Stupid Confession
By Mashitamikako all Characters by Yuusei Matsui
Chapter 2
Character: [ Karma A., Nagisa S.] and other chara
Rated: T+ || Words: 1.1k || Published: 25 Juni 2016
Genre: Friendship, Romance, School Life, Shounen-ai.
Enjoy my fanfiction! ^^
Nagisa memasuki kelasnya dan mengambil satu sapu dari dalam lemari bewarna abu-abu itu. Tangan mungilnya bergerak menyapu satu per satu debu di lantai. Sesekali menghela napas ingin cepat pulang ke rumahnya karena hari sudah sore dan tinggal dirinya satu-satunya yang berada di sekolah. Sesaat mata biru langitnya menangkap seorang sahabatnya yang menggeser pintu di depannya.
"Karma-kun, kenapa kembali lagi kesini?"
Karma mendongak, diam sebentar. "Ada yang ketinggalan." Katanya singkat. Nagisa hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Sementara Karma bersusah payah mengalihkan pandangannya dari bluenette itu. Jantungnya sudah mulai berdetak tak beraturan lagi.
Pemuda bersurai merah itu menatap panorama bercadigan biru itu depannya. Punggung dan pinggangnya mungil sekali. Apakah jika Karma memeluknya itu akan pas di tangannya? Karma mengacak rambutnya sendiri sambil mendecih. Lagi-lagi khayalannya berlebihan.
Tangannya tergerak mengambil satu kain pel di dalam lemari. Langkahnya berjalan mendekati Nagisa. "biar aku bantu."
Nagisa mengangguk. "Terima kasih." Disusul satu lagi senyuman manisnya. Keduanya mulai mengerjakan bagian masing-masing. Nagisa menyapu bagian kiri kelas dan Karma mengepel bagian kanan pojok kelas.
Diam-diam mata tembaga emas itu mencuri pandangannya sesekali pada Nagisa yang sedang menyapu. Tangannya tetap bergerak melakukan pekerjaannya tetapi matanya fokus ke pemuda mungil itu. Karma yang hanya memperhatikan wajah dan postur tubuh Nagisa, tidak menyadari bahwa jarak kaki Nagisa menyentuh bagian yang sudah Ia pel dan tentunya masih basah.
Nagisa terpeleset dan sedetik itu juga Karma menahan tubuh Nagisa yang hampir menabrak dinding. Nagisa merintih, matanya masih tertutup. Karma mengerapkan matanya berkali-kali melihat dengan kepala matanya sendiri apa yang terjadi tepat di depan matanya.
Nagisa yang tadinya berencana menabrak dinding,
malah menabrak bibir Karma dengan bibir milik Nagisa yang empuk itu.
Bola mata biru langit dan merah darah itu bertemu. Keduanya terdiam melihat pantulan diri sendiri di kedua bola mata masing-masing. Ekpresi wajah mereka masih diam dengan bibir yang masih menempel. Satupun tidak terbuka untuk memulai pembicaraan.
Merasa sudah kehilangan kendali, remaja berambut merah itu mencoba mendekatkan badan mungil itu dengan tubuhnya, dan menjulurkan kedua tangannya untuk memeluk pinggang Nagisa yang memang pas untuk dipeluk olehnnya. Karma tersenyum dalam ciuman mereka. Matanya tertutup menikmati perdalaman ciuman yang dibuat Karma.
Nagisa yang sama sekali tidak berkutik dalam artian terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa terhadap perlakuan si jenius itu terhadapnya, hanya pasrah sembari menarik kerah baju Karma dan tangan satunya yang menggebuk dada Karma bermaksud meminta jeda untuk mengambil pasokan udara yang membuat Nagisa tidak bisa bernapas.
Tapi Karma menolaknya, dia malah mengeratkan lagi pelukannya pada Nagisa dan mulai melumat bibir Nagisa. Nagisa mulai melemah, pertahannya untuk menghentikan Karma seolah hilang sedikit demi sedikit karena perlakuan Karma terhadapnya. Pengangan tangan mungilnya pada kerah Karma mulai mengecil dan diam-diam merasakan bagaimana detakan jantung Karma yang sangat cepat berdentum.
