To Be MAMA

.

chapter 2

.

.

Author: Jeon nami

Main Cast: BTS

Pairing: MINYOON | NAMJIN

Genre: Drama, Parody

Warning: BxB, GS!JIN, typo, garing, dll

thanks to: orhenzzzz, guest, MiniHolly-Nuna, prncsspo, dewiaisyah, vtan368, restirachma, AdelitaJeon, Minsoo-ie, 27tievy, minyoonlovers, wow11.

ihhh thanks buat kalian karna mau baca karya aku yang tak seberapa ini. ^^ dan maaf ya kalau garing /crying

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

"hwaaa,, huweeeee"

Rasanya dia baru tidur sekitar jam 1 tapi sudah harus bangun kembali saat pukul 3. Suara berisik apa ini yang mengganggu kenikmatan tidurnya?

"hyung ? kau terbangun? Maaf ya taehyung memang selalu menangis di jam segini."

yoongi membuka matanya yang hanya segaris itu, pemandangan didepannya adalah namjoon yang menggendong taehyung sambil memberikan susu lewat botolnya. Yoongi menguap, harusnya dia tak tidur disini jika pada akhirnya malah terbangun setelah susah payah dia memejamkan matanya. Yoongi tadinya ingin pulang setelah namjoon sampai diapartment, hanya saja salahkan dirinya yang malas bergerak untuk pulang keapartmentnya sendiri, jadilah dia disini tidur didepan tv dengan selimut tebal pemberian jin.

"kenapa kau yang bangun untuk menidurkan taehyung?" yoongi bertanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"ah itu,, biasanya jinie yang bangun hanya saja dia terlihat lelah sekali malam ini, jadi aku menggantikannya"

"apa sangat lelahkan ?"

"eum, apanya hyung?"

"memiliki anak joon"

"tidak juga hyung, percaya padaku bahwa memiliki anak sangatlah menyenangkan. Hidupmu akan sangat berwarna" namjoon tersenyum menunjukkan lesung pipinya.

"sialan, kau sedang mengejekku eoh? Apa kau pikir hidupku kelabu selama ini?"

"e- eh bukan begitu hyung," namjoon jadi bingung, perasaan tak ada yang salah dalam kata – katanya.

" sudahlah lupakan, kauu.. kapan akan menikahi seokjin ha? Bahkah umur taehyung sudah 8 bulan sekarang"

"ah itu, kami belum memikirkannya hyung. Kan sudah kami katakan padamu kalau kami berdua belum ingin berkomitmen."

"kalian gila ha? Kalian bahkan sudah memproduksi taehyung. Bisa – bisanya kalian tak mau menikah. Bagaimana masa depan taehyung nanti?"

"ekhem, hyung lebih baik memikirkan anak hyung yang ada didalam perutmu, apa kau akan tetap bersikeras tak akan memberi tau dia?"

oke,, perkataan namjoon membuatnya berfikir kembali. Yang dia fikirkan bukanlah kurangnya uang untuk kehidupan anaknya kelak, tapi mengurusnya nanti apa dia sanggup sendirian? Dia saja sudah susah mengurus hidupnya sendiri apa lagi mengurus bayi nantinya?

"namjoon aku ingin pulang. Sepertinya aku akan hibernasi kembali sebelum memberitau dia"

"apa? Kau tak serius kan hyung? Kau tidur itu bisa sampai 3 hari jika kau bilang akan hibernasi. Lalu anakmu yang didalam sana akan makan apa?"

"makan angin, kau tak perlu khawatir. Saat aku lapar juga aku akan bangun"

namjoon menatap sepupu pacarnya itu jengah, apa dia benar – benar perduli pada janin yang menumpang hidup didalam tubuhnya itu? tanpa namjoon sadar taehyung sudah kembali tidur dengan mengemut botol susu yang sudah kosong.

….

Kaleng beer itu kosong tepat saat dia sampai didepan pintu apartmentnya. Perjalanan pulang membuatnya sedikit haus dan memaksanya untuk membeli minuman.

"hahh, tunggu dulu.. password apartmentku apa?"

bagus min yoongi. Bisa – bisanya kau lupa password tempat tinggalmu sendiri. Dan malah bisa membuka apartment orang lain a.k.a seokjin.

"eummm,, ulangtahunku kah?" dia mulai memencet angka kelahirannya di intercom.

TETTT-

Okee, salah. Benar – benar tak ada gambaran dikepala tentang password rumahnya. Ini pasti karna dia lebih sering di apartment jin dan gedung orkestra. Lalu agaimana dia masuk?
ayoo gunakan kepalamu min yoongi~

" ahh sial! kenapa harus disaat seperti inii?!"
yoongi mengacak rambut hitamnya,

ting.. ting.. ting.. ting..ting.. titititing~

Apartmentnya terbuka. Okee siapa penyelamat yang bisa membuka pintu apartmentnya ini? Dengan wajah agak sumpringah yoongi menoleh ke samping dan tadaaa~
jimin berdiri disebelahnya. Seketika wajah yoongi berubah datar lagi.

