VOCALOID © Yamaha
Original Characters from Kore Kara Mo Zutto © purimuroozu (on fictionpress) carmellilove (on Wattpad)
.
.
.
— afterdark —
.
.
.
CHAPTER 2
.
.
.
Ruang kelas di SMA yang ia datangi belakangan ini belumlah terlalu ramai. Hanya ada segelintir siswa yang telah hadir, termasuk Kizuna. Sembari duduk di bangkunya dan menerawang ke luar jendela, gadis itu berpangku tangan. Bernala-nala mengenai kejadian tadi malam yang cukup menyita seluruh benaknya hingga pagi tiba.
Kizuna terlalu sadar untuk menganggap itu sebagai mimpi. Bahkan Yohio pun berada di -sana, mendebatnya kalau ia hanyalah tidur berjalan tak peduli bagaimana Kizuna membantah asumsi -sang ayah tiri. Yohio bahkan membuatkan susu hangat dan mengantarnya kembali ke kamar, memintanya untuk beristirahat.
Gadis bersurai merah itu menggigit bagian dalam bibirnya. Seumur hidupnya ia belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Kizuna tak tahu apakah mendiang kakek neneknya yang entah siapa memiliki kemampuan supernatural atau tidak karena Mami memang tidak pernah bercerita.
Yang jelas, sosok yang ia lihat sudah pasti bukanlah figur seseorang yang masih hidup. Orang hidup tidak menghilang secepat itu.
"Ohayou, Kagamine-san!"
Perlu waktu baginya untuk menyadari pemilik suara itu memanggil marganya. Jujur Kizuna belum terbiasa dipanggil Kagamine, jadi saat ia menoleh air mukanya tampak seperti orang bingung. Benaknya terpencar ke segala sisi.
"O-ohayou, Yuzuki-san, Akasaka-san," dia melihat dua gadis itu berjalan mendekatinya dengan senyuman.
"Ada apa? Kau kelihatan kurang tidur," selidik Yuzuki Yukari. Gadis berambut ungu itu duduk di bangku yang berhadapan dengan Kizuna, sedangkan Akasaka Aria yang biasa dipanggil IA hanya berdiri dengan tatapan penuh tanya.
"Yah, aku kurang bisa tidur semalam," jawab Kizuna. Jika mau, ia bisa saja menanyakan soal Rin pada mereka. Rin juga bersekolah di sini, jadi setidaknya mereka pasti tahu sesuatu.
Namun, Kizuna takut kalau-kalau semua orang di sini tidak mengetahui apapun dan ia justru akan melibatkan mereka, lebih buruk lagi jika ia sampai membuka aib keluarga.
Sraaaak…!
Pintu geser kelas kembali dibuka. Sesosok anak laki-laki dengan rambut merah dan mata hitam legam memasuki ruangan, menutup kembali pintu tersebut kemudian melemparkan tasnya ke bangku. Kizuna mengerjap. Dia sudah pernah melihat pemuda itu sebelumnya. Tentu saja, mereka sekelas. Hanya saja pemuda itu adalah satu-satunya yang tak pernah mengajaknya berkenalan.
Awalnya Kizuna sendiri ingin bicara lebih dulu kepada pemuda itu, namun beberapa kali Kizuna menangkap basah pemuda bersurai agak ikal tersebut tengah mengawasinya dengan tatapan yang tidak menyenangkan hingga ia pun memilih untuk mengurungkan niat tadi.
"Satoshi Fukase, dia kelihatan selalu muram, ya?" bisik Yukari.
"Semenjak Kagamine Rin-san meninggal, dia berubah," timpal IA.
"Tidak, tidak. Sebenarnya sebelum itu terjadi juga dia sudah beru—ehh, sepertinya kita bicara terlalu banyak!"
Kizuna memandang mereka tidak mengerti,
"Memangnya kenapa? Apa hubungan Satoshi-san dengan Rin?"
