Balas review dulu yaa ^^
Cr4zyfic: Hai salam kenal hehe ^^ Ini udah last chapter yaa :D hikss... maafkan yaa persaingan mereka tidak sesuai harapan kamu, feel dhe-chan pas nulis tiba- tiba nguap entah kemana, tapi tapi dhe-chan udah berusaha keras ko T.T Makasih untuk read and review nya ^^maaf kalo thelastnya ngecewain :(
Anna Renata: Ne Anna-chan disini Naruto engga aneh ko T.T jadi disini tuh Naru tahu Shion nih sombong yang jadi kelemahannya. Tapi Naru punya alasan kenapa ia tetap menyukai Shion, yaitu karena ia punya Cinta XD ahh gomen, dhe-chan yang so bijak hehe XD iya dhe-chan pasti selalu semangat, apalagi di semangatin gini .. makin menggebu :D Makasih untuk read and review nya ^^ maaf kalo thelastnya ngecewain :(
kurotsuhi mangetsu: blushing blushing blushing XD ini dhe-chan blsuhing gara- gara fic dhe-chan disukai senpai XD kyaaa~ pokoknya makasih uda suka fic dhe-chan ini#nyengir. Hemm gitu yaa, yaa maaf yaa kalo thelast nya ngecewain :(( aaaa~ makasih udah di ingetin masalah typo, susah banget ilanginnya itu si typo T.T Makasih untuk read and review nya ^^
Naruto: Ahahah ada Naruto ternyata ^^ makasih yaa pujiannya #blushing XD Makasih untuk read and review nya ^^ maaf kalo thelastnya ngecewain :(
.
.
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
Story © Hyuugadevit- Cherry
.
Pairing : Hinata Hyuuga - Naruto Uzumaki- Shion and Other
.
Drama, Romance, Hurt/Comfort
.
Warning: OOC, Typo(s), alur kecepetan, gaje, abal, ide pasaran, etc.
.
If you don't like, don't every try to read
.
Enjoy Okey ^^
.
.
"Watashi no sentaku no uchi"
.
.
.
Kelas 3C adalah kelas yang saat ini ditempati oleh Naruto, Hinata, Sakura, Sasuke dan kawan- kawan. Anak- anak di kelas 3C ini sangat beragam. Mulai dari yang biasa saja sampai anak- anak yang memiliki kebiasaan aneh.
Dan ini lah salah satu siswa- siswi yang memiliki kebiasaan aneh. Ketig—empat siswa- siswi yang tak lain dan tak bukan adalah Naruto, Sasuke, Sakura yang berada di atas pohon menikmati pemandangan taman sekolah juga keadaan sekolah, terkecuali Hinata yang hanya duduk di bawah pohon karena ia tak bisa memanjat pohon.
HUP
Sakura yang melihat Hinata hanya duduk di bawah pohon sendiri ikut turun dan duduk bersama di bawah.
"Aku dengar akan ada murid baru lagi di kelas kita" Sakura memulai pembicaraan.
"A- ada apakah Sa- Sakura -chan?"
Sakura memandang Hinata dengan pandangan bersalah. Ia sudah tahu dari Hinata mengenai ungkapan perasaannya pada Naruto, ditambah Naruto yang datang ke rumahnya langsung menceritakan segalanya menambah kepercayaannya.
Naruto juga bercerita mengenai cinta monyetnya yang datang menambah suasana semakin rumit.
Sakura mendesah "hah~ aku harap kau mau berusaha lebih gencar lagi membuat si bodoh di atas sana menerima mu" Sakura dan Hinata mengangkat wajahnya melihat Naruto dan Sasuke yang tengah membicarakan suatu hal di salah satu ranting dan bagian ranting yang lain.
Sakura menunjukan jarinya ke arah Naruto "Dia adalah pemuda paling bodoh dan tidak peka"
Hinata terkik mendengar perkataan Sakura. Padahal Sakura sendiri tidak peka terhadap perasaan seorang pemuda di atas sana yang membawa buku, yang kini tengah menatap Sakura dengan intens. Padahal Sasuke selalu memandangnya penuh cinta dan tanpa di tutup- tutupi, sangat terbuka. Tapi Sakura terlalu polos untuk memahami hal itu.
