Udara malam menerpa halus wajah Jimin. Ia duduk didepan jendela kaca yang terbuka, udara malam memang tidak sehat untuk tubuh. Tapi jika itu dapat memperlancar pikirannya ia bisa mentolerir hal itu.
Prang!
Piring kedua jatuh. Teriakan sang Eomma menggelegar sampai dikamarnya, ia memejamkan mata. Berharap jika ini semua tidak pernah terjadi didalam hidupnya.
Tentang Bagaimana sang Appa masuk ke rumah dalam keadaan mabuk. Kemeja kantor yang penuh lipstik. Teriakan murka sang Eomma dan Pertengkaran yang terjadi diantara keduanya.
Tanpa sadar cairan bening mulai turun membasahi pipinya yang merah. Tidak pernah ada peristiwa seperti ini dalam hidupnya, ia selalu merasa hidupnya sempurna.
Jimin terisak, ini begitu mendadak untuknya.
Inginnya dia kesana dan melerai kedua orang tuanya, tapi sang Eomma telah memerintahkannya untuk berada didalam kamar.
Jimin yang pada dasarnya anak penurut pun tidak banyak berkata-kata. "Lalu apa yang harus ku lakukan?" Ia berbisik pada dirinya sendiri.
Tenanglah...
Aku Disini...
Jimin menatap kosong pemandangan diluar. Ia yakin tadi ada yang berbisik padanya, penuh perhatian dan rasa ingin menjaga. Jimin sudah tidak mendengar cacian sang Eomma. Perasaan takut tiba-tiba menghampirinya.
Ia berbalik, melangkah menuju pintu. Mengintip dari pintu yang tidak tertutup sempurna, Jimin tidak menemukan keduanya. Langkah kaki terdengar mendekatinya, dan segera mata Jimin bertemu pandang dengan bola mata sang Appa. "A-Appa?"
Jimin melangkah kebelakang dengan perasaan ngeri, "Jangan."
"JANGAAAN!"
"Jimin! Ada apa?"
Goyangan pelan pada pundaknya membuat Jimin terbangun. Wajahnya bersimbah peluh dan jejak air mata.
Jungkook mengusap pipi Namja itu, "Ada apa?"
Jimin memeluknya erat, tubuh Jimin bergetar. "Kookie, aku mimpi buruk." lirihnya dengan suara terendam. "Appa membunuh Eomma."
"Itu bukan mimpi Chim."
"Hm?" Jimin mendongak tidak mengerti.
"Appa mu benar-benar telah membunuh Eomma mu. Untung saja aku datang cepat-cepat kesana, jika tidak aku pasti sudah kehilanganmu."
Jungkook memeluk Jimin posesif. Dan sang empu hanya terdiam, segalanya terasa mengejutkan.
.
.
.
.
Selama berada disekolah Jimin lebih banyak diam. Berita tentang keluarga Jimin telah menyerbak kemana-mana, para murid membicarakannya.
Jimin tidak peduli, ia hanya perlu berjalan melewati mereka seolah tidak pernah mendengar apa-apa. Ia dalam suasana hati yang buruk. Taehyung dan Jungkook mengerti perasaannya, jadi mereka memilih diam saja.
Ia juga bertemu dengan Kyuhyun. Kyuhyun mengungkapkan rasa berdukanya pada Jimin, dan itu sedikit meringankan pikiran Jimin.
Dan hal itu berlangsung sampai pulang sekolah. Biasanya perjalanan pulang mereka diselingi dengan canda tawa, tapi untuk hari ini hening.
Ketika masuk ke blok perumahan Jimin berhenti berjalan. Menyebabkan kedua Namja lain ikut berhenti, "Ada apa?" Taehyung menyeletuk pertama.
"Aku ada urusan. Kalian duluan saja." Jimin menjawab dengan datar.
"Baik, tapi cepatlah pulang."
"Hn."
Dan mereka tidak melihat keberadaan Yoongi.