Yukari tampak panik,
"Pssst! Jangan terlalu keras!" gadis berambut ungu itu mencuri pandang ke arah Fukase yang masih menenggelamkan wajahnya di antara lipatan lengan. Ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Kizuna, akan tetapi IA justru mendahuluinya,
"Dia itu pacar Kagamine Rin-san."
"… pacar?" Kizuna terhenyak. Kalau informasi ini benar Fukase pasti tahu banyak mengenai Rin, mungkin dia akan memberitahunya hal yang tak bisa Len katakan. "Yuzuki-san, Akasaka-san, apa kalian tahu kenapa Rin meninggal?"
"Bunuh diri, kan? Seram, aku tidak pernah membayangkan akan ada teman satu sekolah yang melakukan hal semacam itu."
"Kalian tahu alasan dia bunuh diri?"
Yukari menggeleng, gadis itu kelihatannya agak ketakutan membahas topik ini.
"Keluarga mereka merahasiakannya. Tapi kudengar beberapa hari sebelum Kagamine Rin-san ditemukan bunuh diri, ibunya juga meninggal. Mungkin dia terlalu bersedih akan kematian ibunya?" ungkap IA berasumsi. Kizuna termangu. Itu masuk akal. Dia belum pernah bertanya pada Yohio tentang istrinya sebelum Mami karena was was itu akan mengingatkan Yohio pada kenangan buruk tentang kematian istrinya yang tak pernah mereka bicarakan. Mungkin Rin punya hubungan yang sangat dekat dengan ibunya itu.
"Tapi bisa juga ada alasan lain, kan?" Yukari menambahi kasak-kusuk mereka, tubuhnya bergidik, "Kagamine Rin-san itu sering di-bully sebelum dia pacaran dengan Satoshi. Aku sudah pernah melihat gadis-gadis tukang bully itu menyiramnya dengan air toilet."
"Bagaimana dengan Len?" Kizuna menginterupsi, "Mengetahui saudaranya diperlakukan seperti itu, apa yang Len lakukan?"
"Dia pernah mencoba menolongnya, tapi berakhir perkelahian dengan pacar dari salah satu gadis-gadis mengerikan itu sampai terluka parah."
"Dan setelah Rin-san meninggal, dia tidak pernah datang ke sekolah lagi," imbuh IA.
Bel pulang sekolah berbunyi dalam jangka waktu yang terasa begitu lama. Kizuna bergegas memasukkan semua buku dan alat tulisnya ke dalam tas, mengawasi pergerakan Satoshi Fukase yang telah ia putuskan untuk diajak bicara hari ini.
Obrolannya bersama Yukari dan IA sudah cukup untuk memberikan Kizuna suatu gambaran. Rin dan Len memiliki kehidupan remaja yang kurang menyenangkan. Dan jika ia tak bisa mengorek informasi langsung dari rumahnya sendiri, Kizuna siap untuk mencarinya dari orang-orang luar.
Sebelum Fukase berjalan terlalu jauh, Kizuna melangkah cepat untuk menyusul pemuda tersebut. Koridor sekolah tampak ramai oleh murid yang berlalu lalang. Tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya, Kizuna memanggil-manggil marga pemuda tersebut.
"Satoshi-san! Satoshi-san, tunggu!"
Ia bersyukur suaranya mencapai pemuda itu di tengah keriuhan para murid. Fukase berhenti dan menoleh ke arahnya, kemudian mengarah sepenuhnya pada Kizuna yang sedikit terengah,
"Maaf, tiba-tiba menghentikanmu. Tapi aku punya keperluan penting denganmu."
"Kagami—"
"Mutou de ii yo," potong Kizuna tanpa bermaksud tidak sopan, "Itu margaku dulu. Kalau nama itu membuatmu kurang nyaman, panggil saja aku Mutou," gadis itu tersenyum getir. Fukase terkesiap, tangan kanannya mengusap kasar rambutnya yang berantakan. Ia menghela napas, menatap gadis di depannya dengan serius,
"Apa keperluanmu?"
