ANSATSU KYOUSHITSU/ ASSASSINATION CLASSROOM milik Yuusei matsui bukan milik saya.
Warning : OOC, Typo bertebaran,EYD terlupakan, Alur kecepetan.
Summary : Hanya melihat mu tersenyum saja aku merasa senang. Dirimu lah cinta pertama ku Okuda-san
Ini dceritakan waktu di SMA Kunugigaoka, bukan di SMP Kunugigaoka (hoho biar mereka terlihat lebih dewasa) dan juga kelas E ada digedung utama..
.
.
Selamat membaca ^o^/
.
.
Suasana mencekam menyeluruhi lobi sekolah yang telah sepi, hanya dua orang itu saja disanan. Pemuda bersurai jingga dan pemuda bersurai merah saling menatap penuh kebencian. Pemuda bersurai merah itu mulai membuka mulutnya dengan suara cekikikan mengejek. Pemuda bersurai jingga merasa aneh dengan cekikikan sinis pemuda itu. Asano melangkah kan kakinya untuk pulan dan tak ingin berurusan dengan Karma. "Huh ternyata jadi ketua OSIS enak ya, bisa menyentuh pipi seorang gadis dengan mudah nya." Mendangar celotehan Karma membuat telinga ketua OSIS itu panas. Kaki yang direncanakan untuk pergi pulang itu merubah tujuanannya dengan mendekati Karma. Tangan Asano mencengkeran kerah baju lawannya "BODOH, aku memegang pipinya bukan karena aku ketua OSIS dan walaupun aku ketua OSIS aku tak bisa seenaknya memegang pipi Okuda-san tanpa sebab." Ucap Asano keras dengan tangan nya masih mencengkeram kerah baju Karma kemudian membantingkan tubuh Karma ke Lantai.
Karma terkejut saat dia tersungkur di lantai. Padahal, Karma bisa saja menahan kekuatan dari Asano Gakushu dengan mudahnya. Tapi kali ini Asano terkesan 10x lebih kuat. Karma mulai berpikir bahawa emosi Asano Gakushuu mulai memuncak saat membicarakan tentang Manami. Tanpa pikir panjang Asano langsung meninggalkan Karma yang masih tersungkur dilantai "Akhirnya aku mengetahui kelemahan mu, Asano Gakushuu." Ucap Karma lirih.
Disisi lain Asano mulai berjalan keluar dari gerbang sekolah dengan emosi yang masih meluap saat bertemu dengan Karma "Aku tak akan kalah dari mu, Akabane Karma." Ucap Asano lirih.
.
.
"Tadaima." Tak ada gunanya pikir Asano untuk mengucapkan kata itu sebab tak akan ada yang bakal menjawab. Rumah besar bertingkat tiga dengan warna putih yang mendominasi dindingnya dan berbagai furniture berharga mahal menghisi rumah itu, rumah yang terlalu besar untuk ditinggali dua orang saja dan beberapa pembantu yang sibuk membersihkan rumah disiang itu. Walaupun dia ingin ada kehadiran seorang ibu yang menyambut kedatangannya. Asano menuju kamarnya yang berada dilantai dua Tanpa ingin mengingat masa lalu suram anatara dirinya dengan ibunya.
Asano membuka kancing satu demi satu seragamnya dan membuang seragam itu seperti tidak ada gunanya lagi. Ia merebahkan tubuhnya yang masih dalam keadaan telanjang dada, berharap panas tubuhnya karena emosi dengan Karma akan hilang "Tak kusangka, Karma menyukai wanita yang sama dengan ku hahaha." Ucap Asano lirih. Dengan membayangkan Manami membuat Asano langsung terlelap hanya dalam hitungan menit, membawa Asano dalam mimpi yang tak akan diketahui oleh orang lain.
.
.
"Tuan Gakushuu, makan malam sudah siap. Ayah anda sudah menunggu di meja makan." Seorang pelayan mencoba-mengetuk-ngetuk pintu kamar Asano. "Hmmm..." Asano terbangun dari tidur siangnya, mencoba menjawab ajakan dari pelayan itu dengan keadaan mata masih terpejam. Asano mencoba membuka mata dengan malas. Kedua tangannya mengerjap-ngerjap mata yang masih saja enggan terbuka. Akhirnya, tangan itu berhasil membuka mata itu, dengan segera tanganya langsung menggapai jam meja yang disebelahnya kasur 'apppaaaaa ? akutidur siang dari jam dua siang sampai jam tujuh malam ?' teriak Asano dalam hat. Ia sungguh tak percaya bisa tidur siang selama itu. Suara perut Asano yang bergelora karena belum makan siang membuatnya melepaskan jam meja dan segera memakai kaos berwarna hitam garis-garis untuk segera menuju meja makan dan makan malam bersama ayahnya.
