Title: Cerry
Chapter: 2/?
Pairing: HaeKyu (Donghae/Kyuhyun)
Warning: -
Disclaimer: plot cerita milik author
/Chapter 2/
Kyuhyun mengusap kedua matanya. Masih terselimuti kantuk namun kembali tidur bukan pilihan. Ia adalah manusia pagi dan hal itu membuat jam biologis tubuhnya menolak untuk kembali memejamkan mata. Ia merasakan pening karena tidak mendapatkan porsi tidur cukup seperti biasanya. Kyuhyun tidak bisa tidur. Dan kali ini bukan karena ia sedang memikirkan tugas sekolah atau karya tulis ilmiahnya. Ini karena hal sepele yang membuat endorphin dalam tubuhnya bereaksi diluar kendalinya.
Ia baru saja bertemu dengan Lee Donghae, tetangga barunya.
Sungguh, seharusnya itu bukan masalah besar. Ia hanya seorang laki laki yang kebetulan bertetangga dengannya dan sayangnya sangat menarik. Hanya seorang yang memiliki rambut kecoklatan dengan kedua mata yang berwarna senada. Hanya seorang yang kebetulan saat itu memakai kaos tanpa lengan yang oh sangat mengesankan. Kyuhyun menghela nafas. Ia jarang sekali menilai orang dari penampilan pada pandangan pertama meskipun ia tidak membantah kesan pertama memberikan bekas yang berlangsung lama. Mungkin selamanya karena hal itu hanya terjadi satu kali pada setiap orang.
Dan Donghae memberikan kesan pertama yang membuatnya berkesimpulan bahwa pubertas membuat sudut pandangnya terhadap sesuatu menjadi sedikit lebih berbeda.
Bukan ia sengaja ingin memikirkannya, terdengar sangat mengerikan, apalagi ia belum mengenal Donghae. Mereka hanya ngobrol tidak lebih dari lima belas menit! Selebihnya ia hanya bisa menebak. Donghae mungkin berusia sekitar 21 tahun. Mahasiswa. Dari penampilannya, Kyuhyun tidak yakin Donghae mengambil jurusan eksakta dan semacamnya. Ia lebih pantas menjadi mahasiswa seni, sastra atau drama. Donghae juga sepertinya adalah orang yang ramah. Hmm, ramah dan sedikit menebar pesona.
Kyuhyun tidak menyalahkannya, Donghae memang menarik. Tampan dan menarik.
Sepertinya ide tentang pindah rumah dan segalanya ini tidak terlalu buruk sekarang.
Kyuhyun keluar dari kamarnya masih mengenakan piyama kesayangannya. Kyuhyun tidak akan menukarnya dengan apapun karena sangat sangat nyaman. Sedikit kebesaran hingga jari-jarinya mengintip diujung lengan panjangnya. Rambutnya masih acak acakan – lagipula siapa yang repot menyisir rambut saat bangun tidur? Dan ini hari minggu. Ia menjaga kedua kakinya tetap hangat dengan sandal bulu berkepala panda. Kacamatanya tidak pernah lepas dan tidak juga berhasil menyembunyikan kantung mata sisa tadi malam.
Kyuhyun berjalan malas menuju ke dapur saat terdengar pintu rumahnya terbuka dari luar. Kyuhyun menghentikan langkahnya dan mendapati ibunya masuk dengan membawa dua tas berisi barang-barang belanjaan masing masing di tangan kanan kirinya.
"Kyuhyun…bantu ibu membawa barang-barang ini. Berat sekali", kata ibunya sambil terengah.
Kyuhyun segera menolong ibunya, mengambil satu tas yang terlihat paling penuh dan berat dari tangan ibunya. Ia hampir saja membuat isinya jatuh berantakan karena tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Ibunya tidak sendiri. Dibelakangnya berdiri Lee Donghae, sekali lagi Lee Donghae, yang semalam wajahnya mondar mandir di langit langit kamarnya.
Seperti sebelumnya, Donghae tersenyum lebar. Hanya kali ini ia membantu ibunya membawa tas belanja penuh dengan barang.
Donghae. Tetangga barunya.
Donghae yang membuatnya tidak bisa tidur semalam.
Donghae yang membawa tas belanjaan ibunya.
"Hai" Donghae menyapa. Kyuhyun tidak menjawab. Ia terlalu sibuk memerhatikan betapa menariknya Donghae dengan jumper putih dan celana jeansnya. Skinny ripped jeans. Headset merah melingkar di lehernya. Rambutnya yang sedikit panjang dan kecoklatan terlihat berantakan dan itu…. sungguh keren.
"Kyuhyun! Tidak sopan sekali, Donghae menyapamu dan kau hanya diam saja" ibunya memperingatkan.
