ON YOONGI'S SIDE
YoonMin, MinYoon || Oneshoot, AU! || Warning! Jimin!GS, Yoongi!Seme
Seluruh cast milik Tuhan, saya hanya punya ceritanya aja! Enjoy!
Story by: jiminized
"Micheosseo! Micheosseo! Min Yoongi neo micheosseo!" Yoongi bergumam sembari mengetuk-ketukkan ponselnya ke kepalanya. Ia mondar-mandir di dalam apartemennya sembari menyesali perbuatannya. Yoongi menekan tombol lock ponselnya kemudian menekan kembali. Ia kembali mengetuk-ketukkan ponselnya ke kepalanya sendiri.
"Ah, kenapa bodoh sekali sih! Norak! Min Yoongi, kau norak sekali!" Yoongi bergumam kepada dirinya sendiri. Merutuki segala tingkah lakunya barusan. Ia benar-benar menyesali apa yang telah ia lakukan.
Lalu, sebenarnya apa yang Yoongi lakukan?
.
.
15 menit yang lalu.
Min Yoongi menggeser lockscreennya dan membuka phonebook ponselnya. Ia menggeser ke bawah untuk mencari nama. Akhirnya setelah menemukan nama tersebut, Yoongi bukannya segera menghubungi, ia malah berguling-guling di atas kasur. Bingung apakah ia harus menghubungi nomor tersebut.
Yoongi terlalu takut (atau lebih cenderung ke malu) untuk menghubungi nomor tersebut. Ia merapalkan deretan nomor yang tertera di layar ponselnya. Lama-lama ia bisa hafal nomor tersebut jika terus dibaca. Yoongi menggigit bibir bawahnya.
Nekat, ia memencet deretan nomor yang tertera tersebut. Nada sambung berbunyi, keringat mulai membasahi kening Yoongi. Bibir bawahnya ia gigit keras-keras pertanda ia benar-benar gugup. Jantungnya berdetak cepat seiring dengan nada sambung yang berbunyi.
"Yeoboseyo?"suara lembut yang sudah ia kenal menyambut pendengarannya. Tangan Yoongi mulai bergetar tepat ketika nada sambung sudah digantikan oleh suara seseorang dari seberang.
"Maaf ini siapa ya?" kembali Yoongi menggigit bibir bawahnya. Menutup matanya rapat-rapat. Merutuki kebodohannya karena tidak kuat menjawab.
Tut tut.
Panggilan Yoongi ditutup secara sepihak.
.
.
Yoongi menggigit bibirnya. Ia kesal kepada dirinya sendiri. Ia merasa ia terlalu pengecut karena tidak berani bicara. Padahal hanya lewat telfon. Yoongi melirik ponselnya yang tergeletak di kasur. Warna hitam menghiasi layar ponsel tersebut. Sudah sekitar 30 menit yang lalu ia menelfon seseorang tersebut. Namun kembali lagi, Min Yoongi terlalu gugup bahkan hanya untuk sekedar berbicara, lewat telfon lagi.
Lupakan sisi angkuh dan cuek Min Yoongi. Laki-laki ini sedang jatuh cinta. Segala keangkuhan milik Yoongi seketika akan runtuh jika ia sudah dihadapkan dengan Park Jimin. Ya, gadis yang tadi Yoongi hubungi adalah Park Jimin. Adik kelasnya di sekolah. Min Yoongi bisa menjadi seorang idiot jika Jimin sedang menyibakkan rambut panjangnya atau sedang menyisipkan rambutnya ke belakang telinganya. Kemarin ia hampir ketahuan Hoseok hampir drooling ketika sedang menatapi Jimin. Tidak, Yoongi bukan seorang pervert yang khayalannya macam-macam. Hanya saja Jimin terlalu adorable. Yoongi tidak akan bosan hanya untuk sekedar menelisik wajah Jimin.
.
.
Siang ini begitu panas bagi Yoongi. Sepulang sekolah ia langsung jalan menuju ruangan klub jurnalistik. Walau sudah berada di kelas 3, Yoongi dan teman-teman seangkatannya belum ingin rehat dari klub kemudian fokus untuk ujian. Meliput berita dan berbagai macam kegiatan klub terlalu menyenangkan untuk dilewatkan.
Hawa dingin menerpa wajah Yoongi seketika membuka pintu ruangan, kontras dengan hawa diluar yang panas tak karuan. Yoongi masuk ke dalam ruangan sembari memindai satu per satu wajah yang berada di dalam ruangan tersebut. Satu per satu hingga ia menemukan targetnya. Park Jimin. Gadis itu membiarkan rambut hitam lebat nan panjangnya itu tergerai di cuaca sepanas ini. Tapi bagi Min Yoongi, cuaca sepanas apapun atau sedingin apapun akan terasa nyaman jika ada Park Jimin. Cheesy Yoongi.
Yoongi menuju meja kebesarannya, kebesaran anggota senior klub jurnalistik sih. Yoongi saja yang berlebihan. Ia letakkan tasnya di atas meja kemudian ia keluarkan laptop dari tasnya. Ia hendak menyelesaikan desain bulletin bulan ini. Di klub, Yoongi bertugas sebagai fotografer sekaligus editor. Sebenarnya banyak yang bisa bekerja di bagian itu, hanya saja jika ia merasa selagi masih bisa mengerjakan sendiri ia akan mengerjakan segalanya sendiri.
Yoongi tetap mencuri-curi pandang ke arah Jimin. Kini gadis itu sedang terkikik-kikik bersama gadis di sampingnya yang Yoongi ketahui namanya Jongkook atau Jungkook atau siapalah itu. Yoongi saja tahu karena bawahan fotografernya di klub, diam-diam menyukai gadis yang sedang bersama Jimin itu. Mata Jimin yang otomatis menyipit ketika tertawa membuat Yoongi ikut tersenyum diam-diam.
