Kumagawa Naruto

Disclaimer: I don't own anything from Naruto manga. But this fic is mine

Pair: Naruto x Shizuka , Menma x Haku , Sasuke x Sakura.

Genre : Adventure, Friendly, Family.

Warning : Typo, Alur Berantakan, Ide Pasaran (Maybe), OOC, OC, StrongNaru...GodLike

Summary : Kembalinya Naruto kedalam keluarganya bukan akhir dari perjalanannnya, namun itu semua adalah awal bagi perjalanannya, bersama dengan adik dan sahabat sahabatnya dia akan mencoba untuk melindungi apa yang menurutnya pantas untuk dilindungi.

Ulasan Review...

xxx : Aneh ya? Inilah perbedaan Kumagawa Naruto dengan fic lainnya, authornya aja aneh masa ficnya engga hehehehe :v becanda... Ya, memang begini alur yang sudah saya persiapkan dan beberapa konflik di dalamnya.

Lusy922 : Namanya juga penyesalan :v dan karena Kushina tahu seperti apa Naruto dengan matanya itu :v

Dark Yami Shiro : Hehe... banyak kendala buat nerusinnya, dan terbesar adalah mood.

Slover : Membosankan? Kenapa di baca sampe chapter 17 :v :v Dan silahkan baca Warning yang ada ya :v

Ya cuma segitu yang review di chap 18, dan yang lainnya berarti sama dengan 'lanjut' dan sebagainya. Gak perlu berpanjang panjang lebar lagi... So, Have Fun With my Fiction...

Warning : Don't Like, Don't Read.

—○—○—○—○—○—○—○—○—

Lembah Awan Petir, sebuah tempat yang sering di sebut dengan nama Unraikyou di Kumogakure no Sato. Tempat yang kini di jadikan sarana dalam melaksanakan Ujian Chunnin tahap ke dua yang juga di lakukan di Kumogakure. Sudah sewajarnya hal tersebut terjadi, pasalkan Unraikyou ini adalah salah satu tempat paling misterius di Kumogakure selain Pulau Kura Kura yang keduanya adalah tempat dimana Jinchuriki Hachibi dari Kumo berlatih.

Gelap memang, karena hampir setiap bulannya Unraikyou selalu di tutupi oleh awan petir yang menghalau cahaya matahari untuk masuk kedalamnya. Gunung gunung curam berada di hampir setiap sisi lembah ini, walau sebagian besar daerah Unraikyou adalah air karena posisinya yang berada di laut Elemental Nation.

Tetapi, tak dapat dipungkiri lagi horornya Unraikyou cukup membuat para Shinobi untuk segera bergegas pergi dari tempat itu. Tetapi, para calon Chunnin disini diharuskan untuk masuk kedalamnya guna mencari dua gulungan yang sudah di sebar dan di sembunyikan oleh pihak Kumogakure. Dan, dari kedua gulungan tadi gulungan Nerakalah yang sangat sulit di temukan karena warnanya yang hitam berbeda dengan gulungan Neraka.

Juga, jangan lupakan hewan hewan buas yang berada di hampir seluruh tempat di Unraikyou entah itu di tebing tebing atau bahkan di perairan. Mulai dari beruang raksasa, ular, harimau bertaring pedang, sampai jenis jenis lain yang memiliki bentuk aneh.

Dan salah satunya mayat ular sepanjang lebih dari dua puluh meter dengan diameter tubuh mencapai dua setengah meter yang sudah terpotong menjadi tiga bagian, ditambah pada mulut ular tersebut telah terbelah sepanjang hampir tiga meter. Pelakunya adalah ketiga Genin Uzushiogakure, Kumagawa Naruto, Kumagawa Fudo, dan Kumagawa Aka.

Ketiganya baru saja membunuh ular besar dengan darah korosif ini dengan cukup mudah. Walau, sehelai pakaian dari Fudo harus dia buang karena terkena cipratan darah korosif tadi yang membuat pakaiannya sedikit demi sedikit meleleh. Bahkan, batu yang terkenanya pun nampak sedikit mengalami kehancuran berupa retakan kecil dan bekas lelehan.

Beruntung tak ada yang terluka dari ketiganya, dan nampaknya mereka mulai berjalan menjauh tatkala Naruto memberi intruksi kepada mereka untuk segera pergi. Pasalnya, dia melihat jika ada tiga Genin dari Iwagakure yang mulai mendekat kearah mereka. Walau Fudo mengusulkan untuk melawan mereka tetapi Naruto dan Aka lebih memilih untuk menjauh karena malas mengambil resiko terbuangnya waktu mereka hanya untuk meladeni Genin Iwa itu.

Tetapi, kesialan mendatangi mereka. Bukan ular atau Genin desa lain yang mereka temui, namun dua ekor beruang raksasa setinggi hampir tujuh meter dengan cakar yang kira kira mencapai tiga puluh sentimeter ditambah dengan dua gigi taring bak pisau yang mencuat keluar tengah bertarung di depan mereka.

"Kita pergi!"

