Can't Say
Soonyoung II Seokmin II Soonseok II Rated T II Chaptered II This is gonna be sad II Boys X Boys II Yaoi II OOC II sorry for typo II Mind to Review?
Disclaimer :
Cast punya tuhan YME,orang tua dan agensinya. Ff ini murni dari pikiran author,dilarang mengcopas plot ff ini.
Don't Be Plagiariz'm
A story by : Sol-ie
Summary :
Kehidupan soonyoung tadinya sangat tentram dan baik-baik saja sebelum bertemu dengan namja yg bernama seokmin. Namja yg selalu menghantui mimpinya setiap malam sambil menyebut nama 'youngie'. Disaat itu juga,dia menemukan adik mungilnya,jihoon yg dari tujuh tahun lalu menghilang dari hidupnya.
Enjoy!
Happy reading~
*00o00*
"Tak apa jika kau tidak mau cerita. Aku bisa menunggu sampai kau siap. Tetapi menurutku, masalah itu lebih baik dibicarakan bersama agar bebanmu menjadi lebih ringan."
Soonyoung mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya lalu melepas pelukannya pada tubuh seokmin. Dia mendongak,menatap seokmin dengan jejak-jejak air mata yg masih tertinggal di pipi chubbynya.
"Tidak,seokmin. Aku akan menceritakannya.." ucap soonyoung bulat.
Seokmin mengangguk lalu meminum kopi yg dibawakan oleh soonyoung tadi. Dia berusaha mendengarkan dengan seksama penjelasan soonyoung memgenai permasalahannya dengan jihoon tujuh tahun lalu. Permasalahan yg memisahkannya dengan kedua orang yg sangat disayangi dan dicintainya dulu.
Chapter 2
Seokmin mengendarai mobilnya di atas rata-rata kecepatan biasanya. Sejak pulang dari apartement soonyoung emosinya meluap-luap seperti akan meledak. Dirinya tidak tahu bahwa permasalahan tujuh tahun lalu disebabkan oleh dirinya sendiri. Tidak,lebih tepatnya keluarganya. Kata-kata soonyoung masih terngiang di telinga seokmin,telinganya menangkap dengan baik apa yg didengarkannya.
"Aku dan jihoon dulu adalah kakak beradik. Aku dan jihoon memiliki seorang teman bernama DK, dia selalu ada bersama kami. Kami jbertiga selalu menghabiskan waktu bersama dulu,menjadi sahabat yg saling setia satu sama lain sebelumnya semuanya berubah. Waktu itu aku menunggu jihoon pulang sekolah di ruang tamu. Harusnya jihoon pulang sejak sore tadi,namun dia belum pulang juga. Aku berinisiatif mencarinya sendiri,aku sudah mencari-caru kemana mana namun tidak menemukannya.." soonyoung menarik nafas lagi,mencoba menahan air mata yg sudah menumpuk di kelopak matanya.
"Sudah berhari-hari jihoon tidak ada dirumah. Aku sudah menelfon semua orang yg dekat dengannya. Gurunya dan teman-temannya namun mereka bilang tidak tahu. Hingga aku mulai menemukan kejanggalan saat jihoon pergi. Aku melihat lemarinya sudah kosong, tidak ada barang-barang ataupun pakaian jihoon disana. Aku menyadari,jihoon bukan hilang tetapi dia kabur dari rumah. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi setelah itu,dia seperti hilang ditelan bumi. Dan sekarang,aku menemukannya sedang hujan-hujannan."
Seokmin membanting stirnya kasar. Bodoh,dia merasa bodoh sekali karna membiarkan ayahnya mengetahui persahabatannya dengan jihoon dan soonyoung. Ini semua karna dirinya, karna dia yg dengan bodohnya menjawab saja saat ayahnya bertanya tentang asal-usul sahabatnya itu. Harusnya dia tidak usah mejawab dulu,tidak usah menjawab pertanyaan ayahnya yg terkesan dingin dan tidak suka dia bersahabat dengan soonyoung dan jihoon.
Setelah soonyoung menjelaskan mengapa dia dan jihoon berpisah dulu,seokmin dapat menyimpullan bahwa jihoon pergi dari rumah setelah terakhir kali mereka bermain sore itu . Di taman,saling berjanji untuk setia satu sama lain. Dan sepulang dari sana,ayahnya langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan mengenai asal-usul kedua sahabatnya itu.
