Woozi tidur berbaring diatas sofa. Tubuhnya masih terbalut kemeja sekolah Soonyoung. Kemeja itu menenggelamkan tubuh ramping kecilnya.
"Bertemu dimana?"
Soonyoung meggigit roti selai cokelatnya sebelum menjawab.
"Tidak jauh dari sini, ada luka di tubuhnya jadi aku bawa kesini"
Wonwoo menoleh, bersamaan dengan Jun yang melayangkan tatapan aneh pada si pemilik rambut biru itu.
"Aku bawa dia dalam bentuk asli kok, aku bukan orang semacam itu. Apa-apaan kalian ini"
"Sekarang mau diapakan?"
Wonwoo akhirnya angkat bicara. Jun hanya memperhatikan Woozi yang terlihat nyaman dalam selimut miliknya. Tangan Jun perlahan menelusuri rambut pink di dahi gadis itu.
"Eih, lihat orang ini. Baru lihat sebentar sudah berani menyentuh dan mencium, dasar raksasa cabul"
Jun melempar bantal pada Soonyoung yang sekarang tersedak rotinya sendiri.
"Karena pengawasan di tempat ini buruk, aku rasa untuk sementara waktu kita bisa membiarkannya disini"
Wonwoo memberi saran. Jun dan Soonyoung setuju saja karena memang betul, pengawasan disini buruk dan entah karena apartemen ini menghargai privasi orang atau memang prostitusi sedang berjalan disini, entahlah.
"Aku penasaran darimana datangnya mahluk seperti ini"
Soonyoung bergumam.
"Apa sebentar lagi dunia akan berakhir ya"
Jun begumam, kali ini disahut oleh kotak susu kosong milik Wonwoo.
"Eih, jangan bicara macam-macam" Wonwoo memperhatikan Woozi yang terlihat tidak nyaman dengan posisi tidurnya."Mau kita tanyakan padanya juga sepertinya dia tidak tau, namanya saja dia tidak tau"
"Tapi kehadirannya bisa jadi angin segar di apartemen yang gersang ini"
Hoshi menyahut setelah berhasil melahap gigitan terakhir rotinya.
"Hoshi benar, tempat ini butuh sesuatu yang baru. Mahluk ini... maksudku gadis ini terlihat tidak berbahaya jadi kita tidak perlu menghawatirkan apapun"
Jun menimpali ucapan Hoshi. Reaksi Wonwoo berbeda, ia menatap kedua teman se-atap-nya.
"Justru kalianlah yang membahayakannya, dasar kembar cabul"
"Keparat kau, Jeon!"
.
.
.
.
.
.
.
Pagi datang dengan cepat, Ketiga pemilik apartemen ditambah satu orang gadis, tertidur lelap di ruang tengah. Woozi tidur dengan nyamannya diatas sebuah sofa panjang. Jun dan Hoshi tidur diatas karpet bulu berwarna hitam putih yang dibeli sendiri oleh Ibu Jun. Wonwoo tidur dengan posisi kakinya hampir jatuh keatas karpet sementara tubuhnya berada diatas sofa dengan posisi tidak etis. Alarm yang berdering bahkan tidak sanggup membangunkan orang-orang yang lebih dari sekedar pulas di tempat itu. Hal selanjutnya yang terjadi tidak lama setelah alarm dari ponsel Hoshi menyerah adalah Wonwoo jatuh dari sofa dan menimpa Jun yang persis dibawahnya.
"Jeon Wonwoo! Minggir sana!"
Jun dengan kasar mendorong teman seperjuangannya untuk pergi dari atas tubuhnya (?).
"Badanmu keras seperti balok kayu, lebih baik jatuh ke lantai sekalian"
Wonwoo bergumam setengah mengantuk dan akhirnya pergi menuju kamarnya untuk lanjut tidur. Jun masih disana dalam keadaan duduk mengumpulkan nyawa. Matanya melirik Hoshi yang keliatan enggan untuk bangun. Ia berjalan perlahan menuju sofa panjang diseberangnya, tempat Woozi tidur. Dudu perlahan di pinggir sofa lalu memandangi mahluk di depannya.
"Woozi, ayo bangun"
Jun berbisik perlahan namun sukses membangunkan si pemilik rambut pink. Sebenarnya yang membuatnya bangun adalah tangan Jun yang mengelusi rambutnya, bukan suara Jun yang bahkan sama sekali tidak bisa di dengar.
"Jun"
Woozi bergumam sembari tangannya menggosok kedua matanya.
"Hey, selamat pagi."
Jun tersenyum. Woozi mengedipkan matanya lalu tersenyum memandang Jun.
"Selamat pagi, Jun"
"Mau kubuatkan sesuatu?"
Jun merapikan helai rambut pink Woozi yang tidak beraturan.
"Aku ingin susu"
"Hanya itu?"
"Hmm aku ingin..."
"Mau ikut aku ke dapur?"
Jun tersenyum lagi, Woozi jadi tersipu. Ia mengangguk.
"Baiklah, ayo"
Jun berjalan mendahului Woozi yang ternyata setelah berdiri dan mencoba berjalan, ia lupa ada luka di kakinya. Gadis bersurai pink itu berjengit membuat Jun menghampirinya dengan segera.
"Lukamu pasti masih sakit"
"Sedikit"
"Tunggu disini saja"
"Tidak, aku tidak apa-apa, Jun"
"Kau yakin?"
Woozi mengangguk bersemangat.
Akhirnya Woozi ikut dengan berjalan terseok. Jun sendiri sibuk memanggang roti dan membuat sarapan untuk teman-temannya yang lain. Woozi berdiri bersandar di lemari pendingin, memperhatikan punggung Jun berbalut kaus putih dengan celana abu-abu pendek sebatas lutut. Dilihat dari sini saja, Jun terlihat sangat tampan. Woozi tersipu lagi.
