"Gomen ne, Len-chan…"
Menderita dan putus asa. Len tak pernah ingin mendengar suara semacam itu keluar dari pita suara saudarinya.
"Aku sudah tidak kuat lagi."
Bumi yang dipijaknya terasa mulai retak.
"Rin, kau tahu kau bisa melakukannya. Sekarang buka pintunya!"
"Kau bisa terluka."
Gadis itulah yang justru terluka. Dan Len tak bisa melakukan apa-apa.
"Tidak! Bukan kau yang melakukannya! Aku selalu percaya padamu!"
"Maaf, Len-chan. Maaf…"
.
.
.
"Daripada hidup dengan menyakiti orang lain, lebih baik aku…"
"RIN!"
.
.
.
Saat kegelapan mulai menguasaimu dan kau tak tahu lagi mana perasaanmu yang sesungguhnya…
afterdark
VOCALOID © Yamaha
Original Characters from Kore Kara Mo Zutto © purimuroozu
Siapa yang bisa disalahkan atas tragedi malam itu?
Kiseki tercenung di sisi ranjang adiknya. Sudah satu minggu semenjak Kizuna terjatuh dari tangga, dan gadis itu masih tak sadarkan diri. Mereka sudah membawanya ke rumah sakit hanya untuk mengetahui bahwa tak ada satu dokterpun yang mampu mendiagnosa apa yang terjadi pada gadis itu. Hasil pemeriksaan mengatakan seluruhnya normal hingga Yohio dan Mami memutuskan untuk membawanya pulang. Jika ada yang terluka, Kiseki tahu Len-lah orangnya. Adik tirinya itu mengalami luka sayat yang cukup dalam di bagian telapak tangan kiri.
Apapun yang terjadi malam itu, Kiseki tidak percaya Kizuna-lah yang melakukannya. Kekhawatiran terpancar jelas di wajah Yohio saat ia menginterogasi sang putra, namun Len menolak bicara. Semua orang berpikir Len ingin melindungi Kizuna, tapi Kiseki rasa asumsi itu tidaklah benar. Ada sesuatu yang lain yang berusaha Len sembunyikan.
"… Kiseki?" suara pelan itu membuyarkan pemikiran pemuda tersebut. Awalnya ia sedikit terkejut, namun sebisa mungkin mencoba terlihat tenang.
"Hey, kau sudah bangun? Apa yang kau rasa? Ada yang mau kuambilkan?"
Mata sayu Kizuna mengerjap perlahan, seakan mencoba mencerna semua kata-katanya yang terlampau cepat.
"Ini kamarku…?" tanyanya. Kiseki mengangguk,
"Ya, ini kamarmu. Aku akan panggilkan Mami sekarang," Kiseki bangkit dan melesat keluar. Ditemukannya wanita berusia tiga puluhan itu sedang menyiram tanaman bunga di kebun belakang rumah, dan saat Kiseki mengatakan kalau Kizuna sudah bangun, Mami langsung meletakkan alat penyiramnya, menyuruh Kiseki untuk meminta pembantu membuatkan makanan dan segera menuju kamar putrinya.
"Kizuna!" dilihatnya Kizuna masih memejamkan mata, namun langsung merespon dengan menoleh ke arahnya.
"Okaa-san…"
"Yokatta…" lirih Mami, nyaris tidak terdengar. Ia berjalan ke arah anak keduanya tersebut, "Semua orang mengkhawatirkanmu. Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan?" tanyanya, menarik bangku lebih dekat ke sisi Kizuna.
Dilihatnya ekspresi ragu memancar di wajah Kizuna yang pucat. Perlu beberapa tarikan napas lambat sampai akhirnya gadis itu membuka suara,
"Maafkan aku, Okaa-san. Aku sudah melukai Len."
Mami diam seribu bahasa. Ia mengusap kasar poninya ke belakang.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Mami terdengar kecewa. Memang ia bukan sosok ibu yang penuh kasih sayang, namun Mami tahu betul Kizuna tidak tumbuh dengan kepribadian agresif. Gadis itu tidak pernah menyerang siapapun dalam bentuk sekecil apapun seumur hidupnya. Lalu kenapa?
"…" hening. Kizuna mengalihkan mata, mencoba menghindar. Penyesalan yang amat sangat ia rasakan saat Mami memilih untuk meninggalkannya sendiri. Air matanya menetes, terasa hangat di atas permukaan kulitnya yang dingin.
Kiseki menyaksikan sendiri ibunya berlalu tanpa menghiraukannya sedikitpun. Dia sudah bersembunyi di ambang pintu dan cukup menangkap pembicaraan barusan. Salah seorang pembantu datang dengan membawa nampan berisi bubur dan teh hangat. Kiseki memintanya untuk membiarkan dia yang membawa nampan itu, kemudian masuk lagi ke kamar Kizuna.
