Disclaimer: Harry Potter bukanlah milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings

Warning: AU, Slash, OOC, OC, Mpreg, Creature! Harry, typo, etc

Rating: T

Pairing: DMHP, oneside!DMRV

Genre: Romance, Family


THE TALE OF BLACK FAMILY

By

Sky


Unknown Location

Sebuah perasaan cemburu adalah hal yang sangat wajar dimiliki oleh semua orang, entah itu berada dalam konteks sebuah asmara maupun kepemilikan yang dibatasi oleh bayangan semu bagi orang tersebut. Emosi cemburu bisa saja dimiliki oleh setiap orang baik itu kepada mereka yang sudah kenal maupun yang belum kenal, bahkan sampai mereka belum pernah bertegur sapa sekalipun. Meski demikian, perasaan monster hijau yang menggerogoti hati serta dinamakan oleh kecemburuan itu jarang berdampak baik setelahnya, sebuah rasa cemburu bisa berubah menjadi benci, dan rasa benci pun bisa berubah menjadi dendam yang mana artinya si pemilik akan merasakan hidup mereka rusak tanpa mereka sadari.

Perasaan api cemburu yang membakar hatinya itu sudah sering ia rasakan, saking seringnya ia tidak pernah menghitung sudah berapa kali ia merasakannya dan apapula dampaknya ketika ia merasakan emosi tersebut. Jemarinya yang lentik dengan kuku jari tangannya yang terawat dengan baik pun langsung tergenggam dengan begitu eratnya, ujung runcing kukunya bahkan tidak jarang melukai permukaan tangannya sendiri dan merobek kulitnya.

Pemandangan itu, pemandangan yang seharusnya ia miliki namun tak bisa ia miliki itu semakin membuat bara api cemburu yang ada di dalam hatinya semakin membara, bahkan kalau dirinya tidak ingat akan siapa yang menjadi objek kecemburuannya, sudah sedari dulu ia akan mendatangi orang itu dan membunuhnya karena sudah mengambil orang yang ia anggap sebagai belahan jiwanya secara sepihak.

Suara tawa yang begitu renyah, lalu gelak tawa yang memenuhi meja tidak jauh dari tempatnya duduk itu menarik perhatiannya. Tatapan matanya yang sedari tadi diliputi oleh api cemburu yang bercampur akan kebencian itu langsung melunak ketika ia mendengarkan suara tawa dari 'belahan jiwanya', ia tidak akan marah kepada 'belahan jiwanya' karena pemuda itu tak menyadari kehadirannya, semua kesalahan itu selalu berujung pada penyihir gila itu. Berani-beraninya penyihir gila itu memaksa 'belahan jiwanya' untuk menikahinya, dan ini pasti juga karena hasrat sang seraphine yang menguar begitu saja dan menarik 'belahan jiwanya' untuk menjauh dari dirinya.

Romilda Vane adalah namanya dan ia adalah seorang Gryffindor yang dikenal memiliki hasrat serta ambisi yang tinggi. Ia mungkin memang berani seperti paraGryffindor lainnya, namun dalam lubuk hati yang terdalam ambisinya itu membuat jalan pikirannya semakin rumit dan tanpa sepengetahuannya itu ambisinya tersebut telah berubah menjadi sebuah obsesi.

Mentang-mentang dia ditakdirkan sebagai penyelamat dunia sihir, ia bisa dengan mudah menggandeng calon kekasihku, belahan jiwaku. Benar-benar pelacur kelas rendahan! Teriak Romilda di dalam hati, kedua mata birunya itu terus melemparkan tatapan penuh dengan hawa membunuh pada seorang pemuda berambut hitam dan bermata emerald yang duduk di salah satu meja restoran bersama keluarganya.

Tidak ada yang mengetahui rahasianya ini, bahkan adik serta kedua orangtuanya pun tidak mengetahui ambisi serta obsesinya tersebut. Romilda Vane sangat mencintai Draconis Black, dan ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan pemuda berambut pirang platinum tersebut, termasuk bila ia harus membunuh Harry Potter, si pelacur kelas rendahan sekalipun.