Seokmin tahu,ayahnya-lah yg mengancam jihoon agar dia tidak mendekati seokmin yg notabene adalah anak pewaris dari Lee corp. Walaupun belum mendengarkan langsung dari mulut ayahnya,seokmin yakin bahwa itu benar. Dan karna ketakutan ,jihoon menurut saja lalu mengemasi barangnya dan kabur dari rumah.
Kenapa penyesalan selalu datang di akhir? Seokmin sangat menyesal pada soonyoung sekarang. Kenapa saat dia ingin memulai hidup baru dengan nama Lee Seokmin dan berusaha untuk mendekati soonyoung malah enjadi semakin rumit saja? Bagaimana caranya memberitahu fakta bahwa ayahnya-lah yg mengancam jihoon untuk rasa kepalanya akan segera pecah setelah ini. Seokmin bertekad,dia akan memulai hidupnya yg baru. Membangun persahabatannya dengan kedua namja mungil yg sudah dia sakiti itu. Membangun kembali persahabatan yg runtuh tujuh tahun lalu. Seokmin akan membangunnya kembali dari nol. Mulai dari nama aslinya,lee seokmin. Dia akan tampil sebagai Lee seokmin,bukan Dokyeom lagi. Seokmin tidak berniat untuk kabur dari masalah,tetapi dia akan membiarkan kedua sahabat mungilnya mengetahuinya lambat laun.
.
.
.
Lee's mansion, gangnam, seoul, south korea
21 : 35
Seorang wanita paruh baya mondar mandir di ruang tamunya dengan raut wajah penuh kecemasan yg sangat kentara. Siapa ibu yg tidak akan cemas jika putranya belum pulang hingga larut malam? Dia sudah berkali-kali menghubungi seokmin putranya,namun ponselnya selalu saja tidak aktif.
"Nyonya,Tuan muda sudah datang.."
Seruan dari bibi jang,salah satu kepala pelayan di rumahnya membuat wanita paruh baya itu mengulas senyum manisnya. Segera dia berdiri untuk menyambut kedatangan putra bungsunya.
Mrs. Lee yg melihat putranya pulang dalam keadaan basah langsung memberikan handuk dan mengusap seluruh bagian tubuh putranya. Seokmin menepis tangan ibunya, dengan sedikit kasar,membuat sang ibu bingung dengan sikap putranya yg terkesan dingin.
"Ibu,dimana ayah?" Tanya seokmin
Mrs. Lee menunjuk kamarnya dan sang suami yg terletak di lantai atas. Sekarang pasti su aminya sedang berkutat di ruang kerjanya,namun kenapa seokmin menanyakannya? Tidak biasanya anak ini menanyakan keberadaan ayahnya. Pikir mrs. Lee
Seokmin berjalan duluan tanpa membalas perkataan ibunya,dia berjalan manuju kamar ayahnya yg terletak di lantai atas. Mrs. Lee yg menyadari ada yg tidak beres segera menyusul langkah lebar seokmin menuju kamarnya dan suaminya.
Brakk
Seokmin membuka pintu dengan kasar,membuat seorang pria paruh baya dengan kaca mata yg membingkai wajahnya mendongak dan menatap seokmin dengan sengit. Mr. Lee menatap seokmin sengit sebentar lalu kembali larut dalam kegiatannya membaca koran sambil duduk di atas sofa.
Seokmin mendekati tempat ayahnya duduk dan berdiri tepat dihadapan sang ayah yg sudah selesai membaca koran dan melipat koran tersebut.
"Ada apa Lee seokmin? Kenapa kau membuka pintu dengan kasar seperti itu? Tidak sopan sekali." Ujar Mr. Lee sarkastik
Seokmin tidak peduli dengan ucapan ayahnya,dia masih berdiri di depan ayahnya dengan tatapan membunuhnya. Mrs. Lee yg berdiri di depan pintu,tidak berani mendekati kedua anggota keluarganya yg sedang bertengkar itu. Dia lebih baik tetap berdiri disini agar tidak memperkeruh suasana disana
"AYAH, AKU TAHU APA YANG AYAH LAKUKAN PADA JIHOON DULU. KENAPA AYAH MELAKUKANNYA?!" Teriak seokmin penuh emosi. Dia muak,muak dengan sikap ayahnya yg selalu mengatur hidupnya dan menjadikan dia sebagai boneka.
Mr. Lee tertawa kecil seraya kembali menatap putranya yg menatapnya dengan mata berkilat marah.
"Memangnya kenapa? Bukankah mereka pantas mendapatkannya? Kau tidak usah bergaul dengan mereka lagi. Ingatlah kau adalah salah satu putra dari mr. Lee hyosin seokmin!"
Seokmin mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Cukup sudah,kesabarannya sudah habis.