Ditaruhnya nampan kayu tersebut di atas bupet, tepat di sisi dipan ranjang Kizuna. Gadis itu tengah mengusap-usap matanya, tidak ingin meninggalkan jejak air mata meski tahu itu percuma.
"Itu bohong, kan?" sengau Kiseki, "Kau tidak mungkin melukai Len."
"Bagaimana bisa kau begitu yakin?"
"Karena aku tahu tentangmu lebih dari siapapun," tukas Kiseki, "Dan aku juga yakin seratus persen yang barusan itu bohong."
Selimut yang menyelimutinya hingga perbatasan diafragma teremas dalam genggaman Kizuna yang kaku. Ia menarik napas, kemudian mencoba duduk dan bersandar pada dipan kayu di belakangnya,
"Jadi, apa kau akan mengatakannya padaku sekarang?" tanya Kiseki lagi.
"Kiseki, tolong…" tatapan Kizuna kelihatan sedikit marah, "Aku masih belum ingin membicarakan soal ini."
"Oh, oke," sahut Kiseki, dia tak ingin terlalu keras. Bagaimanapun Kizuna baru saja sadarkan diri. "Tapi kau akan mengatakannya kan? Berjanjilah."
"Kalau semuanya berjalan lancar."
"Apa?" Kiseki mengernyit. Apanya yang berjalan lancar? Kizuna tidak menjawab, membuatnya mendecih, "Aku benci anak itu. Dia membuatmu tidak lagi percaya padaku."
"Sebisa mungkin aku tidak mau menyeretmu dalam masalahku," ungkap Kizuna jujur. Helaan napas Kiseki memberi pertanda kalau pemuda itu sudah menyerah,
"Seharusnya aku tidak perlu memberitahumu ini, tapi kalau kau tidak mampu menanganinya sendiri, mintalah bantuanku. Mengerti?"
Kizuna mengangguk paham. Apapun itu, yang pasti bukan hal sepele. Masalah macam apa yang membuat seseorang terluka, berlumuran darah dan jatuh dari tangga? Diam-diam Kiseki bertekad untuk selalu mengawasi Kizuna. Tidak akan lagi dibiarkannya Kizuna berduaan dengan Len.
"Sekarang kau harus makan. Mau kubantu?"
"Kalau kau tidak keberatan…"
.
.
.
Hari berikutnya Kizuna masih memutuskan untuk absen dari sekolah. Bukannya merasa baikan, justru gadis itu merasakan hal sebaliknya. Dia terus menerus gelisah saat tidur malam, sekujur tubuhnya terasa dingin, namun berkeringat. Ditambah lagi ia merasa ketakutan, tapi tidak tahu apa yang ditakutkannya. Dia meminta Kiseki untuk menemaninya hari ini, menyebabkan pemuda itu harus menitipkan izin tidak masuk pada teman sekelasnya.
Kizuna bertanya-tanya apakah ini ada hubungannya dengan kejadian malam itu…
Gadis itu menggelengkan kepalanya, mengabaikan Kiseki yang sebenarnya sejak tadi telah menyadari kegelisahan di wajah sang adik. Kiseki tahu Kizuna pasti akan diam, jadi yang ia lakukan dari awal hanyalah mengawasinya dari balik majalah yang ia baca.
"Apa kau baik-baik saja? Keringatmu luar biasa," komentarnya, mulai agak khawatir. Kizuna mengelap cucuran likuid bening yang terus mengaliri pelipisnya, turun ke leher dan membasahi kerah baju yang ia kenakan. AC di ruangan masih menyala di suhu sedang, cukup sejuk untuk membuat seseorang kelihatan seperti baru lari marathon.
"Entahlah, tadi malam pun seperti ini sampai aku tidak bisa tidur," respon Kizuna. Dia bersyukur Kiseki mau menemaninya, dengan kehadiran pemuda itu setidaknya rasa takut yang aneh ini tidak membuatnya merasa terancam.
Tok tok!
"Ojou-san, teman-temanmu datang menjenguk!"
"Masuk saja!" Kiseki menyahuti suara pembantu itu. Pintu kamar dibuka, diikuti oleh kedatangan tiga orang yang asing di mata Kiseki.
"Ojamashimasu!" ucap gadis berambut ungu, diikuti oleh temannya yang berambut pink dan satu-satunya pemuda di antara mereka yang berambut merah. Kiseki berdiri, membungkuk rendah pada tiga remaja berseragam tersebut dan berkenalan singkat. Dimintanya pembantu tadi mengambil bangku tambahan beserta cemilan dan minuman, namun tak semua terpakai karena Yukari lebih memilih duduk di sisi ranjang Kizuna.
"Sudah seminggu kau tidak masuk, orang-orang di kelas mulai khawatir!" celoteh Yukari sembari memeluk tasnya.