Berniat untuk melarikan diri, namun apa daya kedua beruang tadi telah melihat kedatangan ketiganya. Bagai tak ingin jikalau pertarungan mereka di ganggu, kedua beruang tadi melesat kearah tiga Genin Uzushio ini. Saat cakar tadi dia lesatkan kearah ketiga Genin, sebuah pedang hitam menahan laju serangannya.

Naruto berhasil menahan serangan bertenaga dari beruang tadi walau dia harus merelakan jika tubuhnya harus terlempar beberapa meter kebelakang dan berhenti saat dirinya menabrak sebuah pohon besar. "Fudo! Aka! Gunakan serangan jarak jauh!" Naruto berteriak keras dari belakang seraya menarik kasar lengan jubahnya dan mengarahkan tangannya kearah salah satu beruang yang kini berlari kearahnya.

Fudo dan Aka melompat menjauh menghindari serangan beruang berbulu coklat yang berhasil menghancurkan tanah yang menjadi sasaran keganasannya. Dibelakang nampak dari telapak tangan Naruto kini muncul kilatan kilatan petir yang berkumpul membentuk sebuah bola kecil dengan petir yang menyambar nyambar.

Dengan gerakan cepat Naruto menggenggam bola petir tadi dan melemparkannya dengan kuat kearah beruang berbulu coklat kemerahan ini. Merasa bahwa serangan menusia yang menjadi musuhnya tadi dapat membahayakan nyawanya, beruang tadi melompat menghindar namun naas, saat bola petir tadi sejajar dengan tubuhnya bola petir tadi meledak dan berhasil melumpuhkannya.

Disisi lain, Aka baru saja mengeluarkan tehnik Doton miliknya membuat tanah dibawah beruang tadi menusuk nusuk tubuh beruang yang menjadi musuhnya. Darah berceceran dimana mana, ditambah lagi saag Fudo mengluarkan tehnik angin miliknya dengan memanipulasi udara disekitarnya dan membentuknya menjadi sebuah pedang yang berhasil menusuk dalam dikepala beruang tadi.

"Aka!" Naruto berteriak kearah Aka yang memang berjarak cukup jauh darinya, bagaikan mengerti maksud Naruto saat dirinya menatap pemuda berkain penutup mata itu, Aka segera merapalkan handseal miliknya, saat selesai dia menghantakkan kakinya ketanah dibawahnya. Secara ajaib, tanah didepannya terangkat dengan ujung yang berbentuk runcing dan pangkal yang berbentuk setengah lingkaran.

Aka memukulnya dan tanah runcing tadi melesat kearah beruang dan berhasil menusuk tepat kearah pinggang kirinya. Sekali lagi, darah menggenang disekitar beruang yang hanya dapat mengaum kesakitan akibat tehnik gadis Uzushiogakure ini. Naruto tersenyum dan melompat kearah Fudo serta Aka berkumpul.

"Kita harus lebih hati hati." Aka berucap dengan wajah datar dan hanya dibalas dengan anggukan dari kedua rekannya. Tetapi...

"Ya! Kalian harus berhati hati karena kami ada disini!" Ketiga genin Uzushio tadi mengalihkan perhatian mereka kearah datangnya suara. Disana berdiri tiga genin Iwagakure yang tadi sempat dirasakan oleh Naruto, dan merekalah genin yang dihindari Naruto karena malas untuk bertarung.

"Pergilah! Kami belum memiliki gulungan apapun!" Fudo berucap dengan nada yang cukup keras kepada ketiga Genin Iwa tadi. Namun, hanya senyum sinis yang ditunjukkan ketiganya saat mendengar ucapan dari Fudo barusan. Salah satu dari ketiganya berjalan mendekat dengan senyum sombong diwajahnya.

"Ne... kami tak memerlukan gulungan kalian karena kami telah menemukan kedua gulungan tadi, namun..." Genin Iwa tadi menggantung kalimatnya. Namun, jawaban Genin Iwa tadi berhasil membuat Naruto dan kedua teman temannya ini mengukir senyum tipis diwajahnya. Bodohnya mereka, memberitahukan jika sudah memiliki dua gulungan pada lawan yang sama sekali tak sepadan dengan mereka.

"...Kami akan menjajal kekuatan para Genin baru Uzushio!" Pemimpin dari kedua genin tadi berteriak lantang dan berlari cepat disusul oleh kedua rekannya yang mengekor dibelakangnya. Naruto dan kedua sahabatnya tentu saja tak tinggal diam saat serangan dari ketiga Genin Iwagakure tersebut datang. Fudo adalah orang pertama yang maju untuk menyerang ketiga Genin tadi, dengan mengincar seorang Genin yang membawa tas di punggungnya.

Fudo Fight...

Posisi mulai terpotong saat kedua Genin dari dua desa yang berbeda tadi saling berlari menuju arah yang berlawanan. Genin Iwa tadi sudah mengambil sebuah Kunai biasa yang dia simpan di dalam tas kecil dipinggang belakangnya. Fudo pun juga demikian, dia sudah menarik keluar Tanto kesayangannya dan mengganggamnya erat.

