Title: Cerry
Chapter: 3/?
Pairing: HaeKyu (Donghae/Kyuhyun)
Warning: -
Disclaimer: plot cerita milik author
Donghae membiarkan laptopnya menyala. Kursornya berkedip kedip bosan dintara deretan huruf huruf. Buku bukunya berserakan di tempat tidurnya. Tidak banyak yang bisa ia lakukan sekarang. Tidak ketika Kyuhyun jauh lebih menyita perhatian ketimbang tugas akhirnya.
Donghae menghela nafas. Ia merebahkan diri di tempat tidurnya dan memandang langit langit kamar. Ia memejamkan mata sejenak hanya untuk mengingatkan dirinya Kyuhyun punya senyuman yang manis. Ia membuka matanya lagi. Kyuhyun siswa SMA. Kelas dua. Belum genap tujuh belas tahun. Sekali lagi, belum genap tujuh belas tahun. Bahkan mungkin orang yang belum mengenalnya akan mengatakan Kyuhyun dua atau tiga tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Sedangkan Donghae, dirinya hampir dua puluh satu tahun. Dua puluh satu tahun. Donghae menghela nafas panjang. Apalagi yang bisa membuatnya semakin tidak bersemangat mengerjakan tugasnya?
Tentu saja empat tahun tidak terlalu buruk. Tapi cukup mengerikan.
Donghae menghela nafas.
Bagaimana mungkin ia akan mendekati anak sekolah yang bahkan belum punya kartu identitas selain kartu pelajar? Donghae bahkan tidak yakin Kyuhyun pernah mempunyai hubungan khusus dengan orang lain. Gadis lain. Laki laki lain. Donghae tidak ingin membayangkannya.
Tapi apa yang bisa ia lakukan? Kyuhyun sangat menarik. Ia bukan hanya manis namun juga tampan. Lembut dan cantik dan berkarakter pada saat yang sama. Perpaduan yang sempurna. Tentu saja, Kyuhyun juga sangat pemalu. Donghae melihatnya sebagai sesuatu yang menggemaskan. Melihat wajahnya memerah adalah favoritnya yang pertama sekarang. Yang kedua, kebiasaannya menggigit bibirnya. Semoga Kyuhyun sadar hal itu adalah suatu kejahatan.
Membuat acara minum teh kemarin pagi kembali lagi dalam ingatannya.
Ia tidak menyangka akan melihat Kyuhyun begitu menggemaskan namun juga begitu lembut dan hangat disaat yang bersamaan. Donghae ingin memeluknya saat itu juga ketika ia masih mengenakan piyama yang terlihat satu atau dua ukuran lebih besar dari tubuhnya. Membuat Donghae kesulitan mengalihkan pandangannya dari halus dan putihnya kulit leher Kyuhyun. Donghae mencoba sekuat tenaga untuk tidak menelan ludah dan langsung menyerangnya. Sandal bulu panda dan kacamata kutu buku yang Kyuhyun kenakan hanya memperburuk sirkulasi darahnya. Kyuhyun tampak sangat… sangat… sangaaaaaat lembut untuk dipeluk, dicium , di…di…
Donghae menggelengkan kepala. Ia bukan bukan seorang barbarian. Ia yakin tertarik pada Kyuhyun lebih dari sekedar fisiknya saja. Namun ketika Kyuhyun dan piyamanya -sengaja atau tidak - berkonspirasi membuat imajinasinya menjadi liar bisa apa Donghae? Ia laki laki dan dua puluh satu tahun!
Donghae memperhatikan caranya memegang cangkir teh dengan kedua tangannya. Jari jemarinya lentik dan kukunya bening bersih. Betapa pelan dan hati hati saat ia mendekatkan cangkir teh ke bibirnya. Ia memperhatikan bagaimana Kyuhyun meniup teh-nya sebelum meminumnya. Terlihat sangat manis. Sangat... sangat manis.
Donghae juga memerhatikan Kyuhyun saat beberapa kali mencuri pandang ke arahnya. Dan jika ia tertangkap basah, Kyuhyun segera membenarkan kacamatanya dan mengalihkan pandangan pada cangkir tehnya seolah semua hal yang menarik ada di dalam sana. Tentu saja wajahnya akan berubah merah. Dan jika sudah seperti itu, siapa yang tidak tertarik untuk menggodanya. Donghae yakin ia mampu melakukannya sepanjang hari jika saat itu ponselnya tidak bergetar terus menerus.
