Suara erangan itu terdengar. Dari arah kamar Si sulung Yoongi.
"Eungh... Hyungh..."
Tangan itu semakin bergerak cepat diantara apitan pipi bokongnya. Darah Jimin berdesir kala jemari panjang itu berhasil menekan titik prostatnya. Tangan mungil Jimin hanya bisa terkepal lemah didinding.
Padahal niatnya hanya untuk membangunkan sang Hyung tercinta, dan yang didapat adalah sapaan tangan Yoongi pada hole miliknya. Bibir Jimin mengeluarkan lenguhan polos dan gumaman-gumaman kacau karena benda yang bermain dengan hole-nya itu. Pakaiannya sudah kocar-kacir diatas lantai karena lucutan beringas sang Hyung. Tubuh mulusnya telanjang bulat dengan sebuah lubang yang minta dipuaskan.
Tubuhnya melengkung saat satu jari kembali dimasukkan Yoongi. Tawa serak yang terdengar penuh nafsu itu mendengung dibelakang telinganya. Gerakkan semakin beringas, Jimin meringis dengan mata sayu.
"H-Hyuung.. Ugh, Eomma-ah! Eomma menunggu Hyuungggg... Ahhh..." Jimin terlonjak saat sapuan tangan pucat itu terasa menyelimuti adiknya yang sudah berdiri. Rona diwajahnya menjadi merah pekat menahan sensasi aneh yang kini didapatnya.
"Sebentar saja Jimin... Kau terlalu menggoda untuk dilewatkan." Gumam Yoongi tidak terlalu jelas. Ia membuka resleting celananya dan segera saja membebaskan miliknya yang telah menegang menginginkan kehangatan hole si manis yang terus mengerang itu. Yoongi menarik jarinya yang basah keluar.
Jimin membola merasakan benda tumpul yang mencoba masuk kedalam holenya. Ia berejakulasi dengan tubuh lemas, selang beberapa saat ia merasakan sesuatu yang besar memenuhi dirinya. Menekan dengan santai titik kenikmatannya. "Ahhhh... Hyung! Hyuuung..."
Tubuhnya melonjak-lonjak saat tiba-tiba Yoongi menggerakkan miliknya keluar masuk dalam holenya.
Pinggang Jimin dilingkupi kedua tangan Yoongi disekitar sisinya. Menggerakkan tubuhnya yang makin menungging ke belakang itu. Bibir dingin terasa melumat liar sekitar leher jenjangnya. "Hyaaahhhh... Hyuunggiehhh..."
Kasar, Kasar dan Keras.
Cairan itu meluber keluar, tapi Jimin belum bisa mengatakkan jika milik Hyungnya itu melemas. Bahkan terasa keras lagi sekarang. "Unggg..."
"Sekali lagi... berbalik.." perintah Yoongi bagaikan hal mutlak baginya. Jimin mencoba menatap Yoongi melewati pundak sempitnya. Pipinya menggembung lucu sebelum rengekkan keluar.
"Hyuung..."
Merengut, Jimin hanya mendapat tatapan mesum Yoongi yang bermain dengan menggerak-gerakkan miliknya dibawah sana. Wajah tampan itu mendayu sambil menggigit bibir bawahnya tak sabaran. "Cepat... sebelum rondenya kutambah." goda Yoongi membuat Jimin memutus tatapannya dengan wajah merona.
Ia berbalik perlahan.
Dan permainan kedua dilanjutkan.
.
.
.
"Jiminie, ada apa dengan kakimu?" Heran Baekhyun melihat anak angkatnya itu dipamah oleh Yoongi menuju kursinya dimeja makan.
Jalan Jimin sedikit pincang mengingat nyeri yang ditorehkan Namja yang cengar-cengir sok polos itu. Hell, itu tidak terlihat seperti Yoongi yang biasanya.
Jimin memberikan tatapan lasernya.
"Yoongi Hyung mendorongku karena mencoba membangunkannya, dan aku terjatuh." Jawabnya dengan alasan yang akan membuat seorang Min Yoongi tertawa keras dengan seluruh gusi terpampang. Siku lengannya menyikut perut Yoongi.
"Ouh, aku merasa sangat bersalah karena itu. Apa doronganku terlalu 'keras' Jiminnie?" Jimin mengalihkan pandangan dengan wajah memanas, ia tau maksud Hyungnya.
Jimin mendudukkan diri dengan lembut disana. Takut jika bokongnya bertambah nyeri. Yoongi dengan wajah sok cute memeluk lengan Jimin manja, aish dasar iblis berwajah malaikat. Baekhyun tertawa renyah melihat kelakuan lucu kedua putranya itu, ia meletakkan piring terakhir diatas meja.
Yoongi menatapnya bingung, "Tumben Eomma memasak banyak." Celetuknya membuat Baekhyun tersenyum riang.
"Hari ini, sepupumu akan datang dan tinggal disini untuk sementara." Jelas Baekhyun lalu meneruskan, "Kau pasti senang... Kalian selalu bermain bersama sejak kecil..."
Yoongi terpaku.
"Hei, Cepat kesini Min! Ayo bermain basket."
Matanya membola.
Buagh!
