I'm Single
Cast:
Park Jimin
Min Yoongi
Etc.
Warning: absurd. BL. Typos.
Take your own risk!
.
.
.
.
.
Technically, I'm single.
But my heart is taken by someone I can't have.
.
.
.
.
.
Sial, sial, sial, sialan.
Yoongi membatin setengah gila. Benar-benar miris nasibnya kali ini.
Kemarin malam ia mengerjakan lagu yang diminta perusahaan tempat ia bekerja. Bahkan ia mengerjakan beat hingga pagi, kemudian tidur 3 jam dan kembali mengerjakan lirik hingga malam ini. Deadline yang sudah ditetapkan perusahaan adalah malam ini. Ia sudah memaksakan badannya yang lelah untuk berlari ke gedung perusahaan secepat yang ia bisa untuk memberikan demo dan lirik lagu nya. Ia berlari ke stasiun, lalu segera mengambil kereta termalam hari itu. Sampai di gedung perusahaan nya itu, Yoongi memberikan demo nya ke direksi untuk di evaluasi atau apalah itu. Awal yang baik, para kru sangat mengukai lagu yang ia buat. Sampai akhirnya mereka menanyakan lirik untuk demo itu.
Yoongi ingat, Yoongi sangat mengingat ia telah menulis lirik untuk lagunya itu. Yoongi juga sangat mengingat ia membawanya bersama CD demo nya saat keluar apartemen. Namun kertas sialan itu menghilang begitu saja. Dengan begitu kejamnya, direksi memberinya waktu 2 jam untuk membuat ulang lirik lagunya itu.
Yoongi mengerang keras lalu mengusak surai mint nya frustasi. Bagaimana bisa kertas itu hilang begitu saja? Kenapa sih ia harus se sial ini? Yoongi bahkan sangat mengantuk saat ini. Bayangkan saja, dalam 48 jam yang seharusnya kau bisa tidur 14 jam, kau hanya sempat tidur 3 jam. Yoongi yakin, besok matanya akan berkantung hitam dan ia akan semakin sipit.
"Yoongi-hyung?"
Pintu studio itu terbuka dan menampilkan Hoseok yang penuh keringat di pelipis dan seluruh badan nya. Yoongi hanya membalasnya dengan gumaman sekenanya karena pikirannya sudah terlanjur berkutat dengan ide untuk liriknya. "Kau masih belum pulang, hyung?" tanya Hoseok kemudian menghampiri Yoongi yang memunggunginya. Tidak ada jawaban dari Yoongi, Hoseok memilih untuk menduduki sofa di sebelah Yoongi yang masih sibuk menulis apalah Hoseok juga tidak begitu mengerti. Hoseok membuka tas punggung nya lalu mengambil handuk dan mengelap keringat di wajah dan lehernya.
"Hoseok-ah," Panggil Yoongi tanpa menolehkan kepala sedikit pun kepada sang empu nya nama. Hoseok yang awalnya asik mengelap keringat mengalihkan perhatian nya kepada Yoongi. "Ada apa, hyung?" tanya Hoseok.
"Aku ingin kau tau sesuatu," lanjut Yoongi membuat alis Hoseok bertaut bingung. "Ada apa, sih?" sahut Hoseok penasaran. Jarang sekali Yoongi berkata seperti ini.
"Kau tau tidak," ucap Yoongi kemudian diam sejenak, membuat Hoseok semakin penasaran. Berbagai prasangka-prasangka muncul di benak Hoseok. "Tau apa sih, hyung?" Hoseok semakin penasaran dengan Yoongi yang malah diam.
"Aku –ehem," balas Yoongi kemudian mengangkat kepalanya menatap Hoseok. Entah tatapan Yoongi sulit diartikan oleh Hoseok. Yoongi masih menatap Hoseok dengan tatapan anehnya hingga dua menit berlalu dan Hoseok semakin tidak sabar. "Cepat, katakan lah, hyung." Sela Hoseok.