Ia harus menemani ibunya menghadiri acara pernikahan.
Dan Donghae adalah anak yang baik untuk bersedia mengantar ibunya kemana saja ia diminta, meskipun itu berarti meninggalkan moment bersama tetangga barunya. Takn pernah terpikir acara minum teh bisa sangat menyenangkan.
Ia mengucapkan terima kasih sebelum pamit pada Nyonya Cho. Kyuhyun mengantarkannya sampai pintu depan rumahnya.
"Sekali lagi terima kasih untuk tehnya, Kyuhyun" Donghae tersenyum.
Kyuhyun mengangguk. "Terima kasih juga sudah membantu ibuku"
Donghae mengangkat kedua bahunya, "Kapan saja. Aku senang bisa membantu"
Dan satu hal yang pasti membuat canggung adalah ketika kau tidak benar benar ingin pergi, ketika masih ingin lebih lama menghabiskan waktu, sedangkan tidak ada yang bisa dilakukan untuk membuatnya terjadi.
Donghae ingin mengulur waktu lebih lama, meskipun ia tidak tahu apalagi yang harus dikatakannya.
"Uhm…baiklah, sebaiknya aku pulang. Ibuku tidak suka menunggu" Donghae menghela nafas.
"Iya, kurasa sebaiknya begitu" Kyuhyun mengangguk, menggigit bibirnya.
"Mungkin lain kali kita bisa ngobrol lebih lama?" Donghae tidak yakin ia sedang bertanya atau sedang menyatakan harapannya.
Tapi ketika Kyuhyun tersenyum dan mengangguk hal itu tidak lagi jadi masalah.
-000-
Sore yang tidak terlalu buruk. Donghae memutuskan keluar dari kamarnya. Memikirkan Kyuhyun terlalu lama hanya akan membuat libidonya semakin tidak terkendali. Lagipula tidak ada yang bisa ia lakukan terhadap tugasnya.
Donghae beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar. Ia menuju ke dapur untuk mengambil minuman kaleng dari lemari es. Ia berniat untuk menyalakan TV sebelum akhirnya berubah pikiran setelah melihat pemandangan menarik dari luar jendelanya. Kyuhyun ada di depan rumahnya terlihat sedang kesulitan dengan rantai sepedanya. Donghae memperhatikan wajah Kyuhyun yang begitu serius dengan kedua alisnya yang hampir menempel satu sama lain. Bibirnya tertutup rapat dan kedua matanya terkonsentrasi pada rantai sepeda yang lepas.
Tentu saja Donghae tidak perlu mengingatkan kembali pada dunia ini bahwa ia adalah orang yang baik hati. Untuk itu sudah sepantasnya jika ia meninggalkan rumahnya yang nyaman dan acara TV favoritnya dan lebih memilih untuk menolong tetangganya yang malang.
Donghae meletakkan minumannya dan segera keluar rumah. Ia berusaha tidak terlihat tergesa gesa. Membuat seolah semua ini adalah tanpa kesengajaan dan hanya kebetulan belaka. Campur tangan alam semesta.
"Hyun? Hai.."
Kyuhyun mengangkat kepalanya kemudian membenarkan kacamatanya yang sedikit turun. Berkedip beberapa kali, dan, "Oh… Hai…"
"Ada masalah dengan sepedanya?" Donghae bertanya meskipun jelas sekali rantai sepedanya lepas. Tidak ada salahnya tentu saja.
"Uhm… iya rantai sepedaku lepas"
Donghae mengangguk dan ikut berjongkok. Memposisikan dirinya di sebelah Kyuhyun yang tiba tiba terlihat tidak nyaman dengan kedekatan mereka. Gugup.
"Kau ingin bersepeda sore ini?" tanya Donghae sambil mencoba membenarkan rantai pada jalurnya. Ia bahkan merasa tidak perlu untuk meminta ijin pada Kyuhyun untuk mereparasi sepedanya.
Kyuhyun berdehem dan menjawab, "Ya sepertinya begitu, cuaca sedang baik, tidak terlalu panas"
"Hmm" Donghae setuju. Ia bisa merasakan Kyuhyun mulai salah tingkah meskipun ia lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
Ia ingin menyelesaikannya dan bersepeda dengan Kyuhyun.