"Bagaimana kalau kita cari tempat duduk? Di sini tidak terlalu nyaman."
Fukase mengangkat bahu, "Terserah kau sajalah."
.
.
.
Di kafeteria sekolah, Kizuna dan Fukase duduk di salah satu bangku yang kosong. Tidak banyak makanan yang mereka jual menjelang jam-jam di mana aktivitas klub mulai berlangsung, pun suasana tampak lengang hingga keduanya berpikir petugas di sana takkan keberatan jika mereka menumpang duduk tanpa memesan apapun.
Awalnya terasa amat canggung. Baru kali ini dia berbicara dengan Fukase. Berhadapan langsung dengannya seperti ini membuat Kizuna teringat pada kakak kembarnya, mungkin akibat rambut merah Fukase yang berantakan itu, hanya saja miliknya terlihat lebih ikal.
"Aku tak punya keterlibatan apapun dengan kasus bunuh diri Rin," jawab Fukase parau saat Kizuna mempertanyakan statusnya yang sempat berhubungan dengan saudari tirinya itu, "jujur saja, aku sendiri sangat terkejut."
"Apa kau tahu seperti apa hubungan Rin dengan ibunya? Katanya dia bunuh diri beberapa hari setelah ibunya meninggal, apa ini ada hubungannya?"
"Yah, bisa jadi. Mungkin Rin merasa bersalah."
Kizuna mengernyit, "Merasa bersalah? Kenapa?"
Fukase membalas ekspresi bingung gadis itu dengan air muka yang sama tak mengertinya,
"Kau tidak tahu? Rin adalah pelakunya. Dia membunuh ibunya."
Untuk sesaat, Kizuna kehilangan suaranya. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak terkejur. Rin… membunuh ibunya? Benaknya mengulangi pernyataan itu, masih tidak percaya dengan yang barusan ia dengar.
"H-hey, kau baik saja? Kukira keluarga barumu sudah memberitahu soal hal ini…" terang Fukase was-was. Aneh, bagaimana bisa gadis ini tidak diberitahu? Pikirnya keheranan.
"M-maaf, aku hanya sedikit kaget," Kizuna mengumpulkan seluruh nyalinya untuk kembali berbicara.
"Akan kuambilkan minuman. Tunggu sebentar," Fukase bangkit dan memasukkan beberapa koin ke dalam vending machine yang terletak tak jauh dari mereka. Dibelinya dua kaleng kopi susu dingin dan meletakannya ke atas meja, tepat di depan Kizuna, "Kopi susu. Tidak keberatan, kan?"
Kizuna menggeleng, "Tidak masalah. Terima kasih."
"Hm."
"Apa yang terjadi sebelum Rin bunuh diri? Yuzuki-san bilang saat pacaran denganmu, Rin tidak di-bully lagi seperti sebelumnya," tanya Kizuna lagi.
Fukase membuka kaleng minuman di genggamannya, menimbulkan bunyi klak pelan.
"Dia gadis yang baik. Awalnya aku memintanya untuk jadi pacarku karena kasihan. Kau tahu, awalnya aku juga bagian dari mereka, anak laki-laki yang satu komplotan dengan gadis-gadis pem-bully itu."
Kizuna terdiam, mengisyaratkan Fukase untuk meneruskan ceritanya.
"Semenjak kami berhubungan, mereka tidak lagi sekasar dulu. Aku lega melihatnya bebas. Kupikir semuanya akan berjalan lancar selama aku ada di sisinya. Lalu, sedikit demi sedikit aku mulai merasakan perubahan itu."
"Perubahan?"
Fukase mengangguk, ujung-ujung jari tangannya saling melekat satu sama lain,
"Rasanya seperti… itu bukan dirinya. Sering melamun, menangis tanpa alasan ataupun hal-hal aneh lain…"
"Hal aneh seperti apa?" selidik Kizuna.
