Stupid Confession

By Mashitamikako all Characters by Yuusei Matsui

Chapter 4-end

Character: [ Karma A., Nagisa S.] and other chara

Rated: T+ || Words: 1.1k || Published: 16 Juli 2016

Genre: Friendship, Romance, School Life, Shounen-ai.

Enjoy my fanfiction^^


Karma memejamkan matanya. Berusaha menyakinkan dirinya sendiri bahwa orang yang dipeluknya sekarang ini benar-benar Nagisa. Nagisa yang hanya boleh Ia yang memilikinya, Nagisa yang selalu pas dan menggoda untuk selalu dipeluk, Nagisa yang amat dicintainya.

"Jangan pergi, Nagisa-kun. Aku membutuhkanmu."

Nagisa tersentak dalam pelukan Karma. Matanya terbuka lebar, badannya bergetar mendengar perkataan Karma. Telinganya tidak salah dengar, bukan? Seorang Akabane Karma membutuhkan dirinya?

"Karma-kun, jangan bercanda.." balas Nagisa sambil mendorong tubuh Karma yang mengunci badannya didalam pelukannya. Tangan mungil itu terus berupaya melakukan sesuatu—seperti memukul dada Karma untuk segera melepaskan pelukannya. Tetapi remaja bersurai merah itu tidak menghiraukannya sama sekali. Tenaga seorang monster dan seekor tikus tidak sebanding.

Karma menundukkan wajahnya dan melihat pantulan dirinya di iris aquamarine itu. "Aku sama sekali tidak bercanda." Nagisa terdiam. Lagi-lagi Karma membuat dirinya membeku di tempat. Mata tembaga emas itu mengkilat. Tangan yang berada di rambut Nagisa kini turun ke tengkuknya. Mendorong untuk mempersempit jarak antara keduanya.

Karma dan Nagisa saling memandang. Pukulan di dada Karma perlahan melemah. Lagi-lagi Nagisa harus dihadapkan kenyataan bahwa Ia terhanyut oleh suasana dan tatapan tajam Karma. Tangan remaja bersurai merah pekat itu mengelus sudut wajah Nagisa. Kemudian beranjak ke kening, turun ke hidung, pipi, dan kemudian bibir.

Karma menghembuskan napasnya menerpa permukaan wajah Nagisa. "Kau sangat berbahaya, Nagisa."

Karma menabrakkan bibirnya pada bibir Nagisa. Satu tangannya masih bertengger memegang pinggul Nagisa. Tangan satunya lagi mengunci dagu sang bluenette agar tidak lepas. Nagisa terhanyut dan menikmati ciuman Karma. Merasa mendapat lampu hijau, Karma mencoba memasuki lidahnya ke dalam rongga mulut Nagisa.

Mata biru langit itu membulat ketika lidah Karma masuk mengabsen deretan giginya. menyadari apa yang sudah mereka perbuat, Nagisa merutuki dirinya sendiri kenapa Ia terlena oleh perlakuan Karma yang sangat tidak pantas. Mereka bersahabat dan sama-sama laki-laki. Yang seperti ini harusnya dilakukan oleh lawan jenis bukan sesama kutub yang saling menarik.

Apalagi dilakukan hanya sekedar nafsu semata dan bukan karena saling mencintai.

Oh sadarlah Nagisa, betapa Karma sampai gila karena mencintaimu.

Dengan tenaga yang Ia punya, Nagisa mendorong Karma dengan kedua tangannya. Ciuman itu terlepas, meninggalkan jejak benang saliva yang terhubung diantara bibir Nagisa dan Karma. Dengan secepat kilat, Nagisa mengusap permukaan bibirnya dan berlari meninggalkan Karma yang diam mematung di tempat.

Dengan pecahan hati yang hancur lebur, Karma berjalan memasuki rumahnya dengan langkah berat.

Dia menolakku.


Sudah hampir dua minggu Karma dan Nagisa sama sekali tidak bertukar sapa. Sekali bertemu keduanya hanya memalingkan wajah dan merasa sama-sama tidak enak. karena kejadian itu, sang dalang merasa sudah membuat kesalahan yang amat besar. Ia rasa lebih baik mengubur perasaannya dalam-dalam daripada mencurahkannya dan merusak hubungan persahabatan mereka.

"hachih!" Tangan Karma terasa sangat gatal. Sedari tadi bola matanya hanya fokus ke sahabatnya yang sedang sibuk mengusap hidungnya dengan tisu karena flu. Rasanya ingin sekali memberikannya sapu tangan miliknya. Sembari menyentuh Nagisa yang sudah lama dirindukannya. Tapi yang bisa Iakukan hanya menggigit ibu jarinya.