Yoongi kemudian berdiri dari kursinya dan duduk di sebelah Hoseok yang mengikuti gerak-gerik Yoongi dengan kernyitan bingung. Mau apa hyung nya ini? Yoongi menghela nafas dan menatap Hoseok, lagi-lagi dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hoseok-ah," panggil Yoongi.
"Ya, hyung?" balas Hoseok yang balik menatap mata berkantung Yoongi.
"Lebih baik kau pulang," ucap Yoongi lagi, membuat Hoseok mengernyit bingung. Tidak biasanya hyung nya ini menyuruhnya pulang. Malah sering Yoongi meminta Hoseok menemaninya sampai selesai.
"Waeyo? Kau kenapa, hyung?" balas Hoseok.
"Aku tidak bisa mengerjakan lirik jika ada kau," jawab Yoongi dengan nada menggantung. Hoseok kembali dibuat bingung karena sikap hyung nya ini. Biasanya juga Hoseok menunggu Yoongi dalam studio. "Memangnya ada apa, hyung?" Hoseok bertanya –meminta penjelasan lebih tepatnya.
"Ruangan ini berAC dan kau berkeringat terlalu banyak, Hosiki." Ucap Yoongi kemudian menampilkan cengiran gusi imut nya yang membuat Hoseok ingin mengumpat karena muka innocent buatan itu. Bilang saja Hoseok bau, semua beres. Pakai basa-basi tidak penting segala. Kan Hoseok jadi berpikir macam-macam.
"Iya, Hosiki mu tersayang ini memang bau, hyung." Ucap Hoseok kesal kemudian berdiri dari sofa itu. Yoongi terkekeh setengah bersalah melihat Hoseok yang berjalan ke arah pintu studio.
"Nanti aku akan ke sini lagi setelah mandi, hyung." Ucap Hoseok sebelum menutup pintu. "Jadi kau harus menunggu aku datang, lalu kita pulang bersama, oke?" lanjut Hoseok kemudian berbalik dan meninggalkan Yoongi yang bergumam mengiyakan perkataan Hoseok.
Hoseok berjalan menuju apartemen nya yang berada dekat dengan gedung perusahaan tempatnya bekerja. Ia merenggangkan tangan nya yang pegal dan menguap seperti singa kelaparan.
Beberapa jam yang lalu, ia membuat gerakan-gerakan dance untuk mengevaluasi para trainee –kegiatan rutin setiap bulan nya. Hoseok sangat lelah karena jujur saja, membuat choreo bukanlah hal yang mudah. Belum lagi memutuskan musik yang akan ia pakai sebagai pengiring gerakan yang ia buat. Ia juga harus mempertimbangkan kesulitan gerakan bagi para trainee yang baru sebulan mengikuti pelatihan di perusahaan itu. Gerakan yang ia buat hampir selesai dan hanya tersisa bagian akhir yang rencana nya akan ia serahkan kepada para trainee untuk membuat gerakan mereka sendiri-sendiri.
Hoseok mengipasi tubuhnya di tengah malam –yang menurut Hoseok panas. Ia berencana untuk membersihkan diri, kemudian membeli beberapa camilan yang bisa ia makan sembari menunggu Yoongi dalam studio nanti.
Sesungguhnya Hoseok tidak bisa pulang pagi, mengingat sekarang jam sudah menunjuk ke angka setengah dua belas malam. Ia berjanji kepada salah satu pegawai restoran kakak sepupu nya –yang sangat mahir menari dan pernah menjadi seorang street dancer di Busan, Park Jimin. Hoseok akan mengajaknya pergi mengunjungi perusahaan nya dan menemui CEO mereka –tentu saja jika Jimin setuju untuk bekerja sama dengan nya.