Tanpa sadar, ada seseorang yang mendatanginya,
"Sunbae-nim, mengamati siapa dari tadi?" Yoongi langsung tersadar begitu mendengar suara seseorang di sampingnya. Hampir saja Yoongi terjungkal ke belakang.
"Ani, tidak melihat siapa-siapa. Jangan mengada-ada." Yoongi mencoba menyanggah perkataan pria di sampingnya tersebut.
"Eheeey, aku jelas melilhat. Sunbae-nim sedang tidak mengincar seorang gadis kan?" Pria disampingnya itu melongokkan kepalanya kearah Yoongi, mencoba mencari tahu.
"Kalau iya kenapa?" jawab Yoongi seadanya. Namun, jawaban tersebut membuat pria disampingnya membulatkan matanya.
"Ya Tuhan! Sunbae tidak sedang mengincar Jungkookku kan?!" Yoongi menutup telinganya reflek karena adik kelasnya tersebut berteriak tepat di telinganya.
"Ya, Kim Taehyung. Bicara pelan-pelan. Kau mau aku tuli di usia muda? Aku baru 18 tahun, aku belum mau tuli gara-gara kau. Lagipula, jangan konyol. Aku tidak menyukai Jungkookmu." Pria yang bernama Taehyung itu reflek memberi senyum berbentuk persegi ke arah Yoongi.
"Arasseo, Hyungnim! Kalau begitu aku keluar dulu ya." Kemudian Taehyung beranjak meninggalkan Yoongi untuk keluar dari ruangan tersebut. Tiba-tiba sebuah pikiran terbersit di dalam kepala Yoongi,
"Ya! Ya! Kim Taehyung! Tunggu aku!" ada yang perlu Yoongi bicarakan, atau lebih tepatnya tanyakan. Tak lain tak bukan, ini menyangkut tentang Park Jimin
.
.
"Aaaaah! Micheosseo! Kenapa norak sekali sih? Tahu begini tidak usah tanya Taehyung! Ah! Eottokhae?! Jimin pasti akan ilfeel denganku." Sama seperti kemarin malam, Yoongi mondar-mandir di dalam unit apartemennya kemudian mengetuk-ketukkan ponselnya ke kepalanya. Merutuki segala tingkah lakunya.
"Norak sekali sih! Ini sudah tahun berapa?! Kenapa cara Taehyung norak sekali! Kenapa Min Yoongi menuruti Kim Taehyung!" Yoongi marah-marah kepada dirinya sendiri. Ia begitu gelisah. Dilemparkannya ponselnya ke tempat tidur.
Ia beranjak menuju dapur dan mengambil segelas air putih. Setidaknya untuk menenangkan diri. Setelah menenggak segelas penuh air putih, Yoongi kembali menuju kamarnya. LED ponselnya menyala. Tanda ada notifikasi di ponselnya. Entah ada pesan singkat atau notifikasi sosial medianya. Yoongi melirik-lirik takut sekaligus khawatir. Kemudian ia beranjak meraih ponselnya tersebut.
Notifikasi pesan singkat masuk terpampang di layar ponselnya dan sederet nama pengirim tertera jelas di layarnya tersebut. Yoongi memencet notifikasi tersebut dan terpampanglah pesan balasan tersebut. Ia tidak berani membacanya. Ia malah membaca pesan yang ia kirim tadi.
Selamat malam, Jimin.
Apa kabarmu hari ini?
Tidak sedang bertengkar dengan ayahmu kan?
Sudah makan belum?
Bagaimana planning kuliahmu?
* kiss*Park Jimin, semangat ya! Kau pasti bisa!
Uh! Kenapa ia ceroboh sekali sih? Semuanya terlalu tiba-tiba dan frontal. Dari pesannya tersebut Yoongi terlihat seperti pria yang sok tahu-sok akrab-mesum karena meninggalkan emotikon kiss di akhir. Yoongi kembali merutuki segala tindakan bodohnya. Kemudian ia perlahan melirik kebawah layarnya, membaca balasan dari Park Jimin.
Selamat malam, Sunbae.
Kabarku baik-baik saja.
Hari ini kebetulan sekali aku tidak ada masalah apapun dengan Ayahku.
Tadi sekitar 20 menit yang lalu aku baru saja menyelesaikan makan malamku. Bagaimana dengan Sunbae sendiri?
Kuliah? Belum terpikirkan malahan. Bagaimana dengan Sunbae sendiri?
Aku selalu semangat, Sunbae.
Oh Tuhan! Bahkan balasan selamat malam dari Jimin terasa seperti angin musim panas yang berhembus dengan indah bagi Yoongi. Oke, Yoongi terlalu norak. Balasan Jimin sangat straightforward dan tidak bertele-tele. Yoongi jadi malu dan canggung. Ia bingung bagaimana harus membalas. Min Yoongi minim pengalaman di bidang percintaan. Makanya, tadi siang ia minta nasehat kepada Taehyung bagaimana cara mengirim pesan yang baik dan benar kepada gebetan.
Setelah menimbang-timbang, akhirnya ia ketikkan jawaban
Wah aku senang jika kau baik-baik saja!^^
syukurlah kalau kau tidak ada masalah dengan ayahmu. Teruskan perkembangan baik ini!^^
Aigoo, uri Jiminie memang selalu makan dengan baik. Maukah kau lain kali kutraktrir?
Aku ingin kuliah di bidang seni musik, doakan sukses ya!
Semangatku bertambah jika kau begitu semangat.
Kemudian ia menekan icon send di layar ponselnya. Adakah yang aneh? Yoongi memindai ulang pesan yang sudah ia kirim barusan. Apakah Yoongi terlalu agresif? Apakah Yoongi terlalu kekunoan?
3 menit.
5 menit
10 menit.
15 menit.
Sampai satu jam, jawaban dari Park Jimin tak kunjung datang. Padahal Yoongi mengecek report bahwa pesan tersebut sudah sukses sampai. Itu berarti gadis tersebut memang sengaja tidak membalas pesan dari Yoongi.
