Hoseok mendapat telepon dari CEO nya perihal ia yang akan memperkenalkan Jimin kepada bossnya itu. Ia memang sudah berbicara sekilas kemarin kepada pemilik perusahaan itu, dan boss nya hanya mengiyakan sekenanya seakan tidak tertarik. Dan sekarang CEO nya itu dengan sangat tiba-tiba dan begitu menuntut, meminta Hoseok untuk menemuinya dalam 5 menit, atau pemilik perusahaan itu tidak akan membahas tentang Park Jimin lagi.

Jelas saja Hoseok langsung berlari gila-gilaan ke gedung perusahaan itu –saat masih berjalan santai bersama Jimin. Sebelum Hoseok melesat ke gedung perusahaan itu, ia sempat menyuruh Jimin untuk menunggu di taman yang mereka lewati dan menyuruhnya membeli es krim, permen kapas atau semacamnya lah. Lalu ia memberikan tawaran lain kepada Jimin untuk menunggu di lobby gedung karena Hoseok ada keperluan mendadak dengan CEO perusahaan. Entahlah, Hoseok sudah tidak bisa berpikir saat itu. Beruntung Jimin menurutinya dan mau menunggu sampai Hoseok memberinya pesan nanti. Dan Jimin memilih menunggu di lobby gedung daripada menjadi seperti orang tersesat dengan permen kapas di taman asing.

Dua jam lebih ia meninggalkan Jimin. Terlalu lama, batin Hoseok. Ia merasa bersalah sekaligus takut Jimin sudah kehabisan kesabaran dan pulang tanpa pamit kepadanya.

Hoseok berjalan tergesa menuju lift. Ia segera mengeluarkan telepon pintarnya sebelum pintu lift terbuka dan dengan terkejut, Hoseok melihat kedua teman nya.

Jimin dan Yoongi sedang berdiri begitu dekat saat lift itu memang hanya terisi oleh kedua manusia itu.

"Jimin? Yoongi-hyung?"

Bahkan mereka tidak sadar pintu lift telah terbuka. Benar saja, keduanya mengarahkan pandangan kepada Hoseok seakan ia adalah hantu yang entah datang darimana. Jimin dengan pandangan syok dan muka bodoh serta bingung. Yoongi dengan gurat gugup bercampur kaget dan mulut terbuka –seperti belum sempat menyelesaikan perkataannya.

Astaga. Ada yang tidak beres di sini, batin Hoseok heran.

I'm Single

Cast:

Park Jimin

Min Yoongi

Etc.

Warning: absurd. BL. Typos.

Take your own risk!

.

.

.

.

.

Technically, I'm single.

But my heart is taken by someone I can't have.

.

.

.

.

.

Canggung.

Itulah yang Jimin rasakan saat ini. Tau akan begini jadinya, Jimin tidak akan mengiyakan ajakan makan siang Yoongi –yang awalnya ditujukan kepada Hoseok lalu karena ada Jimin di situ Hoseok mengajaknya juga.

Setelah kejadian di lift –yang sama sekali tidak ia duga, keadaan mereka bertiga menjadi canggung seperti ini. Hanya diam, diam dan diam. Tak ada satupun dari mereka bertiga yang membuka pembicaraan –atau berusaha membukanya. Mereka sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing.

"Jimin-ah," panggil Hoseok memecah keheningan mereka di meja restoran kecil itu. Jimin mengangkat kepalanya, menatap Hoseok karena merasa namanya dipanggil. "Kau besok sudah bisa bekerja sebagai rekanku." Ucap Hoseok dengan senyuman khas. Jimin melotot tak percaya dan mulutnya setengah menganga seperti orang bodoh –walau tetap tampan juga sih. Bahkan ia belum sempat melihat Hoseok bekerja. Bahkan ia hanya menunggu Hoseok selama dua jam lebih di lobby gedung –hingga pantatnya terasa pegal. Bahkan Hoseok belum menepati perkataannya saat di jalan –'membuatmu tertarik dengan semua itu'.