Semua perasaan cintanya ini berawal ketika Romilda berada di tahun keenamnya, di mana pada saat itu terdapat murid pindahan dari Italia yang bernama Christopher Hammond (Draco Malfoy). Dalam satu tatapan pertama Romilda menemukan dirinya jatuh cinta pada Draco, meskipun ia tahu kalau pemuda tersebut akan masuk ke dalam asrama Slytherin yang notabene adalah musuh dari asrama Romilda. Tapi Romilda tidak mempedulikan hal itu, baginya cinta itu adalah segala-galanya dan mampu menghapuskan perbedaan di antara mereka. Murid pindahan yang begitu misterius tersebut selalu menghiasi tidurnya, di dalam mimpi Romilda selalu membayangkan dirinya akan menjadi Nyonya Draconis Malfoy (Black sekarang ini) di masa depan, dan tentunya ia akan memberikan anak-anak yang lucu bagi Draco. Namun, impian yang ia pupuk itu kandas ketika ia mengetahui kalau Draco dan Harry pun menjalin hubungan, dengan Harry mengandung anak pertama Draco. Sebelum Draco datang ke Hogwarts, perasaan Romilda kepada Harry bisa dikatakan sangat normal, tidak ada istimewa-istimewanya, namun semua itu berubah sejak Draco dan Harry pun menikah sebelum memiliki anak. Romilda Lucrecia Vane sangat membenci Harry Potter lebih dari apapun di dunia ini.

Harusnya Romilda lah yang menikah dengan Draco, bersanding dengan pemuda itu dan kemudian menjadi ibu dari Lucas, bukannya si pelacur rendahan yang bernama Harry Potter itu. Dan yang lebih menohok dirinya lagi, harusnya Romilda lah yang menjadi Lady Black serta bercengkerama mesra dengan Draco seperti yang terjadi sekarang ini.

Kuku jari tangannya yang berwarna merah itu pun semakin memerah karena dihiasi oleh darahnya sendiri sebab wanita itu semakin menancapkan kuku panjangnya pada kulit tangannya, meski demikian rasa sakit pada tangannya tersebut tidak ada apa-apanya dengan sakit hati yang tengah Romilda miliki, terutama bila ia disuguhi oleh pemandangan keluarga bahagia yang tidak bisa menjadi miliknya tersebut.

Dari tempatnya duduk Romilda bisa melihat bagaimana keluarga Black saling berinteraksi. Ia melihat Draco yang tengah memangku Lucas tertawa kecil akan apa yang tengah Harry katakan padanya, bahkan sang anak laki-laki berusia lima tahun yang ada di sana juga terlihat menikmati jamuan serta kelakar singkat dari Harry. Kedua mata Romilda memicing hebat melihat pemandangan itu, rasanya sudah lama ia bersabar dan kali ini ia akan bertindak.

Berdiri dari tempat duduknya, penyihir wanita itu pun segera mengambil tas bermereknya sebelum meninggalkan restoran keluarga itu, ia tidak peduli dengan tatapan penuh kekaguman yang diberikan oleh beberapa laki-laki di sana. Ia tidak peduli dengan semua itu, hanya ada satu laki-laki yang ia pedulikan dan laki-laki itu adalah Draco Black.

Nikmati makan malammu bersama belahan jiwaku, Potter, karena malam ini adalah malam terakhir kau akan menikmati kebahagiaan tersebut, ujar Romilda dalam hatinya. Bibirnya yang dihiasi oleh lipstik warna merah itu menyeringai sensual saat ia membentuk sebuah rencana di dalam benaknya seraya dirinya melenggang pergi. Draconis Black, sebentar lagi kau akan jadi milikku.


Keesokan harinya Romilda Vane menemukan dirinya berdiri di samping pagar sebuah sekolah sihir untuk anak-anak penyihir yang berusia lima tahun sampai sepuluh tahun, sebuah sekolah elit yang mengajari anak-anak bagaimana caranya menggunakan sihir sebelum mereka mendapatkan surat penerimaan dari Hogwarts, Durmstrangs, maupun sekolah sihir lanjutan lainnya. Kedua mata birunya mengamati bagaimana anak-anak yang selesai belajar di dalam sekolah itu berlarian dan menuju ke arah orangtua masing-masing yang sudah menunggu mereka, menjemput mereka untuk segera pulang.

Tatapan awas dari Romilda terus beredar sampai keduanya pun jatuh pada sesosok anak laki-laki berambut pirang yang membawa sebuah tas berwarna hitam di punggungnya dan terlihat tengah menunggu seseorang. Romilda yang berhasil mencuri jadwal kegiatan dari Harry Potter pun merasakan bibirnya membentuk sebuah seringai yang lebar sebelum seringai itu berubah lagi menjadi sebuah senyuman, yang ia harap terlihat begitu lembut di mata orang-orang. Kakinya yang beralaskan oleh sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah darah pun langsung beranjak dari tempat persembunyiaannya untuk menghampiri anak laki-laki berusia lima tahun yang ia tahu bernama Lucas Black. Baik Harry maupun Draco belum datang menjemput, sehingga Romilda pun leluasa menjalankan rencananya.

