Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings

Warning: Slash, AU, OOC, OC, post!Mpreg, typo etc

Rating: T

Pairing: DMHP, BZNL

Genre: Romance, Family


THE TALE OF BLACK FAMILY

By

Sky


Zabini Manor, Scotland

Bila seseorang bisa bertanya pada Lucas apakah ia sangat menyukai paman Blaise apa tidak, maka jawabannya pun sudah pasti yaitu ia sangat menyukai Blaise Zabini. Tidak hanya kepala keluarga Zabini tersebut adalah ayah baptis Lucas, tapi laki-laki itu sangat lucu dan selalu mengajak Lucas jalan-jalan ke mana pun anak itu mau, tentu saja dengan seijin kedua orangtuanya. Dan karena Blaise adalah satu dari beberapa orang yang menjadi favorit Lucas serta teman dari kedua orangtuanya, maka menginap di Zabini manor pun adalah sebuah kebiasaan yang telah ia jalani ketika ia berusia tiga tahun.

Zabini Manor sedikit berbeda dengan Black Manor, tidak hanya tempat ini terlihat begitu luas dan dipenuhi oleh beberapa tanaman yang sangat menarik, namun atmosfer yang diciptakan oleh paman Neville di tempat ini bisa dikatakan seperti manor-manor klasik yang sering ia lihat pada buku cerita bergeraknya. Anak laki-laki yang baru berusia lima tahun tersebut tengah menempati sebuah kursi panjang di ruang tengah Zabini Manor, di hadapannya telah tersaji sebuah buku cerita yang Papa masukkan ke dalam tasnya sebelum Paman Neville menjemputnya tadi, dan buku ini juga merupakan buku barunya.

Lucas hobi membaca, kata Papa hobi membaca yang dimiliki Lucas ini adalah turunan dari Daddy-nya. Memiliki sebuah kesamaan dengan Daddy tentu membuat Lucas sangat senang, setidaknya ia memiliki sebuah hobi yang sama dengan salah satu orang favoritnya tersebut. Berbicara mengenai Daddy, kata Papa yang memilihkan buku tersebut adalah Daddy beberapa hari yang lalu, mungkin dengan begini dirinya akan semakin mengenal makhluk-makhluk sihir melalui sebuah cerita petualangan yang menarik.

Cerita yang berada di dalam buku ini sangat menarik, tentang sepasang suami istri yang belum dikaruniai seorang anak selama bertahun-tahun dan keduanya pun terus berdoa agar dikaruniai seorang anak, sampai suatu ketika seorang Fey pun meninggalkan seorang bayi di depan rumah mereka. Singkat cerita, Lucas menemukan ceritanya sangat menarik karena di dalamnya diberikan bumbu-bumbu petualangan dimana sang anak harus berjuang untuk diakui oleh pemerintahan setempat kalau ia adalah anak dari sepasang suami isteri tersebut, meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah, sampai ujian kedewasaan sebagai seorang Fey yang anak itu harus jalani.

Lucas menggigit bibir bawahnya, ia pernah mendengar dari Daddy kalau seorang Fey yang telah menginjak usia 17 tahun harus menempuh sebuah ujian hidup dan mati untuk membuktikan mereka sudah dewasa di mata mereka semua, namun apakah hal itu juga berarti kepada seorang Seraphine? Anak itu mengerjapkan kedua matanya, merasa penasaran akan jalan pikiran serta pertanyaan yang bersarang di dalam kepalanya untuk beberapa saat yang lalu.

Papanya yang bernama Harry Black nee Potter adalah seorang Seraphine, dan hal ini tentu saja membuat Lucas memiliki bagian dari diri seorang Seraphine 'kan? Dan ia tidak hanya seorang penyihir seperti Daddy, tapi seorang Seraphine seperti Papa, atau mungkin gen makhluk dunia sihir yang dimiliki Papa tidak dimiliki oleh Lucas. Merasa penasaran akan pertanyaan itu, akhirnya penerus kecil dari keluarga Black tersebut melipat kedua lengan kecilnya di atas sofa dan menggunakannya sebagai tumpuan dagunya saat ia sedang berbaring pada perutnya.

"Paman Neville?" Panggil Lucas kepada laki-laki berambut kecoklatan yang memiliki nama Neville Zabini nee Longbottom tersebut, kali ini pria yang tengah membaca sebuah majalah botani mau tidak mau menoleh ke arah Lucas yang baru saja memanggil namanya.

