Stupid Confession
By Mashitamikako all Characters by Yuusei Matsui
Chapter 3
Character: [ Karma A., Nagisa S.] and other chara
Rated: T+ || Words: 1.5k || Published: 6 Juli 2016
Genre: Friendship, Romance, School Life, Shounen-ai.
Enjoy my fanfiction! ^^
Karma benar-benar tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Ia tahu yang tadi diperbuatnya adalah kesalahan besar, dan membuat Nagisa menjauhinya seharian. Bahkan dengan segala jenis macam cara yang Karma gunakan untuk membuat Nagisa memaafkannya sama sekali tidak berhasil. Tetapi point utamanya yang membuat Karma harus membentur kepalanya lagi adalah Nagisa yang sekarang adalah perempuan.
Ini bukan mimpi kan? Lalu apa? Sungguh Nagisa.. kau membuatku gila.
Sekarang sudah jam istirahat kedua. Saat jam istirahat sebelumnya Karma tidak berhasil meluluhkan si biru langit yang sedingin es, kali ini dia tidak boleh gagal.
"Hei, Nagisa-chan~" sapa Karma sambil menepuk pundak Nagisa. Nagisa hanya mendelik. Acuh tak acuh merespon sapaan Karma. Tangannya meremas kertas ujian yang tadi dibagikan. Badannya bergerak untuk berdiri meninggalkan kursinya. Tetapi tangan Karma masih setia untuk tetap di pundak Nagisa dan membuat gadis dengan surai biru itu masih menempel di kursinya.
Karma terkekeh. ".. Nagisa-chan, maafkan aku ya?"
Nagisa merespon perkataan Karma dengan diam seribu bahasa.
"Bagaimana kalau kau kutraktir sushi—" pemuda bersurai merah itu menarik lembaran kertas yang dipegang Nagisa dan mengambilnya tanpa izin. "dan mengajarimu untuk hasil test yang lebih bagus?" Nagisa menoleh ke arah Karma, mengambil kertas hasil testnya yang mengukir angka 56. Hasil test yang buruk dan memalukan. Apalagi si jenius di kelasnya mengejek nilainya dengan bahasa yang halus. Membuat Nagisa malah makin sebal dan menggembungkan pipinya.
"aku tidak butuh kau ajari, Karma-kun." Balas Nagisa singkat.
Karma tersenyum miring, menarik dagu Nagisa mendekat ke arahnya. Iris biru langit itu membelalak. Jarak antara Karma dan dirinya dipersempit. Membuat orang disekitar mereka menonton kedua insan yang sedang bermesraan itu. "kalau begitu bagaimana dengan sushi salmon yang paling kau sukai? Kasihan lambungmu. Selama jam istirahat tadi kau hanya menolakku dan memilih untuk melahap kumpulan soal matematika itu. Sama sekali tidak enak kan?"
Dengan menghasilkan sedikit semburat merah di pipi seputih susu itu, tanpa disadari gadis bersurai biru itu mengangguk.
"Nagisa-chan, kau ini sangat menyukai sushi ya? Kau baru saja makan dua porsi." Ujar Karma sambil menyumpit beberapa sushi di piringnya. Kini mereka sudah berada di kedai sushi seusai sekolah. Sesuai dengan janji permintaan maaf dari Karma. Nagisa hanya mengerapkan kedua matanya sebagai balasan 'ya.' Untuk Karma. Remaja bermata emas itu menghela napas.
"Kau masih marah. Aku tahu."
Tangan Nagisa terhenti sebentar mengambil beberapa potong sushi. Kemudian berdeham.
"lagipula, siapa yang tidak marah ketika tiba-tiba mengangkat rok milik seorang perempuan yang berusaha membuktikan gender sahabatnya sendiri." Balas Nagisa dengan penuh penekanan. Pandangannya diarahkan ke arah lain. Karma mengacak rambutnya. Sebenarnya Ia juga tidak tahu apa yang terjadi. Makanya dia berusaha membuktikan walaupun dengan cara yang tidak sopan. Dengan tanda kutip bukan sengaja dan tidak tahu-menahu.
Yang Karma tahu adalah Nagisa yang seorang sahabatnya, yang mungil nan imut, yang sifatnya sangat polos dan selalu melarang Karma untuk tidak lagi berkelahi,
Yang membuat dirinya jatuh cinta.
Karma langsung membuka mulut untuk mencoba lagi meminta maaf pada gadis biru itu. "Nagisa, aku—benar-benar tidak bermaksud. Maafkan kalau aku—"
"Aku memaafkanmu, Karma-kun." Kata Nagisa disusul dengan senyuman yang terpatri di bibir mungilnya. Bola mata biru langit itu menatap diri Karma yang mematung dengan bibir yang sedikit terbuka. Si bluenette terkekeh kecil.