.
.
.
Shion memasuki kelas 3C. Ia memulai perkenalannya. Hampir semua perempuan dan laki- laki di kelas itu menyukainya. Tapi tidak dengan Sakura dan juga Hinata yang tahu kebenaran mengenai hubungan Shion dan Naruto dari sumber terpercaya― Sakura.
.
.
Ini sudah sekitar seminggu Shion berada di sekolah ini. Ia sangat terkenal. Ia adalah gadis yang pintar bersosialisasi dan diterima baik oleh para siswa maupun siswi.
Seperti hari ini pada lomba memasak yang di adakan khusus oleh kelas 3C dalam mengisi hari libur. Banyak para pemuda dan gadis yang ingin berpasangan dengannya. Sedangkan Sakura dan Hinata tidak mendapatkan perhatian berarti dari para gadis. Hanya para pemuda yang menawarkannya agar mau berpasangan dengan mereka.
Kini Naruto kembali merasa bingung ketika dua gadis yang ia sukai bahkan mungkin ia cintai— Shion dan Hinata yang menghampirinya dan—
"Naruto-kun mau kah kau berpasangan dengan ku?" / "Naru berpasangan lah dengan ku! "
—serempak kedua gadis itu menawarkan diri untuk menjadi partner memasaknya. Tapi kalimat Shion lebih pada perintah. Bingung? Tentu saja!
"Ahaha, aku akan berpasangan denga— " matanya bergerak- gerak tak jelas dan ia memiliki ide "—dengan Sakura-chan" Naruto menampilkan tatapan memohon pada Sakura lalu memeluk Sakura dari belakang "Benarkan Sakura-chan?"
"Hahaha" Sakura tertawa garing "em ya, aku akan berpartner dengan Naruto"
"Cih, lepaskan tangan bodoh mu itu, dobe" Sasuke berucap tajam. Sedang Naruto melepaskan pelukannya sambil menunjukan cengiran khasnya.
Sakura menyarankan pada Hinata dan Shion untuk berpasangan atau dengan kata lain menjadi partner. Meski mereka satu tim, mereka tetap harus membuat masakan khusus mereka untuk Naruto.
Mau tak mau Shion dan Hinata pun menyetujuinya. Mereka akan menunjukan sikap profesional mereka juga menunjukan keterampilan mereka dalam memasak.
.
.
Acara memasak pun di mulai. Setiap tim mulai menunjukan kebolehannya. Shikamaru yang satu tim dengan Sasuke membuat sup tomat. Sebenarnya hanya Sasuke yang memasak, karena Shikamaru sendiri tidak bisa memasak. Bahkan bahan masakan Sasuke dan Shikamaru dapat dari tim lain.
Kemudian tim Sakura dan Naruto. Mereka membuat takoyaki membuat nya dengan kecap asam manis.
Dan ini dia tim Hinata dan Shion yang paling menarik perhatian. Mereka membuat masakan untuk tim mereka hampir sama dengan Sakura yaitu Takoyaki. Akan tetapi di masak dengan bumbu yang berbeda. Mereka memasaknya dengan bumbu balado. Setelah mereka menyelesaikan masakan bersama mereka—Shion dan Hinata kembali membuat makanan khusus yang akan mereka persembahkan untuk Naruto. Sesuai kesukaan Naruto, mereka berlomba membuat ramen dengan versi mereka sendiri.
Kedua bola mata Naruto nampak berbinar melihat masakan Shion dan Hinata— Ramen. Ramen adalah makanan kesukaannya yang rasanya tak terkalahkan. Ia jadi tak sabar merasakan ramen buatan tangan kedua gadis yang mampu mengetuk hatinya.
Di sisi lain Shikamaru menyusun strategi dengan Sasuke untuk menyelamatkan sahabatnya yang terlalu polos itu.
.
.