Entahlah, Hoseok memang terlalu berambisi untuk mengembangkan bakat Jimin yang jarang dimiliki orang pada umumnya. Apalagi Jimin memiliki wajah tampan seperti para idol di perusahaan tempatnya bekerja. Ia merasa sangat beruntung bisa menemukan Park Jimin sebagai pegawai café milik kakak sepupunya –walaupun pertemuan mereka terkesan lucu dan tidak elit. Hoseok, sih masa bodoh dengan pertemuan tidak elit atau semacamnya, yang terpenting ia bertemu dengan Park Jimin kembali.
Merasa jam terus memburunya, Hoseok semakin mempercepat langkahnya menuju gedung apartemen tempat ia tinggal.
Yoongi bangun dari tidurnya yang cukup nyenyak semalam. Ia masih ingat raut wajah menganuk Hoseok yang menemani nya semalaman suntuk sampai ia selesai mengerjakan lirik dan memberikan nya pada direksi mereka. Kemudian Hoseok mengantarnya pulang dan ia masuk dengan pikiran setengah sadar ke dalam apartemen kesayangan nya. Yoongi sempat melihat sekilas pintu apartemen tetangga baru nya. Masih sama seperti terakhir kali Yoongi melihatnya, tertutup rapat dan tidak ada tanda-tanda akan terbuka –dibuka lebih tepatnya.
Sesungguhnya, Yoongi sangat penasaran dengan siapa yang tinggal di depan apartemen nya ini. Namun, sampai sekarang –terhitung tiga minggu, orang itu pindah ke apartemen depan dan menjadi tetangga nya, ia sama sekali belum bertemu dengan laki-laki itu. Entahlah, mungkin ia memang tidak berjodoh dengan tetangga baru nya itu –ehm, maksudnya berjodoh dalam artian belum bertemu. Dari kemarin, Yoongi akui ia memang belum keluar dari apartemen nya sama sekali karena harus menyelesaikan lagu perusahaan.
Namun anehnya, giliran Yoongi keluar dari apartemen nya, namja yang menempati apartemen di depan apartemen Yoongi malah sama sekali tidak menampakkan batang hidung nya. Yoongi sering kali berkeliaran di depan apartemen nya –siapa tau saja ia akan bertemu dengan tetangga baru nya itu. Namun, hasilnya nihil. Yoongi belum pernah sekali pun bertemu dengan namja tetangga nya itu.
Yoongi sesungguhnya tidak ambil pusing dengan apa yang membuat tetangga baru nya itu terlalu sibuk sehingga untuk menyapa tetangga baru nya saja tidak sempat. Yoongi sempat heran, kemana sopan santun tetangga baru nya itu. Namun sekarang yang terpenting adalah ia harus menemui direksi dan atasan nya di perusahaan untuk membicarakan tentang lagu baru yang baru ia selesaikan tadi malam.
Yoongi sangat berharap mereka menyukai nya, walaupun lirik lagu itu sempat hilang entah kemana dan Yoongi terpaksa menyusun ulang kalimat dan kata untuk lagu nya itu. Yoongi mungkin jenius, tapi ia tidak mungkin akan mengingat segala kata demi kata pada lirik yang telah ia tulis malam itu. Mengingat ide nya membuncah saat itu dan biasanya Yoongi akan menyadari ia telah menulis lirik saat sampai di akhir-akhir lagu nya.
Tidak mirip juga tidak masalah sih, pikir Yoongi. Alasan pertama, Yoongi sudah cukup membuang waktu tidurnya yang berharga dan membuang kerja keras semalaman dengan sia-sia –karena menghilang nya kertas sialan itu. Dan alasan kedua adalah Yoongi merasa bersalah dengan merepotkan Hoseok semalam. Namja yang lebih muda setahun dari nya itu bersikeras untuk tetap menemani Yoongi sampai selesai. Padahal Yoongi melihat dengan jelas gurat lelah dan mengantuk di wajah Hoseok malam itu.
Sebagai ganti nya, Yoongi akan mengajak Hoseok makan siang bersama nanti dan ia akan membayarnya.
Jung Hoseok memang terlalu baik.
