Disclaimer: Harry Potter milik dari J.K. Rowlings. Penulis tidak mendapat keuntungan material dari penulisan fanfik ini
Warning: AU, OOC, OC, Slash, Mpreg, typo, etc
Rating: T
Genre: Family, Romance
Pairing: DMHP
THE TALE OF BLACK FAMILY
By
Sky
Draco adalah orang yang menyukai bangun pagi, menurutnya waktu di pagi hari adalah waktu yang bagus untuk merenggangkan diri serta bermeditasi, dan tidak sewajarnya kalau orang-orang menghabiskan pagi mereka dengan meringkuk di balik selimut hanya karena mereka malas. Jadi tidak jarang kalau kita menemukan kepala keluarga Black yang bernama Draco Black tersebut sudah bangun di pagi hari serta melakukan beberapa aktivitas seperti berolahraga.
Namun, pagi ini ia melakukan hal yang sedikit berbeda dari rutinitas hariannya. Hal ini dikarenakan putera sematawayangnya yang bernama Lucas Black tersebut pada pagi-pagi buta sudah menyelinap dari kamarnya yang ada di lantai dua, dan bocah kecil itu memasuki kamar kedua orangtuanya dengan cara berjinjit, berharap baik Papa dan Daddy-nya tidak terbangun atas tindakan tersebut. Draco sendiri yang seorang light sleeper tentu langsung terbangun ketika ia mendengar pintu kamarnya dan Harry terbuka, namun tidak serta merta pemuda berambut pirang platinum itu terbangun, ia tidak merasakan aura mencekam maupun tindakan penyusup yang bermaksud jahat.
Menggeliat sedikit, ia melepaskan rangkulan dari lengan suaminya yang masih tertidur di sampingnya untuk menoleh ke samping. Sepasang mata silver kebiruannya yang beberapa saat lalu diselimuti oleh rasa kantuk kini langsung sirna, tergantikan oleh rasa penasaran serta ketertarikan kalau ia menemukan sosok kecil sang buah hati mencoba untuk menyelinap masuk ke dalam kamar Draco.
"Lucas," panggil Draco dengan nada tenang meski masih diselimuti oleh rasa kantuk. Suaranya sedikit parau akibat lama tidak digunakan ketika tidur.
Bocah yang bernama Lucas Black itu langsung membeku di tempat, usahanya untuk tidak membangunkan salah satu kedua orangtuanya gagal, namun setidaknya yang terbangun kala itu adalah Ayah yang ia ketahui memang mudah sekali terbangun. Sepasang mata yang mengingatkan akan milik Harry tersebut menatap sosok sang Ayah yang kini terduduk di atas tempat tidur, menyambutnya dan kelihatan sekali ia terhibur akan usaha Lucas yang mendengap-endap layaknya seorang pencuri.
"Dad," balas Lucas dengan suara lembut. Merasa tak ada gunanya dengan mengendap-endap melihat sang Daddy terbangun, ia pun kembali berjalan normal dan menghampiri sosok Draco.
"Tidak biasa kau bangun di pagi buta seperti ini. Apa kau bermimpi buruk?" tanya Draco dengan suara pelan, ia melakukan itu karena tidak menginginkan Harry terbangun.
Draco melihat Lucas menggelengkan kepalanya, tanda kalau ia masuk ke dalam kamar Harry dan Draco bukan karena ia mendapatkan mimpi buruk semalam, tapi karena suatu hal yang tentu saja membuat Draco semakin penasaran. Pemuda itu adalah orang yang cukup tajam dan pengertian, sehingga dalam sekali lihat pada sosok sang buah hati yang memberikan tatapan sedikit takut ke arah sosok Harry yang masih tertidur ia pun bisa menyimpulkan sesuatu. Lucas ingin berbicara dengannya dan tak ingin membuat Harry terbangun.
