"Apa-apaan mereka? Kenapa Sehun dan Luhan bertingkah sok jual mahal begitu? Cih, tak tahukah mereka kalau hal itu konyol?" Komentar Chanyeol dengan pedas. Well, mungkin itu sebagai balasan atas perkataan Sehun tadi.

.

.

Tittle : Everytime

Author : Melati Pinaring Gusti a.k.a Raisa Ananda

Cast : Oh Sehun (EXO), Xi Luhan (OC)

Genre : GS (Gender-switch), Romance, School life, Comedy, Hurt

Rating : T

Length : Chaptered

"Setiap saat aku melihatmu, walau kau tidak menyadarinya. Setiap saat aku memperhatikanmu, walau kau tidak mengetahui keberadaanku. Aku tersenyum karenamu, walau kita tidak bertatap muka. Aku bahagia karenamu, walau kita tidak saling berbicara."

Story begin!

.

.

.

* Maybe–Sunye

(OST. Dream High 1)

Sepulang sekolah, Sehun dan Luhan membuat janji untuk bertemu di salah satu café di dekat sekolah mereka. Namun, tampaknya Sehun tiba jauh lebih awal dari pada Luhan. Sehun sudah mengganti seragamnya dengan celana jeans hitam selutut, Polo shirt bewarna hitam-putih, jaket hitam yang dililitkan di pinggang, dan snapback hitam-putih yang dipakai terbalik. Bahkan lelaki itu sudah menghabiskan lebih dari setengah gelas kopi latte kesukaannya saat menunggu kedatangan Luhan.

Hampir tiga puluh menit Sehun menunggu, namun belum ada tanda-tanda kemunculan seorang Xi Luhan. Sehun berdiri, hendak meninggalkan café itu karena Luhan terlalu lama. Tetapi, tiba-tiba pintu café terbuka lebar diiringi suara lonceng yang berbunyi nyaring dan langkah kaki seseorang. Orang itulah gadis yang dinanti Sehun. Akhirnya, Sehun duduk kembali dan mengatur pernafasannya agar tenang, mencoba bersabar.

"Maaf, aku terlambat." Ucap Luhan panik. Ia sudah mengganti seragamnya dengan kaus lengan panjang bewarna putih bertuliskan 'I Love Music!' besar bewarna hitam yang dimasukkan ke dalam jogger pants hitam.

Sehun terpana, ia memandang Luhan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hanya satu kata yang terlintas di otaknya sekarang. Cantik. Apalagi, pakaian mereka sangat cocok satu sama lain, sama-sama bernuansa hitam-putih. Sepatu kets mereka pun bewarna putih. What the hell? Sehun dan Luhan berani bersumpah, mereka sama sekali tidak berjanji untuk memakai baju dengan warna yang sama.

"What the…" Kini, giliran Luhan yang terperangah saat memperhatikan penampilan Sehun dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Apa-apaan ini, Oh Sehun? Black and white, huh?!"

"Aku bahkan tidak tahu pakaian seperti apa yang akan kau kenakan." Balas Sehun dengan cepat. "And, see? Tiga puluh menit sudah aku menunggu sia-sia disini!"

"Ada urusan sedikit, tadi." ucap Luhan seraya menarik kursi untuk duduk.

"Kau bawa laptop?"

"Always." Luhan membuka ransel hitamnya, menyambar cepat laptop bewarna abu-abu beserta charger-nya.

"Hei." Sehun bertopang dagu, menatap Luhan.

"Apa?" tanya Luhan, balik menatap Sehun.

"Kau tidak memesan apapun?" Sehun balik bertanya.

"Aku tidak lapar." balas Luhan, menyalakan laptopnya sambil bertopang dagu.

"Kalau begitu akan kupesankan minuman. Kuyakin kau haus." kata Sehun, memanggil salah satu pelayan di café itu dan memesankan Luhan strawberry tea.

"Mmm hmm." Luhan bergumam mengiyakan. Ia sibuk berselancar di internet, mencari sesuatu yang bagus untuk dimasukkan ke dalam kliping mereka.

"Apa yang kau cari?" Sehun menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Luhan agar bisa mengintip laptopnya.

Berusaha tak memperdulikan degup jantungnya yang menggila, Luhan berkata, "Benua Eropa, tentu saja. Aku mencari tahu tentang negara-negara disana dan kebudayaannya."

"Oh." Sehun membalasnya dengan singkat karena pesanan Luhan telah tiba. Sebenarnya itu tidak tepat disebut 'pesanan Luhan' karena Sehun yang memesannya. Tapi, anggap saja strawberry tea di dalam cangkir yang mengepul itu adalah pesanan Luhan.

"Pesananmu sudah datang." tegur Sehun. Namun, Luhan sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari laptopnya. "Luhan?"

"Hm?"

"Strawberry tea-mu sudah datang."

"Hm… Tunggu, apa?!" Luhan sontak menoleh ke arah Sehun yang menatapnya heran.

"Ke–kenapa?"