TRANK

Suara dua buah logam yang beradu terdengar nyaring saat Tanto dan Kunai tadi bertemu dengan keras. Genin Iwa berambut hitam tadi menggerakkan kaki kirinya guna menyerang kearah pinggang kanan Fudo, tapi... Genin Uzushio yang sudah mengikuti perang Saudara di Kirigakure ini tak dapat diremehkan, dia melompat satu meter kebelakang menghiraukan kaki kiri Genin Iwa tadi yang lewat didepannya.

Dengan gerakan cepat, Fudo kembali menebaskan Tantonya kearah sisi kanan tubuh Genin tadi tetapi nampaknya Genin Iwa ini dapat sedikit menghindar walau baju miliknya harus menerima dampak robekan sepanjang sepuluh sentimeter. Genin Iwa tadi meloncat menjauh dari posisinya dan kembali melesat kearah Fudo dengan ekspresi datar di wajahnya.

Fudo memasang kuda kudanya kembali dengan sedikit menghantarkan chakra miliknya kepada Tanto yang dia genggam ditangan kanannya.

TRANK

Dentingan logam kembali terdengar namun tak sekeras sebelumnya karena suara retakan menyusul dan berhasil membuat Genin Iwa tadi sedikit melebarkan matanya. Memanfaatkan keterkejutan Genin tadi, Fudo berusaha menyarangkan sebuah tendangan kaki kiri kearah rusuk kanan Genin Iwa tersebut. Namun, saat lutut kirinya menghantam rusuk kanan Genin tadi, sedikit rasa terkejut hinggap di fikiran Fudo.

Fudo meloncat menjauh dengan mata yang tertuju pada wajah Genin Iwa yang nampak sedikit mengulas senyuk sombong diwajahnya. "Heh... Apa lutut kirimumu itu terasa sakit Genin Uzushio? Kau menendang tubuhku yang sudah aku lapisi tehnik Iwa no Yoroi milikku." Fudo mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Genin Iwa barusan, namun semua terjawab saat Genin Iwa tadi merobek baju miliknya tanpa ragu ragu.

Fudo mendecih pelan saat melihat tubuh yang terbalut dengan tanah seluruhnya hanya menyisakan kepala Genin Iwa tadi yang tak terlapisi tanah. "Iwa no Yoroi, tehnik yang terinspirasi dari Raiton no Yoroi milik Raikage, dan hanya aku dan mendiang senseiku saja yang dapat menggunakannya, jadi... lebih baik kau menyerah dan terima kematianmu!"

Fudo kembali bersiaga saat Genin Iwa tadi melesat kearahnya, dia akui pertahanan tehnik Iwa no Yoroi milik Genin ini sangatlah keras. Ya, karena lutut kirinya terasa sakit saat menghantam kearah tubuh Genin yang telah terlindungi oleh tehniknya itu. Tak mau hanya tinggal diam, Fudo berlari cepat kearah Genin tadi dengan menambah kapasitas chakra yang dia alirkan kearah Tanto miliknya.

Fudo tanpa ragu ragu menebaskan Tanto miliknya kearah Genin Iwa ini, namun hal mengejutkan terjadi tatkala Tanto milik Fudo dapat dengan mudah di genggam oleh tangan kanan Genin Iwa ini. Fudo terkejut, ditambah lagi dengan kepalan tinju berlapis tanah keras menghantam wajahnya telak. Dia terlempar kebelakang dan berhasil merobohkan sebatang pohon besar yang harus mati hari ini.

"Hahaha! Kau akan mati Uzumaki!" Genin tadi berteriak kesetanan, dan kembali melesat kearah Fudo. Memang, gerakan Genin Iwa tadi tak secepat gerakan Fudo namun kerasnya tehnik Iwa no Yoroi milik Genin tadi cukup menyusahkan. Fudo bangkit dan memilih meloncat menjauh saat serangan kembali datang kearahnya. Dia dapat menghindarinya dan kini Fudo merapalkan handseal satu tangannya walau tak begitu cepat, kalian tahu konsentrasi Fudo harus dilakukan lebih mengingat tangan kanannya yang terputus.

Fuuton : Shintaigyoku.

Misil misil angin yang Fudo muntahkan dari mulutnya melesat cepat kearah Genin Iwa yang kini berada didalam kepulan asap hasil dari serangan melesetnya. Fudo melakukannya secara acak karena dirinya tak mengetahui tempat pasti Genin Iwa tadi berada, namun Fudo yakin misil misil angin yang dia muntahkan sekitar tiga buah perdetik tadi berhasil mengenai tubuh Genin Iwa itu.

Dua puluh detik kisaran Fudo melesatkan tehnik misil anginnya telah terlewati, dan kini Fudo menajamkan pengelihatannya. Dia bersiaga jikalau Genin Iwa tadi masih hidup disana, dan benar saja kini giliran bola bola tanah melesat kearahnya dengan kecepatan yang hampir sebanding dengan tehnik misil anginnya barusan.

