Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings

Warning: AU, OOC, OC, Slash, Mpreg, typo, etc.

Rating: T

Pairing: DMHP

Genre: Romance and Family


THE TALE OF BLACK FAMILY

By

Sky


Black Manor, Kediaman Keluarga Black

Harry tidak tahu akan apa yang ia pikirkan sampai ia menyanggupi permintaan Tom untuk tinggal di rumah dan menunggu Lucas untuk kembali. Seharusnya Harry adalah orang yang menjemput Lucas dari sekolah, bukannya Tom, namun ia tidak bisa mengabaikan permintaan dari Tom yang saat ini berstatus sebagai mertuanya, selain Narcissa tentunya.

Meskipun Tom adalah ayah angkat dari suaminya, Harry masih sedikit tidak mempercayai laki-laki itu. Tidak haya Tom dulu pernah membunuh kedua orangtuanya dan selalu mencelakakan dirinya ketika Harry berada di sekolah, keduanya pun terlihat tidak pernah akrab maupun setuju akan sebuah pendapat. Hanya karena Draco, Lucas, dan keadaanlah yang membuat keduanya kini bisa berada dalam satu ruangan tanpa ada alasan untuk membunuh satu sama lainnya.

Tidak untuk pertama kalinya pemuda berambut hitam pekat itu kembali menoleh pada jam dinding yang terpasang di dinding ruang keluarga tersebut. Jarum pendek dari jam dinding tersebut sudah menunjuk angka satu, artinya saat ini seharusnya Lucas sudah berada di rumah dan tengah menikmati makan siang dengan dirinya, hanya saja kehadiran dari anak laki-laki yang merupakan buah hati dari dirinya dan sang suami belum juga muncul di sana. Bahkan ward yang menyelubungi Black manor saja belum memberikan sinyal kalau ada kehadiran dari Tom maupun Lucas.

Apa ada yang menghambat keduanya sampai mereka belum kembali ke rumah? Pertanyaan singkat yang berkecamuk di pikiran Harry, ia benar-benar khawatir dengan keadaan Lucas mengingat anak itu masih berusia lima tahun dan belum mampu untuk menjaga dirinya.

"Harusnya aku tadi menolak tawaran dari Tom. Bodohnya aku, kenapa juga aku setuju? Bagaimana kalau ada hal buruk yang menimpa Lucas? Bagaimana kalau anak itu terluka?" dan kata 'bagaimana' pun kembali keluar dari bibir Harry.

Pemuda yang berusia 22 tahun itu mengambil langkah memutar layaknya ia adalah sebuah setrika, dan itu pun terjadi beruang-ulang tanpa ada perasaan lega yang menyelubungi raganya. Harry baru akan merasa lega kalau ia sudah memeluk anak semata wayangnya dan mendapati tidak ada luka yang menempel pada tubuh Lucas. Draco selalu mengatakan kalau Harry terlalu berlebihan, namun ia tidak bisa membantunya karena Lucas adalah darah dagingnya. Selama hidupnya Harry tidak pernah merasakan apa itu yang namanya memiliki keluarga dan mendapat kasih sayang dari orang-orang terkasih yang berikatan darah padanya, sekalinya ia memiliki keluarga yaitu keluarga Dursley, mereka malah menyia-nyiakannya serta menganggapnya sebagai orang aneh yang tak pantas untuk hidup. Jadi jangan salahkan Harry kalau ia menjadi orangtua yang overprotektif kepada putra dan suami satu-satunya, keluarga baru yang ia bina serta miliki.

Apa ia harus memanggil Draco untuk pulang dan menyuruh suaminya untuk mencari Lucas? Tapi itu namanya berlebihan. Andaikan buah hatinya itu berada dalam bahaya, di sisi Lucas pada saat ini masih ada Tom yang notabene adalah penyihir yang sangat kuat. Hanya orang bodoh saja yang mau melawan Tom setelah mereka mengetahui identitas laki-laki itu.