Yoongi berguling-guling gelisah di atas kasur. Benar-benar khawatir Jimin akan ilfeel kepadanya. Ia sangat gelisah dan khawatir kalau-kalau Jimin malah jijik kepada Yoongi. Ya ampun Min Yoongi sepertinya mengalami anxiety disorder,kekhawatiran berlebihan.
Tak kunjung ada jawaban dari Jimin setelah itu, "Ah! Persetan dengan balasan dari Park Jimin! Aku mau tidur saja!" Yoongi melempar ponselnya sembarangan ke sisi lain kasurnya kemudian ia menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Min Yoongi mencoba tidur malam itu.
Walau pikirannya dipenuhi oleh sosok Park Jimin.
.
.
Mulutnya sedang bersiul mendendangkan entah lagu apa yang pasti menandakan suasana hatinya sedang baik. Ya, sedang baik. Kelas sore dan malamnya hari ini ditiadakan. Maklum, Min Yoongi sudah kelas 3 jadi sudah banyak kelas sore dan malam. Kebetulan hari ini ia juga tidak ada jadwal les di luar jadi ia memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen kemudian membuat ramyeon ditambah kimchi kiriman dari ibunya.
Ia terus berjalan sampai mendapati seseorang berjalan ke arahnya dengan kepala tertunduk dan isakan kecil tersembunnyi. Gadis yang baru tadi malam ia kirimi pesan norak. Yoongi berhenti di tempat tapi Jimin tetap berjalan, ke arahnya. Bruk! Park Jimin tepat menabrak Min Yoongi.
"Ah maaf, maaf, aku tidak sengaja. Maaf seka—" gadis itu mendongak untuk melihat wajah seseorang yang ia tabrak barusan. Min Yoongi sedang berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya dan yang pasti debaran jantungnya yang tak karuan. Min Yoongi hanya memiliki satu wajah yang sudah menjadi system default miliknya dan kini sedang ia pasang. Totally straight.
"Kau baik-baik saja?" Yoongi bertanya sembari sedikit menahan suaranya. Ia hampir memekik bertanya kepada Jimin, jangan norak.
"Eh? Apanya?" Mata gadis itu membulat tepat di depan wajah Yoongi. Sialan! Sialan! Lucu sekali! Tuhan, kuatkan aku!
"Keadaanmu. Sepertinya kau bertengkar dengan ayahmu lagi." Ujar Yoongi sok tahu. Ia hanya menebak-tebak saja sih sebenarnya. Tapi bukan hal aneh lagi jika Yoongi tahu. Sudah menjadi rahasia umum bagi anggota klub jurnalistik bahwa Park Jimin dan ayahnya sangat sering bertengkar, bisa langsung maupun lewat telfon. Bahkan Yoongi pernah mendengar dari teman-temannya, Jimin pernah bertengkar dengan ayahnya di depan sekolah.
"Bagaimana sunbae tahu?" Bingo! Tepat dugaan Min Yoongi.
"Aku bisa melihat dari ekspresimu. Lihat juga, ada jejak air mata disini." Yoongi memberanikan diri menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Jimin. Tapi rupanya gadis itu tidak memberikan respon apapun terhadap tindakan Yoongi. Gadis itu malah hanya mengangguk-angguk paham. Yoongi menahan senyum karena tingkah laku Jimin.
"Kau juga terlihat lucu jika habis menangis seperti ini." Kembali Yoongi berujar kepada Jimin. Gadis itu masih saja mengangguk-angguk. Yoongi jadi semakin gemas kepada Jimin. Apa Jimin tidak mendengarkan atau bagaimana?
"Kau terlihat jelek, Jim." Langsung terlihat perubahan ekspresi gadis itu. Jimin langsung melotot dan hal itu membuat Yoongi terkikik melihat perubahan ekspresi gadis itu.
"Jika tidak ingin terlihat jelek jangan menangis. Senyummu lebih indah daripada tangismu." Ujarnya sembari mengusap kepala Jimin dan ia menyunggingkan senyum tipis kepada gadis tersebut. Kemudian Yoongi menyuruh Jimin untuk segera pulang yang malah dibantah oleh gadis itu. Jimin malah ingin jalan-jalan karena ia sedang kesal dengan ayahnya.
Jimin beranjak dari hadapan Yoongi. Yoongi akhirnya diam-diam mengikuti Jimin di belakang gadis tersebut. Ia merasa akan terjadi sesuatu yang tidak beres jika Jimin dibiarkan sendirian. Yoongi menyadari sesuatu. Tatapan gadis itu kosong. Tatapan Jimin tertumpu pada aspal bergaris di hadapannya. Tanpa gadis itu sadari juga ia menyebrang, padahal lampu tanda penyebrangan masih berwarna merah. Yoongi yang menyadari hal itu langsung berjalan cepat menuju Jimin. Dari sebelah kanan melaju dengan cepat mobil boks. Yoongi berlari menarik tangan Jimin dan gadis itu jatuh tepat di dada Yoongi.
Jantung Yoongi berdetak cepat tak karuan ketika Jimin berada di pelukannya. Gadis itu memejamkan mata, dapat Yoongi lihat.
"Kau gila?" reflek gadis di pelukannya itu langsung membuka mata dan mendongak melihat ke arah Yoongi.
"Kau segila itu hingga ingin mati? Kau juga ingin membuatku gila ya?" masih tidak ada respon dari gadis di pelukannya tersebut. Samar-samar Yoongi mendengar bisik-bisik di sekitarnya, namun tak ia hiraukan. Ia masih sibuk menatapi wajah gadis itu.