Rencananya kali ini sangat singkat, ia akan menculik Lucas dan membawanya pergi. Ketika Draco dan Harry tengah mencarinya serta merasa sedih karena kehilangan anak itu, Romilda pun akan memberikan simpatinya kepada mereka berdua. Sebagai seorang wanita ia tahu akan apa yang terjadi selanjutnya, Harry yang kehilangan anaknya pun akan merasa depresi sehingga ia akan melupakan kewajibannya sebagai suami dari Draco Black, dan disinilah semuanya akan berjalan. Romilda akan merebut perhatian Draco, akan menghiburnya sebelum membuatnya bertekuk lutut di hadapan wanita itu, sehingga Draco akan meninggalkan Harry dan memilih untuk bersama Romilda. Untuk Lucas sendiri, Romilda akan menghilangkan ingatan anak itu dan akan memberinya sebuah ramuan pencuci otak sehingga ia akan menganggap Romilda sebagai ibunya. Sebuah rencana yang bagus.

"Lucas Black?" Suara yang dipenuhi oleh rasa manis dari Romilda pun mulai terdengar saat ia mendekati anak laki-laki berusia lima tahun tersebut.

"Ah... itu namaku, Nona," sahut Lucas dengan sopan, anak itu langsung membalikkan tubuhnya untuk bertemu pandang dengan Romilda. "Apa aku mengenalmu?"

Ah... anak yang sopan, sangat jelas kalau ia adalah anaknya Draconis. Begitu tampan, dan kurasa ia akan cocok menjadi anakku nanti, pikir Romilda.

"Kurasa tidak. Perkenalkan namaku adalah Romilda Vane, aku adalah teman dari kedua orangtuamu sewaktu di Hogwarts," kata Romilda memperkenalkan diri pada Lucas, senyumannya yang menawan itu menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

"Teman Papa dan Daddy?" tanya Lucas, ekspresi penuh tanda tanya pun terlihat begitu jelas di sorot mata emeraldnya, dan semua itu pun mengarah pada Romilda yang masih berdiri di hadapannya. "Kalau benar demikian, kenapa aku belum pernah melihatmu sebelumnya?"

Romilda lupa kalau kedua orangtua anak ini selalu selektif dalam memilih teman, kalau ia tidak menemukan sebuah alasan yang bagus maka kebohongannya ini bisa terbongkar. Dalm arti yang sebenarnya, Romilda bukanlah teman mereka berdua, bahkan ia sangat yakin kalau Draco dan Harry pernah menganggapnya ada. Tapi, semua itu pun akan terganti, mereka akan menyadari keberadaannya dalam artian yang berbeda nantinya.

"Itu karena aku sedang ada tugas di kementrian Perancis, Lucas, tapi aku senang bisa bertemu denganmu pada akhirnya," kebohongan singkat tidak akan melukai siapapun.

"Begitukah?" Tatapan dari anak itu terlihat kalau ia masih belum mempercayai perkataan Romilda, namun wanita itu akan terus meyakinkannya sebab yang namanya anak-anak itu pasti akan mudah percaya pada orang.

"Tentu saja," senyuman pada bibir Romilda masih terus terkembang sebelum wanita muda tersebut memberikan sebuah tatapan lembut pada Lucas. "Kenapa kau masih ada di sini, Lucas? Bukankah seharusnya kau segera pulang ke rumah, atau kau tengah menunggu seseorang?"

"Aku menunggu Papa di sini. Papa berjanji kalau ia akan menjemputku nanti, jadinya aku akan berada di sini sampai Papa datang."

"Bicara mengenai Papamu, bagaimana kalau kita menunggunya di tempatku, Lucas?" Tanya Romilda, dalam hati ia berharap anak itu akan mempercayai dirinya. "Di rumah aku punya kue jahe yang enak dan baru keluar dari panggangan, kurasa menunggu Papamu di rumahku adalah piihan yang bagus daripada berdiri di sini sendirian, kau bisa diculik oleh orang jahat nantinya."

Diam, itulah yang terjadi setelah Romilda selesai mengucapkan kalimatnya. Lucas terlihat tengah berpikir sesuatu dan tak segera menanggapi perkataan yang Romilda berikan padanya, meskipun itu dengan iming-iming roti jahe yang masih hangat dan lezat. Merasa tak sabar akan jawaban Lucas yang belum keluar dari bocah itu, wanita muda tersebut menggenggam pundak Lucas, membuat sang pewaris keluarga Black tersebut menatap ke arahnya.

"Bagaimana?" tanya Romilda dengan senyuman kecil yang kemudian merekah menjadi besar.