Fukase menunduk, seolah menahan diri untuk mengatakan lebih jauh. Tentu saja Kizuna memahami keraguannya. Mereka tengah membicarakan tentang pacarnya. Pacarnya yang bunuh diri setelah membunuh sang ibu. Seberapa berat beban mental yang mesti ditanggung?
Yohio dan Len pasti memikul beban yang lebih berat lagi.
"Satoshi-san, kumohon…" Kizuna menyorot pemuda itu lamat-lamat, "Aku bertemu dengan Rin semalam."
Mata kelam Fukase sedikit membelalak, "Kau apa?"
"Aku bersumpah aku melihatnya. Aku ingin menolongnya, tapi aku tidak tahu apapun tentang dia. Tak ada yang mempercayaiku. Karena itu, kumohon…"
Permintaan Kizuna terdengar begitu putus asa. Tindak-tanduk Fukase menunjukkan betapa ia ingin menghentikan pembicaraan mereka ini. Dia tidak ingin mengulang kembali ingatan-ingatan mengerikan sekaligus menyakitkan itu.
Namun, Fukase juga tidak berprasangka kalau Kizuna berbohong. Bertemu dengan Rin? Kalau saja kabar tentang Len yang juga mulai bersikap aneh tidak sampai ke telinganya, Fukase tanpa ragu akan mengecap Kizuna sebagai gadis iseng yang hendak mempermainkannya.
Lalu, pemuda itu pun memantapkan hatinya. Kizuna berhak tahu. Bagaimanapun gadis itu sekarang adalah saudara Rin.
"Kelinci yang dipelihara di halaman belakang sekolah, aku melihatnya sendiri saat kami awalnya sedang mengobrol, dia tiba-tiba memasuki kandang mereka dan menggigitnya hidup-hidup," Kizuna bahkan tak ingin membayangkan adegan barbar tersebut, "dan saat dia memaksaku untuk tidur bersamanya. Aku tahu itu bukan dirinya! Itu bukan Rin!"
"Satoshi-san…"
"Seisi sekolah menganggap Rin gila, tapi aku tetap bersamanya. Aku menginap di rumahnya saat dia sakit, malam terakhir di mana aku melihatnya masih hidup."
"Apa Rin mengatakan sesuatu padamu?" tanyanya hati-hati.
Fukase menatap Kizuna lamat-lamat, sedikit lama mengambil jeda sebelum akhirnya menjawab,
"Dia bilang—
"Aku takut. Mereka mengendalikanku. Tolong aku, Satoshi-kun!"
Hening.
"… tak ada yang bisa kulakukan untuk menyelamatkannya."
Entah apa lagi yang harus Kizuna tanyakan.
"Kau pasti sangat mencintai Rin."
"Aku… entahlah, awalnya aku hanya kasihan padanya,'' gumam Fukase, "tapi kupikir aku mulai menyayanginya."
Kizuna tersenyum lemah, menyayangkan perasaan yang baru saja tumbuh mesti hancur berkeping-keping seketika.
"Rin pasti senang dicintai olehmu, Satoshi-san. Aku yakin itu."
Mereka berpisah di gerbang sekolah, masing-masing mengambil rute jalan yang berbeda menggunakan sepeda. Sepanjang perjalanan Kizuna tak berhenti memikirkan tentang Rin. Ada hal aneh yang terjadi pada gadis itu, dan sekarang ia bertanya-tanya apakah Rin akan menampakkan dirinya lagi. Kizuna berkonsentrasi pada jalanan sepi di hadapannya, melewati rentetan pepohonan yang menghiasi sisi jalan menuju rumah keluarga Kagamine.
.
.
.
Pukul setengah delapan malam. Seisi rumah baru saja selesai makan. Mami dan Yohio tampak bersantai di ruang keluarga, Len seperti biasa kembali mengunci diri di kamarnya, Kizuna mempersiapkan pelajaran untuk besok sementara Kiseki baru saja mengabarinya kalau ia akan pulang telat hari ini.