"Demi Merlin, kalau mereka tidak segera kembali dalam lima menit lagi. Persetan dengan apa kata Draco yang menurutnya berlebihan itu, aku akan pergi ke sekolahnya Lucas dan menjemput anakku sendiri!" Ujar Harry yang kala itu terlihat sangat ingin menjambak rambutnya sendiri.

Masih berjalan mondar-mandir di ruangan tengah Black manor, pikirannya semakin diselimuti oleh hal-hal buruk mengenai apa yang membuat buah hatinya terlambat pulang. Dan sebelum pemuda itu mampu membuat rambutnya rontok akibat tarikannya sendiri, rasa lega yang lumayan besar pun menyelimuti tubuhnya saat ia merasakan kehadiran Lucas memasuki ward rumah kediaman keluarga Black. Tidak peduli kalau dirinya seorang Lord dan tidak diperbolehkan untuk berlari karena image, kedua kaki jenjang Harry pun langsung berlari dari ruang tengah untuk menuju pintu depan. Dengan cepat ia pun langsung membuka pintu depan, memperlihatkan Tom bersama dengan Lucas yang berdiri di sampingnya menatap sosok Harry dengan bingung.

"Lucas!" Panggil Harry dengan suara tercekat, dan detik itu pula ia langsung melingkarkan kedua lengannya pada tubuh mungil sang buah hati, memeluknya dengan erat seperti ia adalah orangtua yang menemukan kembali anaknya setelah keduanya terpisah selama bertahun-tahun lamanya.

Pelukan yang erat dan terlalu berlebihan, Tom yang melihat kelakuan pendamping hidup anak angkatnya serta mantan musuhnya itu hanya bisa memutar bola matanya, tanda heran saja.

Sangat berlebihan, pikir Tom seraya masuk ke dalam rumah meskipun Harry yang notabene adalah pemilik rumah belum mempersilakannya masuk ke dalam. Tom tidak peduli, ia ingin duduk sebentar di dalam sebelum kembali ke tempat dimana ia menyekap wanita murahan itu dan memberinya pelajaran.

"Papa...sesak," keluh Lucas yang tubuh mungilnya masih belum dilepaskan oleh Harry.

Menghiraukan ucapan dari sang buah hati, Harry masih terus memeluknya meskipun ia sudah merenggangkannya sedikit agar Lucas mampu bernapas dengan mudah. Ia pun menatap anak kecil berambut pirang itu untuk beberapa saat lamanya, kedua matanya meneliti apakah ada luka yang tersemat di tubuh mungil Lucas apa tidak, lalu apakah ada kulit yang lecet apa tidak. Ia tahu kalau tindakannya itu sangat berlebihan, namun jiwanya sebagai seorang Papa yang telah mengandung Lucas selama sembilan bulan serta melewati perang besar bersama anak itu di dalam perutnya tak bisa dipertanyakan lagi. Ia sangat protektif pada buah hatinya.

Harry juga tahu kalau Lucas pasti merasa risih dengan inspeksi yang ia lakukan, namun Harry tak peduli. Kedua mata hijau emerald itu tiba-tiba saja mengeras, kilatan penuh bahaya pun muncul di sana saat ia melihat bekas kemerahan ada di lengan mungil milik anaknya, sebuah warna kemerahan yang mirip sekali dengan bekas tangan.

"Papa..." Lucas memanggil Harry, mencoba untuk mengalihkan pandangan Harry dari bekas kemerahan yang ia miliki tersebut.

Harry masih bergeming, ia marah namun mencoba untuk menahan amarahnya di hadapan sang buah hati. Seseorang telah berani menyentuh putranya, tidak hanya itu saja karena orang itu juga dengan lancangnya telah memberikan tanda pada Lucas.