Putra dari Draco dan Harry itu menyipitkan kedua matanya, ia pun menggeleng kepalanya untuk beberapa saat lamanya, menolak ajakan dari Romilda yang terdengar begitu tulus beberapa saat yang lalu.

"Terima kasih, Nona Vane," ujar Lucas dengan sopannya. "Tapi kurasa aku harus menolak ajakanmu. Kita tidak saling kenal, dan Daddy pernah bilang kalau aku tidak boleh pergi dengan orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Kurasa Papa akan segera menjemputku sekali lagi."

"Aku bukan orang jahat, Lucas, terlebih kedua orangtuamu sudah mengenalku," kata Romilda lagi, senyumannya kali ini terlihat sedikit dipaksakan.

Lucas terlihat kalau ia tengah berada dalam konflik batin, namun keputusannya sudah bulat dan ia pun tidak akan ikut bersama Romilda ke mana pun. "Tidak, aku akan menunggu Papa di sini saja."

Bujukan serta rayuan yang Romilda berikan pun terus bergulir selama sepuluh menit, tapi hasil yang ia terima pun juga masih sama, Lucas terus menolak ajakannya dengan dalih ia tidak mengenal Romilda dan anak itu tetap bersikeras untuk menunggu Papanya. Anak ini benar-benar keras kepala, sifatnya yang satu ini memang mirip dengan si penyihir penggoda itu (yang Romilda sebut dengan nama kasar) dan Romilda tidak bisa membantu lagi karena tempernya kini telah naik. Ia merasa marah dan sedikit frustrasi karena Lucas terus menolaknya, sehingga tanpa sadar pun nada yang Romilda gunakan menjadi sedikit kasar dan memaksa, bahkan kuku jarinya pun meremas pundak kecil milik Lucas, membuat anak kecil itu meringis dan mengaduh kesakitan.

"Kubilang kau harus ikut denganku, jangan membantahku lagi!" Paksa Romilda lagi, ia pun menarik lengan Lucas yang masih mencoba untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman Romilda.

"Sakit... kumohon lepaskan aku!" Lucas pun hampir terjatuh kalau kedua kaki kecilnya tidak segera menahan tubuhnya yang tengah ditarik-tarik oleh Romilda. Lucas merasa takut pada wanita ini, dalam hati ia berdoa kalau Papa segera datang untuk menolongnya.

"Ayo ikut denganku, bocah sialan! Kenapa kau harus mewarisi sifat jelek si pelacur Potter itu!" umpat Romilda dengan nada yang cukup keras, ia pun menghiraukan tatapan dari beberapa anak yang menatapnya dengan takut dan khawatir pada Lucas. "Kenapa kau tidak mau jadi anak manis seperti Draconis?!"

"Tidak! Aku tidak mau ikut denganmu, lepaskan aku!" Kata Lucas dengan penuh pemberontakan, cengkeraman Romilda sangat menyakitkan, terlebih dengan tambahan kuku jari yang runcing tersebut.

Anak-anak yang melihat kejadian itu hanya bisa melihatnya dengan penuh ketakutan, mereka tidak bisa membantu Lucas karena Romilda terlihat sangat menyeramkan, mereka tidak ingin penyihir wanita tersebut melukai mereka. Kejadian yang menimpa Lucas itu benar-benar terjadi saat di sana tidak ada orang dewasa satu pun, sehingga tidak ada yang bisa menolong Lucas dari cengkeraman Romilda.

Semuanya menjadi panik, tarikan dari Romilda yang terakhir membuat Lucas terjungkal dari tempatnya berdiri, dan seketika itu pula wanita itu pun langsung mengangkat tubuh kecil Lucas dan menggendongnya. Dirinya bersiap untuk berdissaparate dari sana, namun sebelum Romilda mampu melakukannya ia pun menemukan dirinya berteriak penuh kesakitan saat sebuah kutukan berwarna kuning tepat mengenai punggungnya, secara otomatis membuat pelukannya pada tubuh Lucas langsung terlepas.

"BRENGSEK!" Rambut panjangnya yang bergelombak itu mengikuti gerak tubuhnya saat ia menarik tongkat sihirnya, dan bersiap untuk menyerang si pengecut yang berani menyerangnya dari belakang.

Tatapan penuh kebencian serta amarah yang Romilda miliki pun langsung berganti penuh akan ketakutan saat ia melihat siapa yang menyerangnya barusan. Bulu kuduknya berdiri dan keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.

