ANSATSU KYOUSHITSU/ ASSASSINATION CLASSROOM milik Yuusei matsui bukan milik saya.
Summary : Hanya melihat mu tersenyum saja aku merasa senang. Dirimu lah cinta pertama ku Okuda-san
Warning : OOC, Typo bertebaran,EYD terlupakan, Alur kecepetan.
Ini dceritakan waktu di SMA Kunugigaoka, bukan di SMP Kunugigaoka (hoho biar mereka terlihat lebih dewasa) dan juga kelas E ada digedung utama..
.
.
Selamat membaca ^o^/
.
.
Jam pelajaran pertama, kedua, dan ketiga sudah selesai dengan diakhiri oleh bel istirahat. Tiga jam pelajaran berkutat dengan buku matematika cukup membuat lelah otak bagi siswa kelas 3-A. Tidak seperti Asano yang cukup antusias dengan pelajaran itu, bahkan waktu 3 jam itu saja kurang menurutnya.
Dengan tak sabaran ia mulai melangkah menuju perpustakaan dan meninggalkan kelasnya. Asano yang mulai suntuk dengan suasana kelas ingin menyejukan otaknya diruangan penuh buku itu. Langkah nya yang tegas dengan penuh wibawa menggundang mata para kaum hawa untuk memlihat sosok tampan itu. Asano yang sudah biasa dengan pandangan itu tidak menggubris sama sekali.
"Asano-senpai, terimalah surat ini." Langkah Asano terhentikan oleh seorang gadis kelas satu dengan wajah yang bisa dibilang cukup diatas rata-rata. Asano memperhatikan wajah gadis itu yang sudah dipenuhi semburat merah. "Baiklah." Asano langsung mengambil surat berbentuk persegi berwarna merah muda dengan berbagai hiasan berbentuk hati tanpa tersenyum sedikit pun pada gadis itu, sehingga membuat perih gadis yang terbilang cukup cantik itu. Dengan maksud tidak ingin membuang banyak waktu, Asano meninggalkan gadis yang masih mematung ditempat itu.
'Andaikan saja kau memperhatikan ku seperti para wanita itu, Manami.' Batin Asano dalam hati. hembuasan napas berat dan kasar dihembuskan Asano seiring mengingat wajah Okuda Manami yang dilihatnya pagi itu, ingin rasanya berbicara walau hanya sepatah kata dengan Okuda.
BRAKKKK...
Tanpa sadar Asano menabrak seseorang yang sedang membawa banyak buku tebal. Ingin rasanya Asano memarahi seseorang itu karena menabraknya. Tapi, diurungkan niatnya karena dia juga salah tak memperhatikan jalan pada waktu itu. 'WUAAA...' Jerit Asano dalam hati. Orang yang ditabraknya ternyata seorang gadis yang dari tadi memenuhi pikirannya. Asano memandangi orang yang telah ditabraknya dengan perasaan yang cukup kaget, buku-buku tabal berserakan di samping gadis yang terbungkuk dengan kesan seperti akan bersujud. "Maaf." Gadis itu memandang sumber suara permintaan maaf dengan mendongakkan kepalanya. Asano di buat kaget dengan penampilan gadis itu yang biasanya menggenakan kacamata tapi sekarang tak menggenakan kacamata itu, Mata yang tak terhalangi oleh kacamata membuat terlihat sayu tapi terlihat cukup dewas di mata Asano.
"Maaf, bisakah kau angkat kaki mu dari situ ? kau menginjak kacamataku." Refleks kaki Asano langsung terangkat seketika. Asano mengambil kacamata bergagang hitam yang berada di kaki nya, ia mulai berjongkok dengan menyetarkan tinggi tubuhnya dengan gadis dihadapannya itu.
"Maaf aku tak sengaja menginjak ini. Pasti akan kuganti nanti. Sekali lagi aku minta maaf." Asano meyerahkan kacamata yang bagian kiri kacanya sudah pecah dan bagian kanannya sudah retak pada pemiliknya.