Kizuna sedikit khawatir pada kakaknya itu. Untunglah Yohio memerintahkan salah satu supir untuk selalu mengantar jemput Kiseki di stasiun. Ditambah lagi, ia ingin segera menceritakan informasi mengenai Rin yang didapatnya hari ini. Jika ia cukup mendesak pemuda itu, mungkin Kiseki akan berubah pikiran dan memutuskan untuk membantu.
Kizuna selesai dengan pelajarannya sekitar pukul sepuluh kurang. Sebenarnya gadis itu masih ragu saat ia keluar dari kamar, berniat untuk mengunjungi Len. Tapi pada akhirnya ia pun melangkah, berhenti di hadapan pintu kamar Len selama beberapa detik. Merasa ragu apakah dirinya akan mengetuk material kayu bercat putih tersebut.
"Masuklah, Kizuna-san," suara Len tiba-tiba mengejutkannya. Kizuna terkesiap, dia bahkan belum bergerak sedikitpun dari sana. Dengan hati-hati, ia meraih kenop pintu dan membukanya. Ruangan di luar jauh lebih terang dibandingkan isi kamar Len yang hanya disinari cahaya dari jendela.
"Len, aku harus bicara padamu," katanya mencoba selembut mungkin.
"Aku tahu. Kau sudah tahu kan alasan Rin bunuh diri?" Kizuna menahan napas, melihat pemuda itu duduk di ranjangnya tanpa tergelung oleh selimut. Cahaya dari jendelanya menciptakan gelenyar biru di belakang adik tirinya, "Masuklah. Rin punya permintaan untukmu."
"Permintaan?"
Len mengangguk, "Ya, bukankah kau bilang kau ingin membantu?"
Entah apa yang sebenarnya Len rencanakan. Dengan memberanikan diri, Kizuna memasuki kamar Len dan mencari saklar lampu, berharap bisa melihat wajah Len lebih jelas.
"Tidak, biarkan seperti ini saja. Rin benci cahaya. Dan tutup pintunya."
"Kalau Rin memang di sini, kenapa dia tidak menampakkan diri?"
"Mungkin hanya sebentar, tapi membuat dirinya terlihat oleh orang tanpa kemampuan khusus butuh energi yang besar, seperti tadi malam."
Kizuna menutup pintu di belakangnya, "Jadi kau tahu soal tadi malam."
"Sekalipun Rin tidak memberitahuku, siapa lagi yang bisa memainkan piano itu?" Len meregangkan kakinya, menyaksikan bagaimana pendar kebiruan menghiasi tiap inci kulitnya yang putih pucat, "Otou-san terlalu keras kepala. Dia hanya mencoba menyingkirkan kenyataan kalau putrinya masih ada di sini."
Kizuna duduk di bangku meja belajar milik Len, "Aku sudah dengar semuanya dari Satoshi-san, tapi dia sendiri kelihatannya tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Rin."
"Yah, Satoshi-san juga orang yang baik. Dia menjaga Rin, tapi itu belum cukup untuk melindunginya," ungkap Len serak, "sama sepertiku…" bisiknya pelan, nyaris tak terdengar oleh Kizuna.
"Len, aku benar-benar turut berduka atas apa yang terjadi pada Rin dan ibumu," ujar Kizuna, Len tidak merespon. "Kenapa Rin membunuhnya? Apa dia ibu yang jahat?"
Len melemparkan tatapan penuh sangsi, tidak suka atas pertanyaan yang Kizuna lontarkan.
"Tak seorangpun di keluargaku adalah orang jahat. Rin hanya dikendalikan, bukan dia pelakunya."
"Tapi siapa yang mengendalikannya? Dan kenapa?" tanya Kizuna, merasa semua ini tidak masuk akal.
"Jiwa-jiwa yang tersesat selalu haus akan darah, Kizuna-san. Rumah ini sudah berdiri sejak lama, diwariskan turun temurun oleh keluarga ayahku. Banyak jiwa yang datang dan pergi, beberapa bahkan memutuskan untuk tetap tinggal," urai Len, suaranya seakan menyatu dengan suhu dingin yang menyelimuti mereka, "Mungkin kelihatannya hanya ada kita di sini, tapi Rin bilang, semuanya memperhatikan kita dari segala sisi."