Iris tembaga emas itu mengkilat. Pendengarannya hanya mendengar bagaimana Nagisa memaafkannya, Wajahnya sedikit bersemu merah, jantungnya berdebar-debar tak karuan, bibirnya berusaha menahan senyum yang tidak biasa Ia tampilkan di depan orang lain. Tangannya segera tergerak menutupi wajahnya.
Nagisa mengerutkan alisnya. "kenapa, Karma-kun..?"
Karma berusaha untuk tetap tenang. "tidak. Hanya saja kau terlalu manis.. sangat manis."
Perkataan Karma sukses membuat Nagisa menghasilkan semburat merah lagi. "Ka—karma-kun, jangan mengigau. Aku sudah memaafkanmu. Jadi berhentilah bersikap menyebalkan." Nagisa membuang pandangannya ke arah Karma dan beralih mengambil satu potong sushi dengan sumpit. Karma menopang tangan di dagunya dengan tangan satunya lagi mengambil sushi sama seperti yang Nagisa lakukan.
Sahabat birunya itu menoleh ke arah Karma, melihat ada potongan nasi yang masih menempel di pipinya. Tangan kirinya menawarkan tisu sedangkan satunya lagi Ia gunakan untuk memakan beberapa potong sushi yang tersisa. Karma melongo, Ia kira Nagisa akan dengan senang hati mengelap pipinya itu dengan tisu. Ternyata tidak sama sekali. Si surai biru itu lebih memilih melahap sushinya.
Sial, Nagisa lebih menyukai sushi dibanding aku.
GREP
Karma menarik tangan Nagisa. Mengusap bagian pipinya yang ditempel oleh beberapa butir nasi. Sementara tisu yang Nagisa tawarkan tadi Karma buang ke asal tempat. Tangan Nagisa masih menyentuh pipi Karma, kemudian ide jahil muncul di otak Karma. Si iblis tersenyum miring.
"Karma-kun, apa yang—"
Detik itu juga remaja surai merah itu mengecup tangan lalu beranjak ke jari-jari milik Nagisa. Nagisa diam mematung. Lalu berdasarkan ide jahil yang dihasilkannya, Karma menjilat jari Nagisa yang tertempel butir nasi akibat dari sushi salmon yang dimakan Nagisa. Iris aquamarine itu menatap senyuman iblis yang biasa Karma pakai. Jari-jarinya merasakan bagaimana hangatnya bibir Karma yang baru saja mengecupnya.
"terima-kasih sudah memaafkanku ya, Nagisa-chan." Lalu bibir tipis itu mengecup jari telunjuk Nagisa.
Nagisa berusaha mengatur detakan jantungnya yang tidak beraturan. Rasanya tidak bisa melakukan apapun ketika seorang Akabane Karma mengunci segala pergerakannya termasuk penglihatannya. Karma tersenyum, Nagisa membalasnya dengan anggukan.
"Iya." Kemudian menghasilkan senyuman kecil.
"Karma-kun, jangan memandangiku terus."
Karma hanya tersenyum miring mendengar protesan dari Nagisa. "salahkan dirimu yang terlalu menggoda untuk terus kupandangi." Balas Karma singkat sambil terus meminum susu stoberi favoritnya. Nagisa hanya mendengus sambil menari-narikan jarinya menulis rumus di buku tulis. Sesekali menoleh ke arah sekitar dan mendapati ruang kelas yang hanya berisi Karma dan dirinya saja.
Handphone di saku rok abu-abunya bergetar, Nagisa membuka ponselnya dan mendapati pesan dari ketua osis. "Karma-kun, aku pergi dulu sebentar." Ujar Nagisa lalu melangkahkan kaki meninggalkan Karma yang belum sempat mengajukan sepatah kata apapun.
Siapa yang membuat Nagisa terburu-buru seperti itu?
Karma mencoba mengejar Nagisa. Pikirannya muncul beberapa pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada gadis biru itu, sementara kedua kakinya berjalan dengan cepat. Setelah matanya mendapati objek biru yang dicari, pandangannya dikejutkan oleh pemuda bersurai orange yang mengelus rambut Nagisa sambil bercanda ria dengan gadis pemilik iris biru langit itu.
Karma serasa dijatuhkan ke perut bumi.
Sungguh, apa yang dilihatnya saat ini benar-benar mengacaukan segalanya. Pikirannya, gerakan tubuhnya terkunci, matanya hanya terfokus pada kedua insan yang tertawa ria itu. Mereka kelihatan bahagia dan membuat Karma gatal ingin segera menghancurkannya. Meremuknya. Sampai hancur.
Sama seperti hatinya saat ini.
Amarahnya memuncak. Bibirnya mengukir senyuman yang memantulkan emosi. Berusaha menstabilkan diri, Karma memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Lalu berdeham dengan sengaja.
"Hee.. Nagisa, oh halo. Asano-kun. Apa yang kalian lakukan? Sepertinya menyenangkan sekali." Langkah kaki itu mendekat mendekati gadis biru dan ketua osis. Senyuman tetap setia terpatri di wajahnya. Pemuda bermata ungu itu membalas perkataan Karma yang membuat hatinya memanas. Asano dengan tidak segan-segan memeluk bluenette dari belakang dan mengecup rambut biru Nagisa.