Tak ingin mati dalam Ujian Chunnin ini, Fudo melompat tinggi dan berdiri horizontal disalah satu pohon yang tadi berada disisi kanan tubuhnya. Dia kembali merapalkan handsealnya namun kini lebih cepat dari sebelumnya karena dia melihat Genin Iwa tadi nampak berdiri kokoh dibalik asap yang mulai menipis.

Suiton : Suibachi

Semburan air bereksistensi sedang mengucur deras dari tangan Fudo dan berhasil mengguyur tubuh Genin Iwa tadi. Fudo sedikit menyunging senyumnya saat melihat tubuh Genin Iwa yang terlapisi tanah keras tadi sedikit berubah menggelap. Genin Iwa yang melihat posisi Fudo tak tinggal diam, ekspresi marah tercetak jelas diwajahnya. Dia melompat kearah Fudo, begitu pula sebaliknya.

Kepalan tinju Genin Iwa tadi sudah dia siapkan guna menghantam tubuh Fudo. Fudo pun sudah mempersiapkan Tanto yang sudah dia beri hantaran chakra besar dan membuat Tanto miliknya bagai berpendar biru. Saat keduanya sudah berjarak dekat...

BUGH

Wajah Fudo berhasil dihantam kepalan tinju berlapis tanah dari Genin Iwa tadi, namun...

BLAR

"AARRGGHHHG" Genin Iwa tadi terjatuh menghantam tanah dengan cukup keras ditambah dengan sayatan dalam menembus tehnik pertahanan Iwa no Yoroi nya secara horizontal memperlihatkan dua buah tulang rusuk yang nampak terpotong dalam beberapa detik dan digantikan dengan kucuran darah merah gelap nyaris hitam yang cukup deras.

Fudo? Dia kini tengah berusaha berdiri saat tubuhnya sudah menyentuh tanah, kening sisi kirinya nampak bengkak dengan sedikit luka goresan yang meneteskan darah keluar dari lukanya. Kepalanya terasa sakit bagaikan tengkoraknya mengalami retakan akibat pukulan bertenaga super dari Genin tadi. Fudo berjalan mendekat kearah Genin Iwa yang masih tergeletak tak berdaya ini bahkan tehnik Iwa no Yoroi miliknya sudah hilang.

"Ck, sial kau hebat juga sebagai seorang Genin, kepalaku terasa sakit kau tahu." Fudo berucap santai dengan tangan kiri yang dia gunakan untuk memegangi kepala sisi kirinya dengan Tanto yang sudah kembali kedalan sarungnya. Genin Iwa tadi diam, dia tak bergerak namun masih tetap hidup.

Fudo mengalihkan perhatiannya menatap kearah dua temannya, dan pergi meninggalkan Genin Iwa tadi tanpa sepatah katapun.

.-.

Aka Fight.

Kumagawa Aka, gadis tomboy yang menjadi rekan satu team Naruto saat ini baru saja berhenti dan menatap datar kearah Genin Iwa yang menjadi musuhnya. Dari pengelihatannya, nampaknya Genin yang menjadi lawannya kali ini adalah seorang veteran Genin sama seperti yang menjadi lawan Naruto disisi lain. Jelas, karena kumis diwajahnya yang nampak tumbuh walau tak lebat ditambah lagi tinggi badannya yang setengah kali lebih tinggi dari tinggi Aka.

Musuhnya adalah seorang ahli Kenjutsu, nampak jelas dengan Kapak besar yang ada diganggaman tangannya. Dan selama hidupnya, Aka sama sekali belum pernah bertemu dengan seorang Shinobi yang bersenjatakan Kapak sebesar ini. Bagaimana tidak, kapak milik Genin ini menyamai tinggi dari sang pemilik.

"Ne... sebenarnya aku tak suka menyerang seorang perempuan karena aku menghormatinya, tapi sebagai pembawa Gulungan aku harus mempertahankan gulungan ini sebisaku walau itu berarti harus membunuhmu." Suara yang keluar dari mulut Genin ini berbeda dengan apa yang Aka fikirkan, sopan dan halus itulah yang Aka dengar barusan. Dan Aka nampak tersenyum mendengar kata kata tadi.

"Terima kasih karena sudah menghormatiku sebagai wanita, dan sebagai balasannya aku akan memperkenalkan diriku, namaku Kumagawa Aka." Aka berucap seraya sedikit membungkukkan badannya, begitu pula dengan Genin tadi yang ikut membungkukkan badannya.

"Namaku Meru Takashi, salam kenal." Dan kata kata terakhir Genin Iwa tadi bagaikan kata kata yang membuat kedua Genin melesat kearah yang berlawanan. Meru mengangkat Kapak miliknya disisi kanan tubuhnya dan menggerakannya kearah tubuh Aka disela sela larinya. Aka melihatnya dan menghindarinya dengan menjatuhkan tubuhnya ketanah walau dirinya harus berguling kedepan melewati sela sela kaki Genin tadi.