Senyuman kaku terbentuk di sudut-sudut bibir Kizuna, diikuti oleh keringat dingin yang menetes di pelipisnya,
"Jangan katakana itu pada Kiseki, ya? Dia akan ketakutan," ungkapnya mencoba mencairkan suasana.
"Rin mencoba mengatakan sesuatu padamu tadi malam, kan?" tanya Len menginterogasi. Posisi mereka yang agak berjarak menimbulkan perasaan waspada di hati Kizuna.
"Dia mengatakan sesuatu tentang menjadi satu atau semacamnya…" Kizuna mengingat-ingat, "apa maksudnya itu?"
"Kenapa kau duduk di situ? Kau takut pada kami?"
Gadis itu mengepalkan tangannya. Ada setitik kekhawatiran di mana Kizuna takut ia akan berakhir seperti ibu si kembar Kagamine. Siapa yang tahu apa yang ada di balik baju atau selimut itu? Len mungkin tidak kelihatan gesit, tapi tetap saja dia adalah laki-laki yang tenaganya bisa jadi lebih kuat.
Dan Kizuna pun tetap bergeming, membiarkan Len yang masih diam dengan mata birunya yang menatap penuh tanya. Kelopak matanya pun berubah sendu, bersamaan dengan tangan Len yang menyusup ke balik selimut di belakangnya.
"Apa boleh buat. Aku tidak bisa menyalahkanmu kalau kau ketakutan. Reaksi semua orang akan sama," Kizuna berjengit saat tangan Len mengeluarkan sebilah pisau dari sana. "Tapi, untuk kali ini saja tolong dengarkan permintaan Rin, Kizuna-san."
.
.
.
Kiseki bersandar ke bangku kereta komuter yang akan membawanya ke stasiun kota tempat pemuda itu tinggal. Guru pembimbing klub renang yang ia ikuti baru saja memberikan latihan ekstra sampai seluruh persendiannya terasa hendak putus. Ia menghela napas, bersyukur kereta malam itu cukup sepi. Hanya ada dirinya dan beberapa orang yang duduk di gerbong tersebut. Ia mulai menguap, namun tetap berusaha terjaga karena stasiun tempatnya singgah akan tiba dengan jarak dua stasiun lagi.
"Boleh aku duduk di sebelahmu?" tiba-tiba suara seorang gadis mengusik ketenangannya. Hal pertama yang Kiseki lihat adalah rok abu-abu gelap, rambut pirang panjang yang mencapai pinggang dan seragam sekolah yang terlihat asing. Kiseki memindai wajahnya, merasa belum pernah melihat gadis ini namun menyadari kalau dia memiliki kemiripan dengan adik tirinya di rumah, hanya saja terlihat sedikit lebih dewasa.
Tubuh ramping. Rambut pirang. Mata biru turkish.
Siapa gadis ini?
"Tentu saja. Tapi maaf, kau ini siapa?" Kiseki bertanya balik. Masih banyak kursi kosong yang bisa diduduki, kenapa dia memilih untuk duduk bersamanya?
"Oh, maafkan ketidaksopananku. Namaku Akane Rin," ia mengulurkan tangannya, yang mana tidak disambut oleh Kiseki. Dia cantik, sangat cantik malah. Namun kesannya sudah terlanjur buruk di mata pemuda itu. Seorang gadis sendirian malam-malam dan dengan entengnya mengajak bicara laki-laki asing. Tipe yang patut dicurigai.
"Aneh sekali. Saudaraku di rumah sering menyebut-nyebut nama Rin," selorohnya asal.
"Benarkah? Itu lucu!"
"Ya, tapi aku yakin itu cuma khayalannya."