"A-ah, maaf sunbae. E-eh, terima kasih juga." Begitu tersadar, gadis itu langsung mundur perlahan dari hadapan Yoongi. Mencoba pergi begitu saja dari pandangan yang lebih tua. Namun Yoongi tidak membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Ia berjalan menyusul Jimin dan menarik kencang pergelangan tangan gadis itu,
"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja?" digenggamnya pergelangan tangan Jimin tanpa ampun. Berkali-kali gadis itu berusaha mengelak tapi Yoongi tetap mencegah Jimin untuk pergi. Jimin juga sempat begidik ngeri ketika melihat senior yang sebenarnya naksir berat padanya itu membentaknya karena tak kunjung menjawab. Sebenarnya hal itu ia lakukan karena menyembunyikan ekspresinya yang pasti tak karuan karena berhadapan dengan Jimin.
"Ke-kenapa Sunbae seperti ini?" pertanyaan yang sebenarnya Yoongi tidak bisa jawab. Ingin saja rasanya menjawab, karena aku menyukaimu, tapi tidakkah terlalu cepat bagi Yoongi? Ia memutuskan untuk memutar pertanyaan dan malah mengantar gadis itu pulang.
Mungkin malam itu Yoongi terlihat kelewat lancang. Begitu berani menarik dan menggenggam tangan Jimin. Tapi tidak ada juga perlawanan maupun penolakan dari Jimin. Seorang Park Jimin hanya diam saja ketika Yoongi menggenggam tangannya.
Malam itu, Yoongi mengantar Jimin sampai di depan rumah gadis itu. Sebenarnya itu hanyalah trik milik Min Yoongi yang ingin menatap Jimin lebih dekat dan lebih lama. Memang terlihat aneh, tapi itulah Min Yoongi. Ia terlalu canggung dan bingung. Tidak tahu bagaimana caranya mendekati seorang gadis yang baik dan benar. Ia sudah kapok bertanya kepada orang lain. Terakhir kali bertanya kepada Taehyung yang menurutnya sendiri malah norak.
Ya, Min Yoongi akan mendekati jimin dengan caranya sendiri.
.
.
Entah kenapa Yoongi enggan untuk membuat pergerakan mendekati Jimin lagi. Sebenarnya enggan juga bukanlah pilihan kata yang tepat. Hanya saja Yoongi ingin membuat jarak. Entah apa yang ada di pikirannya, ia ingin mengamati sosok Park Jimin dari kejauhan dan dalam diam. Menikmati gerak tubuh dan senyumnya dari jarak tertentu. Yoongi bukanlah orang yang terburu-buru. Terlihat dari tingkah lakunya selama ini.
Yoongi jadi ingin nostalgia. Waktu dimana ia pertama kali jatuh. Jatuh dalam pesona seorang Park Jimin
.
.
Angin musim gugur bertiup cukup kencang sore ini membelai pipi pucat milik Yoongi. Langkahnya menyebrangi lapangan sekolahnya. Berjalan menuju ruangan klub jurnalistik yang ia ketuai. Hari ini seluruh anggota baru klub berkumpul dan rencananya akan ada sejenis masa orientasi untuk seluruh anggota baru yang masih kelas satu.
Dibukanya pintu ruangan, pengelihatan Yoongi disambut oleh sekitar 20 orang yang masih asing dimatanya dan tentu anggota klub angkatannya dan angkatan atas. Yoongi berjalan menuju kursi yang sudah biasa ia tempati. Ia enggan duduk di kursi yang seharusnya diduduki oleh ketua klub. Yoongi masih belum terbiasa, ia baru satu minggu menjadi ketua klub jurnalistik.
Yoongi meletakkan tasnya di bawah kursinya kemudian melepas earphone yang ia gunakan. Begitu melepas earphone miliknya, langsung ada yang berbisik tepat di telinga Yoongi,
"Ya! Yoongi-ya, bagaimana ada yang cantik tidak? Ada yang menarik perhatianmu tidak?" Jung Hoseok, rekannya yang paling berisik.
"Aku tidak tertarik." Jawab Yoongi to the point.
"Erai, kau ini normal atau tidak sih? Lihatlah bening-bening semua seperti plastic?" Hoseok masih saja merecoki Yoongi.
"Kau pikir mereka ini benda? Mereka manusia, Hoseok-ah." Yoongi memutar bola matanya malas menanggapi Hoseok. Tepat setelah Yoongi menjawab Hoseok, si sekretaris klub memulai acara orientasi hari ini. Yoongi bersyukur ia tidak perlu menjawab pertanyaan ngaco Hoseok lebih jauh.
Dimulailah acara orientasi, mulai dari perkenalan seluruh anggota klub angkatan Yoongi dan sebelumnya hingga struktur organisasi tersebut. Sampailah perkenalan anggota klub jurnalistik yang baru. Masing-masing anggota memperkenalkan diri sembari berdiri. Sampailah giliran di seorang gadis,
"Annyeonghaseyo, Park Jimin imninda. Aku kelas 1-3. Mohon bimbingannya." Suara lembut itu menyambut pendengaran Yoongi. Sosok gadis itu langsung membuat Yoongi terpana. Jika dilihat bentuk seorang Min Yoongi saat ini, ia terlihat seperti seseorang yang idiot. Mulut setengah terbuka, mata sipitnya seratus persen tidak lagi terlihat sipit, alisnya terangkat dua-duanya, dan satu lagi yang Yoongi rasakan. Jantungnya berdetak cepat dengan sebab yang tak jelas.
"Min Yoongi, kau kenapa?" bisikan Hoseok menyadarkan pelongoan Yoongi. Laki-laki itu langsung mengedip-kedipkan matanya cepat. Tersadar atas tingkah bodohnya barusan.
"Tidak apa-apa." Jawabnya sambil menghalau wajah Hoseok yang terlalu dekat. Min Yoongi mencoba menyadarkan diri. Menyadarkan segala sesuatu yang ada di pikirannya.
Tanpa ia sadari saat itu juga, ia telah jatuh cinta. Jatuh cinta kepada si anak baru anggota klub jurnalistik.
.
.