"Aish. Aku tidak suka strawberry tea." Luhan mengacak pelan rambut caramelnya yang lembut itu. "Kau pikir aku seperti Baekhyun?!"

'Mana kutahu?! Memangnya aku mengawasimu setiap saat?!' batin Sehun dongkol. "Cobalah. Kau akan menyukainya." bujuknya. Lagipula, siapa juga sih yang mengabaikannya saat ia berbicara tadi?

"Tidak mau." Luhan menutup mulutnya dengan kedua tangan, memandang cangkir strawberry tea-nya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Lalu? Apa kesukaanmu?" Sehun menyerah. Tidak ada gunanya juga ia memaksa Luhan jika gadis itu memang tidak suka. Sebagai gantinya, Sehun-lah yang menyesap habis strawberry tea itu.

"Bubble tea." kata Luhan.

"Ng, rasa?"

"Rasa taro."

"Kalau begitu, ayo pergi ke kedai bubble tea. Aku juga menyukainya."

Sehun menarik lembut tangan Luhan. Yang tangannya ditarik hanya menepisnya karena harus membereskan laptop dan tasnya.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju kedai bubble tea. Siapa yang menyangka, ternyata hobi dan kesukaan mereka banyak yang serupa. Luhan berkata bahwa Sehun mirip tokoh vampire di komik maupun anime, sedangkan Sehun berkata bahwa mata Luhan sangat indah, seperti rusa. Sehun juga sempat bercanda, mengatakan bahwa jika Luhan rusa dan ia serigala, ia akan memburu Luhan kemanapun gadis itu pergi, mengejarnya sampai dapat. Dan Luhan tertawa lepas mendengarnya.

-00-

"Permisi, satu bubble tea rasa chocolate dan satu bubble tea rasa taro." ucap Sehun pada pemilik kedai. Setelah memesan, ia mengajak Luhan duduk di bangku panjang di bawah pohon yang rindang.

"Lu," panggil Sehun pelan.

"Ya?"

"Sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal ini, tapi biarlah untuk sekali ini saja aku mengatakan satu rahasiaku padamu. Well, kupikir sudah terlalu lama juga aku menyimpannya untuk diriku sendiri."

"Ng? Apa itu?"

"Kau ingat? Saat kita berjalan beriringan tadi," Sehun menjeda kalimatnya saat pemilik kedai mengantarkan pesanan mereka. "… Dan saat kita bercanda, itu adalah pertama kalinya aku tertawa lepas setelah kira-kira lima tahun belakangan ini."

Luhan membelalak. "Kenapa?"

"Ibuku meninggal dunia lima tahun yang lalu. Dan ayahku menikah lagi dengan seorang wanita cantik yang masih muda. Sayangnya, sifat ibu tiriku tidak secantik parasnya. Ia gemar membentakku, mengataiku, bahkan nyaris membunuhku saat ayahku tidak ada. Well, seperti tokoh ibu tiri di film-film picisan memang, tapi itu benar adanya. Dan, kurasa kau bisa menebaknya. Aku tak pernah tertawa lepas sejak saat itu."

"S–Sehun, a–aku minta maaf… A–aku tidak tahu. Ma–Maaf." Luhan menundukkan kepalanya, menatap sepasang sepatu putihnya yang sama sekali tidak lebih menarik dibandingkan wajah lelaki yang duduk di sampingnya.

Sehun tersenyum gemas, ia mengusak lembut rambut Luhan. "Oh ayolah, Lu. Kenapa kau malah minta maaf? Kau tidak bersalah. Lagipula, karena dirimulah aku bisa tertawa seperti dulu. Terima kasih." Ia tersenyum tulus. Catat itu, seorang Oh Sehun tersenyum untuk seorang gadis yang dikenalnya tidak lebih dari dua hari! Kalau Chanyeol melihatnya, mungkin dia akan–

"What the– Asdfghjkl Sehun tersenyum dan tertawa?! Woah~ Sahabatmu yang bernama Luhan itu benar-benar hebat, Baek! Kurasa, aku harus memasukkan peristiwa ini ke dalam rekor! Ini sejarah, kau tahu?!"

–Berteriak heboh, mengatakan bahwa ia akan memasukkan hal itu ke dalam rekor sambil mengguncang seseorang yang ada di sampingnya. Ya, itu suara Chanyeol, dan kebetulan sekali orang yang ada di sampingnya adalah Byun Baekhyun. Jadi begini kronologisnya,

(Satu jam yang lalu)

Chanyeol berjalan-jalan sepulang sekolah karena rumahnya terkunci. Di pintu rumahnya tertempel block note bertuliskan 'Ibu harus pergi mengantarkan Yoora ke rumah sakit karena tenggorokannya meradang. Ibu akan pulang nanti malam. Kunci rumah Ibu titipkan kepada Ayah.'