"Terima kasih sudah menyempatkan untuk menjengukku," kata Kizuna merasa tidak enak. Yukari memintanya agar tidak sungkan, disusul oleh IA yang mulai menanyakan apakah ia sudah memeriksakan lebih lanjut ke rumah sakit. Kiseki memperhatikan ketiga teman Kizuna itu. Mereka kelihatan baik. Hanya saja si cowok berambut merah di sana… dia kelihatan murung dan belum mengucapkan kalimat lain selain salam disertai perkenalan tadi.
"Satoshi-san, kenapa kau diam saja?" tanya Yukari heran, "Padahal kau sendiri yang bilang ingin ikut saat kami bilang mau ke mari."
Pemuda yang bernama Satoshi Fukase itu terlihat sangat mencemaskan Kizuna, Kiseki bisa merasakan lewat tatapannya saat ini.
"Aku lega kau baik-baik saja, Mutou-san."
"Yah, mungkin satu dua hari lagi dan aku bisa kembali ke sekolah."
"Jangan memaksakan diri, Kagamine-san. Sebaiknya tunggu sampai benar-benar pulih."
Tanpa suara Kiseki berniat meninggalkan ruangan itu. Dia ingin memberi sedikit waktu bagi Kizuna untuk berbicara dengan orang-orang luar. Meski jujur sebenarnya Kiseki ingin lebih lama mengamati tingkah laku si Fukase itu, gerak-geriknya kelihatan seperti orang yang tersesat mencari sesuatu. Mungkin dia seharusnya lebih sering menanyakan soal kehidupan sekolah Kizuna.
Tapi untuk sekarang, Kiseki rasa ketenanganlah yang paling adiknya butuhkan, jadi ia akan memberinya sedikit ruang dan waktu.
Ketika ia baru saja hendak mencapai pintu, didengarnya Kizuna berkata,
"Ano ne, Satoshi-san, aku tidak tahu kenapa tapi aku senang sekali kau datang."
Kiseki menoleh. Dilihatnya senyuman mengembang di wajah Kizuna. Raut gelisah dan ketakutan itu lenyap tak bersisa. Pemuda itu pun terhenyak.
"Ah, Kiseki! Kau mau ke mana?" tanya Kizuna saat menyadari kakaknya beranjak keluar.
"Keluar sebentar."
"Maaf kalau kami mengganggu," ucap IA. Kiseki tertegun sesaat melihat gadis berambut pink pucat tersebut, lalu tersenyum pada mereka semua,
"Tidak, tidak sama sekali. Justru aku berterimakasih, kalian sudah membuat Kizuna tersenyum," ungkapnya tulus, kemudian secara perlahan menutup pintu di belakangnya. Seiring langkahnya menjauh ia masih bisa mendengar suara tawa teman-teman Kizuna. Sepertinya aku akan butuh bantuan anak itu, pikir Kiseki.
Ketika ketiga muda-mudi itu pulang, Kiseki kembali mengecek keadaan sang adik. Kizuna terlihat jauh lebih baik, walau tentu saja hal itu tidak langsung meredakan keresahannya dalam sekejap. Ada banyak hal yang ia pikirkan, dan Kiseki merasa ia harus segera mengambil tindakan.
"Haruskah aku pindah ke sekolahmu?" tanyanya tiba-tiba. Kizuna mengerjap,
"A-apa? Kenapa?" tatap Kizuna tidak mengerti. Kakaknya sendiri yang bersikeras untuk menetap di SMA Ueno. Apa yang membuatnya tiba-tiba saja berubah pikiran?
"Jujur saja aku punya firasat buruk tentang ini," jawabnya memandang Kizuna lurus-lurus, "Sebisa mungkin aku ingin mengawasimu."
"Jangan konyol. Apa yang akan kau lakukan terhadap klub renang? Seluruh anggotamu akan menyalahkanku."
Kiseki tak langsung menjawab.
"Kau tahu mereka akan mengerti."
"Hentikan, Kiseki. Aku baik-baik saja! Lihat, kan?" Kizuna bangkit dari kasurnya, mencoba memperlihatkan kalau dia sudah mampu bangkit dan berkeliaran. "Aku bukan anak kecil lagi," imbuhnya meyakinkan.
"Kalau kau takut aku akan mencampuri urusanmu dengan si Satoshi itu, tenang saja, bukan itu tujuanku."
Pipi Kizuna sontak memerah malu,
"Apa?! Kenapa kau berpikir begitu?!" tanyanya tidak percaya akan ucapan Kiseki barusan.
Kiseki ber'puh' pelan seraya memalingkan wajah, "Habis kau tadi kelihatan senang sekali melihatnya."