Asano Gakuhou mengamati anaknya yang berjalan selangkah demi selangkah menuruni anak tangan. Pandangannya beralih menuju koran yang sedari tadi dipegang Gakuhou.
"Kau lama sekali, Gakushu-kun." Ucap ayah nya dingin dengan mata masih tertuju pada koran.
"Maaf, ayah. Tadi aku baru saja tidur." Jawab Gakushu seraya menyeret kursi untuk didudukinya.
Susana hening menyeluruhi ruangan itu, hanya suara sendok garpu yang saling bertautan. Mereka melahap makanan masing-masing dengan begitu tenang dan berwibawa.
"Gakushuu-kun." Ayahnya mencoba memecahkan keheningan. Gakushuu pun menoleh pada ayahnya.
"Apa ?" Tanya Gakushuu sambil menyuap kan daging dengan garpu kedalam mulutnya.
"Bagaimana hubungan mu dengan gadis berkepang dua itu ?" Tanya ayahnya sikat, padat dan tanpa basa-basi.
Yang ditanya langsung saja tersedak. Gakushuu kaget, ayahnya yang bahkan jarang menanyakan kabar yang paling cepat satu Minggu sekali malahan bertanya tentang hubungannya. Gakushu paham dengan yang dimaksud ayahnya tentang gadis berkepang dua itu pasti Okuda Manami yang ia temui tadi siang waktu disekolah.
"Hah ? apa maksudmu ?" Tanya Gakushuu mencoba santai.
"Tadi waktu pulang sekolah, Natsuhiko memberi tahu ku tentang kau yang membawakan buku gadis itu, bahkan katanya kamu juga menyentuh pipi gadis itu, dan wajah mu dan wajah gadis itu langsung merah padam. Sebenarnya aku tidak percaya sih. Tapi, pada waktu itu Akabane-kun juga melihat kalian berdua. Jadi aku percaya saja. Tak kusangka, kau bisa jatuh cinta juga haha" Gakuhou mulai terang-terangan, dengan tawanya yang sangat mengejek membuat Gakushu naik darah.
"Jadi Natsuhiko dan Akabane melihat nya ?" Tanya Gakushuu pada ayahnya. Asano akhirnya mengerti mengapa Akabane terlihat marah besar di lobi siang itu 'ternyata Akabane melihat dengan mata kepalanya sediri toh.' Batin Gakushuu dalam hati.
"Jadi Gakushuu, Kau benar-benar pacaran dengan gadis berkepang dua itu ?" Tanya Gakuhou lagi.
"ERRR.. ah aku sudah selesai makan.. terimakasih makanannya." Gakushuu langsung kabur meninggalkan Gakuhou yang sudah mengerti dari gelagat anak nya yang malu-malu dengan semburat merah tipis menghiasi pipi anak semata wayangnya.
"GAKUSHUUUUUUU, KALAU KAU MAU CURHAT TENTANG GADIS ITU, CURHATLAH PADA AYAH MU INI..." Ucap Gakuhou semangat. Gakushu makin kaget dengan sikap ayah nya yang tiba-tiba seperti bapak beneran
Gakushuu menggerbrakan pintu kamarnya sembarang, membuat suara keras akibat benturan antara pintu dengan dinding kamar. Ia melangkah menuju meja belajar. Pantat nya di dudukan pada kursi kusam berwarna coklat terang, kakinya di ankat keatas meja belajar, tangannya bersedekap di depan dada, matanya terpejam, otaknya mulai berpikir keras. Mengapa adegan memalukan itu ada yang melihat, bahkan salah seorang ysng melihatnya adalah Akabane Karma yang menjadi rivalnya, pernyataan itu berputar-putar di otaknya.
Gakushuu beranjak dari kursi, mengambil surat di dalam tas. Ia baru ingat, tadi waktu disekolah ada adik kelas yang memberikan surat berwarna merah muda padaya. Asano mencoba membuka dan membaca surat itu dan dibaca pelan-pelan
To : Asano Gakushuu
Selamat siang Asano-senpai. Bagaimana kabar Asano-senpai ? semoga baik-baik saja ya.
Apakah Asano-senpai tahu. Setiap hari aku selalu memperhatikan Asano-senpai. Asano-senpai terlihat gagah, keren dan juga manis. Aku suka sekali pada Asano-senpai. Jadi, apakah Asano senpai mau berpacaran denganku ?