Tim mekasak yang memenangkan juara adalah tim Sakura dan Naruto. Masakan mereka menurut Choji-sensei— wali kelas 3C adalah masakan terlezat.
Kini Naruto harus berhadapan dengan kedua ramen yang akan membuat nya semakin bertambah bingung. Ia bahkan tidak tahu mangkuk mana milik Hinata dan mangkuk mana milik Shion. Karena saat ini mangkuk ramen nya ada tiga buah. Dan ia harus memilih salah satunya untuk menjadi juara.
Ia mulai menyantap ramen mangkuk pertama, kemudian kedua dan ketiga. Ini lah waktunya ia harus menentukan pilihannya. Ketiga- tiganya lezat dan ia suka itu. Namun, ia akan tetap memilih kan?
"A-aku memilih mangkuk ke 3" ucapnya lantang "jadi milik siapakah mangkuk ke 3?"
Sakura maju ke depan "ne, Naruto. Mangkuk ke tiga adalah milik—" Sakura tersenyum miring "— milik Choji-sensei"
Astaga! Untunglah ia tak salah memilih. Jika ia memilih salah satu masakan diantara kedua gadis itu, pasti akan menyebabkan hal yang ia pikirkan terjadi. Para gadis sangat rumit dan ia terlalu polos untuk memahami itu semua.
Sedangkan Shikamaru, Sasuke juga Sakura menyeringai karena dapat menyelamatkan sahabat mereka dari belenggu dilema masakan ini.
.
.
Hari demi hari terus bergulir. Tak dapat dipercaya semenjak acara memasak bersama Shion semakin gencar melakukan pendekatan dan terus menempel pada Naruto. Selain itu Shion juga sangat terkenal dan tidak pemalu seperti dulu.
Sedangkan Hinata adalah sosok gadis impiannya. Gadis manis, cantik, pemalu dan kelebihan lainnya. Kedua gadis ini membuatnya bingung dan bimbang. Membuat suatu perasaan dilema semakin besar di hatinya.
"Teme, siapakah yang harus ku pilih ?" Tanya Naruto disatu hari yang lain.
"Hn, pilih yang benar- benar menggetarkan hati mu" Sasuke nampak berpikir "Dan yang pasti bukan gadis yang penuh kepura- puraan"
Naruto kembali berpikir. Keduanya tidak ada yang pura- pura. Mereka sama- sama gadis yang apa adanya. Keduanya mencintainya dengan tulus. Ia tahu itu dari pancaran mata kedua gadis itu.
Shion yang mencintainya sejak masa kecil, begitu pula perasaannya pada Shion. Meskipun ia tahu Shion gadis yang sekarang ini memiliki sifat sombong, namun ia selalu memiliki alasan untuk terus menyukainya. Alasan kenapa ia tetap bertahan dan mempertimbangkannya. Alasannya hanya satu karena ia mencintainya. Ya, Naruto selalu memiliki alasan untuk menyukainya karena ia memiliki cinta untuk Shion meskipun ia tahu kenyataan sifat lain dari Shion.
Bukankah setiap orang pun pasti memiliki kelebihan dan kekurangan? Kadang kala kekurangan itulah yang membuat kita menarik perhatian bukan?
Kemudian ia teringat Hinata yang beberapa bulan ini dekat dengannya, tapi sudah mampu menggetarkan hati nya. Tak kalah hebatnya dengan Shion.
Jika Shion menunjukan keteguhannya dan benar- benar menunjukan kebolehannya, gadis ini justru membuat nya ketar- ketir. Gadis ini tertutup, tapi ia selalu menunjukkan sesuatu yang membuatnya terkesima dan tak dapat mengalihkan perhatiannya.
Ia berpikir kembali. Naruto bukan laki- laki brengsek yang akan memilih keduanya. Ia harus memilih diantara mereka atau tidak sama kali. Ia akan memberikan keputusannya. Ya harus! Jadi saat ini ia menuliskan sebuah surat untuk kedua gadis yang membuatnya pusing setengah mati dengan isi yang sama.