Akane Rin terdiam. Dia duduk di sisi Kiseki, sedikit mengambil jarak aman,
"Aku turut sedih atas keadaan saudaramu."
"Tidak masalah, lagipula dia cuma saudara tiri."
Kiseki mendiamkannya saat gadis itu tak bicara apapun lagi. Terserahlah, saat ini dia sedang lelah dan hanya ingin cepat sampai di rumah, kemudian makan dan tidur. Bagaimanapun besok ia harus kembali bangun pagi-pagi. Sial, ini melelahkan juga, keluhnya dalam hati. Tapi memikirkan betapa menyenangkannya waktu yang ia habiskan bersama teman-teman di SMA Ueno, Kiseki menepis keluh kesahnya itu.
"Mungkin memang kurang sopan aku berbicara padamu seperti ini, tapi… kau mirip dengan pacarku dulu."
Diliriknya gadis di sampingnya bosan. Wajahnya terlihat dipenuhi nostalgia sekaligus kesedihan.
"Maaf, tapi aku tidak berminat untuk menjadi pengganti pacarmu," tukas Kiseki.
"Apa kau keberatan kalau aku ingin kita berteman?"
"Tidak juga, tapi kurasa pengaruhnya akan buruk."
"Begitu, ya… tapi aku senang bisa bicara denganmu," gadis itu berdiri, menyebabkan surai-surai rambutnya bergoyang lembut, "Aku harus pergi. Kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat, aku janji."
Kiseki menyipitkan matanya. Apa itu berarti gadis ini akan naik kereta di jam yang sama setiap harinya untuk bisa bertemu dengannya? Ah, semoga saja tidak.
"Jaa ne, Kiseki-kun!"
"Aa," sahut Kiseki acuh. Ia kembali bersandar rileks, memejamkan matanya barang sesaat. Namun, pemuda itu langsung terkesiap dalam sekejap.
Apa gadis itu baru saja menyebut namanya? Bagaimana bisa?
Kiseki mencari gadis itu ke gerbong-gerbong sebelah, namun tak menemukan seorangpun dengan rambut pirang. Cepat sekali, batinnya resah. Kegelisahan timbul sekepergian gadis bernama Akane Rin itu. Berusaha berpikir positif, Kiseki kembali duduk dan mendengar suara operator bahwa stasiun tempatnya turun akan segera tiba.
Supir yang ditugaskan untuk menjemputnya ternyata sudah menunggu semenjak kurang lebih sepuluh menit lalu. Mereka lalu melaju ke rumah, melewati jalanan remang di mana mobil mereka adalah satu-satunya mesin yang berjalan. Pertemuan tadi masih menyisakan tanda tanya, menyebabkan Kiseki lebih banyak diam dan tidak mengobrol seperti biasanya.
"Ada apa, bocchan? Anda sepertinya punya masalah…" ujar supir di sampingnya saat sebentar lagi mereka akan sampai.
"Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Kiseki tak berkeinginan. Ponselnya berbunyi, nada dering untuk surel yang masuk. Ia meraih benda itu, melihat sebuah e-mail tanpa subjek dari alamat yang tidak ia kenali.
Ini aku, Rin! Cepatlah pulang, kita akan bertemu sebentar lagi ^^
"Apa kau mengenal seseorang bernama Akane Rin?" tanya Kiseki cepat, supirnya menggeleng,
"Tidak, bocchan. Satu-satunya Rin yang kukenal hanyalah putri Yohio-sama."
"Sou…" gumam Kiseki. Abaikan saja, Kiseki. Abaikan. Dia pasti cuma gadis gila, batinnya menenangkan diri. Saat mobil mereka memasuki gerbang, ponselnya lagi-lagi berbunyi. E-mail lain dari alamat yang sama dengan Akane Rin barusan. Ia membukanya, tak ada teks, yang ada hanyalah sebuah tautan file berformat wav. Kiseki menelan saliva, me-load file tersebut yang hanya memerlukan waktu beberapa detik…
"KISEKI, TOLONG! TIDAAK! TOLONG AKU, KISEKIII!"