Jimin shock, namun ia bahagia. Sangat bahagia mendengar pernyataan Hoseok yang sangat di luar dugaan itu. Namun ada seseorang yang menyemburkan kuah jajangmyun hitamnya karena mendengar berita itu.

Namja manis bersurai mint dan berkulit pucat –namja yang dipanggil 'Yoongi-hyung' oleh Hoseok.

"A-ah. Kau seorang pelatih tari?" Tanya Yoongi pada Jimin saat acara tersedaknya mulai mereda. Niatnya sih untuk mencairkan suasana –walaupun kedengarannya malah semakin membuat mereka canggung satu sama lain. Sebelum Jimin sempat membuka mulutnya, Hoseok terlebih dahulu menjawab pertanyaan Yoongi.

"Nde, hyung. Ia akan membantuku mengajari para trainee memperbaiki gerakan mereka," ucap Hoseok bersemangat. "Dan kau tau, hyung? PD-nim mengiyakan nya dengan mudah, padahal aku hanya menceritakan bagaimana aku bertemu dengan Jimin. Ini sangat langka." Lanjut Hoseok –kali ini lebih bersemangat dari sebelumnya.

Yoongi hanya menunjukkan wajah blank nya. Ia tau ekspresinya saat ini akan sangat terlihat bodoh. Namun Yoongi tidak bisa untuk tidak gugup karena memikirkan namja tampan yang duduk di hadapannya ini akan ia temui setiap ia datang ke perusahaan –ingat Hoseok dan Yoongi bekerja dalam satu perusahaan yang sama.

Jimin memandang Yoongi yang melongo lucu dengan wajah pucatnya itu. Jelas saja Jimin ingin mengenal lebih dalam, ingin mengetahui seluk-beluk kehidupan namja manis di hadapan nya, ingin melindungi tubuh kurus itu, ingin merengkuhnya dengan lembut, dan ingin mendapatkan atensi Yoongi –hanya untuk dirinya. Jimin menggeleng cepat, ia belum pernah merasa ingin melindungi orang lain seperti ini –bahkan ia belum resmi berkenalan dengan namja di hadapannya ini.

KRINGG!

Jimin yang sibuk dengan pikirannya terkesiap kecil mendengar telepon pintar Hoseok menjerit minta diangkat.

"Ya? Ada ap–, a-apa?!" Hoseok berteriak sedikit panik dengan telepon genggam bertengger tepat di samping telinga kanan nya. "Baik, aku segera ke sana." Ucap Hoseok terburu-buru. Ia melihat Yoongi dan Jimin sekilas, lalu berdiri dari bangku restoran itu.

Yoongi dan Jimin menatap Hoseok bingung dan tatapan Yoongi mengharapkan penjelasan. "Aku ada urusan sebentar dengan temanku, aku akan membayar pesananku dan nikmatilah makanan kalian. Aku pergi duluan." Pamit Hoseok yang langsung berlari ke arah kasir dan membayar pesanannya.

Yoongi bersumpah akan mengumpati Hoseok setelah ini. Ia yakin semua ini hanya akal-akalan si namja kuda itu agar Yoongi dan Jimin mendapat moment berdua. Tapi –sungguh, ini sangat-sangat-sangat lah canggung. Yoongi tidak bisa berbicara dengan jantungnya yang terasa ingin meledak setiap ia bersama Jimin. Degupnya begitu keras dan cepat sehingga telinga Yoongi terasa berdengung karenanya. Terlalu gugup untuk melihat mata hitam tajam itu, terlalu gugup untuk mengangkat wajahnya yang pasti sudah memerah seperti kepiting rebus. Kenapa sih harus ada namja setampan ini? Kan Yoongi jadi tidak waras karena namja ini. Harus apa Yoongi sekarang?

"Hyung?"

Panggilan itu berhasil membuat Yoongi terkesiap kecil dan mengangkat kepalanya yang sedari tadi hanya menunduk menatap makanan di hadapan nya. Yoongi mengedipkan matanya beberapa kali sambil menatap Jimin yang mulai terpana sesaat dengan bola mata indah Yoongi –dan jangan pernah lupakan tatapan manis dari hyung kecil di hadapannya saat ini.