-Datanglah pukul.19.00 waktu Konoha di taman Q. Aku menunggu mu-
Kurang lebih seperti itu isinya. Sasuke yang membaca pesan itu mengerutkan dahinya dan tersenyum ketika melihat seringai Naruto. Ia tahu sahabatnya sudah mulai dewasa. Ia pasti akan memutuskan untuk mengambil cara yang sangat ampuh. Sasuke akan mendukung apapun keputusan sahabatnya ini.
.
.
.
Hari itu telah tiba. Hari di mana pertemuan mereka.
Hinata sempat sangat pesimis dan malu berat untuk pertemuan itu. Ia bersikeras meminta Sakura menemaninya. Tapi dengan tegas Sakura menolak dan berhasil meyakinkannya untuk tetap pergi menemui Naruto.
Dan di sinilah ia berada berhadapan dengan gadis yang memiliki mata dan perbawaan hampir mirip dengannya. Hanya saja gadis di hadapannya ini terlibat lebih congkak dan keras kepala. Harga diri gadis itu juga pasti sangat tinggi, setinggi langit.
Hinata menundukkan kepalanya dan tersentak ketika suara Naruto menyapa indra pendengarannya.
"Terimakasih telah datang" Naruto tersenyum, sangat tampan "kalian mungkin berpendapat bahwa aku bukan orang yang bisa serius. Tapi kali ini aku sungguh- sungguh, bahwa aku memiliki perasaan yang sama pada kalian berdua. Aku akui itu"
Suasana ini sangat canggung "kalian berdua berhasil mengetuk pintu hatiku dan memiliki ciri khas yang sesuai dengan kriteria gadis pilihan ku, maka biarkan aku memilih" ini dia di mana Naruto akan mengatakan keputusannya.
Hinata menggigit bibir bawahnya keras- keras guna menghilangkan rasa gugupnya. Tangannya pun mencengkram erat jaket yang ia kenakan. Ia melihat Shion di sebrang sana berdiri dengan ponggaknya. Wajah gadis itu menunjukkan kepercayaan diri yang kuat dan pribadi yang kuat.
"Aku tidak memilih salah satu di antara kalian" putusnya.
Naruto bisa melihat Hinata yang kini menatapnya dengan pandangan bingung. Kemudian Shion yang menatapnya tak percaya.
Ia kembali berbicara "Dengan kata lain, aku tak memilih kalian berdua. Aku tahu aku menyukai kalian berdua dan itu adalah kesalahan ku" Naruto menghembuskan nafasnya pelan "aku tak memilih salah satu diantara kalian karena aku tahu, salah satu diantara kalian akan terluka"
Kini Naruto memandang kedua gadis itu dengan serius "gomenasai, demo... Bunga tidak akan tumbuh dan beraroma tanpa sinar matahari dan matahari itu hanya ada satu" dengan itu Naruto berojigini , pergi meninggalkan kedua gadis yang mencintainya dengan perasaan yang entahlah.
Hinata yang mendengar semua penuturan dan Naruto yang meninggalkan nya tanpa keputusan yang memuaskan membuatnya menangis. Ia merasa harapannya benar- benar terhapus. Penolakan memang wajar didapatkan. Tapi ia tak menyangka rasanya akan semenyakitkan ini.
Shion menghela nafas. Ia kembali berpikir apakah ia benar- benar mencintai Naruto? Mungkin tidak. Apakah ia merasa sakit saat Naruto memutuskan ini semua?
Tentu saja hatinya sebagian sakit, tapi sebagian lagi tidak. Ia merasa bahwa mungkin kisah ia dan Naruto yang dulu telah selesai. Dan saat itu juga mereka seolah memutuskan hanya sebatas sahabat. Sebatas itu sajakah? Ia tersenyum tipis mengingat kata terakhir Naruto. Bunga tidak akan tumbuh dan beraroma tanpa sinar matahari dan hanya ada satu matahari. Itu adalah sebuah kiasan yang menandakan bahwa laki- laki tak dapat hidup tanpa cinta dan hanya akan ada satu cinta di hatinya kelak.