Di sisi lain, si bluenette juga berpikir demikian. Semenjak keduanya saling menjauh, Nagisa jadi sering memikirkan Karma. Apalagi tentang ciuman itu. Ciuman yang hanya didasarkan nafsu oleh sahabat laki-lakinya sendiri. Bagaimana bisa perlakuan nista itu malah membuatnya terlena. Ia juga merasa tidak enak. Salah satunya opsi adalah menjauhi Karma sebaik mungkin.

Nagisa mendapat ulangan susulan akibat nilainya yang buruk. Dan ini menjadi lebih buruk ketika dihadapkan dengan situasi ditempatkan diruangan yang sama dengan Karma. Dan mereka hanya berdua. Yah, mereka sama-sama mendapat hadiah ulangan susulan. Kalau Nagisa wajar karena nilainya kurang, yang berbeda adalah Karma karena membolos seharian.

Nagisa dengan cepat menuliskan rumus-rumus yang Ia ingat—selebihnya mengisi jawabannya dengan asal. Karena otak dan keadaan saat ini sama sekali tidak membantunya. Setelah beberapa saat mengetuk kepalanya dengan pensil sembari berdoa mendapat pencerahan untuk menjawab beberapa soal lagi yang masih kosong.

Nagisa berhasil menjawab pertanyaan terakhir. Tangannya langsung menarik kertas dan memasukkan segala alat tulis yang terletak di mejanya. Mengabaikan mata emas yang sedari tadi memperhatikannya dari belakang. Telinganya menangkap suara gertakan kursi, serta derapan langkah yang semakin dekat ke bangku miliknya.

"..Ke-kenapa, Kar—ma..-kun?" Nagisa berusaha memalingkan wajah agar tidak bertemu dengan pemilik surai merah itu. Dengan bergetar, Ia berusaha untuk mengucapkan sepatah kata. Jarak antara dirinya dan Karma terlalu dekat. Karma dengan sengaja menempelkan tangannya ke dinding untuk mengunci Nagisa.

Karma mendecih sambil menggigit bibirnya. Berhentilah menanyakan tentang diriku dengan bibirmu yang sangat menggodaku.

"Ini semua salahmu, Nagisa-kun."

Mata biru langit itu terbuka. "salahmu membuatku selalu memikirkan segala hal tentang dirimu, memimpikan dirimu, membayangkanmu bersama orang lain, salahmu membuatku menciummu." Karma terus-menerus berbicara menumpahkan emosinya tanpa mengijinkan Nagisa mengeluarkan sepatah kata apapun.

"Ini semua salahmu..sudah membuatku jatuh cinta padamu."

Keduanya terdiam. Mata biru langit dan emas itu bertemu lagi. Bibir Nagisa terkatup, "A-aku.. minta maaf Karma-kun." Otak dan bibirnya tidak bisa diajak kompromi. Apa yang dipikirkan tidak sama dengan yang diucapkannya.

"Kau tidak perlu minta maaf..—awalnya aku juga berpikir demikian. Aku pikir aku memang sudah tidak normal. Seorang laki-laki yang jatuh cinta pada sahabat lelakinya itu tidak waras, bukan?" Karma tertawa perih. "tetapi, semenjak objek biru itu ada, dia selalu memenuhi pikiranku saat itu. Sampai membuatku membolos karena memimpikannya menjadi seorang perempuan—saking frustasinya."

"dan aku pikir aku sudah bertekad untuk tidak perduli lagi. Aku melupakan semua hal logis bahwa ini cinta terlarang atau sebagainya. Berkatnya, sedikit demi sedikit aku mulai pintar dalam hal cinta. Bahwa yang kubutuhkan bukan hal yang masuk akal.

..Tetapi hatiku sendiri." Karma tersenyum.

Nagisa merasa waktu berhenti saat itu juga. Baru kali ini dirinya melihat seorang Karma Akabane tersenyum tulus. Serta perlakuan Karma yang sangat lembut terhadapnya. Selagi terhanyut oleh perkataan Karma, si pemilik surai merah itu mengusap rambut Nagisa dan meninggalkan Nagisa yang mematung.

Baru beberapa langkah dari luar kelas, Karma mendengar suara derapan langkah orang yang mengejarnya. Baru saja kepalanya Ia torehkan ke arah belakang, mata tembaga emasnya menangkap Nagisa yang terkapar di koridor tak sadarkan diri.


"temanmu terkena flu kecil. Tetapi besok Ia harus tetap istirahat di rumah. Bilang ini padanya setelah siuman nanti ya?" pemuda surai merah itu mengangguk. Pandangannya Ia alihkan ke arah Nagisa yang masih pingsan. Wajahnya menjadi lebih pucat—dalam artian masih cantik bagi Karma.