Sama seperti jantung Nagisa yang mulai keterlaluan berdetak dengan kecepatan luar biasa.
"mh..mh! Ka-kha..Karma—hh.." pemuda bersurai biru ini mencoba menyadarkan dirinya yang sedari tadi terbuai oleh ciuman Karma. Dengan sedikit tenaga, Nagisa membuka bibirnya dan memanggil Karma untuk berhenti.
Akabane Karma yang sedari tadi menikmati bibir Nagisa tersadar dari lamunan fantasinya yang serasa berada di surga dunia. Dengan sekejap Ia membuka matanya dan melepaskan pegangannya pada tubuh Nagisa yang sedari tadi Ia kunci pergerakannya.
Keduanya saling menatap. Terdiam dalam euforia yang dirasakan oleh diri masing-masing. Kemudian menyadari apa yang sudah mereka perbuat adalah hal yang terlarang. Terutama Karma yang jatuh cinta pada orang yang menurutnya salah. Tetapi pikirannya tidak bisa diajak berkompromi dengan hati ataupun perasaannya. Bahkan Ia sama sekali tidak menyadari apa yang sudah Ia perbuat.
Sama sekali tidak menyadari apapun.
Karma menundukkan kepalanya, merasa menjadi yang paling bersalah dalam kejadian ini. Sungguh, apa yang telah Ia perbuat adalah hal yang sangat tidak pantas. Apalagi Ia melakukan ini. Dengan Nagisa yang jelas-jelas adalah seorang Laki-laki.
"Maaf."
Detik itu juga, Karma melangkahkankan kakinya meninggalkan kelas yang hanya tersisa Nagisa yang diam mematung akibat dari kejadian tadi. Matanya terbuka, kedua tangannya menutup mulutnya, pikirannya kacau.
Kasur yang empuk seketika runtuh sebagai pelampiasan Karma yang dengan kasarnya menabrak tubuhnya di kapas lembut itu. Sedari tadi pikirannya hanya memutar bagaimana ciuman itu terjadi. Kenapa kebetulan seenaknya membuat Nagisa menabrak bibirnya, kenapa malah Karma yang bukannya menghentikannya—sebaliknya, terbuai oleh nafsunya melahap bibir Nagisa.
Kenapa.
Kenapa juga dirinya jatuh cinta pada sahabat dekatnya dan terlebih lagi adalah seorang laki-laki. Karma yang mendekati hampir sempurna malah jatuh cinta pada Nagisa yang menurutnya sudah pasti terlarang. Tapi Ia sendiri juga tidak mengerti. Cinta itu membingungkan. Tidak bisa diperhitungkan kepada siapa.
'Kenapa aku harus jatuh cinta pada Nagisa?'
Otaknya mulai pusing. Seolah-olah yang ada di pikiran Karma hanyalah kejadian tadi. Kejadian tadi berputar terus seperti roll film yang tidak ada habisnya. Semakin tidak ingin memikirkannya, tetapi nyatanya yang terjadi malah sebaliknya.
Remaja bermata emas itu menghembuskan napasnya kasar, berusaha menghilangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu. Terutama bagaimana lembutnya bibir Nagisa. Yang sangat menggoda untuk dicicipi berulang-ulang. Atau mungkin tidak akan ada habisnya.
Tangannya mengacak rambut merahnya, pikirannya berusaha menepis segalanya.
Paginya, Ia terbangun dengan keadaan yang tidak baik. Rambutnya berantakan, wajahnya kusut, dan masih menggunakan seragam serta cardigan hitamnya. Karma beranjak dan melihat pantulan dirinya di cermin. Terdiam, lalu mengacak rambutnya lagi.