"Iya, Lucas?" tanya Neville, senyuman hangat yang selalu ia hadiahkan pada putra satu-satunya (untuk kali ini) Draco dan Harry itu selalu terpajang di bibirnya.

"Boleh aku bertanya akan sesuatu?" tanya Lucas meminta izin. Baik Papa dan Daddy selalu menekankan padanya kalau ia ingin bertanya akan sesuatu ia harus meminta izin terlebih dahulu, hal ini merupakan sebuah etika yang harus Lucas pelajari serta terapkan di kehidupan sehari-hari, dan sebagai salah satu dari anggota keluarga terhormat maka ia pun harus melakukan itu.

Tersenyum dengan permintaan keponakannya tentu membuat Neville menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Lucas untuk bertanya apapun yang saat ini tengah mengganjal pikirannya. Anak kecil itu benar-benar mirip dengan Harry meskipun penampilannya lebih mirip dengan Draco, rasa keingintahuan yang tinggi serta keberanian yang ia miliki adalah sifat warisan dari Harry. Mungkin saja beberapa tahun kemudian saat Lucas diterima di Hogwarts, anak itu akan menjadi penghuni asrama Ravenclaw karena rasa keingintahuannya yang besar. Neville rasa baik Harry dan Draco tidak akan keberatan kalau putra mereka menjadi penghuni asrama milik Rowena Ravenclaw tersebut, bahkan sekalipun Lucas masuk ke dalam Hufflepuff maupun Gryffindor juga tidak akan menjadi masalah bagi kedua orangtuanya.

"Tentu saja boleh, kalau aku tahu jawabannya maka akan aku jawab saat ini juga," Neville pun memberikan izin kepada Lucas seraya ia menutup buku yang tadi ia baca, ia meletakkan buku tersebut di atas pangkuannya sebelum kedua matanya fokus pada sosok putra kecil milik Draco dan Harry tersebut. "Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Paman Neville, paman sudah kenal dengan Papa cukup lama 'kan?" Dengan anggukan dari Neville yang menjawab pertayaan Lucas barusan, anak itu pun langsung melanjutkan pertanyaan yang sempat terpotong lagi. "Apa paman Neville bisa menceritakan padaku tentang Papa sewaktu ia masih kecil? Apa mungkin gen Seraphine yang dimiliki oleh Papa itu sudah terlihat sewaktu ia masih kecil? Lalu bagaimana dengan ujian kedewasaan seorang Seraphine? Apa Papa melakukan hal itu juga?"

Pertanyaan yang jumlahnya cukup banyak dan sedikit sulit itu pun membuat Neville heran, ia merasa penasaran akan dari mana pertanyaan-pertanyaan itu berasal dan mengapa juga Lucas yang notabene masih sangat kecil ingin tahu mengenai Seraphine, terlebih mengenai ujian kedewasaan tersebut. Kedua mata Neville menatap Lucas dengan penuh tanda tanya, namun tatapan itu hanya dibalas dengan tatapan penuh keluguan yang terpancar dari bola mata yang begitu identik dengan milik Harry tersebut, sehingga pada akhirnya Neville hanya bisa tersenyum kecil.

"Lucas, aku memang berteman baik dengan Papa-mu semenjak kami memasuki Hogwarts, tapi mengenai Papa-mu yang sebagai Seraphine itu kurasa hanya dia yang bisa menjawabnya. Kurasa kalau kau menginginkan informasi lebih, kau bisa bertanya pada Bibi Hermione, Lucas," jawab Neville dengan sabar.

"Jadi Paman Neville tidak tahu mengenai darah Seraphine milik Papa?"

"Ah... Aku tahu mengenai Harry yang memilki darah Seraphine, namun hanya itu yang aku ketahui. Perlu kau ketahui kalau pengetahuan mengenai makhluk yang bernama Seraphine itu sangat terbatas, Lucas, mereka dipercaya sudah punah beribu-ribu tahun yang lalu sebelum para penyihir mampu mempelajari mengenai mereka," kata Neville, ia pun berdiri dari kursi tempatnya duduk untuk menghampiri sang pewaris kecil itu dan duduk di samping Lucas. "Kurasa dari apa yang aku ketahui, kemungkinan besar Papa-mu adalah satu-satunya Seraphine yang masih hidup di dunia ini, dan bila kau mewarisi darah tersebut maka kau adalah Seraphine kedua yang tercatat dalam sejarah sejak tiga rabu tahun lamanya mereka menghilang."