Naruto seolah memberikan pilihan pada kedua gadis ini untuk menyerah. Ia melihat gadis itu menangis, tapi tidak dengan dirinya. Sepertinya hanya ia yang mengerti dan ia telah memutuskan bahwa ia yang akan menyerah.
Ia tahu hatinya ingin bersama dengan Naruto. Namun ada beberapa hal yang tak dapat di jelaskan dengan kata- kata dan menuntunnya untuk memilih hal ini.
Meskipun sebagian hatinya berteriak untuk tetap bertaha, namun ia bukanlah gadis egois. Ia sudah dewasa. Lagipula ia memutuskan mengalah karena ia berpikir Naruto pantas mendapatkan yang lebih baik. Bukan berarti ia tak lebih baik dari gadis di sebrangnya.
Hanya saja setelah merenungkannya ia memiliki beberapa alasan kenapa ia memilih mengalah. Karena ia menemukan ketidak cocokan dan takdir yang terlukis padanya untuk menyatukan seseorang yang mungkin memang benar- benar harus bersama melalui jalannya.
Shion menatap Hinata dengan sinis "kejarlah Naruto" kemudian senyumnya berubah menjadi miris "Dia menunggu mu , biarkan aku yang mengalah"
Shion kembali bersuara sambil menatap Hinata serius "Ternyata di sini" Shion mencengkram dadanya "Sudah tak ada cinta untuknya, hanya perasaan sayang untuk kisa cinta monyet yang sekarang berubah menjadi sahabat" tuturnya ringan.
Akhirnya mereka berpisah dengan perasaan Shion yang lega dan Hinata yang tak mengerti akan maksud Shion. Gadis itu terlalu cerdas dan terlalu rumit untuk dimengerti, bahkan oleh sesama gadis sepertinya.
.
.
.
Kegiatan belajar mengajar telah selesai. Naruto, Sakura dan Sasuke seperti biasa tidak langsung pulang. Mereka lebih memilih berdiam diri di atas pohon melihat para siswa- siswi hilir mudik dengan kesibukan mereka masing- masing.
Sakura dan Naruto mulai berceloteh ria. Sedangkan Sasuke hanya diam sambil membaca bukunya. Sesekali menatap kedua sahabatnya dan memberikan pendapatnya apabila di perlukan. Hinata beberapa hari ini tidak ikut bergabung dengan mereka dan hanya mau berdekatan dengan Sakura saja.
Gadis itu seolah menjaga jarak, terutama pada Naruto. Ia memiliki beban pikiran sendiri. Dan ia membutuhkan waktu untuk sendiri, waktu untuk berpikir dan menyelami segala sesuatu yang terjadi tempo hari beserta sederet kalimat yang mengganggu pikirannya.
Tidak hanya Hinata, Shikamaru juga akhir- akhir ini memilih untuk tidak bergabung terlebih dahulu dan lebih memilih tidur di kelas.
Naruto dan Sakura dapat melihat Hinata yang berlari ke arah mereka dengan nafas yang terengah- engah. Naruto yang melihat itu langsung loncat yang kini membuatnya berhadapan dengan Hinata.
Dengan sigap Naruto menarik tangan Hinata menuju bagian taman lain yang cukup jauh namun tetap dapat dilihat oleh Sakura juga Sasuke.
"Na- Naruto -kun, aku tak akan menyerah. Aku akan terus bersama mu sampai kau memilihku. Aku akan membuat mu jatuh cinta dan terus jatuh cinta pada ku, cepat atau lambat. Pasti! Hingga kau tak dapat melihat gadis lain selain aku!"
Hinata terlihat gusar "Bunga tak akan tumbuh dan beraroma tanpa sinar matahari" Hinata mencengkram kecil baju Naruto "begitupula Naruto yang tak bisa hidup tanpa cinta dan akulah yang akan menjadi matahari satu-satunya untuk mu" ucapnya lantang.
Hinata terus menangis sambil terus mengulang kata- kata itu agar membuat Naruto mengerti perasaannya dan beberapa hari yang ia habiskan untuk berpikir mengenai kalimat yang Naruto katakan.