"KIZUNA!"
"Ah! Kiseki-bocchan!"
Jeritan demi jeritan yang sempat memenuhi mobil mereka menyebabkan pemuda itu langsung menerobos keluar saat roda masih berjalan. Kakinya berpacu di atas paving block, melintang-pukang ke arah pintu ganda jalan masuk utama rumah mereka. Benda itu menjeblak terbuka, lampu-lampu kristal menyinari seluruh ruangan,
"KIZUNA!"
"Kiseki, ada apa?" Mami muncul dengan ekspresi bingung dari ruang keluarga. Suara pintu yang terbuka cukup keras mengejutkannya. Kiseki menghampiri ibunya itu dengan langkah menggebu,
"Kizuna! Di mana Kizuna?!"
"E-entahlah, mungkin dia di kamarnya?" sang ibu tampak terkencar-kencar oleh perilaku beringas putranya itu. Tanpa mempedulikan keributan yang sudah ia timbulkan, Kiseki menyusuri tangga, mengabaikan panggilan Yohio dan masuk ke kamar adik kembarnya.
Tidak ada siapapun. Di mana dia?!
Matanya menyipit ke arah pintu lain yang juga ada di lantai dua. Kamar Len. Rahangnya bergemeretak. Ia langsung menyambangi pintu itu dengan emosi menggelegak, semakin meluap saat diketahuinya kamar Len dalam keadaan terkunci.
"LEN! BUKA PINTUNYA!"
"Kiseki, apa yang terjadi?" Yohio menyusul dari bawah, diikuti oleh Mami yang mulai marah akan kericuhan yang dibuat putranya. Beberapa pembantu mendengar suara-suara itu dan mulai berkumpul di lantai bawah."LEN! CEPAT BU—"
Cklak!
Pintu itu terbuka bersamaan dengan Kizuna yang menghambur keluar, gadis itu berlari melewati Kiseki ke arah tangga. Melihat adiknya masih bisa berdiri membuat Kiseki sedikit lebih lega namun ia tetap mengejar gadis itu yang seolah tak bisa mendengar suaranya,
"Hey, Kizuna! Hey!" dia menangkap lengan sang adik, tidak mau melepaskannya meski Kizuna memberontak, "Aku mendengarmu berteriak! Apa yang dia lakukan padamu? Apa kau terluka?!"
"Aku… aku baik-baik saja!" jawab Kizuna setengah berteriak, menolak untuk menghadap pada kembarannya tersebut. Kiseki mematainya dari ujung rambut hingga ujung kaki, hingga ia menemukan bercak-bercak merah di ujung piyama yang Kizuna kenakan.
"Apa itu?" tanyanya.
"Lepas!"
"Lihat aku, Kizuna!" dipaksanya gadis itu untuk berbalik. Sekaan darah terlihat jelas di dagu, bibir dan lengan bajunya. Tak terlihat seperti ada luka gores ataupun tusuk, seolah-olah darah itu bukan berasal dari tubuh Kizuna, melainkan orang lain.
Kiseki mengerjap, "Hey, apa yang kau lakukan…?"
"Mami! Ambilkan kotak P3K, Len terluka!"
Apa?! Kiseki melihat ke atas, tidak mampu mencerna apa yang terjadi. Akane Rin, file wav yang ia kirimkan, teriakan Kizuna.
Apa yang sebenarnya terjadi?!
Tak ayal Kizuna pun luput dari genggamannya. Apa dia baru saja melukai Len? Itu mustahil, kan? Kizuna bahkan tidak bisa melukai binatang, lebih-lebih manusia. Lalu kenapa Kizuna meminta tolong di rekaman itu?
"Ojou-san!" pekikan beberapa pembantu menarik kembali atensinya. Kizuna tergelincir dari tangga, hingga berakhir tergelintang di atas lantai marmer yang beku.
Bersambung…
Jangan lupa kritik dan sarannya yaa ^^/)