Meru yang mengetahui jikalau Aka telah melewatinya meneruskan serangan dari kapaknya dan membuat sebuah pola serangan melingkar. Aka tentu saja tak ingin tinggal diam, saat dirinya telah berdiri tangan kanan yang membuat single handseal dengan cepat. Dan saat kapak tadi mulai mendekat Aka menghantamkan telapak kakinya ketanah, tiba tiba secara ajaib dinding tanah terbentuk dikanan tubuhnya.

Aka tahu tehnik dinding tanahnya tak akan menghentikan serangan Meru dengan mudah, dan oleh karena itu Aka melompat kedepan seraya ujung ibu jari kakinya yang dia seret diatas tanah guna menahan agar tehnik dinding tanah buatannya tak hilang. Benar saja apa yang Aka fikirkan, dinding tanah buatannya hancur saat berhasil dihantam dengan keras oleh kapak besar milik Meru.

Aka berbalik menatap kearah Meru. "Kau kuat." Aka berucap dengan ekspresi datar, dan dibalas oleh Meru dengan senyum kecil, namun tak lama...

SRIING

Meru terkejut bukan main saat dua buah rantai chakra muncul dari tanah di depannya dan hampir saja melilit tubuhnya jika saja dia tidak sigap melompat menghindar. Meru mempertajam tatapannya saat melihat dua buah rantai chakra yang meliuk liuk dari balik punggung Aka.

"Rantai Chakra?! Waw, ini akan menjadi sebuah pengalaman yang hebat!" Meru berujar dengan semangat dan melesat kearah Aka cepat dengan kapak yang dia seret diatas tanah. Aka tak tinggal diam, dia berkonsentrasi untuk menggerakkan rantai chakra miliknya untuk menyerang kearah Meru.

Namun, setiap serangan dari Aka selaku ditahan oleh Meru walau dengan cukuo kesulitan. Kenapa? Karena kini tiga buah rantai chakralah yang menyerang kearah Meru dengan membabi buta. Ditambah lagi dengan gerakan Meru yang cukup lambat karena kapak besar miliknya.

Aka yang melihat Meru cukup kerepotan dengan rantai chakra miliknya diam diam mengambil sebuah kunai dari dalam Fuinjutsu penyimpanannya. Dan dia mengeluarkan sebuah rantai chakra kembali lalu melilitkan kunai tadi dengan rantai chakranya dan melesatkannya kearah Meru. Meru yang melihat sebuah rantai chakra kambali menyerangnya sedikit mendecih kesal. Dia melompat menjauh dan mulai merapalkan handsealnya.

Doton : Yomi Numa

Pusaran lumpur hisap tiba tiba muncul dibawah kaki Aka yang masih sibuk dengan mengonsentrasikan rantai rantai chakra miliknya. Dan kini dia di haruskan untuk terkejut saat melihat lumpur hisap buatan Meru tadi sudah mencapai betis kakinya. Aka berusaha melepaskan diri, namun apa daya kekuatan lumpur hisap tadi lebih kuat dari tenaganya.

Aka mendecih kesal, ditambah lagi saat Meru berjalan mendekat dan kembali merapalkan handsealnya dipinggiran lumpur hisap tadi, setelah selesai Meru menyentuhkan telapak tangan kirinya kearah lumpur hisap tadi seraya berucap...

Doton : Domu.

Mata Aka melebar sepersekian detik karena dia tahu tehnik apa yang dikeluarkan oleh Meru barusan, Doton : Domu. Tehnik untuk mengeraskan tanah yang di inginkan oleh sang pengguna. Benar saja, lumpur hisap yang tadi sudah sampai di batas pinggang Aka mengeras dan mengurung Aka tanpa dapat berbuat sesuatu, bahkan kedua tangan Aka yang tak sempat dia angkat pun ikut terkunci.

Meru berdiri dengan senyum kecil diwajahnya. "Sepertinya sampai disini saja perjalananmu Aka-san, aku akan pergi membantu temanku yang kelihatan kesulitan melawan rekan berkatanamu itu... dan sepertinya temanmu berambut merah itu kuwalahan melawan Shuki." Meru berbalik dan mulai menjauh meninggalkan sebongkah kayu yang terkurung di dalam tanah buatannya, tunggu? Kayu?

SRIING

"Ya, sampai disini saja perjalananmu, Meru-san. Kau lihat, teman satu teammu sudah dikalahkan oleh teman satu teamku berambut merah itu." Meru tak kuasa untuk tak terkejut saat rantai rantai chakra perpendar putih tadi melilit tubuhnya dengan erat. Ditambah lagi gadis berambut ekor kuda yang kini tengah berjalan kearahnya dengan segel tangan yang mulai dia rapalkan.

"Tenang, aku tak akan membunuhmu namun aku tak akan meninggalkanmu tanpa sebuah luka."

Fuinjutsu : Jūryō.

Saat telapak tangan Aka menyentuh tubuh Meru secara tiba tiba Meru jatuh kebawah disertai dengan retakan kecil yang tercipta pada tanah dibawahnya. Ini salah satu tehnik Fuinjutsu yang dikuasi oleh Aka, Fuinjutsu yang membuat orang yang tersentuhnya secara tiba tiba akan tertambah berat pada badannya hampir dua puluh kali lipat, dan satu tingkatan diatasnya jika itu digunakan pada manusia dapat dipastikan orang tersebut akan mati ditempat.