Mengingat bagaimana ia jatuh cinta kepada Jimin membuat Yoongi merasa bodoh. Ia sadar jatuhnya ia dalam pesona Jimin membuat ia terlihat seperti idiot. Well, jatuh cinta selalu membuat seseorang menjadi berbeda kan? Yoongi tidak pernah membuat langkah mendekati Jimin sampai ia mendengar desas-desus dari luar. Teman satu angkatannya ada yang hendak mendekati Jimin. Yoongi tahu persis siapa orang itu dan Yoongi tahu benar bahwa laki-laki yang berniat mendekati Jimin itu bertekad kuat jika sudah menginginkan sesuatu.
Yoongi pernah mendengar kutipan "cinta diam-diam akan berakhir diam-diam" Yoongi tidak ingin kisah cintanya akan terdengar super menyedihkan. Akhirnya dengan segala tekadnya yang tak kalah kuat dari laki-laki lain yang ingin mendekati Jimin, ia diam-diam mengintip berkas keanggotaan klub dan mencatat nomor telfon Jimin dari situ.
Ia berusaha memulai pergerakan mendekati Jimin lebih cepat dari siapapun. Ia berusaha mencuri perhatian Jimin sedikit demi sedikit. Mulai dari menelfon Jimin tanpa suara sampai mengantar gadis itu pulang. Tapi entah mengapa Yoongi merasa ia terlalu agresif. Ia takut kalau-kalau nanti Jimin ilfeel dengannya. Begitulah hingga akhirnya ia memberi jarak antara dirinya sendiri dengan Jimin, menikmati pergerakan seorang Park Jimin dari kejauhan.
.
.
"Oppa! Ini Ibu titip oleh-oleh untuk Gomo. Nanti pulang sekolah langsung diberikan ya! Jangan dimakan sendiri." Tiba-tiba di hadapan Yoongi sudah ada Jihoon. Gadis berambut coklat terang itu membawa bungkusan besar diberikan kepada Yoongi. Sore ini ibu Yoongi akan datang mengunjungi putranya itu.
"Apa ini?" Yoongi mengangkat alisnya heran dengan pemberian Jihoon itu.
"Tteok. Ibu titip untuk Gomo. Jangan dimakan sendiri! Ingat itu!" Gadis itu mengerucutkan bibirnya, terlihat lucu.
"Sudah taruh saja di meja." Jawab Yoongi sambil mengedikkan dagunya ke arah meja di hadapannya. Kemudian gadis itu meletakkan bungkusan itu di meja. Tak lantas pergi, Jihoon malah langsung duduk di samping Yoongi dan menggenggam erat lengan kakak sepupunya tersebut,
"Oppa! Tolong aku." Ada apa dengan gadis ini tiba-tiba minta tolong? Yoongi hanya menaikkan alisnya, menandakan bertanya ada apa. Jihoon menjawab dengan bisikan dan mendekat ke telinga Yoongi,
"Hoseok sunbae, kemarin mengajakku jalan. Ku iyakan atau tidak?" Yoongi mengerutkan kening, Hoseok mengajak Jihoon? Rekannya itu sedang menggebet adik sepupunya ini?
"Kau suka tidak?" Jihoon memundurkan wajahnya begitu Yoongi bertanya tentang perasaannya.
"Bukannya tidak suka, Hoseok sunbae itu tampan kok. Tapi kan kami belum dekat, masa tiba-tiba sudah jalan bersama. Takutnya aku malah terbawa perasaan." Jihoon mempoutkan bibirnya. Yoongi tertawa,
"Ya, ya sudah kau iyakan saja ajakannya. Kan ini langkah awal. Dasar bocah, begitu saja tidak tahu." Well Min Yoongi kau mengatai Jihoon padahal kau maju mundur ketika mendekati Park Jimin. Setelah ia mengatakan hal itu kepada Jihoon entah kenapa Yoongi menolehkan kepalanya ke arah pintu yang terbuka. Ada yang masuk ke dalam ruangan klub. Oh-oh itu adalah Park Jimin.
Yoongi mengamati pergerakan Jimin dari ia masuk ke dalam ruangan. Gadis itu duduk di sebelah gebetannya Taehyung kemudian mengajak gadis itu bicara, sedikit melirik-lirik ke arah Yoongi.
"Oppa, ayo makan di kantin. Hari ini aku diberi uang saku lebih oleh ibu. Perbaikan gizi." Ajak Jihoon kepada Yoongi. Siapa yang bisa menolak makanan gratis? Kemudian Yoongi berdiri. Jihoon sudah lebih dulu keluar. Yoongi berjalan di belakang Jihoon, tepat ketika Yoongi berjalan di belakang Jimin dan Jungkook yang sedang berbisik-bisik, Yoongi mendengar,
"Memang Jihoon itu siapanya Yoongi-sunbae sampai berani melakukan hal itu?" Yoongi menaikkan alisnya mendengar sepotong pembicaraan itu. Entah tanpa sadar Yoongi malah berjalan mendekat dan kemudian,
"Melakukan apa?" Sepertinya Yoongi malah kelepasan. Dalam hati ia merutuki kebodohannya yang begitu saja menyahut tanpa pikir-pikir lagi,
"Kutanya kau, Park Jimin. Melakukan apa?" tambahnya lagi, sebenarnya hanya untuk menutupi kegugupan dan kesalahannya yang ikut-ikutan itu,
"Tidak apa-apa, Sunbae-nim." Gadis itu menunduk sembari menjawab Yoongi. Yoongi menekuk bibir bawahnya, menahan tawa sebisa mungkin melihat ekspresi gadis itu.
"Lain kali diamlah, jika tidak tahu." Kemudian Yoongi pergi begitu saja meninggalkan Jimin. Yoongi sudah tak tahan karena ia tahu sendiri bahwa ia juga salah ikut-ikut pembicaraan Jimin. Daripada grogi dan salah kata nantinya ia memilih untuk ngeloyor dan pergi.