"Tak apa, tak usah diganti. Saat ini memang sudah saat nya aku ganti kacamata, jadi nanti sore aku akan beli yang baru." Ucap gadis itu pada Asano yang merasa bersalah. Semburat merah muncul diwajah Asano disaat ia memperhatikan senyum ramah milik gadis itu.
"Baiklah, kubantu membawakan buku-buku ini. Mau dibawa kemana buku-buku ini ?" Asano mulai merapikan buku-buku tebal yang bersarakan dilantai, tak disangka-sangka lima buku tebal dengan satu buku paling tidak memiliki 500 halaman lebih itu sunguh berat. Asano bersyukur dia lah yang membawa buku itu, bukan gadis itu. Pasti akan sulit jika gadis itu membawanya sendiri.
"Eh ? beneran tidak apa ? tapi aku takut merepotkan mu."
"Tak apa, anggap saja ini permintaan maaf ku."
"Baiklah, buku itu meu kuantarkan menuju Lab Kimia. Terimakasih atas bantuanmu." Lagi-lagi Asano dibuat memerah wajahnya karena senyuman gadis itu yang terkesan polos.
Asano dan Manami berjalan beriringan. Langkah Asano yang lebar membuat Manami agak kesusahann untuk berjalan disamping Asano. Dengan tatapan membunuh dari para wanita yang merupakan fans dari Asano membuat Manami bergidik ngeri.
"Maaf bolehkah aku bertanya siapa namamu ?" Tanya Asano basa-basi. Walaupun Asano sudah mengetaui nama Manami tapi Asano ingin mendengarkan suara gadis itu lagi.
"Nama ku Okuda Manami, Asano-kun." Asano tidak kaget bahwa Manami sudah mengetaui namanya, jelas saja Asano seorang ketua OSIS di SMA Kunugigaoka, justru jika Manami tidak mengetahui nama dari sang ketua OSIS SMA Kunugigaoka mungkin malah terlihat aneh.
"Okuda-san, apa kau tidak kesulitan jika tidak memakai kacamata ?." Tanya Asano pada Manami. Yang ditanya masih saja tersenyum dengan kedua tangan nya saling bersedekap didepan.
"Tak apa-apa, aku masih bisa melihat kok."
Pembicaraan menjadi hening seketika, perasaan canggung mulai menyeruak di hati Asano. Ia ingin membicarakan berbagai hal lagi dengan gadis yang masih berjalan disampingnya. Tapi, ia tidak ingin dianggap sok kenal sok deket. Akhirnya, Asano hanya berdiam diri dalam perjalanannya menuju Lab Kimia. Lab Kimia berada di paling pojok setelah Lab Fisika dan Lab Biologi. Disaat kedua manusia itu berjalan melewati Lab Biologi terlihat sesosok orang yang cukup tak asing di mata mereka berdua. Berkacamata, rambut panjang acak-acakan, dan wajah cukup mengerikan.
"Asano-kun apa yang kau lakukan dengan gadis norak berkacamata ini ?" Tanya pemuda itu menujuk-nunjuk Manami.
"Bukan urusan mu Natsuhiko." Balas Asano tidak senang orang yang disukainya malah diejek dengan tidak hormatnya. Merekan berdua pun melangkah maju meninggalkan Natsuhiko yang masih penasaran. 'Huh, mencurigakan..' Batin Natsuhiko sambil membenarkan kacamatanya yang melorot.
Mereka berdua tiba di Lab Kimia. suasananya sepi, tidak seperti Lab Biologi yang selalu banyak orangnya. Buku-buku tebal banyak berserakan sembarangan di atas meja. Alat-alat praktik seperti pipet, buret, gelas ukur, labu ukur,dll pun tidak berjejer dengan rapi. Bahkan, debu tebal berwarna cokllat menghiasi meja-meja Lab itu.