Namun, rapalan handseal Aka belum selesai.

Doton : Dorou Domu.

Sebuah kubah tanah tercipta saat Aka menghentakkan kaki kanannya kearah tanah dibawahnya, kubah berbentuk setengah lingkaran dengan simbol Uzushio yang ada di sekitarnya tadi berhasil mengurung Meru beserta rantai chakra yang dikeluarkan Aka tadi. "Ne... Meru-san, aku sedikit berbaik hati untuk tak membunuhmu, Fuinjutsu tadi sudah aku atur dan akan hilang dalam jangka waktu dua puluh empat jam, jadi bersenang senanglah."

Aka berjalan pergi seraya tersenyum kecil tentu saja dia sudah mendapatkan gulungan Neraka dengan bantuan Rantai Chakra miliknya. Sudah dipastikan beberapa tulang Meru patah saat ini juga.

.-.

Naruto Fight

Kumagawa Naruto, kala ini dirinya tengah berlari menerjang kearah lawan tandingnya yang mungkin adalah pemimpin dari Genin Iwa yang menghadang pergerakan mereka entah mengapa. Disisi lain, Genin Iwa yang selalu memasang ekspresi sombong ini juga ikut melesat kearah Naruto.

TAK TAK DUGH BUM

Suara dari hasil adu Taijutsu antara Naruto dan Genin Iwa tadi terdengar, ditambah dengan pukulan Genin Iwa yang menghantam tanah tempat dimana Naruto tadi berdiri menambah eksistensi suara berbeda. Naruto melompat menjauh dengan Masamune yang dia tarik keluar, Genin Iwa yang melihat jika musuhnya mengeluarkan sebuah Katana diam dengan mata yang memandang tertarik pada Naruto.

"Ne... sepertinya aku harus berhati hati dengan pedangmu itu." Naruto tetap diam dengan mata yang memandang dari balik kain penutup matanya dengan santai. Sejujurnya, dia meremehkan musuhnya kali ini namun sebagai Shinobi yang cukup berpengalaman, Naruto akan bersungguh sungguh dalam melawan musuhnya kali ini, ditambah lagi dengan mulut Genin Iwa ini yang sedari tadi tak bisa diam.

Naruto melesat menyerang kearah Genin Iwagakure yang nampaknya sedari tadi masih diam di tempat dengan senyum tipis diwajahnya. Merasa jika ada sebuah kesempatan emas, Naruto mempercepat larinya bersama Masamune yang sudah dia siapkan dengan sedikit dia aliri elemen angin hasil Copyannya. Namun, matanya sedikit mengerut saat melihat seringai lebar kini muncul diwajah Genin tanpa alas kaki ini...

Dan saat Naruto melihat sekitarnya...

"KATSU!"

DUAAR DUAAR DUAAR DUAAR DUAAR

Ledakan bertubi tubi berhasil bersarang pada tubuh Naruto, dan hasilnya Naruto harus merelakan tubuhnya terlempar keatas walau dirinya masih dapat berdiri tegap kembali setelah menangkap batang pohon diatasnya. Beberapa bagian dijubahnya terdapat noda hitam hasil dari ledakan tadi, bahkan kain penutup matanya nampak sudah terlepas dengan sedikit bagian yang terbakar dan kini hanya tergeletak menunggu dilalap oleh api yang mulai merambat.

"Hahaha! Tak kusangka kau dapat bertahan dari jebakanku tadi Genin Uzushio!" Ya, Naruto tadi sedikit meremehkan musuhnya dan itu satu kesalahannya. Dia tahu sekarang tehnik yang dimiliki oleh Genin Iwa ini sama persis dengan tehnik yang dimiliki seorang anggota Akatsuki yang sempat dipotong tangannya oleh Sasuke beberapa bulan yang lalu.

Mata putih susu hampir seperti Byakugan milik Naruto mengopserfasi sekitarnya, tehnik yang dimiliki matanya sama persis dengan tehnik Byakugan milik klan Hyuuga, namun ada dengan spekulasi yang lebih tinggi. Dan satu hal yang membuat Naruto sedikit terkejut adalah...

"Apa mulut di telapak kakimu itu selalu menjilati tanah nee.. Genin Iwa." Tubuh Genin Iwa ini sedikit menegang dalam beberapa detik, namun dia hanya menyungging senyum kecil setelahnya.

"Genin Uzushio dari klan Hyuuga ya, matamu itu memang dapat melihat kemana pun yang kau inginkan bahkan mulut di telapak kakiku dapat kau lihat juga hahaha." Naruto hanya memasang wajah mengejeknya saat mendengar ucapan Genin Iwa tadi. Naruto melompat kebawah dari cabang pohon yang tadi dia gunakan untuk berdiri.