Terkekeh pelan, Draco pun kini turun dari tempat tidur setelah membenarkan posisi selimut pada tubuh Harry agar ia tidak kedinginan. Tak lupa juga Draco meletakkan sebuah bantal pada jangkauan Harry kala pemuda yang masih tertidur itu menggeliat sedikit, mencari-cari sosok sang suami yang sudah berpindah dari tempat tidur mereka, sehingga saat Harry menemukan sebuah bantal ia pun langsung memeluknya dengan erat, menganggap benda itu adalah Draco. Pemandangan yang cukup menarik di pagi hari, mengingatkan Draco pada sifat seekor kucing. Oh, Harry itu memang kucing milik Draco, dalam artian lain tentunya.
Karena tak ingin terbawa akan suasa yang nanti membuat nafsunya bergejolak, Draco pun mulai memfokuskan konsentrasinya pada sosok Lucas dan menyuruh sang buah hati untuk keluar dari kamar pribadi Harry dan Draco bersama dirinya.
"Jadi?" Tanya Draco ulang ketika mereka berdua sudah berada di area ruang duduk yang ada di ruangan tengah dalam manor besar tersebut.
"Daddy, apa Daddy tahu hari apa ini?" Tanya Lucas, anak itu menghampiri sosok Draco yang sudah mengambil tempat duduk di atas sebuah sofa dan merangkak naik ke atas, Lucas mengambil tempat duduk di atas pangkuan Draco.
Lucas tahu dirinya sudah besar, sudah berusia lima tahun dan tidak seharusnya meminta duduk di pangkuan kedua orangtuanya (itu yang ia baca dari tata krama seorang bangsawan, tapi ia tidak peduli akan hal itu), namun ada waktunya ia ingin bermanja-manja dengan kedua orangtuanya, dan sekarang ini adalah salah satunya. Dan anak itu pun mau tak mau menyunggingkan senyum kecil ketika ia merasakan lengan Draco melingkar pada pinggangnya dan membawa sosok kecilnya ke dalam pelukan hangat, Lucas pun menyandarkan kepala mungilnya pada bahu sang Ayah.
"Hari Kamis," sahut Draco dengan lugas, ekspresinya mengatakan kalau ia benar-benar penasaran dengan maksud yang Lucas berikan dan entah kenapa instingnya mengatakan kalau hari ini adalah hari yang cukup penting.
Dan Draco Black pun tak pernah mengabaikan instingnya tersebut, karena tanpa insting yang ia miliki maka Draco sudah dipastikan akan terbunuh sejak lama. Saat mengorek informasi dalam kepalanya serta mengapa Lucas menanyakan hari apa sekarang ini pada Draco, dan juga fakta kalau putera mungilnya ini bisa bangun pagi sebelum Draco atau Harry membangunkannya, ia pun mengambil sebuah kesimpulan. Lucas juga tak menginginkan Harry untuk terbangun saat itu, dan pada saat itulah Draco tahu hari apa itu.
Insting yang dimiliki oleh Draco tersebut memberikan fakta yang benar, karena pada saat yang sama setelah Draco mengucapkan kalau hari itu adalah hari Kamis, Lucas terlihat memajukan bibir bawahnya, cemberut karena logika sang Ayah yang terlalu lugas.
"Bukan itu maksudku, Dad. Hari ini memang hari Kamis, tapi itu bukan yang aku tanyakan padamu," pewaris dari keluarga Black itupun menatap sosok Draco dengan tatapan serius –untuk ukuran seorang bocah berusia lima tahun– sebelum melanjutkan ucapannya yang terpotong tadi. "Hari ini adalah hari Ibu, Dad, dan apa kau tahu artinya?"
"Hari dimana kita memberikan ucapan terima kasih kepada Ibu kita," jawab Draco, tangan kanannya mengusap rambut tebal milik Lucas sementara senyumannya masih terlihat tenang seperti tadi. Dugaannya memang tidak pernah meleset.
"Untuk itulah, Daddy, aku tadi membangunkanmu. Tapi nyatanya kau malah sudah terbangun," di akhir kalimat Draco malah tertawa kecil karena mendengar nada rajukan yang berasal dari Lucas. Namun, dengan sabar ia menunggu sang buah hati untuk melanjutkan apa yang ingin ia katakan kepadanya. "Aku ingin merayakan hari Ibu di rumah, dan aku ingin Daddy membantuku membuatkan sesuatu untuk Papa."