"TETAPI AYAH TIDAK PERLU MENGANCAM JIHOON SAMPAI ANAK ITU TAKUT DAN KABUR DARI RUMAH. MEREKA TIDAK BERSALAH,AKULAH YG BERSALAH DISINI. JADI JANGAN PERNAH HUKUM MEREKA SESUKA AYAH!" seokmin mengeluarkan emosi yg sedaritadi dia tahan ,dadanya naik turun akibat menahan emosi yg meluap-luap dalam dirinya.
Mrs. Lee yg berdiri di depan pintu tidak bisa untuk tidak menangis. Dia menangis sesenggukan di depan pintu. Bibi jang yg sedaritadi menemani Mr. Lee mengusap-usap punggung wanita paruh baya itu. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan majikannya yg menangis karna melihat putranya bertengkar dengan suaminya sendiri.
Mr. Lee yg membenarkan letak kacamatanya lalu menarik nafasnya.. "Ayah tidak peduli siapa yg salah disini,yg jelas kau tidak boleh dekat-dekat dengan mereka lagi atau mereka akan terluka nantinya.."
Setetes air mata jatuh dari kelopak mata seokmin.
Brukk
Namja bersenyum cerah itu merendahkan dirinya lalu berlutut di depan ayahnya yg sedikit tersentak.
Seokmin mulai terisak namun buru-buru dia menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
"Kumohon,kumohon padamu untuk jangan menyentuh sooonyoung dan jihoon lagi. Aku akan melakukan apa yg ayah mau,asalkan ayah jangan menyentuh mereka." Mohon seokmin sambil terisak.
Mr. Lee mengukir senyum kemenangannya. Dia mengangkat bahu seokmin untuk berdiri dari posisi berlututnya,lalu mengangkat dagu putranya tersebut.
"Anak pintar,itu baru putra dari presdir lee. Sekarang pergi dan bersihkan dirimu,kau terlihat sangat menyedihkan sekali." Mr. Lee menengok k arah pintu dimana berdiri disana dan disampingnya ada bibi jang.
"Hyojin-ah, bawa putramu ini dan suruh dia membersihkan dirinya. Merepotkan sekali.." lanjut Mr. Lee mencoba berdiri dan masuk ke dalam ruang kerjanya lalu menghilang dibalik pintu.
Mrs lee yg merasa dipanggil oleh suaminya segera masuk ke dalam. Wanita paruh baya itu menghapus jejak-jejak air mata di pipi putranya. Dengan perlahan,diabawa seokmin menuju kamarnya lalu dibaringkannya tubuh tegap itu.
Mrs. Lee mengusap-usap rambut seokmin dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Ibu akan mencoba bicara pada ayahmu. Kau pergilah ganti baju dan istirahat. Kau pasti lelah seharian ini.."
Setelah mengucapkan kata-kata itu mrs. Lee berjalan menuju pintu dan memutar kenopnya lalu kembali menutup pintu itu perlahan.
Seokmin menatap langit-langit kamarnya dengan sendu. Rasa marah,menyesal dan sedih bercampur menjadi satu dalam hatinya. Dia marah karna sikap ayahnya yg begitu kejam pada kedua sahabat yg sangat disayanginya. Dia menyesal karna terlambat mengetahui kenyataan dan membiarkan orang yg dicintainya menanggung deritanya sendirian tanpa bantuan orang sedih melihat keadaan kedua sahabatnya yg terpisah dulu,lalu bertemu dalam keadaan seperti ini.
Maaf
Hanya kata itulah yg ingin seokmin katakan pada soonyoung. Jika dengan berlutut atau mencium kaki soonyoung agar namja bermata sipit itu memaafkannya,seokmin rela. Dia akan melakukan apapun yg soonyoung perintahkan padanya sebagai penebusan kesalahannya yg dulu.
Maaf,karna dia terlambat mengetahui kebenarannya dan membirkan namja bermata sipit itu menanggung penderitaannya sendiri.
Maaf,karna dia meninggalkan soonyoung begitu saja tanpa berpamitan terlbih dahulu.
Maaf,karna dirinyalah yg membuat kedua kakak-beradik itu berpisah selama hampir tujuh tahun lamanya.
Kilasan memori itu mendadak terlintas di kepala seokmin. Memori indahnya bersama kedua sahabat mungilnya,memori yg saling mereka sepakati untuk tetap menyimpannya dalam pikiran dan hati masing-masing.