Kyuhyun terhenyak dan merasakan wajahnya memerah. Ia pasti telihat sangat bodoh dan oh Tuhan! Dirinya masih mengenakan piyama dan sandal bulu! Dan entah bagaimana rambutnya saat ini, dan pasti dirinya adalah kutu buku dengan kaca mata tebalnya. Bahkan ia belum mencuci mukanya! Kyuhyun panik. Ia berkedip cepat beberapa kali dan ia sangat panik! Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak ada kata kata yang mau keluar dari tenggorokannya. Ia bahkan bisa merasakan tangannya mulai basah karena berkeringat. Ia begitu panik. Kyuhyun yakin ini adalah penampilannya paling buruk dan oh tuhan, mengapa harus di depan Donghae?!
"Keberatan jika aku…" Donghae mengangkat tas belanja milik ibunya, mengisyaratkan ia perlu masuk ke dalam rumah dan meletakkannya dimanapun ia perlu meletakkannya.
Sebelum Kyuhyun mengatakan sesuatu, dan memang ia tidak bisa mengatakan apapun, ibunya sudah berdiri di belakangnya, "Kyuhyun, mengapa kau membiarkan Donghae berdiri di depan pintu? Ayo Donghae masukklah. Kyuhyun bantu Donghae membawa belanjaan ibu ke dapur." Kemudian meninggalkan keduanya berjalan ke dapur.
Kyuhyun mencoba kembali bersikap normal. Ia membenarkan kacamatanya (ada apa dengan kacamatanya hari ini?) sebelum meraih tas belanja ibunya yang masih menggantung di tangan Donghae. Namun tetangga barunya ini menggelengkan kepala.
"Aku bawa satu dan kau bawa satu, adil?" Donghae tersenyum, menunjuk tas belanjaan yang dibawa Kyuhyun.
Kyuhyun mengangguk.
"Tunjukkan saja dimana aku harus meletakkan ini. Di dapur?", tanya Donghae.
Kyuhyun mengangguk lagi dan berjalan ke arah dapur. Donghae mengikutinya dari belakang.
Kyuhyun berdehem sekali, mencoba menemukan suaranya, "Letakkan saja disini". Kyuhyun meletakkan belanjaan ibunya di atas meja. Donghae mengikutinya.
Ibunya menyuruhnya duduk dan berniat membuatkannya teh. "Terima kasih sudah membantuku Dongahe, sekarang duduklah dan akan aku buatkan teh. Kau suka teh kan? Atau mau minuman lain?"
"Aku suka teh. Terima kasih." Donghae tersenyum.
Kyuhyun tidak tahu apakah dia harus berdiri saja atau duduk satu meja dengan Donghae. Dengan penampilanya yang jauh dari mengesankan Kyuhun berharap Donghae pulang ke rumah dan muncul lagi beberapa saat setelah Kyuhyun lebih… representatif. Tapi di sisi lain ia ingin Donghae tetap disini dan menghabiskan tehnya selama mungkin. Mungkin dengan sedikit kesabaran untuk menunggu Kyuhyun mandi dan ganti baju.
"Kyuhyun, kau mau ibu buatkan teh juga?" ibunya bertanya sembari menyiapkan dua gelas dengan masing masing teh celup di dalamnya.
Kyuhyun mengangguk, dan mungkin inilah saatnya yang tepat untuk duduk.
Seperti bisa membaca pikiran Kyuhyun, ibunya mulai memperkenalkan Donghae dan bercerita tentang bagaimana akhirnya Donghae membantunya dengan belanjaannya pagi ini. Ia bertemu dengan Donghae dan ibunya, Nyonya Lee, saat berbelanja di supermarket. Ternyata ibunya sudah terlebih dulu bertemu dan berkenalan dengan Nyonya Lee sebelum Kyuhyun mengantarkan kue ke rumahnya. Beruntung karena Nyonya Lee tidak belanja banyak jadi Donghae bisa membantu membawa keperluan ibunya. Begitulah akhirnya Donghae berakhir dengan secangkir teh dihadapannya di rumahnya. Di dapurnya. Dan melihat Kyuhyun dengan penampilan bangun tidurnya. Apakah ada yang lebih buruk dari ini?
"Kau tidak menambahkan gula, Hyun?"
Kyuhyun menggeleng. Apakah Donghae selalu tersenyum seperti ini? Ini sangat memalukan. Donghae pasti sudah menertawakannya dalam hati.
"Kyuhyunnie tidak suka yang manis manis, Donghae. Ia selalu bilang teh bukan teh jika ditambahkan gula" kata ibunya sembari menyibukkan diri mengatur letak penyimpanan barang belanjaan. Kyuhyun tidak tahu harus berterima kasih pada ibunya atau justru malah sebaliknya, karena Donghae kemudian mengangkat kedua alisnya seperti menyadari ternyata Kyuhyun tidak suka sesuatu yang manis.
Black Forest tentu saja manis.
"Tapi aku suka coklat, kue cokelat. Siapa yang tidak suka cokelat? Semua orang menyukainya. Tidak terlalu manis, kau tahu…uhm…coklat bukan coklat jika terlalu manis. Maksudku, sedikit pahit, dark chocolate?"
Donghae tertawa kecil. Kyuhyun tahu dirinya panik dan Donghae menyadari hal itu. Ia bahkan mengigau tentang cokelat dan kue cokelat dan… ugh, Kyuhyun bisa merasakan ada banyak kupu-kupu dalam perutnya. Dan tentu saja, wajahnya sudah pasti memerah seperti tomat.