"Oh, jadi itu yang ingin kau lakukan, little one," gumam Draco dengan suara lirih. Ia pun menoleh ke bawah dimana matanya langsung bertemu dengan milik Lucas. "Tapi, apa kau tahu kalau Papa adalah seorang laki-laki? Bukankah biasanya hari Ibu ditujukan untuk seorang perempuan?"
Lucas menggelengkan kepalanya, "Aku tahu itu, Dad, tapi Papa adalah Ibu yang melahirkanku di sini. Papa mungkin seorang laki-laki, namun semua itu tak menampik kalau ia adalah seorang Ibu yang menyayangiku dan Daddy. Aku ingin menunjukkan rasa terima kasihku kepada Papa."
Sebagai seorang seraphine submisif yang memiliki kemampuan untuk melahirkan, peran Harry adalah seorang Ibu meskipun ia juga seorang laki-laki. Draco hanya sedikit ragu apakah Harry akan sedih atau tidak bila fakta yang Lucas ucapkan itu sampai pada telinganya. Namun, melihat siapa Harry yang sejak dulu menginginkan keluarganya sendiri, Draco rasa ia tidak akan apa-apa. Dan Draco sendiri memang berencana untuk membantu Lucas untuk melakukan rencana yang ada dalam kepala mungilnya itu.
"Mungkin kita bisa mengganti kata hari Ibu menjadi hari Papa, kurasa Papa akan jauh lebih senang dengan fakta itu, bukan?" Ujar Draco yang memberikan ide kepada anaknya.
Untuk sesaat Lucas tidak mengucapkan sepatah kata apapun kepada Draco, ia memikirkan ide yang Daddy-nya berikan padanya. Lucas rasa mengganti hari Ibu menjadi hari Papa tidak akan menjadi masalah, karena baginya itu sama saja dan entah kenapa juga terdengar jauh lebih keren. Ia memiliki hari Daddy dan hari Papa untuk dirayakan nanti. Tersenyum lebar dengan kerlingan di matanya, Lucas pun mengangguk dengan penuh semangat.
"Okay, hari Papa terdengar jauh lebih keren. Ayo kita rayakan dan beri kejutan pada Papa, Daddy!"
Sekitar pukul delapan pagi, Harry yang masih terlelap dalam tidurnya sejak semalam kini mulai mengernyitkan keningnya, tanda kalau ia akan terbangun sebentar lagi. Sinar matahari yang cukup terang masuk ke dalam kamarnya dan menimpa sosoknya, membuatnya sedikit tidak nyaman, sementara tubuhnya yang bergelung di dalam selimut pun mau tak mau merasa sedikit menggigil kala udara dingin juga masuk ke dalam. Perlahan, sang Seraphine muda itu pun membuka kedua matanya sebelum mengedarkan tatapan ke seluruh penjuru ruangan.
Ia merasa ada sesuatu yang hilang di dalam ruangan itu, Harry mengernyit tidak suka sebelum ia berguling ke samping untuk melihat spot kosong di sisinya. Draco itu makhluk pagi, dan ia selalu bangun lebih dahulu ketimbang Harry, sebuah hal yang sedikit tidak ia sukai namun juga tak bisa ia protes. Kebiasaan suaminya itu sedikit lucu, begitu pikirnya seraya ia beranjak dari posisi tidurannya.
Rambut hitam yang sangat berantakan serta muka yang sedikit kusam itu adalah pemandangan pertama yang ada dalam diri Harry Black setelah bangun tidur, sama sekali tak menarik. Dan dalam hati Harry bersyukur karena Draco sudah bangun terlebih dahulu, artinya Draco tidak akan melihat penampilannya yang tidak menarik ini. Meski mereka sudah bersama bertahun-tahun lamanya sampai memiliki Lucas, Harry masih sedikit tidak percaya diri dengan penampilannya sendiri, terutama di pagi hari. Dan salah satu ketakutan terbesarnya adalah Draco akan meninggalkan Harry ketika tahu betapa tak menariknya Harry di pagi hari.
