tidak terlalu menyukai panggilan itu." Potong Kyuhyun dengan wajah datar.

"N-Ne Hyung, T-Tapi kita mau kemana? Ini bukan jalan rumahku." Cicit Jimin pelan.

"Ayo, kita makan dulu."

"T-Tapi aku tidak lapar."

Kyuhyun memejamkan mata lalu menghentikan laju mobilnya. "Kau tidak ke kantin tadi Jimin. Aku tau kau sedari tadi dikelas melewatkan jam istirahat."

Jadi, Kyuhyun memperhatikannya?

Apa maksudnya ini?

"T-Tapi aku benar-benar tidak lapar." Jimin terus menundukan kepalanya. Sapu tangan yang dipakainya ia lepas, sepertinya mimisannya sudah berhenti.

Jimin membersihkan sisa lelehan darah menggunakan sisi sapu tangan yang masih bersih. Dan Kyuhyun memperhatikannya.

Tangan Namja yang lebih tua mengambil satu helai tisyu dari kotaknya dan menarik tengkuk Jimin.

Mata Jimin membola, Kyuhyun ikut membersihkan darah mimisannya.

Netra Kyuhyun bertemu pandang dengannya. "Jangan terlalu banyak pikiran. Jaga pola makanmu." Ujar Kyuhyun mengacak surai hitam Jimin yang sedari tadi tampak diam membeku.

"Jika kau masih bersikeras tidak mau makan. Maka biarkan aku yang Makan."

Tanpa aba-aba Kyuhyun langsung menelusup diperpotongan leher Jimin. Ia memeluk tubuh Jimin agar tidak memberontak dan langsung menancapkan taringnya pada leher anak itu.

"Aaarrrggghhhh!" Jimin berteriak tak karuan, matanya seakan ingin keluar dari tempatnya.

Tangannya mencengkram erat kedua lengan Kyuhyun dan kembali berteriak. Rasa panas menjalar diseluruh nadinya, menusuk semakin dalam dan membuat Jimin merasa nyawanya ada diambang.

Sesuatu seperti memaksa keluar dari tubuhnya, itu darahnya.

Dan perasaan nyeri tiba-tiba mengenai persendiannya, membuat Jimin lemas seketika. Tubuhnya terasa sakit semua. Dan ia terkejut kala menyadari pipinya sudah basah oleh air mata.

Kyuhyun memundurkan wajahnya yang dihiasi lelehan darah. Ia mengendusi bagian sisi lain leher Jimin, "Hmm... Kau manis, seperti dugaanku." Desah Kyuhyun dengan mata yang semerah darah.

"Aarrrrgghhhhh!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jimin!"

"Yak! Jimin bangun."

Jiwa Jimin rasanya tiba-tiba tersedot kembali ke dalam tubuhnya. "Haahh.. hh...hhh..." ia terengah engah seakan habis dari lari maraton.

Ia menatap lemah Kyuhyun, perasaan takut kembali dalam diri Jimin. "M-Menyingkir dariku! Jangan hisap darahku!" Teriak Jimin sambil menutupi lehernya.

Kyuhyun menatapnya bingung, "Jimin, ada apa denganmu?" Ia menangkup pipi Jimin yang semakin pucat.

"Apa kau mimpi buruk? Karena sepanjang perjalanan tadi kau tertidur."

Jimin diam.

'Mimpi buruk?'

"H-Hyung, tunjukan gigimu!"

Kyuhyun tersenyum kotak hingga seluruh giginya yang rapi terlihat. "Ada aha?" (Read : Ada apa?) Ia bertanya dengan gigi yang masih terlihat.

"Ti-Tidak. M-Maafkan aku! Maafkan atas sikap tidak sopanku!" Jimin seketika ingat jika didepannya ini adalah gurunya sendiri. Orang yang harusnya dihormati. Ia menunduk berkali-kali sambil menyuarakan kata maaf.

Kyuhyun tersenyum, "Ayo makan denganku. Tubuhmu kelihatannya butuh tenaga, aku yang traktir."

"I-Iya, Terima kasih."

Ia melihat Kyuhyun keluar dari mobil, dan ia pun juga mengikuti gerakan Kyuhyun.

Mereka berjalan menuju sebuah tempat makan yang lumayan ramai.

Jimin merasa tidak nyaman dengan aura tempat itu. Tangan mungilnya langsung ia tautkan ke tangan besar Kyuhyun. "H-Hyung..."

"Ada apa Jimin?"

"Ah, tidak."

.

.

.

.
.

Setelah mengisi perut dengan makanan yang tidak bisa dibilang murah itu, Kyuhyun pun mengantar Jimin pulang. Disepanjang perjalanan, mereka saling bercanda mengenai perut besar lelaki tua yang mereka temui ditempat makan tadi.

Setelah sampai digerbang rumah, Jimin teringat sesuatu. "Hyung, tas ku!"

Kyuhyun tersenyum jahil, ia mengambil sebuah tas. "Ini..."

Jimin segera memeluk benda itu seolah benda itu adalah hal yang sangat berharga baginya.

"Terima kasih Hyung. Atas semua yang hari ini kita lakukan. Aku sangay senang."

"Terima kasih kembali. Aku juga senang."

Jimin berjalan sambil melambai ke arah pintu rumahnya. "Sampai jumpa besok Hyung."

Dan kali itu Jimin tidak melihat kelakuan asli Kyuhyun yang menciumi tisyu yang tadi digunakannya untuk membersihkam darah Jimin.

"Sampai jumpa lagi manisku."

.

.

.

TBC

ANE MAU BILANG.
ANE MERASA CERITANYA MULAI ANEH DAN AMBURADUL.
SETELAH KYUHYUN DATANG DAN MEMPORAK PORANDAKAN HATIKU HUHU~

ALIEN NGGAK BISA DIGINIIN TAUK!

#plak

Abaikan. :'v