"Yep! Selesai!" Donghae menatap Kyuhyun dan tersenyum lebar.
Kyuhyun seketika berdiri dari tempatnya dan mengalihkan pandangan ke tempat lain. Wajahnya memerah. Donghae yakin karena mereka tidak pernah sedekat ini. Kyuhyun terkejut karena Donghae hanya berjarak beberapa inci saja dari wajahnya.
"Te…terima kasih atas bantuanyannya" Kyuhyun berkata setelah beberapa saat bisa menguasai rasa gugupnya. Ia memberikan Donghae kain lap yang sedari tadi ia bawa untuk ia gunakan untuk membersihkan tangannya.
"Sama-sama. Sekarang kau bisa memakainya"
Kyuhyun mengangguk. "Kau…uhm… kau tidak ingin bersepeda juga? Maksudku… cuaca sedang bagus dan tidak terlalu panas dan…"
"Tentu saja", Donghae memotong perkataan Kyuhyun. "Aku sedang ingin mencari udara segar dan berhenti memikirkan tugas kuliah yang seperti tidak ada ujungnya."
Kyuhyun mengangguk.
"Tapi aku punya satu masalah"
"Ya?" tanya Kyuhyun pelan dan hati hati.
"Rantai sepedaku patah", Donghae mengangkat bahunya, putus ada seolah tidak ada yang bisa ia lakukan untuk sepedanya yang malang.
Kyuhyun tertegun sejenak. Dan hanya oh yang bisa ucapkan kemudian. Mengangguk dan menggigit bibirnya.
Donghae mencoba untuk tidak tersenyum. Ia tahu Kyuhyun kecewa, tentu saja ia tahu, Kyuhyun sangat mudah dibaca.
"Baiklah kalau begitu" Kyuhyun melanjutkan.
"Tapi…" Donghae menepuk sepeda Kyuhyun, "kurasa kita masih bisa bersepeda bersama? Maksudku aku bisa mengayuh sepedanya dan kau bisa berdiri di sandaran kaki roda belakang? Terdengar menyenangkan?"
Kyuhyun tertegun. Ia tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Bagaimana?" tanya Donghae, "…kau bisa berdiri di peg itu. Maksudku tentu saja jika kau tidak keberatan. Aku tidak memaksa", ia menunjuk sandaran kaki di roda belakangnya.
Ya ya Kyuhyun tahu. Ia tahu yang mana sandaran kaki yang Donghae maksud. Lagipula ini adalah sepeda miliknya. Hanya saja…wow Donghae baru saja mengajaknya bersepeda bersama. Benar-benar bersama.
"Kau… yakin?" kyuhyun bertanya. Pipinya sedikit memerah dan tentu saja menggigit bibirnya adalah kebiasaan yang mulai Donghae pahami ketika Kyuhyun sedang panik atau gusar atau mungkin ketika... sedang bersemangat.
Donghae mengangguk. Cepat dan pasti.
"Uhm… Baiklah kalau begitu"
"Okay!" Donghae langsung menaiki sepedanya seolah ia berhak melakukan itu. Kyuhyun tidak keberatan tentunya.
Kyuhyun mengambil nafas sebelum meletakkan tangannya di pundak Donghae lalu naik diatas peg sepeda. Kyuhyun tidak ingin terjatuh karena itu akan sangat memalukan. Dan jika tetangga barunya ternyata laki laki yang menarik, maka itu adalah suatu keberuntungan. Keberuntungan yang menciptakan sengatan elektrik pada telapak tangannya yang langsung merambat ke jantungnya yang malang.
Andai ia tahu Donghae pun merasakan hal yang benar benar sama.
"Pegangan yang erat Kyuhyun. Aku tidak ingin kau jatuh"
Aku tidak ingin kau jatuh. Ya Donghae tidak ingin Kyuhyun jatuh. Kyuhyun harus membiasakan diri menerima hal hal manis dari Donghae. Dadanya berdegup sangat kencang padahal Donghae belum mulai mengayuh sepedanya.
"Hmm"
"Okay! Kita berangkaaat…!" Donghae mulai mengayuh sepedanya. Sedikit oleng pada awalnya, membuat Kyuhyun mencengkeram erat pundak Donghae.