Berpikir apa aku ini, Draco selalu menemukanku menarik, hibur Harry pada dirinya sendiri.
Lamunannya yang sebenarnya tidak terlalu penting itu pun langsung menghilang karena sebuah bunyi keras yang ia dengar dari arah dapur. Harry, yang berpikir kediaman mereka tengah diserang oleh sesuatu, langsung bergegas turun dari tempat tidur dan berlari ke arah dapur setelah mengambil tongkat sihirnya. Ia khawatir akan apa yang terjadi, perang sudah berakhir namun bukan berarti serangan mendadak tak pernah dilontarkan kepada mereka. Harry berharap kedua orang yang ia sayangi –Draco dan Lucas– aman.
Pemuda berambut hitam itu terus berlari tanpa membenahi pakaian serta penampilannya yang masih acak-acakan, ia tidak peduli akan hal itu karena pikirannya masih bergulir pada keamanan Draco serta Lucas. Ketika ia sudah tiba di area dapur, bayangkan betapa terkejutnya Harry ketika mendapati asap tebal membumbung tinggi di sana, dan karena itulah tatapannya menjadi lebih awas.
"Draco... Lucas!" Panggil Harry.
"Hai, Papa, selamat pagi!" Sapa Lucas yang keluar dari kepulan asap tebal tersebut.
Harry yang tadi merasa panik kini sudah tidak panik lagi ketika suara sang buah hati menyapanya kembali, dan tubuhnya pun rileks kala melihat sosok Lucas yang memakai celemek berwarna biru keluar dari kepulan asap.
Bukankah mereka tengah diserang? Lalu kenapa Lucas malah memakai celemek dan menyapanya seolah-olah tidak ada kejadian apapun di sana? Seperti itulah yang Harry pikirkan. Sang Seraphine muda itu pun langsung menghampiri Lucas dan memeriksa sosok sang buah hati untuk melihat apakah ada luka pada tubuhnya. Dan selain menemukan noda jelaga pada pipi Lucas, Harry tak menemukan apapun.
"Apa yang terjadi?"
Dan pertanyaan Harry pun terjawab setelah kepulan asap yang tadinya tebal di dalam dapur kini menghilang, sudah pasti Draco menggunakan sihirnya untuk menghapus polusi tersebut. Ketika menatap sosok suaminya yang berdiri di depan sebuah panci yang kini tak berbentuk lagi, Harry mulai merasa kalau jiwanya keluar dari tubuhnya. Dapur kesayangannya kini berubah menjadi tempat aneh yang hampir tidak ia kenali. Kelihatannya duo Ayah-Anak itu mencoba untuk memasak namun hasilnya adalah gagal serta dapur milik Harry hancur.
Harry hanya bisa memutar kedua bola matanya kala ia melihat kekacauan yang dibuat oleh duo Ayah-Anak yang ada di dapur. Dapurnya yang semula terlihat begitu bersih dan mengkilap, dengan beberapa peralatan memasak tersusun rapi kini bisa dilihat mirip sekali dengan kapal pecah. Serahkan saja pada Draco yang tidak bisa memasak, atau Demi Merlin pemuda itu adalah kekacauan berjalan ketika ia berada di dapur padahal ia bisa menghandel masalah ramuan dengan baik.
Berkacak pinggang dengan sedikit angkuh dan terlihat macam seorang jenderal yang murka karena pasukannya tidak mematuhi perintah yang ia buat, sang Seraphine bermata hijau emerald tersebut berdehem pelan, membuat perhatian Draco dan Lucas yang sedari tadi tertuju pada panci yang gosong serta lendir atau apa itu namanya yang ada di lantai kini beralih pada sosok Harry
"Papa!" Teriak Lucas dengan nada riang gembira, khas nada anak-anak seusianya sebelum Anak dari pasangan keluarga Black tersebut tertawa kecil dan kemudian memeluk Harry dengan erat (dan cukup membuat piyama Harry yang bersih menjadi kotor).
"Hello, dear," hanya itu yang terucap dari bibir Draco seraya memberikan senyum tipis kepada suaminya yang terlihat jelas sedikit murka. "Mau bergabung bersama kami?"