"Itu…" Kizuna seolah kehilangan kata-katanya, "Itu… aku tidak tahu…"
Sang kakak menoleh ke arahnya,
"Aku benar-benar tidak mengerti. Saat melihatnya tiba-tiba saja aku merasa senang, entah mengapa… sampai-sampai aku ingin sekali mengatakannya," dia memeras ujung piyama yang dikenakan, "Aneh, ya? Sebenarnya apa yang terjadi padaku…?" lanjutnya seraya menebah dada.
"Jatuh cinta?" celetuk Kiseki. Kizuna tertawa kaku,
"Mustahil. Aku baru sekali mengobrol dengan Satoshi-san, dan waktu itu aku tidak merasakan apa-apa," kilah gadis berambut panjang itu. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sudah saatnya ia mengalihkan topik pembicaraan, "Ngomong-ngomong, kau juga tadi sempat terdiam saat melihat Akasaka-san. Apa kau menyukainya?"
Kiseki lagi-lagi tertegun. Oh, dia benci pertanyaan semacam ini. Ditambah kenyataan kalau pipinya sedikit menghangat.
"Y-yah… aku sempat berpikir dia sangat… cantik, atau semacamnya…" jawabnya pelan. Kizuna tersenyum simpul. Rasanya lucu sekali melihat Kiseki tersipu-sipu seperti itu.
"Aku akan memberitahunya nanti," cetusnya iseng.
"O-Oi!"
Pintu kamar kembali terbuka. Kali ini tanpa ketukan. Keduanya menoleh, menemukan Len berdiri di sana. Kiseki merasakan perubahan mood yang luar biasa saat melihat adik tirinya itu, bahkan sekalipun adalah hal yang wajar kalau Len merasa ingin mengecek keadaan Kizuna.
"Apa yang kau inginkan?" Kiseki menyembunyikan Kizuna di belakang punggungnya.
"Aku hanya ingin memastikan kondisi Kizuna-san dan…"
… dan? Kiseki menunggu kata-katanya dengan waspada. Ada keraguan di air muka Len saat ia ingin melanjutkannya. Mata birunya bertemu dengan sorot takut dari iris Kizuna. Pemuda pirang itu menunduk, mengepalkan tangannya.
Kizuna dengan perlahan sedikit maju. Di matanya semua orang berhak mendapatkan kesempatan.
"Len, aku baik-baik saja, kok. Kalau sesuatu terjadi aku akan langsung memberitahumu," ujarnya hati-hati, "Bagaimana dengan lukamu?" tanya Kizuna.
"Tidak apa-apa," Len tersenyum kaku, memperlihatkan luka sayat yang masih tampak membekas di telapak tangannya, "Sebenarnya kaulah yang lebih mengkhawatirkan Kizuna-san. Kukira kau tidak akan bangun lagi."
Gadis itu terpekur beberapa detik.
"Yang seperti itu tidak akan terjadi, kan, haha…"
"Ya ya, sudah cukup ngobrolnya. Kizuna, kau harus istirahat!" Kiseki mendorong adiknya kembali ke tempat tidur, memaksanya untuk berbaring kemudian berjalan mendekati Len dan meraih pergelangan tangannya, "dan kau, ikut denganku."
"Tunggu! Kiseki!"
Tindak-tanduk Kiseki sontak saja membuat Kizuna harus mengambil langkah seribu menyusul pemuda itu. Sebelum mereka terlalu jauh, dihalanginya jalan pemuda itu tepat sebelum mereka menuruni tangga,
"Menyingkirlah, Kizuna. Urusanku dengan bocah ini!" suara Kiseki mulai meninggi.
"Kau hanya akan menyakiti Len, Kiseki!"
"Aku hanya ingin mengobrol dengannya, bukan mau menghajarnya!"
Situasinya semakin buruk. Len merasa ia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan mereka berdua.
"Kizuna-san, mungkin sebaiknya kita beritahu saja…"
"Tidak! Sudah kubilang kan kita akan membicarakannya saat semua berjalan lancar!" gadis itu masih tak gentar menghalangi sang kakak. "Lepaskan Len sekarang!"
"Urusee na! Aku melakukan ini demi di—"
PLAK!
Khayalan atau bukan, tamparan barusan amat sangat menyakitkan. Begitu menyakitkan hingga ia berpikir tubuhnya tersungkur dan hidungnya mengeluarkan darah. Kiseki mengerang, mendengar suara Len menyerukan namanya.
… tunggu…
Pandangannya terasa berkunang. Ia berusaha mengangkat tangannya, mengarahkan jari ke arah rasa hangat yang lengket itu berasal. Di antara penglihatannya yang mulai mengabur, Kiseki melihat warna merah pekat.
Juga sekilas warna pirang tepat di mana adiknya berdiri ketakutan…
.
.
.
Kizuna tidak pernah bermaksud untuk menampar Kiseki sekeras itu hingga ia menghantam lantai dan darah mengucur dari hidungnya. Ia sendiri tidak percaya pada apa yang telah tangannya lakukan. Rasanya seperti sesuatu merasuki dirinya. Sesuatu yang kuat. Dan sesuatu itu terpancing keluar saat emosinya menyeruak sedikit saja.