"Hahaha….maafkan aku… sudah lama tidak bersepeda"
Kyuhyun membenarkan letak kacamatanya. "Tidak masalah, aku baik baik saja"
Dan seiring laju sepeda mereka yang menerjang angin, Donghae merasa seolah ia sedang menembus cerita baru di kehidupannya. Kali ini, bersama Kyuhyun yang masih asing namun sekaligus akrab di hatinya. Ia ingin mencari tahu bagaimana kisah ini akan berujung.
-000-
Setelah beberapa kali berkeliling di sekitar blok perumahan, Donghae dan Kyuhyun berhenti di sebuah taman yang ramai anak-anak dan orang tuanya bermain. Mereka duduk di kursi taman sambil memegang minumannya masing masing. Donghae membeli cola untuk dirinya dan jus jeruk untuk Kyuhyun.
Donghae terlihat seperti habis berolahraga, wajahnya segar diantara samar samar keringat di dahinya. Ia terlihat begitu senang.
Kyuhyun sendiri belum sepenuhnya reda dari kejutan demi kejutan saat membonceng Donghae. Jalan menurun, rem mendadak, polisi tidur, dan belum lagi Donghae yang sengaja mengolengkan sepedanya hanya untuk membuat Kyuhyun panik. Kyuhyun tidak pernah merasakan bersepeda bisa se-menyenangkan dan menegangkan begini. Mungkin lain kali ia bisa meminta Donghae untuk memboncengnya lagi. Mungkin.
Donghae melihat Kyuhyun tersenyum sambil memandangi kaleng jus jeruk diantara kedua tangan di pangkuannya.
"Tadi itu sangat menyenangkan" kata Donghae. Wajahnya begitu bersinar dan senyumnya belum menghilang sejak tadi.
"Hmm" Kyuhyun mengangguk.
Sore seperti ini dengan sinar matahari mulai meredup dan angin yang bertiup pelan adalah satu diantara sekian banyak definisi tentang damai. Gelak tawa dan riuh rendah orang orang semuanya redam menjadi satu dalam suasana yang begitu dekat di hati. Kyuhyun pun memejamkan mata. Donghae menatapnya. Ia seperti sedang berusaha berjabat tangan dengan keadaan yang baru, udara yang berbeda dan mungkin dirinya. Seseorang yang baru ia kenal. Yang terlalu dini untuk ia simpulkan. Yang dengan sangat tidak adil sudah membuka ruang tersembunyi dihatinya. Ia bahkan tidak tahu ruang itu ada.
Kyuhyun membuka mata dan mendapati Donghae sedang menatapnya. Kedua matanya seperti sedang mengagumi sesuatu. Apakah Donghae sedang mangaguminya. Tapi ia bukan sesuatu untuk dikagumi. Kyuhyun tidak merasa hebat untuk menjadi sesuatu yang patut dikagumi.
Tapi mungkin, hanya mungkin, ia diam diam ingin seseorang melihat sesuatu yang berarti dalam dirinya. Yang membuatnya merasa berbeda.
Donghae tidak mengalihkan padangannya, demikian pula Kyuhyun. Janggal, karena ia tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Kyuhyun selalu, selama ini, merasa tidak nyaman ketika seseorang menatapnya lebih lama dari seharusnya. Tapi, kali ini, ia biarkan Donghae menatapnya. Seolah Donghae berhak untuk melakukan apapun, seolah Donghae berhak mengobrak- abrik aturan aturan yang Kyuhyun jaga untuk dirinya selama ini. Dan sayangnya, seolah Kyuhyun sendiri pun sedang ingin keluar dari aturannya sendiri. Ia ingin menyelami kedua matanya Donghae. Mencari kebenaran tentang apa yang Donghae pikirkan. Ia tidak ingin mendapatkan gambaran yang salah. Ia tidak akan berpegang pada kesimpulan yang tidak nyata. Ia ingin menguraikan segala sesuatunya dengan benar.
Rrrr…
Dan drama pun berhenti.
Keduanya kembali ke dunia nyata – di suatu sore di taman dimana anak anak berlarian tak tentu arah.