Harry mendelik tidak suka. Bergabung bersama kami? Yang benar saja. Hal yang ingin diucapkan Harry adalah bertanya mengapa dapurnya yang semula terlihat bagus dan bersih sekarang malah mirip seperti kapal pecah, Harry butuh penjelasan sekarang juga.
Layaknya pasangan yang berlatar belakang sebagai belahan jiwa, Draco yang kini bersandar pada meja dapur setelah mematikan kompor dan membersihkan kepulan asap pun memberikan senyuman kecil sebelum menoleh ke arah sang Buah hati yang masih lengket pada sosok Harry. Senyuman yang terpasang di bibirnya itu sudah mampu menjawab pertanyaan Harry, bahkan bila si pemilik tidak menggunakan kalimat untuk mengucapkannya.
"Kami ingin memasak makanan kesukaanmu, 'Ry, tapi kurasa percobaan yang kami berdua lakukan di dapur tidak berhasil dan malah menimbulkan kekacauan seperti ini," kata Draco yang mulai menjelaskan.
"Baik aku dan Daddy ingin memberikan kejutan pada Papa. Karena kami tidak tahu apa yang harus kami berikan pada Papa di hari ini, maka aku mengusulkan untuk memasakan makanan kesukaanmu, Papa," imbuh Lucas. Ekspresinya yang menggemaskan tersebut membuat hati Harry luluh.
Harry yang sebenarnya ingin marah pun kini menghela napas berat, ia tak mungkin marah kepada Lucas setelah melihat ekspresi tulus nan menggemaskan yang terpatri pada wajah itu. Dan pemuda yang baru menginjak usia 24 tahun itu pun meletakkan telapak tangan kanannya pada kepala Lucas sebelum mengacak rambut pirang sang buah hati dengan gemas.
"Kalau boleh Papa tahu, untuk apa Lucas dan Daddy ingin memberikan sesuatu pada Papa?" Harry tahu kalau berbicara menggunakan bahasa bayi seperti ini tidak sesuai untuk ukuran orang dewasa seperti dirinya, namun demi Lucas apapun akan ia lakukan.
"Daddy..." ujar Lucas yang kini melirik ke arah Draco, yang tentu saja membuat kepala keluarga Black tersebut terkekeh pelan sebelum ia beranjak dari posisinya untuk menghampiri keluarga kecilnya tersebut.
"Draco?" kini gantian Harry yang bertanya-tanya, terlebih setelah Draco memeluk mereka berdua dengan erat dan mendaratkan sebuah ciuman singkat di pipi kiri Harry. Hal itu cukup untuk membuat pipi sang Seraphine bersemu merah jambu, namun ia menghiraukan hal tersebut.
"Selamat hari Papa, Harry," kata Draco dengan singkat.
Hari Papa? Ah, Harry ingat hari ini hari apa dan ia cukup terkejut kalau dua orang yang berharga baginya tersebut mau repot-repot melakukan sesuatu untuk Harry, terlebih Harry itu bukanlah seorang wanita. Dan bukankah seharunya nama hari itu adalah hari Ibu dan bukannya hari Papa? Seperti tahu akan apa yang dipikirkan oleh Harry, Ayah dari Lucas Black hanya mengacak rambut hitam Harry dengan lembut sebelum ia mengerling pada Lucas. Kelihatannya Harry belum sadar juga.
"Kami tahu kau bukan wanita, Harry, namun bukan berarti kau bukanlah seorang ibu. Kami berdua hanya ingin menunjukkan apresiasi singkat kepadamu karena sudah membawa Lucas ke tengah-tengah keluarga kecil ini dan sudah membuatku menjadi pria paling bahagia di dunia ini," ini pertama kalinya Harry mendengar Draco mengatakan sesuatu yang panjang, namun ucapan tersebut cukup untuk membuat Harry terharu.