"Lucas sayang, kenapa lenganmu memerah seperti itu?" tanya Harry, kedua matanya melembut tatkala ia menatap wajah sang buah hati. Demi Merlin, wajah Lucas itu benar-benar mirip dengan Draco versi chibi, hanya saja lebih imut dengan warna kulit yang tidak terlalu pucat dan kedua warna bola mata yang diwarisi dari Harry.

Pemuda yang berstatus sebagai suami dari Draco Black tersebut melihat sang buah hati seperti tengah menyembunyikan sesuatu, kelihatan sekali anak itu merasa takut akan sesuatu hal.

"Lucas?" Dengan lembut Harry mengusap pipi tembem milik putranya, ia pun dengan sabar menunggu jawaban dari sang buah hati akan alasan keberadaan bekas ruam kemerahan di lengan mungil tersebut.

"Ngg... seseorang memberikan ini, Papa."

"Seseorang?" Harry berjanji akan memburu orang ini.

Kepala mungil Lucas mengangguk kecil, namun ia masih kelihatan ragu apakah ia harus memberi tahu Harry apa tidak. Anak itu takut kalau Harry akan memarahinya karena ia berbicara dengan dengan orang asing, sehingga ia mendapatkan bekas cengkeraman seperti yang tercetak di lengan mungilnya, padahal baik Papa maupun Daddy sudah sering memberinya nasehat kalau ia tidak boleh berbicara dengan orang asing. Namun, di sisi lain Lucas juga tidak mau menyembunyikan sesuatu dari Papanya.

Pilihan yang sangat berat, namun anak itu memilih untuk memberitahu Harry.

"Iya, tadi sewaktu aku menunggu Papa untuk datang menjemput di depan gerbang sekolah, seorang Lady datang menghampiriku. Lady ini mengaku kalau ia adalah teman baik dari Papa dan Daddy, ia memberitahuku kalau kalian berdua sudah menunggu di rumahnya, jadi aku harus ikut dengan Lady itu, Papa."

Harry bisa merasakan urat kemarahannya mau pecah mendengar ulasan singkat dari Lucas, pertanyaan singkat pun kini menggaung di dalam telinganya mengenai identitas dari wanita yang disebutkan oleh Lucas.

"Lalu apa Lady ini memaksa Lucas untuk ikut dengannya?" Tanya Harry lagi, meskipun di dalam ia merasakan darahnya mendidih namun di luar ia masih terlihat kalem.

Lucas mengangguk singkat. "Iya, Papa. Aku tidak mengenal Lady ini, dan baik Papa maupun Daddy selalu memberitahuku kalau aku tidak boleh ikut dengan orang. Karena itu aku mengatakan kalau aku akan menunggu sampai Papa datang menjemput, soalnya aku yakin Papa tidak akan ingkar janji. Tapi..."

Ucapan itu terputus, membuat Harry menjadi penasaran.

"Tapi?" Harry memberikan pertanyaan singkat, tangan kanannya mengusap kepala mungil milik sang buah hati.

Pewaris muda dari keluarga Black itu menundukkan kepalanya, tidak berani bertemu dengan tatapan milik sang Papa. "Dia memaksaku, menyeretku untuk ikut dengannya. Aku... tidak bisa melawan Lady itu, Papa."

Dan ujung kesabaran dari Harry habis sudah, ia akan membunuh wanita yang berani menyakiti buah hatinya. Tidak, membunuhnya terlalu bagus untuk wanita itu, Harry rasa ia akan menyiksa wanita itu perlahan-lahan sampai ia tidak akan berani lagi menyentuh keluarga kecil Black-nya lagi untuk seumur hidupnya.

Berdiri dari posisinya yang semula, ia pun meletakkan tangannya di tubuh Lucas dan menggendong balita itu dengan mudahnya. Langkahnya yang ringan namun penuh akan kekuatan itu menandakan kalau sang Lord Potter tersebut tengah marah, dan siapapun yang menjadi penyebabnya patut berdoa untuk keselamatan jiwanya.

"Thomas Marvolo Riddle, kau berhutang penjelasan padaku!" Desis Harry dengan menggunakan Parseltongue.