Donghae mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Mengusap layar untuk membuka kuncinya dan mulai membaca pesan di ponselnya. Kyuhyun mencoba untuk memberikannya privasi. Ia melempat pandangannya ke tempat lain dan menenggak minumannya karena hanya itu satu satunya cara untuk membuat keadaan sedikit lebih tidak canggung.
Kyuhyun mendengar Donghae berkata oh iya dengan pelan, yang membuat Kyuhyun berpikir pasti Donghae telah melupakan sesuatu. Hal itu membuat Kyuhyun merasa sedikit kecewa. Sore ini akan berlalu dengan cepat. Donghae akan mengajaknya pulang sebentar lagi. Oh Tuhan, bahkan ia sudah merasa begitu berhak atas Donghae.
Donghae menyimpan kembali ponsel ke dalam saku celananya.
"Uhm Kyuhyun, kau ada acara setelah ini?"
Tentu saja Kyuhyun akan membuang semua acara malam ini jika Donghae memintanya. Bahkan jika itu hanya untuk duduk di taman ini hingga tengah malam. Namun, bagaimana jika pertanyaan Donghae hanya untuk sopan santun saja. Donghae pasti tidak peduli apakah Kyuhyun punya acara atau tidak malam ini, karena sejatinya yang ingin Donghae katakan adalah bahwa ia punya acara dan jika Kyuhyun pun punya acara maka… voila… sama! Kemudian Donghae akan mengajaknya pulang.
Meskipun demikian Kyuhyun menggeleng.
Donghae tersenyum lebar. "Apa kau mau menemaniku latihan?"
Kyuhyun tidak tahu apakah ketika dirinya mengangkat kedua alisnya ia sedang mempertanyakan antara latihan apa? ataukah apakah kau sedang memintaku menemanimu? Maksudku..a-ku me-ne-ma-ni-mu?
Kyuhyun berkedip beberapa kali, "Latihan?"
Donghae mengangguk. "Iya. Latihan sepak bola. Kau mau?"
"Kau bermain sepak bola, Hyung?!" Kyuhyun tidak bermaksud terkejut dengan hal ini, tapi mengetahui Donghae seorang pemain bola membuatnya bersemangat.
Hanya saja, Donghae seketika terdiam. Senyumnya hilang dan justru dirinyalah yang terlihat terkejut dengan hal ini.
Kyuhyun tidak mengerti apakah ia telah mengatakan suatu hal yang salah. Tanpa berpikir panjang Kyuhyun buru buru meminta maaf. Wajahnya memerah dan ia mulai menggigit bibirnya. Tidak seharusnya ia mengatakan hal itu. Mungkin dirinya terlalu berlebihan. Mungkin Donghae tidak suka berlebihan.
"Oh…tidak tidak. Kau tidak perlu minta maaf, Hyun. Tidak ada yang salah. Kau tidak mengatakan hal yang salah. Kau…" Donghae menatap Kyuhyun sebelum menunduk dan mengambil nafas panjang.
Kyuhyun tidak berani mengatakan apa apa. Ia bahkan tidak berani bergerak.
Donghae kemudian mengangkat kepalanya setelah seperti ratusan tahun ia menunduk. Ia kembali tersenyum. "Jam tujuh malam ini. Aku latihan bola jam tujuh malam ini. Kalau kau tidak ada acara dan mendapat ijin keluar rumah, aku akan menjemputmu. Tidak akan lama, hanya sampai jam sembilan. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana? Maksudku, tidak apa-apa jika kau menolaknya. Aku tidak memaksa."
Kyuhyun menggelang, "tidak tidak tentu saja tidak… uhm maksudku.." Kyuhyun mengangguk, "Baiklah. Aku tidak keberatan. Iya. Baiklah. Jam tujuh malam."
Donghae tersenyum lebar. Itu jawaban yang ingin ia dengar.
[a/n: Helooooooo from the other siiiide! Took so freaking long am i? hahaha so sorry. Semoga worth to wait ya chap ini :p lagi pengen slow aja biar dapet feelingnya. Dan meskipun kaya ada tarikan seksual disini, bukan berarti bakal ada smut anytime soon. Kyuhyun baru 17 tahun euy! :D yaokay happy reading ya….aaaaaaand jangan lupa review. Apapun komentar kalian bikin semangat tetep nulis. TERIMA KASIH BANYAK ^^ luv u as always *muach*]