Siang itu, Jimin menunggu Hoseok –sepupu dari pemilik café tempat ia bekerja. Mereka berjanji akan bertemu di depan sebuah halte bis, dekat dengan café Seokjin-hyung. Rencana nya memang mereka akan bertemu jam sebelas siang, namun sampai sekarang Hoseok belum juga menampakkan batang hidung nya. Jimin mengambil ponsel pintar nya lalu mengetik sesuatu.
To: Jung Hoseok
Hyung? Kau ada dimana?
Sent.
Kemudian Jimin tersentak dengan tepukan pelan di bahu kanan nya. Ia reflek menoleh kaget kepada pelakunya. Dan ia menemukan Hoseok dengan senyuman kuda yang sangat lebar dengan gurat lelah yang tersirat dari mata berkantungnya.
"Baru saja aku mengirimimu pesan, hyung." Jimin berkata sambil membalikkan badan nya menghadap Hoseok. "Maafkan aku, tadi alarm yang kupasang terlalu pelan –kau tau." Jelas Hoseok dengan sedikit kekehan dan rasa bersalah. Jimin hanya tertawa, "Tidak apa, hyung. Aku tau kau pasti lelah." Jawab Jimin membuat Hoseok berkerut bingung karena pernyataan itu. "Jangan tanya dari mana aku tau kau sangat lelah, kantung mata hitam itu baru saja menjelaskan nya padaku." Lanjut Jimin lugas sebelum Hoseok bertanya. Hoseok tertawa lepas.
Ternyata Park Jimin tidak seperti yang selama ini ia bayangkan. Hoseok mengira Park Jimin adalah sosok pendiam yang menjaga imej tampan nya kepada setiap orang. Namun kenyataan malah sebaliknya, Park Jimin sangat aktif berbicara jika kau sudah mengenalnya –akrab lebih tepatnya. Kepribadian nya mirip dengan Hoseok –namun jelas Hoseok lebih berisik dan lebih keras. Dan jangan lupakan Jimin yang akan mudah merajuk jika ia menginginkan sesuatu. Hoseok bahkan baru saja mengenalnya satu hari dan ia mendapatkan bahwa Jimin memang sangat mudah bergaul –berbanding terbalik dengan Yoongi yang cenderung antisosial.
"Hyung, kau akan membawaku kemana?" tanya Jimin sambil mensejajarkan langkahnya dengan Hoseok. "Ke perusahaan tempatku bekerja, kau keberatan?" tanya Hoseok yang terdengar agak gugup –takut mendengar penolakan Jimin. "Wow. Tunggu sebentar. Kau akan membawaku ke sebuah perusahaan musik? Untuk apa?" Jimin menghentikan langkahnya dengan tatapan menyelidik namun seperti mengantisipasi suatu jawaban. Hoseok ikut menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jimin. "Untuk memperlihatkan pekerjaanku padamu, untuk membuatmu tertarik dengan semua itu dan untuk merekrutmu menjadi rekan kerjaku mungkin?" ucap Hoseok dengan nada seperti penawar pekerjaan amatir.
Jimin berbinar dengan perasaan kaget. Ia akan mendapat pekerjaan imipian nya? Semudah itu? Kemudian Jimin segera menarik-narik lengan Hoseok dengan begitu semangat untuk menunjukkan jalan ke perusahaan musik tempat kerja Hoseok.
Pukul dua siang, Yoongi selesai dengan kepentingan lagu baru nya. Ia pergi mencari Hoseok untuk mengajaknya makan siang. Biasanya, siang-siang begini pada hari biasa, Hoseok aka nada di ruang latihan bersama para trainee perusahaan. Ruang latihan itu berada di lantai lima gedung bertingkat tujuh itu. Yoongi terpaksa harus menaiki lift untuk sampai ke lantai lima karena saat ini ia berada di lantau dua.