Dan orang yang namanya disebut pun menoleh, sebuah seringai muncul di bibirnya.

"Kau terlalu lamban, Potter."


Ruangan Bawah Tanah, Riddle Cottage

Udara dingin yang menusuk serta bantalan yang keras dan menjadi tumpuannya itu membuatnya terbangun dari tidur panjangnya. Kedua matanya perlahan-lahan terbuka, memperlihatkan sepasang bola mata yang jernih meskipun rasa bingung yang menerpanya masih terlihat di sana. Wanita itu, dengan pakaiannya yang terlihat bagus dan mahal tersebut terlihat tak cocok berada di ruang bawah tanah yang begitu dingin dan mencekam, sebuah tempat yang sangat mirip dengan penjara meskipun tidak separah Azkaban.

Di mana ia berada sekarang ini? Wanita berwajah cantik itu bertanya-tanya dalam benaknya, ia berpindah dari posisinya yang tengkurap di lantai yang dingin menjadi duduk, dengan kedua tangannya menjadi tumpuan. Roknya yang pendek sedikit tersingkap, memperlihatkan sepasang paha yang mulus dan putih, hal ini tentu saja mampu menggoda siapapun untuk menyentuhnya, hanya saja objek yang menjadi obsesinya itu tidak akan tertarik karena sang laki-laki sudah memiliki seseorang yang ia cintai.

Wanita berambut hitam itu mendesis pelan saat ia merasakan rasa sakit pada keningnya, kelihatannya mantra yang mengenai tubuhnya beberapa saat yang lalu membuatnya begitu pusing. Tapi, wanita itu tidak memiliki apapun untuk disalahkan kecuali dirinya sendiri, ia salah asumsi dan kurang cepat dalam bertindak.

"Aku tidak menyangka kalau Kau-Tahu-Siapa bersama dengan anak sialan itu. Sungguh sial sekali," gumam wanita itu setelah meludahkan darah kering yang telah berkumpul di mulutnya ke lantai penjara tersebut.

Kelihatannya wanita itu tak bisa pergi untuk beberapa saat lamanya karena ia terperangkap di ruang bawah tanah dan di balik jeruji besi yang dipasangi oleh sihir penghalau. Dan di mana ia berada saat ini pun juga masih menjadi misteri baginya.

"Kalau aku melihat anak sialan itu lagi..." Wanita cantik yang bernama Romilda Vane itu memotong kalimatnya sendiri karena rasa sakit yang berasal dari lengannya membuatnya mendesis.

Udara dingin yang berada di ruang bawah tanah itu bertambah menjadi sangat dingin, seolah-olah temperatur udara yang ada di sana menurun secara drastis. Tidak hanya dengan itu saja, aura yang mengelilinginya pun juga berubah menjadi semakin mencekam.

Romilda yang sedari tadi mengambil nafas dengan santai kini merasakan nafasnya tercekat, dan entah kenapa ia merasa seperti ada sepasang mata yang menatapnya dengan begitu lekat, jangan lupakan dengan hawa membunuh yang sangat pekat mengarah pada dirinya tersebut.

Ada orang di sini selain diriku! Romilda berteriak di dalam hati, instingnya mengatakan kalau ada predator yang tengah mengamatinya dengan begitu lekat, siap untuk menyerangnya kapan saja.

Perlahan namun pasti, wanita yang berusia sekitar 21 tahunan itu pun menengadahkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk, ia menatap ke arah balik jeruji besi dan instingnya pun mengatakan hal yang benar padanya. Duduk di atas kursi yang berjarak tidak jauh dari sel tahanan yang mengurung diriya, dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kiri sementara kedua tangan orang itu bersedekap di dadanya adalah sosok sang predator yang mengawasinya sedari tadi.