"Jika kau tahu mata ini bukan mata Byakugan dan..." Naruto memasang kuda kuda bertarungnya. "...Dan aku adalah Kumagawa bukan Hyuuga!" Dengan gerakan cepat menyamai kecepatan seorang Jounin, Naruto berlari kearah Genin Iwa yang nampaknya juga ikut berlari kearahnya.

Pertarungan kembali terjadi, dentingan suara tercipta akibat tabrakan antara Kunai dan Katana dari keduanya. Ditambah lagi dengan beberapa kali ledakan kecil tercipta saat sang Genin Iwa melesatkan tendangan sekaligus melontarkan berbagai hewan hewan kecil atau bahkan hanya berbentuk sebuah bulatan putih kecoklatan.

Naruto yang dalam sela sela pertarungannya diharuskan untuk membelah dan menghindari serangan serangan tanah liat peledak Genin Iwa tadi. Beruntung, Naruto sudah mengeluarkan mata dewa miliknya, namun efek ledakan tadi beberapa kali dirasakan oleh Naruto walau sama sekali tak memberi dampak padanya.

Merasa gerah dan bosan dengan pertarungan jarak dekat, Genin Iwa tadi menjauh dan menghentakkan kakinya ketanah dengan cukup keras, mata Naruto menyipit saat melihat tanah dibawah Genin tadi semakin meninggi setiap detiknya. Sampai saat tanah tadi pecah seekor burung berwarna putih kecoklatan muncul secara tiba tiba dari dalam tanah dan membawa terbang Genin Iwa berwajah sombong ini.

"Heh... tehnikmu sama dengan tehnik yang digunakan oleh salah satu anggota Akatsuki berwajah seperti banci itu, dan aku muak melihat tehnik tersebut." Naruto berucap dengan nada mengejek, dan tak disangka olehnya ekspresi sombong Genin tadi digantikan oleh ekspresi marah diikuti dengan ledakan chakra sedang yang menguar dari tubuh Genin tadi.

"Jangan berani berani kau menghina Aniki!" Naruto menyeringai dan satu hal yang Naruto ketahui dia adalah adik Deidara sang penggila ledakan. Genin berambut pirang tadi terbang dengan burung tanah liat miliknya dengan cepat kearah Naruto. Mulutnya nampak kembali bergerak mengunyah. Namun, hal yang sedikit mengejutkan terjadi, mulut burung tanah liat tadi terbuka dan menembakkan puluhan burung burung kecil kearah Naruto.

Naruto mengetahui jika ada bahaya yang datang padanya pun tak tinggal diam, dia menghentakkan kakinya ketanah keras dan meloncat kearah puluhan burung burung tadi, namun bukannya tersenyum saat melihat Naruto yang seperti ingin menyerahkan nyawanya Genin tadi malahan terkejut saat gelombang angin menerjang kearahnya dengan kuat.

Bahkan, burung burung kecil ciptaanya nampak berjatuhan dan meledak di bawah sana. Sampai matanya tertegun saat melihat sepasang sayap berwarna putih bercahaya muncul di depannya dan menerbangkan sosok yang kini menjadi musuhnya.

JRASH

"AARRRGGGHH" Kaki kanan Genin tadi terputus sebatas lutut kala tebasan Naruto berhasil bersarang padanya. Genin tadi jatuh terduduk diatas burung tanah liatnya yang kini dibanjiri oleh cairan berwarna merah. Mata Genin tadi menajam dengan tatapan yang kini diarahkannya pada Naruto.

"Kau akan mati, bangsat!" Mulut Genin Iwa tadi terbuka dan menebakkan sebuah bola berwarna putih yang kini mengeluarkan sepasang sayap. Dengan gemetar tangan kanan Genin Iwa tadi memasang single segel berbentuk Harimau.

KATSU

DUUAARRR

Ledakan yang cukup dahsyat tercipta saat bola tadi berjarak dua meter didepan Naruto. Sedikit menyeringai senang Genin Iwa ini saat mengetahui Naruto sama sekali tak menghindari serangannya. Tetapi, itu hanya sesaat tatkala puluhan bulu bulu putih berujung tajam tadi mulai menghujami Genin Iwa beserta tunggangannya tadi. Tangan, kaki, dan badan Genin Iwa tadi tertusuk bulu bulu sepanjang kurang lebih dua puluh sentimeter.

Saat asap hasil ledakan tadi menipis, nampak Naruto yang masih terbang dengan sayap sepanjang lebih dari tiga meter untuk masing masing sayapnya tadi mengepak dipunggungnya. "Kumagawa no Tenshidan." Dengan gerakan patah patah Genin Iwa yang kini sudah tergeletak di atas tanah ini menatap Naruto dalam diam.

Dia mendecih saat melihat Naruto mulai mengangkat Katana miliknya yang nampak mengeluarkan percikan percikan listrik. Dan saat Naruto menebaskan Katananya sebuah gelombang berwarna biru cerah melesat kearah Genin tadi dengan di akhiri oleh ledakan yang cukup besar.