Sebenarnya, Jihoon adalah anak adik ibunya Yoongi. Jadi Jihoon adalah adik sepupu Yoongi lebih tepatnya. Mungkin karena gen yang terlalu kuat, sampai-sampai Yoongi dan Jihoon memiliki wajah yang persis, walau kurang disadari orang-orang disekitarnya. Jihoon yang tidak ingin identitasnya sebagai sepupu Yoongi terbongkar. Eksistensi Yoongi yang tidak bisa diremehkan di sekolah membuat Jihoon enggan untuk berbagi informasi bahwa ketua klub jurnalistik itu adalah kakak sepupunya. Sedangkan Yoongi? Pria itu terlalu malas memikirkan hal-hal itu. Mau ada yang tahu atau tidak, bagi Yoongi akan sama saja.
.
.
Banyak hal dilewati Yoongi selama masa menyukai Park Jimin. Pernah juga Yoongi salah menduga. Ia mengira kakak laki-laki Jimin adalah pacar gadis itu. Bagaimana tidak, tiba-tiba laki-laki itu langsung mencium pipi Jimin. Yoongi tidak mungkin kan berpikir bahwa itu tetangganya Jimin? Tapi akhirnya juga terungkap bahwa laki-laki itu adalah kakak Jimin.
Yoongi ingin terus melakukan kegiatan mengamati Jimin dari jauh. Namun ada dua factor yang menghalanginya untuk terus melakukan itu. Pertama, laki-laki yang desas-desusnya mendekati Jimin kabarnya semakin menggencarkan kegiatannya untuk mendekati gadis itu. Yoongi tidak ingin keduluan di garis finish kan kalau begitu. Kedua, Jung Hoseok sudah jadian dengan Jihoon. Baru sekitar satu minggu yang lalu. Iya, Jihoon. Sepupu Yoongi yang seratus persen mirip Yoongi. Padahal kemarin baru saja Hoseok merecoki Yoongi masalah pantat Jimin yang berisi. Walau Yoongi tahu perkataan Hoseok hanyalah sekedar candaan, tapi hey kau sudah punya pacar dan pacarmu adalah adik sepupuku, kalau gadis lain terserah. Ya walaupun akhirnya Yoongi kembali ke mode cueknya sih.
Jimin lepas dari pengamatan Yoongi selama satu minggu karena Jimin mewakili sekolahnya untuk meliput tentang konferensi remaja se-Asia. Yoongi yang diam-diam menyimpan rindunya akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Jimin untuk keluar. Sekedar mengatakan bahwa kafe yang dituju nyaman dan enak,
"Kau ada waktu luang tidak sore ini? Kudengar ada kafe yang enak dan nyaman di ujung jalan. " ia berusaha memfokuskan pandangannya ke arah bulletin yang terpampang dihadapannya. Tidak ingin melihat ekspresi gadis disampingnya. Kalau-kalau Jimin malah menunjukkan ekspresi ingin muntah jika ia mengajak gadis itu.
"Maaf, Sunbae. Tapi sore ini aku sudah ada janji makan malam bersama keluargaku. Aku minta maaf, mungkin lain kali." Ah penolakan yang ia dapat. Ya, alasan keluarga tidak dapat Yoongi bantah lagi. Keluarga menjadi alasan yang kuat untuk membatalkan apapun. Betul kan? Apalagi Yoongi tahu betapa ganasnya ayah Jimin. Bisa-bisa Yoongi difillet oleh ayah Jimin kalo memaksa.
Yoongi memutar otak mencari cara untuk memberikan sesuatu yang tidak biasa, spesial, untuk Jimin yang spesial untuknya. Uh, norak, khas Min Yoongi. Yoongi berjalan menulusuri lorong kelas satu. Mencari kepala berambut hitam yang mungkin sedang berhadapan dengan seorang gadis berambut coklat terang.
Dapat!
"Jung Hoseok!" Yang dipanggil menoleh dan perubahan ekspresinya langsung kentara. Hell, dia sedang berduaan dengan pacar barunya, malah diganggu oleh si kakek-kakek.
"Ada apa?" Jawab Hoseok ogah-ogahan.
"Aku mau tanya. Ayo ikut aku." Yoongi menepuk pundak Hoseok mengajak laki-laki itu beranjak.
"Oppa! Jangan mentang-mentang jomblo jadi mengganggu orang yang sedang pacaran dong!" terdengar suara dari belakang Hoseok, Jihoon rupanya.
"Oh, ada kau. Aku pinjam pacarmu." Kemudian Yoongi menarik lengan Hoseok kencang dan menyeret laki-laki itu keluar menuju ruang kelas mereka.
"Bantu aku, Hoseok-ah."
"Bantu apa?" Hoseok memutar bola matanya jengah. Ia sedang asyik bercanda dengan Jihoonnya yang manis kemudian si kakek-kakek siswa SMA ini datang mengganggunya.
"Aku ingin memberikan sesuatu untuk Jimin."
"Lalu?"
"Aku tidak tahu akan memberikan apa." Hoseok menyandarkan punggungnya di tembok, menghembuskan nafasnya berat, kemudian memukulkan kepalanya ke tembok. Sedikit menyesali mengapa temannya ini begitu bodoh. Apalagi dalam urusan hati ke hati.
"Kau buka saja SNSnya. Mungkin dia menulis tentang barang apa yang ia inginkan atau yang ia butuhkan. Ya ampun, Min Yoongi, ini sudah zaman modern. Kenapa kau selalu kuno sih?" Hoseok menegakkan punggungnya, bermaksud untuk meninggalkan Yoongi.
"Hoseok-ah! Bantu aku mencari tahunya!" dan Hoseok hanya memutar bola matanya kesal.
.
.
.
Pagi ini Yoongi sedang bersembunyi dibalik loker-loker siswa sekolahnya. Mengamati apakah Park Jimin sudah datang atau belum. Sore kemarin, akhirnya ia membeli komik Detective Conan keluaran terbaru. Atas saran yang diberikan Hoseok sih, bukan idenya sendiri. Yoongi masih buta dan kaku masalah memberikan hadiah atau sesuatu untuk seseorang. Apalagi yang ia sukai. Alhasil ia hanya menuruti nasihat dari Jung Hoseok masalah hadiah untuk Jimin.