Jalan setapak kecil itu agak becek. Tapi Jimin sudah terlanjur kesana, ada satu tempat yang selalu ia tuju ketika mendapat masalah. Danau... Danau kecil ditengah hutan.
Tempat itu sangat tenang, bersih meski rumput liar tumbuh tak terurus. Jimin masih bisa merasakan sensasinya, alami. Ia duduk disalah satu tempat.
Melempar tas sekolahnya ke sembarang arah, Namja itu sibuk mengambil beberapa bebatuan disana sini.
Ia menatap kosong danau, dengan tangan yang melempar batu-batuan itu ke danau seolah batu itu adalah masalahnya. Lemparan pertama pelan, ia agak mengerutkan kening. Lemparan kedua cukup keras, ia kembali menangis.
Masih segar diingatannya sang Eomma yang terbujur kaku tanpa nyawa. Darah mengotori lantai dan gaun rumahan yang dipakai Wanita cantik itu. Saat itu Eommanya dingin, tidak hangat seperti biasa.
Jimin mulai merindukan Eommanya, pelukan hangatnya. Bibir cerewetnya yang selalu mengoceh menasehatinya. Dan masakan yang selalu ia santap setiap hari. Kini ia harus mandiri, tanpa orang tua.
Persetan dengan sang Ayah yang mendekam dipenjara. Ia takut jika nantinya ia gila, "Eomma, Eomma menunggu Chim kan?"
Dadanya sesak, ia sudah tak memiliki Ibu. "Eomma..."
"EOMMMAAA! Hiks... Hiks..."
Tubuh Jimin meringkuk, seolah berharap sang Eomma akan mendekapnya. Ia terisak kencang, tidak peduli meski ia terlihat seperti pengecut.
Pelukan hangat merengkuhnya, Jimin tersentak ketika tangan orang itu menariknya. Wajahnya bersembunyi dileher sang pemeluk, ia membalas pelukan itu. Menangis dan menangis lagi seperti keran yang tidak bisa mati.
Usapan lembut disurai miliknya membuat Jimin sedikit tenang. Kepalanya bersender pada pundak orang tak dikenal itu. "Tidak apa-apa." Ia mendengar suaranya, suara Namja. Jimin tidak membalas ia menutup mata. Dan dengan kelelahan ia tertidur.
"Hei... apa kau tertidur?"
.
.
.
.
.
Jimin mengucek kelopak matanya. Sesaat setelah ia terbangun ia langsung disambut dengan kamar bernuansa warna hijau gelap. Yang jelas, ini bukan kamarnya atau kamar milik kedua sahabatnya.
Pintu kamar itu terbuka, menampakkan seorang Namja berperawakan tinggi sambil membawa sebuah nampan. "Hai, apa kau sudah baikan?"
"Ehmm, y-ya tentu."
"Syukurlah..." Namja itu mendekat, menaruh nampan diatas nakas ia mengulurkan tangan besarnya. "Namaku Hoseok, Jung Hoseok."
Tangan kecil Jimin bergetar menyambutnya, "Jimin, Park Jimin."
Setelah kedua tangan itu terlepas Hoseok dengan ribut berseru, "Ah ya! Kau bisa memakan bubur ini Jiminie. Aku yang telah membuatnya, karena dari tadi aku mendengar perutmu berbunyi."
Wajah Jimin memerah malu saat Hoseok mengatakannya dengan nada polos, Hoseok menahan nafas. "Aaaa! Imutnya!" ia menarik pipi tembam Jimin.
Jimin mencoba lepas dari tangan Hoseok, "Hoseok. Sakittt... " Hoseok makin menarik pipi itu hingga benar-benar memerah. Ia melepasnya, dan dengan cepat Jimin mengusap pipinya.
"Hahaha... aku jadi ingin memakan pipimu Jiminie." Hoseok memasang wajah aneh, sedang Jimin melindungi pipinya. "Yaa! Pipiku tidak enak."
Jimin agak mengomeli Hoseok tentang jangan menarik pipinya. Tapi sungguh, itu menyakitkan. Sedangkan Hoseok malah memasang cengiran lebarnya dan kembali berkata akan menggigit pipi Jimin yang seperti bakpao.