Sayangnya semenjak hari itu, Kiseki bersikap seolah dia takkan pernah memaafkannya. Kizuna kehilangan Kiseki yang selalu peduli padanya. Dia lebih memilih Kiseki marah, menudingnya tidak mempercayainya lagi ketimbang Kiseki yang berkata memaafkannya namun bertingkah begitu apatis.
Ia sungguh menyesal. Bukan hanya Kiseki, cara pandang semua orang di rumah ini terhadapnya telah berubah. Kizuna tidak mau mereka membencinya, dan dia berusaha keras untuk memperbaiki itu.
Namun, segalanya tidak pernah berjalan dengan baik.
Para pembantu, Kiseki, Mami bahkan Yohio, semuanya menghindar. Berpaling wajah. Dan ia pun tak bisa menceritakannya pada Yukari ataupun IA. Tragedi yang menimpa Rin membuat Kizuna tak mau menyeret Fukase sekali lagi. Semuanya benar-benar tak masuk akal. Kizuna bahkan tidak menyangka ia akan menangis di hadapan Len sekarang.
Dia tak bisa mundur lagi. Lagipula, Len sudah berjanji akan berada di sampingnya apapun yang terjadi.
"Kejadian itu tidak disengaja. Kita akan memberitahunya suatu hari."
Kizuna mencoba menahan isakannya.
"Apa ini akan benar-benar berjalan lancar…?"
Len mengangguk yakin. Dia tersenyum lembut dan menarik Kizuna dalam rengkuhan yang kikuk,
"Ini akan berjalan lancar. Rin mengatakannya padaku."
Kizuna bisa merasakan jejak air mata di pipinya kembali basah saat ia membalas pelukan Len.
.
.
.
Belajar. Pergi ke sekolah. Bercanda ria bersama beberapa teman. Kembali ke rumah. Perlahan-lahan, ia mulai bisa menjalani hari-harinya di sekolah sebagaimana sebelum hal-hal mengerikan itu terjadi.
Meskipun, saat ini rumah bukan lagi tempat terbaiknya untuk kembali.
Sekolah jauh lebih baik. Setidaknya di sana orang-orang takkan melihatnya dengan sorot mata penuh sangka. Tidak ada yang menganggapnya gadis berkekuatan monster. Dia masih belum berhasil memperbaiki hubungan dengan keluarganya. Terutama Kiseki. Telah menjadi rahasia umum di kediaman Kagamine kalau Kizuna sering keluar masuk kamar Len. Fakta itu menjadi alasan lain bagi Kiseki untuk menolaknya dan Kizuna memilih untuk diam ketimbang harus membuat keributan lain.
"Kagamine? Halooo? Bumi kepada Kagamine!"
"... eh? Uh, ya?"
Yuzuki Yukari berkacak pinggang di samping mejanya, jengkel akibat seluruh ocehannya barusan ternyata sama sekali tak disimak.
"Kagamine-san, kelihatannya kau banyak melamun belakangan ini," ungkap IA. Kizuna mengerjap pada gadis itu, seakan-akan dia bicara dalam bahasa yang tak mampu dipahami.
"Tidak, Akasaka. Pandangannya itu ke arah sana," sanggah Yukari yang mengedik ke suatu arah di depan kelas, "Sudah beberapa hari ini kau terus menerus memandangi Satoshi. Kau benar-benar menyukainya, ya?!"
"E-eh?! Tentu saja tidak!" suara Yuzuki yang lumayan keras membuatnya berjengit.
"Kalau begitu kenapa wajahmu memerah?" tuding Yukari dengan nada jahil. Ia meraih wajah Kizuna di kedua telapak tangannya, "Dengar, Nona. Satoshi lowong sudah agak lama, dan dia juga tidak kelihatan dekat dengan siapapun. Tidak ada salahnya mencoba!"
Kizuna terperangah. kapan persisnya sosok Satoshi Fukase mulai menarik perhatiannya, Kizuna tidak tahu. Perasaan semacam ini seolah telah ada sejak lama di hatinya, bukan suatu hal baru dan ia pun tak merasa terkejut, yang mana mustahil karena mereka bahkan tak pernah saling mengenal sebelum Kizuna pindah ke mari.
Mata biru Kizuna bagaikan berkabut saat memandang Fukase. Dan ia pun mulai teringat tentang Rin. Baik itu cinta atau bukan, Kizuna bertekad untuk tidak terlalu dekat dengan Fukase. Ingatan tentang Rin hanya akan mengganggu pemuda itu, dan dia kini adalah salah satu dari sebagian kecil hal yang berhubungan dengan mantan kekasih Fukase tersebut.