"Sebenarnya kami ingin mengunci Papa di dalam kamar dan memberikan kejutan ini nanti. Tapi karena Papa tidak akan bangun sebelum pukul delapan, maka kami memutuskan untuk tidak melakukan itu dan langsung menuju ke rencana kedua, yaitu memasak untuk Papa," Lucas pun menjelaskan, menambahkan pendapat Draco. "Tapi... hasilnya malah seperti ini. Maaf sudah merusak dapur, Papa."
"Dan kami rasa hari Papa jauh lebih keren dari hari Ibu."
Bagaimana mungkin Harry bisa marah pada dua orang yang ia cintai ini bila alasan sebenarnya adalah membuat Harry bahagia? Demi Merlin, Harry ingin sekali memeluk keduanya dengan erat dan tak mau melepas keduanya lagi. Harry terharu, bangga, serta bahagia pada saat yang sama. Ia tidak peduli pada dapurnya yang rusak, biarlah dapurnya rusak asalkan dua orang yang ada dalam pelukannya sekarang ini masih bersama dengannya.
"Hush, aku tidak marah pada kalian berdua," kata Harry dengan lembut, senyuman tulus pun terukir dengan indah pada bibirnya. "Bagaimana mungkin aku bisa marah pada kalian berdua kalau alasan yang sebenarnya adalah seperti ini? Aku bahagia."
Disini Harry belajar bahwa dibalik dapur yang rusak tersimpan sebuah kehangatan dan kebahagiaan yang berasal dari keluarga kecilnya.
"Daripada menyesali masalah masakan yang gagal, bagaimana kalau kita memasak bersama-sama?" tanya Harry, ia menggunakan sihirnya untuk men-summon celemek yang tersimpan di meja pantry, dan dengan bantuan Draco ia pun mengenakan celemek tersebut.
"Ide yang bagus, dear. Bagaimana menurutmu, Lucas?" Tanya Draco. Kedua jemari tangannya dengan cekatan mengikat celemek Harry.
Lucas, putra satu-satunya dari pasangan Harry dan Draco tersebut mengangguk dengan penuh antusias, menyetujui ide yang Papa-nya berikan pada mereka berdua. Harry adalah seorang legenda bila berurusan dengan dapur, dan ia yakin semuanya akan baik-baik saja dengan Papa berada di sini.
"Okay, Papa, Daddy. Mari memasak bersama!"
Baik Harry dan Draco melihat keantusiasan yang ditunjukkan oleh Lucas, dan keduanya pun tersenyum kecil karena itu. Ketika Draco melihat Lucas pergi dari dapur untuk mengambil sebuah sapu dan alat pel yang nantinya digunakan untuk membersihkan lantai dapur, Draco pun langsung mengeratkan pelukannya pada pinggang Harry, tak lupa tangan satunya menyusup masuk ke dalam piyama yang Harry kenakan, membuat sang Seraphine itu bersemu merah.
"Dan Papa, kurasa aku harus memberikan hadiahku padamu," bisik Draco pada telinga Harry, bibirnya kini mencium leher jenjang milik Harry dan membuat sang Seraphine melenguh pelan saat ia merasakan tangan nakal suaminya mulai meraba kulitnya. "Dan tentunya aku akan memanjakanmu dengan caraku tersendiri. Aku tidak ingin suamiku melupakan betapa menariknya dia, dan untuk itu aku akan menunjukkannya dengan penuh kasih sayang."
Harry tahu kalau dibalik penampilannya yang tenang itu Draco adalah seorang devil yang memiliki pikiran mesum, terutama kalau hanya mereka mereka berdua saja di dalam sebuah ruangan. Dan dalam hati Harry ingin mengutuk Draco karena setelah membuat Harry hampir diselimuti oleh nafsu, orang yang bersangkutan langsung melepaskan pelukannya pada sosok Harry dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun ketika Lucas kembali memasuki dapur.
Dear Merlin, aku mencintai keluargaku, pikir Harry yang masih mencoba untuk mengatur napasnya. Ia menghiraukan bagaimana Draco mengerling padanya secara sembunyi-sembunyi sebelum pemuda itu mengambil sapu untuk membantu Lucas membersihkan dapur sementara Harry memasak sarapan.
AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca
Author: Sky