Kulit putih dari sang predator itu menjadi cerminan pertama ketika cahaya remang-remang lilin menerpa dirinya, dan rambut hitam pekat yang sedikit berantakan milik sang predator itu memberikan kesan yang seksi dan berbahaya, terlebih dengan sepasang mata emerald yang begitu tajam. Dalam artian singkat, pemuda yang duduk di atas kursi dan menatap Romilda dengan tajam itu bisa dicerminkan sebagai gelap, seksi, dan berbahaya. Dan dari itu semua, Romilda tersadar kalau pemuda yang ia tatap dengan pandangan menerawang itu adalah rivalnya, Harry James Potter atau Black sekarang ini.

"Sudah selesai melamunnya?" tanya Harry, nada yang ia gunakan terdengar sangat dingin, bahkan temperatur yang berada di ruangan tersebut kalah dingin bila dibandingkan dengan nada yang Harry gunakan.

Romilda, nama wanita itu, pun mengernyitkan keningnya seraya berdiri dari posisi duduknya di atas lantai yang dingin. Tumitnya yang nyeri akibat sepatu berhak tinggi yang ia gunakan pun terhiraukan akibat kemunculan sosok sang rival.

"Potter!" Desis Romilda dengan penuh kewaspadaan.

"Vane," balas Harry. Sang Seraphine itu pun kin beranjak dari tempat duduknya, berdiri berhadapan dengan Romilda Vane untuk beberapa saat lamanya.

Keduanya saling bersiteru menggunakan sebatas pandangan yang tercipta, sengatan listrik permusuhan pun juga telah dilancarkan antara satu denga lainnya meskipun keduanya tak saling berucap kata lagi maupun bergerak dari posisinya.

Bagi Romilda Vane, Harry Potter itu adalah musuh alami yang menghalangi jalan kebahagiaannya. Pemuda berambut hitam itu harus segera disingkirkan agar ia bisa menggantikan kedudukan Harry di hati Draco maupun di masyarakat, dan menghabisi Harry di tempat ini adalah satu-satunya jalan baginya. Terlebih Harry sendiri seperti sudah mengetaui intensitas yang ia miliki, jadi Romilda tidak perlu menyembunyikan rasa tidak sukanya pada pemuda Seraphine itu.

Di lain pihak, Harry tidak menyukai Romilda Vane karena wanita itu sudah berani-beraninya melukai sang buah hati serta membuat Lucas ketakutan seperti itu. Kalau saja ia berada di tempat Tom saat menjemput Lucas, pasti Harry sudah membunuh Romilda pada saat itu juga, entah kenapa Harry sedikit berterima kasih kepada mertua angkatnya tersebut.

"Keluarkan aku dari tempat ini, Potter!" Perintah Romilda kepada Harry yang masih berdiri tanpa emosi yang ada di sana.

Harry hanya menaikkan alisnya ketika permintaan itu ditujukan padanya. "Tidak ada keuntungannya bagiku untuk mengeluarkanmu dari sana, Vane, dan kelihatanya sel yang menjijikkan itu sangat cocok dengan kelakuanmu yang membuatku ingin muntah itu."

"DIAM!" tatapan ganas pun diberikan Romilda kepada Harry, jemari lentik milik wanita itu menggenggam jeruji sel besi dengan sangat erat, seperti ia ingin menarik jeruji itu ke samping dan membuatnya melar sehingga memberikan ruang bebas baginya. Sayangnya hal seperti itu tak akan terjadi karena Romilda bukanlah superhero yang ada di dunia muggle. "Orang yang seharusnya lebih pantas berada di dalam sel besi menjijikkan ini bukanlah diriku, melainkan kau, Potter! Dasar perebut dan murahan!"

Wanita itu meraba saku blazernya untuk mengeluarkan tongkat sihirnya, tapi di sana tak ada apa-apa, ia baru teringat kalau Tom telah merampas tongkat sihirnya. Sepertinya hari ini memang hari sialnya.