Yoongi menekan tombol berbentuk anak panah naik dan menunggu tepat di depan pintu besi itu. Saat pintu itu terbuka, Yoongi memasuki nya dan baru saja menyadari ada orang lain di dalam lift itu. Seorang namja yang memiliki tinggi hampir sama dengannya, berambut coklat dan memiliki mata sipit dan wajah yang –ehm, cukup tampan. Ia memakai jaket jeans dengan t-shirt polos berwarna putih sebagai dalaman nya. Celana selulut yang dipakai namja itu membuat Yooongi dapat melihat kaki namja itu berotot dan terlihat –ehm, seksi dengan caranya sendiri. Oh, sial. Apa yang sedang kau pikirkan Min Yoongi.
Yoongi menggelengkan kepalanya berkali-kali. Bahkan karena sibuk dengan pikiran nya itu, Yoongi tidak menyadari namja yang berada di lift bersamanya itu sedang memperhatikan nya juga. Reaksi nya hampir sama. Melihat Yoongi yang hanya memakai kaos hitam berlengan panjang kebesaran dan celana jeans dengan sobekan bisa membuat namja itu terpana.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" suara namja itu menginterupsi telinga Yoongi. Yoongi mengangkat kepalanya dan menatap mata coklat memikat namja asing itu. "Ehm, kurasa kita bel–"
"Jimin? Yoongi-hyung?"
Hoseok menatap kedua teman nya itu kaget. Tentu saja, kedua orang yang dipanggil merasakan hal yang sama.
Kaget setengah mati.
tbc.
a/n: oke itu bersambungnya nista banget wkwk. maaf kalo alurnya emg terlalu lambat atau begimana deh, soalnya joker juga ga ngerti haduhh. ada yang ga sabar moment nya minyoon? sabar dikit, deh. chapter depan janji bakal banyak deh momentnya
oiya joker mau balesin review satu-satu nihh:
shuu-ie: iyaa nih wkwk. tapi Yoongi udah mapan, Jimin nya aja yang baru mau buat suka-sukaan nya itu udah mulai ada dikit-dikit wkwk. terimakasih reviewnya yaaaa~
Karuhi Hatsune: okeeeey, makasih ya~ janji chapter depan udah banyak momentnya dehh
minyoonlovers: thanks yaaaa~ udah dilanjut inii
yukinaaa: sudah lanjutt ya beb~ thanks banget reviewnyaaaa
Jimsnoona: woaaaa ada eonni juga /nangis darah/ aku banyak banget follow fav ff eonni:') iyaiyaa hampir sama nasibnya, thanks banget reviewnya yaaaaaa~
Hanami96: iyaaa makasih banget ya~ ini udah ada chapter barunyaaa doain aja semoga ide makin berkembang ya/?
07: haduuhh, gimana yaa /smirk/ mungkin bakal ada sedihnyaa, tapi ga akan sebanyak itu kok soalnya aku pribadi juga ga suka cerita sedih sedih apalagi angst wkwkwk
reniependi07: iyanihh, sampe sekarang juga belom kenalan wkwkwk okay ini udah lanjut yaa~ thanks reviewnyaaaa
Everyonepiece: aduhh, joker ikutan penasaran ah wkwkwk. Thanks reviewnya yaaa~
GithaAC: wkwkwkwk, aduh penasaran yaa /smirk/ joker tanyain sama Yoongi Jimin dulu ya bentar wkwkwk. Thanks reviewnyaa~
glowie93: iya biar bisa saling melengkapi gitu deh wkwkwk. Iya udah ketemu lagi nihh thanks reviewnya yaaa~
EmaknyaJimin: BAHAHAHA, annyeong emaknya jimin haduhh, maafkeun joker ehem. Thanks banget reviewnyaaaaa~
Mbeb: masa iya gaada typo orang banyak gitu kokk. Btw, thanks banget ya reviewnyaaa~
Running Man: thanks yaaa ini udah lanjut chapter 2~
Okay, thanks buat semua yang udah ngefollow ato ngefav ff ini, buat para review-nim dan sider thanks jugaaaa~
Last, Review please?
7/6/2016
Jokersii.