"Kau pasti memikirkan tentang Rin-san, ya?" tebak IA. Kizuna tampak terkesiap akibat kepekaan gadis itu.
"Ayolah, Kagamine. Tidak ada gunanya memikirkan orang yang sudah tak ada," Yuzuki memaksanya berdiri, "Sudah! Dekati dan ajak dia ngobrol!" dan Yukari pun mendorong punggungnya, seolah menyemangati agar Kizuna melakukan apa yang ia perintahkan.
Ringgg! Tapi bel telah berbunyi, menyebabkan gadis itu mengerang dan semua murid kembali duduk di tempat masing-masing. Guru datang seraya menjinjing beberapa buku dan memulai materi setelah mereka semua membungkuk dipimpin oleh ketua kelas padanya. Di luar kendali, mata Kizuna kembali terarah pada Fukase. Kenapa hari ini dia senang sekali mencuri pandang ke arah pemuda itu?
Aku harus mendinginkan kepala! Batinnya meneriaki diri sendiri. Begitu jam pulang tiba tanpa pikir panjang ia langsung mengambil langkah seribu ke loker sepatu. Dia harus pulang. Makan, mandi dan melupakan semuanya. Len mungkin bisa memberinya pencerahan berhubung perasaan ini muncul semenjak ia pertama kali melihat Fukase setelah terbangun beberapa hari lalu.
"Kagamine!"
Kizuna menoleh dan menemukan tiga orang gadis yang tidak ia kenali menghampirinya.
"Y-ya?" sahutnya, diam-diam merasa tidak enak akan kehadiran mereka. Padahal ia belum pernah melihat ketiga gadis ini.
"Kami dengar kau sudah masuk sekolah lagi… Ah! Maaf, kita belum berkenalan, ya? Aku—"
"Kalian sedang apa?" tanya seseorang di belakang mereka. Sontak keempat gadis remaja itu pun beralih fokus,
"Satoshi!"
S-Satoshi-san? Kizuna agak terkejut dengan kemunculan Fukase yang terbilang mendadak. Disengaja atau tidak, Kizuna takkan berani menanyakannya.
"Jangan ganggu dia. Apa kalian masih belum puas?" iris ruby Fukase melontarkan sorot mata tajam. Namun sepertinya gadis-gadis itu memiliki suatu alasan tersendiri untuk mendatangi Kizuna.
"Kau salah paham, Satoshi! Kami hanya ingin berteman dengan Kagamine! Kejadian itu benar-benar membuat kami menyesal!" ungkapnya serius. Fukase melewati mereka begitu saja, kemudian mengajak Kizuna untuk segera pergi. "Bukankah kau bilang kau sudah memaafkan kami?!" tanya gadis itu meminta penjelasan.
"Memaafkan bukan berarti aku mempercayai!" tukas Fukase tanpa ampun. "Lagipula, kalau kalian ingin minta maaf lakukan itu saat Rin masih hidup!" Mereka semua tercenung saat kedua remaja berambut merah tersebut berjalan menjauhi ketiganya.
Kizuna menyadari kebencian yang amat sangat teredam dari raut wajah Fukase.
"Satoshi-san, gadis-gadis itu…"
"Mereka adalah anak-anak yang mengganggu Rin dulu," potong Satoshi, tak ingin terlalu lama mengungkit masalah ini. "Apa yang mereka inginkan?"
Kizuna menggeleng, "Entahlah. Mereka kelihatan bermaksud baik. Tapi, aku merasa sedikit takut."
Ekor mata Fukase melirik gadis itu sekilas.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"E-Eh?" putri keluarga Kagamine itu terkesiap. Jantungnya memompa darah lebih cepat kini, menyebabkan seluruh tubuhnya seakan berdesir. Tidak tidak tidak! Tidak boleh seperti ini! Satoshi-san adalah…
"Mutou-san?"
Mulutnya terbuka, seolah tertahan untuk mengatakan sesuatu.
"M-Mau pergi makan es krim?" Kizuna merasa ingin menenggelamkan wajahnya ke tong sampah.
A-Apa yang sudah kukatakan?!
"Hm? Kenapa tiba-tiba?" Fukase mengangkat sebelah alisnya. Kizuna tertawa kaku. Dikatakannya bahwa ia hanya ingin berterimakasih atas tindakannya tadi. Bayangkan kalau Fukase tidak datang, dia pasti sudah terjebak entah melakukan apa bersama gadis-gadis itu.
Yah… aku hanya ingin membalas kebaikannya sedikit… senyum Kizuna terus mengembang saat mereka menikmati es krim di sebuah kafe kecil. Benar-benar lucu. Baru saja ia merasa sangat gugup saat melihat Fukase dan kini mereka sudah mengobrol begitu akrab mengenai hal-hal kasual di kehidupan sehari-hari, jauh berbeda dengan pembicaraan mereka yang pertama kalinya. Mungkinkah Kiseki benar? Dia jatuh cinta?