Dan sialnya, ayah Chanyeol baru saja pergi ke kantornya yang letaknya jauh dari rumah. Ayahnya juga meninggalkan pesan bahwa ia akan pergi ke kantor dan Chanyeol diminta menunggu sampai ia pulang. Pesan itu tergeletak di depan pintu, sedikit tertimpa sepatu agar tidak terbang terkena angin. Saat itu, Chanyeol tidak membawa uang sepeserpun. Akhirnya, ia memutuskan untuk membunuh waktu dengan berjalan-jalan kemanapun kakinya membawanya. Tak disangka, ia berjumpa dengan Baekhyun di depan café Xoxo di dekat sekolah mereka.

"Hai, Baekhyun!" sapa Chanyeol dengan senyuman lebar.

"Eh? H–hai, um, Chanyeol." ucap Baekhyun gugup. Gadis itu masih memakai seragam sekolahnya. Ia pun masih menggendong ransel merahnya itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Oh, tadi aku ingin mampir ke café ini, tapi–" Baekhyun memutus perkataannya. Tangannya terulur untuk menarik sedikit blazer Chanyeol agar mengikuti arah pandangnya –Entah dari mana ia mendapat keberanian itu. "–Itu. Aku melihat Sehun dan Luhan." Gadis itu menunjuk ke salah satu meja yang terletak di dekat jendela, barisan ketiga dari depan. Di meja itu, duduk Sehun dan Luhan yang tampak sibuk dengan sebuah laptop di depan mereka.

Ting!

Sebuah ide cemerlang –Menurut Chanyeol– muncul di kepala lelaki bertubuh tinggi itu. Ia menarik tangan Baekhyun agar ikut bersembunyi dengannya di balik sebuah pohon sambil terus mengawasi Sehun dan Luhan.

"Kita akan menjadi penguntit." bisik Chanyeol, membuat Baekhyun terbelalak.

"HAH?! TUNGGU, JANGAN–"

"Ssstt!" Chanyeol bergegas membekap mulut Baekhyun agar tidak melanjutkan teriakannya. "Jangan berisik." bisiknya sambil terus mengawasi HunHan tanpa melepaskan bekapannya. Posisi mereka saat ini sangat tidak mengenakkan. Chanyeol yang berada di belakang Baekhyun membekap mulut gadis itu dengan tangan kanannya. Kepalanya melongok ke dalam café, membuat kepalanya dan kepala Baekhyun berada berdampingan, dan tangan kirinya berpegangan pada pohon. Jadi, jika dilihat dari sudut pandang para pejalan kaki yang ada di sana, Chanyeol dan Baekhyun akan terlihat berpelukan. Ya Tuhan, Park Chanyeol, tak tahukah kau betapa merahnya wajah Baekhyun saat ini?

"Ah! Baekhyun, mereka keluar! Cepat bersembunyi!" Chanyeol kembali berbisik.

Sehun dan Luhan keluar dari café dengan berjalan beriringan, dan mereka melewati pohon tempat Chanyeol dan Baekhyun bersembunyi. Mereka tidak melihat ChanBaek, tentu saja, karena Chanyeol dengan cepat menarik tubuh Baekhyun ke satu sisi yang lain. Dan, well, mereka benar-benar berpelukan sekarang. Tidak tepat disebut berpelukan sebenarnya, karena Chanyeol memeluk Baekhyun dari belakang dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya masih setia membekap mulut gadis itu. Dagu Chanyeol bertumpu pada kepala Baekhyun, dan punggungnya bersandar pada batang pohon.

Damn it.

Ugh, wajah Baekhyun semakin memerah sekarang. Gadis itu berusaha melepaskan tangan besar Chanyeol dari mulutnya –Atau ia tidak akan bisa bernafas, karena tangan Chanyeol juga sekaligus menutup hidungnya.

Baekhyun menundukkan kepalanya agar dagu Chanyeol tidak lagi bertumpu pada kepalanya. Ia menunjuk-nunjuk tangan Chanyeol yang berada di mulutnya dengan tangan kanan dan berusaha melepaskannya dengan tangan kiri.

"Ehm, Baekhyun kau tidak ap– Oh astaga! Maafkan aku!"

Chanyeol melepaskan tangannya dengan cepat dan bergegas memalingkan wajahnya yang merona ke arah lain, sedangkan Baekhyun sibuk menunduk sambil menghirup nafas sebanyak yang ia bisa hirup.

"Kau. Bisa. Membunuhku. Kau. Tahu?" ucap Baekhyun penuh penekanan.

"Ma–maaf, a–a–aku lupa."

Sial. Kenapa cara bicaramu menjadi tergagap seperti itu, Mr. Park?

"Simpan saja permohonan maafmu sampai nanti, Park. Aku ingin mengikuti mereka." Baekhyun kembali menoleh ke arah Sehun dan Luhan yang perlahan menjauh dari pandangan mereka. Gadis itu menarik tangan Chanyeol dengan cepat untuk terus mengikuti HunHan, dan sampailah mereka di kedai bubbletea.

Dan disinilah mereka sekarang, bersembunyi di balik semak-semak untuk mengintai Sehun dan Luhan dengan tidak elitnya. Well, sejak kapan sih, seorang Park Chanyeol dapat berperilaku elit?

.

.

To Be Continued

Don't forget to leave a coment ^^