Naruto tersenyum tulus melihat perjuangan Hinata. Ia menarik tangan Hinata, mengangkat dagunya dan menciumnya dengan lembut dan penuh rasa cinta. Sesungguhnya Naruto memang telah jatuh cinta dan menyayangi gadis ini. Hanya saja ia merasa bimbang dan dilema akan semua yang menimpanya.
Ya, Naruto rasa Hinata lah yang pantas bersamanya. Karena Shion telah mengatakannya, bahwa ia menyerah akan dirinya dan memilih menjadi sahabat.
Shion juga mengatakan bukan kah ia tak pernah menyatakan bahwa ia ingin menjadi kekasihnya? Dan Naruto yang tersenyum yakin bahwa Shion memang telah memutuskan pilihannya. Keputusan gadis itu telah bulat dan Shion berhasil meyakinkannya.
Merasa bersalah pada Shion tentu saja. Tapi ia yakin, Shion akan mendapatkan orang yang lebih baik darinya. Dan mendapatkan kebahagiaan yang ia inginkan. Bukan dirinya yang seolah menjadi obsesi gadis itu. Syukurlah, gadis itu— Shion memiliki pemikiran dewasa dan mempu menyadari segala sesuatu nya sebelum suatu obsesi itu menjadi hal yang menyeramkan.
Di sisi lain, Shion yang saat ini berada di balik ruangan yang dapat menangkap percakapan Naruto dan Hinata. Ia berdiri mencengkram dadanya, menangis untuk Naruto yang terakhir kali dan melepasnya.
.
.
.
.
.
Owari
.
.
.
Omake
.
.
Sakura yang melihat Hinata menangis hendak turun. Namun gerakannya terhenti ketika Sasuke turun lebih cepat dari dirinya. Ia kembali akan turun, namun matanya membulat melihat Naruto yang mencium Hinata dan hal itu membuatnya kaget bukan main. Hal ini membuat pijakannya oleng, ia terpeleset untuk yang pertama kali, menutup matanya rapat- rapat dan siap mencium tanah.
Tapi seseorang menangkapnya. Aroma yang mengguar dari tubuh orang yang menyelamatkannya adalah aroma tubuh Sasuke. Ia membuka matanya dan mendapati wajah tampan Sasuke yang menatapnya penuh kelembutan.
"Arigatou, Sasuke-kun" ucapnya dengan lega.
Sakura hendak melepaskan diri dari jeratan Sasuke. Namun dalam hitungan detik Sasuke telah membungkam bibirnya dengan bibir Sasuke. Dapat Sakura rasakan semua perasaan Sasuke selama ini padanya. Sasuke yang mencintai dan menyayanginya dengan tulus.
"K- kau .. kau .. mencium ku" ucap Sakura lebih pada meyakinkan dirinya sendiri.
Sasuke mendengus "Dasar tidak peka" omel Sasuke pada Sakura. Sasuke kembali mencium Sakura. Begitu pula Hinata dan Naruto yang masih saling memagut satu sama lain.
Naruto memberikan jarak diantara mereka "Hinata, maukah kau menjadi kekasih ku?" Hinata yang mendengar pernyataan cinta Naruto langsung menganggukan kepalanya dan memeluk Naruto penuh rasa.
Pada akhirnya bukan ia yang memilih, tapi para gadis itulah yang telah menunjukkan cara mereka sendiri dalam mencapai hati Naruto.
.
.
.
.
.
Beneran END ^^
A/N:
Aragghhh , Maafkan dhe-chan Minna-san buat endingnya T.T ya ampun gajelas yaa endingnya? Maafkan yaa kalo ngecewain :(( dhe-chan udah berusaha ngasih yang terbaik tapi jadinya kaya gini T,T Maaf ya buat segala kekurangan yang ada pada fic dhe-chan ini ^^ terimakasih untuk segala bentuk dukungan minna-san ^^ terutama untuk yang udah fav, foll, R&R, silent reader.. ehh semua muanya pokoknya XD peluk sayang dari dhe-chan
• Hyuugadevit(Dede Fitri)-Cherry•