Kalaupun memang itu kenyataannya, Kizuna bertekad akan menyembunyikan perasaan ini. Bagaimanapun Fukase adalah kekasih saudara tirinya. Rin memang sudah tiada, tapi Kizuna takkan pernah mengkhianati gadis itu.
Waktu yang mereka lewati sedikit terlalu lama. Dia mulai bertanya-tanya apakah merasa sebegini bahagianya adalah sebuah kesalahan?
.
.
"Sial, dia tidak mengangkat," umpat Kiseki. Entah sudah kali keberapa operator yang menjawab panggilannya. Jam sembilan malam dan Kizuna belum pulang, ia bahkan telah sampai lebih awal. Dia mengecek kembali ruang bawah setelah sebelumnya memastikan Kizuna tidak ada di kamar Len. Mami menyaksikan putranya itu mondar-mandir tidak karuan langsung menegur,
"Kau tidak perlu khawatir segitunya. Ini baru jam sembilan," ujar Mami.
Kiseki mendelik pada sang ibu. Tahu saja Mami kalau dia mencemaskan Kizuna.
"Apa dia mengirimimu pesan?"
Mami mengangkat bahu, "Mungkin dia sedang cari hiburan karena kau terus mendiamkannya."
"Kau juga bersikap dingin!" tuding Kiseki tidak terima. Saat hubunganmu dengan seseorang sangat renggang, menyebalkan sekali rasanya jika di saat yang sama kau sangat mengkhawatirkan orang itu.
Niatan untuk keluar mencari Kizuna tertunda saat ia mendengar pintu gerbang utama dibuka. Kiseki berjalan cepat menuju halaman depan. Ada Kizuna di sana, namun dia tidak sendiri. Seorang anak laki-laki yang tidak asing tampak tengah mengatakan sesuatu padanya, hingga akhirnya mereka menyadari kehadiran Kiseki.
"Konbanwa," sapa Kiseki datar, matanya mengarah pada Fukase lalu menatap Kizuna. "Habis dari mana?"
Ada apa dengan hari ini? Semua orang bersikap mengejutkan! Kizuna merasa lidahnya kelu setelah sekian lama Kiseki tidak bicara padanya.
"M-maaf… Satoshi-san menolongku tadi, jadi aku mengajaknya makan es krim. Tapi kami keterusan dan jadi bermain-main di tempat karaoke—"
"Menolong? Memangnya kau kenapa?" kening Kiseki mengernyit. "Satoshi-san—"
"Mutou-san—"
Mereka memanggil nama satu sama lain secara bersamaan. Momen itu menyebabkan keheningan yang kikuk. Tawa kecil Kizuna pecah saat melihat wajah kedua pemuda itu yang sama-sama terlihat aneh. Fukase memberi isyarat agar Kiseki bicara duluan,
"Kizuna, masuklah ke dalam. Aku ingin bicara dengan temanmu ini," perintahnya. Ekspresi gadis itu berubah khawatir,
"Jangan marahi dia, Kiseki. Aku duluan yang mengajaknya pergi."
Kiseki menghela napas berat, "Tidak, kok. Ada hal lain yang harus kubicarakan dengannya. Sepertinya dia juga ingin mengatakan sesuatu. Iya kan, Satoshi-san?"
Fukase mengangguk samar. Kizuna pun menuruti permintaan sang kakak, pergi setelah mengatakan bahwa ia membelikan crepes untuknya. Tentu saja tanpa menyinggung bahwa ia juga membeli untuk Len.
Jari-jari Kiseki yang tampak kokoh menggaruk kepalanya, memastikan gadis itu cukup jauh dari mereka dan mulai berkata,
"Tidak biasanya aku seperti ini, tapi kurasa aku bisa mempercayaimu," Kiseki melempar tatapan menilai, "Jadi, kau memacari adikku?"
"Jangan bercanda. Ini ketiga kalinya kami saling bicara," sangkal lawan bicaranya, "Tadi dia nyaris saja diganggu anak-anak nakal. Kebetulan aku ada di sana."
"Tapi dia kelihatannya menyukaimu. Bisakah aku menitipkan Kizuna? Sekolahku tidak di sini, jadi aku tak bisa terus mengawasinya."
Satoshi Fukase bergeming di hadapannya. Pemuda itu menggeleng samar, kelihatan tidak nyaman dengan permintaan Kiseki barusan,
"Jujur saja, aku tidak ingin terlibat dalam hubungan seperti ini lagi. Tidak bisa. Khususnya dengan keluargamu."
Kiseki tidak paham apa yang orang ini bicarakan, "Maksudmu?"