*00o00*
Soonyoung berdiri di depan pantai kampung halamannya,namyangju . Sambil mengukir senyum,soonyoung mulai masukkan kakinya ke dalam air laut yg segar. Hampir tujuh tahun silam soonyoung tidak mearasakan air laut yg segar seperti ini.
Brukk
Soonyoung berbalik saat merasakan punggungnya ditabrak oleh sesuatu dari belakang. Dia menoleh dan mendapati seorang anak kecil berambut blonde sama sepertinya,,tengah menangis sambil mengusap-usap matanya. Soonyoung hendak menolong anak yg jatuh itu,namun sebuah seruan menarik perhatiannya.
"Youngie.."
Deg
Soonyoung membatu saat mendengar kata youngie yg baru saja di lontarkan oleh seorang anak laki-laki kecil dari kejauhan. Anak laki-laki itu,soonyoung seperti mengenalnya. Dia mirip dengan sahabatnya dulu,sahabatnya yg selalu mengulurkan tangannya saat dirinya jatuh. Soonyoung membuyarkan lamunannya dan kembali memperhatikan kedua anak kecil di hadapannya.
Anak laki-laki berambut coklat mengulurkan tangannya pada anak laki-laki berambut blonde yg sedang menangis dan langsung dibalas oleh anak berambut blonde itu.
"Ck, dasar ceroboh. Kan sudah kubilang jangan berlarian seperti itu, youngie..." anak laki-laki berambut coklat itu kini menghadap anak yg dipanggil youngie . Anak laki-laki itu lalu membungkuk meminta maaf pada soonyoung kemudian berjalan bersama anak berambut blonde.
Tiba-tiba semuanya gelap dan berpindah tempat. Sekarang soonyoung duduk di sebuah bangku taman dan dihadapannya ada anak laki-laki yg menabraknya saat di pantai tadi.
Yg dirasakan soonyoung sekarang adalah dia bingung,kenapa pantulan dirinya sewaktu kecil berada tepat di hadapannya sendiri.
"Hey,youngie."
Soonyoung menoleh ke arah seorang anak laki-laki yg memanggilnya dengan sebutan youngie. Sebenarnya ada apa ini?
Anak laki-laki berambut blonde tersenyum saat melihat sahabatnya berlari menuju ke arahnya. Anak laki-laki berambut blonde itu memeluk anak laki-laki berambut coklat yg baru datang dihadiahi usapan lembut pada rambut blondenya.
Soonyoung tersenyum kecil melihatnya, dia ingat dulu dia pernah seperti itu bersama DK.
"Aku merindukanmu youmie.." rengek si rambut blonde dengan nada manja. Anak berambut coklat yg dipanggil youmie mencubit gemas hidung si blonde membuat si blonde mengerucutkan bibirnya lucu.
"Aku hanya pulang sebentar. Oiya youngie,aku ingin mengatakan sesuatu.." ucap anak laki-laki bernama youmie tersebut.
Youngie mengernyit bingung namun dia mengangguk setelahnya. "Katakan saja.."
Youmie menarik nafasnya lalu mengeluarkan seikat bunga mawar dari punggungnya. Dia memberikannya pada anak berambut blonde.
"Aku menyukaimu youngie.. Kau jangan pergi dariku ya.."
Soonyoung terkikik melihat ekspresi wajah anak laki-laki yg berambut coklat. Harusnya kan wajah youngie yg memerah tetapi kenapa wajah youmie yg memerah?
Youngie yg tidak mengerti apa yg dikatakan oleh sahabatnya mengangguk semangat. "Tentu saja,youmie"
Youmie memeluk tubuh mungil youngie dan mengusap rambut blondenya dengan penuh kasih sayang.
"Aku sayang padamu soonyoungie.."
"Aku juga dokyeomie.."
Deg
Soonyoung membeku mendengarnya,tanpa disadari olehnya air matanya jatuh begitu saja saat mendengar si blonde yg memanggil anak berambut coklat tadi dengan nama dokyeomie.
'Dokyeom,aku merindukanmu..' batin soonyoung. Air matanya terus mengalir di pipi chubbynya. Dia tidak bisa memungkiri bahwa rindu itu masih menggerogoti hatinya. Rindu yg selama ini terpendam dalam hati kecilnya.
"Youngie-ya.."
Soonyoung berbalik saat mendengar seseorang memanggil namanya. Dia terkejut saat melihat siapa yg memanggilnya. Tidak, bukan anak tadi yg memanggilnya,tetapi orang yg baru saja pulang dari apartementnya,seokmin. Lee seokmin.
Soonyoung dapat melihat seokmin tersenyum padanya. Senyuman seokmin mengingatkannya pada sosok dokyeom yg memiliki senyum cerah seperti matahari.