Lucas tertegun mendengar penjelasan dari Neville, mungkin ia memang merasa sedikit kecewa karena laki-laki itu tidak mampu menjawab pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan padanya, namun mendengar kalau Papa adalah satu-satunya Seraphine yang tercatat dalam sejarah sejak tiga ribu tahun maka hal ini sangat luar biasa. Siapa yang tahu kalau Papa sangat kuat dan unik.

Mungkin anak itu akan menuruti saran Neville dengan bertanya pada Hermione atau mungkin Papa sendiri, tapi kemungkinan besar Daddy juga tahu akan hal ini. Nanti kalau ia pulang dirinya akan bertanya pada mereka berdua, dan melihat siapa kedua orangtuanya maka kemungkinan besar Lucas mewarisi dari Seraphine, atau tidak sama sekali.

"Terima kasih atas penjelasannya, Paman Neville," ujar Lucas dengan senyuman kecil yang mengembang di bibirnya.

"Sama-sama, Lucas."


Black Manor, Britania Raya

"Dan rumah terasa sangat tenang ketika Lucas tidak berada di sini," gumam Harry saat ia membereskan beberapa kertas pekerjaan milik Draco yang ada di meja kerja suaminya. "Dan tahu-tahu aku sangat merindukan anak itu, padahal tiga jam belum berlalu semenjak Neville menjemputnya."

Dari tempat duduknya yang tidak jauh dari meja kerjanya itu, Draco hanya tersenyum kecil meski kedua mata silver kebiruannya masih menatap berkas-berkas yang dikirimkan oleh Amelia Bones padanya. Draco adalah seorang Lord Black dan juga memiliki kursi di pertemuan Wizengamot bersama Harry yang masih menjabat sebagai Lord Potter, meski pada dasarnya Harry sendiri sudah menanggalkan nama itu dan menggantinya sebagai Black, namun pekerjaannya yang lain adalah sebagai seorang Unspeakable. Dan memiliki suami seperti Harry yang statusnya bisa disandingkan dengan seorang selebritis pun mau tidak mau membuat Draco harus bekerja lebih ekstra. Sekarang ini Amelia Bones membutuhkannya untuk mempelajari sebuah benda sihir langka yang baru ditemukan di ruang bawah tanah rumah milik keluarga Nott, pekerjaan memanggilnya dan ia harus menyelesaikan misteri benda tersebut sebelum fokus kepada yang lainnya.

Kembali kepada keadaan yang tengah mereka jalani sekarang ini, rumah mereka yang biasanya penuh akan celoteh ceria dari putra mereka satu-satunya sekarang sedikit tenang ketika anak itu tengah pergi ke rumah Blaise untuk menginap, dan tentu saja keadaan yang tidak biasa ini membuat baik dirinya dan Harry merindukan kehadiran Lucas.

"Dray, apa aku harus mengunjungi Blaise dan meminta Lucas untuk kembali? Aku rasa baik Blaise dan Neville akan menyerti dengan keadaan kita." Ujar Harry, kedua matanya mengisyaratkan kalau ia ingin pemuda berambut pirang platinum itu menyetujui perkataannya. "Aku khawatir Lucas ingin pulang sekarang serta merasa gelisah karena kita berdua tidak ada di sampingnya, dan bagaimana aku bisa menjadi orangtua yang baik kalau aku tidak mengerti keinginan anakku sendiri!"

Pemuda berambut pirang platinum yang hanya diam di tempat duduknya hanya bisa tersenyum penuh pengertian kepada Harry, perasaan Harry sebagai ibu Lucas tentu membuat emosinya meledak-ledak seperti itu, terlebih dengan kehadiran Lucas yang tidak ada di sekitarnya.

Mungkin ini adalah pengaruh dari Seraphine di dalam tubuh Harry yang merasa begitu protektif kepada keluarganya, pikir Draco ketika kedua mataya memperhatikan sosok Harry yang masih mengucapkan beberapa patah kalimat tersebut.

Draco tahu betul kalau Lucas akan merasa bahagia bertemu dengan Blaise dan Neville, terlebih Lucas sendirilah yang meminta kalau ia ingin bermalam di rumah Blaise. Anak itu telah mengatakan semuanya pada Draco kemarin ketika ia membantunya berkemas. Tapi sepertinya Harry tidak bisa melihat hal itu, perasaannya yang selalu mencemaskan buah hati mereka itu akan selalu menyelimuti Harry sampai kapan pun. Merasa sedikit iba dengan keadaan Harry, Draco pun akhirnya meletakkan surat dari Amelia di atas sofa sebelum dirinya beranjak dari sana dan berjalan untuk menghampiri Harry yang kelihatan masih cemas akan nasib Lucas di rumah Blaise.

Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Draco memeluk pinggang langsing milik suaminya dari belakang sebelum ia menempelkan dagunya pada bahu Harry.

"Berhentilah mencemaskan Lucas, 'Ry, ia akan baik-baik saja bersama Neville dan Blaise," kata Draco dengan pelan di telinga Harry, kedua tangannya yang memeluk Harry seketika mengerat untuk beberapa saat lamanya sebelum merenggang dan memberikan sedikit jeda. "Aku tidak ingin kau mendapat sakit kepala atau mengalami penuaan prematur karena mencemaskan anak kita secara percuma.

"Apa yang kau khawatirkan, 'Ry? Blaise tidak akan membiarkan apapun terjadi pada Lucas, terlebih dia adalah ayah baptis Lucas 'kan?"

Perkataan lembut yang dikeluarkan oleh Draco membuat perasaan Harry yang sedari tadi gundah menjadi sedikit baikan, Draco selalu memberikannya ketenangan meski yang bersangkutan terkadang tidak menyadarinya, dan Harry sangat berterima kasih ia memiliki seorang belahan hati yang begitu pengertian terhadap dirinya.

Perhatian Harry yang sedari tadi tersita akibat kecemasan yang berkepanjangan itu pada akhirnya teralihkan lagi, kali ini ia merasakan sensasi kecil dan tubuhnya merasa sedikit panas ketika ia menyadari bibir Draco telah berhenti menggumamkan sesuatu. Kedua mata emerald milik Harry perlahan-lahan terpejam ketika ia merasakan bibir Draco mengecup lehernya, dan sekali-kali menggigitnya, hal itu menciptakan sensasi hangat serta membangkitkan gairah milik pemuda Seraphine itu.

"D-Draco..." Harry mendesahkan nama suaminya ketika bibir itu semakin ganas mencium lehernya, memberinya beberapa tanda kemerahan yang ia tahu adalah sebuah tanda kepemilikan dari Draco untuk mengklaim dirinya.

Otak Harry serasa mati ketika sensasi itu semakin bertambah dari sebelumnya, bahkan dirinya pun gagal untuk menyadari saat sang suami melepaskan pelukannya dari pinggangnya dan dengan cepat pun mengangkat tubuh Harry dari sana, hanya untuk membaringkannya di atas meja kerja yang mana telah bersih dari dokumen-dokumen serta alat tulis yang tadi berserakan. Membuka kedua matanya untuk sekali lagi, Harry bisa merasakan bagaimana nafasnya tercekat ketika ia menemukan sosok Draco menatapnya di sana.

Kedua mata silver kebiruan milik Draco terlihat sedikit menggelap akibat diselimuti oleh nafsu, dan ekspresinya yang biasanya terlihat begitu kalem kini terlihat seperti seekor singa yang kelaparan, siap memakan mangsanya. Dan kata mangsa yang ada di sini begitu tepat untuk menggambarkan sosok Harry, yang kala itu tengah berbaring di bawah sosok Draco di atas meja kerja suaminya.

"Lupakan kekhawatiranmu mengenai Lucas, Harry. Yang perlu kau perhatikan sekarang ini adalah aku dan bagaimana aku akan membuatmu meneriakkan namaku semalaman."

Kata-kata yang begitu sensual serta diselimuti oleh perasaan erotis dari Draco itu membuat tubuh Harry bergetar pelan, sensasi yang sering ia rasakan ketika mereka bercinta pun mulai menjalari tubuh kecilnya. Ia tidak sadar kalau ekpresinya tadi telah membuat geraman singkat dari Draco keluar dari bibir suaminya, seperti ia akan melahap Harry pada saat itu juga.

Harry tidak mampu mengatakan apapun lagi, bahkan tidak untuk sebuah protes yang ingin terlontar dari mulutnya ketika bibir Draco tahu-tahu menciumnya serta lidahnya menginvasi mulutnya, mengajaknya berduel pada saat itu juga. Otak Harry tidak dapat berpikir jernih lagi saat nafsu serta gairah menyelimutinya.

Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua, terutama dengan keberadaan putra mereka yang tidak ada di sana.

Merlin, aku harap aku bisa selamat setelah malam ini, teriak Harry dalam hati ketika pakaian yang menyelimuti tubuhnya kini terlepas secara paksa dari dirinya.


AN: Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir dan membaca. Terima kasih sudah memberikan review pada chapter sebelumnya serta memfavoritkan dan memfollow seri ini.

Author: Sky