"Dia bertingkah aneh hari ini. Terlihat persis seperti orang yang kukenal," ucap Fukase pelan. Intonasinya terdengar penuh peringatan, "Tolong jaga adikmu, Mutou-san. Jangan sampai apa yang terjadi pada Rin terulang lagi."
"Hey, tunggu!" cegat Kiseki, sebisa mungkin menghalau Fukase pergi dengan meninggalkan tanda tanya di benaknya. "Aku tahu ini terdengar bodoh. Tapi aku bertemu gadis itu di kereta."
"…"
"Rin… beritahu aku semuanya tentang dia."
.
.
.
Malam terus merangkak. Dari luar terdengar suara guntur di langit yang mendung, menutup cahaya bulan dan bintang-bintang. Kizuna membiarkan air hangat membasuh seluruh tubuhnya, sama seperti hujan yang mulai membasahi seisi kota kecil ini. Dia merasa sangat bahagia. Bisa berduaan dengan Fukase dan Kiseki kembali bicara padanya. Perpaduan dua hal itu menyingkirkan sebagian besar rasa gelisah hingga senandung kecil mengalun dari pita suaranya, menguar bersama uap yang membasahi kaca kamar mandi.
"Are…? Lagu ini…" Kizuna termenung. Kapan ia pernah mendengar lagu ini? Melodi yang begitu saja ia gumamkan bukan sembarang lagu yang ia ciptakan secara mendadak. Seingatnya ia belum pernah mendengarnya, tapi juga terasa begitu familiar. Seolah ia sudah mengetahuinya sejak lama…
Ah, mungkin aku pernah mendengarnya di suatu tempat, batinnya santai. Kizuna mematikan shower dan mengambil handuk. Ia duduk di depan kaca rias, membasuh rambutnya yang basah.
Dalam satu kedipan mata, ia melihat pantulan dirinya yang berambut pirang pendek.
Kizuna nyaris terlonjak. Kembali melihat refleksinya di cermin itu. Masih dirinya, rambut merah panjang sepunggung. Ia menarik segenggam rambut, memastikan tak ada yang berubah di sana. Rin…? Matanya terpaku ke arah cermin itu, bertanya-tanya apakah ia hanya salah lihat.
Kizuna membuka tangan kirinya. Mengingat kejadian malam itu. Pisau. Len. Darah. Ritual.
Rin.
Ia menengadah dan kembali menemukan Rin duduk sebagai refleksinya. Gadis itu tersenyum samar.
"Jangan takut. Aku selalu ada bersamamu."
.
.
.
Len berlari, terus berlari seolah tak mengenal hari esok.
Sekelilingnya gelap. Dia bahkan tak tahu ke mana kakinya memijak. Napasnya tersengal, keringat mengucuri seluruh tubuhnya. Sesak dan dingin. Ia pun terjatuh, namun bukannya menghantam permukaan yang keras ia justru merasakan seluruh tubuhnya seakan baru saja melompat dari ketinggian, meluncur begitu cepat dalam kegelapan yang menyelubungi. Suaranya telah berkhianat, menghilang tatkala ia membutuhkannya untuk meminta pertolongan…
Dia mengangkat tangan, berharap ada sesuatu yang mampu ia genggam dan menghentikan laju tubuhnya di kegelapan tak berdasar ini. Hingga akhirnya jemari yang lembut meraih pergelangan tangannya begitu erat. Begitu kuat hingga ia merasa tangan itu takkan pernah melepaskannya lagi.
Kegelapan di sekelilingnya perlahan memudar, dan Len merasakan punggungnya terbaring di antara rerumputan hijau. Sinar matahari terasa begitu hangat, lamat-lamat sosok pemilik tangan yang menggenggamnya terlihat walau samar.
Rambut merah senja, namun perlahan-lahan berubah menjadi pirang matahari…
"Rin…?"
Len membuka matanya. Mimpi buruk? Mimpi indah? Len tidak bisa memutuskan. Matanya masih berat, seluruh pikirannya terpencar-pencar. Len menggerakkan tangan perlahan. Ada yang agak aneh. Gumpalan apa ini di balik selimutnya? Tubuhnya pun terasa sedikit berat, seperti tertimpa sesuatu.
Len membuka selimut yang semalaman melindunginya dari cuaca dingin akibat hujan. Dia menahan napas. Sejak kapan Kizuna naik ke kasurnya?!
"K-Kizuna-san! Hey!"
Ia duduk, mencoba menyingkirkan gadis itu dari atas perutnya. Usahanya membuahkan hasil, Kizuna pun terbangun, duduk di sisi kanan ranjang seraya mengucek mata. Satu hal yang Len sadari, gadis itu hanya memakai handuk. Kizuna menguap, membuka matanya yang kelihatan sedikit berbeda.
Bukan biru gelap, tapi biru aqua yang menyala.
"Ohayou, Len-chan…"
Bersambung…
Jangan lupa komentar, kritik dan saran yaa :)