Terlihat dari arah barat Park Jimin berjalan dengan anggun. Tas ransel tergantung di pundaknya. Rambut hitam panjangnya diikat rapi membuat pipi Yoongi bersemu diam-diam. Tapi ia terkesiap, ia tidak boleh menghilangkan aura swagnya. Harus stay cool mode on selalu.
Ia mengamati dari Jimin berjalan kemudian membuka lokernya. Yoongi benar-benar mengamati perubahan wajah Jimin. Alis gadis itu langsung naik, dahinya berkerut, dan bibirnya mengerucut lucu. Membuat Yoongi ingin…. Ah sudahlah. Tiba-tiba gadis itu menoleh ke kanan dan kiri melihat keadaan sekitar. Reflek Yoongi menempel ke tembok bersembunyi dari pengelihatan Jimin. Jangan sampai ketahuan! Bisa gagal dong rencana yang sudah Yoongi susun.
Tadi sebelum ia letakkan, Yoongi sudah menambahkan korsase bunga mawar di atas komiknya. Sedikit norak dan kuno, sih. Tapi inilah Yoongi. Memang swag tapi tetap norak. Yoongi mengamati apakah yang akan Jimin lakukan terhadap benda itu.
Tidak ada.
Jimin hanya membolak-balikkan komik kemudian mengambil beberapa barang yang ia perlukan dari dalam loker. Menutup loker. Lalu pergi.
Min Yoongi sedikit memendam kekecewaan di dalam hatinya. Ia sadar, tidak seharusnya ia hanya meletakkan komiknay begitu saja. Seharusnya ia memberikan kepada Jimin secara langsung. Tidak seperti ini.
.
.
.
Yoongi kembali menjalanni kehidupan mengamati Park Jimin dari jauh. Ia tidak tahu bagaimana Jimin terhadapnya. Ia hanya mampu meraba-raba tanpa menyentuh di intinya. Ia takut jika saja Jimin tidak menyukainya juga, mau ditaruh mana muka Yoongi?
Yoongi memakan jatah makan siangnya dengan sangat tidak bersemangat. Ia malah kebanyakan melamun.
"Apakah kau benar Min Yoongi?" Tiba-tiba Kim Namjoon sudah duduk di hadapan Yoongi. Membawa nampan berisi makan siangnya. Yoongi hanya melirik malas pria di hadapannya. Ia tambah malas berhadapan dengan bocah ini.
Siapa Kim Namjoon?
Mengapa Yoongi bertambah malas?
For your information, Kim Namjoon ini merupakan pemicu Min Yoongi ingin meninggalkan kegiatan mengamati Park Jimin dari jauh. Ya, Kim Namjoon adalah laki-laki lain yang juga menyukai Jimin. Yoongi jelas kalah fisik dengan Namjoon. Hey, Namjoon berbadan tinggi menjulang rambut hitam kelam dan lesung pipi yang mempesona. Demi rambut pirang Kim Seokjin! Jika Jung Hoseok adalah seorang gadis, pasti ia sudah mengejar-kejar Kim Namjoon.
"Pergi sana, menghilangkan moodku untuk makan saja." Perkataan tajam Yoongi hanya dijawab dengan kekehan pelan Namjoon.
"Takut kalah saing?" Namjoon dengan tenang menyendok nasinya dan menyuapkan ke dalam mulutnya.
"Kalah saing? Dengan kau? Jangan bodoh, jangan berani berpikir, bahkan bermimpi sekalipun! Aku tak pernah takut. Apalagi padamu." Yoongi mendecih. Sok berani sebenarnya.
"Benarkah? Aku ragu apakah kau bahkan sudah jalan berdua dengannya?" Yoongi muak dengan suara Namjoon. Ia berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan Namjoon yang kembali menikmati makan siangnya.
.
.
.
Bel sudah berbunyi sore itu. Sudah pukul 6 sore. Yoongi ingin segera pulang ke apartemennya bergelung di bawah selimutnya yang hangat. Tapi sayang sekali. Hujan turun dengan begitu derasnya seakan menentang keinginan Yoongi. Yoongi mendecih pelan kemudian berbalik meninggalkan lobby sekolahnya.
Yoongi melangkah menuju ruang klub jurnalistik. Satu-satunya tempat yang aman dan nyaman baginya. Begitu sampai dibukanya pintu ruangan itu. Sedikit terkejut. Ada sesosok disana. Sedang memejamkan mata, tertidur sepertinya.
Park Jimin.
Berjalan mendekat kemudian duduk di kursi di samping Jimin. Kulit putih, pipi tembam, bibir penuh, mata lebar yang seketika bisa menyipit jika tertawa yang kini sedang terpejam milik Park Jimin membuat Min Yoongi benar-benar terpesona. Yoongi hanya terdiam menelusuri detail wajah Jimin.
Yoongi menahan kikikannya. Ia tahu, Jimin mengintip. Mencari tahu siapakah sosok yang berada di sampingnya. Yoongi juga tahu Jimin membuka matanya perlahan karena takut kalau-kalau terlihat aneh ketika Jimin tiba-tiba membuka mata.
"Kau bangun?" Yoongi berusaha bernada sehangat mungkin. Ia mirip-miripkan dengan tone milik Kim Seokjin. Hanya anggukan yang Yoongi dapat. Sedikiiiit ia dekatkan tangannya ke tangan Jimin.
"Kenapa belum pulang?" tanya Yoongi kembali, lagi-lagi ia mengikuti tone Kim Seokjin. Dalam hati ia merutuki kenapa ia harus ikut-ikut Seokjin. Jimin menjawab pertanyaan dengan menunjuk kea rah jendela. Yoongi merinding, JANGAN-JANGAN JIMIN BELUM PULANG KARENA ADA HANTU DI RUANGAN INI DAN IA TERJEBAK DAN HANTUNYA SEDANG BERGELANTUNGAN DI JENDELA?! Ayolah Min Yoongi, di luar hujan. Masih dengan gaya sok swagnya ia ikut melihat ke arah jendela. Oke, karena hujan. Yoongi tidak mau terlihat sedang memikirkan jimin-terjebak-karena-hantu.