Saat kedua telapak kaki Naruto menapak tanah dibawahnya, Fudo dan Aka berjalan mendekat. "Nee... kepalaku sakit, pukulan Genin tadi kuat juga." Fudo datang dengan tangan yang dia gunakan untuk menepuk nepuk pelan kepalanya. Naruto dan Aka hanya tersenyum melihat tingkah salah satu sahabatnya ini.

"Ne.. Aka-chan, apa kau sudah memasukkan gulungan Neraka tadi kedalam Fuinjutsumu?" Aka hanya melontarkan senyum kearah Fudo sebelum...

PLAAK

Kepala sisi kanan belakang Fudo nampaknya menjadi sasaran pemukulan dari Aka. "Ittai, apa yang kau la-laku-ku-kan A-Aka-chan?" Tubuh Fudo bergetar hebat saat melihat Aka yang merangkul pundak Fudo dengan wajah yang berjarak dekat dengan wajahnya. Cantik memang, namun jika Aka memasang wajah horor seperti ini lain ceritanya.

"Ne... Fudo-kun, apa kau lupa pesanku saat ada di penginapan itu hee..." Fudo menggelengkan kepalanya cepat dan berlari kearah tubuh musuhnya yang nampak sama sekali tak bergerak walaupun perutnya sedari tadi masih kembang kempis menandakan bahwa dirinya masih hidup tetapi, matanya yang tertutup membu...

JRAASHH

"Sudah aku selesaikan Aka-chan, aku tak ingin dia menderita dan lebih baik dia mati dengan cepat dari pada harus mati tersiksa seperti ini." Kepala musuh Fudo tadi sudah terpisah dari tubuhnya. Ya, Aka paling benci melihat orang yang menunggu ajalnya dengan tersiksa.

"Bagus..."

DEEGGG

"Aka! Fudo!" Naruto yang sedari tadi memasang wajah sweatdropnya kini beralih memasang wajah serius saat merasakan ada chakra yang datang kearahnya. Dia mengenai siapa pemilik chakra ini, namun Aura negative menguar darinya. "Kyuubi! Apa yang kau lakukan sampai sampai kau menggunakan kekuatan Kyuubi secara berlebihan seperti ini, baka Otouto!"

.-.

.-.

Gedung Raikage...

"Hahhh, maafkan para pendahulu kami Uzukage-sama. Ayahku itu benar benar bodoh." Raikage saat ini tengah duduk bersama dengan Uzukage ditemani oleh secangkir teh beserta pengawalnya, Darui dan Dei. Arashi, selaku Uzukage Uzushio nampak tenang sedari tadi dan sama sekali tak takut walau memang Raikage saat ini hanya ingin berbincang sebentar.

"Tak apa Raikage, yang dahulu lebih baik dilupakan dan mulai membangun apa yang ada saat ini, tapi seperti yang aku bicarakan sebelumnya, lebih baik kita mengawasi Ujian Chunnin kali ini, aku sedari tadi merasakan ada chakra besar yang melebihi seorang Chunnin bahkan bisa dibilang setara dengan Kage.."

"...Namun dia bukan berasal dari klan Kumagawa kami karena aku mengenal seperti apa chakra khas Kumagawa, ditambah lagi ada dua orang yang selalu bersama dengannya." Raikage dan Darui nampak memandang serius kearah Arashi yang sekali lagi meminum teh didepannya bersama dengan Dei.

"Dan sepertinya dia tengah bertarung." Dei menambahkan apa yang Arashi jelaskan tadi, tatapan Raikage mengkode bahwa dirinya ingin tahu dengan siapa ketiga orang tadi bertarung. Namun, Dei hanya tersenyum simpul diwajahnya.

"Tenang saja, salah satu dari mereka memiliki tubuh yang tak dapat diserang selain dengan Jutsu Pasir, Senjutsu, dan Api, ada juga seorang Medic-nin yang bisa dibilang cukup ahli, dan satu rekan teamnya adalah Jinchuriki Kyuubi dari Konoha."

.

.

.

.

.

.

To Be Continue.

Well well well come back with me, Searfont Graffity. Chapter berapa ini sekarang? 19 yak? Ya, seperti inilah hasil dari chapter 19, semoga para reader sekalian tak bosan membaca fic yang telat telat terus dalam updatenya ini, hehehe...

Oh ya, siapa yang dimaksud sama Arashi itu ya? Ah... yang pasti di chapter depan akan terjawab dan yang pasti dia akan menjadi salah satu pemicu Perang Dunia Shinobi Keempat kedepannya. Oh ya, sedikit spoiler. Dia adalah anak HARAM dari musuh besar Naruto kedepannya. Sial anak haram -.- , muehehehe.

Apa ada yang perlu dijelasin di sini yak ? Kalo suruh update cepet hehehe... author mungkin belum sanggup mungkin seminggu sekali, mungkin bakal molor tergantung mood dan waktu -,- Oh ya, ada yang mau ngasih saran atau mau mengomentari fic ini? Silahkan Review untuk hal tersebut, menerima kritik dan saran lho.

Sekian dari saya hehehe...

Akhir kata, Keep Stay and Read my Fiction...

.

.

.

.

.

~.~Searfont Graffity Out~.~