"Ya, aku juga tidak terlalu suka yang manis" kata Donghae lembut, melirik ke arah Kyuhyun.
"tapi beberapa hal yang sangat manis ternyata sangat sulit untuk ditolak"
Kyuhyun melihatnya. Jelas sekali Donghae sedang menggodanya. Kata katanya mengisyaratkan sesuatu. Mungkin Kyuhyun terlalu percaya diri, tapi tidak ketika dirinya bisa melihat Donghae bermain dengan senyumnya saat mengatakan hal itu. Kyuhyun ingin melakukan sesuatu pada bibirnya. Ia menggigit bibirnya sendiri saat ini. Tentu saja.
Tunggu dulu. Mengapa Kyuhyun bisa berpikir seperti itu? Oh, pubertas.
Wajahnya memerah seketika. Kyuhyun menunduk dan menenggelamkan pandangannya di dalam cangkir tehnya. Ia tidak mengira akan tertarik secara seksual pada Donghae. Sungguh tidak sopan. Bahkan ia satu ruangan dengan ibunya!
"Pagiiii…..!"
"Ara, cepat sini bantu ibu. Tata dan simpan belanjaan ini di lemari atas atau di lemari es" kata ibunya. Tapi perhatian Ara tertuju pada hal lain.
"Wow, Kyukyu, baru beberapa hari pindah kesini kau sudah punya pacar ya?"
"Ara!" Kyuhyun dan Ibunya berteriak bersamaan, membuat Donghae tertawa kecil.
Ara mengangkat kedua tangannya, "Hey… hey… aku hanya bercanda, tenanglah kalian berdua" ia lalu mengambil tempat duduk di seberang Donghae.
Ara menjulurkan tangannya, "Jadi aku perlu tahu siapa nama pacar baru adikku"
"Ara!" Kyuhyun kembali berteriak. Tapi kakaknya sepertinya tidak peduli. Ibunya hanya menggeleng.
"Donghae, Lee Donghae" Donghae menjabat tangan Ara dengan senyum.
"Hai, Donghae. Aku Ara" kemudian Ara melepaskan tangannya.
"Ya aku tahu." Donghae tertawa.
"Maafkan aku barusan. Aku hanya bercanda." Kata Ara ringan sambil mengambil satu helai roti dan mulai mengoleskannya dengan Nutella. " Lagipula tidak mungkin Kyuhyun membawa pulang pacarnya. Ia tidak pernah punya pacar, kau tahu."
Donghae mengangkat kedua alisnya. "Oh ya?"
"Ara!" Kyuhyun mencoba protes. Wajahnya sudah sangat merah. Ia bahkan bisa merasakan telinga dan lehernya memerah.
Tapi Ara tetap melanjutkanya. Donghae tidak berhenti tersenyum dan sepertinya sangat menyukai pertunjukan kakaknya.
"Ia sibuk dengan buku bukunya. Kau tidak berencana menikah dengan buku buku itu kan, Kyukyu?" Ara menunjuk Kyuhyun dengan pisau penuh coklat.
Kyuhyun menggigit bibirnya dan memberi tatapan peringatan kepada kakaknya. Membuat Ara tertawa. Ia melipat rotinya yang penuh selai cokelat.
"Baiklah Donghae, senang bertemu denganmu," Ara berdiri dari kursinya sambil menggigit rotinya dengan gigitan besar. "Jaga Kyuhyun baik baik, Donghae. Aku pergi dulu." Ia lalu berputar dan mencium pipi ibunya, mengutarakan maaf tidak bisa membantu karena sudah ada janji dengan teman temannya dan berencana pulang malam. Ibunya hanya menggeleng tidak heran sedikitpun dengan alasan anak perempuannya ini. Ia hanya minta supaya handphonenya aktif dan bisa dihubungi kapan saja.
"Bye Kyukyu" ia melambai dan mengedipkan sebelah matanya pada Kyuhyun dan mengatakan dia seksi tanpa suara pada Kyuhyun.
Kyuhyun menunduk meskipun sudah terlambat menyembunyikan betapa merah wajahnya.
Donghae yang menyadari itu langsung menoleh ke belakang mencari tahu apa yang sudah dilakukan Ara kepada adiknya. Ara hanya tersenyum lebar seperti orang tidak bersalah. Ia melambaikan tangan dan pergi menghilang.
Sungguh tidak bisa dipercaya.
[a/n: hey ho! chapter 2 yaey! thanks banget banget buat yang udah review dan sukaaaaa... kalian keren! ^^ oia sekedar tau, fics ini plotnya bakal lambat karena ak pengen hubungan haekyu senatural mungkin, jadi be patient ya.. dan buat yang udah nunggu lanjutan fics lain ehm,,,im not sure, gak bisa janji juga ada sequelnya. yang jelas kalo rated m mungkin pake bahasa inggris (ala kadarnya) karenaaaaaa kalo pake bahasa kok kayaknya vulgar banget yak hehehe... we'll see deh. ok happy reading. love you guys. muach!]