"Kau yang seharusnya diam dan mendengarkan apa yang akan aku katakan, Vane!" Harry yang terlanjur tak dapat membendung emosinya pun tidak mampu memisahkan perkataannya dengan Parseltongue, akibatnya kedua bahasa tersebut bercampur menjadi satu sehingga membuat wanita itu merinding ketika mendengarnya.

Pemuda yang berusia 22 tahun itu mengeluarkan tongkat sihirnya, ia pun mengayunkannya secara horizontal ke samping, membuat besi dari jeruji sel tersebut meleleh, membebaskan Romilda dalam satu sapuan sihir. Namun, ia pun menggumamkan sebuah mantra dalam suara lirih. Sebuah pengikat tak kasat mata pun kini membelenggu tubuh wanita itu, membuatnya tak mampu bergerak serta mendorongnya sampai punggung milik Romilda menghantam dinding ruang bawah tanah yang dingin.

"Potter!"

"Diam kau, Vane!" Hardik Harry, ia mengambil dua langkah ke depan. "Tom sudah memberitahuku apa yang terjadi, dan ia juga sudah memberitahuku akan obsesi tidak sehatmu pada suamiku."

Harry menghiraukan teriakan 'ia bukan suamimu, succubus' yang dikeluarkan oleh Romilda, sebuah penyangkalan yang telak dari wanita itu, namun semuanya tak mambuat Harry kalap. Sang Seraphine itu menghela nafas untuk menenangkan dirinya.

"Sebanyak apapun kau menyangkal, Draco adalah suamiku dan ayah dari anakku, Romilda Vane. Untuk kebaikanmu sendiri, lebih baik kau segeral melupakan obsesi bodohmu itu dan kembalilah ke tempat dimana kau berasal."

"Atau apa?" Romilda menantang Harry, membuat pemuda itu menyipitkan kedua matanya.

"Atau aku akan membunuhmu."

Ancaman yang keluar dari mulut Harry membuat Romilda terdiam untuk beberapa saat lamanya sebelum dirinya mengeluarkan sebuah tawa yang cukup menggila. Suara tawa dari wanita itu menggema di tempat tersebut, namun semuanya masih tak membuat sang Seraphine gentar atau sebagainya. Bahkan dalam lubuk hati yang terdalam Harry memberikan selamat pada dirinya sendiri karena mampu menahan amarah.

"Apanya yang lucu, Vane? Bisa bagikan padaku tentang apa yang lucu supaya aku bisa ikut tertawa denganmu?" sebuah seringai kecil muncul di bibir Harry.

Romilda menggeleng kepalanya untuk beberapa saat, senyuman mengejek muncul di bibirnya seraya menatap ke arah Harry dengan tajam dan penuh akan kebencian. "Kau, Saint Potter, kau lah membuatku tertawa. Aku tak akan pernah membayangkan kalau kau bisa membunuh makhluk hidup, terlebih seorang penyihir sepertiku. Kau tak akan mampu."

"Apa kau mau mencobanya, Vane? Kurasa aku harus mempraktikkan seberapa teganya diriku untuk membunuhmu, mungkin dengan itu kau akan tahu kalau aku juga mampu melakukannya."

Meskipun Harry terlihat tak mampu membunuh seekor lalat sekalipun, Romilda tidak tahu kalau orang yang berhasil membunuh Sanguini pada perang lima tahun yang lalu adalah Harry, namun pemberitaan ini tidaklah dimuat ke dalam surat kabar.

"Kau tak akan melakukannya, Potter, terlebih bila aku terbunuh maka auror akan menangkapmu dan mengadil..."

"Tidak kalau aku melenyapkan mayatmu dan menghapus jejakmu di dunia ini. Apa kau lupa siapa aku, Vane?" Tanya Harry, ia pun berjalan mendekat ke arah wanita yang terikat pada dinding ruang bawah tanah tersebut. "Memiliki obsesi terhadap Draco, aku bisa memaafkannya. Tapi menyakiti putraku dan berusaha untuk melukai keluarga kecilku adalah apa yang tak bisa kumaafkan. Kalau pun perbuatanku diketahui oleh orang, para Auror tak akan bisa menangkapku karena pasti mereka menduga aku membunuhmu sebagai pembelaan diri, aku ini seorang Seraphine dan hukum dunia ilmu sihir tak berlaku bagiku. Dan jangan kau lupakan siapa Draco, aku yakin dia akan berada di pihakku yang artinya akan melindungiku apapun yang terjadi."