"Tidak pegal berdiri terus?"
Jun membuka percakapan tanpa menoleh. Woozi menggeleng seakan Jun dapat melihatnya.
"Kau bisa duduk di sana jika kau mau"
Jun menunjuk salah satu bangku di pantry. Woozi menggeleng lagi. Jun akhirnya menoleh lalu menatap kucing berwujud gadis itu.
"Kau ini agak keras kepala juga rupanya"
Jun mengampirinya lalu dengan ringannya menggendong tubuh berbalut kemeja itu kearah pantry lalu mendudukannya disana. Jun tersenyum melihat wajah Woozi yang merah padam. Laki-laki berdarah Cina itu lalu mengambil sebotol susu dari kulkas dan memberikannya pada Woozi.
"Diam disini selama aku memasak"
Jun kembali pada pekerjaannya. Woozi lama terdiam lalu mulai meminum susunya sambil tersenyum dengan wajah tersipu.
"Kau sedang apa?"
Suara Hoshi memecah suasana romantis di dapur. Jun berdecak sembari mengolesi selembar roti dengan selai kacang dan cokelat. Woozi menoleh pada Hoshi dengan wajah tersenyum.
"Selamat pagi, Soonyoungie~"
Hoshi membalas senyum Woozi.
"Selamat pagi, kucing kecil"
"Kucing kecil? Panggilan macam apa itu?"
Jun mencibir sembari mengigit roti ditangannya. Hoshi tidak peduli. Ia memilih untuk berjalan ke lemari pendingin dan meminum air putih untuk menghilangkan rasa hausnya.
"Soonyoungie mau susu?"
Woozi menawari. Hoshi menatap susu yang disodorkan Woozi lalu beralih menatap Jun yang menatapnya sengit. Ia punya ide. Hoshi berjalan kearah pantry lalu dengan cepat menyesap sisa susu di bibir Woozi.
"Enak juga"
Hoshi bergumam tepat di depan wajah Woozi saat hidung mereka bahkan masih bersentuhan.
"Kwon Soonyoung, hentikan kemesumanmu"
Jun menarik kerah baju Hoshi lalu menjauhkannya dari Woozi yang wajahnya dibuat semakin merah saja oleh penghuni apartemen ini. Seppertinya akan lebih baik jika Woozi berdekatan dengan Wonwoo yang tidak mesum seperti kedua temannya., atau mungkin Wonwoo hanya belum ketahuan saja. Entah.
"Bercanda"
Hoshi lalu mengalihkan pandangannya kembali pada gadis bersurai pink di atas pantry. Ia tersenyum lalu mengusak surai Woozi kemudian pergi dari dapur.
"Woozi?"
"Eung?"
"Kau baik-baik saja?"
"Eung~ Jun, boleh aku tanyakan sesuatu?"
Jun mendekat pada Woozi.
"Tanyakan saja"
Woozi terlihat menimbang-nimbang. Ragu untuk menanyakannya tapi ia merasa penasaran.
"Apa ada sesuatu di bibirku? Kenapa kalian menyentuhnya?"
Jun terdiam lalu berpikir.
"Junnie?"
"Ya, Woozi?"
"Bisa Jun menjawabnya?"
Jun tersenyum lagi, kali ini sedikit miring.
"Apa kau benar-benar ingin aku menjawabnya?"
Woozi mengangguk pasti.
"Saat bibir seseorang saling bersentuhan, akan timbul sesuatu yang manis."
Woozi yang sekarang diam, tidak begitu yakin dengan jawab Jun.
"Mau mencobanya?"
Wajah Woozi kembali merah.
"Junnie~"
Jun sekarang berpindah tepat ke depan Woozi, memegang pinggang Woozi dengan tangan kanannya.
"Apa benar rasaya manis?"
"Tentu. Mau coba merasakannya?"
Woozi mengangguk perlahan.
Lampu hijau dari Woozi melancarkan aksi Jun. Jun semakin mendekatkan dirinya pada gadis itu, memposisikan kedua kaki Woozi pada sisi tubuhnya. Awalnya hanya sentuhan biasa lalu Jun dengan perlahan menyesap bibir itu. Mungkin orang bisa mabuk setelah minum alkohol, tapi Jun bisa mabuk hanya dengan melakukan ini saja. Ia cukup waras untuk tau kalau ini salah tapi rasa nikmat menghalanginya untuk berhenti. Woozi mulai terbawa suasana. Kakinya menjepit pinggang Jun yang berdiri di depannya. Tangannya meremas kaus depan Jun. Jun memberi sedikit jarak setelah berhasil sadar dari 'kemabukannya'.
"Bagiamana hmm?"
Woozi tidak bisa menjawab, hanya bisa menunduk malu dengan wajah memerah menahan nikmat. Jun mengecup bibir itu.
"Apa rasanya manis?"
Woozi mengangguk pelan lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jun tertawa melihat Woozi lalu memeluknya.
"Kenapa bisa ada mahluk yang menggemaskan sepertimu?"
Wonwoo masih berdiri disana menyaksikan kelakuan cabul salah satu temannya. Ia menghela napasnya.
"Anak itu benar-benar"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Long time no see. 최송해요 여러분. 시험을 왔어ㅠㅠㅠㅠ Tugas kuliah banyak dan UTS sedang berjalan. Hanya ini yang mampu saya hasilkan sejauh ini. 힘내! 열심히 공부하세요! Maaf jika ada kesalahan pengentikan huhu