Jimin seketika sadar, Hoseok sudah membantunya melupakan rasa sakit hatinya kehilangan sang Eomma.
Bibirnya tertarik membuat senyuman lembut.
"Hoseok-ssi, umurmu berapa?"
"Entahlah, aku lupa menghitungnya. Yang pasti aku lebih tua darimu." Ujar Hoseok dengan kening berkerut seolah memikirkan sesuatu yang serius.
Jimin tidak menyukai ekspresi serius Hoseok.
"Kau aneh." Lirih Jimin sambil menatapnya tersenyum.
"Ah ya, sekarang sudah pukul lima sore. Apa kau ingin kuantar pulang? Tentu saja setelah kau menghabiskan bubur itu." Tawar Hoseok ramah.
"Tentu, terima kasih Hyung." Wajah Jimin menunjukkan ekspresi enggan. Jika ia pulang kerumah, tidak akan ada yang menyambutnya lagi.
Tapi Hoseok salah tangkap, "B-Bukannya aku ingin mengusirmu Jiminnie. Tapi aku yakin orang tuamu akan khawatir menyadari anaknya pulang malam setelah pulang dari sekolah." Jelas Hoseok menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak apa-apa Hyung, lagipula.."
Jimin tersenyum kecil.
"Eomma tidak akan khawatir. Dia kini selalu memperhatikanku dilangit. Dan Appa dia bahkan tidak peduli padaku." Desah Jimin lelah, lelah menanggung semuanya sendirian.
Hoseok mengerti apa maksud Jimin. Entah atas dorongan apa dia memeluk tubuh mungil Jimin, mengelus punggung rapuh itu ketika pemiliknya mulai terisak.
"Hiksss... Apa.. Hiks..yang ha.. harus kulakukan?"
"Aku hiks.. tidak punya siapapun hiks lagi." Isaknya menenggelamkan diri dalam ceruk leher Hoseok. Tangannya yang terkalung dileher Hoseok mulai mengepal.
Hoseok berbisik pelan tapi yakin, "Tinggalah bersamaku."
.
.
.
.
.
.
"Errrr... Jiminnie. Apa kau yakin? Jujur saja aku lebih nyaman tinggal ditempat tadi." Hoseok tertawa hambar sambil menepuk tangannya pelan.
Jimin mengangguk dan menarik Hoseok masuk kedalam.
Seperti dugaannya, rumahnya sepi dan lampu belum dinyalakan.
Jimin mencoba menemukan saklar lampu.
Ctek!
"Hyung!" Jerit Jimin kalut.
Tiba-tiba saja Hoseok sudah ada didepannya dan menatapnya intens.
"Jiminnie... Dimana kamar mandinya?"
Jimin menghela nafas dan menunjuk sebuah pintu dengan jempolnya. Wajah namja itu datar.
Sedangkan Hoseok sudah langsung berlari ke kamar mandi.
Jimin memutuskan untuk membersihkan rumahnya barang sebentar.
"Jung Hoseok. Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku sekarang tinggal disini. Dan aku yang seharusnya bertanya seperti itu! Apa yang kau lakukan disini Namjoon? Kau tau bau-mu tercium sampai kesini, dasar nyamuk."
Kim Namjoon, sulung keluarga Kim dan termasuk golongan Vampir bangsawan.
"Dua adikku tinggal disini bodoh, dan jangan menyebutku nyamuk. Dasar anjing."
Hoseok mendengus, "Kau sungguh tidak sopan berkata seperti itu pada seorang pangeran, Rapmonster."
Namjoon memutar bola matanya, "Kau hanya pangeran Were-wolf, Hope. Bukan pangeran Vampire, yang artinya aku tidak perlu menjaga perilakumu padaku."
"Tapi tetap saja. Ah, Nam. Aku ingin bertanya."
"Apa?"
"Apa Yoongi juga disini?"
.
.
To Be Continue
Hai! Zyan pengen nanya... ada yang kecewa kah sama jalan ceritanya?