Sekarang Romilda merasa takut, ia melupakan fakta kalau ras yang dimiliki Harry itu adalah tipe yang kebal hukum, sehingga ia membunuh pun dirinya tak akan bisa disentuh dengan hukum. Kedua mata milik wanita itu menatap was-was tongkat sihir yang Harry ayunkan dengan santai.

"Dan kurasa aku tahu apa yang harus aku lakukan denganmu, Romilda Vane."

Dan mimpi buruk pun terjadi bagi Romilda Vane.


Empat hari kemudian sebuah berita yang mengejutkan dunia ilmu sihir pun mulai tersiar. Romilda Vane yang diketahui telah menghilang selama tiga hari pun ditemukan di bibir pantai dengan keadaan tak sadarkan diri, dan kelihatannya wanita itu tak mampu mengingat apa yang terjadi karena ingatannya dalam beberapa hari terakhir terhapus begitu saja. Tidak ada jejak yang bisa ditelusuri oleh para Auror untuk mencari tahu siapa pelaku kejahatan tersebut, benar-benar nihil seperti apa yang menimpa Romilda Vane itu adalah sebuah kecelakaan yang murni terjadi.

Dua hari setelah penemuan yang menggemparkan itu, wanita tersebut dirujuk ke St. Mungo karena para penyihir medis yang berada di sana menemukan kalau Romilda Vane mengalami gangguan jiwa yang aneh, hal ini sangatlah aneh karena mereka semua mampu berkata kalau sebelumnya wanita itu tidak memiliki penyakit mental atau sejenisnya.

"Well... kurasa sihir penukar ingatan itu benar-benar manjur," ujar Tom seraya menutup koran yang tadi ia baca, seringai kecil pun terulas dengan jelas di bibirnya.

Draco, yang duduk di sebelahnya dengan sebuah buku terbuka di tangannya dan pangkuannya digunakan sebagai bantal oleh Lucas hanya bisa mengernyit.

"Apa maksudmu, ayah?" tanya Draco, rasa penasaran pun membuatnya berpaling dari buku yang sedari tadi ia baca untuk menoleh ke arah sang ayah angkat.

"Bukan apa-apa."

Kejadian tempo hari itu menjadi rahasia Harry dengan Tom, mereka meninggalkan Draco karena semakin sedikit orang yang tahu maka semakin baik. Apa yang dilakukan Harry terhadap Romilda bisa dibilang akan menimbulkan trauma pada wanita itu, ia menggunakan ilusi penyiksaan pada Romilda selama dua hari lebih, membuat wanita itu semakin cadas sebelum Harry memodifikasi ingatan Romilda menggunakan sihir ingatan yang ia pelajari dari buku milik Tom. Alhasil Harry pun menghapus ingatan Romilda mengenai obsesinya kepada Draco dan menatanya kembali.

Apa yang dilakukan oleh Harry terbilang sangat mulus karena ia mendapat bantuan dari Tom. Bagi Harry, ia rela melakukan apa saja agar keluarga kecilnya bahagia, dan bagi orang yang menyakiti keluarganya pun akan mendapatkan hukuman yang sangat berat, seperti apa yang diterima oleh Romilda. Bagi wanita itu, kecemburuan yang membutakan hatinya benar-benar membawa sebuah petaka bagi dirinya sendiri.


AN: Terima kepada teman-teman pembaca yang sudah mampir dan menyempatkan diri untuk membaca. Terima kasih kepada kalian yang sudah mereview, memberikan favorit, serta memfollow serial ini.

Author: Sky