"Youngie.."
Soonyoung menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mungkin bahwa seokmin itu dokyeom.
'Tidak,tidak mungkin. Dokyeom..' Setelahnya semuanya gelap, dan soonyoung merasakan tubuhnya mati rasa.
"Tidak,dokyeom.."
Soonyoung membuka matanya degan nafas terengah-engah dan keringatt yg membanjiri seluruh tubuhnya.
'Apa ini? Jadi,hanya mimpi?' Batin soonyoung.
"Hyung,gwenchana?"
Soonyoung menoleh dan mendapati adik mungilnya,jihoon tengah duduk di sisi ranjang dengan wajah khawatir.
Soonyoung menggeleng sembari berusaha menormalkan nafasnya yg masih terengah. "Hanya mimpi buruk.."
Jihoon menganggukan kepalanya lalu berdiri. "Akan kuambilkan minum.."
Soonyoung mengangguk lalu kembali tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Apa sebenarnya maksud dari mimpi tadi? Sebelumnya soonyoung tak pernah bermimpi seperti itu. Dan kenapa pula seokmin muncul dalam mimpinya?
"Hyung,kau benar-benar tak apa-apa? Dari tadi kau melamun terus."
Soonyoung membuyarkan lamunannya lalu menerima gelas berisi air putih yg dibawa jihon dan meminumnya. Setelah selesai minum,soonyoung meletakkan gelas kosong tersebut ke atas meja.
"Sekarang masih pagi,lebih baik hyung tidur lagi saja.."
Soonyoung melirik jam dinding yg menunjukkan pukul 2 : 00. Benar kata jihoon,masih terlalu pagi untuk bangun. Soonyoung mengangguk dan mengusap surai coklat adiknya lembut.
"Arraseo. Kau juga tidur. Maaf ya membuatmu bangun di tengah malam begini.." sesal soonyoung.
Jihoon buru-buru menggeleng. "Anniya.. gwenchana hyung. Aku juga tidak bisa tidur tadi.."
Jihoon ingin keluar dari kamar soonyoung dan kembali ke kamarnya,namun lengan soonyoung menahan pergelangan tangannya.
"Jihoonnie tidurlah dengan hyung. Hyung rindu tidur denganmu.."
Jihoon merutuki dirinya sendiri,kenapa dia setega itu meninggalkan hyungnya yg begitu sayang padanya dulu. Jihoon berbalik dan mengangguk lalu berjalan menuju sisi ranjang yg kosong disebelah soonyoyung.
Jihoon tidur memunggungi hyungnya. Dia masih belum berani untuk bertatap muka dengan hyungnya barang sesaat saja,karna saat dia menatap iris coklat hyungnya tersebut membuat rasa bersalah jihoon semakin bertambah.
Soonyoung mengerucutkan bibirnya kala adik manisnya malah tertidur sambil memunggunginya.
"Jihoon kenapa memunggungiku?"
Jihoon langsung berbalik saat hyungnya bertanya dengan kesal dan bibir yg dikerucutkan.
"Nah,begitu. Sini,lebih dekat"
Soonyoung menarik tubuh jihoon mendekat padanya,mengusap punggungnya lembut dan menyanyikan lullaby seperti dulu yg dia lakukan sebelum tidur pada jihoon hingga adik mungilnya terlelap.
Soonyoung tersenyum sembari menaikkan selimut sebatas leher jihoon. Dia lalu berdiri menuju dapur. Entah kenapa rasa haus menggerogoti dirinya setelah mengalami mimpi yg luar biasa aneh ditambah kehadiran seokmin ,bahkan dirinya baru mengenal seokmin belum sampai 24 jam.
Soonyoung meminum airnya dalam sekali teguk saking hausnya. Mimpinya tadi benar-benar menguras tenaganya sampai habis.
Ting
Tong
Soonyoung mengernyit,siapa tamu yg datang pada pukul 2 : 00 pagi seperti ini? Soonyoung berjalan menuju pintu apartementanya dengan gelas kosong di genggamannya.
Ceklek
Prang
Gelas di genggamannya jatuh begitu saja saat melihat siapa tamu yg datang di pagi buta ke aartementnya. Dia seseorang yg baru saja pulang dari apartemrntnya. Dia Lee Seokmin datang dengan wajah dan penampilan yg tidak bisa dikatakan baik ditambah bau alcohol yg menguar dari dalam tubuhnya.
"S-seokmin.."
TBC
Makasih buat yg udh review ff ini. *Bow*
감사합니다...