Jika Asano-senpai mau. Besok pada jam istirahat pertama datanglah ke atap sekolah. Jika Asano-senpai menolakku. Jangan datang ke atap sekolah.
Love you Asano-senpai
From : penggemar berat mu.
Asano merinding membaca surat aneh yang penuh basa-basi itu. Sesegera Asano langsung melemperkan surat nista padatempat sampah "Hah dasar cewek." Asano kembali menuju meja belajarnya. Ia memulai membuka-buka buku persiapan Ujian Nasional yang akan datan 7 bulan lagi.
Jam menunjukan pukul setengah 2 malam, Asano masih saja sibuk dengan perhitungan Matematika yang cukup sulit. Kantuk sudah menyerang dirinya, ia selalu menguap selama satu menit sekali. Dia berencana tidur setelah menyelesaikan satu soal lagi, tapi tangan dan otak nya sudah tidak sejalan. Asano kaget setelah melihat tangannya tanpa sadar menulis nama Okuda Manami Love Asano Gakushuu, ia langsung cepat mencari penghapus karet agar cepat menghapus tulisan memalukannya. Asano baru sadar bahwa ia tidak menulis dengan pensil, tapi menuliskan dengan pulpen. Ia mulai mencari tipe-x, yang dicari malah hilang entah kemana. 'Sialan dimana tipe-x ku. Padahal baru dua hari yang lalu aku beli. Ah benar juga. Tadi, kan dipinjem Ren dan belum di kembalikan. Sialan.' Ucap Gakushuu dalam hati.
"Hooooo... Okuda Manami Love Asano Gakushuu... jadi gadis berkepang dua itu bernama Okuda Manami ya ?" "WAAAAA... Kenapa ayah disini ?" Gakuhou tiba-tiba dengan menghilangkan hawa keberadaannya muncul di belakang Gakushuu. Membuat Gakushuu kaget dan dengan refleks langsung menutup buku yang ada tulisan memalukan yang sempat dibaca ayahnya.
"Aku mendengar suara 'kraasak krusssukkk' dikamarmu, karena aku penasaran aku jadi kemari. Kupikir tadi ada pencuri." Ucap Gakuhou tenang sambil mencoba mengambil buku itu dari tangan Gakushuu.
"Tapi, setidaknya ketuk pintu dulu..." Gakushuu mulai ngumpat-ngumpat gak jelas dan mencoba melindungi buku dari serangan ayahnya.
"Kupikir kau sudah tidur, dan aku takut jika aku ternyata salah dengar. Jadi, kuputuskan masuk tanpa ketuk pintu. Tenyata, kau malah belum tidur. Apa kau terlalu memikirkan Okuda Manami sampai tidak bisa tidur ?" Tanya Gakuhou, sukses membuat wajah Gakushuu merah padam.
"Bodoh.. aku hanya sedang belajar untuk persiapan Ujian nanti.."
"Hooo begitu ya... kalau begitu sekarang tidur lah.. sudah malam." Gakuhou mengacak-ngacak ujuk kepala Gakushuu dan meninggalkan Gakushuu yang masih kaget dengan sifat ayah nya yang sudah seperti seorang bapak sesungguhnya.
Gakushuu mematuhi perintah ayahnya. Segera ia menuju ke Kasur untuk segera tidur.
.
.
.
Di kediaman Manami.
Jam menujukan pukul lima pagi. Alarm berbunyi keras membuat sang pemilik kamar langsung terbangun untuk mematikan alarm itu. Dihemmpaskannya selimut yang membalut tubuh kecilnya. Mencoba beranjak dari kasur dan membuka gorden yang menutup jendela. Suasan di pagi hari begitu disukainya. Dengan gerakan tangan diangkat keatas dan merenggakan tubuhnya yang sedikit kaku akibat tidur semalam. manami beranjak menuju Hp yang tergeletak begitu saja diatas meja belajar, telihat ada satu pesan yang belum di baca. 'from : Akabane Karma' begitulah tulisan di layar HP Manami. Segera dibuka pesan dari teman merahnya "Okuda-san, jangan dekat-dekat dengan ketua OSIS itu." Manami merasa bingung dengan pesan yang dikirimkan oleh teman merahnya. Manami tak peduli, ia pun beranjak menuju kamar mandi.
Bersambung~~
Waaaaaa chapter 3 telah usai... nantikan chapter berikutnya...
Terimakasih telah membaca fict ini...
Review pleaseeee... ^o^/