"Kau melamunkan apa, hyung?" tanya Jimin karena jelas terlihat Yoongi melamun dan sama sekali belum menyentuh makanan nya lagi. Yoongi hanya bergeleng dan menggumamkan kata tidak lalu kembali memakan satu piring jajangmyun nya dengan lahap. Beberapa menit tanpa pembicaraan mereka lalui dengan saling melahap makan mereka masing-masing.

"Oh, hyung," Panggil Jimin lagi yang hanya dibalas tatapan menggemaskan dari yang terpanggil.

"Kita belum berkenalan secara resmi," ujar Jimin lalu tersenyum dan mengangkat satu tangan ke arah Yoongi. "Namaku Park Jimin," Jimin berujar masih dengan senyum indah terkutuk itu.

Yoongi dengan sedikit gugup menerima tangan Jimin dengan tangan kurusnya. "Min Yoongi." Jawab Yoongi singkat lalu melepaskan jabatan mereka.

"Kau tau, hyung?" Jimin berujar sembari mengamati wajah manis Yoongi. "Kau mengingatkanku pada boneka beruang biru kesayanganku." Yoongi mengedip bingung, mengerutkan dahinya dan menatap Jimin begitu polos.

"Lalu?" balas Yoongi singkat, dingin dan datar.

"Boneka itu sangat manis, imut dan aku selalu memeluknya saat aku tidur." Lanjut Jimin. "Kau tak akan menyangka seseorang sepertiku menyimpan boneka, bukan?" Jimin terkekeh dengan reaksi Yoongi yang melongo, sibuk berkutat dengan pikiran yang entah apalah, Jimin tidak bisa menebaknya. Jimin mengambil sumpit milik Hoseok –yang bahkan belum disentuh sama sekali oleh Hoseok, lalu mengetuknya pelan pada dahi Yoongi yang berkerut lucu.

"Ey, kau melamun lagi, hyung." Ujar Jimin membuat Yoongi tersadar. "Apa aku setampan itu, hm?" lanjutnya dengan nada luar biasa percaya diri.

Yoongi merengut lucu lalu mengambil sumpit dari tangan Jimin dan mengetukkan sumpit itu ke dahi Jimin. "Terlalu percaya diri," balas Yoongi masih dengan suara datarnya.

Setelah itu, Jimin bercerita banyak hal –terlalu banyak bahkan. Suasana menjadi cair dan Yoongi mulai tertawa seiring dengan gurauan Jimin. Dan tawa manis itu membuat Jimin semakin memuja keindahan sosok Min Yoongi.


Min Yoongi dan Park Jimin.

Semua pengunjung café Seokjin membicarakan mereka berdua yang terlihat sangat akrab di meja paling ujung café tersebut. Shift Jimin akan dimulai sebentar lagi, dan Jimin serta Yoongi sudah datang sejak satu jam yang lalu untuk mengisi perut di café ini sambil mengobrol ringan. Yoongi memang sudah sering berkunjung ke café kakak sepupu Hoseok ini. Ia biasa berkunjung ke café ini bersama Namjoon dan Hoseok –tentu saja karena Hoseok yang mengenalkan café ini kepadanya.

Yoongi baru mengetahui ternyata Jimin bekerja di café ini sebagai pramusaji –yang sangat digilai pengunjung karena ketampanan dan keramahannya.

Yoongi bukan penguntit, oke? Seokjin baru saja memberi tau segalanya tentang Jimin saat Jimin sedang bersiap-siap di ruang ganti untuk pergantian shift kerja. Seokjin bilang, sangat banyak pengunjung –terutama siswi-siswi SMA, yang ngefans berat dengan Park Jimin. Yoongi tidak heran, sih. Jimin tampan dan ramah, tatapannya selalu lembut kepada siapa pun, senyum tidak pernah hilang dari wajahnya.