"kita hanya mengobrol layaknya pasangan. Benar kan, Nagisa?"
Nagisa menoleh ke arah Asano dan mengganguk secara perlahan. Kedua tangan mungilnya memegang erat pergelangan tangan Asano yang memeluk lehernya. Iris ungu itu mengkilat. Senyuman terukir lebar di wajah tampannya. Seolah berhasil menaklukkan sesuatu yang sulit.
Bola mata emas itu membelalak dengan sempurna. Tubuhnya diam membeku. Pikirannya mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Asano. Perkataan Asano seolah terus berputar-putar di otaknya seperti kaset yang rusak. Hatinya mengambil semua pasokan udara yang Karma punya, sampai membuatnya sulit bernafas.
"APA—"
Bruuk
Detik itu juga Akabane Karma terbangun dengan keadaan terjatuh dari kasur dan mata yang terbuka lebar.
Pandangannya Ia sapu ke sekeliling ruangan. Tampaklah dinding kamarnya sendiri. Nafasnya tersenggal-senggal. Keringat bercucuran sampai merembes ke cardigan hitamnya, tangannya berusaha menumpu badannya untuk berdiri, kepalanya cukup pusing. sudah berapa lama Ia tertidur?
Karma mengusap wajahnya. Sungguh. Jadi, yang semua yang terjadi itu hanya mimpi. Ia terbangun dalam mimpinya sendiri dan melihat Nagisa yang berubah menjadi perempuan lalu berpacaran dengan Asano. Benar-benar mimpi yang gila. Pemuda bersurai merah ini mendecih frustasi. Satu objek yang mengobrak-abrik segala isi otak dan hatinya ini benar-benar keterlaluan. Saking depresi karena galau tingkat berat, Karma sampai memimpikan Nagisa.
Sampai gila-kah aku karena mencintaimu, Nagisa Shiota?
Karma segera meninggalkan Kamarnya dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Seusai itu, Ia menyeduh teh hangat dan membuka jendela untuk melepas sedikit rasa penatnya. Matahari sudah mulai terbenam. Telinganya menangkap suara bel di pintu depan. Dengan malas Karma menghentikan aktifitas menyeduh tehnya dan berjalan menuju pintu.
Tangannya memegang knop pintu, setelah pintu terbuka, iris emas itu menangkap objek biru yang membuatnya frustasi sampai detik ini.
"Nagi..sa." Bibirnya bergetar menyebut nama pemuda yang dicintainya itu.
"Ka—karma-kun." Balas Nagisa dengan terbata-bata. Sementara itu Karma masih setia mematung di tempat. Tangan mungil itu menyodorkan beberapa tumpukan kertas ke dada Karma. "I-ini! Catatan yang dititipkan Oosui-sensei. Kau tidak masuk seharian, jadi lebih baik aku mengantarkan ini..—dan langsung pulang..."
Tangan pemuda bersurai merah itu mengabaikan tumpukan kertas yang terjatuh di lantai. Nagisa sudah ditariknya masuk ke dalam pelukannya itu. Dengan tenaga yang lebih kuat dari Nagisa, Karma menahan tubuh Nagisa mungil dengan memegang kepala dan juga pinggulnya. Mata biru langit itu membulat. Lagi-lagi perlakuan Karma membuatnya tidak berkutik. dia hanya bisa merespon dengan tidak membuat pergerakan sama sekali. Bahkan Nagisa malah terhanyut oleh pelukan hangat dan debaran jantung milik Karma yang terasa jelas terdengar.
Karma memejamkan matanya. Berusaha menyakinkan dirinya sendiri bahwa orang yang dipeluknya sekarang ini benar-benar Nagisa. Nagisa yang hanya boleh Ia yang memilikinya, Nagisa yang selalu pas dan menggoda untuk selalu dipeluk, Nagisa yang amat dicintainya.
"Jangan pergi, Nagisa-kun. Aku membutuhkanmu."
SUMPAHHH PERJUANGAN BANGET NGETIK CHAP 3 INIII :""
Gimana? Udah kejawab kan knapa tiba2 Nagisa jadi cwe? Haha ternyata Karma mimpi doang ya.. uu kacian / oh ya,Makasih banyak yang udah setia menunggu fanfic ga jelas ini yaa muachhh :** (pas hari sabtu mau ngepublish tapi otak mampet buat nerusin:")
Makasih juga buat semua responnya! Termasuk favs, follows, ataupun review kalian membuatku bahagia. Beneran deh lup lup yu~
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
AYOO KITA BERFANTASI KARUNAGI LAGI DI CHAP SELANJUTNYAAAAAAA
Thanks for your support!
Please review if you have time :) it makes me better!
Your review is my energy^^