Hari ini, dia harus membuktikan bahwa dirinya bukan maniak atau orang yang tidak normal. Dengan kata lain dia harus menemui Nagisa nanti di sekolah. Harus.
Tidak boleh terlewatkan sedikitpun.
Tangannya menggeser pintu kelas dan pemandangannya disuguhi oleh objek biru yang sangat dikenalinya sedang membersihkan vas bunga. Karma terdiam sebentar. Tangannya mengusap wajahnya berulang kali. Di kelas ini hanya ada dirinya serta objek menarik itu. Saat ini masih pagi. Ia sedang tidak berhalusinasi kan?
Objek biru itu memang selalu kelihatan menggoda. Tetapi kali ini ada yang salah.
Karma berusaha mengucapkan sepatah kata. Tetapi tenggorokkannya tersendat. Lalu kembali menelan ludah. Dengan ragu-ragu, Karma mengeluarkan suaranya.
"Na-Nagisa..?"
Yang dipanggil menoleh, iriz topaz-nya mengkilat, bibirnya mengukir senyuman. Tangannya menaruh vas bunga itu di mejanya. Kakinya melangkah mendekat ke arah Karma. Masih dengan senyuman manisnya itu.
Sedangkan Karma gemetaran, senang, terkejut, berusaha menahan degupan jantung serta ribuan serangga yang mulai menggelitiki perutnya lagi. Entah bagaimana mendeskripsi perasaannya saat ini. Tetapi dengan melihat fakta yang didapatkannya kali ini, otaknya yang bahkan jenius itu tidak—sama sekali tidak mengerti.
Nagisa yang berdiri di depan Karma, menyunggingkan senyumannya, mata biru lautnya itu menatap manik tembaga emas di depannya. Tangannya ditempatkan di sisi kanan kiri cardigan birunya diikuti rok abu-abunya yang cukup pendek menari-nari dengan tempo pelan yang disesuaikan oleh angin.
"Selamat pagi, Karma-kun." Sapa Nagisa hangat.
"Na-nagisa-kun? Sejak kapan kau punya hobi menggoda temanmu dengan memakai rok?" Karma terkekeh. Sementara sikapnya tetap berusaha tenang dan cool semaksimal mungkin. Gugup karena hal seperti ini namanya bukan Karma. Tangannya beranjak menarik pinggiran rok Nagisa.
Nagisa memukul dada Karma secara refleks. Si jenius terbelalak. Itu wajar saja. Nagisa yang didepannya ini adalah perempuan sekarang. Itu bisa dibuktikan dengan dirinya yang memakai rok. Itu sudah jelas.
Karma langsung mengangkat tangannya yang tadinya berada di rok abu-abu Nagisa. Matanya terbuka lebar. Bahwa ini adalah kenyataan yang sangat membingungkan. Kemarin kepalanya diselimuti rasa galau karena jatuh cinta pada Nagisa yang notabene-nya laki-laki. Sekarang malah dihadapi kejadian yang tak terduga bahwa Nagisa itu perempuan.
"Karma-kun lancang! Aku tidak crossdressing atau semacamnya! Aku ini perempuan, kau tahu?! Apa kepalamu terbentur semalam?!"
WUEHEHEH AKU BALIK LAGI MINNA :D
Skarang aku udh update nih chap 2-nya, gimana menurut kalian? Ayoo direview lagii XD
Oh ya, pertama aku mau ucapin makasih banget buat yang udah follow, favorite, ataupun me-review ff aku. Aku seneng banget lhooo ternyata banyak juga yang suka ff gak jelas ini :"))
Makasih banget deh buat semuanya! Oya kalo mau review silahkan ya, jadi kalo ada kekurangan atau kesan kalian bisa ditulis disana. Kalo ada kesalahan nanti bisa aku perbaiki. Kalo kesan boleh ditulis atau ga nanti ngobrol lagi aja di akun IG aku^_^ ( ansatsugram)
Thanks for your support! ^w^
Please review if you have time :)
Your review is my energy^^