"Penjaga Lab Kimia 2 Minggu yang lalu tewas karena sakit. Jadi, disini belum ada yang membersihkan setiap harinya seperti halnya Lab Fisika dan Lab Biologi. Mulai saat ini Koro-sensei memerintah ku untuk menjaganya selama menunggu penjaga pengganti." Ucap Manami. Tangan Manami mulai menata buku-buku tebal yang berserakan diatas meja dan memberseihkan meja dari debu menggunakan kemonceng. Asano hanya melihat Manami dari pintu Lab .
"Okuda-san, aku ingin membantumu setiap hari dalam mengurus Lab ini." Ucap Asano tanpa pikir panjang. Asano mulai melangkahkan kaki menuju tempat Manami berada. Mengikuti gerakan Manami dengan merapikan buku dan menghapus debu dari cover buku itu.
"Eh ? kamu kan ketua OSIS, pasti sangat sibuk sekali. Sudahlah serahkan tugas ini pada ku saja." Manami menggambil buku yang berada di tangan Asano. Asano hanya mengiyakan perkataan Manami.
Wajah Manami yang tanpa kacamata semakin mebuat Asano berdebar hebat. Wajah putih nan bersih dilihatnya tanpa meninggalkan beberapa inchi pun. Ibu jari Asano menyeka debu yang menempel pada pipi Manami. Manami kaget dengan tingkah Asano yang tiba-tiba, membuat wajah Manami memerah "A..A..Asano-kun". Asano yang baru sadar akan tindakannya itu langsung melepaskan tangannya dari pipi Manami yang sudah memerah "Maafkan aku Okuda-san."
.
.
Bel tanda selesainya waktu istirahat mulai bedering. Membuat kedua orang itu mulai pergi dari Lab Kimia untuk menuju kelas masing-masing dengan perasaan yang canggung.
Hari itu SMA Kunugigaoka hanya berlangsung hingga jam ke 5 saja karena diadakan rapat para guru. Bagi murid SMA Kunugigaoka, pulang pagi adalah anugrah yang tiada henti-hentinya. Ditengah bahagia itu masih saja ada yang berwajah muram dengan jam pelajaran keempat dan kelima. Tentunya itu kelas 3-A. Di pelajaran keempat dan kelima mereka bertemu dengan pelajaran Fisika. Pelajaran yang cukup mengerikan bagi semua murid.
Suara kipas angin yang memutar di tengah ruangan kelas 3-A terdengar begitu keras disaat guru Fisika yang sudah beruban mulai bercerita panjang lebar bagaikan dongeng sebelum tidur. Banyak siswa-siswi yang menguap bosan, air mata kantuk mulai memupuk di pojok mata para murid. Waktu berjalan bagaikan siput yang menyebrang
TTTTEEEETTTTT
Akhirnya, lagu yang para murid ingin dengarkan pun berbunyi. Membuat para murid berteriak kegirangan. Asano merasa enggan untuk pulang kerumah karena tak ada seseorang dirumah. Tapi, kaarena tak ada kerjaan disekolah ia memutuskan untuk pulang.
Lobi sekolah sudah sepi. Memang Asano pulang terakhir agar terhindar dari keramaian dan desak-desakan. "Hooo ternyata kau disini ya ketua OSIS" pemuda bersurai merah menghampiri Asano dengan wajah sinisnya.
"Ada apa Akabane Karma ?" Asano membalikan tubuhnya 180 derajad agar bisa menghadapi orang yang dipanggilnya Akabane Karma.
"Sepertinya kau tadi dekat sekali dengan Manami-chan, ya ?" Tanya pemuda itu lagi. Membuat Asano sadar bahwwa yang menyukai Manami bukan hanya dirinya saja.
"Bukan urasanmu, Akabane." Mereka saling tatap menatap dengan penuh kebencian.
Bersambung~~
Yeeee chapter 2 selesai... nantikan chapter 3 nya ya...
Terimakasih sudah membacanya... ^o^/