"Jimin-ah." sok keren, biasa, ingin seperti Kim Seokjin.
"Ya, sunbae?"
"Apakah kita tidak bisa melewati batas sunbae dan hoobae?" tanya Yoongi, ia terlalu gengsi untuk mengatakan aku-suka-kamu-jadilah-pacarku. Dasar tukang berbelit.
"Lalu setelah melewati batas, akan menjadi apa nantinya?" Yoongi memutar otaknya mencari cara untuk menjawab sekeren mungkin.
"Min Yoongi ini akan menjadi namchinmu, Park Jimin akan menjadi yeochinku. Nantinya tidak akan ada kesungkanan batas antara senior dan junior, panggilan yang tadinya sunbae akan digantikan menjadi Oppa, aku akan dengan bebas memanggilmu jagi. Semua akan berubah karena aku akan menjadi milikmu dan tentunya kau akan menjadi milikku." Woohoo! Ingin rasanya Yoongi salto a la boyband Sobangcha di lagunya Last Night. Tapi lebih baik jangan, karena Jimin masih ada di hadapannya. Mungkin lain kali ia akan menraktir Kim Seokjin di restoran daging kesukaannya.
"Sunbae." Gadis itu memanggil Yoongi. Lebih tepatnya mencicit pelan. Tapi Yoongi masih bisa mendengarnya.
"Hm?" Aku sangat ingin menendang kepala Min Yoongi karena masih saja sok keren padahal jantungnya sedang senam di dalam dadanya.
"Berkali-kali aku ragu. Bukan dengan perasaanku. Tapi kepadamu. Aku takut kau tidak benar-benar menyukaimu, aku takut ini hanyalah sementara. Aku tahu banyak gadis di luar sana yang lebih cantik dan baik dariku, tentunya menginginkanmu. Aku hanyalah gadis biasa yang diam-diam menyukaimu, sunbae. Gadis yang bahkan tak pernah berusaha mendapatkan atensimu. Berbagai dilemma hati ini datang ketika kau berusaha mendekatiku. Aku takut, sunbae. Aku takut akan perasaanku sendiri." Selain ingin salto a la Sobangcha ia sekarang juga ingin mencoba menari a la Turbo, boyband Kim Jongkook pada tahun 90'an. Yoongi sangat senang ternyata Jimin membalas perasaannya.
"Jimin-ah." Dengan keberanian yang diada-adakan Yoongi memagut bibir gemuk Jimin. Mengetahui gadis itu terkejut, ia mencoba membuat gadis itu ikut dalam permainan. Ah sudah berapa lama Min Yoongi ingin melumat bibir gemuk yang terlihat manis itu. Yoongi menarik Jimin untuk mendekat ke tubuhnya. Respon Jimin yang langsung meremas pelan bahu Yoongi itu langsung membuat laki-laki itu tersenyum. Yoongi adalah harimau, Jimin adalah daging. Yoongi sudah dapat dagingnya. Yoongi sadar, Jimin manusia, ia melepaskan pagutannya. Membiarkan gadis itu bernafas.
"Jadi mulai sekarang tidak ada sunbae lagi di belakang namaku. Panggil aku Oppa, Yoongi Oppa." Ujar Yoongi sembari mendekatkan tubuh Jimin ke arahnya. Menahan untuk tidak tersenyum bodoh.
"Baiklah, Oppa. Yoongi Oppa." Yoongi ingin berteriak layaknya seorang penggemar yang baru saja dicium idolanya.
"Kau terlalu lucu, Jim." Kemudian Yoongi menarik pinggang Jimin dan mengangkat gadis itu, untuk duduk di pangkuannya. Ciuman mereka semakin dalam, Yoongi memberanikan diri untuk bermain lidah dengan Jimin. Dengan senang hati Jimin membuka mulutnya dan mengikuti permainan Yoongi. Yoongi melepas pagutannya, gadis dipangkuannya ini terengah-engah, dadanya naik turun. Membuat Yoongi berpikir….. ah sudahlah. Tanpa disangka Yoongi, Jimin mendekat ke Yoongi dan mengecupi pipi dan rahang pria tersebut. Yoongi terkekeh pelan. Akhirnya.
"ASTAGA!" pintu terbuka lebar, suara menggelegar dari arah pintu. Yoongi hanya sedikit kaget, tidak takut. Jimin awalnya memucat langsung menjadi biasa saja.
"Hey, tidak usah berlebihan. Biasa saja." Yoongi berujar dengan tenang. Sosok yang dikatai hanya diam memutar bola matanya.
Kim Seokjin.
Iya, ia adalah Kim Seokjin.
Tapi, siapa sebenarnya Kim Seokjin?
-END-
.
A.N
Halo semuanya!
Hehe authornya ada mood bikin sequelnya jadi bikin sequel aja gitu latar belakang hidup Min Yoongi/? Ngga hidup juga sih wkw asal-usul dan perjalanan cinta Yoongi yang belibet kegedean gengsi wkw
Btw panggil aja aku Alli gausah pake kak, gausah pake dek, eonni, atau embel-embel lainnya. Alli aja gitu. Tapi bukan alibaba /apasihal/ oke aku banyak menyebutkan Kim Seokjin tapi aku sendiri gaada pandangan sebenarnya Seokjin itu siapa. Sumpahan wkw lucu aja gitu kaya di spongebob kan ada Demi Neptunus gitu /okestop/
Terimakasih untuk yang sudah baca, review, dan like! It really motivates me to work more! Thanks a lot my baby bunnies! Jangan lupa untuk review juga di story yang ini!
Ditunggu karya selanjutnya dari aku!
Warm regards,
jiminized