"akhirnya aku melihatmu hyung.. aku sangat merindukanmu"

tanpa aba – aba jimin langsung memeluk yoongi. keberuntungan bagi jimin karna tiba – tiba bisa melihat yoonginya. Sejak yoongi marah dan mengatakan putus dia menghilang seperti ditelan bumi. Jimin sampai tak tau harus mencarinya kemana lagi. Terlalu pintar bersembunyi.

"lepas brengsek, siapa yang mengijinkanmu memelukku eoh?"

"iyaa, iyaa, aku mintaa maaf hyung, waktu itu aku yang salah karna menerima job itu. lain kali aku akan menolaknya. Jadi maaf kan aku ya? Aku tersiksa tak bisa melihatmu hyung. Jebal maafkan aku" jimin melepaskan pelukannya dan memperlihatkan tatapan puppy eyesnya yang mematikan, ah ini kelemahan yoongi. tatapan seperti ini akan membuatnya lupa harga dirinya yang tinggi itu dan memaafkan jimin tanpa syarat.

"hahh, okee, jangan lakukan lagi."

lihat? Semudah itu? entah apa gunanya berjauhan selama 3 minggu kemarin.

Oh yaa, kenapa jimin tau passwordnya itu karna memang mereka tinggal bersama. Sebenarnya apartment jimin ada disebelah apartment yoongi Cuma jimin lebih sering bersama yoongi dan password mereka sama. Tanggal pertama mereka jadian. Dan kalian tau yoongi itu pikun jadi ya dia mana ingat .

"hyung kau kemana saja sih? Aku tak bisa menemukanmu dimanapun"
jimin ikut masuk keapartment yoongi, mengekori yoongi seperti anak anjing yang baru bertemu tuannya. Dengan gong - gongan tanpa henti menurut yoongi.

tak!

kaleng beer kosong itu tepat mengenai kepala jimin. Untung itu bukanlah benda tajam.

"kau, tak usah banyak bertanya. Aku benar – benar ingin tidur sekarang . jadi jiminku SAYANG. Tetaplah diam atau keluar dari apartmentku."

jimin diam seketika. Sepertinya lama tak bertemu yoongi menjadi binatang buas.

hoe-! Tiba – tiba yoongi menutup mulutnya dia juga memegangi perutnya.
yoongi sepertinya mulai mual lagi. Jimin melihat itu langsung menunjukkan muka khawatir.

"hoekkk, hoeeeekk!"

"hyung. Kau kenapa?" jimin mengikuti yoongi kekamar mandi dan melihatnya muntah di wastafel. Jimin mengusap punggung yoongi. yoongi merasa kepalanya berat dan dunia berputar. Dia memuntahkan air, soju dan beer yang baru dia minum. Hari ini dia tak makan apapun. Mulutnya terasa pahit lalu pandangannya mengabur. Yang terakhir dia dengar adalah teriakan jimin yang memanggil namanya.

….

Yoongi pov~

aku terbangun saat merasakan usapan diperutku, hal pertama yang aku lihat adalah ruangan yang putih. Aku dimana ini? Tangan kiriku rasanya juga pegal. Ahh ada infus ternyata. Berarti aku dilarikan kerumah sakit?

"hyung kenapa sih kau tak bilang kalau ada baby didalam perutmu?"

suara jimin membuatku menoleh kearahnya. Dia tidur diranjangku. Ah tak taukah dia ranjang rumah sakit itu sangat - sangat sempit.

"bodoh, menyingkir dari ranjangku" dia melihatku sambil tersenyum.

"ahh, kau bangun hyung? Syukurlahh. Aku khawatir sekali"

dia lalu turun dan duduk di kursi yang ada samping ranjangku. Dia mengusap rambutku dengan sayang. Oh jiminku~

"harusnya hyung bilang kalau hyung hamil, kenapa tak cerita padaku?"

"kenapa aku harus cerita ? toh kau mau apa kalau aku hamil? Memangnya kau yakin ini anakmu?"

"memangnya kau main dengan yang lain juga hyung?

"mau mati? Kau kira aku semurahan itu?"

"ya sudah terjawab kan? Dia anakku" jimin tersenyum lebar. Wah dia sepertinya terlihat lebih idiot jika sangat senang.

"ayo menikah?"

" aku akan memikirkannya dulu." Oke kenapa yang jual mahal sekarang aku? Harusnya aku menerima dengan baik ajakannya kan. Dasar yoongi bodoh.

yoongi pov end~

.

.

.

TBC/END