"KAKEK!" Teriak Lucas yang penuh akan keterkejutan. Melihat wanita jahat itu membeku di tempat, Lucas pun segera berdiri dari tempat jatuhnya sebelum kedua kaki kecilnya berlari dan menghampiri mantan Dark Lord yang berdiri tidak jauh dari wanita itu, ia pun langsung bersembunyi di belakang tubuh kakeknya. "Kakek..."

Tom Marvolo Riddle, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Lord Riddle itu pun berdiri tidak jauh dari sosok wanita yang akan menculik cucunya tersebut. Rasa marah tidak bisa melukiskan emosi yang dimiliki oleh Tom, kedua mata merahnya pun melihat bagaimana wanita itu berusaha untuk menculik Lucas dan semua itu pasti berhasil kalau ia tidak menyerang Romilda Vane.

"Anak-anak, bagaimana kalau kalian masuk ke dalam gedung sekolah dulu. Biarkan orang dewasa berbicara sebentar," perintah Tom kepada teman-teman Lucas yang masih berada di sana, dan ia pun tidak perlu mengulangi kalimatnya lagi karena detik berikutnya anak-anak segera pergi bersembunyi di dalam sekolah, meninggalkan mereka bertiga sendirian di sana.

Dengan begitu tenangnya Tom meletakkan tangan kirinya di puncak kepala Lucas, menepuknya singkat untuk memastikan cucunya tersebut baik-baik saja. Kedua matanya pun langsung menyipit saat ia melihat bekas tangan yang menempel di lengan Lucas, dan itu pasti berasal dari wanita yang mencoba menarik Lucas dengan paksa. Benar-benar tidak bisa dimaafkan.

"Hoo... daripada bermain-main dengan anak kecil, bagaimana kalau kau bermain-main dengan penyihir yang jauh lebih dewasa, Nona Romilda Vane?" tanya Tom, nadanya sedikit mengejek namun semua bisa mendengar dengan jelas kalau ia tengah murka. "Bukankah lebih menyenangkan serta nikmat kalau kau bermain denganku? Tidak dengan cucuku yang masih lugu dan kecil ini."

Tidak ada balasan dari wanita itu, Romilda Vane pasti sangat ketakutan karena dirinya berhadapan dengan penyihir gelap terkuat sepanjang sejarah setelah Gellert Grindelwald sendiri, dan Tom pun juga satu-satunya penyihir yang mampu menebarkan terror di Inggris selama lima puluh tahun lamanya meskipun statusnya saat ini hanyalah seorang Lord Riddle saja. Semua orang tidak lupa bagaimana bengisnya Tom Riddle dan betapa jeniusnya dia, bahkan Dumbledore yang diklaim sebagai Lord kebaikan saja takut padanya.

Satu hal yang bisa dikatakan pada Romilda, wanita itu kali ini benar-benar sial dan hanya sebuah keajaiban saja yang bisa menyelamatkan nyawanya.

"Berani-beraninya kau mencoba menyentuh cucu kesayanganku dengan tangan kotormu, perempuan!" di sini Tom merasakan tangan kecil Lucas mengeratkan genggamannya pada ujung jubahnya. "Tidak akan aku maafkan."

Tanpa mengucapkan sebuah mantra dari bibirnya itu Tom melucuti Romilda dari tongkat sihirnya dan membekukan tubuhnya sebelum ia pun membinasakan wanita itu dari hadapannya, ia mentransfer tubuh wanita itu ke sebuah tempat yang hanya bisa ia masuki sendiri. Tom akan membuat perhitungan pada wanita itu setelah ia mengantarkan Lucas untuk pulang dengan selamat. Merasa puas untuk sementara waktu, Tom pun memfokuskan pandangannya pada Lucas untuk sekali lagi.

"Lucas, ayo kita pulang." Ujar Tom seraya ia memasukkan tongkat sihirnya dan milik wanita itu ke dalam jubahnya lagi.

Setelah melepaskan pegangannya pada jubah sang kakek, Lucas pun menemukan dirinya digendong oleh Tom.

"Kakek, di mana Papa?" Tanya Lucas yang penasaran akan keberadaan Papa-nya, bukankah tadi pagi sang Papa yang harusnya menjemput Lucas dan bukannya Kakek Tom?

"Papa-mu sedang ada di rumah, tadi aku berkunjung ke Black Manor dan menawarkan diri untuk menggantikan Papamu untuk menjemputmu. Sudah lama semenjak kita bertemu terkahir kali 'kan?" Anggukan singkat pun adalah apa yang Tom terima sebagai jawaban dari kalimatnya. "Nah, sekarang saatnya kita pulang."


AN: Terima kasih sudah mampir dan membacanya. Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan review, memfavoritkan, serta memfollow fanfic ini

Author: Sky