"Dasar bodoh! Kau membuat kami kalah pendek!"
Wajahnya memunculkan keringat dingin.
"Ayo tinggalkan si payah ini teman-teman."
Sebuah tangan mungil menyapu dahinya, "Hyung kau pucat. Hyung baik-baik saja?" Nada khawatir terdengar dari mulut Jimin.
Yoongi menatap kosong, tangannya menggenggam tangan mungil Jimin. Membuat si adik mengangkat alis tak mengerti.
Ia masih linglung kala ingatan mengerikan antara dirinya dan sang sepupu terbayang. Saat itu ia masihlah Namja kecil paling pendek dikeluarganya. Tidak mahir basket. Seorang anak kecil yang terlalu takut mengadu pada orang tuanya karena tidak mau diejek 'Pengadu'. Ia masihlah Min Yoongi yang payah.
Tapi sekarang...
Mereka beradu pandang, mata polos itu berkedip bingung dalam pantulan netra Yoongi.
...aku memiliki seseorang yang harus kujaga.
Yoongi menggeram rendah, mencium punggung tangan Jimin. Sekarang dia sudah bukan yang paling pendek dikeluarganya, Jimin yang paling pendek.
Dan sekarang ia telah menjadi ketua klub ekskul basket. Kemampuannya tidak bisa dianggap remeh.
Lalu yang paling penting adalah, dia sudah berani menonjok seseorang. Ia terkenal sebagai seseorang yang memegang prinsip 'senggol bacok.'
Pemarah dan emosi yang meledak-ledak.
Ia sudah siap.
.
.
.
Oke, dia juga bertumbuh.
"Hai sepupu." Sosok itu menjulang tinggi dihadapannya. Min Yifan, atau biasa dipanggil Kris. Sepupu Yoongi.
"Hai, Kris." Balasnya dengan wajah datar, disampingnya Jimin berdiri malu-malu karena masih menganggap Kris orang asing. Ya... ini kali pertamanya dia bertemu Kris.
Kris menengok pada Namja manis itu, "Oh. Kau Jimin ya? Aku Min Yifan, secara hukum aku juga Sepupumu. Salam kenal. Kau bisa memanggilku Kris saja." Tangan besar itu terulur dan Kris tersenyum lebar.
Jimin menerima ulurannya, "Jimin, Park Jimin. Salam kenal." Ia berbisik malu. Mencoba melepaskan pagutan tangan keduanya.
Tapi Kris malah menariknya lalu menunduk dengan mata membulat menatap kedua tangan mereka, "Tanganmu mungil sekali, dan lembut. Seperti wanita." Ia meremas tangan yang lebih kecil, membuat Jimin tidak nyaman.
"Lepaskan tangan adikku." Yoongi menarik lengan Jimin dan membawanya pergi dari sana. Tatapan membara Kris membuatnya merasa jika sebentar lagi ia akan mendapat saingan.
Yoongi mendudukkan diri disofa dekat televisi, diikuti Jimin disampingnya. "Hyung, Hyung baik-baik saja?" Jimin mengelus pipi pucat Yoongi.
Secepat kilat Yoongi menarik pipi Jimin dan menempelkan kedua bibir miliknya, matanya terpejam nyaman berbanding terbalik dengan Jimin yang membola. Hal aneh, dirasakan Jimin. Jika boleh ia berpendapat, Ciuman ini terasa putus asa.
Akhirnya Jimin ikut memejamkan mata, tangannya bergerak mengalungi leher Yoongi. "Eummhhh... Ahnn..."
Erangan menggemaskan keluar perlahan dibarengi suara kecipak basah pergulatan lidah mereka yang tercipta. Yoongi sangat mendominasi dan tidak bisa didominasi. Jimin bersusah payah mengimbangi ciuman liar mereka.
"Wow."
Mereka melepas diri secepat mungkin. Sebenarnya hanya Jimin yang berusaha melepas diri, sedangkan Yoongi berdecak kesal.
"K-Kris Hyung..."
Kris menyeringai. "Wah... wah... Apa ini? Cinta diantara saudara? Menyentuh sekali." Namja itu terkekeh, "Apa yaa... respon keluarga besar jika mendengar ini... Sebenarnya apa sih maksud kalian?"
Jimin terbelalak, Yoongi mendengus tak peduli. "Kami ini-"
"Ah, Kami hanya menunjukkan kasih sayang antara persaudaraan kami." Sahut Jimin memotong Yoongi yang menatapnya melotot.
Kris sok terkejut, ia menepuk kedua tangannya, "Oh! Begitu... Jadi aku bisa ikut!"
"Menjauh dari Jimin, Yifan!"
Ia melompat ke sofa dan langsung memerangkap kedua bibir ranum Jimin. Menciumnya dengan liar tanpa memperdulikan tendangan kasar Yoongi pada punggungnya.
"YAA!"
Sepupunya memang minta dibunuh.
.
.
THE END
Okeh, ada yang inget kisah Spongebob yang punya sepupu pulang dari penjara itu? :'v
Sebenernya Zyan nggak tau ini ngetik apa. :v
Zyan cuma suka tiap ngebaca respon reader dikolom review...