Tapi ada sesuatu –yang Yoongi bahkan tidak tau apa itu, semacam perasaan khawatir akan segala yang berhubungan dengan Jimin. Ia terlalu populer dan Yoongi entah bagaimana tidak begitu menyukai kenyataannya. Rasa cemasnya pada Jimin dengan begitu banyak orang yang terkagum akan wajahnya, bakatnya, senyumnya –pokoknya Yoongi tidak suka. Itu saja.

"Hei," panggilan itu membuyarkan Yoongi dari pikiran-pikirannya. Yoongi mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk melihat cairan kecoklatan dalam cangkir yang ia pesan. Namja berambut coklat tua dengan tubuh kurus sedang tersenyum ramah kepadanya. Entah sejak kapan namja ini sudah mendudukkan diri pada bangku di hadapan Yoongi. Yoongi menautkan alis dan mengamati pakaian namja asing itu, ia mengenakan baju pegawai –sama seperti baju yang Jimin pakai.

"Jangan melamun terus, nanti ada sesuatu yang masuk." Lanjut namja itu lalu berlalu dari hadapan Yoongi dan menghampiri meja seberang untuk mengambil pesanan tambahan dari pengunjung lain. Yoongi hanya menatap heran namja bertubuh jakung itu. Ia merasa sering melihatnya di suatu tempat.

Pandangan Yoongi mengikuti arah namja itu berjalan dan ia melihat Hoseok. Berdiri tepat di hadapan namja itu dan tersenyum penuh ketulusan –berbeda dengan cengiran kuda yang biasa Yoongi lihat. Yoongi bisa melihat raut wajah Hoseok yang begitu bahagia ketika sedang berbincang dengan namja berambut coklat tua tadi.

Hoseok sedang jatuh cinta rupanya. Yoongi tertawa kecil memikirkannya.

Pandangan Yoongi beralih pada Jimin yang sedang mengantarkan beberapa piring dengan asap mengepul kepada meja di dekat pintu masuk. Senyum itu, lagi-lagi membuatnya merona sesaat. Terlalu tampan. Namun Yoongi tiba-tiba menyadari satu hal. Senyum tulus dan hangat itu tidak hanya untuknya saja. Senyum penuh ketulusan itu Jimin berikan untuk semua orang, bukan hanya untuk Yoongi seorang.

Yoongi tersenyum miris. Mungkin ia memang tidak se spesial yang ia harapkan. Ia hanya orang biasa yang tidak akan memberi kesan menarik kepada siapa pun.

Yoongi bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju kasir. "Bisa aku membayar pesananku sekarang?" tanyanya kepada namja penjaga kasir dengan senyum. "Tentu saja, meja nomor berapa?" tanya namja itu sembari mengetik sesuatu pada mesin kasir. "Meja nomor berap–"

"—Yoongi hyung?"

Yoongi membalikkan badan nya dan menemukan Jimin berdiri di sana dengan ekspresi terkejut.

Jangan bilang Yoongi tidak terkejut Jimin menghampirinya di tengah kesibukannya melayani pelanggan malam ini.

"Kau akan pulang sekarang, hyung? Ah, kalau begitu aku akan meminta ijin Seokjin hyung sebentar untuk mengantarmu pulang," ucap Jimin cepat dan bergerak akan melepas apron nya sebelum Yoongi menahan tangannya lembut.

"Tidak usah, Jimin-ah." Yoongi tersenyum. "Aku tau kau sangat sibuk, aku bisa pulang sendiri. Tenang saja." Lanjut Yoongi meyakinkan Jimin yang masih berniat untuk meminta ijin Seokjin.

"Tapi hyung aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri, oke?" lawan Jimin yang tetap bersikeras ingin mengantar Yoongi pulang.

"Jimin, aku sudah besar," Yoongi masih setia menahan Jimin agar ia tidak pergi ke tempat Seokjin.

"Tapi kau pergi ke sini bersamaku, hyung." Ucap Jimin sambil menggenggam tangan kecil Yoongi untuk melepaskan tangannya sendiri.