Guru kesehatan itu keluar dari ruangan, meninggalkan Karma dengan berbekal satu bento dan susu. Karma hanya diam dan duduk memperhatikan Nagisa yang terlelap dalam bunga tidurnya. Tangannya terangkat menyentuh wajah lembut Nagisa. Dilihat dari manapun sahabatnya ini benar-benar terlihat seperti perempuan tulen. Karma tertawa kecil, sedangkan tangannya mengusap pipi pemuda bersurai biru langit itu.

Merasa melihat objek yang menarik, Karma memainkan rambut Nagisa dan sesekali menciumnya. Yang diganggu menggeliat, lalu membuka iris biru lautnya. "ngh..hh.. Karma-kun..?"

"Oh, kau sudah siuman." Tangannya terangkat mengelus pucuk rambut Nagisa yang terurai. Bibirnya mengukir seringai.

Nagisa benar-benar sadar sekarang. Ia mendengar semua pengakuan Karma tentangnya dan kemudian pingsan. Tangannya meremas selimut. Pandangannya Ia paling ke arah lain. Matanya memanas. Perasaannya kacau. "..karma-kun, aku.."

"aku tahu, Kau menolakku Nagisa-kun. Kau berpikir kalau lebih baik aku pergi sekarang, bukan?" Karma berdiri dan siap melangkahkan kakinya keluar ruangan. Sudah cukup, jangan membuat hatiku lebih remuk kemudian kau hancurkan. Ini terlalu menyakitkan.

Tangan mungil itu menarik cardigan hitam milik Karma, dirinya terhenyak. Mata tembaga emas dan biru itu menyatu. Dengan secepat kilat, Karma menyambut perlakuan Nagisa dengan memeluknya. Nagisa mengulurkan tangannya membalas pelukan Karma lebih erat. Keduanya diam, tenggelam dalam kehangatan yang diciptakan oleh keduanya. Satu sama lain—melengkapi. Karma menjauhkan dirinya dari Nagisa dan memilih menatap pantulan dirinya di mata Nagisa.

"Karma.. sebenarnya, aku juga.. berpikiran sama." Nagisa berusaha keras mengeluarkan sepatah kata sembari menatap wajah Karma dengan jarak yang sempit. Tangannya menggenggam pergelangan tangan Karma yang mengusap pelipis wajahnya.

"Awalnya aku kira ini hanya perasaan senang memiliki teman dekat dan mempunyai kesamaan yang sama. Tetapi lama kelamaan aku terus memikirkanmu sepanjang waktu. Hanya dirimu yang selalu berkeliaran di pikiranku. ..aku pikir aku tidak normal, karena menyukai teman laki-laki ku sendiri." Seusai berbicara, Nagisa memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya ke arah Karma dan mengecup bibir pemuda berambut merah apel itu.

Karma benar-benar diselimuti perasaan bahagia sekarang. Perlakuan dan pernyataan Nagisa barusan sukses membuat dirinya tidak berkutik sedikitpun. Dirinya membeku oleh degupan jantung yang kembali berulah disertai gelitikan ribuan kupu-kupu di perutnya. Tanpa Ia sadari, bibirnya mengukir senyuman. Tangannya terulur mengusap surai biru Nagisa.

"Hei, Nagisa-kun. Aku mencintaimu."

Nagisa membalasnya dengan senyuman disertai rona merah di pipinya. Karma menangkup wajah Nagisa dengan kedua tangannya, mendekatkan wajah mereka lagi, merasakan kehangatan oleh cinta mereka berdua. Melupakan segala rasa gundah yang berkeliaran di hatinya kemarin. Semuanya sudah lunas oleh pengakuan Nagisa yang juga mempunyai perasaan yang sama.

"Aku juga mencintaimu, Karma-kun."


YEEEAYYYY AKHIRNYA AKU BERHASIL MENAMATKAN FF NISTA INIIIEHHH HUWOOO TERIMAKASIH BUAT SEGALA DUKUNGAN KALIAN SEMUA YAH :"D

Sebelumnya maaf kalo publish nya telat banget ya, tadinya mau bikin sad ending biar greget, eh ga tegaan akhirnya bikin juga ending yang mainstream ;w;)/ gimana nih ffnya? Bagus atau kurang memuaskan? Dapet feelsnya? Kurang adegan nistanya? /PLAK

Dan salam terakhir dari aku, makasih banyak yah buat yang udah baca, follow, favorit-in, ataupun reviews. Makasih banyak guys! You all makes me happy :') LUV LUV U GAES

Sampai jumpa di fanfic selanjutnya~

Mind to reviews for the last chapter?