"Tapi aku bisa pulang sendiri, Jimin. Café sedang ramai." Balas Yoongi tetap bertahan pada keputusannya.

"Aku hanya ijin sebentar un–"

"Maaf, tapi kalian berdua mengganggu antrian." Potong sang namja penjaga kasir sambil menunjuk beberapa pengunjung di belakang mereka yang sedang menunggu –yang langsung mendapat pelototan galak dari Jimin.

Yoongi yang sadar bukannya bergeser malah dengan cepat mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberinya kepada kasir lalu berjalan keluar café.

"Hyung, tunggu!"

Jimin menarik lengan Yoongi dan membuat Yoongi berhenti dan menatap Jimin.

"Besok lagi aku berjanji akan mengantarmu pulang. Kau bisa pegang janjiku." Ucap Jimin lembut sembari mengusap punggung tangan Yoongi yang terasa dingin dan pucat. Yoongi tertawa kecil dan mengusap pelan rambut Jimin dengan tangannya yang bebas. "Aku pegang janjimu." Ucapnya lalu tersenyum manis yang membuat Jimin ingin melahap hyung nya itu sekarang juga –oh, berpikir apa kau Park Jimin.

Yoongi melepaskan tautan tangan mereka lalu berbalik dan berjalan menjauhi café dengan langkah pelan.

"Hati-hati, hyung!"

Yoongi tersenyum mendengar teriakan Jimin.

Menoleh ke belakang –ke arah Jimin, lalu melambaikan tangannya.


Jimin sampai di apartemennya dengan badan yang hampir remuk. Ia hampir lupa sekitar tiga minggu ini belum pernah bertemu dengan tetangga-tetangganya. Ia selalu pulang malam dan jarang sekali berpapasan dengan orang yang tinggal di depan apartemennya itu. Jimin bahkan tidak tau ia namja atau yeoja, atau mungkin nenek-nenek tua. Entahlah Jimin belum pernah sama sekali bertemu dengan tetangganya.

Sebenarnya ia penasaran sih, tapi di sisi lain ia juga merasa bersalah karena sudah hampir sebulan ia tinggal di apartemen itu namun belum pernah sama sekali menyapa tetangga barunya. Ia tau ini tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi?

Jimin masuk ke apartemennya dan merebahkan tubuh lelahnya di ranjang putih dengan begitu nyaman. Tadi pagi ia memulai kelas pertamanya sebagai pelatih tari di perusahaan musik tempat Hoseok bekerja. Jung Hoseok begitu membuatnya iri karena bakat menarinya yang saat luar biasa dan begitu banyak trainee yang mencintainya sebagai pelatih.

Selain itu, Jimin iri dengan kedekatan Hoseok dan Yoongi. Mereka kadang terliat seperti –ehm, sepasang kekasih. Oh, shit. Jimin bahkan tidak ingin menerima kenyataan jika memang benar mereka berdua adalah sepasang kekasih.

Min Yoongi. Namja berkulit pucat, bersurai hijau mint dan senyum manisnya yang beberapa hari ini selalu menghantui pikiran Jimin. Ia bahkan merasa sering merindukan hyung nya itu walau baru berpisah beberapa jam saja. Jimin berniat untuk berhenti memikirkan Yoongi karena itu akan mengganggu kesehatan jantung dan membuyarkan fokus otaknya. Namun ia tidak bisa.

Ia telah jatuh kepada pesona manis dan dingin seorang Min Yoongi.

tbc.

a/n: haii~ maaf banget updatenya lama. bukan cuma lama sih, bener-bener molor. jujur aja aku udah ngetik ini dari setelah aku nyeselesaiin chap 2. tapi aku berasanya ga ngefeel banget jadi aku mutusin buat nulis ulang walaupun hasilnya juga sama aja kek begini. Maaf banget kalo hasilnya malah bikin kalian semua kecewaa:(

thanks buat semua yang udah review, yang udah ngefollow ataupun ngefav ff ini, para readers setia, para siders dan buat semuanya ajaaa:)

last, review please?

16/07/2016

Jokersii.